Sabtu, 31 Oktober 2026
15:36 WIB
TERKINI
Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK

Terapi penerimaan dan komitmen

terapi perilaku

Bagikan:
Bagian dari seri tentang
Kewawasan
60px-Lotus_position.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Kategori

Terapi penerimaan dan komitmen (bahasa Inggris:Acceptance and commitment therapy, ACT, biasanya diucapkan sebagai kata "tindakan") adalah salah satu bentuk psikoterapi, serta cabang analisis perilaku klinis.[1] Ini adalah intervensi psikologis berbasis empiris yang menggunakan strategi penerimaan dan perhatian[2] bersama dengan strategi komitmen dan perubahan perilaku untuk meningkatkan fleksibilitas psikologis.

Pendekatan ini pertama kali disebut comprehensive distancing.[3] Steven C. Hayes mengembangkannya sekitar tahun 1982 untuk mengintegrasikan fitur terapi kognitif dan analisis perilaku, terutama data analitik perilaku tentang dampak negatif aturan verbal dan bagaimana aturan tersebut dapat diperbaiki.[4]

Protokol ACT bervariasi menurut perilaku target dan pengaturannya. Misalnya, dalam kesehatan perilaku, versi singkat dari ACT adalah terapi penerimaan dan komitmen terfokus (bahasa Inggris:Focused acceptance and commitment therapy, FACT).[5]

Tujuan ACT bukanlah menghilangkan perasaan sulit, namun untuk hadir dengan apa yang dibawa kehidupan dan "bergerak menuju perilaku yang dihargai".[6]: 240   Terapi penerimaan dan komitmen mengajak orang untuk terbuka terhadap perasaan tidak menyenangkan, tidak bereaksi berlebihan, dan tidak menghindari situasi yang menyebabkannya.

Efek terapeutiknya bertujuan untuk menjadi spiral positif, di mana lebih banyak pemahaman tentang emosi seseorang mengarah pada pemahaman yang lebih baik tentang kebenaran.[7] Dalam ACT, "kebenaran" diukur melalui konsep "kemampuan kerja", atau apa yang berhasil untuk mengambil langkah menuju hal yang penting (misalnya, nilai, makna).

Referensi

  1. ↑ Plumb, Jennifer C.; Stewart, Ian; Dahl, Joanne; Lundgren, Tobias (Musim semi 2009). "In search of meaning: values in modern clinical behavior analysis". The Behavior Analyst. 32 (1): 85–103. doi:10.1007/BF03392177. PMC 2686995. PMID 22478515.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  2. ↑ Hayes, Steven C. "Acceptance & Commitment Therapy (ACT)". ContextualPsychology.org.
  3. ↑ Zettle, Robert D. (2005). "The evolution of a contextual approach to therapy: from comprehensive distancing to ACT". International Journal of Behavioral Consultation and Therapy. 1 (2): 77–89. doi:10.1037/h0100736.
  4. ↑ Waltz, Thomas J.; Hayes, Steven C. (2010). "Acceptance and Commitment Therapy". Dalam Kazantzis, Nikolaos; Reinecke, Mark A.; Freeman, Arthur (ed.). Cognitive and Behavioral Theories in Clinical Practice. New York: Guilford Press. hlm. 155–156. ISBN 978-1-60623-342-9. OCLC 317927326.
  5. ↑ "Focused Acceptance and Commitment Therapy (FACT): Mastering The Basics". contextualscience.org. Association for Contextual Behavioral Science. Diarsipkan dari asli tanggal 2016-04-07. Diakses tanggal 2016-04-07.
  6. ↑ Hayes, Stephen C.; Strosahl, Kirk D.; Wilson, Kelly G. (2012). Acceptance and Commitment Therapy: The Process and Practice of Mindful Change (Edisi 2nd). Guilford Press. ISBN 9781609189624. OCLC 713181786.
  7. ↑ Shpancer, Noam (September 8, 2010). "Emotional Acceptance: Why Feeling Bad is Good". Psychology Today blogs.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
Ikon rintisan

Artikel bertopik psikologi ini adalah sebuah rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia dengan mengembangkannya.

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan