| Terjemahan dari Citta | |
|---|---|
| Inggris | mind, spirit, heart |
| Pali | 𑀘𑀺𑀢𑁆𑀢 citta |
| Sanskerta | चित्त |
| Tionghoa | 心 |
| Jepang | 心 |
| Myanmar | စိတ် |
| Thai | จิต |
| Vietnam | tâm, tâm vương, tâm bản thể |
| Daftar Istilah Buddhis | |
Citta (Pali dan Sanskerta: चित्त, atau dalam aksara Prakerta 𑀘𑀺𑀢𑁆𑀢, dilafalkan [t͡ɕit̚.tɐ́](kunci)), diterjemahkan sebagai kesadaran, pikiran, batin, atau cipta, adalah salah satu dari tiga istilah yang saling tumpang tindih yang digunakan dalam kitab-kitab Tripitaka Pali untuk merujuk pada batin (pikiran), sedangkan yang lainnya adalah manas dan viññāṇa. Masing-masing terkadang digunakan dalam arti umum dan non-teknis sebagai "batin" atau "pikiran" secara umum, dan ketiganya terkadang digunakan secara berurutan untuk merujuk pada proses-proses mental seseorang secara keseluruhan.[1] Namun, penggunaan utamanya memiliki perbedaan nuansa.[2]
Penggunaan
Dalam Sutta
Kamus Pali–Inggris menerjemahkan citta sebagai hati atau batin-hati, yang menekankannya lebih sebagai sisi batin yang penuh emosi/gairah, berlawanan dengan manas sebagai kecerdasan yang menggenggam objek-objek mental (dhamma). Citta merupakan objek meditasi pada bagian ketiga dari Satipaṭṭhāna, yang juga disebut Empat Landasan Perhatian Penuh.
Sifat dasar dan kedudukan
Citta utamanya merepresentasikan pola pikir atau kondisi batin seseorang.[3][4] Ini adalah istilah yang digunakan untuk merujuk pada kualitas proses mental secara keseluruhan.[5] Citta diklasifikasikan sebagai khandha (gugusan atau agregat), secara spesifik sebagai satu dari tiga jenis saṅkhārā[6] (kāyasaṅkhāro, vacīsaṅkhāro, cittasaṅkhāro; bentukan jasmani, ucapan, batin/pikiran) dan termasuk dalam penjelasan formula kemunculan yang bergantungan (paṭiccasamuppāda) dalam beberapa sutta di Majjhima Nikāya[7][8] dan Saṃyutta Nikāya[9][10] dari Tripitaka Pali. Dalam Psikologi India, citta merupakan pusat dan organ pemikiran.[11]
Mengenai kehendak, terdapat kesamaan nuansa antara viññāṇa dan citta; keduanya berasosiasi dengan kondisi kualitatif manusia. Viññāṇa memberikan kesadaran dan kesinambungan agar seseorang mengetahui kondisi moralnya, dan citta adalah abstraksi yang mewakili kondisi tersebut.[12] Citta berhubungan erat dengan kehendak; hubungan ini juga bersifat etimologis, karena citta berasal dari akar kata kerja dalam bahasa Pali yang sama dengan istilah aktif yang berarti "berkehendak".[13] Citta juga mencerminkan kondisi/kemajuan kognitif seseorang.[14]
Pengendalian dan pelatihan
Jalinan kausal yang kompleks dari kehendak (atau niat) yang dialami seseorang secara terus-menerus mengondisikan pikiran, ucapan, dan tindakannya. Pada suatu waktu tertentu, kondisi batin seseorang mencerminkan jalinan kompleks tersebut; karenanya, asal-usul kausal dari tindakan, ucapan, dan pikiran kadang-kadang diasosiasikan dengan kondisi batin sebagai suatu kiasan. Ini tidak berarti bahwa batin adalah jalinan kausal itu sendiri; hal ini lebih tepat dipahami sebagai refleksi abstrak.[15] Pola pikir seseorang bisa jadi tidak selaras dengan keinginan atau aspirasinya. Dalam merefleksikan kehendak tersebut, citta dikatakan akan berjalan sesuai kemauannya sendiri jika tidak dikendalikan dengan baik.[16] Hal ini dapat menyesatkan seseorang atau, jika dikendalikan, diarahkan, dan diintegrasikan dengan baik, dapat memuliakannya. Seseorang dapat "membuat citta berbelok mengikuti keinginannya" (cittaṃ vasaṃ vatteti, no ca cittassa vasena vattati; "Ia menguasai batinnya, bukan batin yang menguasai dirinya.") secara paling efektif dengan mengembangkan keterampilan dalam samādhi (konsentrasi meditatif), yang membawa ketenteraman dan kejernihan batin.[17]
Ragam kondisi dan pemurniannya
Seseorang mengalami banyak kondisi batin yang berbeda-beda; dalam MN 78, ada pertanyaan: "Citta yang mana? karena citta itu majemuk, bermacam-macam, dan beragam."[18] Secara umum, seseorang beroperasi dengan sekumpulan pola pikir yang berubah-ubah, dan beberapa di antaranya akan muncul secara rutin. Walaupun pola pikir ini menentukan kepribadian, mereka tidak mengendalikan diri mereka sendiri melainkan berfluktuasi dan bergantian. Oleh karena itu, terdapat kebutuhan akan integrasi kepribadian secara meditatif untuk memberikan konsistensi yang lebih bajik dan kuat.[19]
Citta sebagai sebuah pola pikir dapat menjadi "mengerut" (yakni tidak dapat diolah), "teralih", "berkembang besar", "tersusun", atau kebalikan dari kualitas-kualitas tersebut (Satipaṭṭhāna Sutta, MN 10). Citta dapat didominasi oleh emosi tertentu, menjadi "ketakutan", "tercengang", atau "tenteram." Ia dapat "dicengkeram" oleh kesan-kesan yang menyenangkan atau tidak menyenangkan (Mahārāhulovāda Sutta, MN 62). Sejumlah kondisi bermuatan emosi negatif dapat melekat padanya, atau ia mungkin bebas dari kondisi-kondisi tersebut, sehingga sangat penting untuk mengembangkan atau memurnikannya: "Sudah lama citta ini dikotori oleh keserakahan, kebencian, dan delusi. Melalui kekotoran citta, makhluk-makhluk menjadi kotor; melalui kesucian citta, makhluk-makhluk menjadi suci" (Dutiya Gaddulabaddha Sutta, SN 22.100).[20]
Pencapaian citta yang murni berkorespondensi dengan pencapaian vipassanā (pandangan terang yang membebaskan). Hal ini menunjukkan bahwa kondisi batin yang terbebas tidak mencerminkan ketidaktahuan atau kekotoran batin. Karena hal-hal tersebut merepresentasikan belenggu, ketiadaannya dijelaskan dalam konteks Nibbāna (kebebasan).[21]
Dalam Abhidhamma
Bagian ini kosong. Anda bisa membantu dengan melengkapinya. |
Lihat pula
- Cit (kesadaran)
- Batin yang bercahaya
- Cetasika
- Viññāṇa (Sanskerta: Vijñāna)
- Yogacara
Referensi
- ↑ Sue Hamilton, Identity and Experience. LUZAC Oriental, 1996, hlm. 105-106.
- ↑ Bodhi, Bhikkhu (terj.) (2000b). The Connected Discourses of the Buddha: A Translation of the Samyutta Nikaya. (Bagian IV adalah "The Book of the Six Sense Bases (Salayatanavagga)".) Boston: Wisdom Publications. ISBN0-86171-331-1., hlm. 769-70, n. 154.
- ↑ Sue Hamilton, Identity and Experience. LUZAC Oriental, 1996, hlm. 106.
- ↑ Peter Harvey, The Selfless Mind. Curzon Press, 1995, hlm. 111.
- ↑ Sue Hamilton, Identity and Experience. LUZAC Oriental, 1996, hlm. 110-111.
- ↑ "SN 41.6, Dutiyakāmabhūsutta, diterjemahkan oleh Bhikkhu Sujato, SuttaCentral".
- ↑ "MN 9, Sammādiṭṭhisutta, diterjemahkan oleh Bhikkhu Sujato, SuttaCentral".
- ↑ "MN 44, Cūḷavedallasutta, diterjemahkan oleh Bhikkhu Sujato, SuttaCentral".
- ↑ "SN 12.2, Vibhaṅgasutta, diterjemahkan oleh Bhikkhu Sujato, SuttaCentral".
- ↑ "SN 12.27, Paccayasutta, diterjemahkan oleh Bhikkhu Sujato, SuttaCentral".
- ↑ "SuttaCentral".
- ↑ Sue Hamilton, Identity and Experience. LUZAC Oriental, 1996, hlm. 112.
- ↑ Sue Hamilton, Identity and Experience. LUZAC Oriental, 1996, hlm. 112.
- ↑ Sue Hamilton, Identity and Experience. LUZAC Oriental, 1996, hlm. 112-113.
- ↑ Sue Hamilton, Identity and Experience. LUZAC Oriental, 1996, hlm. 112.
- ↑ Peter Harvey, The Selfless Mind. Curzon Press, 1995, hlm. 112-113.
- ↑ Peter Harvey, The Selfless Mind. Curzon Press, 1995, hlm. 113.
- ↑ Peter Harvey, The Selfless Mind. Curzon Press, 1995, hlm. 114.
- ↑ Peter Harvey, The Selfless Mind. Curzon Press, 1995, hlm. 114.
- ↑ Peter Harvey, The Selfless Mind. Curzon Press, 1995, hlm. 112.
- ↑ Sue Hamilton, Identity and Experience. LUZAC Oriental, 1996, hlm. 113.
Bacaan lanjutan
- Thanh, Bhikkhu Thich Minh (2001), The Mind in Early Buddhism