Jumat, 23 Oktober 2026
23:22 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Polisi Hadir di Jalanan: Ratusan Makan Siang Gratis Eratkan Hubungan Warga Bandar Lampung Bandar Lampung Ancaman Serius TNBBS: 23 Kasus Pidana Kehutanan Terungkap dalam Satu Dekade Bandar Lampung Penipuan Rekrutmen Honorer Rp20 Juta di Bandar Lampung Berakhir Damai Bandar Lampung Transformasi 40 Tahun FISIP Unila: Dari Prestasi Global hingga Riset Solutif Lampung Bandar Lampung Sinergi Lintas Sektor: TNBBS Perkuat Penegakan Hukum Lingkungan dengan Enam Strategi Bandar Lampung Dorong Gaya Hidup Sehat, Pemkot Bandar Lampung Dukung Jalan Sehat Akbar di Panjang Bandar Lampung Peringatan Petugas Diabaikan, Pemotor Tewas Tertabrak Kereta Babaranjang di Bandar Lampung Lampung Selatan Kolom Abu Anak Krakatau Capai 500 Meter, Warga Lampung Selatan Diimbau Waspada Pesawaran Unila Dampingi Orkes Gambus Al-Anwar: Tradisi Bertemu Teknologi Modern Bandar Lampung Kualitas Udara Bandar Lampung: Kelompok Sensitif Diminta Tetap Waspada Bandar Lampung Polisi Hadir di Jalanan: Ratusan Makan Siang Gratis Eratkan Hubungan Warga Bandar Lampung Bandar Lampung Ancaman Serius TNBBS: 23 Kasus Pidana Kehutanan Terungkap dalam Satu Dekade Bandar Lampung Penipuan Rekrutmen Honorer Rp20 Juta di Bandar Lampung Berakhir Damai Bandar Lampung Transformasi 40 Tahun FISIP Unila: Dari Prestasi Global hingga Riset Solutif Lampung Bandar Lampung Sinergi Lintas Sektor: TNBBS Perkuat Penegakan Hukum Lingkungan dengan Enam Strategi Bandar Lampung Dorong Gaya Hidup Sehat, Pemkot Bandar Lampung Dukung Jalan Sehat Akbar di Panjang Bandar Lampung Peringatan Petugas Diabaikan, Pemotor Tewas Tertabrak Kereta Babaranjang di Bandar Lampung Lampung Selatan Kolom Abu Anak Krakatau Capai 500 Meter, Warga Lampung Selatan Diimbau Waspada Pesawaran Unila Dampingi Orkes Gambus Al-Anwar: Tradisi Bertemu Teknologi Modern Bandar Lampung Kualitas Udara Bandar Lampung: Kelompok Sensitif Diminta Tetap Waspada

Muditā

Bagikan:
Artikel ini berisi tentang konsep Buddhisme terkait rasa simpati atas keberhasilan orang lain. Untuk rasa simpati atas kemalangan orang lain, lihat Karuṇā. Untuk faktor mental keluwesan, lihat Mudutā.
Terjemahan dari
muditā
Indonesiasimpati
apresiasi simpatik
turut apresiasi
Inggrisappreciative joy
sympathetic joy
Paliमुदिता
Sanskertaमुदिता
Tionghoa喜
(Pinyin: xǐ)
Jepang喜
(rōmaji: ki)
Myanmarမုဒိတာ
(MLCTS: mṵdḭtà)
Thaiมุทิตา
(RTGS: muthitaa)
Vietnamhỷ
Khmerមុទិតា
(UNGEGN: mŭtĭta)
Sinhalaමුදිතා
Daftar Istilah Buddhis
Bagian dari seri tentang
Buddhisme
120px-Dharma_Wheel_%282%29.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Keyakinan
Tiga corak
Gugusan
Faktor mental
Meditasi
Bakti
Praktik lainnya

Muditā (bahasa Pali dan Sanskerta; Dewanagari: मुदिता), diterjemahkan sebagai rasa simpati,[a] turut berbahagia atas kebahagiaan orang lain,[b] atau kegembiraan simpatik,[c] adalah konsep tentang apresiasi simpatik, yaitu sikap batin yang secara tulus mengapresiasi keberhasilan atau kesejahteraan orang lain.[2] Muditā (apresiasi simpatik) adalah salah satu dari empat sifat luhur (Brahmavihāra), bersama dengan mettā (cinta kasih), karuṇā (belas kasih), dan upekkhā (keseimbangan batin). Dalam ajaran Buddha, keempat sifat ini perlu dikembangkan dan dipancarkan ke segala arah untuk membersihkan batin, menghindari akibat buruk, serta membawa kebahagiaan.

Penerapan

Suttapiṭaka

Lihat pula: Sutta Piṭaka

Dalam Tripitaka Pali, meditasi muditā memupuk rasa apresiasi simpatik atas keberhasilan dan nasib baik orang lain.[3] Buddha Gotama menggambarkan jenis meditasi ini dengan cara berikut:

Kemudian dengan pikiran dipenuhi … dengan kegembiraan simpatik [muditā], … ia berdiam dengan meliputi satu arah, arah ke dua, ke tiga, ke empat. Demikianlah ia berdiam dengan meliputi seluruh dunia, ke atas, ke bawah, ke sekeliling, ke segala penjuru, selalu dengan pikiran yang dipenuhi dengan [kegembiraan simpatik], berlimpah, tanpa rintangan, tanpa kebencian atau permusuhan. Puna caparaṁ, vāseṭṭha, bhikkhu muditāsahagatena cetasā ekaṁ disaṁ pharitvā viharati. Tathā dutiyaṁ. Tathā tatiyaṁ. Tathā catutthaṁ. Iti uddhamadho tiriyaṁ sabbadhi sabbattatāya sabbāvantaṁ lokaṁ muditāsahagatena cetasā vipulena mahaggatena appamāṇena averena abyāpajjena pharitvā viharati.
— Tevijja Sutta, DN 13
terj. Indra Anggara

Dengan demikian, muditā juga disebut sebagai 'apresiasi tanpa pamrih'.[4]

Abhidhammapiṭaka

Bagian dari Abhidhamma Theravāda
52 Cetasika
250px-Tilted_heraldic_lotus.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Buddhisme Theravāda
6 sesekali (pakiṇṇaka)
14 tidak baik (akusala)
4 tidak baik universal (akusalasādhāraṇa)
3 keserakahan (lobha)
4 kebencian (dosa)
3 yang terakhir
icon PortalBuddhisme

Menurut tradisi Abhidhamma aliran Theravāda, muditā merupakan salah satu faktor mental indah, sebagai bagian dari kategori faktor mental "tanpa-batas". Muditā, sebagai suatu faktor mental, didefinisikan dalam empat batasan:[5]

  • Karakteristik (lakkhaṇa): kepuasan batin (pamodana-lakkhaṇa).
  • Fungsi (rasa): tiadanya iri hati (anissāyana-rasa).
  • Manifestasi (paccupaṭṭhāna): kehancuran rasa tidak-senang (arativighāta-paccupaṭṭhāna).
  • Sebab-terdekat (padaṭṭhāna): melihat keberhasilan [makhluk lain] (sampattidassana-padaṭṭhāna).

Objek yang diambil oleh muditā merupakan kebalikan dari objek yang diambil oleh karuṇā. Muditā mengambil makhluk-makhluk bahagia sebagai objeknya, sedangkan karuṇā perlu mengambil makhluk-makhluk menderita sebagai objeknya.[1]

Visuddhimagga

Lihat pula: Visuddhimagga

Kitab Visuddhimagga menjelaskan bahwa muditā adalah turut mengapresiasi keberhasilan (Pali: sampatti-modanā) yang didapatkan oleh makhluk lain dengan harapan "semoga mereka tidak berpisah dari keberhasilan (atau kesejahteraan) yang telah mereka peroleh" (laddha-sampattito mā vigacchantu).[6]

Sebagai panduan teknis objek meditasinya, Visuddhimagga tidak menyarankan seorang praktisi untuk langsung memancarkan simpati kepada orang yang netral (tidak memiliki kedekatan emosional) atau orang yang dibenci (musuh). Sebaliknya, objek yang harus diambil terlebih dahulu adalah pamudita puggala—yakni individu yang sedang menikmati keberuntungan, pencapaian, atau kesejahteraan hidup. Secara lebih spesifik, teks ini merekomendasikan untuk membayangkan seorang sahabat karib yang sangat disayangi (atippiyasahāyaka) yang sedang dilimpahi keberhasilan tersebut. Membayangkan sosok ini dinilai paling efektif untuk memantik kemunculan apresiasi simpatik secara alami.[6]

Selain itu, Visuddhimagga juga menjelaskan "musuh jauh" (dūrapaccatthika) dan "musuh dekat" (āsannapaccatthika) dari setiap sifat dalam Brahmavihāra:[7][8]

Empat sifat luhur dalam Buddhisme Theravāda
Sutta Abhidhamma Visuddhimagga
Sifat luhur
(brahmavihāra)
Faktor mental
(cetasika)
Musuh dekat
(āsannapaccatthika)
Musuh jauh
(dūrapaccatthika)
cinta kasih (mettā) tanpa-kebencian (adosa) nafsu (rāga) niat jahat (vyāpāda/byāpāda)
belas kasih (karuṇā) belas kasih (karuṇā) dukacita batiniah duniawi
(gehasita-domanassa)
kekejaman (vihesā/vihiṃsā)
simpati positif (muditā) simpati positif (muditā) sukacita batiniah duniawi
(gehasita-somanassa)
rasa tidak-senang (arati)
ketenangan (upekkhā) keseimbangan batin (tatramajjhattatā) tanpa-pengetahuan (aññāṇa) nafsu dan antipati (rāgapaṭighā)

"Musuh jauh" (dūrapaccatthika) merujuk pada keadaan batin yang jelas-jelas bertentangan, sedangkan "musuh dekat" (āsannapaccatthika) merujuk pada keadaan batin yang seolah-olah serupa, tetapi sebenarnya berlawanan dari sifat luhurnya.[7] Kitab Visuddhimagga menjelaskan bahwa "musuh jauh" dari muditā adalah rasa tidak-senang (arati), suatu kondisi batin yang kualitasnya jelas-jelas bertentangan dengan apresiasi simpatik. Sementara itu, "musuh dekat" dari muditā adalah perasaan kesenangan batiniah duniawi (gehasita-somanassa), yang merujuk pada kebahagiaan sensual yang berpusat pada kepuasan pancaindra.[9][8][10]

Penjelasan guru

Menurut guru Buddhis modern, muditā dianggap sebagai hal yang sulit untuk dilatih karena menunjukkan muditā berarti turut mengapresiasi pencapaian orang lain bahkan ketika kita sendiri sedang menghadapi kemalangan.[2][11] Sayadaw U Pandita mencatat bahwa muditā tidak sama seperti apresiasi palsu atau rasa iri hati. Artinya, merasa puas di atas kemalangan orang lain bukanlah muditā, begitu pula dengan 'senyuman licik' dan 'pujian palsu'.[12]

Dalam Manual Abhidhamma, Ashin Kheminda menjelaskan:[13]

... Kualitas yang mulia ditunjukkan oleh kemampuan dari faktor-mental ini (muditā) untuk menghancurkan rasa tidak suka (arati) terhadap makhluk yang menjadi objek kesadaran.

“Kawan, pembebasan-batin yang disebut simpati tersebut adalah jalan keluar dari rasa tidak suka.” (Nissaraṇañhetaṃ, āvuso, aratiyā yadidaṃ muditācetovimutti)

Kalimat Buddha tersebut di atas memberikan arah yang benar kepada kita pada saat menghadapi situasi sulit di dalam kehidupan, khususnya pada saat kita tidak bisa memberikan apresiasi kepada mereka yang sedang bahagia atau mencapai keberhasilan di dalam kehidupannya.
Iri hati (issā) menghalangi munculnya kegembiraan dan membuat hati menjadi gelap gulita. Seseorang yang tidak mengerti Dhamma akan cenderung menyalahkan mereka yang tidak disukai atau yang menjadi objek iri hatinya. Akan tetapi, dengan petunjuk dari Buddha di atas, kita menjadi paham apa yang harus dilakukan pada saat hati dikuasai oleh kualitas-kualitas yang negatif seperti itu. Dengan melatih hati untuk mengapresiasi dan bergembira atas keberhasilan orang lain, maka secara perlahan suasana hati menjadi terang benderang. Dengan hancurnya rasa tidak suka (arati) di hati, maka seseorang hanya akan melihat kualitas positif yang ada di makhluk lain, dan dengan demikian dia akan bisa menghindari iri hati (issā) pada saat melihat keberhasilan atau kebahagiaan yang sedang dialami mereka.

Penanaman nilai muditā juga diwujudkan dalam penghayatan upacara-upacara keagamaan Buddha. Gavin Douglas mencatat bahwa muditā (apresiasi simpatik) dan mettā (cinta-kasih universal) "dikaitkan dengan tindakan membunyikan dan mendengarkan lonceng" di dekat pagoda.[14]

Lihat pula

Catatan

  1. ↑ Bedakan dari karuṇā, yang juga dapat disebut sebagai rasa simpati, tetapi atas penderitaan orang lain. Muditā mengambil makhluk-makhluk yang bahagia sebagai objeknya, sedangkan karuṇā mengambil makhluk-makhluk yang menderita.[1]
  2. ↑ Bedakan dari sukha dalam konteks vedanā, yaitu perasaan menyenangkan yang dialami oleh seseorang.
  3. ↑ Bedakan dari pīti (kegiuran), yaitu rasa gembira atau girang yang muncul dalam batin, misalnya sebagai salah satu faktor jhāna.

Referensi

Sitasi

  1. 1 2 Kheminda 2019, hlm. 185–186.
  2. 1 2 Salzberg 1995, hlm. 119.
  3. ↑ Nyanaponika et al. 1983.
  4. ↑ Casioppo 2020, hlm. 67–73.
  5. ↑ Kheminda 2019, hlm. 188.
  6. 1 2 Buddhaghosa 2010, Bab IX, par. 84.
  7. 1 2 Buddhaghosa 2010, Bab IX, par. 99.
  8. 1 2 Insight Meditation Center 2018.
  9. ↑ Buddhaghosa 2010, Bab IX, par. 100.
  10. ↑ Kheminda 2019, hlm. 189.
  11. ↑ Harris 1994.
  12. ↑ U Pandita 2006, hlm. 51.
  13. ↑ Kheminda 2019, hlm. 189–190.
  14. ↑ Douglas 2020.

Daftar pustaka

Sumber buku

Sumber jurnal

Sumber web

  • Harris, Elizabeth J. (1994). "A Journey into Buddhism". Access to Insight. Diakses tanggal 2023-10-01.
  • Insight Meditation Center (2018). "Dhamma Lists". Insight Meditation Center. Redwood City, Calif. Diakses tanggal 2018-03-27.

Bacaan lanjutan

Pranala luar

40px-Buddhism_Symbol.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail   Topik Buddhisme   40px-Flag_of_Buddhism.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Buddhisme awal
Benua
Populasi signifikan
Aliran arus utama
Sinkretis
Theravāda
Mahāyāna-Vajrayāna
Kitab daring
Buddha saat ini dan keluarga
4 tempat suci utama
Buddha penting sebelumnya
Buddha selanjutnya
Bawahan
Mahāyāna-Vajrayāna
Jenis penganut
4 tingkat kemuliaan
Tempat ibadah
Ikon rintisan

Artikel bertopik Buddhisme ini adalah sebuah rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia dengan mengembangkannya.

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan