Jumat, 06 November 2026
14:14 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Agenda Strategis Pemprov Lampung 6 November 2026: Revitalisasi Stadion Jadi Prioritas Bandar Lampung Harga Beras di Pasar Pasir Gintung Bandar Lampung Merangkak Naik, Stok Aman Bandar Lampung Disdag Bandar Lampung Jamin Pasokan Beras Aman hingga Akhir 2026 Insight Komitmen Pembangunan Negeri, PTBA Sabet Penghargaan Kepatuhan PNBP ESDM 2026 Pemprov Lampung Gubernur Mirza Canangkan Mulang Maya Jadi Magnet Wisata Budaya Unggulan Lampung Tuba Barat Mewujudkan Haji: Pemkab Tubaba dan BSI Ajak Masyarakat Menabung Sejak Dini Lampung Timur Bupati Ela Dekatkan Diri dengan Siswa, Pastikan Kualitas Pendidikan dan Gizi di Lampung Timur Tuba Barat Kemitraan Strategis Pemkab Tubaba dan Kejari: Wujudkan Tata Kelola Pemerintahan Akuntabel Bandar Lampung Mantan Ketua DPRD Lampung Bersaksi dalam Sidang Arinal Djunaidi Bandar Lampung Senator Bustami Zainudin dan Staf DPD Lampung Ikuti Program Cek Kesehatan Gratis Bandar Lampung Agenda Strategis Pemprov Lampung 6 November 2026: Revitalisasi Stadion Jadi Prioritas Bandar Lampung Harga Beras di Pasar Pasir Gintung Bandar Lampung Merangkak Naik, Stok Aman Bandar Lampung Disdag Bandar Lampung Jamin Pasokan Beras Aman hingga Akhir 2026 Insight Komitmen Pembangunan Negeri, PTBA Sabet Penghargaan Kepatuhan PNBP ESDM 2026 Pemprov Lampung Gubernur Mirza Canangkan Mulang Maya Jadi Magnet Wisata Budaya Unggulan Lampung Tuba Barat Mewujudkan Haji: Pemkab Tubaba dan BSI Ajak Masyarakat Menabung Sejak Dini Lampung Timur Bupati Ela Dekatkan Diri dengan Siswa, Pastikan Kualitas Pendidikan dan Gizi di Lampung Timur Tuba Barat Kemitraan Strategis Pemkab Tubaba dan Kejari: Wujudkan Tata Kelola Pemerintahan Akuntabel Bandar Lampung Mantan Ketua DPRD Lampung Bersaksi dalam Sidang Arinal Djunaidi Bandar Lampung Senator Bustami Zainudin dan Staf DPD Lampung Ikuti Program Cek Kesehatan Gratis
Metafisika

Metafisika

Cabang ilmu filsafat

Bagikan:
Inkunabula yang memperlihatkan teks bagian awal Metafisika karya Aristoteles di bagian tengah gambar. Sekelompok orang yang mengenakan jubah berwarna-warni berdiri di atasnya dan di bawahnya terdapat hewan-hewan di atas rumput.
Awal dari Metafisika karya Aristoteles, salah satu teks fundamental dari disiplin ilmu ini

Metafisika adalah cabang filsafat yang mempelajari hakikat dasar atau struktur paling mendasar dari realitas. Bidang ini secara tradisional dipandang sebagai studi tentang fitur-fitur dunia yang independen dari pikiran, tetapi beberapa teorikus memandangnya sebagai penyelidikan terhadap kerangka konseptual pemahaman manusia. Beberapa filsuf, termasuk Aristoteles, menyebut metafisika sebagai filsafat pertama untuk menunjukkan bahwa bidang ini lebih mendasar daripada bentuk-bentuk penyelidikan filosofis lainnya.

Metafisika mencakup berbagai topik yang luas, umum, dan abstrak. Bidang ini menyelidiki hakikat keberadaan, ciri-ciri yang dimiliki oleh semua entitas, serta pembagiannya ke dalam kategori keberadaan. Salah satu pembagian yang berpengaruh adalah antara partikular dan universal. Partikular adalah entitas individual yang unik, seperti sebuah apel tertentu. Universal adalah ciri-ciri umum yang dimiliki bersama oleh berbagai partikular, seperti warna merah. Metafisika modal mempelajari makna dari kemungkinan atau keniscayaan suatu hal. Para metafisikawan juga mengeksplorasi konsep ruang, waktu, dan perubahan, serta hubungannya dengan kausalitas dan hukum-hukum alam. Topik-topik lainnya mencakup bagaimana pikiran dan materi saling berkaitan, apakah segala sesuatu di dunia ini terdeterminasi, dan apakah kehendak bebas itu ada.

Para metafisikawan menggunakan berbagai metode untuk melakukan penyelidikan mereka. Mereka biasanya mengandalkan intuisi rasional dan penalaran abstrak, tetapi juga memasukkan pendekatan empiris yang terkait dengan teori-teori ilmiah. Karena sifat topiknya yang abstrak, metafisika menerima berbagai kritik yang mempertanyakan keandalan metodenya serta kebermaknaan teori-teorinya. Metafisika relevan dengan banyak bidang penyelidikan yang sering kali secara implisit mengandalkan konsep dan asumsi metafisik.

Akar dari metafisika terletak pada zaman kuno melalui spekulasi mengenai hakikat dan asal-usul alam semesta, seperti yang ditemukan dalam Upanisad di India kuno, Taoisme di Tiongkok kuno, dan filsafat pra-Sokrates di Yunani kuno. Pada periode abad pertengahan berikutnya di Barat, diskusi mengenai hakikat universal dipengaruhi oleh filsafat Plato dan Aristoteles. Periode modern menyaksikan kemunculan berbagai sistem metafisika yang komprehensif, yang sebagian besar mengusung idealisme. Pada abad ke-20, metafisika tradisional secara umum dan idealisme secara khusus menghadapi berbagai kritik, yang mendorong munculnya pendekatan-pendekatan baru dalam penyelidikan metafisik.

Definisi

Metafisika adalah studi tentang fitur-fitur paling mendasar dari realitas, termasuk keberadaan, objek beserta propertinya, kemungkinan dan keniscayaan, ruang dan waktu, perubahan, kausalitas, serta hubungan antara materi dan pikiran. Bidang ini merupakan salah satu cabang filsafat tertua.[1][a]

Hakikat tepat dari metafisika masih diperdebatkan dan karakternya telah berubah dalam perjalanan sejarah. Beberapa pendekatan memandang metafisika sebagai bidang yang terpadu dan memberikan definisi yang luas dengan memahaminya sebagai studi tentang "pertanyaan-pertanyaan mendasar mengenai hakikat realitas" atau sebagai penyelidikan terhadap esensi berbagai hal. Pendekatan lain meragukan bahwa berbagai bidang metafisika memiliki seperangkat fitur mendasar yang sama, dan alih-alih demikian, memberikan karakterisasi yang lebih rinci dengan merinci seluruh topik utama yang diselidiki oleh para metafisikawan.[4] Beberapa definisi bersifat deskriptif dengan menjelaskan apa yang dilakukan oleh para metafisikawan, sementara definisi lainnya bersifat normatif dan menentukan apa yang seharusnya dilakukan oleh mereka.[5]

Dua definisi yang secara historis berpengaruh dalam filsafat kuno dan filsafat abad pertengahan memahami metafisika sebagai ilmu tentang sebab-sebab pertama dan sebagai studi tentang ada qua ada (being qua being), yaitu topik mengenai apa yang dimiliki bersama oleh semua entitas dan ke dalam kategori mendasar mana entitas-entitas tersebut tergolong. Pada periode modern, cakupan metafisika telah meluas hingga mencakup topik-topik seperti pembedaan antara pikiran dan tubuh serta kehendak bebas.[6] Beberapa filsuf mengikuti Aristoteles dalam menggambarkan metafisika sebagai "filsafat pertama", yang mengindikasikan bahwa bidang ini merupakan penyelidikan paling mendasar yang menjadi landasan bagi cabang-cabang filsafat lainnya.[7][b]

Lukisan cat minyak yang memperlihatkan Kant dari tampak depan dengan latar belakang gelap dalam posisi duduk, bersandar pada meja yang berisi pena dan tinta serta mengenakan pakaian formal berwarna cokelat
Immanuel Kant mengonsepkan metafisika dari perspektif filsafat kritis sebagai studi tentang prinsip-prinsip yang mendasari seluruh pemikiran dan pengalaman manusia.

Metafisika secara tradisional dipahami sebagai studi tentang fitur-fitur realitas yang independen dari pikiran. Dimulai dengan filsafat kritis Immanuel Kant, sebuah konsepsi alternatif mulai mengemuka yang berfokus pada skema konseptual alih-alih realitas eksternal. Kant membedakan metafisika transenden, yang bertujuan untuk menggambarkan fitur-fitur objektif realitas di luar pengalaman indrawi, dari perspektif kritis tentang metafisika, yang menguraikan aspek dan prinsip yang mendasari seluruh pemikiran dan pengalaman manusia.[9] Filsuf P. F. Strawson lebih lanjut mengeksplorasi peran skema konseptual, yang membandingkan antara metafisika deskriptif (yang merumuskan skema konseptual yang umum digunakan untuk memahami dunia) dan metafisika revisionis (yang bertujuan untuk menghasilkan skema konseptual yang lebih baik).[10]

Metafisika berbeda dari ilmu-ilmu khusus karena mempelajari aspek-aspek realitas yang paling umum dan abstrak. Sebaliknya, ilmu-ilmu khusus memeriksa fitur-fitur yang lebih spesifik serta konkret dan membatasi diri pada kelas-kelas entitas tertentu, seperti fokus pada hal-hal fisik dalam fisika, entitas hidup dalam biologi, dan kebudayaan dalam antropologi.[11] Masih diperdebatkan sejauh mana kontras ini merupakan dikotomi yang ketat dan bukannya sebuah kontinuum bertahap.[12]

Etimologi

Kata metafisika berasal dari kata bahasa Yunani Kuno metá (μετά, yang berarti 'setelah', 'di atas', dan 'di luar') dan phusiká (φυσικά), sebagai bentuk pendek dari ta metá ta phusiká, yang berarti 'apa yang ada setelah fisika'. Hal ini sering ditafsirkan berarti bahwa metafisika membahas topik-topik yang, karena sifatnya yang umum dan menyeluruh, berada di luar ranah fisika beserta fokusnya pada pengamatan empiris.[13]

Cara lainnya, metafisika mungkin mendapatkan namanya akibat kebetulan sejarah ketika buku karya Aristoteles tentang subjek ini, Metafisika, diterbitkan.[14] Aristoteles sendiri tidak menggunakan istilah metafisika, tetapi seorang penyunting karyanya sekitar dua abad kemudian (kemungkinan Andronikus dari Rodos) mencetuskannya untuk judul tersebut, yang diduga untuk menunjukkan bahwa buku ini harus dipelajari setelah karya Aristoteles yang berjudul Fisika: dengan demikian, secara harfiah berarti 'setelah fisika'. Istilah ini masuk ke dalam bahasa Inggris pada pertengahan tahun 1500-an melalui kata bahasa Latin metaphysica.[13]

Cabang

Hakikat metafisika juga dapat dikarakterisasi berdasarkan hubungan dengan cabang-cabang utamanya. Pembagian yang berpengaruh dari masa awal filsafat modern membedakan antara metafisika umum dan metafisika khusus atau spesifik.[15] Metafisika umum, yang juga disebut ontologi,[c] mengambil perspektif terluas dan mempelajari aspek-aspek keberadaan yang paling mendasar. Bidang ini menyelidiki fitur-fitur yang dimiliki bersama oleh semua entitas dan bagaimana entitas dapat dibagi ke dalam berbagai kategori. Kategori merupakan jenis-jenis yang paling umum, seperti substansi, properti, relasi, dan fakta.[17] Para ontolog meneliti kategori apa saja yang ada, bagaimana kategori-kategori tersebut saling bergantung satu sama lain, dan bagaimana mereka membentuk suatu sistem kategori yang menyediakan klasifikasi komprehensif bagi seluruh entitas.[18]

Metafisika khusus memandang keberadaan dari perspektif yang lebih sempit dan dibagi menjadi beberapa subdisiplin berdasarkan sudut pandang yang diambil. Kosmologi metafisik memeriksa hal-hal yang dapat berubah dan menyelidiki bagaimana hal-hal tersebut terhubung untuk membentuk sebuah dunia sebagai suatu totalitas yang terbentang melintasi ruang dan waktu.[19] Psikologi rasional berfokus pada fondasi dan masalah-masalah metafisik terkait pikiran, seperti hubungannya dengan materi serta kebebasan kehendak. Teologi alamiah mempelajari hal-hal ilahi dan perannya sebagai sebab pertama.[19] Cakupan metafisika khusus saling tumpang tindih dengan disiplin-disiplin filsafat lainnya, sehingga tidak selalu jelas apakah suatu topik tergolong ke dalamnya atau ke bidang-bidang seperti filsafat pikiran dan teologi.[20]

Dimulai pada paruh kedua abad ke-20, metafisika terapan dikonsepsikan sebagai bidang filsafat terapan yang menguji implikasi dan kegunaan metafisika, baik di dalam filsafat maupun bidang penyelidikan lainnya. Dalam bidang-bidang seperti etika dan filsafat agama, metafisika terapan membahas topik-topik seperti fondasi ontologis dari klaim-klaim moral dan doktrin keagamaan.[21] Di luar filsafat, penerapannya mencakup penggunaan ontologi dalam kecerdasan buatan, ekonomi, dan sosiologi untuk mengklasifikasikan entitas.[22] Dalam psikiatri dan kedokteran, bidang ini memeriksa status metafisik dari penyakit.[23]

Meta-metafisika[d] adalah metateori metafisika dan menyelidiki hakikat serta metode-metode metafisika. Bidang ini menguji bagaimana metafisika berbeda dari disiplin-disiplin filsafat dan ilmiah lainnya serta menilai relevansinya terhadap disiplin-disiplin tersebut. Meskipun diskusi mengenai topik-topik ini memiliki sejarah yang panjang dalam metafisika, meta-metafisika baru-baru ini berkembang menjadi bidang penyelidikan yang sistematis.[25]

Topik

Keberadaan dan kategori ada

Artikel utama: Keberadaan dan Teori kategori

Para metafisikawan sering kali menganggap keberadaan atau ada sebagai salah satu konsep paling mendasar dan umum.[26] Bereksistensi berarti menjadi bagian dari realitas, yang membedakan entitas nyata dari entitas imajiner.[27] Menurut pandangan yang berpengaruh secara tradisional, keberadaan adalah sifat dari sifat-sifat: jika suatu entitas ada, maka sifat-sifatnya terinstansiasi.[28] Pendirian yang berbeda menyatakan bahwa keberadaan adalah sifat dari individu, yang berarti serupa dengan sifat-sifat lainnya, seperti bentuk atau ukuran.[29] Merupakan hal yang kontroversial apakah semua entitas memiliki sifat ini. Menurut filsuf Alexius Meinong, terdapat objek-objek takada, termasuk objek yang sekadar mungkin seperti Sinterklas dan Pegasus.[30][e] Pertanyaan yang terkait adalah apakah keberadaan itu sama bagi semua entitas atau apakah terdapat moda atau tingkatan keberadaan yang berbeda.[31] Sebagai contoh, Plato berpendapat bahwa bentuk-bentuk Platonis, yang merupakan gagasan sempurna dan takberubah, memiliki derajat keberadaan yang lebih tinggi daripada materi, yang hanya dapat mencerminkan bentuk-bentuk Platonis secara tidak sempurna.[32][f]

Perhatian utama lainnya dalam metafisika adalah pembagian entitas ke dalam kelompok-kelompok berbeda berdasarkan ciri mendasar yang mereka miliki bersama. Teori kategori menyediakan sistem mengenai jenis-jenis paling mendasar atau genus tertinggi dari keberadaan dengan menyusun inventarisasi menyeluruh atas segala sesuatu.[34] Salah satu teori kategori paling awal diusulkan oleh Aristoteles, yang merumuskan sistem 10 kategori. Ia berargumen bahwa substansi (misalnya manusia dan kuda) merupakan kategori yang paling penting karena semua kategori lain seperti kuantitas (misalnya empat), kualitas (misalnya putih), dan tempat (misalnya di Athena) dikatakan mengenai substansi serta bergantung padanya.[35] Kant memahami kategori sebagai prinsip-prinsip mendasar yang melandasi pemahaman manusia, lalu mengembangkan sistem 12 kategori yang terbagi ke dalam empat kelas: kuantitas, kualitas, relasi, dan modalitas.[36] Teori-teori kategori yang lebih baru diusulkan oleh C. S. Peirce, Edmund Husserl, Samuel Alexander, Roderick Chisholm, dan E. J. Lowe.[37] Banyak filsuf mengandalkan kontras antara objek konkret dan objek abstrak. Menurut pandangan umum, objek konkret, seperti batu, pohon, dan manusia, ada dalam ruang dan waktu, mengalami perubahan, serta saling memengaruhi sebagai sebab dan akibat. Hal ini kontras dengan objek abstrak, seperti bilangan dan himpunan, yang tidak ada dalam ruang dan waktu, bersifat takberubah, dan tidak terlibat dalam hubungan kausal.[38]

Partikular

Partikular adalah entitas individual dan mencakup objek konkret, seperti Aristoteles, Menara Eiffel, atau apel tertentu, maupun objek abstrak, seperti angka 2 atau himpunan tertentu dalam matematika. Partikular merupakan entitas yang unik dan tidak dapat diulang, yang berlawanan dengan universal, seperti warna merah, yang pada saat bersamaan dapat ada di beberapa tempat dan mencirikan beberapa partikular.[39] Pandangan yang dianut secara luas menyatakan bahwa partikular menginstansiasi universal tetapi diri mereka sendiri tidak diinstansiasi oleh hal lain, yang berarti partikular ada dalam dirinya sendiri sedangkan universal ada dalam hal lain. Teori substratum, yang dikaitkan dengan filsafat John Locke, menganalisis setiap partikular sebagai substratum (yang juga disebut partikular telanjang) beserta berbagai sifatnya. Substratum memberikan individualitas pada partikular tersebut, sedangkan sifat-sifatnya mengekspresikan fitur kualitatif atau gambaran karakternya. Pendekatan ini ditolak oleh para teoris berkas. Terilhami oleh filsafat David Hume, mereka menyatakan bahwa partikular hanyalah berkas sifat tanpa substratum yang melandasinya. Beberapa teoris berkas memasukkan esensi individual ke dalam berkas tersebut, yang disebut hekseitas mengikuti terminologi skolastik, untuk memastikan bahwa setiap berkas itu unik. Usulan lain untuk partikular konkret adalah bahwa partikular diindividualisasi oleh lokasi ruang-waktunya.[40]

Partikular konkret yang ditemui dalam kehidupan sehari-hari, seperti batu, meja, dan organisme, merupakan entitas kompleks yang tersusun atas berbagai bagian. Sebagai contoh, sebuah meja terdiri dari permukaan meja dan kaki meja, yang masing-masing terdiri dari partikel yang tak terhitung jumlahnya. Hubungan antara bagian dan keseluruhan dipelajari oleh mereologi.[41][g] Masalah keberbagaian (problem of the many) adalah pertanyaan filosofis mengenai kondisi ketika beberapa hal individual membentuk suatu keseluruhan yang lebih besar. Sebagai contoh, awan terdiri dari banyak tetesan air tanpa batas yang jelas, sehingga memunculkan pertanyaan tentang tetesan mana saja yang menjadi bagian dari awan tersebut. Menurut universalis mereologis, setiap kumpulan entitas membentuk suatu keseluruhan. Ini berarti apa yang tampak sebagai awan tunggal sebenarnya merupakan tumpang-tindih dari awan yang tak terhitung jumlahnya, satu untuk setiap kumpulan tetesan air menyerupai awan. Moderatis mereologis berpendapat bahwa kondisi tertentu harus dipenuhi agar sekelompok entitas membentuk suatu keseluruhan, misalnya entitas-entitas tersebut saling bersentuhan. Para nihilis mereologis menolak gagasan tentang keseluruhan sama sekali, dengan mengklaim bahwa tidak ada awan atau meja, melainkan hanya partikel-partikel yang tersusun secara keawanan atau kemejaan.[43] Masalah mereologis terkait adalah apakah terdapat entitas sederhana yang tidak memiliki bagian sejati, sebagaimana diklaim oleh para penganut atomisme, atau apakah segala sesuatu dapat dibagi lagi tanpa batas menjadi bagian-bagian yang lebih kecil, sebagaimana ditekankan oleh para teoris kontinum.[44]

Universal

Artikel utama: Universal (metafisika)

Universal adalah entitas umum, yang mencakup sifat-sifat[h] dan relasi, yang mengekspresikan gambaran partikular serta bagaimana partikular-partikular tersebut saling menyerupai. Universal bersifat dapat diulang, artinya universal tidak terbatas pada satu eksisten tunggal, melainkan dapat diinstansiasi oleh berbagai partikular secara bersamaan. Sebagai contoh, partikular Nelson Mandela dan Mahatma Gandhi menginstansiasi universal kemanusiaan, serupa dengan bagaimana buah stroberi dan batu rubi menginstansiasi universal merah.[46]

Sebagai topik yang telah dibahas sejak filsafat kuno, masalah universal merupakan tantangan dalam mengarakterisasi status ontologis dari universal.[47] Para penganut realisme berpendapat bahwa universal adalah entitas nyata yang independen dari pikiran dan ada di samping partikular. Menurut penganut realisme Platonis, universal ada secara independen dari partikular, yang mengimplikasikan bahwa universal merah akan tetap ada meskipun tidak ada benda berwarna merah. Bentuk realisme yang lebih moderat, yang terilhami oleh Aristoteles, menyatakan bahwa universal bergantung pada partikular, yang berarti universal hanya nyata jika terinstansiasi. Para penganut nominalisme menolak gagasan bahwa universal ada dalam salah satu bentuk tersebut. Bagi mereka, dunia secara eksklusif tersusun atas partikular. Para penganut konseptualisme menawarkan posisi tengah, dengan menyatakan bahwa universal itu ada, tetapi hanya sebagai konsep dalam pikiran yang digunakan untuk mengurutkan pengalaman dengan mengklasifikasikan entitas.[48][i]

Jenis alami dan jenis sosial sering kali dipahami sebagai tipe khusus dari universal. Entitas yang tergolong dalam jenis alami yang sama memiliki fitur-fitur mendasar tertentu yang menjadi ciri khas struktur dunia alamiah. Dalam hal ini, jenis alami bukanlah klasifikasi yang dibuat secara buatan, melainkan ditemukan,[j] biasanya oleh ilmu-ilmu alam, dan mencakup jenis-jenis seperti elektron, H2O, dan harimau. Penganut realisme ilmiah dan antirealisme saling berbeda pendapat mengenai apakah jenis alami itu ada.[51] Jenis sosial, seperti uang dan bisbol,[52] dipelajari oleh metafisika sosial dan dikarakterisasi sebagai konstruksi sosial yang berguna; meskipun tidak murni fiktif, jenis sosial tidak mencerminkan struktur mendasar dari realitas yang independen dari pikiran.[53]

Kemungkinan dan keniscayaan

Konsep kemungkinan dan keniscayaan menyampaikan apa yang dapat terjadi atau harus terjadi, yang diungkapkan dalam pernyataan modal seperti "memungkinkan untuk menemukan obat untuk kanker" dan "niscaya bahwa dua ditambah dua sama dengan empat". Metafisika modal mempelajari masalah-masalah metafisika di seputar kemungkinan dan keniscayaan, misalnya mengapa beberapa pernyataan modal bernilai benar sedangkan yang lain bernilai salah.[54][k] Beberapa metafisikawan berpendapat bahwa modalitas merupakan aspek mendasar dari realitas, yang berarti di samping fakta tentang apa yang terjadi, terdapat fakta tambahan tentang apa yang mungkin atau harus terjadi.[56] Pandangan yang berbeda berargumen bahwa kebenaran modal tidak berkaitan dengan aspek realitas yang independen, melainkan dapat direduksi menjadi karakteristik nonmodal, misalnya menjadi fakta tentang sifat atau deskripsi kebahasaan apa yang kompatibel satu sama lain, atau menjadi pernyataan fiktif.[57]

Dengan meminjam istilah dari teodise filsuf Jerman Gottfried Wilhelm Leibniz, banyak metafisikawan menggunakan konsep dunia-dunia mungkin untuk menganalisis makna dan ramifikasi ontologis dari pernyataan modal. Dunia mungkin adalah cara yang lengkap dan konsisten mengenai bagaimana keseluruhan hal bisa terjadi.[58] Sebagai contoh, dinosaurus punah di dunia aktual, tetapi terdapat dunia-dunia mungkin yang di dalamnya dinosaurus masih hidup.[59] Menurut semantik dunia mungkin, suatu pernyataan bernilai benar secara mungkin jika pernyataan tersebut benar dalam setidaknya satu dunia mungkin, sedangkan pernyataan tersebut bernilai benar secara niscaya jika benar dalam semua dunia mungkin.[60] Para penganut realisme modal berpendapat bahwa dunia-dunia mungkin ada sebagai entitas konkret dalam pengertian yang sama seperti dunia aktual, dengan perbedaan utama bahwa dunia aktual adalah dunia yang kita tinggali, sementara dunia-dunia mungkin lainnya dihuni oleh tandingan. Pandangan ini kontroversial dan berbagai alternatif telah diusulkan, misalnya bahwa dunia-dunia mungkin hanya ada sebagai objek abstrak atau serupa dengan cerita yang dikisahkan dalam karya fiksi.[61]

Ruang, waktu, dan perubahan

Ruang dan waktu adalah dimensi yang ditempati oleh entitas. Penganut realisme ruang-waktu menyatakan bahwa ruang dan waktu merupakan aspek-aspek mendasar dari realitas dan ada secara independen dari pikiran manusia. Sebaliknya, penganut idealisme ruang-waktu berpendapat bahwa ruang dan waktu adalah konstruksi pikiran manusia yang diciptakan untuk mengatur dan memahami realitas.[62] Absolutisme atau substantivalisme ruang-waktu memahami ruang-waktu sebagai sebuah objek tersendiri, dengan beberapa metafisikawan mengonseptualisasikannya sebagai wadah yang menampung semua entitas lain di dalamnya. Relasionalisme ruang-waktu memandang ruang-waktu bukan sebagai sebuah objek, melainkan sebagai jaringan hubungan antarobjek, seperti relasi spasial berada di samping dan relasi temporal datang sebelum.[63]

Dalam metafisika waktu, kontras yang penting terdapat antara seri-A dan seri-B. Menurut teori seri-A, aliran waktu bersifat nyata, yang berarti peristiwa-peristiwa dikategorikan ke dalam masa lalu, masa kini, dan masa depan. Masa kini terus bergerak maju dalam waktu, dan peristiwa yang berada di masa kini saat ini pada akhirnya akan mengubah statusnya serta berada di masa lalu. Dari perspektif teori seri-B, waktu bersifat statis, dan peristiwa-peristiwa diurutkan oleh relasi temporal 'lebih awal dari' dan 'lebih lambat dari' tanpa adanya perbedaan esensial antara masa lalu, masa kini, dan masa depan.[64] Eternalisme berpendapat bahwa masa lalu, masa kini, dan masa depan sama-sama nyata, sedangkan presentisme menegaskan bahwa hanya entitas di masa kini yang ada.[65]

Objek materi bertahan melintasi waktu dan mengalami perubahan dalam prosesnya, seperti pohon yang tumbuh atau menggugurkan daunnya.[66] Cara utama mengonseptualisasikan keberlanjutan melintasi waktu adalah melalui endurantisme dan perdurantisme. Menurut endurantisme, objek materi adalah entitas tiga dimensi yang hadir secara utuh pada setiap momen. Saat mengalami perubahan, objek-objek tersebut memperoleh atau kehilangan sifat, namun selebihnya tetap sama. Penganut perdurantisme memandang objek materi sebagai entitas empat dimensi yang membentang melintasi waktu dan tersusun dari bagian-bagian temporal yang berbeda. Pada setiap momen, hanya satu bagian dari objek yang hadir, bukan objek tersebut secara keseluruhan. Perubahan berarti bahwa bagian yang lebih awal secara kualitatif berbeda dari bagian yang lebih lambat. Sebagai contoh, ketika pisang matang, terdapat bagian yang belum matang yang diikuti oleh bagian yang sudah matang.[67]

Kausalitas

Artikel utama: Kausalitas

Kausalitas adalah relasi antara sebab dan akibat yang mana suatu entitas menghasilkan atau mengubah entitas lain.[68] Sebagai contoh, jika seseorang menyenggol gelas dan menumpahkan isinya, maka senggolan tersebut merupakan sebab dan tumpahan isi gelas adalah akibatnya.[69] Di samping kausalitas kasus tunggal antarpartikular dalam contoh ini, terdapat pula kausalitas kasus umum yang diungkapkan dalam pernyataan seperti "merokok menyebabkan kanker".[70] Istilah Kausalitas agen digunakan ketika manusia dan tindakan mereka menyebabkan sesuatu.[71] Kausalitas biasanya ditafsirkan secara deterministik, yang berarti suatu sebab selalu menimbulkan akibatnya. Akan tetapi, beberapa filsuf seperti G. E. M. Anscombe telah memberikan contoh sangkalan terhadap gagasan ini.[72] Contoh sangkalan tersebut telah mengilhami pengembangan teori-teori probabilistik, yang mengklaim bahwa sebab sekadar meningkatkan probabilitas terjadinya akibat. Pandangan ini dapat menjelaskan bahwa merokok menyebabkan kanker meskipun hal itu tidak terjadi pada setiap kasus.[73]

Teori keteraturan kausalitas, yang terilhami oleh filsafat David Hume, menyatakan bahwa kausalitas tidak lain adalah konjungsi konstan yang di dalamnya pikiran memahami bahwa satu fenomena, seperti memasukkan tangan ke dalam api, selalu diikuti oleh fenomena lain, seperti rasa sakit.[74] Menurut teori keteraturan nomik, keteraturan bermanifestasi sebagai Hukum alam yang dipelajari oleh ilmu pengetahuan.[75] Teori-teori kontrafaktual berfokus bukan pada keteraturan, melainkan pada bagaimana akibat bergantung pada sebabnya. Teori-teori ini menyatakan bahwa keberadaan akibat bergantung pada sebab dan tidak akan terjadi tanpanya.[76] Menurut primitivisme, kausalitas adalah konsep dasar yang tidak dapat dianalisis berdasarkan konsep nonkausal, seperti keteraturan atau relasi ketergantungan. Salah satu bentuk primitivisme mengidentifikasi daya kausal yang inheren dalam entitas sebagai mekanisme yang melandasinya.[77] Para eliminativis menolak teori-teori di atas dengan berpendapat bahwa kausalitas itu tidak ada.[78]

Pikiran dan kehendak bebas

Artikel utama: Pikiran dan Kehendak bebas
Diagram pendekatan terhadap masalah pikiran–tubuh. Diagram ini menampilkan dualisme dalam bentuk dualisme Kartesius di sisi kiri, dan menyajikan monisme dalam bentuk fisikalisme, idealisme, serta monisme netral di sisi kanan.
Berbagai pendekatan untuk memecahkan masalah pikiran–tubuh[79]

Pikiran mencakup fenomena seperti berpikir, persepsi, merasakan, dan menginginkan, serta kemampuan-kemampuan mendasar yang bertanggung jawab atas fenomena tersebut.[80] Masalah pikiran–tubuh adalah tantangan untuk memperjelas hubungan antara fenomena fisik dan mental. Menurut dualisme Kartesius, pikiran dan tubuh adalah substansi yang terpisah. Keduanya berinteraksi secara kausal satu sama lain dalam berbagai cara, tetapi sekurang-kurangnya secara prinsip dapat ada dengan sendirinya.[81] Pandangan ini ditolak oleh para penganut monisme, yang berargumen bahwa realitas hanya terdiri dari satu jenis substansi. Menurut idealisme metafisik, segala sesuatu bersifat mental atau bergantung pada pikiran, termasuk objek-objek fisik, yang dapat dipahami sebagai gagasan atau persepsi dari pikiran yang sadar.[l] Sebaliknya, penganut materialisme menyatakan bahwa seluruh realitas pada intinya bersifat material. Beberapa penganut menolak keberadaan pikiran, tetapi pendekatan yang lebih umum adalah menjelaskan pikiran berdasarkan aspek-aspek materi tertentu, seperti kondisi otak, disposisi perilaku, atau peran fungsional.[83] Para penganut monisme netral berpendapat bahwa pada dasarnya realitas bukan bersifat material maupun mental, dan menunjukkan bahwa materi maupun pikiran sama-sama merupakan fenomena turunan.[84] Aspek kunci dari masalah pikiran–tubuh adalah masalah sulit kesadaran, yaitu bagaimana menjelaskan bahwa sistem fisik seperti otak dapat menghasilkan kesadaran fenomenal.[85]

Status kehendak bebas sebagai kemampuan seseorang untuk memilih tindakan mereka merupakan aspek sentral dari masalah pikiran–tubuh.[86] Para metafisikawan tertarik pada hubungan antara kehendak bebas dan determinisme kausal, yaitu pandangan bahwa segala sesuatu di alam semesta, termasuk perilaku manusia, ditentukan oleh peristiwa yang mendahuluinya dan hukum alam. Merupakan hal yang kontroversial apakah determinisme kausal itu benar, dan jika demikian, apakah hal tersebut mengimplikasikan tidak adanya kehendak bebas. Menurut inkompatibilisme, kehendak bebas tidak dapat ada di dunia yang deterministik karena tidak ada pilihan atau kendali yang sejati jika segala sesuatu telah ditentukan.[m] Para penganut determinisme keras menyimpulkan dari hal ini bahwa tidak ada kehendak bebas, sedangkan para penganut libertarianisme menyimpulkan bahwa determinisme pastilah salah. Para penganut kompatibilisme menawarkan perspektif ketiga, dengan berargumen bahwa determinisme dan kehendak bebas tidak saling meniadakan, misalnya karena seseorang masih dapat bertindak selaras dengan motivasi dan pilihan mereka meskipun mereka ditentukan oleh kekuatan lain. Kehendak bebas memainkan peran kunci dalam etika mengenai tanggung jawab moral yang dimiliki manusia atas apa yang mereka lakukan.[88]

Lainnya

Identitas adalah relasi yang dimiliki setiap entitas terhadap dirinya sendiri sebagai bentuk kesamaan. Identitas mengacu pada identitas numerik ketika entitas yang sama terlibat, seperti dalam pernyataan "bintang pagi adalah bintang malam" (keduanya adalah planet Venus). Dalam pengertian yang sedikit berbeda, identitas mencakup identitas kualitatif, yang juga disebut kemiripan persis dan ketakterbedaan, yang terjadi ketika dua entitas terpisah sama persis, seperti kembar identik yang sempurna.[89][n] Prinsip ketakterbedaan entitas-entitas identik diterima secara luas dan menyatakan bahwa entitas yang identik secara numerik persis menyerupai satu sama lain. Prinsip kebalikannya, yang dikenal sebagai identitas entitas takterbedakan atau Hukum Leibniz, lebih kontroversial dan menyatakan bahwa dua entitas identik secara numerik jika keduanya persis menyerupai satu sama lain.[91] Pembedaan lainnya adalah antara identitas sinkronis dan diakronis. Identitas sinkronis menghubungkan suatu entitas dengan dirinya sendiri pada waktu yang sama, sedangkan identitas diakronis berkaitan dengan entitas yang sama pada waktu yang berbeda, seperti dalam pernyataan "meja yang saya beli tahun lalu sama dengan meja yang ada di ruang makan saya sekarang".[92] Identitas personal adalah topik terkait dalam metafisika yang menggunakan istilah identitas dalam arti yang sedikit berbeda dan berkaitan dengan pertanyaan seperti apa itu keorangan atau apa yang membuat seseorang menjadi seorang pribadi.[93]

Berbagai metafisikawan kontemporer mengandalkan konsep kebenaran, pembawa kebenaran, dan pembuat kebenaran untuk melakukan penyelidikan mereka.[94] Kebenaran adalah sifat dari kesesuaian dengan realitas. Pembawa kebenaran adalah entitas yang dapat bernilai benar atau salah, seperti pernyataan kebahasaan dan representasi mental. Pembuat kebenaran dari suatu pernyataan adalah entitas yang keberadaannya membuat pernyataan tersebut bernilai benar.[95] Sebagai contoh, fakta bahwa sebuah tomat ada dan berwarna merah bertindak sebagai pembuat kebenaran untuk pernyataan "tomat berwarna merah".[96] Berdasarkan pengamatan ini, penelitian metafisika dapat dilakukan dengan menanyakan apa yang menjadi pembuat kebenaran dari pernyataan-pernyataan, dengan berbagai bidang metafisika yang didedikasikan untuk jenis pernyataan yang berbeda. Menurut pandangan ini, metafisika modal mempertanyakan apa yang membuat pernyataan mengenai apa yang mungkin dan niscaya bernilai benar, sementara metafisika waktu tertarik pada pembuat kebenaran dari pernyataan-pernyataan temporal mengenai masa lalu, masa kini, dan masa depan.[97] Topik yang berkaitan erat menyangkut hakikat kebenaran. Teori-teori kebenaran bertujuan untuk menentukan hakikat ini dan mencakup teori korespondensi, koherensi, pragmatis, semantis, dan deflasi.[98]

Metodologi

Para metafisikawan menggunakan berbagai metode untuk mengembangkan teori-teori metafisika dan merumuskan argumen yang mendukung maupun menentangnya.[99] Secara tradisional, metode a priori telah menjadi pendekatan yang dominan. Metode ini mengandalkan intuisi rasional dan penalaran abstrak dari prinsip-prinsip umum, alih-alih pengalaman inderawi. Sebaliknya, pendekatan a posteriori mendasarkan teori-teori metafisika pada pengamatan empiris dan teori-teori ilmiah.[100] Beberapa metafisikawan menggabungkan perspektif dari bidang-bidang seperti fisika, psikologi, linguistik, dan sejarah ke dalam penyelidikan mereka.[101] Kedua pendekatan tersebut tidak saling meniadakan, sehingga memungkinkan untuk menggabungkan elemen dari keduanya.[102] Metode yang dipilih oleh seorang metafisikawan sering kali bergantung pada pemahaman mereka tentang hakikat metafisika, misalnya apakah mereka memandangnya sebagai penyelidikan terhadap struktur realitas yang independen dari pikiran, sebagaimana diklaim oleh para penganut realisme metafisik, atau prinsip-prinsip yang melandasi pemikiran dan pengalaman, sebagaimana ditegaskan oleh beberapa penganut antirealisme metafisik.[103]

Pendekatan a priori sering kali mengandalkan intuisi, yaitu kesan noninferensial mengenai kebenaran klaim-klaim spesifik atau prinsip-prinsip umum.[104][o] Sebagai contoh, argumen-argumen untuk teori waktu A, yang menyatakan bahwa waktu mengalir dari masa lalu melalui masa kini menuju masa depan, sering kali mengandalkan intuisi prateoretis yang berkaitan dengan kesadaran akan perlintasan waktu.[107] Beberapa pendekatan menggunakan intuisi untuk menetapkan sekelompok kecil prinsip dasar yang bukti diri (jelas dengan sendirinya), yang dikenal sebagai aksioma, serta menerapkan penalaran deduktif untuk membangun sistem metafisika yang kompleks dengan menarik kesimpulan dari aksioma-aksioma tersebut.[108] Pendekatan berbasis intuisi dapat digabungkan dengan eksperimen pikiran, yang membantu membangkitkan dan memperjelas intuisi dengan mengaitkannya pada situasi terbayang. Pendekatan ini menggunakan pemikiran kontrafaktual untuk menilai konsekuensi yang mungkin timbul dari situasi-situasi tersebut.[109] Sebagai contoh, untuk mengeksplorasi hubungan antara materi dan kesadaran, beberapa teoris membandingkan manusia dengan zombi filosofis, yaitu makhluk hipotetis yang identik dengan manusia tetapi tanpa pengalaman sadar.[110] Metode terkait mengandalkan keyakinan yang diterima secara umum alih-alih intuisi untuk merumuskan argumen dan teori. Pendekatan akal sehat sering digunakan untuk mengkritik teori-teori metafisika yang menyimpang secara signifikan dari cara orang awam memikirkan suatu masalah. Sebagai contoh, para filsuf akal sehat berargumen bahwa nihilisme mereologis itu salah karena implikasinya menunjukkan bahwa hal-hal yang diterima secara umum, seperti meja, tidaklah ada.[111]

Analisis konseptual, sebuah metode yang sangat menonjol dalam filsafat analitik, bertujuan untuk menguraikan konsep-konsep metafisika menjadi bagian-bagian komponennya guna memperjelas maknanya dan mengidentifikasi relasi-relasi esensial.[112] Dalam fenomenologi, metode variasi eidetik digunakan untuk menyelidiki struktur-struktur esensial yang melandasi fenomena. Metode ini melibatkan pembayangan suatu objek dan variasi fitur-fiturnya untuk menentukan fitur mana yang esensial dan tidak dapat diubah.[113] Metode transendental merupakan pendekatan selanjutnya yang memeriksa struktur metafisika realitas dengan mengamati entitas apa saja yang ada serta mempelajari kondisi-kondisi kemungkinan yang tanpa hal itu entitas-entitas tersebut tidak dapat ada.[114]

Beberapa pendekatan kurang mementingkan penalaran a priori dan memandang metafisika sebagai praktik yang berkesinambungan dengan ilmu-ilmu empiris yang menggeneralisasikan wawasan ilmu-ilmu tersebut sembari mengeksplisitkan asumsi-asumsi dasarnya. Pendekatan ini dikenal sebagai metafisika ternaturalisasi (naturalized metaphysics) dan terkait erat dengan karya Willard Van Orman Quine.[115] Ia mengandalkan gagasan bahwa kalimat-kalimat yang bernilai benar dari ilmu pengetahuan dan bidang lainnya memiliki komitmen ontologis, yaitu mengimplikasikan bahwa entitas-entitas tertentu itu ada.[116] Sebagai contoh, jika kalimat "beberapa elektron terikat pada proton" bernilai benar, maka kalimat tersebut dapat digunakan untuk membenarkan bahwa elektron dan proton itu ada.[117] Quine menggunakan wawasan ini untuk berargumen bahwa seseorang dapat mempelajari metafisika dengan menganalisis secara cermat[p] klaim-klaim ilmiah demi memahami gambaran metafisika mengenai dunia seperti apa yang diandaikan oleh klaim-klaim tersebut.[119]

Di samping metode-metode untuk melakukan penyelidikan metafisika, terdapat berbagai prinsip metodologis yang digunakan untuk menentukan pilihan di antara teori-teori yang saling bersaing dengan membandingkan keutamaan teoretisnya. Pisau Cukur Ockham (Ockham's Razor) adalah prinsip terkenal yang memberikan preferensi pada teori-teori sederhana, khususnya teori yang mengandaikan keberadaan sedikit entitas. Prinsip-prinsip lain mempertimbangkan daya penjelas, kegunaan teoretis, dan kedekatan dengan keyakinan yang telah ada.[120]

Kritik

Lukisan cat minyak yang memperlihatkan David Hume dari depan dengan latar belakang gelap, mengenakan jas merah bergaya sulaman emas, lengan kirinya bersandar pada suatu permukaan
David Hume mengkritik para metafisikawan karena mencoba memperoleh pengetahuan di luar bidang pengalaman inderawi.

Meskipun berstatus sebagai salah satu cabang utama filsafat, metafisika menerima sejumlah kritik yang mempertanyakan legitimasinya sebagai bidang penyelidikan.[121] Salah satu kritik berargumen bahwa penyelidikan metafisika tidak mungkin dilakukan karena manusia tidak memiliki kapasitas kognitif yang diperlukan untuk mengakses hakikat utama dari realitas.[122] Alur pemikiran ini mengarah pada skeptisisme mengenai kemungkinan adanya pengetahuan metafisika. Penganut empirisme sering kali mengikuti gagasan ini, seperti Hume, yang menegaskan bahwa tidak ada sumber pengetahuan metafisika yang baik karena metafisika berada di luar bidang pengetahuan empiris dan mengandalkan intuisi-intuisi yang meragukan tentang ranah di luar pengalaman inderawi. Berargumen bahwa pikiran secara aktif membentuk struktur pengalaman, Kant mengkritik metafisika tradisional atas upayanya memperoleh wawasan mengenai hakikat realitas yang independen dari pikiran. Ia menegaskan bahwa pengetahuan terbatas pada ranah pengalaman yang memungkinkan, yang berarti manusia tidak mampu memutuskan pertanyaan-pertanyaan seperti apakah dunia memiliki awal dalam waktu atau bersifat takhingga. Argumen terkait yang menegaskan ketidakandalan pembentukan teori metafisika menunjuk pada perselisihan yang mendalam dan berkepanjangan mengenai masalah-masalah metafisika, yang mengindikasikan kurangnya kemajuan secara keseluruhan.[123]

Kritik lainnya berpendapat bahwa masalahnya tidak terletak pada kemampuan kognitif manusia, melainkan pada pernyataan-pernyataan metafisika itu sendiri, yang diklaim sebagian pihak tidak bernilai benar maupun salah, melainkan takbermakna. Sebagai contoh, menurut penganut positivisme logis, makna suatu pernyataan ditentukan oleh prosedur yang digunakan untuk memverifikasinya, biasanya melalui pengamatan yang akan mengonfirmasinya. Berdasarkan asumsi kontroversial ini, mereka berargumen bahwa pernyataan metafisika tidak bermakna karena tidak membuat prediksi yang dapat diuji mengenai pengalaman.[124]

Posisi yang sedikit lebih lemah memungkinkan pernyataan-pernyataan metafisika memiliki makna, sembari berpendapat bahwa perselisihan metafisika hanyalah perdebatan verbal tentang berbagai cara yang berbeda untuk menguraikan dunia. Menurut pandangan ini, perselisihan dalam metafisika komposisi mengenai apakah ada meja atau hanya partikel-partikel yang tersusun secara kemejaan merupakan perdebatan sepele tentang preferensi kebahasaan tanpa konsekuensi substantif bagi hakikat realitas.[125] Pendirian bahwa perdebatan metafisika tidak memiliki makna atau poin signifikan disebut deflasionisme metafisik atau deflasionisme ontologis.[126] Pandangan ini ditentang oleh para penganut yang disebut metafisikawan serius, yang berpendapat bahwa perdebatan metafisika berkaitan dengan fitur-fitur substansial dari struktur dasar realitas.[127] Perdebatan yang terkait erat antara penganut realisme ontologis dan antirealisme menyangkut pertanyaan apakah terdapat fakta objektif yang menentukan teori metafisika mana yang bernilai benar.[128] Kritik lain, yang dirumuskan oleh penganut pragmatisme, memandang kesalahan metafisika bukan pada ambisi kognitifnya atau ketiadaan makna dari pernyataan-pernyataannya, melainkan pada ketidakrelevanan praktis serta kurangnya kegunaan.[129]

Martin Heidegger mengkritik metafisika tradisional, dengan menyatakan bahwa metafisika tersebut gagal membedakan antara entitas individual dan keberadaan (being) sebagai dasar ontologisnya. Upayanya untuk mengungkap asumsi-asumsi serta keterbatasan yang melandasi sejarah metafisika demi "mengatasi metafisika" memengaruhi metode dekonstruksi Jacques Derrida.[130] Derrida menerapkan pendekatan ini untuk mengkritik teks-teks metafisika karena mengandalkan istilah-istilah yang berlawanan, seperti kehadiran (presence) dan ketiadaan (absence), yang ia anggap pada hakikatnya tidak stabil dan kontradiktif.[131]

Tidak ada konsensus mengenai validitas dari kritik-kritik ini dan apakah kritik tersebut memengaruhi metafisika secara keseluruhan atau hanya masalah atau pendekatan tertentu di dalamnya. Sebagai contoh, bisa saja perselisihan metafisika tertentu hanya bersifat verbal sementara perselisihan lainnya bersifat substantif.[132]

Hubungan dengan disiplin ilmu lain

Metafisika berhubungan dengan banyak bidang penyelidikan dengan menyelidiki konsep-konsep dasar bidang-bidang tersebut dan hubungannya dengan struktur mendasar realitas. Sebagai contoh, ilmu-ilmu alam mengandalkan konsep-konsep seperti hukum alam, kausalitas, keniscayaan, dan ruang-waktu untuk merumuskan teori-teori mereka serta memprediksi atau menjelaskan hasil eksperimen.[133] Sementara para ilmuwan terutama berfokus pada penerapan konsep-konsep ini pada situasi-situasi spesifik, metafisika memeriksa hakikat umumnya dan bagaimana konsep-konsep tersebut saling bergantung satu sama lain. Sebagai contoh, para fisikawan merumuskan hukum-hukum alam, seperti hukum gravitasi dan termodinamika, untuk menguraikan bagaimana sistem fisik berperilaku di bawah berbagai kondisi. Sebaliknya, para metafisikawan memeriksa persamaan yang dimiliki oleh semua hukum alam, dengan mempertanyakan apakah hukum-hukum tersebut sekadar menguraikan keteraturan kontingen atau mengekspresikan relasi yang niscaya.[134] Penemuan-penemuan ilmiah baru juga telah memengaruhi teori-teori metafisika yang ada dan mengilhami teori-teori baru. Sebagai contoh, teori relativitas Einstein mendorong berbagai metafisikawan untuk mengonseptualisasikan ruang dan waktu sebagai satu dimensi yang menyatu, alih-alih sebagai dimensi-dimensi yang independen.[135] Para metafisikawan yang berfokus secara empiris sering kali mengandalkan teori-teori ilmiah untuk mendasarkan teori-teori mereka mengenai hakikat realitas pada pengamatan empiris.[136]

Masalah-masalah serupa muncul dalam ilmu-ilmu sosial tempat para metafisikawan menyelidiki konsep-konsep dasarnya dan menganalisis implikasi metafisikanya. Hal ini mencakup pertanyaan-pertanyaan seperti apakah fakta sosial muncul dari fakta nonsosial, apakah kelompok dan lembaga sosial memiliki keberadaan yang independen dari pikiran, serta bagaimana mereka bertahan melintasi waktu.[137] Asumsi dan topik metafisika dalam psikologi dan psikiatri mencakup pertanyaan-pertanyaan mengenai relasi antara tubuh dan pikiran, apakah hakikat pikiran manusia bersifat tetap secara historis, dan bagaimana status metafisika dari penyakit.[138]

Metafisika memiliki kemiripan dengan kosmologi fisik maupun teologi dalam penjelajahannya mengenai sebab-sebab pertama dan alam semesta secara keseluruhan. Perbedaan utamanya adalah bahwa metafisika mengandalkan penyelidikan rasional, sementara kosmologi fisik memberikan bobot lebih pada pengamatan empiris, dan teologi mengintegrasikan wahyu ilahi serta doktrin-doktrin berbasis iman lainnya.[139] Secara historis, kosmologi dan teologi dianggap sebagai subbidang dari metafisika.[140]

Suggested Upper Merged Ontology
Entitas    
  Fisik    
  Objek

 

  Proses

 

  Abstrak    
  Kuantitas

 

  Proposisi

 

  Atribut

 

  Relasi

 

  Himpunan atau Kelas

 

Kategori mendasar dalam Suggested Upper Merged Ontology[141]

Para ilmuwan komputer mengandalkan metafisika dalam bentuk ontologi untuk merepresentasikan dan mengklasifikasikan objek-objek. Mereka mengembangkan kerangka kerja konseptual, yang disebut ontologi, untuk domain-domain terbatas,[142] seperti basis data dengan kategori-kategori seperti orang, perusahaan, alamat, dan nama untuk merepresentasikan informasi mengenai klien dan karyawan.[143] Ontologi menyediakan standar untuk mengodekan dan menyimpan informasi secara terstruktur, yang memungkinkan proses-proses komputasi menggunakan informasi tersebut untuk berbagai tujuan.[142] Ontologi-ontologi tingkat atas, seperti Suggested Upper Merged Ontology dan Basic Formal Ontology, mendefinisikan konsep-konsep pada tingkat yang lebih abstrak, sehingga memungkinkan pengintegrasian informasi yang termasuk dalam domain yang berbeda.[144]

Logika sebagai studi mengenai penalaran yang benar[145] sering kali digunakan oleh para metafisikawan untuk melakukan penyelidikan mereka dan mengekspresikan wawasan melalui rumus-rumus logika yang presisi.[146][q] Hubungan lain antara kedua bidang tersebut menyangkut asumsi-asumsi metafisika yang terkait dengan sistem-sistem logika. Banyak sistem logika seperti logika tingkat pertama mengandalkan kuantifier eksistensial untuk mengekspresikan pernyataan-pernyataan eksistensial. Sebagai contoh, dalam rumus logika ∃xHorse(x), kuantifier eksistensial ∃ diterapkan pada predikat Horse untuk mengekspresikan keberadaan kuda. Mengikuti Quine, berbagai metafisikawan mengandaikan bahwa kuantifier eksistensial membawa komitmen ontologis, yang berarti bahwa pernyataan eksistensial mengimplikasikan bahwa entitas-entitas yang dikuantifikasi merupakan bagian dari realitas.[148]

Sejarah

Artikel utama: Sejarah metafisika
Simbol yin dan yang. Bentuknya melingkar yang terbagi menjadi dua separuh pusaran. Satu separuh berwarna hitam dengan titik putih di dalamnya. Separuh lainnya berwarna putih dengan titik hitam di dalamnya.
Simbol taijitu menampilkan yin dan yang, yaitu dua kekuatan berkorelasi yang dibahas dalam metafisika Tionghoa untuk mengeksplorasi hakikat dan pola keberadaan.[149]

Metafisika berawal pada zaman kuno dari spekulasi mengenai hakikat dan asal-usul kosmos.[150] Di India kuno, dimulai pada abad ke-7 SM, Upanisad ditulis sebagai teks keagamaan dan filsafat yang memeriksa bagaimana realitas tertinggi menjadi dasar dari segala keberadaan. Teks-teks tersebut lebih lanjut mengeksplorasi hakikat diri dan bagaimana diri dapat mencapai pembebasan dengan memahami realitas tertinggi.[151] Periode ini juga menyaksikan munculnya Buddhisme pada abad ke-6 SM,[r] yang menolak keberadaan diri yang independen dan memahami dunia sebagai proses siklis.[153] Pada saat yang hampir bersamaan[s] di Tiongkok kuno, aliran Taoisme dibentuk dan mengeksplorasi tatanan alami alam semesta, yang dikenal sebagai Tao, serta bagaimana tatanan tersebut dicirikan oleh interaksi yin dan yang sebagai dua kekuatan yang berkorelasi.[155]

Di Yunani kuno, metafisika muncul pada abad ke-6 SM bersama para filsuf pra-Sokrates, yang memberikan penjelasan rasional mengenai kosmos secara keseluruhan dengan memeriksa prinsip-prinsip pertama tempat segala sesuatu berasal.[156] Berdasarkan karya mereka, Plato (427–347 SM) merumuskan teori bentuknya, yang menyatakan bahwa bentuk-bentuk atau gagasan-gagasan abadi memiliki jenis realitas tertinggi, sementara dunia material hanyalah cerminan yang tidak sempurna darinya.[157] Aristoteles (384–322 SM) menerima gagasan Plato bahwa ada bentuk-bentuk universal, tetapi berpendapat bahwa bentuk-bentuk tersebut tidak dapat ada dengan sendirinya melainkan bergantung pada materi. Ia juga mengusulkan sistem kategori dan mengembangkan kerangka kerja komprehensif tentang dunia alamiah melalui teorinya mengenai empat sebab.[158] Dimulai pada abad ke-4 SM, Filsafat Helenistik mengeksplorasi tatanan rasional yang melandasi kosmos serta hukum-hukum yang mengaturnya.[159] Neoplatonisme muncul menjelang akhir zaman kuno pada abad ke-3 M dan memperkenalkan gagasan tentang "Yang Satu" (the One) sebagai sumber yang transenden dan tak terlukiskan dari seluruh ciptaan.[160][t]

Sementara itu, dalam Buddhisme India, aliran Madhyamaka mengembangkan gagasan bahwa semua fenomena pada hakikatnya hampa tanpa esensi yang permanen. Doktrin kesadaran saja dari aliran Yogācāra menyatakan bahwa objek-objek yang dialami hanyalah transformasi kesadaran dan tidak mencerminkan realitas eksternal.[162] Aliran Hindu dari filsafat Samkhya[u] memperkenalkan dualisme metafisika dengan kesadaran murni dan materi sebagai kategori-kategori mendasarnya.[163] Di Tiongkok, aliran Xuanxue mengeksplorasi masalah-masalah metafisika seperti kontras antara ada dan takada.[164]

Ilustrasi abad pertengahan yang memperlihatkan Boethius dari depan dengan latar belakang terang dalam posisi duduk, mengenakan pakaian hijau dengan jubah merah
Teori universal Boethius memengaruhi banyak metafisikawan berikutnya.

Filsafat Barat abad pertengahan sangat dibentuk oleh pemikiran Yunani kuno ketika para filsuf mengintegrasikan gagasan-gagasan ini dengan ajaran filsafat Kristen. Boethius (477–524 M) berusaha merukunkan teori-teori universal Plato dan Aristoteles, dengan mengusulkan bahwa universal dapat ada dalam materi maupun pikiran. Teorinya mengilhami pengembangan nominalisme dan konseptualisme, seperti dalam pemikiran Peter Abelard (1079–1142 M).[165] Thomas Aquinas (1224–1274 M) memahami metafisika sebagai disiplin yang menyelidiki berbagai makna dari ada, seperti kontras antara substansi dan aksiden, serta prinsip-prinsip yang berlaku bagi semua keberadaan, seperti prinsip identitas.[166] William dari Ockham (1285–1347 M) mengembangkan prinsip metodologis, yang dikenal sebagai pisau Cukur Ockham, untuk memilih di antara teori-teori metafisika yang saling bersaing.[167] Filsafat Arab–Persia berkembang pesat dari awal abad ke-9 M hingga akhir abad ke-12 M, mengintegrasikan filsafat Yunani kuno untuk menafsirkan dan memperjelas ajaran Al-Qur'an.[168] Avicenna (980–1037 M) mengembangkan sistem filsafat komprehensif yang memeriksa kontras antara keberadaan dan esensi serta membedakan antara keberadaan kontingen dan niscaya.[169] India abad pertengahan menyaksikan munculnya aliran monis Advaita Vedanta pada abad ke-8 M, yang berpandangan bahwa segala sesuatu adalah satu dan bahwa gagasan tentang banyaknya entitas yang ada secara independen adalah sebuah ilusi.[170] Di Tiongkok, Neo-Konfusianisme muncul pada abad ke-9 M dan mengeksplorasi konsep li sebagai prinsip rasional yang menjadi dasar keberadaan dan mencerminkan tatanan alam semesta.[171]

Pada periode modern awal dan menyusul kebangkitan minat terhadap Platonisme selama era Renaisans, René Descartes (1596–1650) mengembangkan dualisme substansi yang menurutnya tubuh dan pikiran ada sebagai entitas independen yang berinteraksi secara kausal.[172] Gagasan ini ditolak oleh Baruch Spinoza (1632–1677), yang merumuskan filsafat monis yang menunjukkan bahwa hanya ada satu substansi yang memiliki atribut fisik maupun mental yang berkembang berdampingan tanpa saling berinteraksi.[173] Gottfried Wilhelm Leibniz (1646–1716) memperkenalkan konsep dunia-dunia mungkin dan merumuskan sistem metafisika yang dikenal sebagai monadologi, yang memandang alam semesta sebagai kumpulan substansi sederhana yang tersinkronisasi tanpa interaksi kausal.[174] Christian Wolff (1679–1754) mengonseptualisasikan cakupan metafisika dengan membedakan antara metafisika umum dan khusus.[175] Menurut idealisme George Berkeley (1685–1753), segala sesuatu bersifat mental, termasuk objek material, yang merupakan gagasan yang dipersepsikan oleh pikiran.[176] David Hume (1711–1776) memberikan berbagai kontribusi pada metafisika, termasuk teori keteraturan kausalitas dan gagasan bahwa tidak ada hubungan yang niscaya antara entitas-entitas yang terpisah. Terilhami oleh empirisme Francis Bacon (1561–1626) dan John Locke (1632–1704), Hume mengkritik teori-teori metafisika yang mencari prinsip-prinsip utama yang tidak dapat diakses oleh pengalaman inderawi.[177] Pandangan kritis ini dianut oleh Immanuel Kant (1724–1804), yang mencoba mengonseptualisasikan ulang metafisika sebagai penyelidikan terhadap prinsip-prinsip dasar dan kategori-kategori pemikiran serta pemahaman, alih-alih memandangnya sebagai upaya untuk memahami realitas yang independen dari pikiran.[178]

Banyak perkembangan pada periode modern akhir dibentuk oleh filsafat Kant. Para penganut idealisme Jerman mengadopsi pandangan idealistisnya dalam upaya mereka untuk menemukan prinsip penyatu sebagai landasan dari seluruh realitas.[179] Penegasan idealistis Georg Wilhelm Friedrich Hegel (1770–1831) adalah bahwa realitas bersifat konseptual secara menyeluruh, dan keberadaan itu sendiri bersifat rasional.[180] Ia mengilhami Idealisme Britania dari Francis Herbert Bradley (1846–1924), yang menafsirkan konsep Hegel tentang roh absolut sebagai totaliteit keberadaan yang mencakup segalanya.[181] Arthur Schopenhauer (1788–1860) merupakan pengkritik keras idealisme Jerman dan merumuskan visi metafisika yang berbeda, dengan mengajukan kehendak yang buta dan irasional sebagai prinsip dasar realitas.[182] Para penganut pragmatisme seperti C. S. Peirce (1839–1914) dan John Dewey (1859–1952) mengonseptualisasikan metafisika sebagai ilmu pengamatan mengenai fitur-fitur paling umum dari realitas dan pengalaman.[183]

Foto yang memperlihatkan Alfred North Whitehead dari depan dengan latar belakang gelap sedang melihat ke arah kamera, mengenakan pakaian resmi berwarna gelap dengan kemeja putih berkerah tinggi di dalamnya
Alfred North Whitehead merumuskan dasar-dasar filsafat proses dalam karyanya Process and Reality.

Pada pergantian abad ke-20 dalam filsafat analitik, para filsuf seperti Bertrand Russell (1872–1970) dan G. E. Moore (1873–1958) memimpin "pemberontakan melawan idealisme", berargumen tentang keberadaan dunia yang independen dari pikiran yang selaras dengan akal sehat dan ilmu empiris.[184] Para penganut atomisme logis, seperti Russell dan Ludwig Wittgenstein awal (1889–1951), mengonseptualisasikan dunia sebagai sekumpulan fakta atomis, yang kemudian mengilhami para metafisikawan seperti D. M. Armstrong (1926–2014).[185] Alfred North Whitehead (1861–1947) mengembangkan metafisika proses sebagai upaya untuk memberikan deskripsi holistik tentang ranah objektif maupun subjektif.[186]

Rudolf Carnap (1891–1970) dan para penganut positivisme logis lainnya merumuskan kritik luas terhadap pernyataan-pernyataan metafisika, dengan berargumen bahwa pernyataan tersebut tidak bermakna karena tidak ada cara untuk memverifikasinya.[187] Kritik-kritik lain terhadap metafisika tradisional mengidentifikasi kesalahpahaman tentang bahasa biasa sebagai sumber dari banyak masalah metafisika tradisional, atau menantang deduksi metafisika yang kompleks dengan mengimbau pada akal sehat.[188]

Kemunduran positivisme logis menyebabkan kebangkitan kembali pembuatan teori metafisika.[189] Willard Van Orman Quine (1908–2000) mencoba menaturalisasi metafisika dengan menghubungkannya dengan ilmu-ilmu empiris. Muridnya, David Lewis (1941–2001), menggunakan konsep dunia-dunia mungkin untuk merumuskan realisme modalnya.[190] Saul Kripke (1940–2022) membantu membangkitkan kembali diskusi tentang identitas dan esensialisme, dengan membedakan keniscayaan sebagai gagasan metafisika dari gagasan epistemik mengenai a priori.[191]

Dalam filsafat Kontinental, Edmund Husserl (1859–1938) berkecimpung dalam ontologi melalui deskripsi fenomenologis tentang pengalaman, sementara muridnya, Martin Heidegger (1889–1976), mengembangkan ontologi fundamental untuk memperjelas makna dari keberadaan. Filsafat Heidegger mengilhami kritik Jacques Derrida (1930–2004) terhadap metafisika.[192] Pendekatan Gilles Deleuze (1925–1995) terhadap metafisika menantang konsep-konsep yang berpengaruh secara tradisional seperti substansi, esensi, dan identitas dengan mengonseptualisasikan ulang bidang tersebut melalui gagasan-gagasan alternatif seperti multiplisitas, peristiwa, dan perbedaan.[193]

Lihat pula

Referensi

Catatan

  1. ↑ Filsuf yang mengkaji metafisika disebut metafisikawan atau metafisikus.[2] Di luar wacana akademis, istilah metafisika terkadang digunakan dalam arti berbeda untuk menyebut studi tentang fenomena okultisme dan paranormal, seperti penyembuhan metafisik, aura, dan kekuatan piramida.[3]
  2. ↑ Sebagai contoh, masalah metafisik mengenai kausalitas relevan baik bagi epistemologi, sebagai faktor yang terlibat dalam pengetahuan perseptual, maupun etika, berkenaan dengan tanggung jawab moral atas konsekuensi yang disebabkan oleh tindakan seseorang.[8]
  3. ↑ Istilah ontologi terkadang juga digunakan sebagai sinonim dari metafisika secara keseluruhan.[16]
  4. ↑ Beberapa filsuf menggunakan istilah metaontologi sebagai sinonim, sementara filsuf lainnya mengarakterisasi metaontologi sebagai subbidang dari meta-metafisika.[24]
  5. ↑ Menurut Meinong, keberadaan bukanlah sinonim dari ada: semua entitas memiliki keadaan, tetapi tidak semua entitas memiliki keberadaan.[30]
  6. ↑ Meskipun umumnya disebut teori bentuk Plato, terdapat perbedaan pendapat akademis mengenai sejauh mana posisi ini milik Sokrates alih-alih Plato.[33]
  7. ↑ Masalah-masalah mereologis telah dibahas sejak filsafat Yunani kuno.[42]
  8. ↑ Teori trope mengajukan pendekatan berbeda dengan mengonseptualisasikan sifat sebagai instansi terpencar yang disebut trope.[45]
  9. ↑ Posisi nominalisme dan konseptualisme dirumuskan dalam filsafat abad pertengahan.[49]
  10. ↑ Entitas yang diklasifikasikan tidak harus terjadi secara alami dan dapat mencakup produk buatan manusia, seperti zat kimia sintetis.[50]
  11. ↑ Topik lebih lanjut berkaitan dengan berbagai jenis modalitas, seperti kontras antara keniscayaan fisik, metafisik, dan logis berdasarkan apakah keniscayaan tersebut bersumber dari hukum alam, esensi benda, atau hukum logika.[55]
  12. ↑ Terdapat bentuk idealisme lain yang menyatakan posisi sedikit berbeda, seperti idealisme transendental dan idealisme absolut.[82]
  13. ↑ Sebagai contoh, argumen konsekuensi oleh Peter van Inwagen menyatakan bahwa manusia tidak memiliki kuasa atas masa depan jika segala sesuatu telah ditentukan oleh masa lalu bersama dengan hukum alam.[87]
  14. ↑ Istilah identitas kualitatif terkadang juga digunakan dalam arti yang lebih lemah untuk entitas yang hanya berbagi beberapa sifat. Dalam arti ini, seekor bulldog dan anjing gembala Jerman memiliki derajat identitas kualitatif tertentu karena keduanya memiliki sifat sebagai anjing.[90]
  15. ↑ Istilah intuisi memiliki berbagai makna lain dalam filsafat. Istilah ini dapat mengacu pada pendapat sederhana, disposisi terhadap keyakinan, apa yang tampaknya terjadi, atau relasi antara pikiran dan objek abstrak.[105] Konsep ini memainkan peran sentral dalam filsafat Immanuel Kant, yang memahami intuisi sebagai representasi sadar dan objektif yang terkait erat dengan pencerapan ruang dan waktu.[106]
  16. ↑ Metode analisis Quine mengandalkan penerjemahan logika ke logika tingkat pertama guna mengekspresikan klaim sespesifik mungkin sembari mengandalkan kuantifier eksistensial untuk mengidentifikasi komitmen ontologisnya.[118]
  17. ↑ Sebagai contoh, metafisika tingkat tinggi memanfaatkan logika tingkat tinggi secara ekstensif untuk menganalisis masalah-masalah metafisika.[147]
  18. ↑ Tanggal pastinya diperdebatkan.[152]
  19. ↑ Menurut kisah tradisional, Laozi sebagai pendiri Taoisme hidup pada abad ke-6 SM, tetapi kisah-kisah lain menyatakan bahwa ia mungkin hidup pada abad ke-4 atau ke-3 SM.[154]
  20. ↑ Penganut Neoplatonisme yang berpengaruh meliputi Plotinos, Porfirios, Iamblikhos, Hypatia, dan Proklos.[161]
  21. ↑ Gagasan-gagasan yang melandasi filsafat Samkhya muncul sejak abad ke-7 dan ke-6 SM, tetapi rumusan klasik dan sistematisnya diperkirakan berasal dari tahun 350 M.[163]

Kutipan

  1. ↑
  2. ↑
  3. ↑
  4. ↑
  5. ↑ Loux & Crisp 2017, hlm. 2
  6. ↑
  7. ↑
  8. ↑ Koons & Pickavance 2015, hlm. 8–10
  9. ↑
  10. ↑
  11. ↑
  12. ↑ Tahko 2015, hlm. 203–205
  13. 1 2
  14. ↑
  15. ↑
  16. ↑ Hawley 2016, hlm. 166
  17. ↑
  18. ↑
  19. 1 2
  20. ↑
  21. ↑
  22. ↑ Hawley 2016, hlm. 168–169, 171–172
  23. ↑ Hawley 2016, hlm. 174
  24. ↑ Tahko 2018, Lead Section
  25. ↑
  26. ↑
  27. ↑
  28. ↑
  29. ↑
  30. 1 2
  31. ↑
  32. ↑
  33. ↑
  34. ↑
  35. ↑
  36. ↑
  37. ↑
  38. ↑
  39. ↑
  40. ↑
  41. ↑
  42. ↑ Varzi 2019, Lead Section
  43. ↑
  44. ↑
    • Berryman 2022, § 2.6 Atomism and Particle Theories in Ancient Greek Sciences
    • Varzi 2019, § 3.4 Atomism, Gunk, and Other Options
  45. ↑ Maurin 2024
  46. ↑
  47. ↑
  48. ↑
  49. ↑ Hancock 2006, hlm. 188–190
  50. ↑
  51. ↑
  52. ↑
  53. ↑
  54. ↑
  55. ↑
  56. ↑
  57. ↑
  58. ↑
  59. ↑ Nuttall 2013, hlm. 135
  60. ↑
  61. ↑
    • Parent, Lead Section, § 2. Lewis' Realism, § 3. Ersatzism, § 4. Fictionalism
    • Menzel 2023, Lead Section, § 2. Three Philosophical Conceptions of Possible Worlds
    • Campbell 2006, § Modal Realism
  62. ↑
  63. ↑
  64. ↑
  65. ↑
  66. ↑
  67. ↑
  68. ↑
  69. ↑ Carroll & Markosian 2010, hlm. 20
  70. ↑
  71. ↑
  72. ↑
  73. ↑
  74. ↑
  75. ↑ Ney 2014, hlm. 223–224
  76. ↑
  77. ↑
  78. ↑ Tallant 2017, hlm. 231–232
  79. ↑ Kind & Stoljar 2023, § Introduction
  80. ↑ Morton 2005, hlm. 603
  81. ↑
  82. ↑
  83. ↑
  84. ↑
  85. ↑ Weisberg, Lead Section, § 1. Stating the Problem
  86. ↑
  87. ↑
  88. ↑
  89. ↑
  90. ↑
  91. ↑
  92. ↑
  93. ↑
  94. ↑
  95. ↑
  96. ↑
  97. ↑
  98. ↑
  99. ↑
  100. ↑
  101. ↑ Koons & Pickavance 2015, hlm. 2–3
  102. ↑ Tahko 2015, hlm. 151–152, 172–173
  103. ↑
  104. ↑
  105. ↑
  106. ↑
  107. ↑ Tahko 2015, hlm. 188–190
  108. ↑ Goldenbaum, Lead Section, § 1. The Geometrical Method
  109. ↑
  110. ↑ Kirk 2023, Lead Section, § 2. Zombies and Physicalism
  111. ↑
  112. ↑
  113. ↑
  114. ↑
  115. ↑
  116. ↑
  117. ↑ Ney 2014, hlm. 41
  118. ↑ Ney 2014, hlm. 40–41
  119. ↑
  120. ↑
  121. ↑
  122. ↑ Van Inwagen, Sullivan & Bernstein 2023, § 5. Is Metaphysics Possible?
  123. ↑
  124. ↑
  125. ↑
  126. ↑
  127. ↑
  128. ↑
  129. ↑
  130. ↑
  131. ↑
  132. ↑ Rea 2021, hlm. 215–216, 223–224
  133. ↑
  134. ↑
  135. ↑ Healey 2016, hlm. 356–357
  136. ↑ Hawley 2018, hlm. 187–188
  137. ↑ Hawley 2018, hlm. 188–189
  138. ↑
  139. ↑
  140. ↑
  141. ↑ Heckmann 2006, hlm. 42
  142. 1 2
  143. ↑ Kozierkiewicz & Pietranik 2019, hlm. 24
  144. ↑
  145. ↑
  146. ↑ Ney 2014, hlm. 1–2, 18–20
  147. ↑
  148. ↑
  149. ↑
  150. ↑
  151. ↑
  152. ↑ Velez, § 1a. Dates
  153. ↑
  154. ↑
  155. ↑
  156. ↑
  157. ↑
  158. ↑
  159. ↑
  160. ↑
  161. ↑
  162. ↑
  163. 1 2
  164. ↑
  165. ↑
  166. ↑
  167. ↑
  168. ↑
  169. ↑
  170. ↑
  171. ↑
  172. ↑
  173. ↑
  174. ↑
  175. ↑
  176. ↑
  177. ↑
  178. ↑
  179. ↑
  180. ↑
  181. ↑
  182. ↑
  183. ↑
  184. ↑
  185. ↑
  186. ↑
  187. ↑
  188. ↑
  189. ↑ Broadbent 2016, hlm. 145
  190. ↑
  191. ↑
  192. ↑
  193. ↑

Sumber

Pranala luar

Teori
Konsep
Metafisikawan
Karya penting
Topik terkait
Portal
Akses topik terkait
Temukan informasi lain di
proyek saudari Wikimedia
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan