Selasa, 22 September 2026
15:53 WIB
TERKINI
Regional Solo Safari Bantah Larang Hijab, Akui Ada Kesalahan Komunikasi Berita Banjir Bandang Landa Kompleks Pemkab Solok, Peralatan Kantor Hanyut dan Warga Mengungsi Berita Mengungkap Jaringan Video Asusila "A Day in My Life": Dua Pelaku Raup Jutaan Rupiah Berita Nusron Wahid Mundur dari Golkar, Serahkan Detail ke Bahlil Lahadalia Wawancara Tragedi 1965: Oka Rusmini Soroti Perampasan Hak Hidup Perempuan Prelude Dua Mantan Menteri Keuangan: Riwayat Berbeda di Kursi Kasir Negara Politik Kepala BGN Gencar Beriklan di Medsos, Benahi Citra Program Makan Bergizi Gratis Bisnis Jerat Pungli Ancam UMKM Indonesia: Kisah Bolosego dan Solusi Mendesak Hukum & Kriminal Empat Eks Pejabat LPEI Divonis 6 Tahun Penjara dalam Skandal Korupsi Pembiayaan Ekspor Hukum & Kriminal Mantan Bupati Sidoarjo Gus Muhdlor Bebas Bersyarat Usai Dua Tahun Dipenjara Regional Solo Safari Bantah Larang Hijab, Akui Ada Kesalahan Komunikasi Berita Banjir Bandang Landa Kompleks Pemkab Solok, Peralatan Kantor Hanyut dan Warga Mengungsi Berita Mengungkap Jaringan Video Asusila "A Day in My Life": Dua Pelaku Raup Jutaan Rupiah Berita Nusron Wahid Mundur dari Golkar, Serahkan Detail ke Bahlil Lahadalia Wawancara Tragedi 1965: Oka Rusmini Soroti Perampasan Hak Hidup Perempuan Prelude Dua Mantan Menteri Keuangan: Riwayat Berbeda di Kursi Kasir Negara Politik Kepala BGN Gencar Beriklan di Medsos, Benahi Citra Program Makan Bergizi Gratis Bisnis Jerat Pungli Ancam UMKM Indonesia: Kisah Bolosego dan Solusi Mendesak Hukum & Kriminal Empat Eks Pejabat LPEI Divonis 6 Tahun Penjara dalam Skandal Korupsi Pembiayaan Ekspor Hukum & Kriminal Mantan Bupati Sidoarjo Gus Muhdlor Bebas Bersyarat Usai Dua Tahun Dipenjara

Titthiya

Istilah bahasa Pali untuk orang yang pandangannya tidak selaras dengan Buddhisme

Artikel ini berisi tentang suatu istilah Pali dan Sanskerta untuk nonbuddhis. Untuk kebodohan batin atau delusi, lihat Moha (Buddhisme). Untuk pandangan salah, lihat Diṭṭhi. Untuk guru dalam kepercayaan Jainisme, lihat Tirthankara.
Bagian dari seri tentang
Buddhisme
120px-Dharma_Wheel_%282%29.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Keyakinan
Tiga corak
Gugusan
Faktor mental
Meditasi
Bakti
Praktik lainnya

Titthiya (Pali; Sanskerta: tīrthika; Tionghoa Klasik: 外道) adalah istilah yang mengacu kepada orang-orang yang tidak berlindung kepada Triratna (Buddha, Dhamma, dan Saṅgha), yaitu para pengikut/penganut ajaran selain Buddhisme atau nonbuddhis.[1][2][3] Padanan Sanskertanya, tīrthika, berarti "pembuat penyeberangan"; menurut Keown, makna istilah ini tidak jelas, tetapi menyiratkan ajaran-ajaran yang disebarkan dengan tujuan menyeberangi arus saṁsāra.[4] Dalam kamus-kamus Pali, titthiya juga didefinisikan sebagai "seorang guru sesat, penganut agama lain";[5] "pengikut aliran lain, pengikut ajaran sesat";[6] dan "penganut sekte lain, seorang yang sesat".[5]

Selain dalam kepustakaan Pali tradisi Theravāda, istilah sepadannya dalam bahasa Sanskerta, yaitu tīrthika, juga digunakan dalam sutra-sutra Mahāyāna untuk merujuk kepada para penganut ajaran lain. Dalam konteks Mahāyāna, sebagaimana dalam Mahāvaipulya Paripūrṇa Buddhi Nītārtha Sūtra ("Sutra Maha Kesadaran yang Sempurna"), tīrthika juga disejajarkan dengan penganut yāna ("kendaraan, aliran") lain selain Mahāyāna (lihat Hīnayāna).[7]

Dalam Aśokāvadāna, para tīrthika digambarkan iri terhadap dukungan Asoka kepada agama Buddha dan berusaha membujuk masyarakat agar berpaling darinya.[8]

Etimologi

Secara etimologis, kata titthiya dibentuk dari kata dasar tittha yang digabungkan dengan akhiran -iya (berasal dari akhiran -ika, di mana konsonan 'k' secara tata bahasa diubah menjadi 'y').[5] Kata tittha itu sendiri berasal dari istilah Weda tīrtha (dari akar kata *ter atau tarati,[a] yang berarti "melewati"), yang pada awalnya merujuk pada jalan melintasi sungai, lalu tempat penyeberangan atau tempat berlabuh yang sekaligus menjadi tempat mandi, serta pelabuhan. Secara kiasan, ungkapan "mengetahui tempat penyeberangan" (titthaṃ jānāti) dipahami sebagai mengetahui sarana atau seseorang yang dapat membantu melewati suatu kesulitan atau keraguan. Maknanya kemudian bergeser untuk merujuk pada suatu sekte, selalu dengan konotasi negatif: sekte itu menjanjikan keselamatan kepada para pengikutnya, tetapi justru menjerumuskan mereka ke dalam kesesatan.[10] Akibatnya, istilah titthiya (yang secara harfiah merujuk pada seseorang yang lahir, hidup, maupun berbakti pada suatu tittha atau pandangan semacam itu) pada akhirnya digunakan secara khusus untuk menggambarkan penganut agama atau sekte lain (adherent of another religion or sect), seorang guru sesat (a heretical teacher), atau seorang nonbuddhis (a non-Buddhist).[5]

Dalam tradisi Theravāda

Lihat pula: Theravāda
Bagian dari seri tentang
Buddhisme Theravāda
120px-Buddhism_dham_jak.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Buddhisme
20px-Flag_of_Buddhism.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail PortalBuddhisme

Dalam kitab suci

Dalam Tripitaka Pali dan kitab komentarnya, istilah titthiya sering merujuk secara khusus kepada para penganut Brahmanisme (pra-Hinduisme), Jainisme, serta ajaran agama enam guru sesat lainnya. Jika seorang Buddhis berlindung pada Tiga Permata dan menempuh Jalan Tengah di antara dua ekstrem, seorang titthiya tidak. Sang Buddha menyatakan bahwa titthiya adalah kaum yang tidak melakukan apa yang harus dilakukan, tidak menghindari apa yang tidak boleh dilakukan, berpikiran kacau, tidak menjaga diri mereka sendiri, tidak pantas menyandang gelar 'petapa', dan berpotensi terlahir kembali ke alam rendah (neraka, binatang, hantu kelaparan, dan asura).[11][12]

Dalam Tripitaka Pali, beberapa istilah terkait yang sering digunakan, beserta pendefinisiannya berdasarkan Manorathapūraṇī (Mp), adalah:[13]

  • Tittha, yang secara literal bermakna "penyeberangan di sungai" atau "tempat berlabuh", dalam arti kiasan merujuk pada agama, sekte, atau ajaran.[10]
  • Menurut Mp, tittha adalah 62 pandangan (diṭṭhi) yang diuraikan dalam Brahmajāla Sutta (DN 1), yang dalam ajaran Buddha tergolong pandangan salah, seperti pandangan bahwa diri/roh dan dunia bersifat kekal.[14]
  • Titthakara ("pendiri atau pemimpin agama"), yaitu mereka yang memformulakan pandangan-pandangan tersebut.
  • Titthāyatana (jamak: titthāyatanāni), landasan atau doktrin tittha. AN 3.61 menyebut tiga di antaranya: bahwa segala yang dirasakan seseorang disebabkan oleh perbuatan lampau, oleh ciptaan Iswara, atau terjadi tanpa sebab dan kondisi.
  • Titthiya, mereka yang menyetujui dan menganut pandangan-pandangan tersebut.

Istilah ini juga muncul dalam berbagai bentuk, seperti:

  • Aññatitthiyā ("para titthiya lain");
  • Titthiyehi titthiyasāvakehi ("para petapa agama lain dan pengikutnya");
  • Nānātitthiyā ("yang mengikuti berbagai agama lain").

Ajita Sutta (AN 10.116) menguraikan:[15]

“Guru Gotama, aku memiliki seorang teman petapa bernama Paṇḍita. Ia telah memikirkan lima ratus argumen yang dengannya mereka yang berasal dari sekte lain, ketika dibantah, mengetahui: ‘Kami telah dibantah.’” Amhākaṁ, bho gotama, paṇḍito nāma sabrahmacārī. Tena pañcamattāni cittaṭṭhānasatāni cintitāni, yehi aññatitthiyā upāraddhāva jānanti upāraddhasmā”ti
Ajita Sutta, AN 10.116
terj. Indra Anggara

Selain itu, penggunaannya juga dapat ditemukan di berbagai kitab-kitab Sutta Piṭaka:

  • Dīghanikāya (DN):
    • Sāmaññaphala Sutta (DN 2)
    • Mahāsīhanāda Sutta (DN 8)
    • Poṭṭhapāda Sutta (DN 9)
    • Mahāparinibbāna Sutta (DN 16)
    • Pāthika Sutta (DN 24)
    • Udumbarika Sutta (DN 25)
    • Sampasādanīya Sutta (DN 28)
    • Pāsādika Sutta (DN 29)
  • Majjhimanikāya (MN):
    • Cūḷasīhanāda Sutta (MN 11)
    • Mahādukkhakkhandha Sutta (MN 13)
    • Cūḷasāropama Sutta (MN 30)
    • Aṭṭhakanāgara Sutta (MN 52)
    • Upāli Sutta (MN 56)
    • Kukkuravatika Sutta (MN 57)
    • Bahuvedanīya Sutta (MN 59)
    • Mahāmālukya Sutta (MN 64)
    • Bhaddāli Sutta (MN 65)
    • Mahāvaccha Sutta (MN 73)
    • Māgaṇḍiya Sutta (MN 75)
    • Mahāsakuludāyi Sutta (MN 77)
    • Mahāsuññata Sutta (MN 122)
    • Mahākammavibhaṅga Sutta (MN 136)
    • Nagaravindeyya Sutta (MN 150)
  • Saṁyuttanikāya (SN):
    • Nānātitthiyasāvaka Sutta (SN 2.30)
    • Dahara Sutta (SN 3.1)
    • Acelakassapa Sutta (SN 12.17)
    • Aññatitthiya Sutta (SN 12.24)
  • Aṅguttaranikāya (AN):
    • Samacitta Vagga (AN 2.32–41)
    • Devaloka Sutta (AN 3.18)
    • Titthāyatana Sutta (AN 3.61)
    • Aññatitthiya Sutta (AN 3.68)
    • Paviveka Sutta (AN 3.93)
    • Hatthaka Sutta (AN 3.127)
    • Brāhmaṇasacca Sutta (AN 4.185)
    • Bhaddiya Sutta (AN 4.193)
    • Hatthisāriputta Sutta (AN 6.60)
    • Paṭhamaniddasa Sutta (AN 7.42)
    • Dutiyaniddasa Sutta (AN 7.43)
    • Sīha Sutta (AN 8.12)
    • Anuruddhamahāvitakka Sutta (AN 8.30)
    • Mūlaka Sutta (AN 8.83)
    • Sambodhi Sutta (AN 9.1)
    • Saupādisesa Sutta (AN 9.12)
    • Nāga Sutta (AN 9.40)
    • Paṭhamamahāpañhā Sutta (AN 10.27)
    • Mūlaka Sutta (AN 10.58)
    • Paṭhamakathāvatthu Sutta (AN 10.69)
    • Kiṁdiṭṭhika Sutta (AN 10.93)
    • Vajjiyamāhita Sutta (AN 10.94)
    • Ajita Sutta (AN 10.116)
    • Aṭṭhakanāgara Sutta (AN 11.16)
  • Khuddakanikāya (KN):
    • Dhammapada (Dhp):
      • Dhammaṭṭha Vagga (Dhp 256–272): bagian "Titthiyavatthu"
      • Niraya Vagga (Dhp 306–319): bagian "Titthiyasāvakavatthu"
    • Udāna (Ud):
      • Paṭhamanānātitthiya Sutta (Ud 6.4)
      • Dutiyanānātitthiya Sutta (Ud 6.5)
      • Tatiyanānātitthiya Sutta (Ud 6.6)
    • Suttanipāta (Snp):
      • Sabhiya Sutta (Snp 3.6)
    • Milindapañha (Mil):
      • Bāhirakathā (Mil 2)

Sebagai tambahan, istilah terkait titthāyatana ("landasan ajaran sektarian") juga tercantum dalam matriks kelompok tiga (tikamātikā) kitab Vibhaṅga (Vb 17) di Abhidhamma Piṭaka, yaitu tīṇi titthāyatanāni ("tiga landasan ajaran sektarian"). Bagian uraiannya (niddesa) menjelaskan ketiganya sebagai pandangan sebagian petapa atau brahmana bahwa segala perasaan yang dialami seseorang, baik menyenangkan, menyakitkan, maupun netral, sepenuhnya disebabkan oleh perbuatan masa lampau (pubbekatahetu), oleh ciptaan Iswara (issaranimmānahetu), atau terjadi tanpa sebab dan tanpa kondisi (ahetu-appaccayā).[16] Ketiga pandangan ini sama dengan yang diuraikan dalam Titthāyatana Sutta (AN 3.61).[11]

Anjuran membantah para manusia kosong

Dalam Kiṁdiṭṭhika Sutta (AN 10.93), perumah tangga Anāthapiṇḍika mengunjungi taman para pengembara titthiya lain (aññatitthiyā paribbājakā) karena Sang Buddha dan para biku sedang berada dalam keterasingan. Ketika ditanya tentang pandangannya, ia meminta para pengembara lebih dulu mengemukakan pandangan mereka, yaitu sepuluh pandangan spekulatif tentang dunia, jiwa dan badan, serta keadaan Tathāgata setelah kematian. Anāthapiṇḍika menanggapi bahwa setiap pandangan itu muncul dari perhatian yang tidak saksama (ayoniso manasikāra) atau dari ucapan orang lain, sehingga terkondisi, tidak kekal, dan merupakan penderitaan yang justru dilekati oleh para pengembara. Ketika mereka membalas bahwa ia pun melekati penderitaan, Anāthapiṇḍika menjawab bahwa ia telah melihatnya sebagaimana adanya dengan kebijaksanaan benar dan memahami jalan membebaskan diri darinya. Para pengembara itu pun terdiam, dan Sang Buddha menyetujui cara Anāthapiṇḍika membantah mereka:[b][18][19][20]

“Bagus, bagus, perumah tangga! Dengan cara demikianlah para manusia kosong itu harus dari waktu ke waktu dibantah sepenuhnya dengan argumen yang logis.” Sādhu sādhu, gahapati. Evaṁ kho te, gahapati, moghapurisā kālena kālaṁ sahadhammena suniggahitaṁ niggahetabbā.
Kiṁdiṭṭhika Sutta, AN 10.93
terj. Indra Anggara

Setelah Anāthapiṇḍika pergi, Sang Buddha menjadikan caranya membantah para titthiya sebagai teladan bagi para biku:[c][18]

“Para bhikkhu, jika bhikkhu mana pun, bahkan seorang yang telah ditahbiskan selama seratus tahun dalam Dhamma dan disiplin ini, akan sepenuhnya membantah para pengembara sekte lain dengan argumen yang logis, maka ia harus membantahnya persis seperti yang telah dilakukan oleh perumah tangga Anāthapiṇḍika.” Yopi so, bhikkhave, bhikkhu vassasatūpasampanno imasmiṁ dhammavinaye, sopi evamevaṁ aññatitthiye paribbājake sahadhammena suniggahitaṁ niggaṇheyya yathā taṁ anāthapiṇḍikena gahapatinā niggahitā.
Kiṁdiṭṭhika Sutta, AN 10.93
terj. Indra Anggara

Kisah serupa terdapat dalam Vajjiyamāhita Sutta (AN 10.94), tepat setelah sutta di atas. Di sana, perumah tangga Vajjiyamāhita dari Campā ditanya oleh para pengembara titthiya apakah benar Petapa Gotama mencela semua bentuk pertapaan (tapa) secara mutlak (ekaṁsena). Vajjiyamāhita menjawab bahwa Sang Buddha mengkritik apa yang layak dikritik dan memuji apa yang layak dipuji. Dengan demikian, Beliau berbicara atas dasar pembedaan (vibhajjavāda), bukan secara sepihak (ekaṁsavāda).[d] Menurut Bhikkhu Bodhi, sebutan vibhajjavādī kadang dimaknai sebagai "menganalisis hal-hal ke dalam komponen-komponennya", tetapi penggunaannya di sini dan di tempat lain dalam Nikāya menunjukkan bahwa maknanya adalah Sang Buddha "menarik perbedaan yang diperlukan untuk menghindari generalisasi yang mengabaikan ambiguitas yang penting" (bandingkan Subha Sutta, MN 99).[23] Ketika seorang pengembara menuduh Sang Buddha sebagai venayiko appaññattiko ("penganut penghapusan yang menghindari membuat pernyataan pasti"), Vajjiyamāhita membantah bahwa Sang Buddha justru telah dengan tegas menetapkan apa yang bermanfaat (kusala) dan apa yang tidak bermanfaat (akusala). Sang Buddha memujinya dengan kata-kata yang sama, lalu menjelaskan bahwa Beliau tidak menyatakan semua pertapaan, pelaksanaan (samādāna), usaha (padhāna), pelepasan (paṭinissagga), dan kebebasan (vimutti) harus dijalani, tetapi juga tidak menyatakan semuanya tidak boleh dijalani. Tolok ukurnya adalah apakah hal itu menambah kualitas tidak bermanfaat dan mengurangi kualitas bermanfaat, atau sebaliknya. Sutta ini juga ditutup dengan pernyataan Sang Buddha yang menjadikan Vajjiyamāhita teladan bagi para biku, tetapi biku yang dimaksud digambarkan sebagai "seorang yang telah sejak lama memiliki sedikit debu di matanya" (dīgharattaṁ apparajakkho).[24][25]

Kemampuan membantah ajaran lain juga disebut dalam Mahāparinibbāna Sutta (DN 16). Dalam sutta tersebut, Māra mengingatkan Sang Buddha akan pernyataan-Nya dahulu bahwa Beliau tidak akan parinibbāna sebelum para siswa-Nya, baik biku, bikuni, upasaka, maupun upasika, mampu mengajarkan Dhamma serta membantah dengan baik ajaran lawan yang muncul (uppannaṁ parappavādaṁ sahadhammena suniggahitaṁ niggahetvā). Māra lalu menyatakan bahwa syarat itu kini telah terpenuhi.[26] Rumusan yang sama juga muncul dalam Mahāsakuludāyi Sutta (MN 77) sebagai salah satu alasan para siswa menghormati Sang Buddha.[27]

Enam guru sesat

Berdasarkan Sāmaññaphala Sutta
Pandangan dari
Enam Guru Sesat
Buddhisme
Amoralisme
(akiriyavāda; natthikavāda)
“Tidak ada pahala atau hukuman atas perbuatan baik maupun buruk.”
Fatalisme
(ahetukavāda; niyativāda)
“Kita tak berdaya; penderitaan sudah ditakdirkan.”
Materialisme
(ucchedavāda; natthikavāda)
“Hiduplah bersenang-senang; dengan kematian, segalanya akan musnah.”
Eternalisme dan kategorialisme (sassatavāda; sattakāyavāda)
Brata
(mahāvrata)
“Diberkahi, dibersihkan oleh, dan dipenuhi [hanya] dengan penghindaran terhadap segala kejahatan.”
Agnostisisme
(amarāvikkhepa-vāda)
“Aku tak berkata demikian; begini atau begitu; sebaliknya; bahwa aku mengingkarinya; aku tak mengingkarinya; ada, tidak ada, ada-dan-tidak-ada, tidak-ada-dan-bukan-tidak-ada.”
20px-Flag_of_Buddhism.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail PortalBuddhisme

Istilah "enam guru sesat, enam kesesatan, enam tīrthika, enam samaṇa, atau enam śramaṇa" merujuk pada enam pendiri ajaran sektarian (Pali: titthakara; Sanskerta: tīrthaṅkara) sezaman Buddha Gotama yang masing-masing mempunyai pandangan yang bertentangan dengan ajaran Buddha.[28][29] Selain Nigaṇṭha Nāṭaputta (Mahāvīra), tīrthaṅkara ajaran Jainisme ke-24, lima guru sesat lainnya dianggap sebagai penganut salah satu bentuk pandangan yang menyatakan bahwa perbuatan baik atau buruk tidak signifikan (akiriyavāda).[30]

Enam guru sesat dan pandangan mereka terhadap filsafat India dijelaskan secara rinci dalam Sāmaññaphala Sutta dari Dīghanikāya dalam Tripitaka Pali.[31] Dari sudut pandang tradisi Buddhisme, enam guru sesat dikalahkan oleh Buddha dalam kontes mukjizat yang dikenal dengan "Mukjizat di Sāvatthī", sebagaimana tertera dalam kitab Dhammapada-aṭṭhakathā (Yamakapāṭihāriyavatthu, Dhp 181).[32][33]

Latar belakang

250px-Kizil_Caves_80.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Penggambaran enam guru sesat di Gua Kizil.

Menurut sutta tersebut (Sāmaññaphala Sutta, DN 2), Raja Ajātasattu mengunjungi Buddha Gotama, yang saat itu tinggal di hutan mangga Jīvaka di Rajagaha di antara 1250 biku. Raja mengajukan pertanyaan kepada Buddha tentang apakah mungkin kehidupan seorang samana dapat membuahkan hasil seperti halnya kehidupan para perajin, dan menyatakan bahwa ia sebelumnya telah menanyakan pertanyaan yang sama kepada enam guru (Pūraṇa Kassapa, Makkhali Gosāla, Ajita Kesakambalī, Pakudha Kaccāyana, Nigaṇṭha Nāṭaputta, dan Sañjaya Belaṭṭhiputta), tetapi tidak menemukan jawaban yang memuaskan. Atas permintaan Buddha, Raja Ajātasattu menjelaskan jawaban yang diberikan kepadanya oleh enam guru lainnya.[34]

Nama-nama di bawah ini ditulis dalam bahasa Pali, dengan nama-nama padanan dalam bahasa Sanskerta ditulis dalam tanda kurung.

Pūraṇa Kassapa

Guru spiritual pertama yang ditanyai Ajātasattu adalah Pūraṇa Kassapa (Sanskerta: Pūrṇa Kāśyapa). Kassapa mengajukan teori akiriyavāda (ajaran nonfungsional; tanpa-melakukan): perbuatan yang dianggap baik dan buruk tidak memiliki moralitas yang melekat dan dengan demikian tidak ada konsekuensi masa depan dari melakukan perbuatan "baik" atau "buruk".[30]

Makkhali Gosāla

Makkhali Gosāla (Sanskerta: Maskarī Gośālīputra), guru kedua yang dikunjungi oleh Ajātasattu, menganut ajaran non-kausalitas;[35][36] pencapaian kondisi apa pun bergantung pada keadaan, takdir, atau alam, bukan pada kemauan manusia, dan peristiwa-peristiwa tidak memiliki akar penyebab.[37][36] Seperti Pūraṇa Kassapa, Gosāla juga menyangkal keberadaan karma dan buah karma (vipāka). Ajaran ini disamakan dengan fatalisme dan determinisme.[30] Ajarannya juga disebut ajaran ketiadaan sebab (ahetukavāda), ajaran pemurnian melalui samsara (saṃsārasuddhivāda).[38]

Ajita Kesakambalī

Ajita Kesakambalī (Sanskerta: Ajita Keśakambala) disebutkan setelah Makkhali Gosāla sebagai guru ketiga yang disebutkan oleh Ajātasattu. Ia dianggap sebagai seorang materialis (bhautikavādi), nihilis (ucchedavādi), dan penganut ajaran yang menolak bekerjanya karma (akiriyavādi). Kesakambalī berpendapat bahwa semua yang ada hanyalah proses fenomena alam dan dengan keras menolak keberadaan kehidupan apa pun setelah kematian;[30] "Seorang manusia terbentuk dari empat unsur; ketika ia meninggal, tanah kembali menjadi gugusan tanah, air menjadi air, api menjadi api, udara menjadi udara, dan indra lenyap ke dalam ruang."[34]

Pakudha Kaccāyana

Pakudha Kaccāyana (Sanskerta: Kakuda Kātyāyana), guru keempat yang dirujuk oleh Ajātasattu, adalah seorang kategorialis (atomis) yang berpendapat bahwa semua hal-ihwal terbuat dari tujuh unsur yang kekal dan tidak dapat berubah, yaitu unsur tanah, api, udara, air, kebahagiaan, penderitaan, dan roh/jiwa. Jadi, objek-objek, seperti makhluk hidup, yang tersusun atas unsur-unsur tersebut dapat berubah, sedangkan unsur-unsur terkecilnya itu sendiri keberadaannya benar-benar tidak berubah.[30] Jadi, menurut pandangan ini, suatu perbuatan (karma) didefinisikan semata-mata oleh interaksi fisik antara zat-zat ini, bukan nilai moral yang dikaitkan dengannya.[39]

Nigaṇṭha Nāṭaputta

Nigaṇṭha Nāṭaputta (Mahawira; Sanskerta: Nirgraṇṭha Jñātiputra), tīrthaṅkara agama Jainisme ke-24, adalah guru kelima yang ditanyai Ajātasattu. Nāṭaputta menjawab Ajātasattu dengan uraian tentang ajaran Jainisme, yang, tidak seperti guru-guru sebelumnya, mengakui moralitas dan konsekuensi karma di kehidupan berikutnya. Akan tetapi, filosofi Nāṭaputta berbeda dari filosofi Buddha dalam keyakinannya bahwa perbuatan yang tidak disengaja dianggap membawa beban karma seperti halnya perbuatan yang disengaja; Buddhisme berpendapat bahwa hanya perbuatan yang disengaja (dengan kehendak/niat moral yang sesuai) yang berpotensi menghasilkan buah karma.[35] Nigaṇṭha Nāṭaputta juga disebut sebagai seorang relativis. Ia mengajarkan ajaran yang menganggap bahwa apa pun yang terjadi hanya karena disebabkan masa lampau belaka. Jadi, apa pun yang terjadi saat ini, sepenuhnya telah diatur karma masa lampau.[30]

250px-Jain_meditation.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Seorang penganut Jainisme sedang bermeditasi.

Dalam Nigaṇṭha Sutta (AN 10.78), Sang Buddha menguraikan sepuluh kualitas buruk penganut agama Jainisme:[40]

  1. Tidak memiliki keyakinan [terhadap Triratna] (assaddhā)
  2. Dursila atau tidak bermoral (dussīlā)
  3. Tidak tahu malu (ahirikā)
  4. Tidak takut akibat perbuatan jahat (anottappino)
  5. Membaktikan diri pada orang-orang jahat (asappurisasambhattino)
  6. Memuji diri mereka sendiri sembari menghina orang lain (attukkaṁsakaparavambhakā)
  7. Menggenggam pandangan-pandangan mereka sendiri, memegangnya dengan erat, dan melepaskannya dengan susah-payah (sandiṭṭhiparāmāsā ādhānaggāhī duppaṭinissaggino)
  8. Para penipu (kuhakā)
  9. Memiliki keinginan jahat (pāpicchā)
  10. Berteman dengan orang yang jahat (pāpamittā)

Sañjaya Belaṭṭhiputta

Sañjaya Belaṭṭhiputta (Sanskerta: Saṃjaya Vairāṣṭrikaputra) adalah guru keenam dan terakhir yang dirujuk oleh Ajātasattu. Ia menjawab pertanyaan Raja Ajātasattu sebagai berikut:

"Jika Anda bertanya kepada saya apakah ada dunia lain, dan jika saya pikir ada, saya akan menjawab demikian. Namun, saya tidak mengatakan demikian. Saya tidak mengatakan bahwa itu begini atau begitu; saya tidak mengatakan bahwa itu sebaliknya; saya tidak mengatakan bahwa saya mengingkarinya; saya tidak mengatakan bahwa saya tidak mengingkarinya; saya tidak mengatakan bahwa ada, tidak ada, ada-dan-tidak-ada, tidak-ada-dan-bukan-tidak-ada, dunia lain. Jika Anda bertanya kepada saya apakah ada makhluk yang lahir secara spontan ... (pengulangan jawaban) ..., apakah ada buah, hasil, dari perbuatan baik atau buruk ... (pengulangan jawaban) ..., apakah seseorang yang telah memenangkan kebenaran akan terus ada setelah kematian ... (pengulangan jawaban)"

Belaṭṭhiputta tidak memberikan jawaban yang jelas kepada Ajātasattu atas pertanyaannya sehingga beberapa cendekiawan mengaitkannya dengan Ajñāna, sebuah aliran agnostik dalam filsafat India yang menyatakan bahwa segala pengetahuan metafisika mustahil diperoleh.[41] Sañjaya Belaṭṭhiputta juga disebut sebagai seorang skeptis. Ia menolak dan juga membenarkan suatu ajaran sebagai hal yang positif atau negatif. Jawaban yang diberikan rancu, kacau, berbelit-belit, dan tidak relevan dengan pertanyaannya. Jawaban semacam itu disebut dengan istilah "geliat belut".[30]

Mukjizat di Sāvatthī

Artikel utama: Mukjizat Ganda

Kisah lengkap mukjizat ini terdapat dalam Yamakapāṭihāriyavatthu ("Kisah Mukjizat Ganda"), cerita latar untuk syair 181 dalam Dhammapada-aṭṭhakathā.[42]

Kisah ini berawal di Rājagaha. Seorang bendahara kota menemukan sepotong kayu cendana merah yang hanyut di Sungai Gangga, lalu membuatnya menjadi sebuah mangkuk. Oleh karena belum pernah bertemu seorang pun yang benar-benar arahat, ia menggantung mangkuk itu setinggi enam puluh hasta dan mengumumkan bahwa ia akan menjadi siswa siapa pun yang dapat terbang dan mengambilnya. Selama enam hari, enam guru sesat meminta mangkuk itu tanpa mau terbang. Nigaṇṭha Nāṭaputta bahkan bersandiwara hendak terbang, lalu menyuruh murid-muridnya menariknya jatuh seolah-olah mereka mencegahnya memamerkan kesaktian demi sebuah mangkuk kayu.[43] Pada hari ketujuh, biku Piṇḍola Bhāradvāja terbang dan mengambil mangkuk itu. Sang Buddha kemudian menegurnya, menyuruh mangkuk itu dihancurkan, dan menetapkan aturan yang melarang para biku mempertunjukkan kesaktian untuk tujuan semacam itu.[44]

Para titthiya memanfaatkan larangan tersebut dan berkeliling kota menyatakan bahwa mereka siap beradu mukjizat dengan Petapa Gotama. Ketika Raja Bimbisāra menanyakan hal itu, Sang Buddha menjawab bahwa aturan itu berlaku bagi para siswanya, bukan bagi dirinya, seperti halnya rakyat dilarang memetik buah di taman raja, tetapi raja sendiri boleh memakannya. Beliau lalu menyatakan akan mempertunjukkan mukjizat di dekat Sāvatthī empat bulan kemudian, pada hari purnama bulan Āsāḷha.[45] Para titthiya mengikuti Sang Buddha ke Sāvatthī, membangun sebuah paviliun untuk pertandingan itu, dan mencabut semua pohon mangga sejauh satu yojana setelah mendengar bahwa mukjizat akan dilakukan di bawah pohon mangga.[46] Namun, pada hari yang ditentukan, tukang kebun raja bernama Gaṇḍa mempersembahkan sebutir mangga kepada Sang Buddha, dan dari bijinya seketika tumbuh sebatang pohon mangga besar.[47]

Atas perintah Sakka, angin menerbangkan paviliun para titthiya, lalu mereka didera terik matahari, debu, dan hujan hingga lari tunggang langgang. Pūraṇa Kassapa mengikatkan kendi air di lehernya, menceburkan diri ke sungai, dan terlahir kembali di neraka Avīci.[48] Setelah menolak tawaran beberapa siswanya untuk menggantikan beliau,[49] Sang Buddha berjalan di atas jalan permata di angkasa dan memancarkan api dan air secara bersamaan dari berbagai bagian tubuhnya dalam enam warna. Inilah yang disebut mukjizat ganda (yamakapāṭihāriya).[50] Sesudahnya, Sang Buddha naik ke alam Tāvatiṃsa untuk membabarkan Abhidhamma Piṭaka kepada ibunya, lalu turun kembali ke bumi di gerbang kota Saṅkassa.[51]

Dalam Aśokāvadāna

Dalam Aśokāvadāna, karya berbahasa Sanskerta dari tradisi Buddhisme Utara, para tīrthika diceritakan iri melihat semangat Asoka dalam mendukung agama Buddha. Mereka berkumpul dan berkata satu sama lain, "Jika raja Asoka ini terus menjadi pemuja Buddha, semua orang yang didorong olehnya juga akan menjadi pengikut Buddha." Mereka kemudian mendatangi rumah-rumah penduduk dan menyatakan bahwa agama mereka adalah agama yang benar, sedangkan agama Buddha bukan agama yang benar karena tidak memberikan mokṣa (pembebasan). Sebagian orang percaya, sebagian ragu, dan sebagian lagi sama sekali tidak memercayai mereka.[8]

Para tīrthika itu lalu menghadap Wītāśoka, saudara Asoka, dan membujuknya untuk menganut agama mereka dengan janji bahwa ia akan menaklukkan semua musuhnya dan menjadi cakravartī. Mereka juga mencela para biksu sebagai orang-orang berkepala gundul yang mengajarkan agama palsu serta meruntuhkan tatanan kasta dan kewajiban. Menurut Dutt, kutipan ini menunjukkan upaya keras para brahmana untuk mencegah Asoka memeluk agama Buddha.[52]

Dalam tradisi Mahāyāna

Lihat pula: Mahāyāna
Bagian dari seri tentang
Buddhisme Mahāyāna
Seroja, salah satu dari delapan simbol keberuntungan dalam Mahāyāna
Buddhisme
20px-Flag_of_Buddhism.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail PortalBuddhisme

Sutra Penaklukan Kaum Tīrthika

Istilah "tīrthika", padanan istilah titthiya (bahasa Pali) dalam bahasa Sanskerta, juga dapat ditemukan dalam beberapa sutra Mahāyāna, seperti dalam 佛說俱利伽羅大龍勝外道伏陀羅尼經 ("Sutra Dharani Yang Disabdakan Buddha Mengenai Mahanaga Kulika/Krkala Menaklukkan Kaum Tīrthika").[53]

昔色究竟天魔醯首羅知勝城,無動明王與外道
...
時有九十五種外道

“Pada zaman dahulu, terdapatlah dewa penganut ajaran sesat (tīrthika) bernama Mahesvara. Acalanatha Vidyaraja berdebat melawan para Māra yang menganut ajaran sesat tersebut di Istana Pengetahuan Unggul.
...

Ketika itu, di antara mereka terdapat 95 aliran ajaran sesat (tīrthika).

Tripiṭaka Taishō 1206

Sutra Mahāyāna Mahāparinirvāṇa

Dalam Mahāyāna Mahāparinirvāṇa Sūtra, dijelaskan:[54]

Mañjuśrī berkata: "Sang Buddha berkata bahwa jalan tunggal adalah jalan yang murni dan tidak mungkin ada dua jalan. Semua tīrthika juga mengatakan bahwa mereka memiliki satu jalan dan tidak ada dua jalan. Jika jalan tunggal adalah kebenaran sejati, apa bedanya dengan apa yang dikatakan para tīrthika? Jika tidak ada perbedaan, tidak mungkin ada satu jalan tunggal yang murni." Sang Buddha berkata: "Wahai orang baik! Semua tīrthika memiliki dua kebenaran tentang penderitaan dan penyebab penderitaan. Mereka tidak memiliki kebenaran tentang kepunahan dan Jalan. Mereka memikirkan kepunahan di mana tidak ada kepunahan; mereka memikirkan Jalan di mana tidak ada Jalan; mereka memikirkan hasil di mana tidak ada hasil; mereka memikirkan penyebab di mana tidak ada penyebab. Jadi, mereka tidak memiliki satu jalan tunggal yang murni."

Mahāyāna Mahāparinirvāṇa Sūtra, Tripiṭaka Taishō no. 374

Sutra Maha Kesadaran Sempurna

Selain itu, istilah tīrthika juga digunakan dalam Mahāvaipulya Paripūrṇa Buddhi Nītārtha Sūtra ("Sutra Maha Kesadaran yang Sempurna").[7]

Ada sebagian umat yang bernasib kurang mujur. Meskipun selama ini mereka telah bertekad menuntut Dharma, tetapi malang sekali, semua guru yang ditemuinya adalah guru yang berpandangan sesat (Guru Tīrthika). Mereka dengan susah-payah berjuang seumur hidup, tapi tetap saja sulit mencapai kesadaran yang sempurna, juga sulit memperoleh jati-diri Paripurnabuddhi yang dimilikinya sejak awal itu. Inilah yang dinamakan Tirthikagotra. Kendati pun mereka adalah sekelompok murid sesat yang berpikiran sesat dan enggan mengubah jalan sesat menuju ke jalan yang benar, tetapi kesalahan itu bukan dari si murid, melainkan dari Sang Guru, dan Sang Guru-lah yang harus mempertanggung jawabkannya. Inilah Gotra yang Berakar Tidak Baik atau dengan kata lain Icchantikagotra."
...
Kemudian, kalian boleh dengan khidmat menyatakan diri akan mengikuti jejak para Arya menjadi seorang Bodhisattva, lalu mengucapkan kata-kata dari Pranidhana (Janji Setia) sebagai berikut: O, Hyang Tathāgata! Namo Ratna Trayaya! Lindungilah aku! Bantulah aku agar mulai sekarang dapat ditempatkan di Alam Bodhisattvayāna, di Alam Bodhi yang dimiliki para Tathāgata! Dan kuharap dapat memperoleh kesempatan yang baik agar selama aku menuntut Dharma bisa menemukan Sang Tokoh Dharma yang bijak, bukan para Guru Tīrthika atau yāna-yāna yang lain. Aku bertekad dengan cita-cita yang suci, setahap demi setahap melepaskan berbagai Halangan hingga bersih tuntas. O, Hyang Tathāgata! Namo Ratna Trayaya! Apabila cita-citaku tercapai, aku akan dengan lahir-batin yang telah bebas, pergi menghadap Istana Dharma yang paling suci dan agung. Aku akan dengan Maha Kesadaran Diri menyaksikan Alam Bodhi yang demikian luas nan megah yang berasal dari jati-diri Paripurnabuddhi! Aku juga tidak akan melupakan tugasku dan bertekad kembali ke alam sengsara untuk menyelamatkan para umat di alamnya. Sekian!"

Mahāvaipulya Paripūrṇa Buddhi Nītārtha Sūtra, Tripiṭaka Taishō No. 842

Dalam sutra tersebut, tīrthika disejajarkan dengan penganut yāna ("kendaraan, aliran") lain selain Mahāyāna (lihat Hīnayāna) sebagai lawan dari "Sang Tokoh Dharma yang bijak".

Sutra Mulia Mahāyāna "Pertanyaan tentang Tanpa-Diri"

Dalam Nairātmyaparipṛcchā atau Āryanairātmyaparipṛcchānāmamahāyānasūtra, dijelaskan ringkasan:[55]

[Sutra ini] terdiri dari dialog antara sekelompok pengikut aliran Mahāyāna dan sekelompok tīrthika, yang mengajukan beberapa pertanyaan tentang ajaran tanpa-diri. Dalam pertukaran pendapat berikutnya, para pendukung Mahāyāna menjelaskan ajaran ini dan ajaran-ajaran utama Buddha lainnya, seperti perbedaan antara realitas relatif dan realitas hakiki, asal mula penderitaan, kekosongan dan ilusi dari semua fenomena, dan jalan menuju pencerahan.

Ringkasan dari Āryanairātmyaparipṛcchānāmamahāyānasūtra, Tōhoku 173, Degé Kangyur, vol. 60 (mdo sde, ma), folios 5.b–7.b

Lihat pula

Catatan

  1. Entri tittha dalam Pali–English Dictionary menuliskannya sebagai tarate, tetapi entri tarati dan tīra dalam kamus yang sama menggunakan bentuk tarati.[9]
  2. Kitab komentar Manorathapūraṇī menjelaskan sahadhammena sebagai "dengan penyebab, dengan alasan, dengan pernyataan" (sahetukena kāraṇena vacanena).[17]
  3. Terjemahan ini mengikuti bacaan edisi Ma. (Burma) dan Yu., yaitu vassasatūpasampanno ("telah ditahbiskan selama seratus tahun"). Edisi Tipitaka Thai menuliskannya sebagai dīgharattaṁ avedhidhammo.[21][22]
  4. Edisi Tipitaka Thai menuliskannya sebagai vibhajavādī dan ekaṃsavādī, sedangkan edisi Po., Ma., dan Yu. menuliskannya sebagai vibhajavādo dan ekaṃsavādo.[22] Bhikkhu Bodhi mengutip bentuk vibhajjavādī dan ekaṃsavādī.[23]

Referensi

  1. Brancaccio 1991, hlm. 123.
  2. Jaini 2000, hlm. 111.
  3. Dhammajoti 2007, hlm. 259.
  4. Keown 2003, hlm. 307.
  5. 1 2 3 4 Wisdom Library 2014a.
  6. SuttaCentral titthiya.
  7. 1 2 Mahavaipulya Paripurna Buddhi Nitartha Sutra.
  8. 1 2 Dutt 1901, hlm. 245.
  9. Rhys Davids & Stede 1921–1925, s.v. tittha, tīra, tarati.
  10. 1 2 Rhys Davids & Stede 1921–1925, hlm. 302.
  11. 1 2 SuttaCentral AN 3.61.
  12. Sariputta Dhp 318.
  13. DhammaCitta AN 3.61, catatan kaki no. 1.
  14. SuttaCentral DN 1.
  15. DhammaCitta AN 10.116.
  16. SuttaCentral Vb 17.
  17. DhammaCitta AN 10.93, catatan kaki no. 2.
  18. 1 2 DhammaCitta AN 10.93.
  19. SuttaCentral AN 10.93.
  20. Hecker 1986, bag. 5.
  21. 84000.org AN 10.93.
  22. 1 2 84000.org AN 10.94.
  23. 1 2 DhammaCitta AN 10.94, catatan kaki no. 1.
  24. DhammaCitta AN 10.94.
  25. SuttaCentral AN 10.94.
  26. SuttaCentral DN 16.
  27. SuttaCentral MN 77.
  28. Green & Coomaraswamy 1965, hlm. 547.
  29. Encyclopedia.com Six heretical teachers.
  30. 1 2 3 4 5 6 7 Medhacitto 2015, hlm. 37–38.
  31. Wayman 1997, hlm. 25.
  32. Strong 2009, hlm. 140–143.
  33. Burlingame 1921, hlm. 35–47.
  34. 1 2 Access to Insight DN 2.
  35. 1 2 Velez de Cea 2013, hlm. 73.
  36. 1 2 Pa-Auk Tawya Sayadaw 2009, hlm. 170.
  37. Malalasekera 2003, hlm. 398.
  38. Palikanon Makkhali Gosāla.
  39. Ñāṇamoli & Bodhi 1995, hlm. 1258–1259.
  40. SuttaCentral AN 10.78.
  41. Chattopadhyaya 1959, hlm. 504–518.
  42. Burlingame 1921, hlm. 35.
  43. Burlingame 1921, hlm. 35–37.
  44. Burlingame 1921, hlm. 37–38.
  45. Burlingame 1921, hlm. 38–40.
  46. Burlingame 1921, hlm. 40.
  47. Burlingame 1921, hlm. 41.
  48. Burlingame 1921, hlm. 42.
  49. Burlingame 1921, hlm. 42–45.
  50. Burlingame 1921, hlm. 45–47.
  51. Burlingame 1921, hlm. 48–54.
  52. Dutt 1901, hlm. 245–246.
  53. Taniputera.
  54. Wisdom Library 2013.
  55. 84000 Toh 173.

Daftar pustaka

Sumber buku

Sumber jurnal

Sumber web

Penganut
Buddhis
Theravādin
Umat Kristen
Katolik
Protestan
Restorasionis
Umat Hindu
Brahmanis
Jain
Yahudi
Kripto
Umat Islam
Ahmadi
Isma'ili
Sufi
Syiah
Sunni
Salafi
Zoroastrian
Non-penganut
Non-Buddhis
Non-Mahāyānis
Non-Kristen
Non-Muslim
Non-Yahudi
Non-Ortodoks
40px-Buddhism_Symbol.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail   Topik Buddhisme   40px-Flag_of_Buddhism.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Buddhisme awal
Benua
Populasi signifikan
Aliran arus utama
Sinkretis
Theravāda
Mahāyāna-Vajrayāna
Kitab daring
Buddha saat ini dan keluarga
4 tempat suci utama
Buddha penting sebelumnya
Buddha selanjutnya
Bawahan
Mahāyāna-Vajrayāna
Jenis penganut
4 tingkat kemuliaan
Tempat ibadah
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan