Minggu, 08 November 2026
04:46 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Agenda Strategis Pemprov Lampung 6 November 2026: Revitalisasi Stadion Jadi Prioritas Bandar Lampung Harga Beras di Pasar Pasir Gintung Bandar Lampung Merangkak Naik, Stok Aman Bandar Lampung Disdag Bandar Lampung Jamin Pasokan Beras Aman hingga Akhir 2026 Insight Komitmen Pembangunan Negeri, PTBA Sabet Penghargaan Kepatuhan PNBP ESDM 2026 Pemprov Lampung Gubernur Mirza Canangkan Mulang Maya Jadi Magnet Wisata Budaya Unggulan Lampung Tuba Barat Mewujudkan Haji: Pemkab Tubaba dan BSI Ajak Masyarakat Menabung Sejak Dini Lampung Timur Bupati Ela Dekatkan Diri dengan Siswa, Pastikan Kualitas Pendidikan dan Gizi di Lampung Timur Tuba Barat Kemitraan Strategis Pemkab Tubaba dan Kejari: Wujudkan Tata Kelola Pemerintahan Akuntabel Bandar Lampung Mantan Ketua DPRD Lampung Bersaksi dalam Sidang Arinal Djunaidi Bandar Lampung Senator Bustami Zainudin dan Staf DPD Lampung Ikuti Program Cek Kesehatan Gratis Bandar Lampung Agenda Strategis Pemprov Lampung 6 November 2026: Revitalisasi Stadion Jadi Prioritas Bandar Lampung Harga Beras di Pasar Pasir Gintung Bandar Lampung Merangkak Naik, Stok Aman Bandar Lampung Disdag Bandar Lampung Jamin Pasokan Beras Aman hingga Akhir 2026 Insight Komitmen Pembangunan Negeri, PTBA Sabet Penghargaan Kepatuhan PNBP ESDM 2026 Pemprov Lampung Gubernur Mirza Canangkan Mulang Maya Jadi Magnet Wisata Budaya Unggulan Lampung Tuba Barat Mewujudkan Haji: Pemkab Tubaba dan BSI Ajak Masyarakat Menabung Sejak Dini Lampung Timur Bupati Ela Dekatkan Diri dengan Siswa, Pastikan Kualitas Pendidikan dan Gizi di Lampung Timur Tuba Barat Kemitraan Strategis Pemkab Tubaba dan Kejari: Wujudkan Tata Kelola Pemerintahan Akuntabel Bandar Lampung Mantan Ketua DPRD Lampung Bersaksi dalam Sidang Arinal Djunaidi Bandar Lampung Senator Bustami Zainudin dan Staf DPD Lampung Ikuti Program Cek Kesehatan Gratis
Dualisme

Dualisme

Bagikan:
Diagram sebuah lingkaran yang dibagi menjadi dua sisi
Dualisme membagi suatu domain atau fenomena menjadi dua prinsip atau jenis yang terpisah.

Dualisme mencakup sekumpulan pandangan mengenai pembagian mendasar realitas ke dalam dua prinsip atau jenis terpisah. Pandangan ini umumnya menekankan pembedaan tegas antara dua sisi independen atau antagonistis, tetapi dalam arti lebih luas juga mencakup teori-teori dengan dua sisi saling berkorelasi atau melengkapi. Dualisme berlawanan dengan monisme sebagai penolak pembagian mendasar, serta bentuk-bentuk pluralisme berlandaskan lebih dari dua prinsip utama.

Pandangan dualis mencakup banyak domain dan disiplin ilmu. Dualisme pikiran–tubuh memandang pikiran dan tubuh berbeda secara mendasar. Pandangan ini mencakup dualisme substansi—penafsiran pikiran dan tubuh sebagai substansi terpisah serta mampu berdiri sendiri—serta dualisme sifat, yakni pengarakterisasian keduanya sebagai jenis sifat berbeda pada satu substansi sama. Dualisme etis menyoroti pertentangan antara kebaikan dan kejahatan sebagai kekuatan antagonistis pengatur perilaku manusia dan tatanan kosmis. Dualisme Platonis membagi realitas menjadi dunia ide berisi Bentuk-Bentuk abadi dan alam inderawi berwujud materi dinamis, menyerupai pembedaan objek abstrak dan konkret dalam wacana kontemporer. Dualisme epistemologis menganggap objek persepsi berbeda dari objek nyata, menegaskan celah esensial antara pengalaman dan realitas. Ragam pandangan ini pun mencakup doktrin Yin-Yang asal Tiongkok tentang interaksi dua kekuatan saling melengkapi, dualisme teologis pemisah Tuhan dari dunia, hingga pembagian alam–kebudayaan penyeimbang keadaan alamiah dan institusi buatan manusia. Dualisme lainnya terdapat dalam teori nilai, teori hukum, fisika, dan sistem kepercayaan pribumi. Para pengkritik menilai dualisme kerap mengabaikan kesinambungan, terlalu menyederhanakan realitas, menimbulkan masalah semu, atau memunculkan bias evaluatif.

Pemikiran dualis berakar pada zaman kuno sebagai tema kunci berbagai tradisi keagamaan, seperti Zoroastrianisme, Jainisme, aliran Yin-Yang, Samkhya, Gnostisisme, dan Manikheisme. Agama-agama Abrahamik umumnya menaruh kecurigaan terhadap dualisme, sedangkan mazhab-mazhab bersaing di sepanjang spektrum monisme–dualisme bermunculan di India abad pertengahan. Dualisme substansi pikiran–tubuh berkembang menjadi topik sentral dalam filsafat Barat modern awal menyusul karya-karya René Descartes, sebelum akhirnya tergeser oleh monisme materialistis sepanjang abad ke-20 sebagai pendirian dominan atas masalah pikiran–tubuh.

Definisi dan istilah terkait

Dualisme mencakup sekumpulan pandangan yang menganalisis suatu domain atau fenomena melalui pengajuan pembagian mendasar ke dalam dua prinsip atau aspek. Teori-teori dualis berbeda dalam hal jenis pembagian serta prinsip yang dikemukakan. Sebagai contoh, dualisme pikiran–tubuh mengutarakan kontras mendasar antara pikiran dan tubuh sebagai substansi atau sifat terpisah demi menjelaskan susunan dasar dunia serta pengalaman manusia. Para penganut dualisme berpendapat bahwa kedua prinsip tersebut bersifat independen dan tidak dapat direduksi satu sama lain. Mereka biasanya menekankan kontras serta pemisahan, bahkan beberapa di antaranya mengarakterisasikan hubungan kedua sisi sebagai konflik antagonistis antarkekuatan berlawanan, seperti benturan antara kebaikan dan kejahatan dalam dualisme etis. Dalam arti luas, dualisme juga mencakup pandangan saat kedua sisi saling berkorelasi atau melengkapi, bukan berlawanan.[1]

Teori-teori dualis juga bervariasi dalam cakupan analisis dan domain yang hendak dijelaskan; sebagian berfokus pada realitas secara luas, sedangkan yang lain menyasar bidang-bidang spesifik. Misalnya, cakupan dualisme dalam hukum internasional terbatas pada teori hukum mengenai hubungan antara hukum internasional dan hukum domestik. Dualisme merupakan pendekatan teoretis yang digunakan secara luas di berbagai bidang, termasuk filsafat pikiran, metafisika, teologi, mitologi, sains, etika, dan teori politik. Oleh karena itu, kontras antara pandangan dualis dan nondualis memengaruhi beragam topik, sekaligus membentuk cara memahami struktur realitas, hakikat pengetahuan, nilai dari suatu entitas, dan tindakan yang benar.[2]

Dualisme berlawanan dengan monisme yang menolak pembagian mendasar apa pun. Para penganut monisme berargumen bahwa domain bersangkutan bersifat terpadu, artinya seluruh pembedaan yang tampak pada hakikatnya bersumber dari satu prinsip tunggal. Sebagai contoh, monisme materialistis menolak pemisahan pikiran–tubuh dengan mengemukakan bahwa pikiran bukanlah prinsip independen karena segala sesuatu pada dasarnya adalah materi. Karena mengemukakan dua prinsip dasar, dualisme merupakan salah satu bentuk pluralisme. Pandangan ini berlawanan dengan teori-teori pluralistis lain yang mengemukakan lebih dari dua prinsip dasar.[a] Misalnya, pluralisme metafisik dari filsuf pra-Sokrates Empedokles menganggap bahwa segala sesuatu tersusun atas empat elemen dasar: api, tanah, udara, dan air. Mengingat monisme, dualisme, serta bentuk-bentuk pluralisme lainnya menganalisis suatu domain berdasarkan satu atau lebih prinsip, teori-teori tersebut berbeda dari pandangan nihilis atau eliminativis yang menolak realitas dari fenomena yang dianalisis.[4]

Dualisme berkaitan erat dengan dualitas, dikotomi, dan oposisi biner. Meskipun istilah-istilah ini saling tumpang-tindih dan terkadang digunakan secara berselang-seling, ketiganya tidak identik dan memiliki nuansa makna berbeda. Dualitas merupakan sifat ganda atau kondisi memiliki dua bagian terpisah. Dualitas sering dikaitkan dengan bagian-bagian yang saling berkorelasi, sedangkan dualisme cenderung menekankan pertentangan antara kedua sisi.[5][b] Dikotomi adalah pemisahan atau pembagian sesuatu menjadi dua bagian yang berlawanan atau saling eksklusif. Pemisahan semacam ini dapat memiliki atau tidak memiliki signifikansi filosofis yang mendalam serta tidak harus mencerminkan realitas, seperti pada dikotomi palsu.[7] Oposisi biner merupakan hubungan antara dua frasa atau konsep dengan makna yang berlawanan. Konsep ini memegang peran sentral dalam teori-teori strukturalis dan pascastrukturalis sebagai gagasan bahwa sistem kebudayaan dan linguistik menghasilkan serta menstabilkan makna melalui pasangan-pasangan yang berlawanan.[8]

Istilah dualisme berasal dari kata bahasa Latin dualis, yang berarti 'mengandung dua'. Istilah ini masuk ke dalam bahasa Inggris sebagai kata dual pada abad ke-16. Pada akhir abad ke-18, kata benda abstrak dualism dibentuk dengan akhiran -ism untuk menunjukkan suatu teori. Penggunaan pertama yang diketahui tercatat pada tahun 1794 oleh sastrawan satir dan akademisi Thomas James Mathias.[9]

Dualisme pikiran–tubuh

Diagram sebuah lingkaran yang dibagi menjadi dua sisi dengan teks "mind" dan "body"
Dualisme pikiran–tubuh menganggap pikiran dan materi sebagai substansi atau sifat yang berbeda secara mendasar.[10]

Dualisme pikiran–tubuh merupakan pandangan bahwa pikiran dan tubuh berbeda secara mendasar. Pandangan ini menyatakan bahwa fenomena mental seperti pemikiran, emosi, kehendak, dan kesadaran, hadir sebagai entitas nonfisik di samping entitas fisik layaknya otak. Motivasi utama pembedaan ini berakar pada perbedaan karakteristik antara fenomena fisik dan mental. Objek fisik dalam kehidupan sehari-hari memiliki ukuran, bentuk, warna, berat, dan lokasi ruang. Objek tersebut bersifat objektif, dapat dipersepsikan melalui indra, serta dapat diukur menggunakan instrumen ilmiah. Sebaliknya, fenomena mental bersifat pribadi dan subjektif tanpa ukuran, warna, atau lokasi ruang yang jelas. Masalah pikiran–tubuh menjadi tantangan dalam menjelaskan hubungan keduanya, dan dualisme merupakan salah satu pendekatan untuk memecahkannya. Para penganut dualisme memperdebatkan hakikat pasti dari tubuh, pikiran, serta hubungan keduanya, yang melahirkan beragam variasi teori dualis.[10]

Variasi

Dualisme substansi menegaskan bahwa tubuh dan pikiran merupakan substansi terpisah. Dalam metafisika, substansi adalah entitas mendasar dengan keberadaan mandiri.[c] Oleh karena itu, penganut dualisme substansi umumnya menyatakan bahwa tubuh dan pikiran masing-masing dapat berdiri sendiri, setidaknya secara prinsip. Pandangan ini membuka kemungkinan bahwa pikiran atau jiwa dapat bertahan setelah kematian fisik, berpotensi dalam alam baka. Bentuk dualisme substansi berpengaruh dirumuskan oleh René Descartes melalui argumennya bahwa tubuh merupakan entitas beruang (res extensa), sedangkan pikiran merupakan entitas berpikir (res cogitans).[12]

Dualisme substansi berlawanan dengan dualisme sifat, pandangan yang menyatakan keberadaan substansi fisik semata tetapi dibekali sifat fisik sekaligus mental. Dalam metafisika, sifat merupakan fitur dari entitas penjelas karakteristik atau gambaran entitas tersebut. Oleh karena itu, pikiran dikarakterisasikan sebagai aspek dari suatu substansi alih-alih sesuatu yang mampu berdiri sendiri. Sudut pandang dualistis dari gagasan ini berlandaskan pemikiran bahwa sifat mental tidak dapat direduksi ke dalam deskripsi fisik seperti kondisi otak, menandakan penjelasan ilmiah atas dunia yang hanya berbasis atribut fisik akan bersifat tidak lengkap.[13]

Berbagai teori dualis dalam Filsafat India menyerupai dualisme pikiran–tubuh Barat tetapi memiliki perbedaan pada beberapa aspek kunci. Dalam filsafat Samkhya, pembagian mendasarnya terletak antara purusha dan prakriti. Seorang purusha merupakan diri individu yang dipahami sebagai kesadaran murni tanpa isi—seorang pengamat pasif serta tak berubah. Prakriti merupakan materialitas yang tidak hanya mencakup objek material biasa, melainkan juga isi kesadaran, termasuk kognisi dan emosi. Dualisme serupa dengan sejumlah variasi juga ditemukan dalam mazhab-mazhab Yoga, Vaisheshika, dan Nyaya.[14]

Masalah interaksi

Topik sentral dalam dualisme pikiran–tubuh adalah masalah interaksi: penjelasan mengenai kemungkinan atau cara pikiran dan tubuh saling memengaruhi secara kausal. Menurut interaksionisme, pengaruh ini berlangsung dua arah; indra memancarkan pengaruh kausal dari tubuh ke pikiran, sedangkan kehendak menerjemahkan rencana mental menjadi tindakan. Sebagai contoh, cedera tubuh dapat menimbulkan pengalaman nyeri mental, dan rasa takut secara mental mampu menyebabkan tubuh melarikan diri. Kesulitan bagi pandangan ini terletak pada prinsip kekekalan energi—asas yang menyatakan bahwa total energi dalam sistem fisik tertutup tidak dapat bertambah atau berkurang—sehingga menimbulkan ketidakjelasan mengenai mekanisme pikiran memengaruhi tubuh tanpa mengubah keseimbangan energi. Keberatan lain berlandaskan masalah penentuan berlebih (overdetermination), yakni pandangan bahwa sebab-sebab fisik telah cukup menjelaskan seluruh akibat fisik tanpa memerlukan tambahan sebab-sebab mental.[15]

Epifenomenalisme, suatu pendekatan berbeda, menganggap interaksi terjadi satu arah saja: fenomena tubuh menyebabkan fenomena mental, tetapi fenomena mental tidak membawa akibat apa pun. Oleh karena itu, pikiran dikarakterisasikan sebagai epifenomena, yaitu hasil sampingan proses otak tanpa memiliki pengaruh kausal sendiri. Satu kritik terhadap pandangan ini berfokus pada implikasi kontrainduktif bahwa kondisi mental seperti rasa takut tidak memengaruhi perilaku. Keberatan lainnya, yakni tantangan evolusioner, mempertanyakan proses perkembangan pikiran jika keberadaannya tidak relevan bagi kelangsungan hidup atau reproduksi.[16]

Paralelisme mengajukan gagasan bahwa tidak ada interaksi yang terjadi antara pikiran dan tubuh. Pandangan ini mempertahankan pemikiran bahwa rantai sebab-akibat mental dan rantai sebab-akibat fisik berjalan secara sejajar tanpa saling memengaruhi. Masalah utama pandangan ini adalah penjelasan mengenai cara atau alasan kedua ranah tersebut dapat tersinkronisasi.[17]

Argumen dan pandangan alternatif

Para filsuf memperdebatkan berbagai argumen baik yang mendukung maupun menentang dualisme pikiran–tubuh. Salah satu argumen pendukung menegaskan bahwa pengetahuan atas seluruh fakta fisik bukanlah pengetahuan utuh mengenai dunia karena mengabaikan pengetahuan sudut pandang pertama tentang kualitas pengalaman (qualia). Kesimpulannya, fakta nonfisik mutlak diperlukan untuk menjelaskan celah pengetahuan tersebut. Pendekatan lain membantah lewat pengandaian pikiran tanpa tubuh, dengan inferensi bahwa kedua konsep tidak mungkin identik karena kemampuan membayangkan salah satunya tanpa yang lain menandakan adanya pembedaan nyata. Argumen yang menentang dualisme kerap menyasar masalah interaksi serta kelemahan dari setiap solusi usulan. Keberatan lainnya berpusat pada sifat khas pikiran disbanding entitas fisik, seperti subjektivitas dan ranah pribadi.[18]

Pendekatan monis menghindari keberatan terhadap dualisme melalui penolakan gagasan pembedaan mendasar antara pikiran dan tubuh. Monisme materialistis berargumen bahwa segala sesuatu pada dasarnya bersifat fisik, menandakan pikiran sama sekali tidak ada atau hanya hadir sebagai fitur emergensial dari sistem fisik. Monisme idealis memandang pikiran sebagai satu-satunya prinsip mendasar, misalnya lewat penjelasan materi sebagai bentukan aktivitas mental. Menurut monisme netral, realitas tersusun atas satu jenis entitas yang bukan material ataupun mental. Para penganut monisme netral umumnya menerima keberadaan entitas material dan mental, tetapi memahaminya sebagai fenomena turunan berakar pada landasan netral yang sama.[19]

Dualisme keagamaan

Beberapa jenis dualisme dalam pemikiran keagamaan berusaha menjelaskan hakikat dunia serta hubungannya dengan yang ilahi. Para cendekiawan membedakan pelbagai jenis dualisme, mencakup dualisme etis, moral, kosmis, kosmologis, dan teologis. Kendati demikian, definisi jenis-jenis tersebut bervariasi antarpenulis dan kerap saling tumpang-tindih.[20]

Etis

Artikel utama: Dualisme etis
Diagram sebuah lingkaran yang dibagi menjadi dua sisi dengan teks "good" dan "evil"
Dualisme etis berpandangan bahwa kebaikan dan kejahatan merupakan kekuatan antagonistis penentu perilaku manusia dan tatanan kosmis.[21]

Dualisme etis atau moral merupakan pandangan bahwa realitas dikuasai oleh dua prinsip antagonistis: kebaikan dan kejahatan. Pandangan ini menganggap dunia berkembang melalui perseteruan kedua kekuatan tersebut demi memperebutkan pengaruh. Kedua kekuatan ini dipahami sebagai prinsip impersonal atau dipersonifikasikan sebagai dewa-dewa rival lambang pertentangan moral. Kekuatan berlawanan tersebut terkadang ditempatkan pada domain berbeda, contohnya surga dan neraka. Sejumlah agama menganggap konflik ini abadi dan tak terpecahkan, sedangkan agama lain menyisipkan dimensi eskatologis atau soteriologis penentu kemenangan akhir kebaikan atas kejahatan.[21][d]

Dualisme etis memegang peran sentral dalam Zoroastrianisme, sebuah agama Iran kuno yang membingkai keberadaan sebagai konflik antara dewa Ahura Mazda dan Angra Mainyu. Ahura Mazda merupakan roh mahabaik dan bijaksana pengatur penciptaan, sedangkan Angra Mainyu adalah lawan yang destruktif serta penuh tipu daya. Zoroastrianisme menyeru manusia untuk mendukung kebenaran dan ketertiban dalam konflik melawan kebohongan dan kekacauan, seraya memprediksikan kemenangan akhir Ahura Mazda.[23] Manikheisme, agama dualis lainnya, mengarakterisasikan konflik mendasar sebagai perseteruan antara terang dan gelap—dua prinsip abadi yang setara secara mendasar. Terang merupakan prinsip kebaikan berasosiasi dengan roh dan kebijaksanaan, sedangkan kegelapan merupakan prinsip kejahatan milik materi dan kebodohan. Pertempuran tersebut terjadi pula dalam diri tiap individu: terang dalam jiwa manusia berupaya meloloskan diri dari kegelapan saat terperangkap dalam tubuh material.[24]

Dualisme etis berlawanan dengan teori-teori monis yang memandang kebaikan sebagai prinsip landasan tunggal. Menurut pandangan ini, kejahatan bukanlah kekuatan independen, melainkan sekadar ketiadaan atau perampasan atas kebaikan. Pandangan ini ditemukan dalam pemikiran Kristen. Sebagai contoh, Agustinus dari Hippo berargumen bahwa hanya ada satu Tuhan Mahabaik dan Mahakuasa. Menurutnya, kejahatan merupakan sejenis privasi yang muncul ketika manusia berkehendak bebas mengambil keputusan buruk sehingga gagal berpartisipasi penuh dalam kebaikan.[25][e] Sejumlah tradisi pemikiran berdiri di antara monisme dan dualisme: mereka menerima prinsip landasan tunggal seraya mengemukakan kekuatan berlawanan sebagai prinsip sekunder turunan yang bersumber dari pasangannya. Sebagai contoh, beberapa sistem gnostik membedakan antara entitas tertinggi dan seorang demiurge berkedudukan sebagai pencipta inferior yang tersesat pembawa niat jahat atau kebodohan.[28]

Lain-lain

Diagram sebuah lingkaran yang dibagi menjadi dua sisi dengan teks "God" dan "world"
Beberapa dualisme teologis memandang Tuhan dan dunia sebagai entitas yang berbeda secara mendasar.[29]

Tidak semua dualisme keagamaan melibatkan prinsip atau kekuatan berkonflik secara aktif. Sejumlah pandangan mengemukakan prinsip-prinsip berkorelasi pengatur tatanan kosmis melalui penyeimbangan atau pelengkapan satu sama lain tanpa perselisihan. Dualisme sentral dalam pemikiran Tiongkok kuno berpusat pada pertentangan antara Yin-Yang. Keduanya dipahami sebagai kekuatan berkorelasi penjelas proses kemunculan, interaksi, dan keseimbangan segala hal. Yin merupakan prinsip feminin penanda bumi, kegelapan, dan pasivitas. Yang merupakan prinsip maskulin penanda langit, kecerahan, dan aktivitas. Yin-Yang dipahami sebagai aspek dual dari segala sesuatu. Sebagai kekuatan saling bergantung, tidak ada yang berkedudukan lebih tinggi dari yang lain; idealnya adalah memupuk keharmonisan dinamis di antara keduanya. Pemikiran Neo-Konfusianisme mengeksplorasi dualisme lain penjelas dua prinsip tak terpisahkan. Pemikiran ini membedakan antara li—pola umum atau tatanan rasional kosmos—dan qi—kekuatan vital pengaktualisasi pola sekaligus penggerak segala hal.[30]

Pertentangan antara Brahman dan maya merupakan dualisme yang sering dibahas dalam pemikiran India. Brahman adalah realitas tertinggi, suatu kondisi kesatuan sempurna dan keberadaan murni tanpa sifat-sifat pembagi. Maya menjelaskan dunia persepsi semu berpembawaan perubahan konstan, kemajemukan entitas, serta sensasi penyesat berupa pemisahan dari kesatuan ilahi. Dualitas ini memegang peran sentral dalam mazhab Advaita Vedanta, penegas bahwa pertentangan tersebut bukanlah dualisme ontologis sejati karena maya merupakan ilusi, menandakan realitas tertinggi pada dasarnya menyatu. Advaita Vedanta menyatakan bahwa diri terperangkap dalam maya dan mengira dunia ilusi sebagai realitas tertinggi. Mazhab ini mengajarkan cara mengatasi ketidaktahuan tersebut demi mencapai pembebasan.[31]

Salah satu bentuk dualisme teologis, yang kerap dibahas dalam agama-agama monoteis, membahas mengenai hubungan antara Tuhan dan dunia. Pandangan ini menegaskan bahwa keduanya berbeda secara radikal: Tuhan menciptakan dan mengatur dunia, tetapi tidak menjadi bagian darinya. Sebagai contoh, teisme klasik memandang Tuhan sebagai pencipta sekaligus pemelihara dunia yang transenden dan abadi, ada sebelum dan terpisah dari penciptaannya. Penganut teisme klasik umumnya menekankan perbedaan kualitatif antara atribut sempurna Tuhan—seperti Mahakuasa, Mahatahu, dan Mahabaik—dengan ketidaksempurnaan pada dunia. Dualisme Tuhan-dunia ini berlawanan dengan pandangan-pandangan monis penolak pembedaan tegas tersebut. Menurut panteisme, Tuhan dan dunia adalah identik, menandakan Tuhan sepenuhnya imanen dalam ciptaan. Panenteisme, pandangan yang berkaitan, menyatakan bahwa dunia merupakan bagian dari Tuhan, menjadikan Tuhan imanen sekaligus transenden.[29]

Dualisme Platonik

Diagram sebuah lingkaran yang dibagi menjadi dua sisi dengan teks "abstract" dan "concrete"
Dualisme Platonik membedakan antara dunia ide Bentuk-Bentuk abstrak dan ranah indrawi materi konkret.[32]

Dualisme Platonik berpandangan bahwa realitas terbagi menjadi dua ranah berbeda: dunia ide Bentuk-Bentuk dan ranah indrawi materi.[f] Bentuk-Bentuk Platonik merupakan gagasan-gagasan sempurna dan tak dapat diubah, seperti Bentuk keindahan, keadilan, dan kebaikan. Bentuk-Bentuk ini membentuk esensi dari hal-hal fisik, tetapi ada secara independen darinya. Bentuk-Bentuk Platonik berlawanan dengan materi, substansi terubahkan yang terakses melalui persepsi indrawi. Hal-hal material meniru Bentuk-Bentuk tersebut dalam pelbagai tingkatan, tetapi gagal mengejawantahkannya secara penuh, contohnya tingkat keadilan tanpa pernah mencapai keadilan sempurna. Berdasarkan ketidaksepadanan ini, Plato berargumen bahwa Bentuk-Bentuk ideal tidak dapat dipelajari dari pengalaman dan, sebagai objek pengetahuan sejati, memiliki tingkat keberadaan lebih tinggi.[32]

Pertentangan terkait dalam filsafat kontemporer terjadi antara objek konkret dan abstrak. Objek konkret ada dalam ruang-waktu serta memiliki sebab-akibat, seperti batu, sungai, dan kucing. Objek abstrak tidak memiliki lokasi ruang-waktu dan tidak terlibat dalam hubungan kausal, seperti angka 4, konsep segitiga, serta proposisi bahwa salju itu putih.[34][g]

Berbeda dengan pandangan Plato, objek abstrak biasanya tidak diperlakukan sebagai bentuk keberadaan yang lebih tinggi dalam diskursus kontemporer. Sebaliknya, tantangan lebih sering ditujukan pada realitas dan status ontologis objek abstrak, sedangkan keberadaan objek konkret diterima secara luas. Kritikus objek abstrak kerap berfokus pada sifat khas objek tersebut, mempertanyakan statusnya sebagai entitas yang tanpa daya kausal serta kesulitan menjelaskan kemungkinan pengetahuan akan entitas semacam itu. Pendukung objek abstrak, yang disebut Platonis, sering mengutip argumen ketergantikan-mutlak Quine–Putnam, penjelas bahwa objek abstrak ada karena memegang peran kunci dalam teori-teori matematika dan sains, menjadikannya tak tergantikan bagi penjelasan ilmiah yang ketat mengenai dunia.[36]

Dualisme Epistemologis

Diagram sebuah lingkaran yang dibagi menjadi dua sisi dengan teks "perceived object" dan "real object"
Dualisme epistemologis berpandangan bahwa objek yang dialami secara subjektif berbeda dari objek nyata.[37]

Dualisme epistemologis, yang juga dikenal sebagai realisme tidak langsung atau representasionalisme, mengemukakan pembagian mendasar antara pengalaman dan realitas. Pandangan ini menyatakan bahwa persepsi tidak berhubungan langsung dengan dunia, dengan menegaskan bahwa objek yang dialami secara subjektif berbeda dari objek nyata. Penganut dualisme epistemologis umumnya berpandangan bahwa objek eksternal menimbulkan gagasan atau kesan dalam pikiran, yang merepresentasikan objek-objek tersebut tetapi tidak identik dengannya. Sebagai contoh, teorikus data indra berargumen bahwa objek langsung dari persepsi bukanlah objek material, melainkan data indra—kualitas indrawi seperti warna, bentuk, dan suara. Menurut dualisme epistemologis, manusia memiliki pengetahuan langsung atas isi mental, tetapi hanya memiliki pengetahuan tidak langsung atas entitas yang menyebabkannya atau yang diwakilinya. Pandangan ini berlawanan dengan monisme epistemologis atau realisme langsung, yang menyatakan bahwa objek yang dialami identik dengan objek nyata, sehingga memungkinkan terjadinya pengetahuan langsung.[37]

Bentuk dualisme epistemologis yang berkaitan erat ditemukan dalam pemikiran Immanuel Kant, di mana ia membedakan antara fenomena dan noumena. Fenomena merupakan penampakan dari segala sesuatu, sedangkan noumena adalah segala sesuatu sebagaimana adanya dalam dirinya sendiri. Kant berargumen bahwa pikiran secara aktif mengonstruksi pengalaman tentang dunia dengan mengorganisasikannya berdasarkan prinsip-prinsip, seperti ruang, waktu, kausalitas, dan kategori pemahaman. Hal ini menentukan struktur dari seluruh pengalaman yang memungkinkan. Pandangan ini juga mengarahkannya untuk mengemukakan adanya jarak antara fenomena dan noumena, dengan menyatakan bahwa pengetahuan tentang dunia terbatas pada ranah penampakan dan tidak dapat menembus ranah noumenal.[38]

Argumen yang mendukung dualisme epistemologis mengutip kemampuannya untuk menjelaskan kemiripan antara persepsi sahih dan pengalaman tidak sahih, seperti ilusi dan halusinasi. Menurut dualisme epistemologis, pengalaman-pengalaman ini memiliki struktur dasar sama yang melibatkan pertentangan antara isi internal dan objek eksternal, dengan perbedaan terletak pada keakuratan hubungan antara isi dan objek. Keberatan utama menyatakan bahwa dualisme epistemologis mengarah pada skeptisisme, dengan klaim bahwa jarak antara pengalaman dan dunia pada akhirnya membuat pengetahuan menjadi tidak mungkin.[39]

Bentuk-bentuk lain

Hilomorfisme, yang juga disebut dualisme Aristotelian, merupakan pandangan bahwa setiap entitas fisik terdiri dari dua aspek: materi dan bentuk. Materi adalah substansi dasar pembentuk entitas dengan potensi untuk menampilkan pola dan bertahan melalui perubahan. Bentuk merupakan prinsip pengatur suatu entitas, yang tidak hanya mencakup rupa melainkan juga tataan intrinsik penentu esensi entitas tersebut. Berbeda dengan dualisme Platonik, hilomorfisme tidak mengandaikan bahwa materi atau bentuk dapat berdiri sendiri di ranah yang berbeda. Sebaliknya, hilomorfisme memandangnya sebagai prinsip-prinsip berkorelasi dan tak terpisahkan penjelas kesatuan struktural serta fungsional entitas konkret.[40] Dualisme-dualisme lain dalam metafisika terdapat antara ada dan penampakan, ada dan menjadi, ada dan ketiadaan, partikular dan universal, serta materi dan kehidupan.[41]

Dalam etika dan teori nilai, dualisme fakta–nilai, yang juga disebut pembedaan fakta–nilai dan dikotomi fakta–nilai, mengemukakan pembagian mendasar antara pernyataan deskriptif dan evaluatif. Pernyataan deskriptif melaporkan fakta tentang dunia, sedangkan pernyataan evaluatif mengungkapkan pertimbangan nilai mengenai baik dan buruk atau benar dan salah. Dualisme ini berkaitan erat dengan masalah adalah–seharusnya atau hukum Hume, yang menyatakan bahwa seseorang tidak dapat mendeduksi pernyataan evaluatif mengenai apa yang seharusnya ada dari pernyataan deskriptif mengenai apa yang ada.[42] Dualisme nalar praktis juga termasuk dalam bidang etika. Pandangan ini—utamanya dikaitkan dengan Henry Sidgwick—berpendapat bahwa rasionalitas praktis diatur oleh dua prinsip yang saling bersaing dan tak terperdamaikan: egoisme dan utilitarianisme. Egoisme berpandangan bahwa tindakan rasional didorong oleh kepentingan diri serta bertujuan melakukan apa yang baik bagi pelakunya. Utilitarianisme berpandangan bahwa orang harus memajukan kesejahteraan semua orang. Dualisme nalar praktis menegaskan bahwa tidak ada prinsip lebih tinggi yang memperdamaikan kedua pendekatan ini, menandakan bahwa konflik antara kepentingan diri dan kesejahteraan universal secara prinsipil tidak dapat diselesaikan secara rasional.[43]

Dualisme alam–kebudayaan, yang juga disebut pemisahan alam–kebudayaan, merupakan kecenderungan untuk memandang alam dan kebudayaan sebagai dua ranah terpisah dan saling berlawanan. Pandangan ini memahami alam sebagai kondisi asli lingkungan eksternal yang bebas dari pengaruh manusia. Kebudayaan dipahami sebagai ranah praktik dan lembaga manusia, termasuk teknologi dan makna ciptaan manusia. Dualisme alam–kebudayaan memegang peran sentral dalam gagasan bahwa manusia bersifat eksepsional, baik dalam arti positif maupun negatif. Secara positif, dualisme ini dapat digunakan untuk membenarkan dominasi manusia atas alam melalui penegakan tatanan rasional; secara negatif, dualisme ini dapat menggambarkan manusia sebagai pengaruh buruk yang merusak dunia alami serta mendegradasi ekosistemnya. Dualisme alam–kebudayaan berlawanan dengan pandangan-pandangan monis yang melihat kesinambungan antara alam dan kebudayaan, alih-alih pemisahan yang tegas.[44] Dualisme terkait yang berfokus pada pemisahan antara alam dan manusia membedakan dua jenis penjelasan mendasar: berdasarkan sebab dan berdasarkan alasan. Pandangan ini menegaskan bahwa penjelasan atas peristiwa alam dilakukan dengan mengidentifikasi sebab dan akibat, sedangkan penjelasan atas tindakan manusia bergantung pada alasan yang memotivasi seseorang untuk bertindak tanpa mereduksi perilakunya menjadi mekanisme kausal.[45]

Dualisme jiwa merupakan pandangan bahwa seseorang memiliki dua jiwa. Pandangan ini ditemukan dalam beberapa sistem kepercayaan pribumi dan dapat mengambil pelbagai bentuk. Salah satu klasifikasi antropologis menjelaskan pembedaan pribumi antara jiwa menetap atau jiwa tubuh, yang terikat pada tubuh sebagai prinsip vital penggeraknya, dan jiwa kembara atau jiwa bebas, yang dapat terpisah dari tubuh dalam mimpi atau kondisi trance.[46]

Dalam teori hukum, dualisme merupakan pandangan mengenai hubungan antara hukum domestik dan hukum internasional. Hukum domestik beroperasi di dalam suatu negara sebagai himpunan aturan pengatur perilaku individu dan lembaga, termasuk konstitusi serta kitab undang-undang hukum pidana dan perdata suatu negara. Hukum internasional mencakup konvensi dan perjanjian antara negara-negara serta aktor internasional lainnya, seperti Piagam PBB dan Konvensi Jenewa. Dualisme berpandangan bahwa ranah-ranah hukum ini berbeda secara mendasar dan berfungsi secara independen sebagai sistem hukum terpisah. Pandangan ini berlawanan dengan monisme, yang menekankan kesatuan kedua ranah tersebut dengan berargumen bahwa pada akhirnya hanya ada satu sistem hukum universal tunggal mencakup keduanya. Perbedaan antara monisme dan dualisme sangat relevan untuk kasus-kasus ketika hukum domestik dan hukum internasional saling bertentangan, yang menimbulkan pertanyaan tentang apakah salah satu sistem harus diutamakan daripada yang lain.[47]

Dalam fisika kuantum, dualisme gelombang-partikel atau dualitas gelombang-partikel merupakan gagasan bahwa entitas kuantum menunjukkan perilaku menyerupai gelombang sekaligus menyerupai partikel. Sebagai contoh, cahaya berperilaku serupa gelombang dengan menunjukkan pola interferensi dan difraksi, tetapi juga membawa kuanta energi diskret, yang dikenal sebagai foton, serta berinteraksi dengan materi (misalnya pada detektor foton) seolah-olah berupa partikel.[48]

Kritik

Beberapa kritik terhadap dualisme telah dikemukakan. Sebagian besar menargetkan jenis-jenis tertentu, seperti keberatan terhadap dualisme pikiran-tubuh. Namun, beberapa argumen berusaha melemahkan dualisme secara keseluruhan dengan menantang pola-pola umum dalam sebagian besar atau seluruh bentuknya. Argumen-argumen tersebut umumnya menyatakan bahwa pembagian ketat suatu ranah menjadi dua kategori yang berlawanan adalah keliru karena mengabaikan kontinuitas atau menyederhanakan secara berlebihan kompleksitas realitas. Pemikiran dualis dapat lebih lanjut menimbulkan masalah semu, seperti kesulitan menjelaskan bagaimana dua ranah, yang dianggap secara mendasar berbeda, dapat berinteraksi. Hal ini juga dapat menimbulkan bias evaluatif yang mengutamakan satu pihak di atas pihak lainnya. Hierarki yang mungkin timbul dari pemikiran dualis menjadi perhatian khusus bagi filsuf-filsuf pascamodern. Misalnya, Jacques Derrida memandang kecenderungan untuk berpikir dalam oposisi biner sebagai ciri khas pemikiran Barat dan mengusulkan metode dekonstruksi untuk melemahkan oposisi yang ketat.[49]

Keberatan-keberatan lainnya lebih berfokus pada istilah dualisme daripada teori-teori dualisme. Mereka mempertanyakan kegunaan akademis istilah tersebut, dengan alasan bahwa istilah itu terlalu samar dan ambigu untuk dijadikan kategori analitis yang tepat. Para kritikus menyoroti kurangnya konsensus mengenai makna pasti istilah tersebut serta kesulitan dalam membedakannya dari istilah-istilah terkait, seperti dualitas.[50]

Sejarah

Lukisan seorang pria berjanggut yang duduk dalam posisi lotus
Kapila, salah satu tokoh pendiri Sankhya[51]
Simbol yin dan yang. Bentuknya melingkar yang terbagi menjadi dua separuh berpusar. Satu separuh berwarna hitam dengan titik putih di dalamnya. Separuh lainnya berwarna putih dengan titik hitam di dalamnya.
Simbol taijitu, dengan area hitam mewakili yin dan area putih mewakili yang[52]

Dualisme berawal dari pemikiran kuno. Zoroastrianisme, salah satu bentuk awal dualisme etis, muncul di Persia pada milenium ke-2 atau ke-1 SM. Agama ini memandang dunia sebagai pertentangan antara kebaikan dan kejahatan, yang dipersonifikasikan sebagai konflik antara dewa Ahura Mazda dan Angra Mainyu.[53][h] Di Yunani kuno, Pythagoras (ca 570–490 SM) dan para pengikutnya memercayai konsepsi dualistis mengenai transmigrasi jiwa[55] serta mendukung dualisme kosmologis, yang menyatakan bahwa hal-hal berlawanan merupakan fitur nyata dari dunia.[56] Plato (ca 427–347 SM) memperkenalkan pembagian realitas yang tegas menjadi Bentuk-Bentuk di dunia ide—yang memiliki keberadaan abadi, dan materi indrawi—merupakan substansi terubahkan. Ia berargumen bahwa Bentuk-Bentuk tersebut merupakan objek pengetahuan sejati, sedangkan entitas material meniru Bentuk-Bentuk itu tanpa merefleksikan kesempurnaannya secara penuh.[32] Muridnya, Aristoteles (384–322 SM), menentang pandangan bahwa bentuk memiliki keberadaan independen. Sebagai gantinya, ia mengajukan hilomorfisme, yang memperlakukan materi dan bentuk sebagai aspek-aspek berkorelasi dan tak terpisahkan dari entitas konkret.[40] Pada abad ke-1 dan ke-2 M, Gnostisisme berkembang pesat sebagai rumpun pandangan keagamaan dan filosofis Helenistik. Banyak alirannya menganjurkan pandangan dualis, berfokus pada pertentangan antara materi jahat dan roh baik, serta berargumen bahwa jiwa setiap orang ditakdirkan untuk membebaskan diri dari penjara material tubuh.[57] Manikheisme merupakan agama Persia yang berkaitan erat yang berasal dari abad ke-3 M, yang terkadang dianggap sebagai salah satu bentuk Gnostisisme. Agama ini melihat konflik mendasar antara prinsip cahaya dan kegelapan, yang bersesuaian dengan perjuangan roh dan kearifan melawan materi dan ketidaktahuan.[24]

Di India kuno, Jainisme muncul sekitar abad ke-6 SM sebagai tradisi keagamaan yang mengajarkan dualisme dasar antara materi dan jiwa. Tradisi ini berargumen bahwa jiwa terlahir kembali karena mengumpulkan materi karmis dan dapat mencapai pembebasan dari materi dan kelahiran kembali dengan menjalankan gaya hidup yang tepat.[58] Dualisme terkait ditemukan dalam Sankhya, salah satu mazhab utama filsafat Hindu. Mazhab ini mengidentifikasi dan mempertentangkan dua prinsip mendasar: purusha—kesadaran murni dan pengamat pasif—dan prakriti—alam material asal yang aktivitasnya memicu kemunculan seluruh fenomena kasatmata.[59]

Di Tiongkok kuno, mazhab pemikiran Yin-Yang aktif pada milenium ke-1 SM. Mazhab ini memandang Yin-Yang sebagai dua prinsip pelengkap penggerak dualitas saling bergantung dari segala hal: "yin" mewakili sifat feminin, pasivitas, dan kegelapan, sedangkan "yang" mewakili sifat maskulin, aktivitas, dan kecerahan. Pertentangan mendasar lainnya diajukan oleh filsuf neo-Taois Wang Bi (226–249 M), yang memperkenalkan pembagian dasar antara ada dan ketiadaan. Ia berpandangan bahwa ketiadaan berfungsi sebagai sumber dan landasan seluruh fenomena serta melampaui pertentangan antara yin dan yang.[60]

Pada akhir era klasik dan pascaklasik, agama-agama Abrahamik umumnya menaruh kecurigaan terhadap dualisme. Pemikiran Kristiani memuat sejumlah elemen dualis, seperti pertentangan antara Tuhan dan Iblis serta keyakinan bahwa jiwa berbeda dari tubuh dan dapat bertahan setelah kematian jasmani. Namun, aliran-aliran pemikiran ini sering kali diimbangi oleh kecenderungan monis, seperti keyakinan pada satu Tuhan tunggal sebagai sumber utama dunia. Penyimpangan signifikan dari pandangan monis ini dicap sebagai ajaran sesat, termasuk Paulisianisme, Bogomilisme, dan Katarisme.[61] Agustinus dari Hippo (354–430 M) menolak dualisme etis Manikheisme, dengan berargumen bahwa kejahatan bukanlah kekuatan substantif, melainkan ketiadaan kebaikan.[62] Terpengaruh oleh Aristoteles, Thomas Aquinas (1224–1274 M) menerima hilomorfisme dan menyesuaikannya dengan Kekristenan. Ia menganggap semua entitas konkret sebagai komposit materi, yang memuat potensi, dan bentuk, yang bersesuaian dengan aktualitas.[63] Serupa dengan tradisi Kristiani, pemikiran Islam, dengan penekanannya pada monoteisme, cenderung menghindari kecenderungan dualistis.[64]

Pelbagai perkembangan di India abad pertengahan berpusat pada pertentangan antara monisme dan dualisme, yang mendorong kemunculan mazhab-mazhab pemikiran yang khas. Pada abad ke-8, Shankara mendirikan Advaita Vedanta, monisme ketat yang berpandangan bahwa realitas tertinggi pada dasarnya terunggal, sementara keanekaragaman entitas terpisah yang dialami merupakan suatu ilusi. Pada abad ke-11 atau ke-12, Ramanuja mengajukan Vishishtadvaita, sebuah nondualisme bersyarat yang menerima kesatuan kosmis Brahman, tetapi juga mengakui pembedaan nonilusif di dalam kesatuan tersebut. Mazhab dualis Dvaita Vedanta muncul pada abad ke-13 melalui karya-karya Madhva, yang berargumen pada perbedaan mendasar antara realitas independen Tuhan dan realitas dependen entitas-entitas lain, termasuk jiwa dan materi.[65] Sementara itu, di Tiongkok, pemikir neo-Konfusian Zhu Xi (1130–1200) mengajukan pembagian dasar antara li dan qi, yang bersesuaian dengan pertentangan antara tatanan rasional dan abstrak alam semesta serta daya hidup penggerak yang mengaktualisasikan pola ini.[66]

Lukisan seorang pria berjanggut dengan rambut panjang yang mengenakan pakaian formal gelap
René Descartes mengajukan dualisme substansi, dengan memandang pikiran dan tubuh sebagai dua substansi terpisah yang saling berinteraksi.[67]

Pada era modern awal, René Descartes (1596–1650) mengembangkan dualisme pikiran-tubuh yang berpengaruh. Ia berpandangan bahwa tubuh dan pikiran pada dasarnya merupakan substansi berbeda: tubuh memiliki ekstensi dalam ruang, sedangkan pikiran adalah entitas berpikir tanpa ekstensi. Descartes menganggap manusia sebagai persatuan antara pikiran dan tubuh, dengan berargumen bahwa kedua substansi tersebut berinteraksi tetapi dapat ada secara mandiri.[67] Baruch Spinoza (1632–1677) mengkritik dualisme substansi ini, serta mengajukan monisme ketat yang memperlakukan pikiran dan tubuh sebagai dua atribut dari satu substansi tunggal. Pemikiran Spinoza juga menentang dualisme teologis antara Tuhan dan dunia: ia mengargumenkan panteisme, pandangan bahwa hanya ada satu substansi tunggal, yang ia sebut sebagai Tuhan atau Alam.[68] Tanggapan lain terhadap dualisme Descartes datang dari Gottfried Wilhelm Leibniz (1646–1716), yang menolak interaksionisme dan mengusulkan bahwa pikiran dan tubuh berada dalam harmoni prastabil tanpa interaksi kausal.[69] David Hume (1711–1776) menarik pembedaan tegas antara apa yang ada dan apa yang seharusnya, dengan berargumen bahwa pernyataan deskriptif dan evaluatif berbeda secara mendasar.[70] Immanuel Kant (1724–1804) menekankan pembagian epistemologis menjadi penampakan dan benda dalam dirinya sendiri, dengan mempertahankan bahwa pengetahuan terbatas pada ranah penampakan tetapi tidak dapat mengakses benda dalam dirinya sendiri.[38] Thomas Henry Huxley (1825–1895) berupaya memecahkan masalah interaksi dualisme pikiran-tubuh dengan memformulasikan epifenomenalisme—teori bahwa peristiwa fisik menyebabkan peristiwa mental, tetapi peristiwa mental tidak memengaruhi peristiwa fisik.[71] Wilhelm Dilthey (1833–1911) mengajukan pendekatan dualis terhadap pemahaman, yang menyatakan bahwa penjelasan kausal dalam ilmu-ilmu alam berbeda secara mendasar dari pemahaman interpretatif dalam ilmu-ilmu kemanusiaan.[72]

Sepanjang abad ke-20, dualisme substansi sebagian besar digantikan oleh materialisme, sebagian karena masalah interaksi dan kemajuan ilmiah dalam studi empiris tentang pikiran. Para filsuf membahas pelbagai pendekatan monis terhadap masalah pikiran-tubuh, seperti behaviorisme, fungsionalisme, teori identitas tipe, materialisme eliminatif, dan monisme netral. Dualisme sifat muncul sebagai alternatif dualis, yang mengisyaratkan bahwa pikiran dan tubuh bukanlah substansi terpisah, melainkan jenis sifat yang berbeda dari substansi yang sama.[73] Para filsuf pascamodern menantang pemikiran dualis dalam bentuk pertentangan ketat, dengan mengeksplorasi bagaimana pemikiran tersebut dapat mengandalkan asumsi-asumsi tersembunyi serta menimbulkan bias evaluatif.[72]

Referensi

Catatan

  1. ↑ Dalam Filsafat India, istilah nondualisme terkadang digunakan sebagai sinonim dari monisme.[3]
  2. ↑ Dalam fisika, dualitas merupakan kesetaraan antara dua teori.[6]
  3. ↑ Definisi pasti dari substansi masih diperdebatkan. Karakterisasi alternatif berfokus pada keberlangsungan melintasi waktu alih-alih keberadaan mandiri.[11]
  4. ↑ Istilah dualisme kosmis dan dualisme kosmologis sering digunakan dalam makna serupa, tetapi definisi pastinya bervariasi antarpenulis. Menurut satu usulan, dualisme kosmis berfokus terutama pada pembedaan antara kedua sisi, sedangkan dualisme kosmologis memanfaatkan pembedaan ini demi menjelaskan proses penciptaan dunia.[22]
  5. ↑ Diskusi lain mengenai masalah keberadaan kejahatan ditemukan dalam Dictionnaire Historique et Critique karya Pierre Bayle, yang membandingkan perspektif monoteis dengan dualis.[26] Bayle mengutip secara ekstensif diskusi awal Thomas Hyde mengenai dualisme dalam agama-agama Persia kuno, yang membantu mempopulerkan istilah tersebut.[27]
  6. ↑ Istilah dualisme Platonik juga digunakan dalam konteks dualisme pikiran-tubuh untuk pandangan bahwa jiwa manusia bersifat nonmaterial.[33]
  7. ↑ Pelbagai perdebatan akademis berfokus pada definisi tepat objek abstrak serta pertanyaan mengenai entitas mana saja yang masuk ke dalam definisi tersebut.[35]
  8. ↑ Para ahli memperdebatkan status mitos Osiris dan Set dari Mesir kuno sebagai sejenis dualisme, yang mempertentangkan kehidupan dan kesuburan dengan kekacauan dan kemandulan.[54]

Sitasi

  1. ↑
  2. ↑
  3. ↑
  4. ↑
  5. ↑
  6. ↑ de Haro & Butterfield 2025, hlm. 1–2
  7. ↑
  8. ↑
  9. ↑
  10. 1 2
  11. ↑ Robinson & Weir 2025, § 3.1 Substance Dualism
  12. ↑
  13. ↑
  14. ↑
  15. ↑
  16. ↑
  17. ↑
  18. ↑
  19. ↑
  20. ↑
  21. 1 2
  22. ↑
  23. ↑
  24. 1 2
  25. ↑
  26. ↑
  27. ↑ Fontaine 2023a, hlm. xxii–xxiii
  28. ↑
  29. 1 2
  30. ↑
    • Bianchi 2025, § China
    • Wang, Lead section, § 1. Origins of the Terms Yin and Yang
  31. ↑
  32. 1 2 3
  33. ↑
  34. ↑
  35. ↑ Oliver 2005, hlm. 3
  36. ↑
    • Oliver 2005, hlm. 3
    • Balaguer 2025, Lead section, § 1. What is Platonism?, § 4.1.3 Fictionalism/Error Theory and the Rejection of Premise [1]
  37. 1 2
  38. 1 2
  39. ↑
  40. 1 2
  41. ↑
  42. ↑
  43. ↑
  44. ↑
  45. ↑
  46. ↑
  47. ↑
  48. ↑
  49. ↑
  50. ↑
  51. ↑ Ruzsa, § 1. History
  52. ↑ Bell 2009, hlm. 5
  53. ↑
  54. ↑
  55. ↑ Vlastos 1995, hlm. 19
  56. ↑
  57. ↑
  58. ↑
  59. ↑
  60. ↑
  61. ↑
  62. ↑ King 2019, hlm. 155–157
  63. ↑ Pasnau 2024, § 4. Form and Matter
  64. ↑ Bianchi & Stoyanov 2005, hlm. 2514
  65. ↑
  66. ↑ Bianchi 2025, § China
  67. 1 2
  68. ↑
  69. ↑ Robinson & Weir 2025, § 3.5 Parallelism
  70. ↑
  71. ↑ Robinson 2023, Lead section
  72. 1 2 Machamer & di Poppa 2005, hlm. 605–606
  73. ↑

Sumber

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan