Sabtu, 26 September 2026
02:44 WIB
TERKINI
Regional Bupati Gowa Sitti Husniah Talenrang Tersangka Pemerasan Perizinan Bangunan dan TPPU Bandar Lampung Puluhan Siswa di Lampung Tengah Diduga Keracunan Makanan Program MBG Account KG Media ID: Satu Akun untuk Kemudahan Akses Seluruh Layanan Digital Ekonomi Dan Bisnis Harga Buyback Emas Antam Anjlok Rp20 Ribu per Gram pada 25 September 2026 Lampung DPRD Lampung Tengah Soroti Perubahan Substansi Perda SOTK Tanpa Pemberitahuan Teknologi Meta Rilis Muse Charm: Gadget Saku Cerdas dengan Asisten AI Revolusioner Berita KAI Siap Gerakkan Rail Clinic ke Pelosok, Perluas Akses Kesehatan Masyarakat Bandar Lampung Inovasi Pendidikan Lampung: Guru Ahli Mengajar Lintas Sekolah Tingkatkan Mutu Nasional Bandar Lampung Tragedi Kelengkeng di Lampung Tengah: Siswa 9 Tahun Meninggal, Program MBG Dievaluasi Account KG Media ID: Satu Akun untuk Seluruh Ekosistem Digital Kompas Gramedia Regional Bupati Gowa Sitti Husniah Talenrang Tersangka Pemerasan Perizinan Bangunan dan TPPU Bandar Lampung Puluhan Siswa di Lampung Tengah Diduga Keracunan Makanan Program MBG Account KG Media ID: Satu Akun untuk Kemudahan Akses Seluruh Layanan Digital Ekonomi Dan Bisnis Harga Buyback Emas Antam Anjlok Rp20 Ribu per Gram pada 25 September 2026 Lampung DPRD Lampung Tengah Soroti Perubahan Substansi Perda SOTK Tanpa Pemberitahuan Teknologi Meta Rilis Muse Charm: Gadget Saku Cerdas dengan Asisten AI Revolusioner Berita KAI Siap Gerakkan Rail Clinic ke Pelosok, Perluas Akses Kesehatan Masyarakat Bandar Lampung Inovasi Pendidikan Lampung: Guru Ahli Mengajar Lintas Sekolah Tingkatkan Mutu Nasional Bandar Lampung Tragedi Kelengkeng di Lampung Tengah: Siswa 9 Tahun Meninggal, Program MBG Dievaluasi Account KG Media ID: Satu Akun untuk Seluruh Ekosistem Digital Kompas Gramedia
Phassa

Phassa

konsep bertemunya objek, indra-indra, dan kesadaran dalam Buddhisme

Artikel ini bukan mengenai Perasaan (Buddhisme).
Bagian dari seri tentang
Buddhisme
120px-Dharma_Wheel_%282%29.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Keyakinan
Tiga corak
Gugusan
Faktor mental
Meditasi
Bakti
Praktik lainnya
Bagian dari Abhidhamma Theravāda
52 Cetasika
250px-Tilted_heraldic_lotus.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Buddhisme Theravāda
6 sesekali (pakiṇṇaka)
14 tidak baik (akusala)
4 tidak baik universal (akusalasādhāraṇa)
3 keserakahan (lobha)
4 kebencian (dosa)
3 yang terakhir
20px-Flag_of_Buddhism.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail PortalBuddhisme

Dalam Buddhisme, phassa (Pali; Sanskerta: स्पर्श, sparśa), diterjemahkan sebagai kontak indra atau kesan indra, didefinisikan sebagai pertemuan tiga faktor: organ indra, objek indra, dan kesadaran indra (viññāṇa).[1][2] Misalnya, salah satu kontak (phassa) dikatakan terjadi pada pertemuan organ mata, objek visual, dan kesadaran indra visual. Phassa diidentifikasi dalam ajaran Buddha sebagai:

Penjelasan

Enam jenis kontak

Baik aliran Theravāda maupun Mahāyāna mengidentifikasi enam jenis kontak:[1][3]

  • kontak-mata
  • kontak-telinga
  • kontak-hidung
  • kontak-lidah
  • kontak-tubuh
  • kontak-batin

Misalnya, ketika landasan indra telinga dan objek suara hadir, maka kesadaran-telinga (Pali: sota-viññāṇa) muncul. Kemunculan ketiga unsur (dhātu) ini–landasan indra telinga, suara, dan kesadaran-telinga–mengarah pada “kontak” (phassa).[4]

Delapan belas unsur (aṭṭhārasa dhātuyo) dari landasan indra (āyatana) internal-eksternal yang mengondisikan kontak (phassa)
No. Unsur indra
(indriya-dhātu)
No. Unsur objek
(ārammaṇa-dhātu)
No. Unsur kesadaran
(viññāṇa-dhātu)
1. unsur mata
(cakkhudhātu)
7. rupa visual
(rūpadhātu)
13. kesadaran mata
(cakkhuviññāṇadhātu)
2. unsur telinga
(sotadhātu)
8. suara
(saddadhātu)
14. kesadaran telinga
(sotaviññāṇadhātu)
3. unsur hidung
(ghānadhātu)
9 ganda/bau
(gandhadhātu)
15. kesadaran hidung
(ghānaviññāṇadhātu)
4. unsur lidah
(jivhādhātu)
10. rasa
(rasadhātu)
16. kesadaran lidah
(jivhāviññāṇadhātu)
5. unsur tubuh
(kāyadhātu)
11. sentuhan
(phoṭṭhabbadhātu)
17. kesadaran tubuh
(kāyaviññāṇadhātu)
6. unsur batin
(manodhātu)
12. objek batiniah
(dhammadhātu)
18. kesadaran batin
(manoviññāṇadhātu)

Penafsiran Theravāda

Kitab Aṭṭhasālinī (Expositor, Bagian IV, Bab I, 108) menyatakan:

Kontak berarti "menyentuh". Ia mempunyai sentuhan sebagai karakteristik/ciri utamanya, benturan sebagai fungsinya, “berkumpul/bersatunya” (dari landasan fisik, objek, dan kesadaran) sebagai manifestasinya, dan objek yang telah memasuki jangkauan perhatian sebagai penyebab terdekatnya.[5]

Nina van Gorkom menjelaskan:

Phassa terwujud melalui bertemunya atau persetujuan, yaitu melalui bertemunya tiga faktor: landasan fisik (vatthu), objek, dan kesadaran.
Ketika ada aktivitas 'melihat', maka ada pertemuan antara mata (landasan-indra mata), objek yang terlihat, dan kesadaran-mata; melalui pertemuan ini, phassa, yang dalam hal ini adalah kontak-mata, termanifestasikan.[5]

Nina van Gorkom juga menjelaskan:

Phassa berbeda dari apa yang kita maksud dalam bahasa konvensional dengan kontak fisik atau sentuhan fisik. Ketika kita menggunakan kata kontak dalam bahasa konvensional, kita mungkin mengartikannya sebagai tekanan dari sesuatu yang eksternal pada salah satu indra, misalnya tekanan kekerasan (hardness) pada indra tubuh. Kita mungkin menggunakan kata-kata seperti sentuhan atau tekanan untuk menggambarkan phassa, tetapi kita tidak boleh lupa bahwa phassa adalah nāma (batiniah), suatu cetasika yang muncul bersama dengan citta dan membantu citta sehingga ia dapat mengalami objek yang menampilkan dirinya melalui pintu gerbang indrawi yang tepat. Bila kekerasan menghadirkan dirinya melalui indra tubuh, maka terjadilah phassa, kontak, yang timbul bersama dengan citta yang mengalami kekerasan tersebut. Phassa bukan sekadar benturan keras dengan indra tubuh, ia bukanlah sentuhan dalam arti fisik. Benturan adalah fungsi dari phassa dalam artian bahwa ia membantu citta sehingga dapat mengenali objek.[5]

Dalam terjemahannya atas kitab Abhidhammatthasaṅgaha, Ashin Kheminda menjelaskan bahwa phassa didefinisikan dalam empat batasan:[6]

  • Karakteristik: menyentuh (phusanalakkhaṇa).
  • Fungsi: menyebabkan terjadinya benturan antara objek dengan kesadaran (saṅghaṭṭanarasa).
  • Manifestasi: berkumpul atau bersatunya kesadaran, landasan, dan objek (sannipātapaccupaṭṭhāna).
  • Sebab-terdekat: objek yang telah masuk ke dalam jangkauan perhatian (āpāthagatavisayapadaṭṭhāna).

Lebih lanjut, dijelaskan bahwa:

Arti dari kontak adalah menyentuh. Walaupun kontak adalah dhamma nonmateri, tetapi perilaku kemunculannya seolah-olah menyentuh objeknya. Ilustrasinya seperti kejadian pada saat air liur keluar ketika kita melihat orang lain sedang makan buah mangga yang masam. Walaupun secara fisik kita tidak bersentuhan dengan buah mangga tersebut, tetapi kontak secara mental menyentuh buah tersebut. Atau munculnya perasaan berdebar-debar pada saat melihat seseorang berdiri di atas bangunan bertingkat yang sangat tinggi. Contoh lain adalah pada saat seseorang dicekam ketakutan dan mendadak seperti lumpuh/tidak bisa bergerak sebagai akibat dari ketakutannya berada di ruang yang gelap dan tidak ada cahaya sama sekali. Kelumpuhan terjadi setelah kontak menyentuh objek pikiran dia. Kontak bisa juga diibaratkan seperti sinar yang menimpa dan seolah-olah menyentuh dinding. Cerita-cerita di atas adalah ilustrasi yang menggambarkan bagaimana bekerjanya kontak dalam menyentuh objeknya.[6]

Penafsiran Mahāyāna

Kitab Abhidharma-samuccaya menyatakan:

Apa itu sparsha (kontak)? Itulah determinasi, suatu transformasi dalam kekuatan pengendalian, yang sesuai dengan ketiga faktor yang bersatu. Fungsinya adalah untuk menyediakan landasan bagi perasaan.[1]

Herbert Guenther menjelaskan:

Adalah kesadaran yang meliputi perasaan senang [atau tidak senang atau netral] yang dirasakan ketika objek, kapasitas sensori, dan proses kognitif telah bersatu dan terbatas pada objek yang sesuai. Transformasi dalam daya pengendalian berarti bahwa ketika indra penglihatan bertemu dengan suatu objek yang menyenangkan [misalnya] dan perasaan menjadi penyebab untuk melekat pada kesenangan tersebut, kontak [sparsha] membatasi bentuk-warna yang menyenangkan dan perasaan menjadi penyebab kesenangan.[1]

Dalam dua belas mata rantai

  12 Mata Rantai (nidāna) 
Kemunculan Bersebab:
Ketidaktahuan (avijjā)
↓
Formasi (saṅkhārā)
↓
Kesadaran (viññāṇa)
↓
Batin-&-Jasmani (nāmarūpa)
↓
6 Landasan Indra (saḷāyatana)
↓
Kontak (phassa)
↓
Perasaan (vedanā)
↓
Nafsu (taṇhā)
↓
Kemelekatan (upādāna)
↓
Kemenjadian (bhava)
↓
Kelahiran (jati)
↓
Tua & Mati (jarā-maraṇa)

Phassa adalah yang keenam dari dua belas nidāna dalam Kemunculan Bersebab. Phassa dikondisikan oleh kehadiran enam landasan-indra (saḷāyatana), dan pada gilirannya merupakan kondisi bagi munculnya 'sensasi' atau 'perasaan' (vedanā) yang menyenangkan, tidak menyenangkan, atau netral (bukan-menyenangkan-dan-bukan-tidak-menyenangkan).

Dan Lusthaus menjelaskan:

phassa (S. sparśa) - Secara harfiah 'sentuhan' atau 'kontak sensoris'. Istilah ini kemudian digunakan secara beragam dalam berbagai sistem pemikiran India, tetapi di sini artinya hanyalah bahwa organ indra 'berhubungan dengan' objek sensoris. Sirkuit berkehendak, atau meminjam istilah Merleau-Ponty, busur kehendak (intentional arc), bersifat operasional. Istilah ini dapat diterjemahkan sebagai 'sensasi'[a] selama ini dikualifikasikan sebagai proses konstitusional dan aktif yang selalu dikontekstualisasikan dalam dimensi psiko-kognitifnya. Bagi umat Buddha, kontak tidak bisa pasif atau semata-mata merupakan masalah fisik atau neurologis. Ketika kondisi sensoris yang tepat berkumpul, yaitu bersentuhan satu sama lain, kontak pun terjadi. Kondisi-kondisi yang tepat ini mencakup sebuah organ indra yang berfungsi dengan baik dan sebuah objek kognitif-sensoris, yang sudah mengandaikan sebuah tubuh sadar yang kompleks secara linguistik (nāma-rūpa).[7]

Jeffrey Hopkins menjelaskan:

Secara kasar, [phassa mengacu pada] pertemuan antara sebuah objek, sebuah organ indra, dan sebuah momen kesadaran. Maka kontak, dalam dua belas mata rantai (nidāna), mengacu pada kontak dengan objek indra dan pembedaan selanjutnya terhadap objek tersebut sebagai menarik, tidak menarik, atau netral. Objek-objek indra selalu hadir, dan ketika organ indra—materi halus yang memungkinkan seseorang melihat, mendengar, dan sebagainya—berkembang,[b] kesadaran mata, kesadaran telinga, kesadaran hidung, kesadaran lidah, atau kesadaran tubuh akan muncul.[8]

Alexander Berzin memberikan penjelasan tentang hubungan keenam dalam konteks perkembangan janin; ia menyatakan:

Yang keenam dari dua belas mata rantai (nidāna) dalam Kemunculan Bersebab. Faktor-faktor mental (cetasika) dari kontak (phassa) selama kurun waktu dalam perkembangan janin ketika kelompok pembeda dan variabel-variabel afek lainnya seperti aktivitas berkontak berfungsi, tetapi kelompok perasaan belum berfungsi. Selama masa ini, seseorang mengalami kontak terhadap objek-objek yang diidentifikasi sebagai menyenangkan, tidak menyenangkan, atau netral, tetapi tidak merasa senang, tidak-senang, atau netral dalam menanggapi hal ini.[9]

Dalam lima gugusan

Artikel utama: Gugusan (Buddhisme)

Dalam konteks lima gugusan, phassa merupakan dasar implisit yang dengannya bentukan materi/rupa (rūpa) dan kesadaran (viññāṇa) mengarah pada faktor-mental perasaan (vedanā), persepsi (saññā), dan formasi (saṅkhāra).

 Figur 1:
Lima Gugusan (pañcakkhandha)

sesuai dengan Tripitaka Pali.
 
 
rupa (rūpa)
  4 unsur
(mahābhūta)
   
   
    ↓
      
 kontak 
(phassa)


    ↓ ↑
 
kesadaran
(viññāṇa)

 
 
 
 
 

→
←
 
 
 
←
  faktor mental (cetasika)  
 
perasaan
(vedanā)

 
 
 
persepsi
(saññā)

 
 
 
formasi
(saṅkhāra)

 
 
 
 
Sumber: MN 109 (Thanissaro, 2001)

Hubungannya dengan indra dan nafsu

Figur 2: Enam Kelompok-Enam
sesuai Tripitaka Pali:
 
  landasan indra (āyatana)  
 
→
     
 
→
     
  organ
indra
"internal"
↔ objek
indra
"eksternal"
 
 
↓ ↓
↓ kontak (phassa)
↓ ↑
   
kesadaran (viññāṇa)
 
 
 
  1. Enam landasan indra internal adalah mata, telinga, hidung, lidah, tubuh, dan batin.
  2. Enam landasan indra eksternal adalah warna, suara, bau, rasa, sentuhan, dan objek-objek batiniah.
  3. Kesadaran yang sesuai muncul dengan bergantung pada sepasang landasan indra internal–eksternal.
  4. Kontak adalah pertemuan dari suatu landasan indra internal, landasan indra eksternal, dan kesadaran.
  5. Perasaan bergantung pada kontak.
  6. Nafsu bergantung pada perasaan.
Sumber: MN 148 (Thanissaro, 1998)

Terjemahan alternatif

  • Contact (Erik Pema Kusang, Jeffrey Hopkins, Nina van Gorkom)
  • Contacting awareness (Alexander Berzin)
  • Rapport (Herbert Guenther)
  • Sensation (Dan Lusthaus)
  • Sense impression
  • Touch (Jeffrey Hopkins)
  • Touching (Jeffrey Hopkins)

Lihat juga

Catatan

  1. ↑ Bedakan dari vedanā, yang juga mungkin diterjemahkan sebagai sensasi).
  2. ↑ Organ indra berkembang pada mata rantai kelima dari dua belas nidāna.

Referensi

  1. 1 2 3 4 Guenther (1975), Kindle Locations 401-405.
  2. ↑ Kunsang (2004), hlm. 23.
  3. ↑ "Paticca-samuppada-vibhanga Sutta: Analysis of Dependent Co-arising". Access to Insight.
  4. ↑ "Chachakka Sutta: The Six Sextets". Access to Insight.
  5. 1 2 3 Gorkom (2010), Definition of Contact
  6. 1 2 Kheminda, Ashin (2019-09-01). Manual Abhidhamma: Bab 2 Faktor-Faktor-Mental. Yayasan Dhammavihari. hlm. 32. ISBN 978-623-94342-7-4.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  7. ↑ Lusthaus, Dan (4 Februari 2014). Buddhist Phenomenology: A Philosophical Investigation of Yogacara Buddhism and the Ch'eng Wei-shih Lun. Routledge. ISBN 9781317973423 – via Google Books.
  8. ↑ Dalai Lama (1992), hlm. 18 (dari Introduction by Jeffrey Hopkins)
  9. ↑ Definitions of Sparsha (Tibetan: reg-pa), Alexander Berzin

Daftar pustaka

  • Bhikkhu Bodhi (2003), A Comprehensive Manual of Abhidhamma, Pariyatti Publishing
  • Dalai Lama (1992). The Meaning of Life, translated and edited by Jeffrey Hopkins, Boston: Wisdom.
  • Dan Lusthaus, Buddhist Phenomenology
  • Guenther, Herbert V. & Leslie S. Kawamura (1975), Mind in Buddhist Psychology: A Translation of Ye-shes rgyal-mtshan's "The Necklace of Clear Understanding" Dharma Publishing. Kindle Edition.
  • Kunsang, Erik Pema (penerjemah) (2004). Gateway to Knowledge, Vol. 1. North Atlantic Books.
  • Nina van Gorkom (2010), Cetasikas[pranala dihapus], Zolag

Pranala luar

Didahului oleh:
Saḷāyatana
12 mata rantai
Phassa
Diteruskan oleh:
Vedanā
40px-Buddhism_Symbol.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail   Topik Buddhisme   40px-Flag_of_Buddhism.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Buddhisme awal
Benua
Populasi signifikan
Aliran arus utama
Sinkretis
Theravāda
Mahāyāna-Vajrayāna
Kitab daring
Buddha saat ini dan keluarga
4 tempat suci utama
Buddha penting sebelumnya
Buddha selanjutnya
Bawahan
Mahāyāna-Vajrayāna
Jenis penganut
4 tingkat kemuliaan
Tempat ibadah
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan