Kamis, 05 November 2026
07:25 WIB
TERKINI
Tuba Barat Mewujudkan Haji: Pemkab Tubaba dan BSI Ajak Masyarakat Menabung Sejak Dini Lampung Timur Bupati Ela Dekatkan Diri dengan Siswa, Pastikan Kualitas Pendidikan dan Gizi di Lampung Timur Tuba Barat Kemitraan Strategis Pemkab Tubaba dan Kejari: Wujudkan Tata Kelola Pemerintahan Akuntabel Bandar Lampung Mantan Ketua DPRD Lampung Bersaksi dalam Sidang Arinal Djunaidi Bandar Lampung Senator Bustami Zainudin dan Staf DPD Lampung Ikuti Program Cek Kesehatan Gratis Bandar Lampung Padatnya Agenda Pemprov Lampung 2 November 2026: Dari Apel Hingga Forum Ekonomi Bandar Lampung Imigrasi Lampung Ungkap Modus Kawin Pesanan, Empat WNA China Diamankan di Pesawaran Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Tuba Barat Mewujudkan Haji: Pemkab Tubaba dan BSI Ajak Masyarakat Menabung Sejak Dini Lampung Timur Bupati Ela Dekatkan Diri dengan Siswa, Pastikan Kualitas Pendidikan dan Gizi di Lampung Timur Tuba Barat Kemitraan Strategis Pemkab Tubaba dan Kejari: Wujudkan Tata Kelola Pemerintahan Akuntabel Bandar Lampung Mantan Ketua DPRD Lampung Bersaksi dalam Sidang Arinal Djunaidi Bandar Lampung Senator Bustami Zainudin dan Staf DPD Lampung Ikuti Program Cek Kesehatan Gratis Bandar Lampung Padatnya Agenda Pemprov Lampung 2 November 2026: Dari Apel Hingga Forum Ekonomi Bandar Lampung Imigrasi Lampung Ungkap Modus Kawin Pesanan, Empat WNA China Diamankan di Pesawaran Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan
Middha

Middha

faktor mental dalam agama Buddha

Bagikan:
Untuk faktor-mental kemalasan yang membersamainya, lihat Thina.
Terjemahan dari
middha
Indonesiakantuk; kelambanan
Inggristorpor
sleep
drowsiness
Palimiddha
Sanskertaमिद्ध (middha)
Tionghoa睡眠 (T) / 睡眠 (S)
眠 (T) / 眠 (S)
Korea수면, 면
(RR: sumyeon, myeon)
Tibetགཉིད།
(Wylie: gnyid;
THL: nyi
)
Myanmarမိဒ္ဓ
Khmerមិទ្ឋៈ
(UNGEGN: mettheak)
Daftar Istilah Buddhis
Bagian dari Abhidhamma Theravāda
52 Cetasika
250px-Tilted_heraldic_lotus.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Buddhisme Theravāda
6 sesekali (pakiṇṇaka)
14 tidak baik (akusala)
4 tidak baik universal (akusalasādhāraṇa)
3 keserakahan (lobha)
4 kebencian (dosa)
3 yang terakhir
icon PortalBuddhisme

Middha (Pali dan Sanskerta; Dewanagari: मिद्ध), diterjemahkan sebagai kantuk atau kelambanan, adalah suatu faktor mental dalam Buddhisme. Dalam tradisi Theravāda, middha didefinisikan sebagai kondisi tidak sehat yang ditandai dengan ketidakmampuan, kurangnya energi (viriya), dan penolakan terhadap aktivitas yang baik.[1] Dalam tradisi Mahayana, middha didefinisikan sebagai faktor mental yang menyebabkan batin tertarik ke dalam, kehilangan kemampuan membedakan antara aktivitas yang baik dan yang tidak baik, dan sama sekali tidak melakukan aktivitas.[2][3]

Middha diidentifikasi dalam konteks:

Definisi

Theravāda

Dalam terjemahannya atas Abhidhammatthasaṅgaha, Bhikkhu Bodhi menjelaskan:

Middha (kelambanan/kantuk) adalah kondisi batin yang tidak sehat. Karakteristiknya adalah [batin yang] tidak dapat dikendalikan. Fungsinya adalah untuk mencekik. Middha terwujud dalam bentuk terkulai, atau mengangguk dan mengantuk. Penyebab langsungnya sama dengan kemalasan (thina).[1]

Kitab Aṭṭhasālinī (II, Kitab I, Bagian IX, Bab II, 255) menjelaskan tentang kemalasan dan kelambanan/kantuk: “Tidak adanya usaha, kesulitan karena ketidakmampuan, adalah maknanya.” Kemudian, kita membaca definisi kemalasan dan kelambanan/kantuk berikut:

Gabungan “kemalasan-kelambanan” (thina-middha) adalah kemalasan ditambah kelambanan/kantuk; Thina memiliki ciri-ciri tidak adanya, atau pertentangan, terhadap energi/usaha (viriya), penghancuran energi/usaha sebagai fungsinya, tenggelamnya keadaan-keadaan yang terkait sebagai manifestasinya; Middha memiliki ciri-ciri tidak terkendali, menutup pintu-pintu kesadaran sebagai fungsi, menyusut dalam menerima objek, atau kantuk sebagai manifestasi; dan keduanya memiliki pikiran yang tidak sistematis, dalam tidak membangkitkan diri dari ketidakpuasan dan kemalasan (atau pemanjaan), sebagai penyebab langsungnya.[4]

Nina van Gorkom menjelaskan:

Bila ada thina dan middha, maka tidak ada energi/usaha/semangat (viriya), tidak ada usaha/semangat untuk melakukan dāna, untuk mengamalkan sīla, untuk mendengarkan Dhamma, untuk mempelajari Dhamma atau untuk mengembangkan ketenangan, tidak ada energi/usaha untuk memperhatikan kenyataan yang muncul saat ini.[4]

Mahāyāna

Kitab Abhidharma-samuccaya menyatakan:

Apa itu rasa kantuk (middha)? Dengan menjadikan penyebab kantuk sebagai titik tolaknya, batin menjadi selaras dengan hal-hal positif, negatif, acuh tak acuh, tepat waktu, tidak tepat waktu, tepat, dan tidak tepat. Rasa kantuk berhubungan dengan kebingungan yang keliru. Fungsinya adalah menjadi dasar untuk menjauh dari apa yang harus dilakukan.[2]

Mipham Rinpoche menyatakan:

[Middha] menyebabkan kesadaran dari kelima pintu indra ditarik ke dalam tanpa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk, mana yang pantas dan mana yang tidak, mana yang tepat dan mana yang tidak. Ia termasuk dalam kategori delusi dan menjadi penyokong kegiatan yang merugikan.[3]

Alexander Berzin menyatakan:

Kantuk (middha; Tibet: gnyid) adalah bagian dari kenaifan/kebodohan batin (moha). Kantuk adalah penarikan diri dari kognisi sensoris, yang ditandai dengan perasaan fisik yang berat, lemah, lelah, dan kegelapan batin. Hal ini menyebabkan kita menghentikan aktivitas kita.[5]

Referensi

  1. 1 2 Bhikkhu Bodhi (2003), hlm. 84
  2. 1 2 Guenther (1975), Kindle Locations 1009-1011.
  3. 1 2 Kunsang (2004), hlm. 28.
  4. 1 2 Gorkom (2010), Definition of Sloth, Torpor, and Doubt[pranala dihapus]
  5. ↑ Berzin (2006)

Daftar pustaka

  • Berzin, Alexander (2006), Primary Minds and the 51 Mental Factors
  • Bhikkhu Bodhi (2003), A Comprehensive Manual of Abhidhamma, Pariyatti Publishing
  • Guenther, Herbert V. & Leslie S. Kawamura (1975), Mind in Buddhist Psychology: A Translation of Ye-shes rgyal-mtshan's "The Necklace of Clear Understanding" Dharma Publishing. Kindle Edition.
  • Kunsang, Erik Pema (penerjemah) (2004). Gateway to Knowledge, Vol. 1. North Atlantic Books.
  • Nina van Gorkom (2010), Cetasikas[pranala dihapus], Zolag
40px-Buddhism_Symbol.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail   Topik Buddhisme   40px-Flag_of_Buddhism.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Buddhisme awal
Benua
Populasi signifikan
Aliran arus utama
Sinkretis
Theravāda
Mahāyāna-Vajrayāna
Kitab daring
Buddha saat ini dan keluarga
4 tempat suci utama
Buddha penting sebelumnya
Buddha selanjutnya
Bawahan
Mahāyāna-Vajrayāna
Jenis penganut
4 tingkat kemuliaan
Tempat ibadah
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan