Minggu, 20 September 2026
22:44 WIB
TERKINI
Cek Fakta Kiat Cerdas Deteksi Hoaks: Hindari Jebakan Berita Palsu di Media Sosial Cek Fakta Waspada! Penipuan Undian Berhadiah Catut Nama BNI Kembali Marak Climate BMKG Ungkap Potensi Hujan Lebat Landa Sejumlah Wilayah Indonesia Pekan Ini Moto Gp Veda Ega Peringkat 16 FP2 Moto3 Austria, Hakim Danish Tembus Empat Besar Moto Gp Drama Kualifikasi Moto3 Austria: Veda Ega ke-19, Uriarte Pecahkan Rekor Hukum Selebgram JP Terjerat Vape Narkoba: Stres Picu Konsumsi Etomidate Golongan II Arsip Mengenang Multatuli: Kisah 84 Hari yang Mengukir Sejarah Lebak Arsip Max Havelaar di Sekolah Belanda: Antara Pedoman dan Kebebasan Memilih Megapolitan Aroma Tak Sedap Ganggu Pejalan Kaki Dekat Halte IRTI Monas Tren Trump Larang CNN, MS NOW, Politico dari Gedung Putih: Konflik Media Memuncak Cek Fakta Kiat Cerdas Deteksi Hoaks: Hindari Jebakan Berita Palsu di Media Sosial Cek Fakta Waspada! Penipuan Undian Berhadiah Catut Nama BNI Kembali Marak Climate BMKG Ungkap Potensi Hujan Lebat Landa Sejumlah Wilayah Indonesia Pekan Ini Moto Gp Veda Ega Peringkat 16 FP2 Moto3 Austria, Hakim Danish Tembus Empat Besar Moto Gp Drama Kualifikasi Moto3 Austria: Veda Ega ke-19, Uriarte Pecahkan Rekor Hukum Selebgram JP Terjerat Vape Narkoba: Stres Picu Konsumsi Etomidate Golongan II Arsip Mengenang Multatuli: Kisah 84 Hari yang Mengukir Sejarah Lebak Arsip Max Havelaar di Sekolah Belanda: Antara Pedoman dan Kebebasan Memilih Megapolitan Aroma Tak Sedap Ganggu Pejalan Kaki Dekat Halte IRTI Monas Tren Trump Larang CNN, MS NOW, Politico dari Gedung Putih: Konflik Media Memuncak
Uposatha

Uposatha

Untuk puasa dalam agama Hindu, lihat Upawasa.
Bagian dari seri tentang
Buddhisme
120px-Dharma_Wheel_%282%29.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Keyakinan
Tiga corak
Gugusan
Faktor mental
Meditasi
Bakti
Praktik lainnya
Bagian dari seri tentang
Buddhisme Theravāda
120px-Buddhism_dham_jak.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Buddhisme
20px-Flag_of_Buddhism.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail PortalBuddhisme
Bagian dari seri tentang
Puasa
Enam agama utama
Agama lainnya
Lainnya
250px-060_The_Uposatha_Night_%289014255918%29.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Uposatha night

Hari uposatha (Pali; Sanskerta: उपवसथ, upavasatha; KBBI: uposata) merupakan hari-hari bagi pengikut Buddhisme untuk mengamalkan puasa, perenungan, dan praktik meditasi lainnya. Amalan ini sudah dilakukan sejak masa kehidupan Buddha Gotama dan masih dipraktikkan hingga hari ini.[1][2] Sang Buddha mengajarkan bahwa hari uposatha diperuntukkan "membersihkan pikiran dari hal-hal kotor," yang menyebabkan ketenangan batin dan kebahagiaan.[3] Pada hari uposatha, umat awam (upasaka-upasika) dan para biku-bikuni secara intensif akan berlatih ajaran Buddha dan memperdalam pengetahuan mereka. Selain itu, umat awam penganut tradisi Theravāda juga dianjurkan untuk mengamalkan Aṭṭhasīla atau Aṭṭhaṅgasīla, termasuk di dalamnya aturan untuk berpuasa dari tengah hari atau zuhur sampai matahari terbit atau syuruk (aturan keenam), penghindaran diri dari berbagai jenis hiburan (aturan ketujuh), dan penghindaran diri dari segala jenis aktivitas seksual (aturan ketiga). Umat awam yang beraliran Mahāyāna menjalankan aturan berpuasa daging dengan menjalankan praktik vegetarian.

Etimologi

Kata "uposatha" diturunkan dari bahasa Sanskerta "upavasatha," yang mengacu pada hari puasa agama Weda (dikenal sebagai upawasa di Indonesia).[4] Secara etimologis, kata uposatha sendiri biasanya diartikan sebagai "berdiam dalam, "berdiam dekat", "mengamalkan", "menjaga", dan "merawat".[5]

Pada masa kehidupan Buddha Gotama, beberapa pertapa menggunakan bulan baru dan bulan purnama sebagai kesempatan untuk mengajarkan ajaran. Hari uposatha kemudian ditetapkan oleh Buddha Gotama atas permohonan Raja Bimbisara, dan Buddha menginstruksikan kepada para biku dan bikuni untuk memberikan ajaran (ceramah) kepada para penduduk pada hari tersebut. Buddha juga menginstruksikan kepada murid-murid-Nya untuk mengulangi Pātimokkha.[6]

Nama-nama bulan

Tergantung dengan budaya dan tanggalnya, hari uposatha biasa dilakukan dari tanggal 2 sampai dengan 6 setiap bulannya dalam penanggalan Buddhisme. Nama-nama Pali untuk hari uposatha berdasarkan bahasa Sanskerta nakśatra (Pali: nakkhatta).[7]

Nama-nama hari bulan penuh uposatha
Bulan Pali Sanskrit Burmese Sinhala Thai
Januari Phussa Puṣya Pyatho Duruthu Pusaya (ปุศยะ)
Februari Māgha Maghā Tabodwe Navam Makha (มาฆะ)
Maret Phagguṇa Phalgunī Tabaung Medin (Maedhin) Pholkuni (ผลคุณี)
April Citta Chitrā Tagu Bak Chittra (จิตรา)
Mei Visākhā Viśākhā Kason Vesak Visakha (วิสาขา)
Juni Jeṭṭhā Jyeṣṭha Nayon Poson Chetta (เชษฐา)
Juli Āsāḷhā Aṣāḍhā Waso Esala (Aesala) Asarnha (อาสาฬหะ)
Agustus Sāvana Śrāvaṇa Wagaung Nikini Savana (สาวนะ)
September Poṭṭhapāda Bhādrapadā Tawthalin Binara Phattarapratha (ภัทรปทา)
Oktober Assayuja Aśvinī Thadingyut Vap Assavani (อัศวนี)
November Kattikā Kṛttikā Tazaungmon Il Krittika (กฤติกา)
Desember Māgasira Mṛgaśiras Natdaw Unduvap Maruekasira (มฤคศิระ)

Theravāda

Dalam kitab suci

Dalam kitab-kitab Pali, dikatakan bahwa hari uposatha jatuh pada hari ke-8 dan ke-14 atau ke-15 dari paruh terang atau paruh gelap (Pali: cātuddasi pañcadasī aṭṭhamī ca pakkhassa). Jika paruh bulan (paksa; Pali: pakkha) tersebut memiliki 15 hari maka yang dipakai adalah hari ke-15, tetapi bila hanya memiliki 14 hari maka yang dipakai adalah hari ke-14. Jadi, dalam satu bulan ada empat hari uposatha.[5] Secara umum, uposatha dilakukan sekali dalam seminggu di negara-negara Theravāda, sesuai dengan empat fase bulan: bulan baru, bulan purnama, dan dua kali bulan separuh (perbani atau kuartal awal dan terakhir). Di beberapa komunitas, seperti di Sri Lanka, hanya bulan baru dan bulan purnama para umat melakukan perenungan hari uposatha. Pada masa sebelum penjajahan, hari uposatha merupakan hari libur di Myanmar. Akan tetapi, sejak masa penjajahan, hari Minggu telah menggantikan peranan hari uposatha. Selama hari uposatha, para biku dan bikuni akan berkumpul dan mengulangi Pātimokkha (kumpulan aturan monastik).

Hari uposatha khusus

Secara umum terdapat empat hari uposatha khusus bagi kalangan umat Buddha, yaitu hari uposatha di bulan Magha yang merupakan hari raya Magha, di bulan Waisak yang merupakan hari raya Waisak, dan di bulan Asadha yang merupakan hari raya Asalha.

Mahāyāna

Di beberapa negara-negara Mahayana yang menggunakan penanggalan Cina, hari uposatha dilakukan enam kali dalam sebulan, yaitu pada tanggal 8, 14, 15, 23, dan dua hari terakhir pada setiap bulannya. Di Jepang, enam hari ini dikenal dengan sebutan roku sainichi (六斎日, Enam Hari Puasa).

Lihat juga

Catatan

  1. For a description of the contemporary practice of the Uposatha in Thailand, see Khantipalo (1982a), which is also excerpted in this article below. Kariyawasam (1995), ch. 3, also underlines the continuity of the ancient uposatha practice in Sri Lanka: "The poya [Sinhala for uposatha] observance, which is as old as Buddhism itself, has been followed by the Sinhala Buddhists up to the present day, even after the Christian calendar came to be used for secular matters. Owing to its significance in the religious life of the local Buddhists, all the full-moon days have been declared public holidays by the government."
  2. The uposatha day is sometimes likened to the Judeo-Christian notion of the Sabbath. Pali English dictionaries that define "Uposatha" as "Sabbath," are Buddhadatta (2002), p. 63, and, and PED(Rhys-Davids & Stede,1921-25), p. 151. For an example of the Uposatha being equated with Sabbath by a modern Buddhist master, see Mahasi (undated), p. 2, where he writes: "For lay people, these rules [of discipline] comprise the eight precepts which Buddhist devotees observe on the Sabbath days (uposatha) and during periods of meditation." Harvey (1990), p. 192, also refers to the uposatha as "sabbath-like."
  3. Thanissaro (1997b); Anguttara Nikaya 3.70: Muluposatha Sutta.
  4. "Uposatha". DhammaCitta. Diakses tanggal 2024-09-01.
  5. 1 2 Bhikkhu Ratanadhīro (April 2017). "Aṭṭhasīla" (PDF). Vidyāsenā Production. hlm. 62. Diakses tanggal Juni 2022.{{cite web}}: Periksa nilai tanggal dalam: |accessdate=
  6. Rhys Davids & Oldenberg (1881), pp. 240-41. Also see Khantipalo (1982a) and Pali English Dictionary(Rhys Davids & Stede, 1921-25, p. 152).
  7. See Nakshatra, Hindu calendar, Sanskrit English Dictionary by Monier Williams, s.v. 'nakśatra'.

Referensi

Pranala luar

40px-Buddhism_Symbol.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail   Topik Buddhisme   40px-Flag_of_Buddhism.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Buddhisme awal
Benua
Populasi signifikan
Aliran arus utama
Sinkretis
Theravāda
Mahāyāna-Vajrayāna
Kitab daring
Buddha saat ini dan keluarga
4 tempat suci utama
Buddha penting sebelumnya
Buddha selanjutnya
Bawahan
Mahāyāna-Vajrayāna
Jenis penganut
4 tingkat kemuliaan
Tempat ibadah
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan