
Dalam estetika, sublim (daribahasa Latin sublīmis, artinya "terangkat, luhur, mulia, dll.; terangkat tinggi") adalah kualitas keagungan, baik secara fisik, moral, intelektual, metafisik, estetis, spiritual, maupun artistik. Istilah ini secara khusus merujuk pada keagungan yang melampaui segala kemungkinan kalkulasi, pengukuran, atau imitasi. Sejak pertama kali diterapkan dalam bidang retorika dan drama di Yunani Kuno, konsep ini menjadi hal penting tidak hanya dalam estetika filosofis, tetapi juga dalam teori sastra dan sejarah seni.[1]
Filsafat kuno
Kajian pertama yang diketahui mengenai hal yang sublim ditulis oleh Longinus dalam Peri Hupsous/Hypsous atau Mengenai Yang Sublim. Karya ini diperkirakan ditulis pada abad ke-1 Masehi, meskipun asal-usul dan kepenulisannya masih belum pasti. Bagi Longinus, sublim adalah kata sifat yang menggambarkan pemikiran atau bahasa yang agung, luhur, atau tinggi, khususnya dalam konteks retorika. Dengan demikian, hal yang sublim membangkitkan rasa takjub dan penghormatan, serta memiliki daya bujuk yang lebih kuat. Risalah Longinus ini juga terkenal karena tidak hanya merujuk pada penulis-penulis Yunani seperti Homerus, tetapi juga pada sumber-sumber Alkitab seperti Kitab Kejadian.
Risalah ini ditemukan kembali pada abad ke-16, dan dampaknya selanjutnya terhadap estetika biasanya dikaitkan dengan penerjemahannya ke dalam bahasa Prancis oleh ahli bahasa Nicolas Boileau-Despréaux pada tahun 1674. Belakangan, risalah tersebut diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh John Pultney pada tahun 1680, Leonard Welsted pada tahun 1712, dan William Smith pada tahun 1739, yang terjemahannya mencapai edisi kelima pada tahun 1800.
Filsafat modern
Konsep mengenai hal yang sublim muncul di Eropa seiring dengan lahirnya kritik sastra pada akhir abad ke-17.[2] Konsep ini dikaitkan dengan karya-karya penulis Prancis seperti Pierre Corneille, Jean-Baptiste Racine, Jean-Baptiste l'Abbé Dubos, dan Nicolas Boileau-Despréaux.[2]
Filsafat Britania
Di Britania, perkembangan konsep yang sublim sebagai kualitas estetis dalam alam yang berbeda dari keindahan menjadi menonjol pada abad ke-18 melalui tulisan-tulisan Anthony Ashley-Cooper, Earl Shaftesbury ke-3 dan John Dennis. Para penulis ini mengungkapkan apresiasi terhadap bentuk-bentuk alam luar yang menakutkan dan tidak teratur, serta sintesis konsep yang sublim oleh Joseph Addison dalam The Spectator, dan kemudian Pleasures of the Imagination. Ketiga pria Inggris tersebut, dalam rentang waktu beberapa tahun, telah melakukan perjalanan melintasi Pegunungan Alpen dan memberikan komentar dalam tulisan mereka tentang kengerian sekaligus keharmonisan dari pengalaman tersebut, yang mengekspresikan kontras kualitas estetis.[3]
Dennis adalah orang pertama yang menerbitkan komentarnya dalam surat jurnal yang diterbitkan sebagai Miscellanies pada tahun 1693, yang memberikan catatan tentang perjalanannya melintasi Alpen. Berbeda dari perasaannya sebelumnya terhadap keindahan alam sebagai "kenikmatan yang konsisten dengan akal sehat", pengalaman perjalanan tersebut menjadi kenikmatan bagi mata sebagaimana musik bagi telinga, tetapi "bercampur dengan Kengerian, dan terkadang hampir dengan keputusasaan".[4] Shaftesbury telah melakukan perjalanan tersebut dua tahun sebelum Dennis, tetapi baru menerbitkan komentarnya pada tahun 1709 dalam Moralists. Komentarnya tentang pengalaman tersebut juga mencerminkan kenikmatan sekaligus keengganan, merujuk pada "gunung yang tandus" yang memperlihatkan dirinya kepada dunia sebagai "reruntuhan yang megah" (Bagian III, Sek. 1, 390–91). Namun, konsepnya tentang yang sublim dalam hubungannya dengan keindahan lebih merupakan masalah tingkatan, bukan pertentangan tajam sebagaimana yang dikembangkan Dennis menjadi bentuk baru kritik sastra. Tulisan-tulisan Shaftesbury lebih mencerminkan kekaguman terhadap keabadian ruang ("Ruang yang menakjubkan" yang merujuk pada Alpen), di mana yang sublim bukanlah kualitas estetis yang berlawanan dengan keindahan, melainkan kualitas yang memiliki kepentingan lebih megah dan lebih tinggi daripada keindahan. Ketika merujuk pada Bumi sebagai "Mansion-Globe" (Bumi-Istana) dan "Man-Container" (Wadah-Manusia), Shaftesbury menulis, "Betapa sempitnya ia jika dibandingkan dengan Sistem Mataharinya sendiri yang luas... meskipun dihidupkan dengan Roh Surgawi yang sublim...." (Bagian III, sek. 1, 373).[5]
Joseph Addison melakukan Grand Tour pada tahun 1699 dan memberikan komentar dalam Remarks on Several Parts of Italy etc. bahwa "Pegunungan Alpen memenuhi pikiran dengan sejenis kengerian yang menyenangkan".[6] Signifikansi konsep Addison tentang yang sublim adalah bahwa tiga kenikmatan imajinasi yang ia identifikasi, yaitu keagungan, keanehan, dan keindahan, "berasal dari objek yang terlihat"; artinya, dari penglihatan, bukan dari retorika. Perlu dicatat pula bahwa dalam tulisannya mengenai "Sublim dalam Alam luar", ia tidak menggunakan istilah "sublim", melainkan istilah-istilah yang bersinonim parsial seperti "tanpa batas", "tak terbatas", "lapang", "keagungan", dan terkadang istilah yang menunjukkan kelimpahan.[4]
Deskripsi Britania tentang yang sublim berbeda dari konseptualisasi Kantian, yang menekankan pemisahan dalam penilaian estetis.[7] Tradisi Britania dikenal karena penolakannya terhadap gagasan bahwa penilaian estetis dan perilaku etis tidak saling terhubung. Salah satu pandangannya menyatakan bahwa ranah afektif dari yang sublim tidak terpisah dari standar yang mengatur perilaku manusia dan tidak melampaui perilaku etis.
Gagasan Addison tentang keagungan merupakan bagian integral dari konsep kesubliman. Suatu karya seni bisa saja indah, tetapi belum tentu memiliki keagungan. Karya Addison, Pleasures of the Imagination, serta karya Mark Akenside Pleasures of the Imagination tahun 1744 dan puisi Edward Young Night Thoughts tahun 1745 secara umum dianggap sebagai titik awal bagi analisis Edmund Burke tentang kesubliman.
Edmund Burke
Edmund Burke mengembangkan konsepnya tentang kesubliman dalam A Philosophical Enquiry into the Origin of Our Ideas of the Sublime and Beautiful yang terbit pada tahun 1756.[4] Burke merupakan filsuf pertama yang berpendapat bahwa kesubliman dan keindahan bersifat saling meniadakan, meskipun keduanya sama-sama dapat memberikan kenikmatan. Kesubliman dapat membangkitkan kengerian, tetapi kesadaran bahwa persepsi tersebut merupakan fiksi memberikan rasa nikmat.[8] Dikotomi yang diungkapkan Burke tidak sesederhana pertentangan Dennis, karena Burke mengemukakan bahwa yang sublim dan yang indah berlawanan secara antitetis, sama halnya seperti terang dan gelap. Cahaya dapat memperjelas keindahan, tetapi baik cahaya yang sangat terang maupun kegelapan dapat bersifat sublim sejauh keduanya mampu melenyapkan penglihatan terhadap objek yang bersangkutan. Hal yang "tidak pasti dan membingungkan" mendorong imajinasi menuju kekaguman dan tingkat kengerian tertentu.[9]
Konsep kesubliman Burke merupakan kontras antitetis terhadap pandangan klasik mengenai kualitas estetis keindahan sebagai pengalaman yang menyenangkan sebagaimana dijelaskan oleh Plato dalam beberapa dialognya, seperti Philebus, Ion, Hippias Major, dan Symposium. Burke mengemukakan bahwa keburukan merupakan suatu kualitas estetis karena kemampuannya menanamkan emosi yang mendalam, yang pada akhirnya memberikan kenikmatan.[10] Bagi Aristoteles, fungsi bentuk-bentuk artistik adalah untuk menanamkan kenikmatan, dan ia merupakan orang pertama yang merenungkan masalah bahwa objek seni yang menggambarkan keburukan dapat menghasilkan "rasa sakit". Analisis terperinci Aristoteles mengenai masalah ini melibatkan studinya tentang karya sastra tragedi serta sifat paradoksnya yang mengejutkan sekaligus memiliki nilai puitis.[11] Gagasan klasik tentang keburukan sebelum Edmund Burke, yang paling terkenal dijelaskan dalam karya-karya Santo Augustinus dari Hippo, mengartikannya sebagai ketiadaan bentuk dan oleh karena itu dianggap sebagai suatu tingkat ketiadaan keberadaan. Bagi Santo Augustinus, keindahan adalah hasil dari kebaikan dan keluhuran Allah dalam ciptaan-Nya, dan sebagai suatu kategori, keindahan tidak memiliki lawan. Karena keburukan tidak memiliki nilai atributif, keburukan menjadi tidak berbentuk akibat ketiadaan keindahan.[12]
Risalah Burke juga terkenal karena berfokus pada efek fisiologis dari kesubliman, khususnya kualitas emosional ganda berupa ketakutan dan daya tarik yang juga dicatat oleh penulis-penulis lain. Burke menggambarkan sensasi yang dikaitkan dengan kesubliman sebagai rasa sakit negatif, yang ia sebut sebagai "kenikmatan" (delight) dan berbeda dari kesenangan positif. "Kenikmatan" ini diperkirakan muncul dari hilangnya rasa sakit akibat berhadapan dengan objek yang sublim, dan dianggap lebih intens daripada kesenangan positif. Meskipun penjelasan Burke mengenai efek fisiologis kesubliman, misalnya ketegangan akibat mata yang lelah, tidak dipertimbangkan secara serius oleh penulis-penulis selanjutnya, metode empirisnya dalam melaporkan pengalaman psikologisnya sendiri menjadi lebih berpengaruh, terutama jika dibandingkan dengan analisis Immanuel Kant. Burke juga dibedakan dari Kant melalui penekanannya pada kesadaran subjek akan keterbatasan fisiknya, bukannya pada sensasi keunggulan moral atau spiritual.[13]
John Ruskin
Kritikus seni dan peneliti John Ruskin menanggapi pemikiran filosofis Edmund Burke mengenai yang sublim dalam karya multivolumenya, Modern Painters, yang diterbitkan antara tahun 1843 dan 1860. Ketika Burke mendefinisikan yang sublim sebagai reaksi emosional berupa rasa takjub, khususnya ketika seseorang mengalami keagungan alam, Ruskin membalikkan argumen Burke dengan mengemukakan bahwa objektivitas sejati membutuhkan persepsi spiritual yang mampu mengenali tatanan moral dan hukum-hukum ilahi yang mendasari dunia alamiah. Dengan demikian, ia mengangkat konsep yang sublim menjadi kategori moral dan spiritual. Dalam seni lukis, ia menyatakan bahwa menangkap kebenaran objektif dalam alam melampaui sekadar upaya harfiah atau mimetik.[14]
Ia menjadikan pelukis pemandangan J. M. W. Turner sebagai contoh ideal. Kepada para kritikus yang menganggap lukisan-lukisan Turner tidak bernilai seni karena kurang terdefinisi dengan jelas atau menggunakan warna secara berlebihan, Ruskin menanggapi bahwa karya Turner merupakan upaya yang "mulia" untuk menangkap hukum-hukum spiritual alam yang lebih dalam. Ia mempertentangkan seni Turner dengan gaya pitoresk yang populer, yang ia anggap memiliki "kemuliaan yang lebih rendah."[14][15]
Pada akhirnya, ia menghasilkan pergeseran epistemologis dalam gagasan tentang yang sublim dengan menyajikan pengalaman atas alam sebagai perjumpaan dengan "kebenaran", yang baginya bukan berarti persepsi ilmiah tentang alam, melainkan persepsi tentang tatanan ilahi yang menghidupkan alam semesta. Ruskin secara terkenal merangkum hal ini dengan menulis: "Hal terbesar yang pernah dilakukan jiwa manusia di dunia ini adalah melihat sesuatu, dan menceritakan apa yang dilihatnya dengan cara yang sederhana. Melihat dengan jelas adalah puisi, nubuat, dan agama, semuanya menjadi satu." Dengan demikian, tindakan melihat diangkat dari sekadar proses fisiologis sebagaimana disajikan oleh Burke, dan diubah menjadi perjumpaan metafisik yang lebih dalam.[16]
Di luar diskusi mengenai apa makna sejati dari yang sublim, terdapat pandangan yang telah mapan sejak zaman kuno, yang juga diterima begitu saja oleh Burke, bahwa puisi merupakan media utama yang dengannya yang sublim dapat, atau bahkan harus, ditangkap dan disampaikan. Ruskin berargumen bahwa lukisan-lukisan Turner membuktikan bahwa Burke keliru ketika menegaskan bahwa seni lukis tidak dapat menandingi kesubliman puisi.
Sebagaimana dijelaskan oleh Wilson,
[Pencarian Turner akan] kosakata visual tentang yang sublim [dapat dipahami] sebagai peniruan atas media puitis, dan sebagai upaya untuk membuktikan bahwa media bergambar dapat bersifat sublim dengan sendirinya. [...] Ambisi ini meresapi sebagian besar karya Turner, membimbingnya untuk memberikan salah satu tanggapan bergambar paling memadai terhadap tantangan yang diajukan oleh Enquiry karya Burke. [...] Proses bergambar [Turner merupakan] upaya untuk mengatasi keterbatasan mimetik dari representasi visual dan mengartikulasikan penyajian dari hal yang tak terlukiskan.[17]
Penekanan pada penangkapan sensasi empiris dalam seni lukis ini memberikan landasan teoretis bagi para pelukis Impresionis Prancis, yang menyebut teknik-teknik Turner sebagai pengaruh utama.[18]
Filsafat Jerman
Immanuel Kant

Dalam karya pertamanya (tahun 1764), Immanuel Kant berusaha mencatat pemikirannya tentang keadaan mental subjek pengamat dalam Observations on the Feeling of the Beautiful and Sublime. Ia berpendapat bahwa yang sublim terbagi menjadi tiga jenis: yang mulia, yang megah, dan yang menakutkan.
Dalam karyanya yang lebih kemudian, Kritik atas Daya Pertimbangan (1790),[19] Kant menyatakan bahwa terdapat dua bentuk dari yang sublim, yaitu matematis dan dinamis, meskipun beberapa komentator berpendapat terdapat bentuk ketiga, yaitu sublim moral, yang merupakan peninggalan dari yang sublim "mulia" sebelumnya.[20] Kant mengklaim, "Kita menyebut sublim sebagai sesuatu yang agung secara mutlak"(§ 25). Ia membedakan "perbedaan yang mencolok" antara Yang Indah dan Yang Sublim, dengan mencatat bahwa keindahan "terhubung dengan bentuk objek", yang memiliki "batas-batas", sedangkan yang sublim "dapat ditemukan pada objek yang tak berbentuk", yang diwakili oleh "ketiadaan batas" (§ 23).
Kant membagi yang sublim menjadi matematis dan dinamis; dalam sublim matematis, "pemahaman estetis" bukanlah kesadaran akan unit yang sekadar lebih besar, melainkan gagasan tentang keagungan mutlak yang tidak terikat oleh ide pembatasan apa pun (§ 27). Sublim secara dinamis adalah "alam yang dipertimbangkan dalam penilaian estetis sebagai kekuasaan yang tidak memiliki dominasi atas kita", dan suatu objek dapat menimbulkan ketakutan "tanpa [kita] merasa takut terhadapnya" (§ 28).
Ia menganggap baik yang indah maupun yang sublim sebagai konsep "tak pasti", tetapi jika keindahan berkaitan dengan "Pemahaman" (Understanding), yang sublim merupakan konsep milik "Akal Budi" (Reason), dan "menunjukkan kemampuan pikiran yang melampaui setiap standar Indrawi" (§ 25). Bagi Kant, ketidakmampuan seseorang untuk memahami besarnya suatu peristiwa yang sublim (seperti gempa bumi) menunjukkan ketidakcukupan indra dan imajinasi seseorang. Pada saat yang sama, kemampuan seseorang untuk mengidentifikasi peristiwa tersebut sebagai sesuatu yang tunggal dan utuh menunjukkan keunggulan kekuatan kognitif dan supersensibel yang dimilikinya. Pada akhirnya, "substrat supersensibel" yang mendasari alam dan pikiran inilah tempat beradanya kesubliman sejati.[21]
Arthur Schopenhauer
Untuk memperjelas konsep perasaan tentang yang sublim, Arthur Schopenhauer mencantumkan contoh-contoh transisinya dari yang indah hingga yang paling sublim. Hal ini dapat ditemukan dalam jilid pertama karyanya, Dunia sebagai Kehendak dan Representasi, § 39.
Baginya, perasaan indah muncul saat melihat suatu objek yang mengundang pengamat untuk melampaui individualitas, dan sekadar mengamati ide yang mendasari objek tersebut. Namun, perasaan tentang yang sublim terjadi ketika objek tersebut tidak mengundang kontemplasi semacam itu, melainkan merupakan objek yang sangat besar, berbahaya, atau luar biasa dahsyat yang dapat menghancurkan pengamat.
- Perasaan Indah: Cahaya yang dipantulkan dari sebatang bunga. (Kenikmatan dari sekadar persepsi atas objek yang tidak dapat menyakiti pengamat).
- Perasaan Sublim Paling Lemah: Cahaya yang dipantulkan dari batu-batuan. (Kenikmatan dari memandang objek yang tidak menimbulkan ancaman, yaitu objek yang tidak bernyawa).
- Perasaan Sublim yang Lebih Lemah: Padang pasir tak bertepi tanpa pergerakan. (Kenikmatan dari melihat objek yang tidak dapat menopang kehidupan pengamat).
- Sublim: Alam yang bergejolak. (Kenikmatan dari mempersepsikan objek yang mengancam untuk menyakiti atau menghancurkan pengamat).
- Perasaan Sublim Penuh: Alam bergejolak yang sangat dahsyat. (Kenikmatan dari memandang objek yang sangat ganas dan destruktif).
- Perasaan Sublim Paling Penuh: Kemegahan ukuran atau durasi alam semesta. (Kenikmatan dari kesadaran akan ketiadaan pengamat dan kemunggalannya dengan Alam).
Georg Wilhelm Friedrich Hegel
Georg Wilhelm Friedrich Hegel menganggap yang sublim sebagai penanda perbedaan budaya dan ciri khas seni Timur. Pandangan teleologisnya tentang sejarah membuat dirinya menganggap budaya "Timur" kurang berkembang, lebih otokratis dalam hal struktur politik, dan lebih takut pada hukum ilahi. Menurut pemikirannya, hal ini berarti bahwa para seniman Timur lebih condong ke arah estetika dan yang sublim: mereka hanya dapat terhubung dengan Tuhan melalui sarana yang "tersublasi". Ia percaya bahwa kelimpahan detail rumit yang menjadi ciri khas Seni Tionghoa, atau pola metrik memukau yang menjadi ciri khas Seni Islam, merupakan contoh khas dari yang sublim. Ia berargumen bahwa ketiadaan bentuk fisik dan wujud dari bentuk-bentuk seni ini mengilhami pengamat dengan rasa takjub estetis yang luar biasa.[22]
Rudolf Otto
Rudolf Otto membandingkan yang sublim dengan konsep baru yang ia cetuskan, yaitu numinous. Numinous mencakup rasa takut, Tremendum, tetapi juga pesona yang aneh, Fascinans.
Filsafat kontemporer
Abad ke-20
Pada awal abad ke-20, filsuf dan teoritikus estetika Jerman berhaluan Neo-Kantian, Max Dessoir, mendirikan Zeitschrift für Ästhetik und allgemeine Kunstwissenschaft, yang ia sunting selama bertahun-tahun, serta menerbitkan karya Ästhetik und allgemeine Kunstwissenschaft tempat ia merumuskan lima bentuk estetika utama: yang indah, yang sublim, yang tragis, yang buruk, dan yang komikal.[26]
Pengalaman tentang yang sublim melibatkan kelupaan akan diri sendiri ketika ketakutan pribadi digantikan oleh rasa sejahtera dan aman saat berhadapan dengan objek yang menunjukkan kekuasaan luar biasa, dan hal ini mirip dengan pengalaman tentang yang tragis. "Kesadaran tragis" adalah kemampuan untuk memperoleh keadaan kesadaran yang terangkat dari pemahaman akan penderitaan yang tak terelakkan bagi semua manusia dan fakta bahwa terdapat pertentangan dalam hidup yang tidak pernah dapat diselesaikan, terutama pertentangan antara "kemurahan hati pencinta dari dewa" yang tunduk pada "takdir yang tak terelakkan".[27]
Thomas Weiskel menguji kembali estetika Kant dan konsepsi Romantis tentang yang sublim melalui kacamata teori semiotika dan psikoanalisis.[28] Ia berargumen bahwa "sublim matematis" Kant dapat dilihat dalam istilah semiotika sebagai hadirnya kelimpahan penanda, yang mana keabadian yang monoton mengancam untuk melarutkan semua pertentangan dan perbedaan. Di sisi lain, "sublim dinamis" merupakan kelimpahan petanda, yaitu makna yang selalu terdeterminasikan secara berlebihan.
Menurut Jean-François Lyotard, yang sublim sebagai sebuah tema dalam estetika merupakan langkah awal berdirinya periode Modernis.[29] Lyotard berargumen bahwa kaum modernis berusaha menggantikan yang indah dengan pembebasan pengamat dari keterbatasan kondisi manusia. Bagi dirinya, signifikansi dari yang sublim terletak pada caranya menunjuk pada suatu aporia (keraguan yang tak terselesaikan) dalam akal budi manusia; hal tersebut mengekspresikan batas kemampuan konseptual kita serta mengungkapkan kemajemukan dan ketidakstabilan dari dunia pascamodern.
Abad ke-21
Menurut Mario Costa, konsep mengenai yang sublim pertama-tama harus diperiksa dalam kaitannya dengan kebaruan zaman dari teknologi digital dan produksi seni teknologis: seni media baru, seni generatif berbasis komputer, jaringan, dan seni telekomunikasi.[30] Bagi dirinya, teknologi baru ini menciptakan kondisi bagi jenis baru dari yang sublim, yaitu "sublim teknologis". Kategori-kategori tradisional estetika (keindahan, makna, ekspresi, perasaan) digantikan oleh gagasan tentang yang sublim, yang setelah bersifat "alamiah" pada abad ke-18 dan "metropolitan-industri" pada era modern, kini telah menjadi bersifat teknologis.
Sejak awal dekade 1990-an, terdapat pula kebangkitan minat terhadap yang sublim dalam filsafat analitik, dengan munculnya beberapa artikel di The Journal of Aesthetics and Art Criticism dan The British Journal of Aesthetics, serta monograf oleh penulis-penulis seperti Malcolm Budd, James Kirwan, dan Kirk Pillow. Sebagaimana dalam tradisi pascamodern atau teori kritis, studi filsafat analitik sering kali dimulai dengan pembahasan tentang Kant atau filsuf lain dari abad ke-18 atau awal abad ke-19. Hal yang patut dicatat adalah sebuah teori umum tentang yang sublim dalam tradisi Longinus, Burke, dan Kant, yang di dalamnya Tsang Lap Chuen menyajikan gagasan tentang situasi-batas dalam kehidupan sebagai hal sentral bagi pengalaman manusia.[31]
Jadranka Skorin-Kapov dalam The Intertwining of Aesthetics and Ethics: Exceeding of Expectations, Ecstasy, Sublimity[32] berargumen bahwa kesubliman merupakan akar bersama bagi estetika dan etika, "Asal-usul kejutan adalah ketiadaan atau jeda (pemutusan, keretakan) antara kepekaan seseorang dan kemampuan representasinya... Pemulihan yang mengikuti jeda antara kepekaan seseorang dan kemampuan representasinya mengarah pada kesubliman serta perasaan kagum dan/atau tanggung jawab yang menyertainya, yang memungkinkan perpaduan antara estetika dan etika... Peran estetika dan etika, yaitu peran penilaian artistik dan moral, sangat relevan bagi masyarakat kontemporer dan praktik bisnis, terutama mengingat kemajuan teknologi yang telah menghasilkan ledakan budaya visual serta perpaduan antara rasa takjub dan kekhawatiran saat kita mempertimbangkan masa depan kemanusiaan."
Lihat pula
Referensi
- ↑ Doran, Robert (2017). The Theory of the Sublime from Longinus to Kant (dalam bahasa Inggris). Cambridge, UK: Cambridge University Press. hlm. 1. ISBN 978-1-107-10153-1.
- 1 2 Costelloe, Timothy M. (2013). The British Aesthetic Tradition: From Shaftesbury to Wittgenstein. New York: Cambridge University Press. hlm. 4. ISBN 978-0-521-51830-7.
- ↑ Nicolson, Marjorie Hope. Mountain Gloom and Mountain Glory. Ithaca, 1959
- 1 2 3 Nicolson, Marjorie Hope. "Sublime in External Nature". Dictionary of the History of Ideas. New York, 1974.
- ↑ Cooper, Anthony Ashley, Third Earl of Shaftesbury. The Moralists: A Philosophical Rhapsody. 1709.
- ↑ Joseph Addison, Remarks on Several Parts of Italy etc. in the years 1701, 1702, 1703. 1773 edition, printed for T. Walker. Chapter on ‘Geneva and the Lake’: 261 Located on Google books, accessed 11.12.07
- ↑ Ashfield, Andrew; de Bolla, Peter (1998). The Sublime: A Reader in British Eighteenth-Century Aesthetic Theory. New York: Cambridge University Press. hlm. 3. ISBN 0-521-39545-3.
- ↑ Monroe C. Beardsley, "History of Aesthetics", Encyclopedia of Philosophy, Volume 1, p. 27 (Macmillan, 1973). Namun Edmund Burke tidak setuju: "Nor is it, either in real or fictitious distresses, our immunity from them which produces our delight ... it is absolutely necessary that my life should be out of any imminent hazard, before I can take a delight in the sufferings of others, real or imaginary ... it is a sophism to argue from thence, that this immunity is the cause of my delight". (A Philosophical Inquiry into the Origin of Our Ideas of the Sublime and Beautiful, Part 1, Section 15)
- ↑ Edmund Burke, A Philosophical Enquiry into the Origin of Our Ideas of the Sublime and Beautiful, Part 1, Section 7: "Whatever is fitted in any sort to excite the ideas of pain, and danger, that is to say, whatever is in any sort terrible, or is conversant about terrible objects, or operates in a manner analogous to terror, is a source of the sublime; that is, it is productive of the strongest emotion which the mind is capable of feeling...." Dalam Part 2, Section 2, Burke menulis bahwa "terror is in all cases whatsoever, either more openly or latently, the ruling principle of the sublime."
- ↑ Jerome Stolnitz, "Ugliness", Encyclopedia of Philosophy (McMillan, 1973).
- ↑ Monroe C. Beardsley, "History of Aesthetics", Encyclopedia of Philosophy, Volume 1, p. 20 (Macmillan, 1973).
- ↑ Jerome Stolnitz, "Ugliness", Encyclopedia of Philosophy (McMillan, 1973). Juga, Monroe C. Beardsley, "History of Aesthetics", Encyclopedia of Philosophy, Volume 1, p. 22 (Macmillan, 1973).
- ↑ Vanessa L. Ryan, "The Physiological Sublime: Burke’s Critique of Reason", Journal of the History of Ideas, Volume 62, Number 1 (April 2001).
- 1 2 Landow, George P. (1971). "Chapter 3: Ruskin's Theories of the Sublime and Picturesque". The Aesthetic and Critical Theories of John Ruskin. Princeton: Princeton University Press. citing Ruskin, John, 'Modern Painters'.
- ↑ Ruskin mengkritik lukisan-lukisan 'pitoresk' yang menggambarkan gubuk hancur atau atap runtuh dari keluarga miskin sebagai lukisan yang mati secara moral, karena lukisan-lukisan tersebut memperlakukan kemiskinan dan penderitaan manusia sebagai 'sekadar hiburan', dalam rujukan langsung kepada pelukis seperti John Constable.
- ↑ Helsinger, Elizabeth K. (1982). Ruskin and the Art of the Beholder. Cambridge: Harvard University Press. ISBN 978-0674780828.
- ↑ Wilton, Andrew (1980). "Ch. 9". Turner and the Sublime. London: British Museum Publications. ISBN 978-0930606237.
- ↑ House, John (2005). Turner Whistler Monet. Tate Publishing. hlm. 20–25. ISBN 978-1854375698.
- ↑ Kant, Immanuel. Critique of Judgment. Trans. J.H. Bernard. Macmillan, 1951.
- ↑ Clewis, Robert. 2009. The Kantian Sublime and the Revelation of Freedom. Cambridge: Cambridge University Press. http://www.cambridge.org/us/knowledge/isbn/item2326741/?site_locale=en_US
- ↑ Kant, Immanuel. Critique of Judgment. Trans. J.H. Bernard. Macmillan, 1951. Translator's introduction and notes to the Critique of Judgment
- ↑ Hegel, G.W.F. Aesthetics: Lectures on Fine Art. Translated by T.M. Know. Oxford: Clarendon, 1975.
- ↑ Bolognini, Maurizio (April 2004). "The SMSMS Project: Collective Intelligence Machines in the Digital City". Leonardo. 37 (2): 147–149. doi:10.1162/0024094041139247. S2CID 57569240.
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Maurizio Bolognini, "De l'interaction à la démocratie. Vers un art génératif post-digital" / "From interactivity to democracy. Towards a post-digital generative art", Artmedia X Proceedings. Paris 2010.
- ↑ Dekade-dekade terakhir abad ke-19 menyaksikan kebangkitan Kunstwissenschaft, atau "ilmu seni", yaitu sebuah gerakan untuk mengenali hukum-hukum apresiasi estetis dan mencapai pendekatan ilmiah terhadap pengalaman estetis: Stolnitz, Jerome. "Beauty". In Encyclopedia of Philosophy. Vol. 1, p. 266. Macmillan (1973).
- ↑ Emery, Stephen A.. "Dessoir, Max". In Encyclopedia of Philosophy. Vol. 2, p. 355. Macmillan (1973).
- ↑ Emery, Stephen A.. "Dessoir, Max". In Encyclopedia of Philosophy. Vol. 2, p. 356. Macmillan (1973).
- ↑ Weiskel, Thomas. The Romantic Sublime (Baltimore: Johns Hopkins University Press, 1976)
- ↑ Lyotard, Jean-François. Lessons on the Analytic of the Sublime. Trans. Elizabeth Rottenberg. Stanford University Press, 1994. Lyotard menyampaikan elemen-elemen sublimnya sendiri, tetapi merekomendasikan Critique of Judgment karya Kant, §23–§29 sebagai syarat bacaan pendahuluan untuk memahami analisisnya.
- ↑ Mario Costa (1994) [1990], Le sublime technologique (dalam bahasa Prancis), Lausanne: IDERIVE, ISBN 88-88091-85-8. Mario Costa (2006), Dimenticare l'arte (dalam bahasa Italia), Milan: Franco Angeli, ISBN 978-88-464-6364-7.
- ↑ Tsang, Lap Chuen. The Sublime: Groundwork towards a Theory. University of Rochester Press, 1998.
- ↑ Skorin-Kapov, Jadranka (2016). The Intertwining of Aesthetics and Ethics: Exceeding of Expectations, Ecstasy, Sublimity. Lanham, MD: Lexington Books. ISBN 978-1-4985-2456-8.
Bacaan lanjutan
- Addison, Joseph. The Spectator. Ed. Donald E. Bond. Oxford, 1965.
- Beidler. P. G. "The Postmodern Sublime: Kant and Tony Smith's Anecdote of the Cube". The Journal of Aesthetics and Art Criticism, Vol. 53, No. 2 (Spring 1995): 177–186.
- Brady, E. "Imagination and the Aesthetic Appreciation of Nature". The Journal of Aesthetics and Art Criticism, Vol. 56, No. 2 (Spring 1998): 139–147.
- Brett, R.L. The Third Earl of Shaftesbury. London, 1951. ASIN: B0007IYKBU
- Budd, M. The Aesthetic Appreciation of Nature. Oxford, Oxford University Press, 2003.
- Burke, Edmund. A Philosophical Enquiry into the Origin of Our Ideas of the Sublime and Beautiful. London, 1958. ISBN 0-935005-28-5
- Clewis, Robert, ed. The Sublime Reader. London: Bloomsbury Academic, 2019.
- Clewis, Robert, ed. The Kantian Sublime and the Revelation of Freedom. Cambridge: Cambridge University Press, 2009.
- Collingwood, R.G. The Idea of Nature. Oxford, 1945. ISBN 0-313-25166-5
- Cooper, Anthony Ashley, Third Earl of Shaftesbury. The Moralists: A Philosophical Rhapsody, in Characteristicks, Vol. II. Ed. John M. Robertson. London, 1900.
- Crowther, P. How Pictures Complete Us; The Beautiful, the Sublime and the Divine. Stanford University Press, 2016. ISBN 978-0-80479846-4
- de Bolla, P. The Discourse of the Sublime. Basil Blackwell, 1989.
- Dennis, John. Miscellanies in Verse and Prose, in Critical Works, Vol. II. Ed. Edward Niles Hooker. Baltimore, 1939–1943. ASIN: B0007E9YR4
- Doran, Robert. "Literary History and the Sublime in Erich Auerbach's Mimesis". New Literary History 38.2 (2007): 353–369.
- Doran, Robert. The Theory of the Sublime from Longinus to Kant. Cambridge: Cambridge University Press, 2015. OCLC 959033482
- Dessoir, Max. Aesthetics and theory of art. Ästhetik und allgemeine Kunstwissenschaft. Translated by Stephen A. Emery. With a foreword by Thomas Munro. Detroit, Wayne State University Press, 1970. ISBN 0-8143-1383-3
- Duffy, C. Shelley and the revolutionary sublime. Cambridge, 2005.
- Ferguson, F. Solitude and the Sublime: romanticism and the aesthetics of individuation. Routledge, 1992.
- Fisher, P. Wonder, the rainbow and the aesthetics of rare experiences. Harvard University Press, 1999.
- Fudge, R. S. "Imagination and the Science-Based Aesthetic Appreciation of Unscenic Nature". The Journal of Aesthetics and Art Criticism, Vol. 59, No. 3 (Summer 2001): 275–285.
- Gilbert-Rolfe, Jeremy. "Beauty and the Contemporary Sublime," Allworth Press, 1999.
- Hipple, Walter John, Jr. The Beautiful, the Sublime, and the Picturesque in Eighteenth-Century British Aesthetic Theory. Carbondale, IL, 1957.
- Kant, Immanuel. Critique of Judgment. Trans. J.H. Bernard. Macmillan, 1951.
- Kant, Immanuel. Observations on the Feeling of the Beautiful and Sublime. Translated by John T. Goldthwaite. University of California Press, 2003. ISBN 0-520-24078-2
- Kaplama, Erman. Cosmological Aesthetics through the Kantian Sublime and Nietzschean Dionysian. Lanham: UPA, Rowman & Littlefield, 2014.
- Kirwan, J. (2005). Sublimity: The Non-Rational and the Irrational in the History of Aesthetics. Routledge, 2005.
- Landow, George P. The Aesthetic and Critical Theories of John Ruskin. Princeton: Princeton University Press, 1971.
- Lyotard, Jean-François. Lessons on the Analytic of the Sublime. Trans. Elizabeth Rottenberg. Stanford University Press, 1994.
- Monk, Samuel H. The Sublime: A Study of Critical Theories in XVIII-Century England. Ann Arbor: University of Michigan Press, 1935/1960.
- Nicolson, Marjorie Hope. Mountain Gloom and Mountain Glory. Ithaca, 1959. ISBN 0-295-97577-6
- Navon, Mois. "Sublime Tekhelet". The Writings of Mois Navon
- Nicolson, Marjorie Hope. "Sublime in External Nature". Dictionary of the History of Ideas. New York, 1974.
- Noel, J. "Space, Time and the Sublime in Hume's Treatise". British Journal of Aesthetics, Vol. 34, No. 3, July 1994: 218–225.
- Pillow, K. Sublime Understanding: Aesthetic Reflection in Kant and Hegel. MIT Press, 2000.
- Ryan, V. (2001). "The physiological sublime: Burke's critique of reason". Journal of the history of ideas, vol. 62, no. 2 (2001): 265–279.
- Ruskin, John. Modern Painters. Vol. I, 1843; Vol. IV, 1856.
- George Santayana. The Sense of Beauty. Being the Outlines of Aesthetic Theory. New York, Modern Library, 1955. Pp. 230–240.
- Saville, A. "Imagination and Aesthetic Value". British Journal of Aesthetics, Vol. 46, No. 3, July 2006: 248–258.
- Shaw, P. The Sublime. Routledge, 2006.
- Shusterman, R. "Somaesthetics and Burke's Sublime". British Journal of Aesthetics, Vol. 45, No. 4, October 2005: 323–341.
- Sircello, Guy, "How is a Theory of the Sublime Possible?" The Journal of Aesthetics and Art Criticism, Vol. 51, No. 4 (Autumn 1993): 541–550.
- Schopenhauer, Arthur. The World as Will and Representation. Volume I. New York: Dover Press. ISBN 0-486-21761-2
- Slocombe, Will. Nihilism and the Sublime Postmodern: The (Hi)Story of a Difficult Relationship. New York: Routledge, 2006.
- Stolnitz, Jerome. "On the Significance of Lord Shaftesbury in Modern Aesthetic Theory". Philosophical Quarterly, 43(2):97–113, 1961.
- Tsang, Lap Chuen. The Sublime : Groundwork towards a Theory. University of Rochester Press, 1998.
- Wilton, Andrew. Turner and the Sublime. London: British Museum Publications, 1980.
- Zuckert, R. "Awe or Envy? Herder contra Kant on the Sublime". The Journal of Aesthetics and Art Criticism, Vol. 61, No. 3 (Summer 2003): 217–232.
Pranala luar
- Friedrich Schiller, On the Sublime
- The Sublime, BBC Radio 4 discussion with Janet Todd, Annie Janowitz & Peter de Bolla (In Our Time, Feb. 12, 2004)
| Internasional | |
|---|---|
| Nasional | |
| Lain-lain | |