Kamis, 08 Oktober 2026
10:31 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Apresiasi Peran Vital Kader, Pemkot Bandar Lampung Beri Insentif Rp500 Ribu Lampung Barat Emosi Memuncak, Penagih Utang Tewas di Tangan Debitur di Lampung Barat Bandar Lampung Buruh Lampung Berunjuk Rasa, Pertanyakan Pengesahan Dini UU Perlindungan Ketenagakerjaan Cuaca Ratusan Titik Panas Terpantau di Lampung, Tulang Bawang dan Mesuji Teratas Nasional MK Soroti Syarat Pendidikan Gibran, KPU Didesak Diperiksa DPR dan DKPP Bandar Lampung Polisi Bandar Lampung Amankan Lima Remaja Bersenjata Tajam, Kedepankan Edukasi Bandar Lampung Misteri Antrean Panjang Solar di Lampung Meski Pasokan Berlimpah Bandar Lampung Arinal Djunaidi Jalani Sidang Pembuktian, Hakim Tetapkan Vonis 20 Januari 2027 Cuaca Lampung Timur Dominasi Sebaran 140 Titik Panas di Provinsi Lampung Ekonomi Dan Bisnis Harga Emas Antam 6 Oktober 2026 Terkoreksi, Cek Daftar Lengkapnya Bandar Lampung Apresiasi Peran Vital Kader, Pemkot Bandar Lampung Beri Insentif Rp500 Ribu Lampung Barat Emosi Memuncak, Penagih Utang Tewas di Tangan Debitur di Lampung Barat Bandar Lampung Buruh Lampung Berunjuk Rasa, Pertanyakan Pengesahan Dini UU Perlindungan Ketenagakerjaan Cuaca Ratusan Titik Panas Terpantau di Lampung, Tulang Bawang dan Mesuji Teratas Nasional MK Soroti Syarat Pendidikan Gibran, KPU Didesak Diperiksa DPR dan DKPP Bandar Lampung Polisi Bandar Lampung Amankan Lima Remaja Bersenjata Tajam, Kedepankan Edukasi Bandar Lampung Misteri Antrean Panjang Solar di Lampung Meski Pasokan Berlimpah Bandar Lampung Arinal Djunaidi Jalani Sidang Pembuktian, Hakim Tetapkan Vonis 20 Januari 2027 Cuaca Lampung Timur Dominasi Sebaran 140 Titik Panas di Provinsi Lampung Ekonomi Dan Bisnis Harga Emas Antam 6 Oktober 2026 Terkoreksi, Cek Daftar Lengkapnya

Rafidhah

gerakan Islam bercabang dari Syiah

Bagikan:
Artikel ini memiliki beberapa masalah. Tolong bantu memperbaikinya atau diskusikan masalah-masalah ini di halaman pembicaraannya. (Pelajari bagaimana dan kapan saat yang tepat untuk menghapus templat pesan ini)
Artikel ini hanya bersumber dari kitab suatu agama atau kepercayaan tertentu tanpa memberikan rujukan ke sumber sekunder yang menganalisisnya secara kritis. Silakan bantu perbaiki artikel dengan menyertakan sumber sekunder tepercaya, dengan bermacam-macam sudut pandang atau mazhab yang ada. (Pelajari cara dan kapan saatnya untuk menghapus pesan templat ini)
Keakuratan artikel ini diragukan dan artikel ini perlu diperiksa ulang dengan mencantumkan referensi yang dapat dipertanggungjawabkan. Diskusi terkait dapat dibaca pada halaman pembicaraan. Harap pastikan akurasi artikel ini dengan sumber tepercaya. Lihat diskusi mengenai artikel ini di halaman diskusinya. (July 2021) (Pelajari cara dan kapan saatnya untuk menghapus pesan templat ini)
(Pelajari cara dan kapan saatnya untuk menghapus pesan templat ini)

Rafidhah (bahasa Arab:رافضة, translit. Rāfiḍah, har. 'mereka yang menolak') adalah sebutan yang ditujukan kepada penganut Islam Syi'ah yang menolak kekhalifahan Rasyidin pertama, yaitu Abu Bakar dan Umar bin Khattab. Sejumlah ulama Suni telah mengatakan bahwa kata rafidhah tidak ditujukan kepada penganut Syi'ah secara umum tetapi hanya kepada mereka yang mengkultuskan Ali bin Abi Thalib serta menafikan Abu Bakar dan Umar sebagai khalifah.

Etimologi

Kata tersebut berasal dari kata bahasa Arab yang berarti "(mereka yang) menolak". Akar katanya adalah ر ف ض (r-f-ḍ). Bentuk tunggalnya adalah رافضي rāfiḍī "orang yang menolak".

Asal-usul

Terdapat sejumlah perdebatan mengenai asal-usul kata rāfiḍah. Contoh paling awal adalah pada Kitāb al-Maḥāsin milik Abū Jaʿfar Aḥmad bin Muḥammad al-Barq (meninggal 887 M). Bab IV dari Kitāb al-Maḥāsin memuat penggunaan kata rāfiḍah yang diklaim berasal dari imam Ja'far ash-Shadiq dan Muhammad al-Baqir, seperti:

Seorang pedagang tebu datang ke Ja'far ash-Shadiq telah mengatakan bahwa ada orang yang terus mengingatkannya untuk tidak menjadi seorang rafidhah dan Ja'far ash-Shadiq menjawab: 'Demi Allah, nama yang diberikan Allah ini kepadamu sangat baik, selama kamu mengikuti ajaran kami. dan jangan kaitkan kedustaan dengan kami.' Muḥammad al-Bāqir, dalam saat yang sama, menyatakan kepada dirinya sendiri: 'Aku salah satu dari rāfiḍah' [1]

Mughirah bin Syu'bah dianggap mencetuskan kata rafidhah untuk melawan orang-orang yang telah menolak dirinya.[2]

Sejumlah naskah historis lain juga banyak dirujuk. Ja'far ash-Shadiq meyakini rafidhah adalah tanda kehormatan yang diberikan pertama kali oleh Allah dan muncul dalam Alkitab Ibrani dan Perjanjian Baru: ia menyebut bahwa ada 70 orang di antara pengikut Firaun yang menolak agama Raja Mesir lalu memilih bergabung dengan Nabi Musa, dan Allah menyebut 70 orang itu rafidhah. Mereka disebut rafidhah karena menolak Fir'aun, taat beribadah, dan memiliki kecintaan yang sangat erat kepada Musa, Harun, dan keturunan-keturunannya.

ash-Shadiq lebih lanjut menyatakan bahwa Allah mewahyukan Nabi Musa, "Tetapkan nama ini untuk mereka dalam Taurat, karena Aku telah menamai mereka dengan itu dan memberikannya kepada mereka." Ia memperluas penggunaan kata tersebut untuk menyebut syiah (pengikut) dari keluarga Muhammad.[3]

Kata rafidhah tidak ada dalam al-Qur'an. Oleh karena itu, ada spekulasi bahwa ia merujuk ke Alkitab untuk menetapkan keabsahannya. Namun, kisah para penolak Firaun dari golongan tukang sihir yang bergabung dengan Musa tidak muncul di kitab mana pun dalam Alkitab. Ada pula yang berpendapat bahwa kisah para penyihir Firaun yang memilih beriman ada dalam Naskah Asli, tetapi musuh-musuh mereka menghapusnya.[1]

Kata ini berubah menjadi ejekan kepada Syiah, yang muncul sejak awal sejarah Islam, yang menurut satu sumber berasal dari perlawanan Zaid bin Ali terhadap Kekhalifahan Umayyah. Kata tersebut merujuk pada penduduk Kufah yang menolak kebijakan Zaid berkaitan dengan larangan mencela atau mengutuk dua khalifah Rasyidin pertama,[4][5] karena ia mengakui tidak pernah mendengar celaan kepada mereka.[6][7] Zaid bin Ali menganggap Ali adalah pemimpin terbaik setelah Muhammad, tetapi ia masih menghormati Abu Bakar dan Umar. Akibatnya, banyak penduduk Kufah menafikan kebijakan Zaid bin Ali, sehingga muncullah istilah rafidhah.[8]

Pemakanaan ini terus bergeser dari waktu ke waktu. Dalam sumber Zaidiyah, istilah yang digunakan oleh Zaid bin Ali terhadap sejumlah penduduk Kufah bukanlah karena menolak kekhalifahan Abu Bakar dan Umar, melainkan karena mereka menolak klaim Zaid sebagai Imamah karena mereka menganggap Ja'far ash-Shadiq menjadi Imam sebagai gantinya:

Allah Maha Besar! Demi Allah, kalian adalah kaum Rafidhah yang pernah disabdakan oleh Rasulullah: 'Kelak akan ada kaum yang meninggalkan jihad dengan kebaikan Ahlulbait dan mereka akan mengatakan bahwa tidak ada yang memerintahkan kebaikan atau melarang keburukan! Mereka akan berpura-pura dalam beragama dan mengikuti hawa nafsu…'[9]

Setelah itu, termasuk pada masa kekhalifahan Abbasiyah yang Suni, rafidhah menjadi kata untuk menghina penganut Syiah Dua Belas Imam, yang digunakan oleh penganut Zaidiyah atas penolakan terhadap Zaid bin Ali serta oleh penganut Islam Suni atas penolakan mereka terhadap khalifah Abu Bakar dan Umar.[1]

Dua Belas Imam meyakini bahwa setelah wafatnya Nabi Muhammad, merekalah yang tertolak dari dosa, menjadikan mereka penerus rafidhah asli.[1][10]

Ulama abad pertengahan, Ibnu Taimiyyah, mengutuk rafidhah sebagai kelompok manusia terburuk -- "karena mengikuti hawa nafsu dan ketidaktahuan".[11] Muhammad bin Abdul-Wahhab, ulama Sunnah sekaligus pengikut setia Ibnu Taimiyyah, menyebutkan istilah ini dalam kitabnya yang berjudul ar-Radd 'ala ar-Rafidhah, meski artikel Natana J. Delong-Bas menyebutkan Muhammad bin Abdul-Wahhab hanya merujuk pada sekte ekstremis Syiah saat membahas rafidhah, bukan Syiah secara umum.[12]

Penggunaan

Penjelajah Suni Ibnu Batutah menggunakan kata ini untuk menyebut Alawi, yang dianggap sebagai penganut sekte ghulat, saat berkunjung ke Suriah pada tahun 1326.[13] Istilah ini juga terus digunakan hingga sekarang.[14] Rafidhah juga terkadang digunakan untuk merujuk pada kaum ekstremis dan asy-Syi'i untuk kaum moderat.[15][16]

Sejumlah kaum Syi'ah mencoba untuk mengadaptasikan kembali cercaan atau hinaan yang ditujukan pada mereka serta menghasilkan konotasi positif dengan menyebut diri mereka sebagai Rawafid karena itu dapat menumbuhkan rasa bangga ketika mereka berontak terhadap tirani Umayyah. Meski kaum Syiah terkadang menamakan diri mereka sendiri sebagai rawafid, kata itu juga masih dianggap sebuah hinaan dari kaum Suni terhadap Syiah yang menolak mengakui kekhalifahan awal.[17]

Sebagaimana yang dikisahkan Ahmed Cevdet Pasha, Syiah pertama kali mengembangkan Kaisaniyah, yang kemudian berkembang menjadi tiga kelompok: Zaidiyah, Ismailiyah, dan Itsna Asyariyah. Selain yang menganut Zaidiyah ini disebut "Rafidhah" oleh Zaidiyah, dan mereka berpisah dari Zaidiyah.[18]

Penggunaan saat ini

Syiah di Arab Saudi lebih sering disebut rafidhah.[19] Di Irak, materi antisyiah terus berkumandang.[20] Sebuah wacana dirilis setelah diperbaiki dengan nama "Rafidhah di Tanah Tauhid", termasuk perintah anggota Majelis Tinggi, untuk membunuh Syiah.[20]

Hingga 1993, buku pelajaran sekolah di Arab Saudi secara terang-terangan mencela Syiah dan menyebutnya sebagai rafidhah.[21] Begitu ada protes, kurikulum pun diubah dan tidak lagi digunakan istilah tersebut, tetapi keyakinan Syiah masih dikecam.[21] Pada era modern, kata rafidhah banyak dipakai dalam organisasi jihadisme seperti Negara Islam Irak dan Syam (NIIS) untuk membenarkan eksekusi orang Syiah.[22]

Dalam kampanye-kampanye yang sedang berlangsung untuk menggulingkan pemerintahan Irak dan Suriah, pemberontak dari NIIS serta oposisi Suriah sering menggunakan kata rafidhah untuk merujuk pada Muslim Syiah. Sementara itu kelompok penganut Alawi disebut sebagai 'Nushairi'. Dalam edisi ke-13 majalah NIIS Dabiq, artikel utama mereka berjudul, "Rafidhah: Dari Ibnu Saba' hingga Dajjal" dan memuat halaman yang berisi "retorika kekerasan yang ditujukan terhadap Syiah" yang diklaimnya "lebih berbahaya dan lebih mematikan... daripada warga Amerika". Artikel tersebut juga membenarkan pembunuhan Muslim Syiah, yang disebut NIIS sebagai kaum murtadin.

Lihat pula

Referensi

  1. 1 2 3 4 Kohlberg, Etan (1979). "The Term "Rāfida" in Imāmī Shīʿī Usage". Journal of the American Oriental Society. 99 (4): 677–679. doi:10.2307/601453. ISSN 0003-0279. Diakses tanggal 12 Juli 2021.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  2. ↑ Wasserstrom, Steve. History of Religions, Vol. 25, No. 1 (Aug., 1985), pp. 1–29
  3. ↑ al-Kulayni, Muhammad ibn Ya‘qūb (2015). Al-Kafi (Edisi Volume 8). New York City: Islamic Seminary Incorporated. ISBN 9780991430864.
  4. ↑ Ahmad Kazemi Moussavi; Karim Douglas Crow (2005). Facing One Qiblah: Legal and Doctrinal Aspects of Sunni and Shi'ah Muslims. Pustaka Nasional Pte Ltd. hlm. 186. ISBN 9789971775520.
  5. ↑ Najam Haider (26 Sep 2011). The Origins of the Shī'a: Identity, Ritual, and Sacred Space in Eighth-Century Kūfa. Cambridge University Press. hlm. 196–7. ISBN 9781139503310.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  6. ↑ Najībābādī, Akbar (2000). History of Islam Volume 2. Darussalam Publishers. hlm. 229. ISBN 978-9960892863.
  7. ↑ Suleiman, Yasir, ed. (21 Apr 2010). Living Islamic History: Studies in Honour of Professor Carole Hillenbrand (Edisi illustrated). Oxford University Press. hlm. 11. ISBN 9780748642199.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  8. ↑ حلمي, مصطفى. "Dr". alukah.net. Diarsipkan dari asli tanggal 2 Agustus 2017. Diakses tanggal 2 Agustus 2017.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  9. ↑ al-Hussein al-Houthi, Allāma Yahya. Al-Jawāb ar-Rāqi 'ala al-Masā'il al-Irāqi. hlm. 4. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2019-12-22. Diakses tanggal 2017-08-02.
  10. ↑ Kohlberg, E. "al-Rafida or al-Rawafid." Encyclopaedia of Islam, Second Edition. Edited by: P. Bearman, Th. Bianquis, C.E. Bosworth, E. van Donzel and W.P. Heinrichs. Brill, 2010. Brill Online.
  11. ↑ Abbas Abu Yahya (16 Januari 2019). "THE BELIEFS OF THE RAFIDAH & THE SHIA". Following the Sunnah. Diakses tanggal 13 April 2021.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  12. ↑ Delong-Bas, Natana J. (2004). Wahhabi Islam: From Revival and Reform to Global Jihad. New York: Oxford University Press. hlm. 22. ISBN 0-19-516991-3.
  13. ↑ Gibb, H.A.R., 'The Travels of Ibn Battuta, Hakluyt, (1999) v.1, p.93
  14. ↑ Nasr, Vali, Shia Revival, Norton, (2006) p.53
  15. ↑ Abrahamov, Binyamin.Arabica, T. 34, Fasc. 1 (Mar., 1987), pp. 80-105
  16. ↑ Madelung, Wilferd. Islamic Legal Orthodoxy: Twelver Shiite Responses to the Sunni Legal System by Devin J. Stewart. Journal of the American Oriental Society, Vol. 120, NO. 1 (Jan.- Mar., 2000), pp. 111-114
  17. ↑ "Rawafid." In The Oxford Dictionary of Islam. Ed. John L. Esposito. Oxford Islamic Studies Online. "Salinan arsip". Diarsipkan dari versi asli pada 2014-12-15. Diakses tanggal 2022-09-29..
  18. ↑ Ahmed Cevdet Pasha, Kısas-ı Enbiyâ, vol. II, page 12.
  19. ↑ "Rosen, Nir, "America's unlikely savior; Recently, the U.S. was calling for Muqtada al-Sadr's head. Now, the fiery cleric may be the only man who can defuse Iraq's Sunni-Shiite conflict," Salon, February 3, 2005. Retrieved February 8, 2010". Diarsipkan dari versi aslinya tanggal Mei 12, 2008. Diakses tanggal Februari 8, 2010.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  20. 1 2 Jones, Toby. Middle East Report, No. 237 (Winter, 2005), pp. 20-25
  21. 1 2 Prokop, Michaela. International Affairs, Vol. 79, No. 1 (Jan., 2003), pp. 77-89
  22. ↑ Wagemakers, Joas (2012-06-11). A Quietist Jihadi. Cambridge University Press. hlm. xix. ISBN 978-1107606562.

Pranala luar

Penganut
Buddhis
Theravādin
Umat Kristen
Katolik
Protestan
Restorasionis
Umat Hindu
Brahmanis
Jain
Yahudi
Kripto
Umat Islam
Ahmadi
Isma'ili
Sufi
Syiah
Sunni
Salafi
Zoroastrian
Non-penganut
Non-Buddhis
Non-Mahāyānis
Non-Kristen
Non-Muslim
Non-Yahudi
Non-Ortodoks
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan