Minggu, 20 September 2026
20:57 WIB
TERKINI
Cek Fakta Kiat Cerdas Deteksi Hoaks: Hindari Jebakan Berita Palsu di Media Sosial Cek Fakta Waspada! Penipuan Undian Berhadiah Catut Nama BNI Kembali Marak Climate BMKG Ungkap Potensi Hujan Lebat Landa Sejumlah Wilayah Indonesia Pekan Ini Moto Gp Veda Ega Peringkat 16 FP2 Moto3 Austria, Hakim Danish Tembus Empat Besar Moto Gp Drama Kualifikasi Moto3 Austria: Veda Ega ke-19, Uriarte Pecahkan Rekor Hukum Selebgram JP Terjerat Vape Narkoba: Stres Picu Konsumsi Etomidate Golongan II Arsip Mengenang Multatuli: Kisah 84 Hari yang Mengukir Sejarah Lebak Arsip Max Havelaar di Sekolah Belanda: Antara Pedoman dan Kebebasan Memilih Megapolitan Aroma Tak Sedap Ganggu Pejalan Kaki Dekat Halte IRTI Monas Tren Trump Larang CNN, MS NOW, Politico dari Gedung Putih: Konflik Media Memuncak Cek Fakta Kiat Cerdas Deteksi Hoaks: Hindari Jebakan Berita Palsu di Media Sosial Cek Fakta Waspada! Penipuan Undian Berhadiah Catut Nama BNI Kembali Marak Climate BMKG Ungkap Potensi Hujan Lebat Landa Sejumlah Wilayah Indonesia Pekan Ini Moto Gp Veda Ega Peringkat 16 FP2 Moto3 Austria, Hakim Danish Tembus Empat Besar Moto Gp Drama Kualifikasi Moto3 Austria: Veda Ega ke-19, Uriarte Pecahkan Rekor Hukum Selebgram JP Terjerat Vape Narkoba: Stres Picu Konsumsi Etomidate Golongan II Arsip Mengenang Multatuli: Kisah 84 Hari yang Mengukir Sejarah Lebak Arsip Max Havelaar di Sekolah Belanda: Antara Pedoman dan Kebebasan Memilih Megapolitan Aroma Tak Sedap Ganggu Pejalan Kaki Dekat Halte IRTI Monas Tren Trump Larang CNN, MS NOW, Politico dari Gedung Putih: Konflik Media Memuncak
Middha

Middha

faktor mental dalam agama Buddha

Untuk faktor-mental kemalasan yang membersamainya, lihat Thina.
Terjemahan dari
middha
Indonesiakantuk; kelambanan
Inggristorpor
sleep
drowsiness
Palimiddha
Sanskertaमिद्ध (middha)
Tionghoa睡眠 (T) / 睡眠 (S)
眠 (T) / 眠 (S)
Korea수면, 면
(RR: sumyeon, myeon)
Tibetགཉིད།
(Wylie: gnyid;
THL: nyi
)
Myanmarမိဒ္ဓ
Khmerមិទ្ឋៈ
(UNGEGN: mettheak)
Daftar Istilah Buddhis
Bagian dari Abhidhamma Theravāda
52 Cetasika
250px-Tilted_heraldic_lotus.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Buddhisme Theravāda
6 sesekali (pakiṇṇaka)
14 tidak baik (akusala)
4 tidak baik universal (akusalasādhāraṇa)
3 keserakahan (lobha)
4 kebencian (dosa)
3 yang terakhir
20px-Flag_of_Buddhism.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail PortalBuddhisme

Middha (Pali dan Sanskerta; Dewanagari: मिद्ध), diterjemahkan sebagai kantuk atau kelambanan, adalah suatu faktor mental dalam Buddhisme. Dalam tradisi Theravāda, middha didefinisikan sebagai kondisi tidak sehat yang ditandai dengan ketidakmampuan, kurangnya energi (viriya), dan penolakan terhadap aktivitas yang baik.[1] Dalam tradisi Mahayana, middha didefinisikan sebagai faktor mental yang menyebabkan batin tertarik ke dalam, kehilangan kemampuan membedakan antara aktivitas yang baik dan yang tidak baik, dan sama sekali tidak melakukan aktivitas.[2][3]

Middha diidentifikasi dalam konteks:

Definisi

Theravāda

Dalam terjemahannya atas Abhidhammatthasaṅgaha, Bhikkhu Bodhi menjelaskan:

Middha (kelambanan/kantuk) adalah kondisi batin yang tidak sehat. Karakteristiknya adalah [batin yang] tidak dapat dikendalikan. Fungsinya adalah untuk mencekik. Middha terwujud dalam bentuk terkulai, atau mengangguk dan mengantuk. Penyebab langsungnya sama dengan kemalasan (thina).[1]

Kitab Aṭṭhasālinī (II, Kitab I, Bagian IX, Bab II, 255) menjelaskan tentang kemalasan dan kelambanan/kantuk: “Tidak adanya usaha, kesulitan karena ketidakmampuan, adalah maknanya.” Kemudian, kita membaca definisi kemalasan dan kelambanan/kantuk berikut:

Gabungan “kemalasan-kelambanan” (thina-middha) adalah kemalasan ditambah kelambanan/kantuk; Thina memiliki ciri-ciri tidak adanya, atau pertentangan, terhadap energi/usaha (viriya), penghancuran energi/usaha sebagai fungsinya, tenggelamnya keadaan-keadaan yang terkait sebagai manifestasinya; Middha memiliki ciri-ciri tidak terkendali, menutup pintu-pintu kesadaran sebagai fungsi, menyusut dalam menerima objek, atau kantuk sebagai manifestasi; dan keduanya memiliki pikiran yang tidak sistematis, dalam tidak membangkitkan diri dari ketidakpuasan dan kemalasan (atau pemanjaan), sebagai penyebab langsungnya.[4]

Nina van Gorkom menjelaskan:

Bila ada thina dan middha, maka tidak ada energi/usaha/semangat (viriya), tidak ada usaha/semangat untuk melakukan dāna, untuk mengamalkan sīla, untuk mendengarkan Dhamma, untuk mempelajari Dhamma atau untuk mengembangkan ketenangan, tidak ada energi/usaha untuk memperhatikan kenyataan yang muncul saat ini.[4]

Mahāyāna

Kitab Abhidharma-samuccaya menyatakan:

Apa itu rasa kantuk (middha)? Dengan menjadikan penyebab kantuk sebagai titik tolaknya, batin menjadi selaras dengan hal-hal positif, negatif, acuh tak acuh, tepat waktu, tidak tepat waktu, tepat, dan tidak tepat. Rasa kantuk berhubungan dengan kebingungan yang keliru. Fungsinya adalah menjadi dasar untuk menjauh dari apa yang harus dilakukan.[2]

Mipham Rinpoche menyatakan:

[Middha] menyebabkan kesadaran dari kelima pintu indra ditarik ke dalam tanpa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk, mana yang pantas dan mana yang tidak, mana yang tepat dan mana yang tidak. Ia termasuk dalam kategori delusi dan menjadi penyokong kegiatan yang merugikan.[3]

Alexander Berzin menyatakan:

Kantuk (middha; Tibet: gnyid) adalah bagian dari kenaifan/kebodohan batin (moha). Kantuk adalah penarikan diri dari kognisi sensoris, yang ditandai dengan perasaan fisik yang berat, lemah, lelah, dan kegelapan batin. Hal ini menyebabkan kita menghentikan aktivitas kita.[5]

Referensi

  1. 1 2 Bhikkhu Bodhi (2003), hlm. 84
  2. 1 2 Guenther (1975), Kindle Locations 1009-1011.
  3. 1 2 Kunsang (2004), hlm. 28.
  4. 1 2 Gorkom (2010), Definition of Sloth, Torpor, and Doubt
  5. Berzin (2006)

Daftar pustaka

  • Berzin, Alexander (2006), Primary Minds and the 51 Mental Factors
  • Bhikkhu Bodhi (2003), A Comprehensive Manual of Abhidhamma, Pariyatti Publishing
  • Guenther, Herbert V. & Leslie S. Kawamura (1975), Mind in Buddhist Psychology: A Translation of Ye-shes rgyal-mtshan's "The Necklace of Clear Understanding" Dharma Publishing. Kindle Edition.
  • Kunsang, Erik Pema (penerjemah) (2004). Gateway to Knowledge, Vol. 1. North Atlantic Books.
  • Nina van Gorkom (2010), Cetasikas, Zolag
40px-Buddhism_Symbol.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail   Topik Buddhisme   40px-Flag_of_Buddhism.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Buddhisme awal
Benua
Populasi signifikan
Aliran arus utama
Sinkretis
Theravāda
Mahāyāna-Vajrayāna
Kitab daring
Buddha saat ini dan keluarga
4 tempat suci utama
Buddha penting sebelumnya
Buddha selanjutnya
Bawahan
Mahāyāna-Vajrayāna
Jenis penganut
4 tingkat kemuliaan
Tempat ibadah
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan