Senin, 28 September 2026
16:32 WIB
TERKINI
Berita Dilema Ganjil Genap Jakarta: Evaluasi Setelah 1 Dekade, Relaksasi Jadi Perdebatan Berita Evakuasi Buaya Peliharaan di Bandar Lampung Penuh Haru, Pemilik Sempat Pingsan Berita Polemik Buku 'Memburu Muhammad': Penulis dan Tokoh Islam Jelaskan Niat Baik Regional Flyover Ciroyom Bandung Rampung, Solusi Baru Atasi Kemacetan Kota Regional Informasi Persiapan Vihara Jelang Imlek Belum Tersedia Regional Wujudkan Rumah Impian: Pendaftaran KPR Kini dalam Genggaman dengan BTN Mobile Prelude Mengungkap Akal-akalan Aturan Pemilu Melalui Lensa Pareto Hukum Sorotan Tajam: Hunian Mewah di Area Asimilasi Lapas Cibinong Jadi Perdebatan Kolom Mahkamah Konstitusi Kubur Ambang Batas Pilpres, Desakan Tak Menghidupkan Kembali Bola Lampard Gemilang dengan Coventry: Dari Championship ke Liga Primer, Dipuji Rekan Berita Dilema Ganjil Genap Jakarta: Evaluasi Setelah 1 Dekade, Relaksasi Jadi Perdebatan Berita Evakuasi Buaya Peliharaan di Bandar Lampung Penuh Haru, Pemilik Sempat Pingsan Berita Polemik Buku 'Memburu Muhammad': Penulis dan Tokoh Islam Jelaskan Niat Baik Regional Flyover Ciroyom Bandung Rampung, Solusi Baru Atasi Kemacetan Kota Regional Informasi Persiapan Vihara Jelang Imlek Belum Tersedia Regional Wujudkan Rumah Impian: Pendaftaran KPR Kini dalam Genggaman dengan BTN Mobile Prelude Mengungkap Akal-akalan Aturan Pemilu Melalui Lensa Pareto Hukum Sorotan Tajam: Hunian Mewah di Area Asimilasi Lapas Cibinong Jadi Perdebatan Kolom Mahkamah Konstitusi Kubur Ambang Batas Pilpres, Desakan Tak Menghidupkan Kembali Bola Lampard Gemilang dengan Coventry: Dari Championship ke Liga Primer, Dipuji Rekan
Keindahan

Keindahan

Karakteristik hewan, ide, objek, orang, atau tempat yang memberikan pengalaman persepsi kesenangan atau kepuasan

330px-Rozeta_Pary%C5%BC_notre-dame_chalger.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Sebuah jendela mawar bergaya Rayonnant di Notre-Dame de Paris. Dalam arsitektur Gotik, cahaya dianggap sebagai "sumber dan hakikat sejati dari segala yang indah".[1]

Keindahan umumnya digambarkan sebagai ciri pada benda yang membuatnya menyenangkan untuk dipandang. Benda-benda ini dapat berupa lanskap, matahari terbenam, manusia, maupun karya seni. Keindahan, seni, dan selera merupakan fokus utama dari estetika, salah satu cabang kajian dalam filsafat. Sebagai nilai estetika positif, keindahan biasanya berkebalikan dengan keburukan sebagai lawan negatifnya.

Salah satu kesulitan dalam memahami keindahan adalah bahwa konsep ini memiliki aspek objektif sekaligus subjektif: ia dianggap sebagai sifat yang melekat pada benda, namun juga bergantung pada respons emosional pengamat. Karena sisi subjektifnya, keindahan sering dikatakan "terletak di mata yang memandang".[2] Telah dikemukakan bahwa kemampuan subjek untuk merasakan dan menilai keindahan, yang kadang disebut sebagai "indra selera", dapat dilatih, dan bahwa penilaian para ahli cenderung sejalan dalam jangka panjang. Hal ini menunjukkan bahwa standar validitas penilaian keindahan bersifat intersubjektif, yaitu bergantung pada sekelompok penilai, bukan sepenuhnya subjektif maupun objektif.

Konsepsi keindahan berupaya menangkap apa yang esensial dari segala sesuatu yang indah. Konsepsi klasik mendefinisikan keindahan berdasarkan hubungan antara keseluruhan benda yang indah dengan bagian-bagiannya: bagian-bagian tersebut harus berada dalam proporsi yang tepat satu sama lain sehingga membentuk kesatuan harmonis yang terpadu. Konsepsi hedonis melihat adanya hubungan yang diperlukan antara kesenangan dan keindahan, misalnya bahwa sebuah benda menjadi indah karena menimbulkan kesenangan tanpa pamrih. Konsep lainnya mencakup mendefinisikan benda yang indah berdasarkan nilainya, sikap penuh kasih terhadapnya, atau fungsinya.

Ikhtisar

Keindahan, bersama dengan seni dan rasa, merupakan pokok utama dari estetika, salah satu cabang besar dalam filsafat.[3][4] Keindahan umumnya dikategorikan sebagai sifat estetis di samping sifat-sifat lain, seperti keanggunan, kelembutan, atau sublim.[5][6][7] Sebagai nilai estetis yang positif, keindahan sering dikontraskan dengan keburukan sebagai lawan negatifnya. Keindahan juga sering dianggap sebagai salah satu dari tiga konsep fundamental dalam pemahaman manusia, selain kebenaran dan kebajikan.[5][8][6]

Bagi para objektivis atau realis, keindahan dianggap sebagai sifat obyektif atau independen dari pikiran pada benda-benda yang indah, yang dibantah oleh subyektivis.[3][9] Sumber perdebatan ini muncul karena penilaian terhadap keindahan tampak berdasarkan dasar subjektif, yaitu perasaan kita sendiri, tetapi diklaim memiliki kebenaran yang universal.[10] Ketegangan ini kadang disebut sebagai "antinomi selera".[4] Para pendukung kedua pandangan ini menyarankan adanya kemampuan tertentu, yang umum disebut rasa estetika, sebagai syarat untuk membuat penilaian keindahan yang dapat diandalkan.[3][10] David Hume, misalnya, mengusulkan bahwa kemampuan ini dapat dilatih, dan bahwa pendapat para ahli cenderung berkesesuaian dalam jangka panjang.[3][9]

Keindahan terutama dibahas dalam kaitannya dengan benda-benda konkret yang dapat diakses melalui persepsi inderawi. Beberapa teori menyatakan bahwa keindahan suatu benda bergantung pada sifat-sifat inderawi dari benda itu.[10] Selain itu, telah diajukan bahwa benda abstrak seperti cerita atau bukti matematis juga dapat memiliki keindahan.[11] Keindahan memainkan peran sentral dalam karya seni dan alam.[12][10]

Sebuah perbedaan berpengaruh di antara benda-benda indah, menurut Immanuel Kant, adalah antara keindahan terikat (pulchritudo adhaerens)[note 1] dan keindahan bebas (pulchritudo vaga). Suatu benda memiliki keindahan terikat jika keindahannya bergantung pada konsep atau fungsi benda tersebut, berbeda dengan keindahan bebas atau mutlak.[10] Contoh keindahan terikat termasuk seekor sapi yang indah sebagai sapi, tetapi tidak indah sebagai kuda[3] atau sebuah foto yang indah karena menampilkan bangunan yang indah, tetapi secara umum tidak memiliki keindahan karena kualitasnya rendah.[9]

Catatan

  1. ↑ Dalam Zangwill diterjemahkan sebagai keindahan terikat

Referensi

  1. ↑ Stegers, Rudolf (2008). Sacred Buildings: A Design Manual Diarsipkan December 12, 2024, di Wayback Machine.. Berlin: De Gruyter. p. 60. ISBN3764382767.
  2. ↑ Gary Martin (2007). "Beauty is in the eye of the beholder". The Phrase Finder. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal November 30, 2007. Diakses tanggal Desember 4, 2007.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  3. 1 2 3 4 5 Sartwell, Crispin (2017). "Beauty". The Stanford Encyclopedia of Philosophy. Metaphysics Research Lab, Stanford University. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal Februari 26, 2022. Diakses tanggal Februari 10, 2021.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  4. 1 2 "Aesthetics". Encyclopedia Britannica (dalam bahasa Inggris). Diarsipkan dari versi aslinya tanggal Februari 28, 2022. Diakses tanggal 9 Februari 2021.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  5. 1 2 "Beauty and Ugliness". Encyclopedia.com. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal Desember 24, 2021. Diakses tanggal 9 Februari 2021.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  6. 1 2 "Beauty in Aesthetics". Encyclopedia.com. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal Januari 13, 2022. Diakses tanggal 9 Februari 2021.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  7. ↑ Levinson, Jerrold (2003). "Philosophical Aesthetics: An Overview". The Oxford Handbook of Aesthetics. Oxford University Press. hlm. 3–24. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal Februari 10, 2021. Diakses tanggal Februari 10, 2021.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  8. ↑ Kriegel, Uriah (2019). "The Value of Consciousness". Analysis. 79 (3): 503–520. doi:10.1093/analys/anz045. ISSN 0003-2638. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal Januari 11, 2022. Diakses tanggal Februari 10, 2021.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  9. 1 2 3 De Clercq, Rafael (2013). "Beauty". The Routledge Companion to Aesthetics. Routledge. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal Januari 13, 2022. Diakses tanggal Februari 10, 2021.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  10. 1 2 3 4 5 Zangwill, Nick (2003). "Beauty". Dalam Levinson, Jerrold (ed.). Oxford Handbook to Aesthetics. Oxford University Press. doi:10.1093/oxfordhb/9780199279456.003.0018. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal Januari 11, 2022. Diakses tanggal Februari 16, 2021.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  11. ↑ De Clercq, Rafael (2019). "Aesthetic Pleasure Explained". Journal of Aesthetics and Art Criticism. 77 (2): 121–132. doi:10.1111/jaac.12636.
  12. ↑ Gorodeisky, Keren (2019). "On Liking Aesthetic Value". Philosophy and Phenomenological Research. 102 (2): 261–280. doi:10.1111/phpr.12641. S2CID 204522523.

Pranala luar

Wikimedia Commons logo
Wikimedia Commons memiliki media mengenai Beauty.
Wikiquote memiliki koleksi kutipan yang berkaitan dengan:
Wiktionary logo
Lihat entri beauty atau pretty di kamus bebas Wikikamus.


Ikon rintisan

Artikel bertopik filsafat ini adalah sebuah rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia dengan mengembangkannya.

Ikon rintisan

Artikel bertopik seni ini adalah sebuah rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia dengan mengembangkannya.

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan