Minggu, 11 Oktober 2026
18:30 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Rotasi Kepemimpinan: Brigjen Yustan Alpiani Resmi Jadi Kapolda Lampung Lampung Selatan Anak Krakatau Siaga: Status Gunung Meningkat Setelah Belasan Kali Erupsi Intens Pringsewu Truk Fuso Diduga Rem Blong Picu Kecelakaan Maut di Pringsewu, Dua Tewas Lampung Rotasi Besar Polri: 199 Perwira Tinggi dan Menengah Pindah Tugas, Tiga Kapolda Berganti Advertorial Sistem Kelistrikan Lampung Dipuji DPR, EBT Sumbang Hampir Separuh Pasokan Lampung Anak Krakatau Naik Status Siaga Level III: Potensi Bahaya, Jauhi Radius 5 KM Lampung Gunung Anak Krakatau Kembali Erupsi, Status Siaga Ditetapkan, Radius Bahaya 5 Km Teknologi Sega Siapkan DLC Penutup dan Final Kejuaraan Dunia Sonic Racing: CrossWorlds Otomotif Bengkel Mini di Rumah: 6 Alat Penting untuk Perbaikan Ringan Kendaraan Teknologi School Party Craft: Rasakan Sensasi Unik Simulasi Kehidupan di Dunia Terbuka Bandar Lampung Rotasi Kepemimpinan: Brigjen Yustan Alpiani Resmi Jadi Kapolda Lampung Lampung Selatan Anak Krakatau Siaga: Status Gunung Meningkat Setelah Belasan Kali Erupsi Intens Pringsewu Truk Fuso Diduga Rem Blong Picu Kecelakaan Maut di Pringsewu, Dua Tewas Lampung Rotasi Besar Polri: 199 Perwira Tinggi dan Menengah Pindah Tugas, Tiga Kapolda Berganti Advertorial Sistem Kelistrikan Lampung Dipuji DPR, EBT Sumbang Hampir Separuh Pasokan Lampung Anak Krakatau Naik Status Siaga Level III: Potensi Bahaya, Jauhi Radius 5 KM Lampung Gunung Anak Krakatau Kembali Erupsi, Status Siaga Ditetapkan, Radius Bahaya 5 Km Teknologi Sega Siapkan DLC Penutup dan Final Kejuaraan Dunia Sonic Racing: CrossWorlds Otomotif Bengkel Mini di Rumah: 6 Alat Penting untuk Perbaikan Ringan Kendaraan Teknologi School Party Craft: Rasakan Sensasi Unik Simulasi Kehidupan di Dunia Terbuka

Dekonstruksi

Bagikan:

Dalam ranah filsafat, dekonstruksi merupakan seperangkat pendekatan yang secara longgar didefinisikan untuk memahami hubungan antara teks dan makna. Gagasan tentang dekonstruksi pertama kali diperkenalkan oleh filsuf Jacques Derrida, yang memaparkannya sebagai suatu gerak balik dari gagasan-gagasan Platonisme mengenai bentuk dan esensi "sejati" yang ditempatkan di atas penampakan semata.[1]

Sejak dekade 1980-an, gagasan tentang kefluidaan bahasa ini, alih-alih dianggap tetap dan mudah ditentukan, telah mengilhami berbagai bidang kajian dalam humaniora,[2] termasuk disiplin hukum,[3]: 3–76 [4][5] antropologi,[6] historiografi,[7] linguistik,[8] sosiolinguistik,[9] psikoanalisis, penelitian LGBT, dan feminisme. Dekonstruksi juga mengilhami aliran dekonstruktivisme dalam arsitektur, serta tetap berpengaruh besar dalam dunia seni,[10] musik,[11] dan kritik sastra.[12][13]

Gambaran umum

Informasi lebih lanjut: Keterputusan epistemologi

Buku Jacques Derrida tahun 1967, Of Grammatology, memperkenalkan sebagian besar gagasan yang kemudian menjadi berpengaruh dalam pemikiran dekonstruksi.[14]: 25  Derrida juga menerbitkan sejumlah karya lain yang secara langsung berkaitan dengan konsep tersebut, seperti Différance, Speech and Phenomena, dan Writing and Difference.

Bagi Derrida,

Inilah hakikat dari dekonstruksi: bukan suatu campuran, melainkan ketegangan antara ingatan, kesetiaan, pelestarian atas sesuatu yang diwariskan kepada kita, dan pada saat yang sama, keberlainan, sesuatu yang benar-benar baru, serta sebuah keterputusan.[15]: 6 [diragukan – diskusikan]

Menurut Derrida, dengan mengambil inspirasi dari pemikiran Ferdinand de Saussure,[16] bahasa merupakan suatu sistem tanda, dan kata-kata memperoleh makna hanya melalui perbedaan di antara tanda-tanda itu sendiri.[14]: 7, 12 [17]

Sebagaimana dikemukakan oleh Richard Rorty, "kata-kata memiliki makna hanya karena efek kontras dengan kata-kata lain... tidak ada satu pun kata yang dapat memperoleh makna sebagaimana diharapkan oleh para filsuf dari Aristoteles hingga Bertrand Russell, yakni sebagai ungkapan langsung dari sesuatu yang non-linguistik (misalnya emosi, pengamatan inderawi, objek fisik, ide, atau bentuk Platonik)."[17]

Akibatnya, makna tidak pernah hadir secara utuh, melainkan selalu tertunda dan bergantung pada tanda-tanda lainnya. Derrida menyebut keyakinan bahwa makna dapat hadir secara mandiri dan tidak tertunda itu sebagai metafisika kehadiran (metaphysics of presence). Menurut Derrida, suatu konsep hanya dapat dipahami dalam konteks oposisi atau lawannya: misalnya, kata ada (being) tidak bermakna tanpa keberadaan kata tiada (nothing).[18]: 220 [19]: 26 

Lebih jauh, Derrida berpendapat bahwa "dalam oposisi filosofis klasik, kita tidak sedang berhadapan dengan suatu yang damai, melainkan dengan sebuah hierarki yang penuh kekerasan. Salah satu istilah menguasai yang lain, baik secara aksiologis, logis, maupun kultural, misalnya: petanda atas penanda; yang dapat dipahami atas yang indrawi; tutur atas tulisan; aktivitas atas pasivitas, dan seterusnya."[perlu dijelaskan]

Tugas awal dekonstruksi, menurut Derrida, adalah menemukan dan membalik oposisi-oposisi ini dalam teks; namun tujuan akhirnya bukan untuk meniadakan semua oposisi, sebab oposisi-oposisi tersebut dianggap secara struktural niscaya bagi terbentuknya makna. Hierarki oposisi ganda tidak pernah bisa dihapuskan sepenuhnya, karena ia selalu membangun kembali dirinya, sebab ia adalah syarat bagi kebermaknaan itu sendiri. Maka, dekonstruksi hanya menyingkap perlunya analisis tanpa akhir, yang membuat eksplisit keputusan-keputusan dan hierarki yang melekat dalam setiap teks.[19]: 41 

Derrida juga menegaskan bahwa tidak cukup sekadar menyingkap dan membongkar cara oposisi-oposisi bekerja lalu berhenti pada posisi nihilistik atau sinis, "yang justru mencegah segala kemungkinan intervensi efektif dalam ranah tersebut."[19]: 42  Agar efektif, dekonstruksi perlu menciptakan istilah-istilah baru, bukan untuk menyintesis konsep-konsep yang berlawanan, melainkan untuk menandai perbedaan dan permainan abadi di antara keduanya.

Inilah sebabnya Derrida senantiasa memperkenalkan istilah baru dalam setiap pembacaan dekonstruktifnya, bukan sebagai permainan bebas, melainkan sebagai tuntutan analisis. Ia menyebut istilah-istilah semacam itu sebagai yang tak dapat-diputuskan (undecidables), yakni satuan-satuan semu, "properti verbal palsu" (baik nominal maupun semantik) yang tak dapat dimasukkan ke dalam oposisi filosofis biner. Alih-alih menempati posisi di luar oposisi, istilah-istilah ini justru "menghuni" dan mengatur oposisi tersebut dari dalam, tanpa pernah membentuk istilah ketiga atau menghasilkan resolusi dalam bentuk dialektika Hegelian (misalnya différance, archi-writing, pharmakon, suplement, hymen, gram, maupun spasi).[19]: 19 [jargon]

Pengaruh

Teori dekonstruksi yang dikembangkan oleh Derrida sendiri berakar pada karya para ahli bahasa seperti Ferdinand de Saussure, yang tulisan-tulisannya tentang semiotika kemudian menjadi fondasi penting bagi strukturalisme pada pertengahan abad ke-20, dan para teoretikus sastra seperti Roland Barthes, yang karya-karyanya menelusuri batas logis dari pemikiran strukturalis. Pandangan Derrida tentang dekonstruksi berdiri berseberangan dengan teori-teori para strukturalis seperti teoretikus psikoanalisis Jacques Lacan dan antropolog Claude Lévi-Strauss. Namun demikian, Derrida secara tegas menolak upaya untuk melabeli karyanya sebagai bagian dari "pasca-strukturalisme".

Pengaruh Nietzsche

250px-Nietzsche187a.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Friedrich Nietzsche

Dorongan Derrida untuk mengembangkan kritik dekonstruktif, yang menekankan kelenturan bahasa dibanding bentuk-bentuk yang statis, banyak terinspirasi oleh filsafat Friedrich Nietzsche, terutama melalui penafsirannya atas tokoh mitologis Trophonius. Dalam karyanya Daybreak, Nietzsche menulis: "Segala sesuatu yang hidup lama-kelamaan akan begitu jenuh oleh rasionalitas, sehingga asal-usulnya yang irasional menjadi tampak mustahil. Bukankah hampir setiap sejarah asal-usul yang ditulis dengan teliti justru terasa paradoksal dan bahkan menyinggung perasaan kita? Bukankah sejarawan yang baik, pada dasarnya, selalu hidup dalam kontradiksi?".[20]

Dalam Daybreak, Nietzsche menegaskan bahwa di penghujung sejarah modern, para pemikir zaman modern telah mengetahui terlalu banyak untuk terus tertipu oleh ilusi akan rasionalitas yang utuh dan sempurna. Penalaran yang semakin tinggi, logika, filsafat, dan sains, yang dulu dianggap sebagai jalan utama menuju kebenaran, tidak lagi memadai sebagai satu-satunya sarana untuk mencapainya. Nietzsche menolak Platonisme dan menafsirkan kembali sejarah Barat sebagai rangkaian pergerakan politis yang terus berulang, manifestasi dari kehendak untuk berkuasa yang pada dasarnya tidak memiliki klaim kebenaran yang lebih besar maupun lebih kecil dalam arti noumenal (mutlak).

Dengan menyebut dirinya sebagai seorang "Trophonius bawah tanah" yang berdialektika menentang Plato, Nietzsche berusaha menyadarkan pembaca akan konteks politik dan kultural yang membentuk teks, serta pengaruh-pengaruh politis yang turut memengaruhi kepengarangannya.

Namun, menurut Derrida, di sinilah Nietzsche berhenti selangkah sebelum mencapai dekonstruksi yang sejati. Ia melewatkan kesempatan untuk menelusuri "kehendak untuk berkuasa" bukan sekadar sebagai gejala operasi sosiopolitik, melainkan sebagai manifestasi dari kerja tulis itu sendiri, yakni sebagaimana Plato memahaminya, dan untuk melangkah lebih jauh dari revaluasi terakhir terhadap seluruh nilai-nilai Barat menuju tahap akhir: penekanan pada "peran tulisan dalam pembentukan pengetahuan".[21]

Pengaruh Saussure

Derrida memandang setiap teks sebagai bangunan yang tersusun di atas oposisi-oposisi dasar yang harus diartikulasikan oleh setiap bentuk wacana agar dapat menghasilkan makna apa pun. Hal ini berangkat dari pandangan bahwa identitas, dalam kerangka non-esensialisme, bukanlah sesuatu yang tetap dan mendasar, melainkan hasil konstruksi; dan bahwa konstruksi semacam itu hanya dapat melahirkan makna melalui permainan perbedaan di dalam suatu "sistem tanda-tanda yang saling membedakan". Pendekatan Derrida terhadap teks ini sangat dipengaruhi oleh semiologi Ferdinand de Saussure.[22][23]

Saussure dipandang sebagai salah satu pendiri strukturalisme, ketika ia menjelaskan bahwa setiap istilah memperoleh maknanya melalui hubungan timbal balik dengan istilah-istilah lain di dalam sistem bahasa:

Dalam bahasa, yang ada hanyalah perbedaan. Lebih jauh lagi: perbedaan umumnya mengandaikan adanya unsur-unsur positif yang di antara keduanya perbedaan itu dibentuk; tetapi dalam bahasa, yang ada hanyalah perbedaan tanpa unsur positif. Baik kita berbicara tentang petanda maupun penanda, bahasa tidak memiliki ide ataupun bunyi yang telah ada sebelum sistem linguistik itu sendiri, melainkan hanya perbedaan konseptual dan fonis yang lahir dari sistem tersebut. Ide atau substansi bunyi yang dikandung oleh suatu tanda tidaklah sepenting tanda-tanda lain yang mengitarinya. [...] Sistem linguistik adalah serangkaian perbedaan bunyi yang berpadu dengan serangkaian perbedaan gagasan; dan dari penyandingan sejumlah tanda akustik dengan sejumlah potongan dari "massa pemikiran" inilah lahir suatu sistem nilai.[16]

Saussure secara eksplisit menyatakan bahwa ilmu bahasa hanyalah salah satu cabang dari semiologi yang lebih umum, yakni ilmu tentang tanda secara keseluruhan, di mana kode-kode manusia hanyalah satu bagian saja. Namun, sebagaimana ditunjukkan oleh Derrida, pada akhirnya Saussure justru menjadikan linguistik sebagai "model pengatur", dan, karena alasan yang bersifat esensial sekaligus metafisis, ia terpaksa menempatkan keutamaan pada ujaran, serta pada segala sesuatu yang menghubungkan tanda dengan bunyi (phone).[19]: 21, 46, 101, 156, 164 

Dekonstruksi menurut Derrida

Etimologi

Penggunaan awal kata dekonstruksi oleh Derrida merupakan terjemahan dari istilah bahasa Jerman Destruktion, sebuah konsep dari pemikiran Martin Heidegger yang hendak diterapkan Derrida dalam pembacaan teks. Konsep Heidegger ini merujuk pada sebuah proses penjelajahan terhadap kategori dan konsep yang telah dilekatkan oleh tradisi pada suatu kata, serta sejarah yang melatarbelakanginya.[24] Heidegger secara khusus memilih istilah Destruktion alih-alih kata umum bahasa Jerman untuk penghancuran, "Zerstörung," karena konotasi tambahannya yang merujuk pada Abbau atau "pembongkaran." Namun, dalam Ada dan Waktu, Heidegger membedakan dekonstruksi dari Destruktion sebagai suatu proses berkesinambungan tanpa titik akhir atau tujuan, karena dekonstruksi tidak memiliki definisi yang tetap ataupun makna akhir. [25]

Différance

Artikel utama: Différance

Différance adalah pengamatan bahwa makna dari kata-kata berasal dari sinkroni kata tersebut dengan kata-kata lain dalam bahasa bersangkutan, serta dari diakroni antara definisi kontemporer dan definisi historis dari kata tersebut. Menurut Derrida, memahami bahasa memerlukan pemahaman atas kedua sudut pandang analisis linguistik ini. Penekanan pada diakroni telah memicu tuduhan terhadap Derrida bahwa ia melakukan kesesatan etimologis.[26]

Terdapat satu pernyataan Derrida—dalam sebuah esai tentang Rousseau di Gramatologi—yang menyita perhatian besar dari para penentangnya.[14]: 158  Pernyataan tersebut adalah penegasan bahwa "tidak ada di-luar-teks" (il n'y a pas de hors-texte),[14]: 158–59, 163  yang sering kali keliru diterjemahkan menjadi "tidak ada apa pun di luar teks". Kekeliruan terjemahan ini sering digunakan untuk mengesankan bahwa Derrida percaya tidak ada hal lain yang eksis selain kata-kata. Michel Foucault, misalnya, secara terkenal keliru mengatribusikan frasa yang sangat berbeda, Il n'y a rien en dehors du texte, kepada Derrida untuk tujuan tersebut.[27] Menurut Derrida, pernyataannya tersebut sekadar merujuk pada ketakterhindaran konteks yang menjadi inti dari différance.[28]: 133 

Sebagai contoh, kata rumah memperoleh maknanya lebih sebagai fungsi dari bagaimana kata tersebut berbeda dengan gubuk, rumah besar, hotel, bangunan, dan sebagainya (bentuk isi, yang dibedakan Louis Hjelmslev dari bentuk ekspresi), ketimbang bagaimana kata rumah itu terikat pada citra tertentu tentang rumah tradisional (yakni hubungan antara petanda dan penanda), di mana setiap istilah ditetapkan melalui penentuan timbal balik dengan istilah-istilah lain alih-alih melalui deskripsi atau definisi ostensif: kapan seseorang dapat berbicara tentang rumah, rumah besar, atau gubuk? Hal serupa berlaku untuk kata kerja dalam semua bahasa: kapan seseorang harus berhenti mengatakan berjalan dan mulai mengatakan berlari? Hal yang sama tentu terjadi pada kata sifat: kapan seseorang harus berhenti mengatakan kuning dan mulai mengatakan jingga, atau mengganti masa lalu dengan masa kini? Bukan hanya perbedaan topologis antarkata yang relevan di sini, melainkan diferensial di antara apa yang ditandai juga dicakup oleh différance.

Dengan demikian, makna yang utuh senantiasa bersifat "diferensial" dan ditangguhkan dalam bahasa; tidak pernah ada momen ketika makna bernilai utuh dan menyeluruh. Contoh sederhananya adalah saat mencari kata tertentu di dalam kamus, kemudian dilanjutkan dengan mencari kata-kata yang terdapat dalam definisi kata tersebut, dan seterusnya, serta membandingkannya dengan kamus-kamus yang lebih tua. Proses semacam itu tidak akan pernah berakhir.

Metafisika kehadiran

Artikel utama: Metafisika kehadiran

Derrida menggambarkan tugas dekonstruksi sebagai pengidentifikasian metafisika kehadiran, atau logosentrisme, dalam filsafat Barat. Metafisika kehadiran merupakan hasrat akan akses langsung menuju makna, yaitu pengutamaan kehadiran di atas ketidakhadiran. Hal ini berarti terdapat asumsi bias dalam oposisi biner tertentu, di mana satu sisi ditempatkan di atas sisi lainnya, seperti kebaikan di atas keburukan, tuturan di atas tulisan, atau laki-laki di atas perempuan. Derrida menulis,

Tanpa keraguan, Aristoteles memikirkan waktu berdasarkan ousia sebagai parousia, berdasarkan saat ini, titik, dan sebagainya. Namun demikian, suatu pembacaan menyeluruh dapat diorganisasikan untuk mengulang kembali pembatasan ini beserta kebalikannya dalam teks Aristoteles.[24]: 29–67 

Bagi Derrida, bias utama dari logosentrisme adalah penempatan "saat ini" sebagai hal yang lebih penting daripada masa depan atau masa lalu. Argumen ini sebagian besar didasarkan pada karya Heidegger sebelumnya, yang dalam Wujud dan Waktu, menyatakan bahwa sikap teoritis tentang kehadiran murni bersifat parasitik terhadap keterlibatan yang lebih asali dengan dunia dalam konsep-konsep seperti siap-pakai dan ada-bersama.[29]

Dekonstruksi dan dialektika

Dalam prosedur dekonstruksi, salah satu perhatian utama Derrida adalah agar tidak terjerumus ke dalam dialektika Hegel, di mana oposisi-oposisi ini akan direduksi menjadi kontradiksi-kontradiksi dalam suatu dialektika yang bertujuan menyelesaikannya ke dalam sintesis.[19]: 43  Kehadiran dialektika Hegelian sangat besar dalam kehidupan intelektual Prancis pada paruh kedua abad ke-20, melalui pengaruh Kojève dan Hyppolite, tetapi juga lewat dampak dialektika berbasis kontradiksi yang dikembangkan oleh kaum Marxis, termasuk eksistensialisme Sartre, dan sebagainya. Hal ini menjelaskan perhatian Derrida untuk selalu membedakan prosedurnya dari prosedur Hegel,[19]: 43  karena Hegelianisme meyakini bahwa oposisi biner akan menghasilkan sintesis, sementara Derrida memandang oposisi biner tidak dapat dilebur ke dalam sintesis yang bebas dari kontradiksi aslinya.

Kesulitan definisi

Terdapat berbagai kesulitan dalam mendefinisikan dekonstruksi. Derrida mengklaim bahwa seluruh esainya merupakan upaya untuk menjelaskan apa itu dekonstruksi,[30]: 4  dan bahwa dekonstruksi secara niscaya bersifat rumit serta sulit dijelaskan karena ia secara aktif mengkritik bahasa yang justru diperlukan untuk menjelaskannya.

Deskripsi "negatif" Derrida

Derrida lebih banyak memberikan uraian negatif (apofatik) daripada uraian positif mengenai dekonstruksi. Ketika Toshihiko Izutsu memintanya memberikan beberapa pertimbangan awal mengenai cara menerjemahkan deconstruction ke dalam bahasa Jepang, setidaknya agar tidak menggunakan istilah bahasa Jepang yang bertentangan dengan makna sebenarnya dari deconstruction, Derrida mengawali jawabannya dengan mengatakan bahwa pertanyaan tersebut pada dasarnya adalah pertanyaan mengenai "apa yang bukan merupakan dekonstruksi, atau lebih tepatnya apa yang seharusnya bukan merupakan dekonstruksi".[30]: 1 

Derrida menyatakan bahwa dekonstruksi bukanlah analisis, kritik, ataupun metode[30]: 3  dalam pengertian tradisional yang digunakan filsafat untuk memahami istilah-istilah tersebut. Dalam uraian negatif mengenai dekonstruksi ini, Derrida berupaya untuk "memperbanyak penanda kehati-hatian dan mengesampingkan semua konsep filsafat tradisional".[30]: 3  Hal ini bukan berarti bahwa dekonstruksi sama sekali tidak memiliki kesamaan dengan analisis, kritik, atau metode, sebab meskipun Derrida mengambil jarak antara dekonstruksi dan istilah-istilah tersebut, ia menegaskan kembali "perlunya kembali kepada istilah-istilah itu, setidaknya dengan mencoretnya".[30]: 3  Kebutuhan Derrida untuk kembali kepada suatu istilah secara dicoret berarti bahwa meskipun istilah-istilah tersebut bermasalah, istilah itu tetap harus digunakan sampai dapat dirumuskan kembali atau digantikan secara efektif. Relevansi tradisi teologi negatif terhadap kecenderungan Derrida menggunakan uraian negatif mengenai dekonstruksi terletak pada gagasan bahwa uraian positif mengenai dekonstruksi akan menentukan gagasan tentang dekonstruksi secara berlebihan dan menutup keterbukaan yang ingin dipertahankan Derrida bagi dekonstruksi. Jika Derrida mendefinisikan dekonstruksi secara positif—misalnya sebagai suatu kritik—hal itu akan membuat konsep kritik kebal terhadap dekonstruksi atas dirinya sendiri.[butuh rujukan] Dengan demikian, diperlukan suatu filsafat baru di luar dekonstruksi untuk mencakup gagasan tentang kritik.

Bukan suatu metode

Derrida menyatakan bahwa "Dekonstruksi bukanlah suatu metode, dan tidak dapat diubah menjadi suatu metode".[30]: 3  Hal ini disebabkan oleh karena dekonstruksi bukanlah suatu operasi mekanis. Derrida memperingatkan agar dekonstruksi tidak dipandang sebagai operasi mekanis, ketika ia menyatakan bahwa "Memang benar bahwa dalam kalangan tertentu (khususnya kalangan akademis atau kebudayaan di Amerika Serikat) 'metafora' teknis dan metodologis yang tampaknya tidak dapat dipisahkan dari kata 'dekonstruksi' itu sendiri telah mampu memikat ataupun menyesatkan".[30]: 3  Pengamat Richard Beardsworth menjelaskan:

Derrida berhati-hati untuk menghindari istilah ini [metode] karena istilah tersebut mengandung konotasi berupa suatu bentuk penilaian yang bersifat prosedural. Seorang pemikir yang memiliki suatu metode telah terlebih dahulu memutuskan bagaimana harus bertindak, tidak mampu menyerahkan dirinya kepada persoalan pemikiran yang sedang dihadapi, dan menjadi pelaksana kriteria yang membentuk gerak-gerik konseptualnya. Bagi Derrida [...] hal ini pada hakikatnya merupakan tindakan yang tidak bertanggung jawab. Dengan demikian, berbicara tentang suatu metode dalam kaitannya dengan dekonstruksi, terutama mengenai implikasi etis-politisnya, tampaknya secara langsung bertentangan dengan arah perjalanan filsafat Derrida.[31]

Beardsworth di sini menjelaskan bahwa melakukan dekonstruksi dengan seperangkat aturan lengkap yang tinggal diterapkan sebagai metode terhadap objek dekonstruksi akan merupakan tindakan yang tidak bertanggung jawab, sebab pemahaman semacam itu akan mereduksi dekonstruksi menjadi tesis pembaca yang kemudian dipaksakan agar teks menyesuaikan diri dengannya. Hal tersebut merupakan tindakan pembacaan yang tidak bertanggung jawab karena berubah menjadi prosedur yang berprasangka, yang hanya menemukan apa yang sejak awal hendak dicarinya.

Bukan suatu kritik

Derrida menyatakan bahwa dekonstruksi bukanlah suatu kritik dalam pengertian Kantian.[30]: 3  Hal ini karena Kant mendefinisikan istilah kritik sebagai lawan dari dogmatisme. Bagi Derrida, tidak mungkin melepaskan diri dari muatan dogmatis bahasa yang digunakan untuk melakukan kritik murni dalam pengertian Kantian. Bahasa bersifat dogmatis karena tidak mungkin dilepaskan dari metafisika. Derrida berpendapat bahwa bahasa tidak mungkin terlepas dari metafisika karena bahasa tersusun atas penanda yang hanya merujuk pada sesuatu yang melampaui dirinya, yakni petanda.[butuh rujukan] Selain itu, Derrida secara retoris bertanya, "Bukankah gagasan tentang pengetahuan dan pemerolehan pengetahuan itu sendiri bersifat metafisis?"[3]: 5  Dengan ini, Derrida bermaksud mengatakan bahwa setiap klaim untuk mengetahui sesuatu niscaya melibatkan suatu pernyataan metafisis bahwa sesuatu memang demikian adanya di suatu tempat. Bagi Derrida, konsep netralitas patut dicurigai dan karena itu dogmatisme selalu terlibat, sampai tingkat tertentu, dalam segala sesuatu. Dekonstruksi dapat menantang suatu bentuk dogmatisme tertentu dan dengan demikian menghilangkan endapan dogmatisme secara umum, tetapi tidak dapat melepaskan diri dari seluruh dogmatisme sekaligus.

Bukan suatu analisis

Derrida menyatakan bahwa dekonstruksi bukanlah analisis dalam pengertian tradisional.[30]: 3  Hal ini karena kemungkinan dilakukannya analisis didasarkan pada kemungkinan untuk memecah teks yang dianalisis menjadi bagian-bagian komponennya yang elementer. Derrida berpendapat bahwa tidak ada satuan makna yang mandiri dalam suatu teks, karena kata atau kalimat individual dalam teks hanya dapat dipahami secara tepat berdasarkan keterkaitannya dengan struktur teks secara keseluruhan dan dengan bahasa itu sendiri. Untuk pembahasan lebih lanjut mengenai teori makna Derrida, lihat artikel tentang différance.

Bukan pascastrukturalis

Derrida menyatakan bahwa penggunaan pertamanya atas kata dekonstruksi berlangsung dalam konteks ketika "strukturalisme sedang dominan", dan makna dekonstruksi berada dalam konteks tersebut. Derrida menyatakan bahwa dekonstruksi merupakan suatu "gerakan antistrukturalis" karena "[s]truktur-struktur harus dibongkar, diuraikan, dan dilepaskan dari endapannya". Pada saat yang sama, dekonstruksi juga merupakan suatu "gerakan strukturalis" karena berkaitan dengan struktur teks. Dengan demikian, dekonstruksi melibatkan "perhatian tertentu terhadap struktur"[30]: 2  dan berupaya "memahami bagaimana suatu 'keseluruhan' terbentuk".[30]: 3  Sebagai gerakan yang sekaligus strukturalis dan antistrukturalis, dekonstruksi berkaitan erat dengan apa yang disebut Derrida sebagai "problem struktural".[30]: 2  Bagi Derrida, problem struktural merupakan ketegangan antara genesis, yaitu sesuatu yang "pada hakikatnya merupakan suatu modus penciptaan atau gerak", dan struktur: "sistem, atau kompleks, atau konfigurasi statis".[18]: 194  Contoh genesis adalah gagasan inderawi yang darinya pengetahuan kemudian diperoleh dalam epistemologi empiris. Contoh struktur adalah suatu oposisi biner seperti baik dan jahat, yang makna masing-masing unsurnya ditentukan, setidaknya sebagian, melalui hubungannya dengan unsur yang lain.

Atas alasan inilah Derrida menjaga jarak antara penggunaan istilah dekonstruksi olehnya dan pascastrukturalisme, sebuah istilah yang dapat mengesankan bahwa filsafat dapat begitu saja melampaui strukturalisme. Derrida menyatakan bahwa "motif dekonstruksi telah dikaitkan dengan 'pascastrukturalisme'", tetapi istilah ini merupakan "kata yang tidak dikenal di Prancis sampai 'kembali' dari Amerika Serikat".[30]: 3  Dalam dekonstruksinya terhadap Edmund Husserl, Derrida justru berpendapat untuk adanya kontaminasi asal-usul murni oleh struktur bahasa dan temporalitas. Manfred Frank bahkan menyebut karya Derrida sebagai "neostrukturalisme", dengan mengidentifikasi adanya "ketidaksukaan terhadap konsep-konsep metafisis tentang dominasi dan sistem".[32][33]

Definisi alternatif

Popularitas istilah dekonstruksi, yang berpadu dengan rumitnya materi utama karangan Derrida mengenai dekonstruksi serta keengganannya untuk mengelaborasi pemahamannya tentang istilah tersebut, menyebabkan banyak sumber sekunder berusaha memberikan penjelasan yang lebih lugas daripada yang pernah dicoba oleh Derrida sendiri. Oleh karena itu, definisi-definisi sekunder lebih merupakan penafsiran dekonstruksi oleh pihak yang mengemukakannya, dan bukan ringkasan dari posisi Derrida yang sebenarnya.

  • Paul de Man adalah anggota Mazhab Yale dan praktisi dekonstruksi terkemuka berdasarkan pemahamannya. Definisinya mengenai dekonstruksi menyatakan bahwa, "[d]apat dimungkinkan, di dalam teks, untuk merumuskan pertanyaan atau membatalkan penegasan yang dibuat dalam teks, melalui elemen-elemen yang berada di dalam teks itu sendiri, yang sering kali justru berupa struktur yang mempertentangkan elemen retoris dengan elemen gramatis."[34]
  • Richard Rorty adalah penafsir terkemuka dari filsafat Derrida. Definisinya tentang dekonstruksi menyatakan bahwa, "istilah 'dekonstruksi' pada dasarnya merujuk pada cara fitur-fitur 'aksidental' dari suatu teks dapat dilihat sebagai bentuk pengkhianatan atau pembongkaran terhadap pesan yang dianggap 'esensial' dalam teks tersebut."[35]
  • Menurut John D. Caputo, makna dan misi utama dari dekonstruksi adalah:

    "untuk menunjukkan bahwa segala hal—teks, institusi, tradisi, masyarakat, keyakinan, dan praktik dalam skala dan jenis apa pun—tidak memiliki makna yang terdefinisi dan misi yang dapat ditentukan, bahwa hal-hal tersebut selalu lebih dari sekadar misi apa pun yang dibebankan, serta melampaui batasan-batasan yang saat ini ditempatinya"[36]

  • Niall Lucy menyoroti ketidakmungkinan untuk mendefinisikan istilah tersebut secara mutlak, dengan menyatakan:

    "Meskipun dalam satu sisi istilah ini memang sangat sulit untuk didefinisikan, ketidakmungkinan tersebut sebenarnya kurang berkaitan dengan pengambilan posisi atau penetapan pilihan dari pihak dekonstruksi, melainkan lebih pada ketidakmungkinan dari setiap kata 'adalah' itu sendiri. Dekonstruksi dimulai, bisa dikatakan, dari penolakan terhadap otoritas atau daya penentu dari setiap kata 'adalah', atau secara sederhana dari penolakan terhadap otoritas secara umum. Meskipun penolakan semacam itu memang dapat dianggap sebagai suatu posisi, dekonstruksi tidak memegangnya sebagai semacam 'preferensi' ".[37][halaman dibutuhkan]

  • David B. Allison, salah satu penerjemah awal karya Derrida, menyatakan dalam pengantar terjemahannya untuk Speech and Phenomena:

    [Dekonstruksi] menandai sebuah proyek pemikiran kritis yang bertugas menemukan dan 'membongkar' konsep-konsep yang berfungsi sebagai aksioma atau aturan bagi suatu periode pemikiran, yaitu konsep-konsep yang mengarahkan perkembangan seluruh era metafisika. 'Dekonstruksi' bersifat sedikit kurang negatif dibandingkan istilah Heideggerian atau Nietzschean seperti 'dekstruksi' atau 'pembalikan'; istilah ini mengisyaratkan bahwa konsep-konsep dasar tertentu dari metafisika tidak akan pernah sepenuhnya dihilangkan... Tidak ada cara sederhana untuk 'mengatasi' metafisika atau bahasa metafisika.

  • Paul Ricœur mendefinisikan dekonstruksi sebagai cara untuk mengungkap pertanyaan-pertanyaan di balik jawaban dari suatu teks atau tradisi.[38][halaman dibutuhkan]

Catatan

Referensi

  1. ↑ Lawlor, Leonard (2019), "Jacques Derrida", dalam Zalta, Edward N. (ed.), The Stanford Encyclopedia of Philosophy (Edisi Fall 2019), Metaphysics Research Lab, Stanford University, diakses tanggal 2020-04-11
  2. ↑ "Deconstruction". Encyclopedia Britannica (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 8 September 2017.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  3. 1 2 Allison, David B.; Garver, Newton (1973). Speech and Phenomena and Other Essays on Husserl's Theory of Signs (Edisi 5th). Evanston: Northwestern University Press. ISBN 978-0810103979. Diakses tanggal 8 September 2017. A decision that did not go through the ordeal of the undecidable would not be a free decision, it would only be the programmable application or unfolding of a calculable process...[which] deconstructs from the inside every assurance of presence, and thus every criteriology that would assure us of the justice of the decision.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  4. ↑ "Critical Legal Studies Movement". The Bridge. Diakses tanggal 8 September 2017.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  5. ↑ "German Law Journal - Past Special Issues". 16 Mei 2013. Diarsipkan dari asli tanggal 16 Mei 2013. Diakses tanggal 8 September 2017.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  6. ↑ Morris, Rosalind C. (September 2007). "Legacies of Derrida: Anthropology". Annual Review of Anthropology. 36 (1): 355–389. doi:10.1146/annurev.anthro.36.081406.094357.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  7. ↑ Munslow, Alan (1997). "Deconstructing History" (PDF). Institute of Historical Research. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 2012-09-16. Diakses tanggal 8 September 2017.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  8. ↑ Busch, Brigitta (1 Desember 2012). "The Linguistic Repertoire Revisited". Applied Linguistics. 33 (5): 503–523. doi:10.1093/applin/ams056.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  9. ↑ Esch, Edith; Solly, Martin, ed. (2012). The Sociolinguistics of Language Education in International Contexts. Bern: Peter Lang. hlm. 31–46. ISBN 9783034310093.
  10. ↑ "Deconstruction – Art Term". Tate. Diakses tanggal 16 September 2017. Since Derrida's assertions in the 1970s, the notion of deconstruction has been a dominating influence on many writers and conceptual artists.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  11. ↑ Cobussen, Marcel (2002). "Deconstruction in Music. The Jacques Derrida – Gerd Zacher Encounter" (PDF). Thinking Sounds. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 2017-09-09. Diakses tanggal 8 September 2017.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  12. ↑ Douglas, Christopher (31 Maret 1997). "Glossary of Literary Theory". University of Toronto English Library. Diarsipkan dari asli tanggal 8 November 2017. Diakses tanggal 16 September 2017.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  13. ↑ Kandell, Jonathan (10 Oktober 2004). "Jacques Derrida, Abstruse Theorist, Dies at 74". The New York Times. Diakses tanggal 1 Juni 2017.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  14. 1 2 3 4 Derrida, Jacques (1997). Of Grammatology. Diterjemahkan oleh Gayatri Chakravorty Spivak. Baltimore: Johns Hopkins University Press. ISBN 978-0801858307.
  15. ↑ Derrida, Jacques (2021) [1997], Caputo, John D. (ed.), Deconstruction in a Nutshell: A Conversation with Jacques Derrida, Fordham University Press, ISBN 9780823290680
  16. 1 2 Saussure, Ferdinand de (1959). "Course in General Linguistics". New York: Southern Methodist University. hlm. 121–122. Diarsipkan dari asli tanggal 31 Juli 2019. Diakses tanggal 8 September 2017. In language there are only differences. Even more important: a difference generally implies positive terms between which the difference is set up; but in language there are only differences without positive terms. Whether we take the signified or the signifier, language has neither ideas nor sounds that existed before the linguistic system, but only conceptual and phonic differences that have issued from the system.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  17. 1 2 "Deconstructionist Theory". Stanford Presidential Lectures and Symposia in the Humanities and Arts. 1995. Diakses tanggal 8 September 2017.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  18. 1 2 Derrida, Jacques (2001) [1967]. Writing and Difference. Diterjemahkan oleh Alan Bass. University of Chicago Press. ISBN 9780226816074. Diakses tanggal 2 Agustus 2024. The model of hieroglyphic writing assembles more strikingly—though we find it in every form of writing—the diversity of the modes and functions of signs in dreams. Every sign—verbal or otherwise—may be used at different levels, in configurations and functions which are never prescribed by its "essence," but emerge from a play of differences.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  19. 1 2 3 4 5 6 7 Derrida, Jacques (1982). Positions (dalam bahasa Inggris). University of Chicago Press. ISBN 9780226143316.
  20. ↑ Nietzsche, Friedrich; Clark, Maudemarie; Leiter, Brian; Hollingdale, R.J. (1997). Daybreak: Thoughts on the Prejudices of Morality. Cambridge, U.K.: Cambridge University Press. hlm. 8–9. ISBN 978-0521599634.
  21. ↑ Zuckert, Catherine H. (1996). "7". Postmodern Platos: Nietzsche, Heidegger, Gadamer, Strauss, Derrida. Chicago: University of Chicago Press. ISBN 978-0226993317.
  22. ↑ Royle, Nick (2003). Jacques Derrida (dalam bahasa Inggris) (Edisi Reprint). London: Routledge. hlm. 6–623. ISBN 9780415229319. Diakses tanggal 8 September 2017.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  23. ↑ Derrida, Jacques; Ferraris, Maurizio (2001). A Taste for the Secret. Wiley. hlm. 76. ISBN 9780745623344. I take great interest in questions of language and rhetoric, and I think they deserve enormous consideration; but there is a point where the authority of final jurisdiction is neither rhetorical nor linguistic, nor even discursive. The notion of trace or of text is introduced to mark the limits of the linguistic turn. This is one more reason why I prefer to speak of 'mark' rather than of language. In the first place the mark is not anthropological; it is prelinguistic; it is the possibility of language, and it is every where there is a relation to another thing or relation to an other. For such relations, the mark has no need of language.
  24. 1 2 Heidegger, Martin; Macquarrie, John; Robinson, Edward (2006). Being and Time (dalam bahasa Inggris) (Edisi 1st). Oxford: Blackwell. hlm. 21–23. ISBN 9780631197706. Diakses tanggal 8 September 2017.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  25. ↑ "Deconstruction | Internet Encyclopedia of Philosophy" (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2026-04-28.
  26. ↑ Soskice, Janet Martin (1987). Metaphor and Religious Language (Edisi Paperback). Oxford: Clarendon. hlm. 80–82. ISBN 9780198249825.
  27. ↑ Foucault, Michel; Howard, Richard; Cooper, David (2001). Madness and Civilization: A History of Insanity in the Age of Reason (Edisi Reprint). London: Routledge. hlm. 602. ISBN 978-0415253857.
  28. ↑ Derrida, Jacques (1995). Limited Inc (Edisi 4th). Evanston: Northwestern University Press. ISBN 978-0810107885.
  29. ↑ Heidegger, Martin (22 Juli 2008) [1962]. Being and time. John Macquarrie, Edward S. Robinson (Edisi Reprint). New York: HarperPerennial/Modern Thought. ISBN 978-0-06-157559-4. OCLC 243467373.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  30. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 Wood, David; Bernasconi, Robert (1988). Derrida and Différance (Edisi Reprinted). Evanston, Illinois: Northwestern University Press. ISBN 9780810107861.
  31. ↑ Beardsworth, Richard (1996). Derrida & The Political. London: Routledge. hlm. 4. ISBN 978-1134837380.
  32. ↑ Frank, Manfred (1989). What is Neostructuralism?. Minneapolis: University of Minnesota Press. ISBN 978-0816616022.
  33. ↑ Buchanan, Ian. A dictionary of critical theory. OUP Oxford, 2010. Entry: Neostructuralism.
  34. ↑ Moynihan, Robert (1986). A Recent imagining: interviews with Harold Bloom, Geoffrey Hartman, J. Hillis Miller, Paul De Man (Edisi 1st). Hamden, Connecticut: Archon Books. hlm. 156. ISBN 9780208021205.
  35. ↑ Brooks, Peter (1995). The Cambridge History of Literary Criticism: From Formalism to Poststructuralism (Edisi 1st). Cambridge: Cambridge University Press. hlm. 171. ISBN 9780521300131.
  36. ↑ Caputo, John D. (1997). Deconstruction in a Nutshell: A Conversation with Jacques Derrida (Edisi 3rd). New York: Fordham University Press. hlm. 31. ISBN 9780823217557.
  37. ↑ Lucy, Niall (2004). A Derrida Dictionary. Malden, Massachusetts: Blackwell Publishing. ISBN 978-1405137515.
  38. ↑ Klein, Anne Carolyn (1994). Meeting the Great Bliss Queen: Buddhists, Feminists, and the Art of the Self. Boston: Beacon Press. ISBN 9780807073063.

Bacaan lanjutan

  • Derrida, Jacques. Positions. Trans. Alan Bass. Chicago: U of Chicago P, 1981. ISBN978-0-226-14331-6
  • Derrida [1980], The time of a thesis: punctuations, first published in: Derrida [1990], Eyes of the University: Right to Philosophy 2, pp. 113–128.
  • Atkins, G. Douglas. Reading deconstruction: deconstructive reading. Lexington, Ky: University Press of Kentucky, 1983.
  • Bloom, Harold. A map of misreading. NY: Oxford University Press, 1975.
  • Breckman, Warren. "Times of Theory: On Writing the History of French Theory," Journal of the History of Ideas, vol. 71, no. 3 (July 2010), 339–361 (online).
  • Cantor, Norman F. Twentieth century culture: modernism to deconstruction. NY: Peter Lang, 1988.
  • Culler, Jonathan. On Deconstruction: Theory and Criticism after Structuralism, Cornell University Press, 1982. ISBN978-0-8014-1322-3.
  • de Man, Paul. Blindness and insight: essays in the rhetoric of contemporary criticism. NY: Oxford University Press, 1971.
  • —. The rhetoric of Romanticism. NY: Columbia University Press, 1984.
  • Eagleton, Terry. Literary Theory: An Introduction, University of Minnesota Press, 1996. ISBN978-0-8166-1251-2
  • Ellis, John M. Against Deconstruction, Princeton: Princeton UP, 1989. ISBN978-0-691-06754-4.
  • Hartman, Geoffrey. Saving the text: literature/Derrida/philosophy. Baltimore: Johns Hopkins University Press, 1981.
  • Johnson, Barbara. The Critical Difference: Essays in the Contemporary Rhetoric of Reading. Baltimore: Johns Hopkins University Press, 1980. ISBN978-0-801-82458-6
  • Montefiore, Alan (ed., 1983), Philosophy in France Today Cambridge: Cambridge UP, pp. 34–50
  • Norris, Christopher. Deconstruction: theory and practice. London: Methuen, 1982.
  • —. The deconstructive turn: essays in the rhetoric of philosophy. London: Methuen, 1983.
  • Rajnath, A., ed. Deconstruction: a critique. London: Macmillan, 1989.
  • Reynolds, Simon. Rip It Up and Start Again, New York: Penguin, 2006, pp. 316. ISBN978-0-143-03672-2. (Source for the information about Green Gartside, Scritti Politti, and deconstructionism.)
  • Stocker, Barry. Routledge Philosophy Guidebook to Derrida on Deconstruction, Routledge, 2006. ISBN978-1-134-34381-2
  • Wortham, Simon Morgan. The Derrida Dictionary, Continuum, 2010. ISBN978-1-847-06526-1

Pranala luar

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan