Kamis, 29 Oktober 2026
12:30 WIB
TERKINI
Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK
Majjhimanikāya

Majjhimanikāya

kitab suci agama Buddha, nikaya dalam Sutta Pitaka dari Tipitaka Pali, terdiri dari 152 sutra dengan panjang sedang

Bagikan:
Majjhimanikāya
JenisKitab kanonis
IndukSuttapiṭaka
AtribusiSāriputta; Bhāṇaka
AṭṭhakathāPapañcasūdanī (Majjhimanikāya-aṭṭhakathā)
PengomentarBuddhaghosa
ṬīkāLīnatthappakāsinī (Mūlapaṇṇāsa-ṭīkā, Majjhimapaṇṇāsaṭīkā, Uparipaṇṇāsa-ṭīkā)
SingkatanMN; M
← DN
SN →
Berdasarkan Chaṭṭha Saṅgāyana
Tipiṭaka
250px-Folios_of_the_Bhikkhuni-patimokkha_%28BL_IO_Man.Pali_21%29.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Bagian dari seri tentang
Buddhisme Theravāda
120px-Buddhism_dham_jak.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Buddhisme
icon PortalBuddhisme

Kitab Majjhimanikāya (Pali untuk "Kumpulan Sedang"; disingkat MN), juga ditulis sebagai Majjhima Nikāya, adalah sebuah kitab suci Buddhisme sebagai bagian kedua dari lima nikāya ("kumpulan") dalam Suttapiṭaka, yang merupakan salah satu dari "tiga keranjang" yang menyusun Tripitaka Pali sebagaimana dilestarikan oleh aliran Theravāda. Kitab ini disusun antara abad ke-3 SM dan abad ke-2 M.[1] Kitab ini terdiri dari 152 diskursus (sutta) yang diatribusikan kepada Sang Buddha dan murid-murid utama-Nya.[2]

Kanonisitas

Gambaran umum

Bhikkhu Bodhi dalam pengantar terjemahannya menggambarkan kitab ini sebagai berikut:

Jika Majjhimanikāya harus dicirikan dengan satu frasa untuk membedakannya dari kitab-kitab lain dalam Tripitaka Pali, hal ini dapat dilakukan dengan menggambarkannya sebagai koleksi yang menggabungkan keragaman kontekstual terkaya dengan kumpulan ajaran terdalam dan terlengkap.[3]

Keparalelan

Meskipun terdapat beberapa perbedaan, kitab Majjhimanikāya paralel dengan kitab Madhyamāgama yang ditemukan dalam Sūtrapiṭaka dari berbagai aliran Buddhis awal berbahasa Sanskerta (non-Theravāda), yang fragmennya masih ada dalam terjemahan bahasa Sanskerta dan Tibet. Terjemahan bahasa Tionghoa lengkap dari revisi kitab yang dilestarikan aliran Sarvāstivāda juga dapat ditemukan dalam Tripitaka Tionghoa, yang dikenal sebagai Zhōng Ahánjīng (中阿含經). Madhyamāgama dari aliran Sarvāstivāda berisi 222 sūtra, berbeda dengan 152 sutta dalam Majjhimanikāya Pāli (Theravāda).[4]

...dari 222 sutra di T. 26, hanya 103 sutra yang memiliki padanan dalam Majjhimanikāya; 14 memiliki padanan dalam Dīghanikāya, 17 dalam Saṃyuttanikāya, dan 87 dalam Aṅguttaranikāya. 14 dari 222 sutra di T. 26 tidak memiliki padanan yang diketahui dalam korpus Pali.[5]

Susunan

Sejumlah 152 diskursus (sutta) terbagi dalam tiga bagian, masing-masing dengan lima divisi. Semua divisi kecuali dua divisi terakhir berisi 10 diskursus.

Mūlapaṇṇāsa

Mūlapaṇṇāsa: disebut juga Bagian Pertama — Lima Puluh Khotbah Mula-mula
  • Mūlapariyāyavagga: Kelompok Khotbah tentang Akar
  • Sīhanādavagga: Kelompok Auman Singa
  • Opammavagga: Kelompok Perumpamaan
  • Mahāyamakavagga: Kelompok Panjang Berpasangan
  • Cūḷayamakavagga: Kelompok Pendek Berpasangan

Mūlapariyāyavagga

No.Judul PāliJudul IndonesiaKeterangan
MN 1Mūlapariyāya SuttaAkar Semua DhammaBuddha mengkaji bagaimana gagasan tentang diri yang kekal muncul dari proses persepsi, mencakup dimensi naturalistik dan kosmologis. Yang belum tercerahkan memersepsikan peristiwa sebagai diri, yang lebih maju tidak.
MN 2Sabbāsava SuttaSegala NodaTujuh metode untuk mengatasi kekotoran batin: melihat, menahan, menggunakan, membiarkan, menghindari, menghilangkan, dan mengembangkan.
MN 3Dhammadāyāda SuttaPewaris DhammaWarisan sejati Buddha adalah jalan spiritual. Sāriputta menjelaskan bagaimana mengikuti teladan Buddha untuk merasakan buah jalan.
MN 4Bhayabherava SuttaKetakutan dan KengerianKesulitan hidup di hutan belantara diatasi dengan moralitas dan meditasi. Buddha menceritakan ketakutan yang dihadapi-Nya saat berlatih.
MN 5Anaṅgaṇa SuttaTanpa NodaPerumpamaan mangkuk bernoda untuk menggambarkan noda batin. Yang penting bukan ada noda, tetapi kesadaran akan noda.
MN 6Ākaṅkheyya SuttaJika Seorang Biku MenghendakiMoralitas (sīla) adalah dasar semua pencapaian lebih tinggi dalam kehidupan spiritual.
MN 7Vattha SuttaPerumpamaan KainKekotoran batin diumpamakan seperti kain kotor. Batin bersih membawa kegembiraan menuju kesadaran lebih tinggi. Menolak pemurnian dengan mandi di sungai suci.
MN 8Sallekha SuttaPenghapusanMembedakan jhāna dengan latihan yang mencakup seluruh kehidupan. Empat puluh empat aspek “penghapusan” sebagai pengikisan kesombongan.
MN 9Sammādiṭṭhi SuttaPandangan BenarSāriputta menjelaskan secara rinci pandangan benar, faktor pertama Jalan Mulia Berunsur Delapan, dari berbagai perspektif.
MN 10Mahāsatipaṭṭhāna SuttaLandasan Perhatian PenuhFaktor ketujuh Jalan Mulia: meditasi perhatian penuh. Mengumpulkan banyak ajaran meditasi, terutama yang berfokus pada tubuh.

Sīhanādavagga

No.Judul PāliJudul IndonesiaKeterangan
MN 11Cūḷasīhanāda SuttaAuman Singa KecilHanya pengikut Buddha yang dapat mengalami Empat Tingkat Kesucian karena sistem lain tidak sepenuhnya menolak pandangan tentang diri (sakkāyadiṭṭhi).
MN 12Mahāsīhanāda SuttaAuman Singa BesarSunakkhatta menyerang ajaran Buddha karena hanya menuntun pada akhir penderitaan. Buddha membalikkan serangan itu sebagai pujian dan memaparkan pencapaian-Nya.
MN 13Mahādukkhakkhandha SuttaGumpalan Penderitaan BesarBuddha menunjukkan bahwa petapa lain berbicara tentang pelepasan tetapi tidak mengerti mengapa. Penjelasan rinci tentang penderitaan dari kemelekatan indra.
MN 14Cūḷadukkhakkhandha SuttaGumpalan Penderitaan KecilSeorang umat awam bingung mengapa pikiran serakah masih muncul. Buddha menjelaskan pentingnya jhāna untuk melepaskan kemelekatan, juga mengkritik penyiksaan diri.
MN 15Anumāna SuttaKesimpulanMoggallāna mengangkat topik pemberian nasihat untuk komunitas sehat. Daftar kualitas yang membuat seseorang pantas dinasihati secara konstruktif.
MN 16Cetokhila SuttaKekeringan BatinBerbagai cara seseorang dapat terputus secara emosional dari komunitas spiritual.
MN 17Vanapattha SuttaTempat Tinggal di HutanHidup di hutan tidak untuk semua orang. Praktisi harus merenungkan apakah lingkungan mendukung meditasi; jika tidak, tinggalkan.
MN 18Madhupiṇḍika SuttaGumpalan MaduKonflik muncul karena persepsi yang berkembang biak. Kaccāna menggambarkan implikasi mendalam dari hal ini.
MN 19Dvedhāvitakka SuttaDua Jenis PikiranPengalaman Buddha dalam meditasi: memahami pikiran berbahaya dan tidak berbahaya, serta melampaui pikiran.
MN 20Vitakkasaṇṭhāna SuttaPeredaman PikiranLima pendekatan praktis untuk menghentikan munculnya pikiran-pikiran jahat.

Opammavagga

No.Judul PāliJudul IndonesiaKeterangan
MN 21Kakacūpama SuttaPerumpamaan GergajiPentingnya kesabaran dan cinta kasih, bahkan menghadapi pelecehan. Diakhiri dengan perumpamaan gergaji yang terkenal.
MN 22Alagaddūpama SuttaPerumpamaan UlarSeorang biku menyangkal larangan. Teguran: memahami Dhamma tanpa makna bagaikan memegang ekor ular. Perumpamaan rakit.
MN 23Vammika SuttaGundukan SemutSeorang dewa memberikan teka-teki kepada biku, yang kemudian menanyakan maknanya kepada Buddha.
MN 24Rathavinīta SuttaRangkaian KeretaDialog antara Sāriputta dan Puṇṇa Mantāniputta tentang tahapan-tahapan pemurnian.
MN 25Nivāpa SuttaUmpanSeseorang terperangkap oleh Māra bagaikan rusa dalam jerat. Strategi pemburu dan buruan yang semakin kompleks.
MN 26Pāsarāsi SuttaTumpukan JeratBiografi penting: pengalaman Buddha dari meninggalkan rumah hingga mencapai pencerahan, didorong oleh keharusan terbebas dari kelahiran kembali.
MN 27Cūḷahatthipadopama SuttaJejak Gajah KecilMenegur pengambilan kesimpulan tergesa-gesa tentang pencapaian spiritual guru, seperti kehati-hatian pemburu gajah.
MN 28Mahāhatthipadopama SuttaJejak Gajah BesarSemua jejak kaki muat dalam jejak gajah; semua ajaran Buddha muat dalam Empat Kebenaran Mulia. Pola menyusun ajaran.
MN 29Mahāsāropama SuttaInti Kayu BesarPeringatan agar tidak berpuas diri dengan manfaat dangkal, menekankan pembebasan sebagai inti ajaran (setelah insiden Devadatta).
MN 30Cūḷasāropama SuttaInti Kayu KecilMirip dengan sebelumnya: peringatan agar tidak berpuas diri, pembebasan sebagai inti ajaran.

Mahāyamakavagga

No.Judul PāliJudul IndonesiaKeterangan
MN 31Cūḷagosiṅga SuttaGosiṅga KecilBuddha bertemu tiga biku yang berlatih harmonis. Mereka menjelaskan penanganan urusan praktis, lalu mengungkap pencapaian meditasi.
MN 32Mahāgosiṅga SuttaGosiṅga BesarBiku senior mendiskusikan praktisi seperti apa yang menerangi hutan. Buddha memuji jawaban mereka dan menyampaikan versinya sendiri.
MN 33Mahāgopālaka SuttaPenggembala Sapi BesarSebelas alasan penggembala sapi tidak dapat memelihara ternak dengan baik, diumpamakan dengan pertumbuhan spiritual biku.
MN 34Cūḷagopālaka SuttaPenggembala Sapi KecilPerumpamaan gembala membimbing kawanan menyeberangi sungai berbahaya. Berbagai tingkatan kesucian yang melintasi arus kelahiran kembali.
MN 35Cūḷasaccaka SuttaSaccaka KecilSaccaka, pendebat yang menyombongkan diri, menantang Buddha tetapi tidak terganggu dengan serangannya.
MN 36Mahāsaccaka SuttaSaccaka BesarDiskusi tentang perkembangan batin dan jasmani. Buddha menceritakan praktik ekstrem penyiksaan tubuh sebelum pencerahan.
MN 37Cūḷataṇhāsaṅkhaya SuttaPenghancuran Ketagihan KecilMoggallāna mengunjungi surga Sakka untuk memastikan pemahamannya tentang ajaran Buddha.
MN 38Mahātaṇhāsaṅkhaya SuttaPenghancuran Ketagihan BesarMenghindari pandangan salah bahwa kesadaran (viññāṇa) berpindah. Mengajarkan kemunculan bersebab (paṭiccasamuppāda).
MN 39Mahāassapura SuttaAssapura BesarMendorong biku untuk menghayati status mereka dan berlatih memenuhi atau melebihi ekspektasi.
MN 40Cūḷaassapura SuttaAssapura KecilStatus spiritual tidak hanya dari tampilan luar, tetapi dari perubahan batin yang tulus.

Cūḷayamakavagga

No.Judul PāliJudul IndonesiaKeterangan
MN 41Sāleyyaka SuttaKaum SāleyyaPerilaku yang mengarah ke kelahiran lebih tinggi atau rendah. Penjelasan sepuluh latihan utama untuk umat awam.
MN 42Verañjaka SuttaKaum VerañjaMirip dengan sebelumnya: perilaku dan sepuluh latihan utama untuk kelahiran kembali.
MN 43Mahāvedalla SuttaTanya Jawab BesarSeri tanya jawab antara Sāriputta dan Mahākoṭṭhita tentang aspek halus ajaran.
MN 44Cūḷavedalla SuttaTanya Jawab KecilUmat awam Visākha bertanya kepada bhikkhunī Dhammadinnā tentang hal-hal sulit termasuk pencapaian meditasi tertinggi. Buddha mendukung jawabannya.
MN 45Cūḷadhammasamādāna SuttaCara Menjalankan Dhamma KecilPraktik yang berbeda membawa hasil berbahaya atau bermanfaat. Perumpamaan tanaman merambat tentang bahaya kenikmatan indra.
MN 46Mahādhammasamādāna SuttaCara Menjalankan Dhamma BesarKita semua ingin bahagia tetapi sering terjadi sebaliknya. Buddha menjelaskan alasannya.
MN 47Vīmaṁsaka SuttaPenyelidikBuddha tidak hanya mendorong penyelidikan terhadap diri-Nya tetapi juga menyampaikan metode penyelidikan secara terperinci.
MN 48Kosambiya SuttaKaum KosambiPara biku Kosambi berselisih. Buddha mengajarkan cinta kasih dan keharmonisan, mengingatkan akan kedamaian yang dicari.
MN 49Brahmanimantanika SuttaUndangan BrahmāBuddha naik ke alam surga dan berdebat dengan makhluk yang menganggap dirinya abadi dan maha kuasa.
MN 50Māratajjanīya SuttaNasihat kepada MāraMāra mencoba mengganggu Moggallāna tetapi gagal dan malah mendengarkan khotbah tentang bahaya menyerang murid Buddha.

Majjhimapaṇṇāsa

Majjhimapaṇṇāsa: disebut juga Bagian Kedua — Lima Puluh Khotbah Menengah
  • Gahapativagga: Kelompok tentang Perumah tangga
  • Bhikkhuvagga: Kelompok tentang Para Biku
  • Paribbājakavagga: Kelompok tentang Para Pengembara
  • Rājavagga: Kelompok Para Raja
  • Brāhmaṇavagga: Kelompok Para Brahmana

Gahapativagga

No.Judul PāliJudul IndonesiaKeterangan
MN 51Kandaraka SuttaKepada KandarakaMeditasi perhatian penuh untuk umat awam. Membandingkan keterbukaan binatang dengan sikap bermuka dua manusia.
MN 52Aṭṭhakanāgara SuttaUmat AṭṭhakanāgaraĀnanda menjelaskan sebelas kondisi meditatif yang dapat berfungsi sebagai pintu menuju Nibbāna.
MN 53Sekha SuttaYang Masih BerlatihBuddha diundang suku Sakya. Ānanda menjelaskan tahapan latihan spiritual bagi umat awam yang berlatih.
MN 54Potaliya SuttaKepada PotaliyaPotaliya marah disebut “perumah tangga”. Buddha menanyainya tentang hakikat kemelekatan dan pelepasan.
MN 55Jīvaka SuttaKepada JīvakaDokter pribadi Buddha, Jīvaka, mendengar kritik tentang kebijakan makan daging dan bertanya kepada Buddha.
MN 56Upāli SuttaKepada UpāliBuddha tidak setuju dengan petapa Jain tentang pentingnya perbuatan batin vs jasmani. Upāli berniat membantah tetapi akhirnya menjadi pengikut.
MN 57Kukkuravatika SuttaPerilaku Anjing dan SapiPetapa yang berperilaku seperti sapi atau anjing. Buddha mengungkapkan buah kamma dari praktik tersebut.
MN 58Abhayarājakumāra SuttaPangeran AbhayaPemimpin Jain Nigaṇṭha Nātaputta memberi dilema kepada pangeran Abhaya untuk menjebak Buddha, tetapi tidak berhasil.
MN 59Bahuvedanīya SuttaBerbagai PerasaanMenyelesaikan perselisihan tentang jumlah jenis perasaan. Menunjukkan pentingnya perasaan sukacita dalam meditasi lebih tinggi.
MN 60Apaṇṇaka SuttaYang Tak TerbantahkanMengajar perumah tangga yang tidak berkomitmen tentang perenungan rasional untuk mencapai praktik yang terjamin hasil baiknya.

Bhikkhuvagga

No.Judul PāliJudul IndonesiaKeterangan
MN 61Ambalaṭṭhikarāhulovāda SuttaNasihat kepada Rāhula di AmbalaṭṭhikāMenggunakan secangkir air, Buddha menjelaskan kepada putranya Rāhula tentang pentingnya kejujuran dan merenungkan motif.
MN 62Mahārāhulovāda SuttaNasihat Besar kepada RāhulaBuddha meminta Rāhula mengembangkan meditasi anatta. Sāriputta menasihati meditasi pernapasan, tetapi Buddha menyarankan berbagai latihan terlebih dahulu.
MN 63Cūḷamālukya SuttaMālukya KecilSeorang biku menuntut jawaban pertanyaan metafisik atau akan lepas jubah. Perumpamaan orang terkena panah yang menolak perawatan.
MN 64Mahāmālukya SuttaMālukya BesarBayi tidak memiliki pandangan salah, tetapi kecenderungan mendasar masih ada. Tanpa latihan, kecenderungan akan kambuh.
MN 65Bhaddāli SuttaKepada BhaddāliSeorang biku menolak aturan tidak makan setelah tengah hari, tetapi berakhir dengan penyesalan dan pengampunan.
MN 66Laṭukikopama SuttaPerumpamaan Burung PuyuhAturan makan sebagai renungan syukur. Menekankan bagaimana kemelekatan, bahkan pada hal kecil, bisa berbahaya.
MN 67Cātuma SuttaDi CātumaSetelah mengurus biku nakal, Buddha mengajarkan empat jenis ketakutan pada mereka yang meninggalkan keduniawian.
MN 68Naḷakapāna SuttaDi NaḷakapānaOrang berlatih bukan karena gagal, tetapi karena mengaspirasikan kebebasan lebih tinggi. Buddha berbicara tentang pencapaian murid untuk menginspirasi.
MN 69Goliyāni SuttaKepada GoliyāniSeorang biku dari hutan berperilaku buruk. Sāriputta menjelaskan bagaimana biku seharusnya berperilaku, baik di hutan maupun di kota.
MN 70Kīṭāgiri SuttaDi KīṭāgiriManfaat kesehatan menghindari makan malam, dan keengganan beberapa biku mengikuti aturan ini.

Paribbājakavagga

No.Judul PāliJudul IndonesiaKeterangan
MN 71Tevijjavaccha SuttaVaccha tentang Tiga PengetahuanBuddha menyangkal kemahatahuan-Nya, dan mengemukakan tiga pengetahuan lebih tinggi sebagai fondasi kebijaksanaan tercerahkan.
MN 72Aggivaccha SuttaVaccha tentang ApiMenolak memberikan pandangan tentang spekulasi metafisik. Perumpamaan nyala api yang padam.
MN 73Mahāvaccha SuttaVaccha BesarBagian terakhir trilogi Vacchagotta: ia melepaskan obsesi spekulasi dan bertanya tentang latihan.
MN 74Dīghanakha SuttaDīghanakhaMenghalau orang yang sangat skeptis. Membahas hasil kepercayaan dan ketidakpercayaan. Menganjurkan menganalisis perasaan yang dialami.
MN 75Māgaṇḍiya SuttaKepada MāgaṇḍiyaDituduh terlalu negatif oleh seorang hedonis. Buddha menceritakan kemewahan dahulu dan menemukan “kesenangan” yang lebih besar melalui pelepasan.
MN 76Sandaka SuttaKepada SandakaĀnanda mengajar sekelompok pengembara tentang berbagai pendekatan kehidupan spiritual, banyak di antaranya tidak mengarah ke mana pun.
MN 77Mahāsakuludāyi SuttaSakuludāyi BesarPengikut Buddha memperlakukan-Nya dengan cinta kasih tulus karena mereka melihat ketulusan ajaran dan latihan-Nya.
MN 78Samaṇamuṇḍika SuttaSamaṇamuṇḍikaSeorang pengembara mengajarkan bahwa pencapaian tertinggi adalah menjalankan empat sila dasar. Standar Buddha jauh lebih tinggi.
MN 79Cūḷasakuludāyi SuttaSakuludāyi KecilSeorang pengembara mengajarkan “kemegahan tertinggi” tanpa penjelasan memuaskan. Perumpamaan jatuh cinta pada wanita ideal yang belum pernah ditemui.
MN 80Vekhanasa SuttaKepada VekhanasaSeseorang tidak berpindah ke ajaran Buddha karena argumentasi cerdas, tetapi karena melihat sendiri hasil latihan.

Rājavagga

No.Judul PāliJudul IndonesiaKeterangan
MN 81Ghaṭikāra SuttaPembuat Gerabah GhaṭikāraKisah kehidupan lampau Buddha Gotama pada masa Buddha Kassapa. Penting untuk memahami perkembangan doktrin Bodhisatta.
MN 82Raṭṭhapāla SuttaRaṭṭhapālaRaṭṭhapāla ingin meninggalkan keduniawian tetapi harus mengatasi keengganan orang tua. Diakhiri ajaran mengharukan tentang kerapuhan dunia.
MN 83Maghadeva SuttaRaja MaghadevaNarasi mistik panjang tentang garis keturunan raja kuno dan kejatuhan mereka kelak.
MN 84Madhura SuttaDi MadhurāRaja Avantiputta bertanya kepada Mahākaccāna tentang klaim brahmana sebagai kasta tertinggi.
MN 85Bodhirājakumāra SuttaPangeran BodhiBuddha mengakui dulu percaya kebahagiaan melalui sakit, tetapi praktik-Nya menunjukkan kesalahan pandangan itu.
MN 86Aṅgulimāla SuttaAṅgulimālaBuddha mengunjungi pembunuh Aṅgulimāla dan menuntunnya ke jalan tanpa kekerasan. Ia masih menderita karena perbuatan lampau tetapi hanya sedikit.
MN 87Piyajātika SuttaLahir dari yang TercintaRaja Pasenadi dan ratu Mallikā. Buddha mengajarkan bahwa orang yang kita cintai membuat kita sedih.
MN 88Bāhitika SuttaSelendangRaja Pasenadi mengunjungi Ānanda, bertanya tentang perilaku terampil dan tidak terampil. Mempersembahkan kain berharga sebagai terima kasih.
MN 89Dhammacetiya SuttaMonumen DhammaRaja Pasenadi menjelang akhir hidup mengunjungi Buddha, menunjukkan pengabdian dan cinta kasih yang mengharukan.
MN 90Kaṇṇakatthala SuttaDi KaṇṇakatthalaRaja Pasenadi mempertanyakan Buddha tentang kasta, kemahatahuan, dan para dewa.

Brāhmaṇavagga

No.Judul PāliJudul IndonesiaKeterangan
MN 91Brahmāyu SuttaBrahmāyuBrahmana tua mengirim siswa untuk menguji Buddha. Yakin Buddha memenuhi ramalan Manusia Luar Biasa, ia menjadi murid.
MN 92Sela SuttaSelaPetapa brahmana Keṇiya mengundang Saṅgha. Brahmana Sela melihat dan mengungkapkan kegembiraannya dalam syair.
MN 93Assalāyana SuttaAssalāyanaSiswa brahmana muda didorong menantang Buddha tentang kasta. Keengganannya terbukti benar.
MN 94Ghoṭamukha SuttaGhoṭamukhaSeorang brahmana menyangkal adanya kehidupan pelepasan yang berprinsip, tetapi Udena meyakinkan sebaliknya.
MN 95Caṅkī SuttaCaṅkīBrahmana Caṅkī mengunjungi Buddha. Penjelasan tentang bagaimana pemahaman benar muncul secara bertahap melalui pendidikan spiritual.
MN 96Esukārī SuttaEsukārīSeorang brahmana mengklaim kasta menentukan pelayanan. Buddha membantah: perilaku, bukan kasta, yang menunjukkan nilai.
MN 97Dhanañjāni SuttaDhanañjāniSāriputta menasihati brahmana yang mencari alasan pembenaran atas kelalaiannya karena banyak tugas.
MN 98Vāseṭṭha SuttaVāseṭṭhaDua siswa brahmana bertanya: brahmana karena kelahiran atau perbuatan? Jawaban: bagi manusia, perbuatan yang menentukan.
MN 99Subha SuttaSubhaBekerja keras tanpa memedulikan hasil tidak bermakna. Beberapa praktik spiritual yang tercemar pandangan salah bisa tidak membawa hasil bermanfaat.
MN 100Saṅgārava SuttaSaṅgāravaBrahmana marah karena pengabdian istrinya kepada Buddha. Buddha memposisikan diri sebagai penentang tradisi, pengajar berdasarkan pengalaman langsung.

Uparipaṇṇāsa

Uparipaṇṇāsa: disebut juga Lima Puluh Khotbah Akhir
  • Devadahavagga: Kelompok di Devadaha
  • Anupadavagga: Kelompok Satu Demi Satu
  • Suññatavagga: Kelompok tentang Kekosongan
  • Vibhaṅgavagga: Kelompok Penjelasan
  • Saḷāyatanavagga: Kelompok Enam Landasan Indra

Devadahavagga

No.Judul PāliJudul IndonesiaKeterangan
MN 101Devadaha SuttaDi DevadahaMenangani petapa Jain yang mengklaim penyiksaan diri mengakhiri penderitaan. Menunjukkan kekeliruan logika mereka dan menjelaskan jalan tengah.
MN 102Pañcattaya SuttaLima dan TigaVersi sedang dari Brahmajāla Sutta. Memeriksa berbagai pandangan spekulatif dan menolak semua.
MN 103Kinti SuttaApa yang Anda Pikirkan?Buddha mengajarkan para biku untuk tidak mempermasalahkan ajaran dasar, tetapi selalu mengupayakan keharmonisan.
MN 104Sāmagāma SuttaDi SāmagāmaMendengar wafatnya pemimpin Jain, Buddha mendorong Saṅgha menyelesaikan perselisihan dengan tujuh metode. Fondasi kitab disiplin monastik.
MN 105Sunakkhatta SuttaSunakkhattaTidak semua yang mengaku tercerahkan benar-benar tercerahkan. Kemajuan spiritual bergantung pada pelepasan berkelanjutan kondisi yang menyebabkan penderitaan.
MN 106Āneñjasappāya SuttaKondisi Tanpa GoyahDimulai dengan jhāna mendalam, kemudian tingkat lebih dalam. Pandangan-terang mengarah pada pelepasan kesadaran dari segala bentuk kelahiran kembali.
MN 107Gaṇakamoggallāna SuttaGaṇaka MoggallānaPerumpamaan pelatihan akuntan dengan pelatihan bertahap jalan spiritual. Buddha hanyalah penunjuk jalan; seseorang harus menjalani sendiri.
MN 108Gopakamoggallāna SuttaGopaka MoggallānaSetelah wafat Buddha, Ānanda ditanya tentang keberlanjutan Saṅgha. Ajaran dan latihan menjadi guru penerus, Saṅgha menyelesaikan masalah dengan mufakat.
MN 109Mahāpuṇṇama SuttaBulan Purnama BesarPada malam bulan purnama, seorang biku mengajukan pertanyaan mengarah ke inti ajaran. Biku lain tidak mampu memahami anatta.
MN 110Cūḷapuṇṇama SuttaBulan Purnama KecilOrang baik bisa memahami orang jahat, tetapi tidak sebaliknya.

Anupadavagga

No.Judul PāliJudul IndonesiaKeterangan
MN 111Anupada SuttaBertahapPenjelasan teknis proses pandangan-terang Sāriputta. Banyak gagasan menjadi pelopor Abhidhamma.
MN 112Chabbisodhana SuttaPemeriksaan SeksamaJika seseorang mengaku tercerahkan, klaim harus diperiksa dengan serangkaian pertanyaan terperinci.
MN 113Sappurisa SuttaOrang BaikOrang yang benar-benar baik tidak merendahkan orang lain atau merasa superior karena pencapaian mereka.
MN 114Sevitabbāsevitabba SuttaHarus Dikembangkan atau TidakBuddha menetapkan kerangka hal yang harus dikembangkan atau dihindari. Sāriputta menjelaskannya.
MN 115Bahudhātuka SuttaBanyak UnsurSeseorang menjadi bijaksana dengan menyelidiki unsur-unsur (dhātu), landasan indra, kemunculan bersebab, dan apa yang mungkin.
MN 116Isigili SuttaIsigiliMerefleksikan perubahan ciri geografis. Menceritakan nama-nama orang bijak masa lampau yang tinggal di Gunung Isigili.
MN 117Mahācattārīsaka SuttaEmpat Puluh BesarPrasyarat samādhi benar yang menekankan keterkaitan semua faktor Jalan Mulia Berunsur Delapan.
MN 118Ānāpānassati SuttaPerhatian Penuh pada PernapasanBuddha mengajarkan perhatian penuh pada pernapasan secara rinci, hubungannya dengan empat jenis meditasi perhatian penuh.
MN 119Kāyagatāsati SuttaPerhatian Penuh pada TubuhFokus pada aspek pertama meditasi perhatian penuh: pengamatan tubuh. Praktik sederhana dengan manfaat luas.
MN 120Saṅkhārupapatti SuttaKelahiran Kembali karena BentukanBuddha menjelaskan bagaimana seseorang dapat membuat aspirasi untuk terlahir kembali di alam berbeda.

Suññatavagga

No.Judul PāliJudul IndonesiaKeterangan
MN 121Cūḷasuññata SuttaKekosongan KecilLatihan meditasi pada kekosongan yang dipraktikkan Buddha.
MN 122Mahāsuññata SuttaKekosongan BesarSekelompok biku terlalu banyak bersosialisasi. Buddha mengajarkan pentingnya pengasingan untuk memasuki kekosongan.
MN 123Acchariyaabbhuta SuttaMenakjubkan dan AjaibĀnanda berbicara tentang kualitas menakjubkan Buddha saat kelahiran. Buddha menutup dengan menjelaskan apa yang benar-benar menakjubkan tentang diri-Nya.
MN 124Bākula SuttaBakkulaBakkula, biku paling sehat, menjelaskan latihannya yang ketat. Bentuk tidak biasa menunjukkan penambahan setelah wafat Buddha.
MN 125Dantabhūmi SuttaTingkat PenjinakanSeorang sāmaṇera tidak dapat menjelaskan penjinakan batin. Buddha memberi perumpamaan penjinakan gajah.
MN 126Bhūmija SuttaBhūmijaKeberhasilan spiritual tidak bergantung pada sumpah, tetapi pada apakah seseorang berlatih dengan baik.
MN 127Anuruddha SuttaAnuruddhaSeorang umat awam bingung antara kebebasan batin “tanpa batas” dan “luhur”. Anuruddha menjelaskan.
MN 128Upakkilesa SuttaKekotoranLatar pertengkaran Kosambi. Buddha gagal rekonsiliasi, meninggalkan vihara, lalu bertemu komunitas biku inspiratif. Membahas hambatan meditasi sebelum pencerahan.
MN 129Bālapaṇḍita SuttaOrang Bodoh dan BijaksanaOrang dungu menderita di kedua kehidupan, orang bijaksana mendapat manfaat.
MN 130Devadūta SuttaUtusan DewaDeskripsi paling rinci tentang kengerian neraka, memperluas khotbah sebelumnya.

Vibhaṅgavagga

No.Judul PāliJudul IndonesiaKeterangan
MN 131Bhaddekaratta SuttaSatu Malam yang BeruntungSyair singkat memuji manfaat memahami sini-kini, diikuti penjelasan.
MN 132Ānandabhaddekaratta SuttaĀnanda: Satu Malam BeruntungKhotbah yang sama dengan MN 131, tetapi disampaikan oleh Ānanda.
MN 133Mahākaccānabhaddekaratta SuttaMahākaccāna: Satu Malam BeruntungSyair dari MN 131 dijelaskan dengan cara berbeda oleh Mahākaccāna.
MN 134Lomasakaṅgiyabhaddekaratta SuttaLomasakaṅgiya: Satu Malam BeruntungSeorang biku yang tidak mengetahui syair didorong dewa untuk mempelajarinya.
MN 135Cūḷakammavibhaṅga SuttaAnalisis Perbuatan KecilBuddha menjelaskan kepada brahmana bagaimana perbuatan (kamma) lampau memengaruhi kehidupan saat ini.
MN 136Mahākammavibhaṅga SuttaAnalisis Perbuatan BesarMenekankan kompleksitas nuansa dalam hukum kamma, mengoreksi penyederhanaan berlebihan.
MN 137Saḷāyatanavibhaṅga SuttaAnalisis Enam Landasan IndraAnalisis terperinci dari enam indra dan hubungannya dengan proses emosi dan kognitif.
MN 138Uddesavibhaṅga SuttaAnalisis RingkasanPernyataan singkat dan penuh teka-teki tentang kesadaran melekati objek. Mahākaccāna menjelaskan implikasi.
MN 139Araṇavibhaṅga SuttaAnalisis Tanpa KeteganganCara menghindari konflik: menghindari ekstrem, ucapan benar, pemahaman kesenangan, menghindari pemaksaan bahasa.
MN 140Dhātuvibhaṅga SuttaAnalisis Unsur-unsurBuddha bermalam di rumah kerja pengrajin tembikar, bertemu biku yang tidak mengenali-Nya. Diskusi mendalam tentang unsur-unsur menuju Kearahattaan.
MN 141Saccavibhaṅga SuttaAnalisis KebenaranMemperluas khotbah pertama Buddha. Sāriputta memberikan penjelasan rinci tentang Empat Kebenaran Mulia.
MN 142Dakkhiṇāvibhaṅga SuttaAnalisis PersembahanIbu tiri Buddha Mahāpajāpatī ingin mempersembahkan jubah. Buddha mendorong persembahan kepada seluruh Saṅgha. Jenis persembahan terbaik.

Saḷāyatanavagga

No.Judul PāliJudul IndonesiaKeterangan
MN 143Anāthapiṇḍikovāda SuttaNasihat kepada AnāthapiṇḍikaUmat awam Anāthapiṇḍika terbaring sekarat. Sāriputta mengunjungi dan memberikan ajaran tentang ketidakmelekatan.
MN 144Channovāda SuttaNasihat kepada ChannaBiku Channa menderita sakit akut dan ingin bunuh diri.
MN 145Puṇṇovāda SuttaNasihat kepada PuṇṇaPuṇṇa hendak pergi ke negeri yang penuh orang liar. Buddha menanyai bagaimana tanggapannya jika diserang.
MN 146Nandakovāda SuttaNasihat NandakaNandaka diminta mengajar para bikuni, mengundang mereka berdialog dan menanyakan hal yang perlu penjelasan lebih lanjut.
MN 147Cūḷarāhulovāda SuttaNasihat Kecil kepada RāhulaBuddha membawa Rāhula ke tempat terpencil untuk dibimbing menuju pembebasan.
MN 148Chachakka SuttaEnam EnamanAnalisis enam indra dari enam perspektif, menunjukkan kekosongan semua indra.
MN 149Mahāsaḷāyatanika SuttaEnam Landasan Indra BesarMenjelaskan bagaimana pandangan-terang yang diarahkan ke enam indera diintegrasikan dengan Jalan Mulia Berunsur Delapan menuju pembebasan.
MN 150Nagaravindeyya SuttaKaum NagaravindeyyaDiskusi dengan perumah tangga tentang membedakan praktisi spiritual yang layak dihormati.
MN 151Piṇḍapātapārisuddhi SuttaKemurnian Makanan SedekahBuddha memperhatikan kulit bercahaya Sāriputta hasil meditasi mendalam. Serangkaian perenungan agar biku layak menerima dana makanan.
MN 152Indriyabhāvanā SuttaPengembangan IndraSeorang guru brahmana mengatakan pemurnian indra dengan tidak melihat dan tidak mendengar. Buddha menjelaskan pemurnian indra adalah memahami dan tidak terpengaruh.

Terjemahan

Bahasa Inggris

Terjemahan lengkap

  • Bhikkhu Ñāṇamoli dan Bhikkhu Bodhi (penerj.), The Middle Length Discourses of the Buddha: A Translation of the Majjhima Nikaya, 1995, Somerville: Wisdom Publications ISBN0-86171-072-X.
  • Lord Chalmers, penerj. (1898–1926), Further Dialogues of the Buddha, 1926–7, vol.1, vol. 2, London: Pali Text Society. Dicetak ulang: Ann Arbor: Books on Demand, University of Michigan.
  • I. B. Horner (penerj.), The Book of Middle Length Sayings, 1954–9, 3 volumes, Bristol: Pali Text Society.
  • David W. Evans (penerj.), Discourses of Gotama Buddha: Middle Collection, 1991, Janus Pubns. "Terjemahan dalam bentuk ringkasan ... hanya sekitar sepertiga ukuran terjemahan Horner, tetapi dengan lebih dari 90% konten yang signifikan."
  • Biku Sujato (penerj.), The Middle Discourses, 2018, diterbitkan secara daring di SuttaCentral dan dirilis ke domain publik.

Teks-teks pilihan

  • A Treasury of the Buddha's Words, terj. Nanamoli, direvisi Khantipalo, Bangkok; kemudian direvisi & diperluas dengan menyertakan edisi MLDB di atasnya
  • Twenty-Five Suttas from Mula-Pannasa, Burma Pitaka Association, Rangoon, 1986?; dicetak ulang Sri Satguru, Delhi.
  • Twenty-Five Suttas from Majjhima-Pannasa, Myanmar Pitaka Association, Rangoon, 1987; dicetak ulang Sri Satguru, Delhi.
  • Twenty-Five Suttas from Upari-Pannasa, Myanmar Pitaka Association, Rangoon, 1988?; dicetak ulang Sri Satguru, Delhi.

Bahasa Indonesia

Bahasa Hindi

Lihat pula

Referensi

  1. ↑ Singh, Upinder. A History of Ancient and Early Medieval India: From the Stone Age to the 12th Century. Pearson. hlm. 25.
  2. ↑ A version of the Pali original is available in Gotama, Buddha (2012). Majjhima Nikaya: The Middle Length Discourses of the Buddha. CreateSpace Independent Publishing Platform. ISBN 978-1478369622.
  3. ↑ Bodhi, Bhikkhu (1995). The Middle Length Discourses of the Buddha: A New Translation of the Majjhima Nikāya. Kandy, Sri Lanka: Buddhist Publication Society, first published by Wisdom Publications. hlm. 5–11, 20. ISBN 0-86171-072-X.
  4. ↑ A Dictionary of Buddhism, by Damien Keown, Oxford University Press: 2004
  5. ↑ Bingenheimer, Marcus; Bucknell, Rodney S.; Analayo, Bhikkhu (2013), The Madhyama Agama: Middle-length Discourses: 1 (PDF), Bukkyo Dendo Kyokai, hlm. xvi, ISBN 978-1886439474, diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 2018-04-13, diakses tanggal 2019-08-03
  6. ↑ Sharma, R. S. (2009). Rethinking India's Past. Oxford University Press. ISBN 978-0-19-569787-2.

Pranala luar

Wikikutip memiliki koleksi kutipan yang berkaitan dengan: Majjhimanikāya.
Dīghanikāya
(DN)
Sīlakkhandhavagga
(DN 1-13)
Mahāvagga
(DN 14-23)
Pāthikavagga
(DN 24-34)
Majjhimanikāya
(MN)
Mūlapaṇṇāsa
(MN 1-50)
Mūlapariyāyavagga
(MN 1-10)
Sīhanādavagga
(MN 11-20)
Opammavagga
(MN 21-30)
Mahāyamakavagga
(MN 31-40)
Cūḷayamakavagga
(MN 41-50)
Majjhimapaṇṇāsa
(MN 51-100)
Gahapativagga
(MN 51-60)
Bhikkhuvagga
(MN 61-70)
Paribbājakavagga
(MN 71-80)
Rājavagga
(MN 81-90)
Brāhmaṇavagga
(MN 91-100)
Uparipaṇṇāsa
(MN 101-152)
Devadahavagga
(MN 101-110)
Anupadavagga
(MN 111-120)
Suññatavagga
(MN 121-130)
Vibhaṅgavagga
(MN 131-142)
Saḷāyatanavagga
(MN 143-152)
Saṃyuttanikāya
(SN)
Aṅguttaranikāya
(AN)
Khuddakanikāya
(KN)
40px-Buddhism_Symbol.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail   Topik Buddhisme   40px-Flag_of_Buddhism.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Buddhisme awal
Benua
Populasi signifikan
Aliran arus utama
Sinkretis
Theravāda
Mahāyāna-Vajrayāna
Kitab daring
Buddha saat ini dan keluarga
4 tempat suci utama
Buddha penting sebelumnya
Buddha selanjutnya
Bawahan
Mahāyāna-Vajrayāna
Jenis penganut
4 tingkat kemuliaan
Tempat ibadah
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan