Selasa, 03 November 2026
20:16 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Senator Bustami Zainudin dan Staf DPD Lampung Ikuti Program Cek Kesehatan Gratis Bandar Lampung Padatnya Agenda Pemprov Lampung 2 November 2026: Dari Apel Hingga Forum Ekonomi Bandar Lampung Imigrasi Lampung Ungkap Modus Kawin Pesanan, Empat WNA China Diamankan di Pesawaran Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung Senator Bustami Zainudin dan Staf DPD Lampung Ikuti Program Cek Kesehatan Gratis Bandar Lampung Padatnya Agenda Pemprov Lampung 2 November 2026: Dari Apel Hingga Forum Ekonomi Bandar Lampung Imigrasi Lampung Ungkap Modus Kawin Pesanan, Empat WNA China Diamankan di Pesawaran Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare

Buddhisme di Asia Timur

artikel daftar Wikimedia

Bagikan:
Bagian dari seri tentang
Buddhisme
120px-Dharma_Wheel_%282%29.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Keyakinan
Tiga corak
Gugusan
Faktor mental
Meditasi
Bakti
Praktik lainnya

Buddhisme di Asia Timur berkembang setelah para pedagang dari Asia Tengah memperkenalkan Buddhisme di Tiongkok. Setelah menganut Buddhisme, para biksu Tiongkok pergi ke Semenanjung Korea untuk memperkenalkan Buddhisme ke dinasti-dinasti Korea. Buddhisme berkembang di Tiongkok dan Korea pada abad ke-6 dan ke-7 Masehi. Buddhisme juga turut berkembang di Kepulauan Jepang.[1]

Buddhisme di Tiongkok

Artikel utama: Buddhisme di Tiongkok

Buddhisme kemungkinan besar muncul di Tiongkok sekitar abad ke-1 Masehi dari Asia Tengah (meski menurut tradisi agama ini dibawa oleh seorang biksu pada masa pemerintahan raja Asoka), sampai abad ke-8 ketika negara ini menjadi pusat Buddhisme yang penting.

Buddhisme tumbuh dengan subur selama awal dinasti Tang (618–907). Dinasti ini memiliki ciri keterbukaan kuat terhadap pengaruh asing, dan pertukaran unsur kebudayaan dengan India karena banyaknya perjalanan para biksu ke India dari abad ke-4 sampai ke-11.

Namun pengaruh asing kembali dianggap negatif pada masa akhir dinasti Tang. Pada tahun 845, Kaisar Tang Wu-Tsung melarang semua agama "asing" (seperti Kekristenan denominasi Nestorian, Zoroastrianisme dan Buddhisme) untuk lebih mendukung Taoisme yang merupakan ajaran "pribumi".

Di seluruh wilayahnya, mereka menyita harta milik para Buddhis, biara dan kuil dirusak, dan rahib Buddha ditindas, maka dengan ini berakhirlah kejayaan kebudayaan dan keluasan intelektual dari Buddhisme.

Namun aliran Tanah Murni dan Chan terus berkembang selama beberapa abad, dan perkembangan ini akhirnya akan menimbulkan aliran Buddhisme Jepang bernama Zen.

Di Tiongkok, Chan tumbuh dengan subur teristimewa di bawah dinasti Song (1127–1279), ketika biara-biarannya menjadi pusat kebudayaan dan tempat belajar yang agung.

Buddhisme di Korea

Artikel utama: Buddhisme di Korea

Buddhisme diperkenalkan di Semenanjung Korea sekitar tahun 372, ketika para biksu dari Tiongkok yang berkunjung ke dinasti Goguryeo membawa kitab-kitab dan gambar. Lalu Buddhisme berkembang dengan pesat di Korea, dan terutama aliran Seon (Zen) mulai dari abad ke-7 Masehi. Namun, saat dinasti Joseon yang menganut Konfusianisme berdiri pada tahun 1392, Buddhisme mengalami diskriminasi.

Buddhisme di Jepang

Artikel utama: Buddhisme di Jepang

Buddhisme diperkenalkan di Jepang pada abad ke-6 ketika para biksu melakukan perjalan ke penjuru Jepang sembari membawa banyak kitab suci dan karya seni. Buddhisme lalu dipeluk menjadi agama resmi negara pada abad selanjutnya.

Karena secara geografis terletak pada ujung Jalur Sutra, Jepang bisa menyimpan banyak aspek Buddhisme ketika agama ini mulai hilang dari India dan ditindak di Asia Tengah serta Tiongkok.

Dari kurang lebih tahun 710, banyak sekali kuil dan vihara dibangun di ibu kota Nara, seperti pagoda lima tingkat dan Ruang Emas Horyuji, atau kuil Kofukuji. Banyak sekali lukisan dan patung dibuat sampai tak terhitung dan sering kali dengan sponsor pemerintah. Pembuatan Buddhis Jepang terutama sangat padat antara abad ke-8 dan ke-13 semasa pemerintahan di Nara, Heian, dan Kamakura.

Dari abad ke-12 dan ke-13, perkembangan lebih lanjut ialah seni Zen, mengikuti perkenalan aliran ini oleh Dogen dan Eisai setelah mereka pulang dari Tiongkok. Seni Zen sebagian besar memiliki ciri khas lukisan asli (seperti Sumi-E dan Enso, dan puisi khususnya haiku). Seni ini berusaha keras untuk mengungkapkan intisari sejati dunia melalui gaya impresionisme dan gambaran tak terhias yang tak "dualistik". Pencarian untuk penerangan "sesaat" juga menyebabkan perkembangan penting lain sastra derivatif seperti Chanoyu (upacara minum teh) atau Ikebana; seni merangkai bunga. Perkembangan ini sampai sejauh pendapat bahwa setiap kegiatan manusia merupakan sebuah kegiatan seni sarat dengan muatan spiritual dan estetika, pertama-tama apabila aktivitas itu berhubungan dengan teknik pertempuran (seni beladiri).

Buddhisme sampai sekarang masih aktif di Jepang. Sekitar 80.000 kuil-kuil Buddhis masih dipelihara secara teratur.

Lihat pula

Referensi

  1. ↑ Khairiah (2018). Agama Budha (PDF). Pekanbaru: Kalimedia. hlm. 24. ISBN 978-602-6827-86-9.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan