Minggu, 20 September 2026
14:18 WIB
TERKINI
Cek Fakta Kiat Cerdas Deteksi Hoaks: Hindari Jebakan Berita Palsu di Media Sosial Cek Fakta Waspada! Penipuan Undian Berhadiah Catut Nama BNI Kembali Marak Climate BMKG Ungkap Potensi Hujan Lebat Landa Sejumlah Wilayah Indonesia Pekan Ini Moto Gp Veda Ega Peringkat 16 FP2 Moto3 Austria, Hakim Danish Tembus Empat Besar Moto Gp Drama Kualifikasi Moto3 Austria: Veda Ega ke-19, Uriarte Pecahkan Rekor Hukum Selebgram JP Terjerat Vape Narkoba: Stres Picu Konsumsi Etomidate Golongan II Arsip Mengenang Multatuli: Kisah 84 Hari yang Mengukir Sejarah Lebak Arsip Max Havelaar di Sekolah Belanda: Antara Pedoman dan Kebebasan Memilih Megapolitan Aroma Tak Sedap Ganggu Pejalan Kaki Dekat Halte IRTI Monas Tren Trump Larang CNN, MS NOW, Politico dari Gedung Putih: Konflik Media Memuncak Cek Fakta Kiat Cerdas Deteksi Hoaks: Hindari Jebakan Berita Palsu di Media Sosial Cek Fakta Waspada! Penipuan Undian Berhadiah Catut Nama BNI Kembali Marak Climate BMKG Ungkap Potensi Hujan Lebat Landa Sejumlah Wilayah Indonesia Pekan Ini Moto Gp Veda Ega Peringkat 16 FP2 Moto3 Austria, Hakim Danish Tembus Empat Besar Moto Gp Drama Kualifikasi Moto3 Austria: Veda Ega ke-19, Uriarte Pecahkan Rekor Hukum Selebgram JP Terjerat Vape Narkoba: Stres Picu Konsumsi Etomidate Golongan II Arsip Mengenang Multatuli: Kisah 84 Hari yang Mengukir Sejarah Lebak Arsip Max Havelaar di Sekolah Belanda: Antara Pedoman dan Kebebasan Memilih Megapolitan Aroma Tak Sedap Ganggu Pejalan Kaki Dekat Halte IRTI Monas Tren Trump Larang CNN, MS NOW, Politico dari Gedung Putih: Konflik Media Memuncak

Muditā

Artikel ini berisi tentang konsep Buddhisme terkait rasa simpati atas keberhasilan orang lain. Untuk rasa simpati atas kemalangan orang lain, lihat Karuṇā. Untuk faktor mental keluwesan, lihat Mudutā.
Terjemahan dari
muditā
Indonesiasimpati
apresiasi simpatik
turut apresiasi
Inggrisappreciative joy
sympathetic joy
Paliमुदिता
Sanskertaमुदिता
Tionghoa
(Pinyin: )
Jepang
(rōmaji: ki)
Myanmarမုဒိတာ
(MLCTS: mṵdḭtà)
Thaiมุทิตา
(RTGS: muthitaa)
Vietnamhỷ
Khmerមុទិតា
(UNGEGN: mŭtĭta)
Sinhalaමුදිතා
Daftar Istilah Buddhis
Bagian dari seri tentang
Buddhisme
120px-Dharma_Wheel_%282%29.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Keyakinan
Tiga corak
Gugusan
Faktor mental
Meditasi
Bakti
Praktik lainnya

Muditā (bahasa Pali dan Sanskerta; Dewanagari: मुदिता), diterjemahkan sebagai rasa simpati (bedakan dari karuṇā), turut berbahagia atas kebahagiaan orang lain (bedakan dari sukha dalam konteks vedanā), atau kegembiraan simpatik (bedakan dari pīti), adalah konsep tentang apresiasi simpatik, yaitu sikap batin yang secara tulus mengapresiasi keberhasilan atau kesejahteraan orang lain.[1] Muditā (apresiasi simpatik) adalah salah satu dari empat sifat luhur (Brahmavihāra), bersama dengan mettā (cinta kasih), karuṇā (belas kasih), dan upekkhā (keseimbangan batin). Dalam ajaran Buddha, keempat sifat ini perlu dikembangkan dan dipancarkan ke segala arah untuk membersihkan batin, menghindari akibat buruk, serta membawa kebahagiaan.

Penerapan

Suttapiṭaka

Lihat pula: Sutta Piṭaka

Dalam Tripitaka Pali, meditasi muditā memupuk rasa apresiasi simpatik atas keberhasilan dan nasib baik orang lain. Buddha Gotama menggambarkan jenis meditasi ini dengan cara berikut:

Di sini, O, para biku, seorang murid membiarkan pikirannya meliputi seperempat dunia dengan pikiran muditā, dan begitu pula yang kedua, dan yang ketiga, serta yang keempat. Dan dengan demikian seluruh dunia yang luas, di atas, di bawah, di sekeliling, di mana-mana dan setara, ia terus meliputi dengan hati yang penuh muditā, berlimpah, tumbuh menjadi besar, tidak terukur, tanpa permusuhan atau niat buruk. Puna caparaṁ, vāseṭṭha, bhikkhu muditāsahagatena cetasā ekaṁ disaṁ pharitvā viharati. Tathā dutiyaṁ. Tathā tatiyaṁ. Tathā catutthaṁ. Iti uddhamadho tiriyaṁ sabbadhi sabbattatāya sabbāvantaṁ lokaṁ upekkhāsahagatena cetasā vipulena mahaggatena appamāṇena averena abyāpajjena pharitvā viharati.
Tevijja Sutta[2], DN 13

Dengan demikian, muditā juga disebut sebagai 'apresiasi tanpa pamrih'.[3]

Abhidhammapiṭaka

Bagian dari Abhidhamma Theravāda
52 Cetasika
250px-Tilted_heraldic_lotus.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Buddhisme Theravāda
6 sesekali (pakiṇṇaka)
14 tidak baik (akusala)
4 tidak baik universal (akusalasādhāraṇa)
3 keserakahan (lobha)
4 kebencian (dosa)
3 yang terakhir
20px-Flag_of_Buddhism.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail PortalBuddhisme

Menurut tradisi Abhidhamma aliran Theravāda, muditā merupakan salah satu faktor mental indah, sebagai bagian dari kategori faktor mental "tanpa-batas". Muditā, sebagai suatu faktor mental, didefinisikan dalam empat batasan:[4]

  • Karakteristik (lakkhaṇa): kepuasan batin (pamodana-lakkhaṇa).
  • Fungsi (rasa): tiadanya iri hati (anissāyana-rasa).
  • Manifestasi (paccupaṭṭhāna): kehancuran rasa tidak-senang (arativighāta-paccupaṭṭhāna).
  • Sebab-terdekat (padaṭṭhāna): melihat keberhasilan [makhluk lain] (sampattidassana-padaṭṭhāna).

Objek yang diambil oleh muditā merupakan kebalikan dari objek yang diambil oleh karuṇā. Muditā mengambil makhluk-makhluk bahagia sebagai objeknya, sedangkan karuṇā perlu mengambil makhluk-makhluk menderita sebagai objeknya.[5]

Visuddhimagga

Lihat pula: Visuddhimagga

Kitab Visuddhimagga menjelaskan bahwa muditā adalah turut mengapresiasi keberhasilan (Pali: sampatti-modanā) yang didapatkan oleh makhluk lain dengan harapan "semoga mereka tidak berpisah dari keberhasilan (atau kesejahteraan) yang telah mereka peroleh" (laddha-sampattito mā vigacchantu).[6]

Sebagai panduan teknis objek meditasinya, Visuddhimagga tidak menyarankan seorang praktisi untuk langsung memancarkan simpati kepada orang yang netral (tidak memiliki kedekatan emosional) atau orang yang dibenci (musuh). Sebaliknya, objek yang harus diambil terlebih dahulu adalah pamudita puggala—yakni individu yang sedang menikmati keberuntungan, pencapaian, atau kesejahteraan hidup. Secara lebih spesifik, teks ini merekomendasikan untuk membayangkan seorang sahabat karib yang sangat disayangi (atippiyasahāyaka) yang sedang dilimpahi keberhasilan tersebut. Membayangkan sosok ini dinilai paling efektif untuk memantik kemunculan apresiasi simpatik secara alami.[6]

Selain itu, Visuddhimagga juga menjelaskan "musuh jauh" (dūrapaccatthika) dan "musuh dekat" (āsannapaccatthika) dari setiap sifat dalam Brahmavihāra:[7][8]

Empat sifat luhur dalam Buddhisme Theravāda
Sutta Abhidhamma Visuddhimagga
Sifat luhur
(brahmavihāra)
Faktor mental
(cetasika)
Musuh dekat
(āsannapaccatthika)
Musuh jauh
(dūrapaccatthika)
cinta kasih (mettā) tanpa-kebencian (adosa) nafsu (rāga) niat jahat (vyāpāda/byāpāda)
belas kasih (karuṇā) belas kasih (karuṇā) dukacita batiniah duniawi
(gehasita-domanassa)
kekejaman (vihesā/vihiṃsā)[9]
simpati positif (muditā) simpati positif (muditā) sukacita batiniah duniawi
(gehasita-somanassa)
rasa tidak-senang (arati)
ketenangan (upekkhā) keseimbangan batin (tatramajjhattatā) tanpa-pengetahuan (aññāṇa) nafsu dan antipati (rāgapaṭighā)

"Musuh jauh" (dūrapaccatthika) merujuk pada keadaan batin yang jelas-jelas bertentangan, sedangkan "musuh dekat" (āsannapaccatthika) merujuk pada keadaan batin yang seolah-olah serupa, tetapi sebenarnya berlawanan dari sifat luhurnya.[7] Kitab Visuddhimagga menjelaskan bahwa "musuh jauh" dari muditā adalah rasa tidak-senang (arati), suatu kondisi batin yang kualitasnya jelas-jelas bertentangan dengan apresiasi simpatik. Sementara itu, "musuh dekat" dari muditā adalah perasaan kesenangan batiniah duniawi (gehasita-somanassa), yang merujuk pada kebahagiaan sensual yang berpusat pada kepuasan pancaindra.[10][8][11]

Penjelasan guru

Menurut guru Buddhis modern, muditā dianggap sebagai hal yang sulit untuk dilatih karena menunjukkan muditā berarti turut mengapresiasi pencapaian orang lain bahkan ketika kita sendiri sedang menghadapi kemalangan.[1][12] Sayadaw U Pandita mencatat bahwa muditā tidak sama seperti apresiasi palsu atau rasa iri hati. Artinya, merasa puas di atas kemalangan orang lain bukanlah muditā, begitu pula dengan 'senyuman licik' dan 'pujian palsu'.[13]

Dalam Manual Abhidhamma, Ashin Kheminda menjelaskan:[14]

... Kualitas yang mulia ditunjukkan oleh kemampuan dari faktor-mental ini (muditā) untuk menghancurkan rasa tidak suka (arati) terhadap makhluk yang menjadi objek kesadaran.

“Kawan, pembebasan-batin yang disebut simpati tersebut adalah jalan keluar dari rasa tidak suka.” (Nissaraṇañhetaṃ, āvuso, aratiyā yadidaṃ muditācetovimutti)

Kalimat Buddha tersebut di atas memberikan arah yang benar kepada kita pada saat menghadapi situasi sulit di dalam kehidupan, khususnya pada saat kita tidak bisa memberikan apresiasi kepada mereka yang sedang bahagia atau mencapai keberhasilan di dalam kehidupannya.
Iri hati (issā) menghalangi munculnya kegembiraan dan membuat hati menjadi gelap gulita. Seseorang yang tidak mengerti Dhamma akan cenderung menyalahkan mereka yang tidak disukai atau yang menjadi objek iri hatinya. Akan tetapi, dengan petunjuk dari Buddha di atas, kita menjadi paham apa yang harus dilakukan pada saat hati dikuasai oleh kualitas-kualitas yang negatif seperti itu. Dengan melatih hati untuk mengapresiasi dan bergembira atas keberhasilan orang lain, maka secara perlahan suasana hati menjadi terang benderang. Dengan hancurnya rasa tidak suka (arati) di hati, maka seseorang hanya akan melihat kualitas positif yang ada di makhluk lain, dan dengan demikian dia akan bisa menghindari iri hati (issā) pada saat melihat keberhasilan atau kebahagiaan yang sedang dialami mereka.

Penanaman nilai muditā juga diwujudkan dalam penghayatan upacara-upacara keagamaan Buddha. Gavin Douglas mencatat bahwa muditā (apresiasi simpatik) dan mettā (cinta-kasih universal) "dikaitkan dengan tindakan membunyikan dan mendengarkan lonceng" di dekat pagoda.[15]

Lihat pula

Referensi

  1. 1 2 Salzberg 1995, hlm. 119.
  2. Nyanaponika et al. 1983.
  3. Casioppo 2020, hlm. 67–73.
  4. Kheminda 2019, hlm. 188.
  5. Kheminda 2019, hlm. 185-186.
  6. 1 2 Buddhaghosa 2010, Bab IX, par. 84.
  7. 1 2 Buddhaghosa 2010, Bab IX, par. 99.
  8. 1 2 Insight Meditation Center 2018.
  9. "Definitions of Vihesa, Vihesā". Wisdom Library (dalam bahasa Inggris). 2014-08-03. Diakses tanggal 2024-09-20.
  10. Buddhaghosa 2010, Bab IX, par. 100.
  11. Kheminda 2019, hlm. 189.
  12. Harris 1994.
  13. U Pandita 2006, hlm. 51.
  14. Kheminda 2019, hlm. 189-190.
  15. Douglas 2020.

Daftar pustaka

Pranala luar

40px-Buddhism_Symbol.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail   Topik Buddhisme   40px-Flag_of_Buddhism.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Buddhisme awal
Benua
Populasi signifikan
Aliran arus utama
Sinkretis
Theravāda
Mahāyāna-Vajrayāna
Kitab daring
Buddha saat ini dan keluarga
4 tempat suci utama
Buddha penting sebelumnya
Buddha selanjutnya
Bawahan
Mahāyāna-Vajrayāna
Jenis penganut
4 tingkat kemuliaan
Tempat ibadah
Ikon rintisan

Artikel bertopik Buddhisme ini adalah sebuah rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia dengan mengembangkannya.

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan