Sabtu, 24 Oktober 2026
15:35 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Waspada Hujan Ringan: Prakiraan Cuaca Lampung Sepanjang 24 Oktober 2026 Bandar Lampung Penundaan Pembahasan APBD Lampung 2027: Berkas dan Data Terkini Jadi Kunci Bandar Lampung Fokus Pendidikan dan Ekonomi Desa, Lampung Matangkan APBD 2027 Bandar Lampung Polisi Hadir di Jalanan: Ratusan Makan Siang Gratis Eratkan Hubungan Warga Bandar Lampung Bandar Lampung Ancaman Serius TNBBS: 23 Kasus Pidana Kehutanan Terungkap dalam Satu Dekade Bandar Lampung Penipuan Rekrutmen Honorer Rp20 Juta di Bandar Lampung Berakhir Damai Bandar Lampung Transformasi 40 Tahun FISIP Unila: Dari Prestasi Global hingga Riset Solutif Lampung Bandar Lampung Sinergi Lintas Sektor: TNBBS Perkuat Penegakan Hukum Lingkungan dengan Enam Strategi Bandar Lampung Dorong Gaya Hidup Sehat, Pemkot Bandar Lampung Dukung Jalan Sehat Akbar di Panjang Bandar Lampung Peringatan Petugas Diabaikan, Pemotor Tewas Tertabrak Kereta Babaranjang di Bandar Lampung Bandar Lampung Waspada Hujan Ringan: Prakiraan Cuaca Lampung Sepanjang 24 Oktober 2026 Bandar Lampung Penundaan Pembahasan APBD Lampung 2027: Berkas dan Data Terkini Jadi Kunci Bandar Lampung Fokus Pendidikan dan Ekonomi Desa, Lampung Matangkan APBD 2027 Bandar Lampung Polisi Hadir di Jalanan: Ratusan Makan Siang Gratis Eratkan Hubungan Warga Bandar Lampung Bandar Lampung Ancaman Serius TNBBS: 23 Kasus Pidana Kehutanan Terungkap dalam Satu Dekade Bandar Lampung Penipuan Rekrutmen Honorer Rp20 Juta di Bandar Lampung Berakhir Damai Bandar Lampung Transformasi 40 Tahun FISIP Unila: Dari Prestasi Global hingga Riset Solutif Lampung Bandar Lampung Sinergi Lintas Sektor: TNBBS Perkuat Penegakan Hukum Lingkungan dengan Enam Strategi Bandar Lampung Dorong Gaya Hidup Sehat, Pemkot Bandar Lampung Dukung Jalan Sehat Akbar di Panjang Bandar Lampung Peringatan Petugas Diabaikan, Pemotor Tewas Tertabrak Kereta Babaranjang di Bandar Lampung

Kalyāṇamitta

Bagikan:
Bagian dari seri tentang
Buddhisme
120px-Dharma_Wheel_%282%29.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Keyakinan
Tiga corak
Gugusan
Faktor mental
Meditasi
Bakti
Praktik lainnya

Dalam Buddhisme, kalyāṇamitta (Pali; Sanskerta: kalyāṇamitra) merujuk pada "sahabat baik", "sahabat bajik", "sahabat mulia", atau "sahabat terpuji" sebagai seseorang yang terlibat dalam hubungan yang disebut kalyāṇa-mittatā (Pali; Skt.: -mitratā; Hanzi: 善知識), yaitu konsep Buddhis tentang "persahabatan yang baik" dalam komunitas Buddhis, baik untuk para biku, bikuni, maupun para perumah tangga (lihat parisā).[1]

Theravāda

Lihat pula: Theravāda
Bagian dari seri tentang
Buddhisme Theravāda
120px-Buddhism_dham_jak.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Buddhisme
icon PortalBuddhisme

Tripitaka Pali

Sculpture of the Buddha holding hand on head monk at the right side of the Buddha, the latter monk smiling
Patung di Puncak Burung Nasar, Rajgir, India, menggambarkan Sang Buddha menenangkan Ānanda

Dalam Tripitaka Pali, terdapat Upaḍḍha Sutta (SN 45.2) yang mencatat percakapan antara Sang Buddha dan seorang murid-Nya, Ānanda. Dia dengan antusias menyatakan, “Yang Mulia, ini adalah setengah dari kehidupan suci, yaitu pertemanan yang baik, persahabatan yang baik, persaudaraan yang baik.” Sang Buddha menjawab:[2]

“ “Tidak demikian, Ānanda! Tidak demikian. Ini adalah keseluruhan kehidupan suci, yaitu pertemanan yang baik, persahabatan yang baik, persaudaraan yang baik. Ketika seorang bhikkhu memiliki seorang teman yang baik, sahabat yang baik, saudara yang baik, maka ia dapat diharapkan akan mengembangkan dan melatih Jalan Mulia Berunsur Delapan." ”
— Upaḍḍha Sutta, SN 45.2

Sang Buddha menguraikan bahwa, melalui persahabatan demikian, seseorang mengembangkan masing-masing faktor Jalan Mulia melalui keterasingan, kebosanan, dan pelenyapan kedua hal tersebut (keterasingan dan kebosanan) yang matang dalam pelepasan keduniawian. Selanjutnya, Sang Buddha menyatakan bahwa umat Buddha dapat terbebaskan dari penderitaan melalui persahabatan spiritual dengan Sang Buddha.

Lebih lanjut, dalam Itivuttaka 17, Sang Buddha menyatakan:

“ Berkenaan dengan hal-hal di luar diri, Saya tidak melihat hal selain persahabatan bajik yang dapat membantu latihan seorang bhikkhu, yang belum mencapai tujuan utama, tetapi tetap berniat untuk terbebas penuh dari kemelekatan. Seorang bhikkhu yang bersahabat dengan orang-orang yang bajik akan meninggalkan hal yang buruk dan mengembangkan hal yang baik. ”
— Dutiyasekha Sutta, Iti 17

Mengenai para umat perumah tangga, Sang Buddha menjabarkan dalam Dīghajāṇu Sutta (AN 8.54):

“ Dan apakah pertemanan yang baik? Di sini, di desa atau pemukiman mana pun seorang anggota keluarga menetap, ia bergaul dengan para perumah tangga atau putra-putra mereka—baik yang masih muda maupun yang sudah tua, dengan moralitas yang matang—yang sempurna dalam keyakinan, perilaku bermoral, kedermawanan, dan kebijaksanaan; ia berbincang-bincang dengan mereka dan berdiskusi dengan mereka. Sejauh apa pun mereka sempurna dalam keyakinan, ia akan menyamai mereka dalam hal kesempurnaan keyakinan; sejauh apa pun mereka sempurna dalam perilaku bermoral, ia akan menyamai mereka dalam hal kesempurnaan perilaku bermoral; sejauh apa pun mereka sempurna dalam kedermawanan, ia akan menyamai mereka dalam hal kesempurnaan kedermawanan; sejauh apa pun mereka sempurna dalam kebijaksanaan, ia akan menyamai mereka dalam hal kesempurnaan kebijaksanaan. Ini disebut pertemanan yang baik. ”
— Dīghajāṇu Sutta, AN 7.3

Dalam Aṅguttara Nikāya 7.3, diuraikan tujuh faktor:

“ Para bhikkhu, seseorang seharusnya bergaul dengan teman yang memiliki tujuh faktor. Apakah tujuh ini? (1) Ia memberikan apa yang sulit diberikan. (2) Ia melakukan apa yang sulit dilakukan. (3) Ia dengan sabar menahankan apa yang sulit ditahankan. (4) Ia mengungkapkan rahasianya kepadamu. (5) Ia menjaga rahasiamu. (6) Ia tidak meninggalkanmu ketika engkau berada dalam kesulitan. (7) Ia tidak dengan kasar merendahkanmu. Seseorang seharusnya bergaul dengan teman yang memiliki ketujuh faktor ini ”
— Paṭhamamitta Sutta, AN 7.3

Menurut Dr. R.L. Soni, diskursus (sutta) kanonik menyatakan bahwa "berteman dengan orang bijak" mengarah pada perkembangan berikut: "mendengarkan nasihat yang baik, keyakinan yang rasional, pikiran yang mulia, pemikiran jernih, pengendalian diri, perilaku yang baik, menaklukkan rintangan, memperoleh kebijaksanaan, dan pembebasan yang diakibatkannya."[3]

Kitab pascakanonis

Dalam kitab Vimuttimagga, Arahat Upatissa menjabarkan kebutuhan untuk menemukan "teman baik" atau "teman unggul" untuk mengembangkan "konsentrasi yang unggul". Teman yang baik harus memahami kitab suci Tipiṭaka, karma, "pengetahuan duniawi yang bermanfaat", dan Empat Kebenaran Mulia. Dengan mengutip Aṅguttara Nikāya 7.36, Upatissa, dalam kitab Vimuttimagga, menyatakan bahwa seorang bhikkhūmitto ("teman biku") harus memiliki tujuh kualitas sebagai berikut:

“ (1) Ia menginspirasikan cinta. (2) Ia menginspirasikan saling menghormati. (3) Ia menginspirasikan kesetaraan. (4) Ia seorang penasehat. (5) Ia seorang pendengar yang sabar. (6) Ia mampu menyampaikan pikiran yang mendalam. (7) Ia tidak pernah membawa seseorang ke dalam bahaya atau pencarian yang tidak berguna.[4][5][6] ”
— Paṭhamamitta Sutta, AN 7.36

Dalam kitab Visuddhimagga ("Jalan menuju Pemurnian"), Buddhaghosa juga menyatakan perlunya menemukan "teman baik", yakni menemukan seseorang yang akan menjadi "pemberi subjek meditasi" Anda.[7] Seperti Upatissa, Buddhaghosa mengacu pada tujuh kualitas dalam AN 7.36 dan menambahkan bahwa hanya Buddha yang memiliki semua kualitas ini. Jika tidak dapat bersahabat baik dengan Sang Buddha, maka direkomendasikan untuk bersahabat baik dengan salah satu dari delapan puluh sāvaka (murid) agung; jika tidak dapat bersahabat baik dengan salah satu dari delapan puluh sāvaka agung pun, maka hendaknya mencari teman baik yang telah menghancurkan semua belenggu melalui pencapaian semua jhāna (penyerapan meditatif) dan pengembangan meditasi vipassanā. Jika masih tidak kesampaian untuk bersahabat baik dengan mereka, maka dalam urutan menurun, seseorang dapat memilih: seorang anāgāmi, sakadāgāmi, sotāpanna, atau non-arahat yang telah mencapai tingkat jhāna (penyerapan meditatif); seseorang yang mengetahui tiga piṭaka (Tipiṭaka), dua piṭaka, satu piṭaka; atau seseorang yang mengetahui sebuah nikāya beserta penjelasannya dan tidak lalai dalam bertindak (appamāda).[8]

Hubungan guru dengan murid

Dalam aliran pemikiran Buddhis tradisional, persahabatan spiritual bukanlah persahabatan antara teman sebaya, melainkan persahabatan antara seorang siswa dan guru spiritualnya.[9] Dalam berbagai sutta yang disebutkan sebelumnya, dapat diketahui bahwa Sang Buddha mengemukakan kepentingan memiliki seorang teman spiritual bagi pertumbuhan spiritual. Persahabatan ini dibangun dari rasa hormat yang mendalam terhadap pengetahuan guru dan potensi siswa. Melalui rasa hormat dan cinta kasih ini, kedua individu melatih perilaku yang konstruktif. Perilaku konstruktif dalam ajaran Buddha berarti berpikir, berbicara, dan berperilaku dengan cara konstruktif terhadap kehidupan sehingga dapat membantu menuju kebahagiaan pribadi hingga kemudian menuju kecerahan.

Hubungan sesama umat

Sigālovāda Sutta (DN 31; juga dikenal sebagai "Siṅgāla Sutta") menjelaskan bahwa persahabatan spiritual penting untuk membangun keeratan antara sesama umat dalam komunitas Buddhis. Dalam diskursus (sutta) tersebut, diuraikan empat macam sahabat yang dipandang berhati tulus (suhada), yaitu:[6]

“
  • sahabat penolong (upakaromitto):
    • Ia yang menjaga dirimu sewaktu lengah;
    • Ia yang menjaga dirimu sewaktu engkau lemah;
    • Ia yang menjaga dirimu sewaktu dalam ketakutan;
    • Ia memberi bantuan lebih daripada yang engkau perlukan.
  • sahabat pada waktu senang dan susah (samanasukha dukkhomitto):
    • Ia menceritakan rahasia-rahasia dirinya kepadamu;
    • Ia menjaga rahasia-rahasia dirimu;
    • Ia tidak meninggalkan dirimu sewaktu engkau berada dalam kesulitan;
    • Ia bahkan bersedia mengorbankan hidupnya demi kepentinganmu.
  • sahabat yang memberi nasihat baik (atthakhayamitto):
    • Ia mencegah dirimu berbuat jahat;
    • Ia menganjurkan dirimu untuk berbuat benar;
    • Ia memberitahukan apa yang belum pernah engkau dengar;
    • Ia menunjukan jalan ke alam yang lebih berbahagia.
  • sahabat yang bersimpati (anukampakamitto):
    • Ia tidak merasa gembira terhadap kesengsaraanmu;
    • Ia merasa senang atas kesejahteraanmu;
    • Ia mencegah orang lain berbicara jelek tentang dirimu;
    • Ia membenarkan orang lain memujimu.
”
— Sigālovāda Sutta, DN 31

Mahāyāna

Lihat pula: Mahāyāna
Bagian dari seri tentang
Buddhisme Mahāyāna
Seroja, salah satu dari delapan simbol keberuntungan dalam Mahāyāna
Buddhisme
icon PortalBuddhisme

Hubungan guru dengan murid

Dalam aliran Vajrayana, hubungan guru dan murid dianggap sangat penting untuk membimbing murid dalam jalan tantra yang benar, serta untuk menghindari konsekuensi berbahaya yang merupakan akibat dari kesalahpahaman dan praktik yang keliru.[10]

Referensi

  1. ↑ Collins, Steven (1987). Kalyāṇamitta and Kalyāṇamittatā Diarsipkan 2021-10-13 di Wayback Machine, Journal of the Pali Text Society 11, 55
  2. ↑ Thanissaro Bhikkhu (1997). "Upaddha Sutta: Half (of the Holy Life) (SN 45.2)". Diakses tanggal 15 April 2007.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Nama numerik: daftar penulis (link) Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) Also see Dharma Life. "Dharmalife.com". Diarsipkan dari asli tanggal Februari 4, 2012. Diakses tanggal 27 Juli 2006.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  3. ↑ Dr R.L. Soni, Life’s Highest Blessings (The Wheel Publication No. 254) (Kandy: Buddhist Publication Society, 1997) diakses 2007-11-08 dari "Access to Insight" di http://www.accesstoinsight.org/lib/authors/soni/wheel254.html.
  4. ↑ Upatissa, Arahant (1995). The Path of Freedom (Vimuttimagga). Diterjemahkan oleh N.R.M. Ehara; Soma Thera; Kheminda Thera. Kandy, Sri Lanka: Buddhist Publication Society. hlm. 48–50. ISBN 955-24-0054-6.
  5. ↑ Dalam bahasa aslinya, bahasa Pali, sutta ini berbunyi "Piyo ca hoti manāpo ca, garu ca, bhāvanīyo ca, vattā ca, vacanakkhamo ca, gambhīrañca kathaṃ kattā hoti, no ca aṭṭhāne niyojeti." Sri Lanka Buddha Jayanti Tipitaka Series (SLTP). "AN 7.1.4.6, "Bhikkhumitta suttaṃ"". Diakses 7 Oktober 2006.
  6. 1 2 Padamutidasarana. "Kalyanamitta dan Akalyanamitta". Diakses tanggal 21 Januari 2023.
  7. ↑ Buddhaghosa, Bhadantācariya; Bhikkhu Ñāṇamoli (trans.) (1999). The Path of Purification: Visuddhimagga. Seattle, WA: BPS Pariyatti Editions. hlm. 90. ISBN 1-928706-00-2.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Banyak nama: daftar penulis (link)
  8. ↑ Buddhaghosa & Ñāṇamoli (1999), hlm. 98-99.
  9. ↑ Alexander Berzin. "StudyBuddhism.com". Diakses tanggal 16 Juni 2016.
  10. ↑ Berzin, Alexander. Relating to a Spiritual Teacher: Building a Healthy Relationship. Ithaca, Snow Lion, 2000

Pranala luar

40px-Buddhism_Symbol.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail   Topik Buddhisme   40px-Flag_of_Buddhism.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Buddhisme awal
Benua
Populasi signifikan
Aliran arus utama
Sinkretis
Theravāda
Mahāyāna-Vajrayāna
Kitab daring
Buddha saat ini dan keluarga
4 tempat suci utama
Buddha penting sebelumnya
Buddha selanjutnya
Bawahan
Mahāyāna-Vajrayāna
Jenis penganut
4 tingkat kemuliaan
Tempat ibadah
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan