Rabu, 14 Oktober 2026
14:09 WIB
TERKINI
Bandar Lampung BMKG: 471 Titik Panas Terdeteksi di Lampung, 22 Di antaranya Berisiko Tinggi Bandar Lampung Polda Lampung Dalami Kasus Penggelapan Mobil Libatkan Anggota Dewan, Rugi Rp1,1 M Bandar Lampung Lampung Perketat Pengawasan Solar Subsidi: Satpol PP Cek STNK Kendaraan Besar di SPBU Ekonomi Dan Bisnis Harga Emas Antam Merosot Rp20 Ribu, Cek Rincian Lengkap per Gram Hari Ini Lampung Prakiraan Cuaca Lampung 14 Oktober 2026: Cerah Berawan dengan Potensi Hujan di Tanggamus Cuaca Lampung Dihantui 289 Titik Panas, Tulang Bawang Terbanyak Bandar Lampung Bandar Lampung Siaga Banjir Rob: BPBD Fokus Pantau Empat Kecamatan Pesisir Bandar Lampung Lampung Perketat Pengawasan Solar Subsidi: STNK Truk Roda Enam Diperiksa Bandar Lampung TNI AL Gagalkan Ribuan Paket Kokain Cair, Selamatkan Ribuan Jiwa dan Anggaran Negara Cuaca Gunung Anak Krakatau Berstatus Siaga, Asap Kawah dan Sinar Api Terpantau Jelas Bandar Lampung BMKG: 471 Titik Panas Terdeteksi di Lampung, 22 Di antaranya Berisiko Tinggi Bandar Lampung Polda Lampung Dalami Kasus Penggelapan Mobil Libatkan Anggota Dewan, Rugi Rp1,1 M Bandar Lampung Lampung Perketat Pengawasan Solar Subsidi: Satpol PP Cek STNK Kendaraan Besar di SPBU Ekonomi Dan Bisnis Harga Emas Antam Merosot Rp20 Ribu, Cek Rincian Lengkap per Gram Hari Ini Lampung Prakiraan Cuaca Lampung 14 Oktober 2026: Cerah Berawan dengan Potensi Hujan di Tanggamus Cuaca Lampung Dihantui 289 Titik Panas, Tulang Bawang Terbanyak Bandar Lampung Bandar Lampung Siaga Banjir Rob: BPBD Fokus Pantau Empat Kecamatan Pesisir Bandar Lampung Lampung Perketat Pengawasan Solar Subsidi: STNK Truk Roda Enam Diperiksa Bandar Lampung TNI AL Gagalkan Ribuan Paket Kokain Cair, Selamatkan Ribuan Jiwa dan Anggaran Negara Cuaca Gunung Anak Krakatau Berstatus Siaga, Asap Kawah dan Sinar Api Terpantau Jelas
Efek pandangan menyeluruh

Efek pandangan menyeluruh

artikel daftar Wikimedia

Bagikan:
Pergeseran kognitif setelah melihat Bumi dari luar angkasaTemplat:SHORTDESC:Pergeseran kognitif setelah melihat Bumi dari luar angkasa
Artikel ini berisi tentang pergeseran kognitif setelah melihat Bumi dari luar angkasa. Untuk episode "The Morning Show", lihat The Overview Effect.
250px-NASA-Apollo8-Dec24-Earthrise-b.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Earthrise (1968). Astronaut Apollo 8 Bill Anders mengenang, "Saat saya menengadah dan melihat Bumi terbit di atas cakrawala Bulan yang sangat gersang dan kelam ini, seketika saya hampir diliputi pikiran, 'Kita telah datang sejauh ini ke Bulan, tetapi hal paling bermakna yang kita lihat justru adalah planet rumah kita sendiri, Bumi.'"[1]

Efek pandangan menyeluruh (overview effect) adalah pergeseran kognitif[note 1] yang dilaporkan oleh sejumlah astronot saat menyaksikan Bumi dari luar angkasa.[2] Para peneliti mengarakterisasi efek ini sebagai "keadaan kekaguman dengan kualitas transendensi diri, yang dipicu oleh stimulus visual yang sangat mencolok".[3] Aspek umum yang paling menonjol dari pengalaman pribadi menyaksikan Bumi dari luar angkasa adalah apresiasi dan persepsi atas keindahan, emosi yang tidak terduga dan bahkan sangat mendalam, serta meningkatnya rasa keterhubungan dengan sesama manusia dan Bumi secara keseluruhan.[3] Efek ini dapat memicu perubahan pada konsep diri dan sistem nilai pengamat, serta dapat berdampak transformatif.[3] Simulasi realitas maya yang imersif telah dirancang untuk mencoba memicu efek pandangan menyeluruh pada partisipan yang berada di Bumi.[1][4]

Karakteristik

250px-Tracy_Caldwell_Dyson_in_Cupola_ISS.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Astronaut Tracy Caldwell Dyson sedang "menatap Bumi" di modul Cupola Stasiun Luar Angkasa Internasional, sebuah praktik yang ditemukan memiliki efek psikologis positif serta sangat penting dalam menghadapi tuntutan penerbangan luar angkasa.[5]

Secara umum, Yaden dkk. (2016) menyatakan bahwa aspek umum paling menonjol dari pengalaman para astronot adalah apresiasi dan persepsi atas keindahan, emosi yang tidak terduga dan bahkan sangat mendalam, serta meningkatnya rasa keterhubungan dengan sesama manusia dan Bumi secara keseluruhan.[3] Yaden dkk. mengajukan bahwa efek pandangan menyeluruh dapat dipahami melalui konsep kekaguman[note 2] dan transendensi diri,[note 3] yang mereka deskripsikan sebagai "salah satu aspek paling mendalam dan berdaya dalam pengalaman manusia".[3] Secara lebih spesifik, mereka menulis bahwa efek ini mungkin paling tepat dipahami sebagai "keadaan kekaguman dengan kualitas transendensi diri, yang dipicu oleh stimulus visual yang sangat mencolok".[3] Yaden berpendapat bahwa efek pandangan menyeluruh memicu kekaguman melalui keluasan perseptual (seperti melihat Grand Canyon) maupun keluasan konseptual (seperti merenungkan gagasan besar seperti keabadian).[6]

Yaden dkk. (2016) menulis bahwa sejumlah astronot yang menyaksikan Bumi dari luar angkasa "melaporkan emosi yang sangat mendalam dan perasaan mengidentifikasikan diri dengan umat manusia serta planet ini secara keseluruhan".[3] Efek ini dapat memicu perubahan pada konsep diri dan sistem nilai pengamat, serta terkadang berdampak transformatif.[3] Voski (2020) menunjukkan pengaruh nyata terhadap sikap dan perilaku lingkungan para astronot, serta melahirkan tingkat kesadaran lingkungan yang baru.[7] Meskipun astronot Leland Melvin mengatakan bahwa efek ini tampaknya dialami oleh para astronot tanpa memandang budaya atau negara asal,[8] Yaden dkk. mengamati bahwa perbedaan budaya, termasuk perbedaan identitas keagamaan dan sosial, memengaruhi cara efek tersebut dialami dan ditafsirkan.[3] Ungkapan alaminya berkisar dari yang bersifat keagamaan, "spiritual secara samar", naturalistik, hingga panggilan tugas sosial.[3]

Penulis Frank White, yang pada dekade 1980-an mencetuskan istilah overview effect (efek pandangan menyeluruh) setelah mewawancarai banyak astronot, menyatakan bahwa efek pandangan menyeluruh "tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata" dan membutuhkan pengalaman langsung untuk dapat dipahami, bahkan menyerupakannya dalam hal ini dengan Buddhisme Zen.[9] Ia mengatakan bahwa pemandangan pertama para astronot terhadap planet ini umumnya sangat bermakna, seraya menambahkan bahwa sebagian astronot mengalaminya "dalam sekejap" sementara bagi yang lain efek itu tumbuh seiring waktu; dan secara umum efek tersebut "memang terakumulasi".[9]

Tidak semua astronot mengalami efek pandangan menyeluruh.[10] Lebih lanjut, White membedakan pengalaman di orbit Rendah Bumi tempat planet ini memenuhi sebagian besar pandangan astronot, dari pengalaman di Bulan tempat seseorang melihat seluruh Bumi "dengan latar belakang seluruh kosmos".[9] Ia menggambarkan "perbedaan besar" antara astronot profesional yang berfokus pada misi mereka, dengan orang-orang yang belakangan ini pergi ke luar angkasa "dengan niat untuk mendapatkan pengalaman" dan mungkin sudah mengetahui tentang efek pandangan menyeluruh.[11]

Karakterisasi alternatif

Sejak awal dekade 2010-an, sejarawan sains Jordan Bimm menentang penafsiran White bahwa efek pandangan menyeluruh merupakan, menurut Bimm, "efek mental yang dihasilkan secara konsisten, yaitu sebuah fenomena alami yang terjadi antara lingkungan dan pikiran manusia".[12] Sebaliknya, Bimm menegaskan bahwa efek tersebut merupakan "objek yang bersifat alami sekaligus kultural" yang bervariasi pada individu tertentu, budaya yang berbeda, dan rentang waktu yang beragam.[12] Sebagai tahap awal, Bimm mencatat bahwa penelitian mengenai fenomena terlepas ber-pengalaman negatif pada pilot uji masa awal telah berakhir pada tahun 1973 (tergeser oleh "narasi konversi positif" gagasan White), bahwa para astronot dalam budaya "berbohong demi bisa terbang" (lie to fly) merasakan tekanan karier sehingga enggan melaporkan reaksi psikologis negatif, serta bahwa individu yang telah mengetahui efek pandangan menyeluruh dapat menjadikannya sebagai ramalan yang terbukti dengan sendirinya (self-fulfilling prophecy).[12] Ia berpendapat bahwa mentalitas Perang Dingin dan semangat penguasaan atas Bumi dari supremasi teknologi Barat-lah yang berkontribusi pada munculnya konsep-konsep dunia tanpa batas seperti Hipotesis Gaia, kapal ruang angkasa Bumi, dan The Blue Marble.[12]

Bimm menyampaikan kekhawatiran atas pandangan White bahwa efek tersebut mencerminkan dorongan alami bagi manusia untuk melakukan perjalanan dan kolonisasi luar angkasa. Bimm menyebut sikap itu menyerupai konsep takdir nyata Amerika pada abad ke-18 yang bersifat kolonialis dan ekspansionis.[12] Bimm memperingatkan adanya keangkuhan yang melandasi persepsi seolah-olah telah mencapai tingkat pencerahan baru, yang ia sebut sebagai "efek overlord".[12]

Sejarah

250px-The_Blue_Marble%2C_AS17-148-22727.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
The Blue Marble, pemandangan Bumi sebagaimana dilihat oleh awak Apollo 17 pada tahun 1972. Foto-foto awal Bumi yang diabadikan dari luar angkasa mengilhami versi ringan dari efek pandangan menyeluruh pada masyarakat awam di Bumi, serta menjadi simbol utama kepedulian lingkungan.[1]

Astronom Inggris Fred Hoyle menulis pada tahun 1948 bahwa, "begitu foto Bumi yang diambil dari luar tersedia, sebuah gagasan baru yang sekuat apa pun dalam sejarah akan terlepas".[1] Setelah foto Earthrise karya astronot Apollo 8 William Anders diabadikan dari orbit Bulan pada Desember 1968, misi-misi Apollo diakui telah mengilhami lahirnya gerakan lingkungan, dengan Hari Bumi pertama diselenggarakan pada April 1970.[1] Hoyle menyatakan bahwa orang-orang secara tiba-tiba tampak peduli untuk melindungi lingkungan alam Bumi, meskipun pihak lain mengaitkan kesadaran tersebut dengan buku karya Rachel Carson tahun 1962, Silent Spring, serta reaksi terhadap sejumlah bencana lingkungan pada dekade 1960-an.[1]

Istilah overview effect (efek pandangan menyeluruh) dicetuskan oleh penulis sekaligus peneliti Frank White, yang mengaku pertama kali merasakan "pengalaman ringan" dari efek tersebut saat terbang melintasi negara dan memandang keluar dari jendela pesawat.[9] Pengalaman itu mendorongnya untuk membayangkan hidup di dalam Silinder O'Neill (habitat di luar angkasa), yang kemudian mengilhaminya untuk terlibat dengan Space Studies Institute dan mulai mewawancarai para astronot.[9]

Wawancara White dengan para astronot menegaskan pentingnya perbedaan antara pengetahuan intelektual dan pengalaman langsung, persepsi tentang "tipisnya atmosfer yang sangat mencolok", kesadaran bahwa manusia saling terhubung dan menjadi bagian dari Bumi sebagai suatu sistem organik, serta bahwa kita sebagai manusia yang beragam "semuanya berada di sini bersama-sama".[9] Penggunaan pertama istilah ini di hadapan publik muncul dalam sebuah poster pada pertemuan Space Studies Institute tahun 1985.[11] Pada akhirnya, White menulis tentang efek ini dalam bukunya, The Overview Effect: Space Exploration and Human Evolution (1987),[13] yang kini telah mencapai edisi keempat (2021).[11] Karya White belum mendapatkan pengaruh yang luas hingga dekade 2010-an, sebuah periode yang ditandai oleh meningkatnya keterbelahan sosial serta hadirnya prospek baru perjalanan luar angkasa swasta.[14]

Kesaksian

250px-Thin_Line_of_Earth%27s_Atmosphere_and_the_Setting_Sun.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Foto Thin Blue Line ("Garis Biru Tipis") ini diambil dari Stasiun Luar Angkasa Internasional pada tahun 2009.[15] Deskripsi penulis Frank White mengenai wawancaranya dengan para astronot menekankan persepsi mereka tentang "tipisnya atmosfer yang sangat mencolok".[9]
250px-Art002e009286.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Spesialis misi Christina Koch mengalami efek pandangan menyeluruh dalam penerbangan Artemis II yang mengelilingi Bulan pada tahun 2026 (seperti yang terlihat dalam foto ini). Koch menuturkan, "Setiap orang yang Anda kenal ditopang hidupnya dan berada di dalam garis hijau itu", merujuk pada atmosfer Bumi.[16]

Michael Collins,[17] Yuri Gagarin,[6] Ron Garan,[10][18] Chris Hadfield,[19] James Irwin,[6] Mae Jemison,[19] Scott Kelly,[20] Ed Gibson,[21] André Kuipers,[22] Jerry Linenger,[19] Mike Massimino,[19] Anne McClain,[23] Leland Melvin,[19] Edgar Mitchell,[24] Sian Proctor,[25] Rusty Schweickart,[24] William Shatner,[26] Nicole Stott,[19] Ed Dwight,[27] Cai Xuzhe,[28] serta Jeremy Hansen[29] termasuk di antara orang-orang yang dilaporkan telah mengalami efek ini.

Yuri Gagarin (Vostok 1; 1961) menulis, "Mengelilingi Bumi dengan kapal ruang angkasa, saya takjub akan keindahan planet kita. Wahai manusia, mari kita pelihara dan tingkatkan keindahan ini, jangan menghancurkannya!"[6][30]

Michael Collins (Apollo 11; 1969) menyatakan bahwa "hal yang benar-benar mengejutkan saya adalah bahwa planet itu [Bumi] memancarkan kesan rapuh. Dan mengapa demikian, saya tidak tahu. Sampai hari ini pun saya tidak tahu. Saya merasa planet itu begitu mungil, berkilau, indah, sebuah rumah, dan sangat rapuh".[17]

Edgar Mitchell (Apollo 14; 1971) menggambarkannya sebagai "ledakan kesadaran" dan "rasa keunggalan serta keterhubungan yang luar biasa mendalam... disertai oleh ekstasi... sebuah epifani".[3]

Ed Gibson (Skylab 4; 1976) berkata, "Sama sekali tidak ada alasan bagi kita di Bumi, atau kelompok mana pun, atau negara mana pun, untuk menganggap diri kita terisolasi. [...] Kita semua benar-benar berada di sini bersama-sama".[21]

Sehari sebelum wafat, Wubbo Ockels (STS-61-A; 1985) merekam imbauan kepada masyarakat luas demi keberlanjutan lingkungan (yang menjadi fokus kariernya setelah penerbangan luar angkasanya), dengan menyebutkan perspektif luar biasa yang diperoleh dari mengamati Bumi dari luar angkasa.[31]

William Shatner (Blue Origin NS-18, 2021) segera menyatakan sesaat setelah mendarat bahwa, "Setiap orang di dunia harus mengalami ini. [...] Selimut kebiruan itu... kain, selimut, kehangatan biru yang ada di sekeliling kita ini, kita berpikir, 'Oh, itu langit biru.' Lalu [...] seketika Anda melesat menembusnya, seolah-olah Anda menyingkap selimut saat tidur, lalu Anda memandang ke dalam kegelapan, ke dalam kelam yang pekat, dan Anda melihat ke bawah. Ada warna biru di bawah sana, dan kegelapan di atas sana, dan itu... Di sanalah sang ibu, Bumi, dan kenyamanan. Dan di sana, apakah di sana ada kematian? Saya tidak tahu. [...] Pengalaman ini begitu menyentuh bagi saya. Ini adalah sesuatu yang sungguh luar biasa."[32][33]

Ed Dwight (Blue Origin NS-25, 2024) merenungkan pengalaman tersebut setelah penerbangan suborbitalnya, "Dari balik jendela, saya bisa melihat Bumi. Segala sesuatunya tampak teratur, rapi, menakjubkan, dan indah. Tidak ada pemisah antarnegara atau negara bagian. Dan Anda pun bertanya pada diri sendiri: Seindah apa pun semuanya ini, mengapa orang-orang yang tinggal di atasnya tidak bisa hidup rukun? Mengapa mereka tidak mau merawat tempat seindah ini?"[27]

Ketika Cai Xuzhe (Shenzhou 19, 2024–2025) kembali ke Bumi setelah enam bulan tinggal di stasiun luar angkasa Tiongkok, ia berkata, "Di luar angkasa, kami menatap planet biru yang indah itu tak terhitung jumlahnya. Ini adalah rumah bersama bagi umat manusia dan perlu dilindungi oleh kita semua secara bersama-sama."[28]

250px-Moon_Joy_%28art002e013367%29.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Foto Artemis II (7 April 2026) yang menyertai definisi Moon joy oleh NASA (10 April 2026)

Selama misi penjelajahan mengelilingi Bulan Artemis II pada April 2026, sebuah cuitan NASA mencetuskan istilah Moon joy ("sukacita Bulan") sebagai "perasaan bahagia dan antusiasme luar biasa yang hanya berasal dari misi ke Bulan".[34] Astronaut Jeremy Hansen menyatakan bahwa pengalaman tersebut menegaskan kembali keyakinannya bahwa hidup manusia bertujuan untuk menemukan "sukacita dalam saling menguatkan dengan menciptakan solusi bersama bukannya merusak", serta bahwa pemandangan dari luar angkasa itu "hampir seperti melihat bukti nyata" dari hal tersebut.[29]

Dampak jangka panjang

Para peneliti telah menyadari bahwa pengalaman yang berlandaskan rasa kagum, seperti interaksi dengan alam, pengalaman keagamaan, spiritual, atau mistis, meditasi, serta pengalaman puncak dan alir selama pelaksanaan tugas berkinerja tinggi, dapat mengubah seseorang dan mendorong munculnya perasaan bersatu atau keterhubungan.[2] Gallagher dkk. (2015) mendefinisikan serangkaian kategori konsensus untuk kekaguman yang mencakup terpikat oleh pemandangan atau tertarik pada fenomena tersebut, pengalaman kegembiraan luar biasa, keinginan untuk merasakan pengalaman itu lebih banyak, perasaan diliputi emosi, serta efek skala, yaitu perasaan akan luasnya alam semesta atau kecilnya diri sendiri saat berhadapan dengan keluasan tersebut.[4] Selain menjadi pengalaman yang menyenangkan, fenomena semacam itu dapat memberikan dampak positif jangka pendek dan jangka panjang, seperti meningkatnya kesejahteraan, sikap prososial dan prolingkungan, serta perbaikan kesehatan fisik.[2] Pengalaman transendensi diri dapat memicu perubahan jangka panjang dalam pandangan pribadi, serta dapat memengaruhi kesadaran diri seseorang dengan memengaruhi skema diri mereka[note 4] ("kerangka kerja khusus yang melaluinya orang-orang membayangkan diri mereka dalam hubungannya dengan dunia").[3]

250px-thumbnail.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Foto-foto Bumi yang diambil dari luar angkasa, yang dapat memicu versi ringan dari efek pandangan menyeluruh, telah menjadi simbol utama kepedulian lingkungan.[1] Tampak dalam gambar: Demonstrasi Hari Bumi, 2010.

Secara khusus, Frank White mencatat bahwa sekembalinya ke Bumi, beberapa astronot menjadi terlibat dalam kegiatan kemanusiaan atau menjadi seniman, seperti astronot Edgar Mitchell yang mendirikan Institute of Noetic Sciences.[9] Meskipun Yaden dkk. (2016) mencatat bahwa pengalaman tersebut dapat berdampak transformatif,[3] White menyatakan pada tahun 2019 bahwa secara umum tidak ada "transformasi dramatis" atau "aksi pawai perdamaian", melainkan efek jangka panjangnya terasa lebih halus.[9]

Sebuah survei kuesioner pada tahun 2018 terhadap 39 astronot dan kosmonot menemukan bahwa perubahan humanistik lebih mendominasi daripada perubahan spiritual.[35] Secara khusus, survei tersebut menemukan tingkat perubahan sedang pada subskala Persepsi tentang Bumi (Bumi sebagai "objek indah dan rapuh yang harus dihargai"), yang berkorelasi secara signifikan dengan keterlibatan mereka selanjutnya dalam gerakan lingkungan.[35] Sebaliknya, survei tersebut menemukan "tidak ada hingga sangat sedikit perubahan" pada subskala Perubahan Spiritual, yang menurut para peneliti kemungkinan mencerminkan nilai-nilai yang sudah tertanam sebelum peluncuran.[35]

Sesaat setelah penerbangan Blue Origin pada Oktober 2021, William Shatner menyampaikan kepada pendiri perusahaan tersebut, Jeff Bezos, "Apa yang telah Anda berikan kepada saya adalah pengalaman yang paling mendalam. Saya berharap tidak akan pernah pulih dari rasa ini. Saya berharap dapat mempertahankan apa yang saya rasakan sekarang."[26] Namun, pada Oktober 2022 ia menceritakan bahwa membutuhkan waktu berjam-jam baginya untuk menyadari mengapa ia menangis setelah keluar dari wahana antariksa: "Saya menyadari bahwa saya sedang berduka untuk Bumi."[36] Ia kemudian berkata bahwa "Saya melihat dengan lebih jelas dari yang pernah saya rasakan... kematian lambat Bumi dan kita di atasnya."[37] Biografinya, Boldly Go, menceritakan bahwa "itu adalah salah satu perasaan duka terdalam yang pernah saya alami. Kontras antara dinginnya luar angkasa yang kejam dan kehangatan Bumi yang mengayomi di bawah sana memenuhi diri saya dengan kesedihan yang luar biasa mendalam. Setiap hari, kita dihadapkan pada kenyataan akan kehancuran Bumi yang terus berlanjut di tangan kita sendiri... Hal itu memenuhi diri saya dengan ketakutan. Perjalanan saya ke luar angkasa seharusnya menjadi sebuah perayaan; alih-alih demikian, rasanya seperti sebuah pemakaman."[38]

Pada satu kesempatan, awak Skylab 4 (dekade 1970-an) sempat menolak untuk bekerja, dengan menegaskan, sebagaimana disampaikan oleh direktur penerbangan, "kebutuhan mereka untuk merenung, mengamati, serta menemukan posisi mereka di tengah pengalaman yang membingungkan, memikat, dan belum pernah terjadi sebelumnya ini".[3] Peristiwa ini, ditambah dengan penelitian yang menunjukkan bahwa secara aktif memotret Bumi memberikan efek psikologis positif, mendorong Yaden dkk. mengajukan anggapan bahwa mempelajari efek pandangan menyeluruh dapat meningkatkan pemahaman mengenai kesejahteraan psikologis di lingkungan yang terisolasi, terbatas, dan ekstrem (ICE), seperti penerbangan luar angkasa.[3]

Foto-foto awal Bumi yang diambil dari luar angkasa telah mengilhami versi ringan dari efek pandangan menyeluruh pada khalayak di Bumi.[1] Foto-foto tersebut menjadi simbol utama kepedulian lingkungan dan diakui telah meningkatkan kesadaran publik mengenai kerentanan Bumi serta memperluas kepedulian terhadap kelangsungan hidup jangka panjang di planet yang terbatas ini.[1]

Pengalaman yang terus terakumulasi dari para astronot dan wisatawan luar angkasa mengilhami keinginan kuat pada banyak dari mereka untuk melindungi Bumi dengan mengomunikasikan perspektif luas yang mereka peroleh secara aktif, misalnya dengan berbicara di konferensi tingkat tinggi iklim internasional.[1] Pihak Virgin Galactic secara khusus menyebut efek pandangan menyeluruh sebagai motivasi untuk membawa orang ke tepi luar angkasa, demi mengubah secara mendasar cara pandang orang-orang terhadap planet rumah mereka.[39] Namun, para pengkritik mencatat bahwa perjalanan luar angkasa yang diperlukan untuk merasakan efek pandangan menyeluruh secara langsung justru melibatkan pencemaran lingkungan yang signifikan.[1] Pendekatan yang lebih minim polusi adalah dengan mensimulasikan efek tersebut di Bumi menggunakan teknologi realitas maya.[1]

Mensimulasikan efek

Para peneliti menemukan bahwa teknologi realitas maya dapat membangkitkan komponen-komponen pengalaman berbasis rasa kagum serta memicu pergeseran kognitif minor pada pandangan dunia partisipan, serupa dengan yang terjadi pada efek pandangan menyeluruh.[2] Rasa aman yang dirasakan, latar belakang pribadi dan keakraban dengan lingkungan, serta pemicuan reaksi rasa takut naluriah tingkat ringan ditemukan sebagai kontributor utama bagi pengalaman yang imersif tersebut.[2] Studi VR hingga tahun 2019 belum mengamati adanya pengalaman transformatif dalam skala yang setara dengan efek pandangan menyeluruh itu sendiri, tetapi pengalaman VR dapat memicu respons emosional yang mendalam seperti rasa kagum.[2]

250px-Scania_R650%2C_SpaceBuzz%2C_V%C3%A1rosh%C3%A1za_Park%2C_2022_Belv%C3%A1ros-Lip%C3%B3tv%C3%A1ros.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Modul keliling Spacebuzz menggunakan teknologi realitas maya untuk mensimulasikan penerbangan luar angkasa bagi anak-anak.[40]

Sebuah studi tahun 2019 menemukan bahwa pengalaman virtual memicu "pengalaman transformatif minor pada beberapa partisipan", termasuk apresiasi terhadap keindahan dan keluasan, kesadaran akan saling keterhubungan, serta potensi niat untuk mengubah perilaku seseorang.[2] Dengan menyadari tahap perkembangan teknologi VR yang relatif masih awal, para peneliti mengimbau agar pengetahuan mengenai pengalaman transformatif yang mendalam dimanfaatkan untuk mendorong perancangan instalasi VR, dan setelahnya mempelajari pengalaman VR itu sendiri sebagai suatu fenomena tersendiri.[2]

Pada 24 Desember 2018, yang bertepatan dengan peringatan 50 tahun hari pertama saat manusia menyaksikan Bumi terbit dengan mata kepala mereka sendiri, proyek Spacebuzz diluncurkan di Hilversum, Belanda.[40] Di dalam sebuah kendaraan bergerak berbentuk roket sepanjang lebih dari 15 meter (49 ft), sembilan kursi bergerak dan set kepala realitas maya (VR) milik Spacebuzz mensimulasikan penerbangan luar angkasa dalam sebuah pengalaman yang dirancang khusus untuk anak-anak.[40]

Para peneliti di Universitas Missouri mencoba mereproduksi pengalaman tersebut menggunakan tangki isolasi sensorik dan set kepala VR kedap air.[10]

"The Infinite" menyajikan simulasi berdurasi satu jam rasanya berada di Stasiun Luar Angkasa Internasional menggunakan rekaman 3D 360 derajat buatan astronot dari film VR Space Explorers: The ISS Experience.[41] Para pengunjung berbagi area seluas 12,500-kaki-persegi (1,1613 m2) yang memungkinkan mereka menjelajahi ISS secara fisik dan memandang ke luar.[41]

Sebuah model tiga dimensi Bumi berdiameter 7 meter (23 ft), yang dibuat dari citra rinci NASA dan tampak mengapung di udara, melakukan tur di Britania Raya pada tahun 2022, di mana instalasi tersebut "bertujuan menciptakan sensasi Efek Pandangan Menyeluruh".[42]

Nama lain

Efek pandangan menyeluruh juga pernah disebut sebagai big picture effect ("efek gambaran besar") oleh Edgar Mitchell,[43] orbital perspective ("perspektif orbital") oleh Ronald J. Garan Jr.,[8] serta the astronaut's secret ("rahasia astronot") oleh Albert Sacco.[12]

Merujuk pada betapa mendalamnya pengalaman Mitchell di Bulan, yang dibedakan dari pengalaman di orbit Rendah Bumi, penulis Frank White menyebut pengalaman Mitchell sebagai universal insight ("wawasan universal") karena memiliki perspektif yang lebih universal.[11]

Efek terkait

Sebuah artikel tahun 1957 dalam The Journal of Aviation Medicine mengkaji fenomena terlepas (break-off phenomenon), yang didefinisikan sebagai "perasaan terpisah secara fisik dari Bumi ketika menerbangkan pesawat di ketinggian tinggi".[44] Faktor pemicu utamanya disimpulkan meliputi: terbang sendirian, berada di ketinggian tinggi, serta memiliki relatif sedikit kegiatan yang dilakukan.[44] Para peneliti merangkum deskripsi para pilot sebagai "perasaan terisolasi, terlepas, atau terpisah secara fisik dari Bumi" atau sebagai persepsi "seolah-olah kehilangan keterhubungan mereka dengan dunia".[44] Reaksi individu berkisar dari kegembiraan luar biasa atau merasa lebih dekat dengan Tuhan, hingga kecemasan, ketakutan, atau kesepian.[44] Alan Shepard melaporkan merasa biasa saja, sementara yang lain melaporkan merasa lebih terikat dengan wahana antariksa ketimbang dengan Bumi, efek yang ditafsirkan oleh seorang peneliti sebagai konsep disorientasi.[45] Literatur ilmiah yang membahas fenomena terlepas ini berakhir pada tahun 1973.[12]

Antropolog Deana L. Weibel memperkenalkan istilah ultraview effect ("efek pandangan ultra") sebagai respons terhadap pemandangan bintang-bintang tanpa penghalang, sebuah efek yang ia simpulkan dialami lebih jarang daripada efek pandangan menyeluruh.[46] Berbeda dengan rasa keterhubungan pada efek pandangan menyeluruh, efek pandangan ultra merespons keterbatasan pengetahuan kita, memicu "sensasi ketidakpahaman yang berdampak transformatif serta perasaan mengecil atau pengerutan diri".[46][47]

Frank White mengajukan istilah Copernicus Perspective ("Perspektif Kopernikus"), yaitu kesadaran menjadi bagian dari Tata Surya ketika seseorang berada di planet lain.[11]

Sejarawan sains Jordan Bimm menjelaskan bagaimana konsep tersebut memiliki kemiripan dengan konsep keagungan (the sublime) dalam tradisi Britania, yaitu sebuah pengalaman yang dikaitkan dengan pemandangan dari pegunungan tinggi.[12]

Sejumlah akuanot yang tinggal dan bekerja di bawah air dalam jangka waktu lama melaporkan adanya pergeseran kognitif tentang cara mereka memandang lingkungan lautan dan peran mereka di dalamnya, yang memperkuat perasaan keterhubungan dan komitmen terhadap lingkungan bahari. Sebagai hasilnya, pengalaman ini disebut sebagai underview effect ("efek pandangan bawah"), yang merujuk pada efek pandangan menyeluruh para astronot karena kemiripannya.[48]

Lihat pula

Catatan penjelasan

  1. ↑ Bagian pendahuluan Stepanova dkk. (2019) diawali dengan, "Pemandangan Bumi kita yang luar biasa indah memicu respons emosional yang mendalam pada sebagian besar astronot, yang mengarahkan pada pergeseran kognitif, membuat mereka menyadari keterhubungan global dari seluruh kehidupan serta merasakan tanggung jawab atas masa depan planet kita. ... Pengalaman ini memiliki atribut transendensi diri dan kekaguman (mengutip Yaden dkk., 2016) serta merupakan contoh luar biasa dari pengalaman transformatif.
  2. ↑ Yaden dkk. (2016) menjelaskan bahwa "psikolog sosial mengarakterisasi kekaguman sebagai emosi intens yang dihasilkan dari persepsi tentang sesuatu yang amat luas, serta kebutuhan selanjutnya untuk mengakomodasi pengalaman tersebut" (mengutip Keltner & Haidt, 2003). Namun, mereka mengamati bahwa selain keluasan, pemandangan Bumi dari kejauhan juga menunjukkan totalitas, yaitu keutuhan Bumi yang menjadikannya sebagai simbol dari hampir segala hal yang bermakna dalam kehidupan manusia, sehingga memicu kecenderungan untuk berpikir, secara harfiah, dalam cakupan global.
  3. ↑ Yaden dkk. (2016) berpendapat bahwa efek pandangan menyeluruh dapat memicu pengalaman transendensi diri (STE), yaitu "perasaan bersatu sementara yang ditandai oleh berkurangnya kemenonjolan diri serta meningkatnya perasaan keterhubungan" yang secara historis dikaitkan dengan praktik-praktik seperti doa, meditasi, ritual keagamaan, dan penggunaan obat psikedelik, yakni perasaan yang dapat "membangkitkan rasa belas kasih dan keterhubungan pribadi yang mendalam... yang dapat mencakup keseluruhan Bumi beserta seluruh penghuninya".
  4. ↑ Yaden dkk. (2016) menjelaskan bahwa skema adalah "kerangka kerja konseptual terorganisasi yang melaluinya individu menyikapi informasi baru dan memahami pengalaman lama. Setiap skema individu mencakup serangkaian ingatan, keyakinan, dan sikap yang menciptakan orientasi kognitif umum, memandu penafsiran dan respons individu terhadap stimulus yang masuk". Ketika menghadapi pengalaman baru, seseorang harus "mengakomodasi" dengan memperluas kerangka kerja skema diri mereka untuk memperhitungkan informasi baru tersebut.

Referensi

  1. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Yoder, Kate (Februari 9, 2022). "The Overview Effect / How the view from space might be key to saving the planet". Grist. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal Februari 10, 2022.{{cite magazine}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  2. 1 2 3 4 5 6 7 8 Stepanova, Ekaterina R.; Quesnel, Denise; Riecke, Bernhard E. (Mei 22, 2019). "Understanding AWE: Can a Virtual Journey, Inspired by the Overview Effect, Lead to an Increased Sense of Interconnectedness?". Frontiers in Digital Humanities. 6 9. Frontiers Media. doi:10.3389/fdigh.2019.00009.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  3. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 Yaden, David B.; Iwry, Jonathan; Slack, Kelley J.; Eichstaedt, Johannes C.; Zhao, Yukun; Vaillant, George E.; Newberg, Andrew B. (2016). "The overview effect: Awe and self-transcendent experience in space flight". Psychology of Consciousness: Theory, Research, and Practice. 3 (1): 1–11. doi:10.1037/cns0000086. ISSN 2326-5531.
  4. 1 2 Gallagher, S., Janz, B., Reinerman, L., Trempler, J., and Bockelman, P. (2015). A Neurophenomenology of Awe and Wonder: Towards a Non-reductionist Cognitive Science. London: Springer.
  5. ↑ White, William Frank (Maret 12, 2021). "The Overview Effect and Creative Performance in Extreme Human Environments". Frontiers in Psychology. 12 584573. Frontiers Media. doi:10.3389/fpsyg.2021.584573. PMC 7994510. PMID 33776828.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  6. 1 2 3 4 Ferreira, Becky (Oktober 12, 2016). "Seeing Earth from Space Is the Key to Saving Our Species from Itself". Vice (magazine). Diarsipkan dari versi aslinya tanggal April 6, 2022.{{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  7. ↑ Voski, Anaïs (2020-08-01). "The ecological significance of the overview effect: Environmental attitudes and behaviours in astronauts". Journal of Environmental Psychology (dalam bahasa Inggris). 70 101454. doi:10.1016/j.jenvp.2020.101454. ISSN 0272-4944. S2CID 225388835.
  8. 1 2 Dickinson, Kevin (November 3, 2021). "The awesome power of awe: How this neglected emotion can change lives". Big Think. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal Agustus 29, 2022.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  9. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 White, Frank; Jordan, Gary (Agustus 30, 2019). "The Overview Effect". NASA. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal Agustus 23, 2022.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  10. 1 2 3 Sample, Ian (Desember 26, 2019). "Scientists attempt to recreate 'Overview effect' from Earth". The Guardian. ISSN 0261-3077. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal Desember 27, 2019 – via www.theguardian.com.{{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  11. 1 2 3 4 5 David, Leonard (Agustus 2, 2022). "Space philosopher Frank White on 'The Overview Effect' and humanity's connection with Earth". Space.com. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal Agustus 9, 2022.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  12. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Bimm, Jordan (Februari 1, 2014). "Rethinking the Overview Effect". Quest: The History of Spaceflight. 21 (1): 39. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal November 17, 2014.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) ● (PDF)
    ● Audio of Bimm's related oral presentation, hosted by Boucher, Marc (September 6, 2021). "Rethinking the Overview Effect". SpaceQ.ca. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal Oktober 22, 2022.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  13. ↑ David, Leonard (Agustus 5, 2006). "Space Tourism: Face Time with Earth". Space.com. Diarsipkan dari asli tanggal November 24, 2006.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  14. ↑ Guttman, Leslie (Januari 28, 2021). "Can Astronaut Thinking Heal America At Last?". Ozy. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal Mei 7, 2022.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  15. ↑ "Image of the Day Gallery / Thin Blue Line". NASA.gov. November 25, 2009. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal November 27, 2009.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  16. ↑ Seattle Times editorial board (8 April 2026). "Earth from Artemis II: Sublime images of our ailing planet". Seattle Times. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 11 April 2026.{{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  17. 1 2 Chang, Kenneth (Juli 16, 2019). "For Apollo 11 He Wasn't on the Moon. But His Coffee Was Warm". The New York Times. ISSN 0362-4331. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal Juli 17, 2019.{{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  18. ↑ "Orbital Perspective: Astronaut Ron Garan Explains How to Save the Planet". NBC News. Februari 3, 2015. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal April 15, 2021.{{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  19. 1 2 3 4 5 6 Hadfield, Chris; Linenger, Jerry; Stott, Nicole; Jemison, Mae; Melvin, Leland; Massimino, Mike (Maret 27, 2018). "Six NASA Astronauts Describe the Moment in Space when 'Everything Changed'". Inverse.com. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal Maret 31, 2018.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  20. ↑ Feloni, Richard (Maret 19, 2018). "NASA astronaut Scott Kelly explains how seeing planet Earth from space changed his perspective on life". Business Insider. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal Maret 17, 2018.{{cite magazine}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  21. 1 2 Cooper, Jr., Henry S. F. (6 September 1976). "Life in a Space Station - II". The New Yorker.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  22. ↑ Williams, Matthew S. (Juni 9, 2019). "The Overview Effect: Seeing Earth from Above Can Inspire Change". Interesting Engineering. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal September 24, 2022.{{cite magazine}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  23. ↑ Solsman, Joan E. (April 11, 2022). "'The Infinite' VR Is the Closest You'll Feel to Space Without Floating". CNET. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal September 14, 2022.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) ● Video: "Astronaut describes seeing sunrise from Space for first time". CNN on YouTube. April 27, 2020. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal April 28, 2020.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  24. 1 2 O'Neill, Ian (Mei 22, 2008). "The Human Brain in Space: Euphoria and the "Overview Effect" Experienced by Astronauts". Universe Today. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal Januari 28, 2019.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  25. ↑ Maslow, Nick (24 September 2021). "Inspiration4 Reveal They Felt the 'Overview Effect' in Space — What to Know About the Phenomenon". People.com. Dotdash Meredith. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 7 Oktober 2022.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  26. 1 2 "William Shatner, TV's Capt. Kirk, blasts into space". AP News. Oktober 13, 2021. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal Oktober 13, 2021.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  27. 1 2 Rosengren, John (Februari 7, 2025). "The Ride of His Life". AARP.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  28. 1 2 Joe Harker (30 April 2025). "Chinese astronaut who's just returned from space had life-changing realisation while looking down at planet". LADbible. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 15 April 2026.{{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  29. 1 2 Parshall, Allison (2026-04-11). "'Moon joy' and the overview effect—how views from space change us". Scientific American. Diakses tanggal 2026-04-12.
  30. ↑ "Field of studies Earth Sciences (studies in French) - Côte d'Azur University (Université Côte d'Azur) (Nice) - Bachelor's degree - undergraduatestudy.eu". bachelor.undergraduatestudy.eu (dalam bahasa Inggris). Diarsipkan dari asli tanggal 2025-08-14. Diakses tanggal 2026-05-05.
  31. ↑ Wubbo Ockels: the final speech. di YouTube
  32. ↑ "Watch William Shatner's first remarks back on Earth". CNET Highlights (via YouTube). Okt 13, 2021. Diakses tanggal Oktober 13, 2025. The covering of blue, this sheet, this blanket, this comforter of blue that we have around us... and then suddenly you shoot through it all of a sudden, as though you whip off a sheet off you when you're asleep, and you're looking into blackness, into black ugliness, and you look down. There's the blue down there (pointing down), and the black up there (pointing up), and it's... It's just.. (pointing down) There is mother, and Earth, and comfort. (pointing up) And there is... Is there death? I don't know! Is that death? Is that the way death is? Whup! And it's gone. Jesus. It was so moving to me. This experience, it's something unbelievable.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  33. ↑ Kvetenadze, Téa (Oktober 13, 2021). "'Whoa, That's Death!' Here's Everything William Shatner Said To Jeff Bezos After Returning From Space (transcript)". Forbes. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal Oktober 13, 2021.{{cite magazine}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) (pay wall; can use archive link)
  34. ↑ Taylor, Chris (10 April 2026). "How NASA made 'moon joy' a space-age catchphrase". Mashable. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 12 April 2026.{{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  35. 1 2 3 Kanas, Nick (Januari 2020). "Spirituality, humanism, and the Overview Effect during manned space missions". Acta Astronautica. 166: 525. Bibcode:2020AcAau.166..525K. doi:10.1016/j.actaastro.2018.08.004. S2CID 115759115.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  36. ↑ Wattles, Jackie (Oktober 10, 2022). "William Shatner on traveling to space: 'All I saw was death'". CNN. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal Oktober 14, 2022.{{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  37. ↑ Rivera, Enrique (Oktober 23, 2022). "William Shatner experienced profound grief in space. It was the 'overview effect'". NPR. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal November 22, 2022.{{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  38. ↑ Shatner, William (Oktober 6, 2022). "William Shatner: My Trip to Space Filled Me With 'Overwhelming Sadness'". Variety. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal Oktober 11, 2022.{{cite magazine}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  39. ↑ Wall, Mike (Februari 11, 2019). "The View from Space Could Change the World, Virgin Galactic Says". Space.com. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal Mei 6, 2022.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  40. 1 2 3 "Onthulling SPACEBUZZ, een innovatief VR-educatieprogramma" [Unveiling SpaceBuzz, an innovative VR program]. ESA.int (dalam bahasa Belanda). Desember 20, 2018. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal September 13, 2021.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  41. 1 2 Karwacki, Jean-Pierre (Agustus 2, 2021). "'The Infinite' Virtual Reality Exhibit Offers a Taste of Life in Outer Space". Time. Diarsipkan dari asli tanggal Agustus 2, 2021.{{cite magazine}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  42. ↑ Mansfield, Ian (Agustus 23, 2022). "Gaia – a large glowing earth will float inside Southwark Cathedral". IanVisits.com tourist website. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal Agustus 23, 2022.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  43. ↑ Simpson, Dave (Februari 11, 2016). "The Metaphysical Astronauts". Vice (magazine). Diarsipkan dari versi aslinya tanggal Agustus 16, 2022.{{cite magazine}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  44. 1 2 3 4 Clark, Brant; Graybiel, Ashton (April 1957). "The Break-off Phenomenon / A Feeling of Separation from the Earth Experienced by Pilots at High Altitude" (PDF). The Journal of Aviation Medicine. 28 (2): 121–126. PMID 13416151. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 2022-10-09. Diakses tanggal 2022-10-11.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  45. ↑ Shaw, Debra Benita (2023-02-15). "The Way Home: Space Migration and Disorientation" (PDF). New Formations: A Journal of Culture/Theory/Politics. 107–108 (107). Lawrence & Wishart: 118–138. doi:10.3898/NewF:107-8.07.2022. ISSN 1741-0789. (link to full text)
  46. 1 2 Weibel, Deana (Agustus 13, 2020). "The Overview Effect and the Ultraview Effect: How Extreme Experiences in/of Outer Space Influence Religious Beliefs in Astronauts". Religions. 11 (8): 418. doi:10.3390/rel11080418. S2CID 225477388.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  47. ↑ Weibel, Deana L. (2026). The Ultraview Effect: What We Can Learn from Astronauts about Awe, Humility, and Exploring the Unknown. University of California Press. ISBN 9780520409521. Diakses tanggal Juni 13, 2026.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  48. ↑ Kilgallen, Kristen; Turino, Lily; Jones, Angela J.; Truitt, Lisa; Coley, John D.; Helmuth, Brian (20 Desember 2025). "An Underview Effect? Psycho-Social Impacts of Saturation Diving Among Aquanauts". Environment and Behavior. 58 (2). doi:10.1177/00139165251390708.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)

Bacaan lanjutan

  • White, Frank (2014). The Overview Effect — Space Exploration and Human Evolution. Reston, Virginia: American Institute of Aeronautics and Astronautics. ISBN 978-1-62410-262-2.

Pranala luar

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan