Senin, 12 Oktober 2026
06:33 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Rotasi Kepemimpinan: Brigjen Yustan Alpiani Resmi Jadi Kapolda Lampung Lampung Selatan Anak Krakatau Siaga: Status Gunung Meningkat Setelah Belasan Kali Erupsi Intens Pringsewu Truk Fuso Diduga Rem Blong Picu Kecelakaan Maut di Pringsewu, Dua Tewas Lampung Rotasi Besar Polri: 199 Perwira Tinggi dan Menengah Pindah Tugas, Tiga Kapolda Berganti Advertorial Sistem Kelistrikan Lampung Dipuji DPR, EBT Sumbang Hampir Separuh Pasokan Lampung Anak Krakatau Naik Status Siaga Level III: Potensi Bahaya, Jauhi Radius 5 KM Lampung Gunung Anak Krakatau Kembali Erupsi, Status Siaga Ditetapkan, Radius Bahaya 5 Km Teknologi Sega Siapkan DLC Penutup dan Final Kejuaraan Dunia Sonic Racing: CrossWorlds Otomotif Bengkel Mini di Rumah: 6 Alat Penting untuk Perbaikan Ringan Kendaraan Teknologi School Party Craft: Rasakan Sensasi Unik Simulasi Kehidupan di Dunia Terbuka Bandar Lampung Rotasi Kepemimpinan: Brigjen Yustan Alpiani Resmi Jadi Kapolda Lampung Lampung Selatan Anak Krakatau Siaga: Status Gunung Meningkat Setelah Belasan Kali Erupsi Intens Pringsewu Truk Fuso Diduga Rem Blong Picu Kecelakaan Maut di Pringsewu, Dua Tewas Lampung Rotasi Besar Polri: 199 Perwira Tinggi dan Menengah Pindah Tugas, Tiga Kapolda Berganti Advertorial Sistem Kelistrikan Lampung Dipuji DPR, EBT Sumbang Hampir Separuh Pasokan Lampung Anak Krakatau Naik Status Siaga Level III: Potensi Bahaya, Jauhi Radius 5 KM Lampung Gunung Anak Krakatau Kembali Erupsi, Status Siaga Ditetapkan, Radius Bahaya 5 Km Teknologi Sega Siapkan DLC Penutup dan Final Kejuaraan Dunia Sonic Racing: CrossWorlds Otomotif Bengkel Mini di Rumah: 6 Alat Penting untuk Perbaikan Ringan Kendaraan Teknologi School Party Craft: Rasakan Sensasi Unik Simulasi Kehidupan di Dunia Terbuka
Katekismus Heidelberg

Katekismus Heidelberg

Bagikan:
250px-Heidelberger_Katechismus_1563.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Katekismus Heidelberg edisi 1563

Katekismus Heidelberg (bahasa Jerman:Heidelberger Katechismus, bahasa Latin:Catechesis Palatina, bahasa Inggris:Heidelberg Catechism) salah satu dari Tiga Formula Kesatuan, adalah pedoman pengajaran agama dan kitab pengakuan iman Gereja-Gereja Calvinis yang berbahasa Jerman dan Belanda.

Sejarah

Penyusunan Katekismus Heidelberg

Katekismus ini disusun oleh suatu panitia yang dibentuk oleh Friedrich III dari Kurpfalz. Kurpfalz adalah sebuah daerah otonom di kekaisaran Jerman yang beribukota di Heidelberg.

Sebelum pekerjaan menyusun katekismus ini dimulai, dua orang teolog muda yang belakangan menjadi anggota panitia penyusunannya, yaitu Zacharias Ursinus dan Caspar Olevianus, telah menyusun rancangan katekismus ini. Rancangan ini diterima oleh Sinode Gereja di Kurpfalz pada 1563.

Terbitan rancangan yang pertama ini segera disusul dengan edisi kedua dan ketiga pada tahun yang sama. Edisi yang ketiga memuat kalimat dengan kata-kata yang tajam yang intinya menolak ajaran transubstansiasi yang diterima sebagai ajaran resmi Gereja Katolik Roma pada 1215 dan yang kemudian diperkuat lagi oleh Konsili Trente pada 1562, ditambah dengan ucapan kutuk atas semua orang yang menganut pandangan Protestan. Sikap inilah yang ditanggapi dengan kutukan balik seperti yang tercantum dalam Katekismus Heidelberg.

Penyebaran ke Belanda

Pada saat Katekismus Heidelberg diterbitkan, di daerah Kurpfalz tinggal sejumlah pengungsi dari Belanda yang lari dari negaranya karena penindasan agama yang mereka alami. Di Kurpfalz, mereka diterima oleh raja. Seorang pendeta Belanda yang ikut mengungsi di situ segera menerjemahkan Katekismus ini ke dalam bahasa Belanda, dan dalam beberapa tahun kemudian Gereja-gereja Protestan di Belanda menjadikan Katekismus ini sebagai bahan resmi pengajaran katekisasi mereka. Semua pendeta Protestan di Belanda juga diwajibkan menandatangani pernyataan persetujuan mereka atas dokumen ini.

Isi Katekismus ini tidak hanya dijadikan bahan pelajaran katekisasi, tetapi juga sebagai bahan khotbah dalam kebaktian-kebaktian pada hari Minggu sore.

Terjemahan ke dalam bahasa Melayu

Dengan datangnya orang Belanda ke Indonesia, Katekismus Heidelberg pun mulai dikenal orang-orang Kristen di Indonesia. Pada 1623 katekismus ini diterjemahkan ke dalam bahasa Melayu oleh Pdt. Sebastian Danckaerts.

Hingga kini Katekismus Heidelberg masih banyak digunakan di kalangan gereja-gereja yang berasal dari zending Gereja-gereja Gereformeerd di Belanda, yaitu gereja-gereja di Jawa Tengah, Sumba, Sulawesi Selatan, dan Papua.

Ada pula sebagian gereja yang menganggap isi Katekismus ini sudah tidak lagi mencerminkan hubungan antara Gereja Protestan (khususnya Calvinis) dengan Gereja Katolik Roma baik di Indonesia maupun di tingkat dunia, sehingga katekisasi ini hanya dijadikan dokumen sejarah belaka.

Struktur

Dalam bentuknya yang sekarang, Katekismus Heidelberg terdiri dari 129 pertanyaan dan jawaban. Pertanyaan-pertanyaan tersebut dibagi menjadi tiga bagian utama:

I. Kesengsaraan Manusia

Bagian ini terdiri dari Hari Tuhan 2, 3, dan 4. Bagian ini membahas:

  • Kejatuhan,
  • Kondisi alamiah manusia,
  • Tuntutan Allah terhadap manusia dalam hukum-Nya.

II. Penebusan (atau Kelepasan) Manusia

Bagian ini terdiri dari Hari Tuhan ke-5 hingga Hari Tuhan ke-31. Bagian ini membahas:

III. Ungkapan Syukur dari Manusia (untuk pembebasan tersebut)

Bagian ini terdiri dari Hari Tuhan 32 sampai dengan Hari Tuhan 52. Bagian ini membahas tentang:

Pranala luar

Reformed
Kontinental
Britania dan
Amerika
Presbiterian
Anglikan
Baptis
Kongregasionalis
Kuno
Pertengahan
Modern awal
Modern
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan