Senin, 12 Oktober 2026
16:15 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Pemprov Lampung Gencarkan Rapat Penting, Mulai Inflasi Hingga Eliminasi TBC Pringsewu Ribuan Warga Pringsewu Padati Jalan Sehat Kapal Api Tribun Lampung Bandar Lampung Pengungkapan 3 Ton BBM Ilegal di Tanjung Bintang, Polisi Lidik Jaringan Penyaluran Lampung Tugas Berat Kapolda Lampung Brigjen Yustan Alpiani: Atasi Narkoba, Konflik Lahan, dan Distribusi BBM Bandar Lampung Rotasi Kepemimpinan: Brigjen Yustan Alpiani Resmi Jadi Kapolda Lampung Lampung Selatan Anak Krakatau Siaga: Status Gunung Meningkat Setelah Belasan Kali Erupsi Intens Pringsewu Truk Fuso Diduga Rem Blong Picu Kecelakaan Maut di Pringsewu, Dua Tewas Lampung Rotasi Besar Polri: 199 Perwira Tinggi dan Menengah Pindah Tugas, Tiga Kapolda Berganti Advertorial Sistem Kelistrikan Lampung Dipuji DPR, EBT Sumbang Hampir Separuh Pasokan Lampung Anak Krakatau Naik Status Siaga Level III: Potensi Bahaya, Jauhi Radius 5 KM Bandar Lampung Pemprov Lampung Gencarkan Rapat Penting, Mulai Inflasi Hingga Eliminasi TBC Pringsewu Ribuan Warga Pringsewu Padati Jalan Sehat Kapal Api Tribun Lampung Bandar Lampung Pengungkapan 3 Ton BBM Ilegal di Tanjung Bintang, Polisi Lidik Jaringan Penyaluran Lampung Tugas Berat Kapolda Lampung Brigjen Yustan Alpiani: Atasi Narkoba, Konflik Lahan, dan Distribusi BBM Bandar Lampung Rotasi Kepemimpinan: Brigjen Yustan Alpiani Resmi Jadi Kapolda Lampung Lampung Selatan Anak Krakatau Siaga: Status Gunung Meningkat Setelah Belasan Kali Erupsi Intens Pringsewu Truk Fuso Diduga Rem Blong Picu Kecelakaan Maut di Pringsewu, Dua Tewas Lampung Rotasi Besar Polri: 199 Perwira Tinggi dan Menengah Pindah Tugas, Tiga Kapolda Berganti Advertorial Sistem Kelistrikan Lampung Dipuji DPR, EBT Sumbang Hampir Separuh Pasokan Lampung Anak Krakatau Naik Status Siaga Level III: Potensi Bahaya, Jauhi Radius 5 KM
Kuasikanonika

Kuasikanonika

Bagikan:
Artikel ini bukan mengenai Parakanonika.
Kuasikanonika
JenisKitab kuasikanonis
Kitab parakanonis
Kitab kanonis (kadang-kadang)
IndukKhuddakanikāya
IsiNettipakaraṇa, Peṭakopadesa, Milindapañha
Bagian dari seri tentang
Buddhisme Theravāda
120px-Buddhism_dham_jak.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Buddhisme
20px-Flag_of_Buddhism.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail PortalBuddhisme
Berdasarkan Chaṭṭha Saṅgāyana
Tipiṭaka
250px-Folios_of_the_Bhikkhuni-patimokkha_%28BL_IO_Man.Pali_21%29.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail

Kuasikanonika[1][2] atau kuasi-kitab suci (Inggris: quasi-canonical texts), juga disebut sebagai semikanonika, adalah istilah yang digunakan oleh para cendekiawan Buddhis untuk merujuk pada berbagai kitab di bagian-bagian akhir Tripitaka Pali milik Buddhisme Theravāda, biasanya merujuk pada kitab-kitab yang kadang-kadang dianggap termasuk dalam Khuddakanikāya.[note 1]

Kitab-kitab yang dianggap sebagai bagian dari Khuddakanikāya dalam edisi Burma dan Sri Lanka:

  • Suttasaṁgaha (disingkat "Suttas"; "Ikhtisar Sutta"), dimasukkan dalam edisi Burma 1888, kemudian dikeluarkan dalam edisi 1956 (Sidang Buddhis Keenam)
  • Nettipakaraṇa (disingkat "Ne" atau "Nett"; "Kitab Panduan")
  • Peṭakopadesa (disingkat "Pe" atau Peṭ"; "Instruksi Tipiṭaka")

Kitab yang dianggap sebagai bagian dari Khuddaka Nikāya hanya dalam edisi Burma:

Suttasaṁgaha memuat teks-teks terpilih yang utamanya berasal dari berbagai diskursus dalam Tripitaka Pali. Kitab Nettipakaraṇa dan Peṭakopadesa merupakan pengantar ajaran-ajaran Buddhisme; kitab-kitab ini menyajikan metode-metode penafsiran yang menuntun pada pengetahuan tentang Dhamma Sejati (saddhamma). Kitab Milindapañhā, yang ditulis dengan gaya diskursus Pali, memuat dialog antara raja Indo-Yunani Menander (dalam bahasa Pali, Milinda) dan seorang biku Thera Nāgasena, yang menjelaskan beberapa prinsip penting Buddhisme yang sering ditanyakan.

Sejarah

Kitab Suttasaṁgaha diyakini telah disusun di Anurādhapura, Sri Lanka.[3]

Di Burma, mungkin beberapa waktu setelah disahkannya kitab-kitab Abhidhammapiṭaka (sekitar tahun 200 M), kitab-kitab kuasikanonika juga disahkan sebagai bagian dari Khuddakanikāya.[4]

Kitab Suttasaṁgaha pernah dimasukkan dalam edisi Burmese Piṭakat Samuiṅ tahun 1888, tetapi dikeluarkan pada tahun 1956 dalam edisi Burmese Chaṭṭasaṅgāyana, mungkin karena dimasukkannya materi dari kitab-kitab komentar Pali pasca-kanonis ke dalam Suttasaṁgaha.[5] Naskah pengesahan dari Sidang Buddhis Kelima di Burma mencakup tiga kitab yang sama (Nettipakaraṇa, Peṭakopadesa, dan Milindapañha) sebagai bagian dari Tripitaka Pali.[6] Naskah Phayre Burma dari Canon, tertanggal 1841/2, menyertakan kitab Netti.[7]

Kitab Nettipakaraṇa, Peṭakopadesa, dan Milindapañha merupakan bagian dari Khuddaka Nikāya dari Tipitaka Pali yang disahkan di Burma, sedangkan Nettipakaraṇa dan Peṭakopadesa muncul dalam edisi cetak Sinhala di Sri Lanka.

Kepala sangha Burma dua abad lalu menganggap setidaknya Netti dan Peṭakopadesa merupakan kitab-kitab yang sahih sebagai kitab suci.[8] Seorang guru Burma modern, Rewata Dhamma, menggambarkan kitab-kitab tersebut sebagai pasca-kanonis.[9]

Dalam edisi umum yang dikenali dunia Buddhis modern, kitab Nettipakaraṇa, Peṭakopadesa, dan Milindapañha umumnya dianggap sebagai bagian dari Khuddakanikāya dalam Suttapiṭaka.[10]

Catatan

  1. ↑ Untuk istilah serupa dalam Kekristenan, lihat artikel Deuterokanonika dan Protokanonika.

Referensi

  1. ↑ "Beyond the Tipitaka: A Field Guide to Post-canonical Pali Literature". Access to Insight. Diakses tanggal 2025-10-25.
  2. ↑ "The Paracanonical Pali Texts". Access to Insight. Diakses tanggal 2025-10-25.
  3. ↑ Malalasekera (1937-38), entri untuk "Suttasangaha," diakses 2008-07-11 dari "What the Buddha said in plain English!" di http://what-buddha-said.net/library/DPPN/s/suttasangaha.htm.
  4. ↑ Hinüber (2000), hlm. 73 §151, 76 §156 ff.
  5. ↑ Hinüber (2000), hlm. 3-4 §4, 76 §157.
  6. ↑ Bollée in Pratidanam (Kuiper Festshcrift), pub Mouton, the Hague/Paris, 1968
  7. ↑ JPTS, 1882, page 61
  8. ↑ JPTS, volume XXVIII, hlm. 61f
  9. ↑ Rewata Dhamma, The Buddha and His Disciples, Dhamma-Talaka Pubns, Birmingham, 2001, hlm. 89
  10. ↑ Norman (1983), hlm. 31, 108-113.

Daftar pustaka

Pranala luar

40px-Buddhism_Symbol.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail   Topik Buddhisme   40px-Flag_of_Buddhism.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Buddhisme awal
Benua
Populasi signifikan
Aliran arus utama
Sinkretis
Theravāda
Mahāyāna-Vajrayāna
Kitab daring
Buddha saat ini dan keluarga
4 tempat suci utama
Buddha penting sebelumnya
Buddha selanjutnya
Bawahan
Mahāyāna-Vajrayāna
Jenis penganut
4 tingkat kemuliaan
Tempat ibadah
Kuno
Pertengahan
Modern awal
Modern
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan