Senin, 26 Oktober 2026
12:57 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK Bandar Lampung Polda Lampung Luncurkan Operasi Patuh Krakatau 2026: 702 Personel Siap Tingkatkan Disiplin Lalu Lintas Bandar Lampung Pembakaran Sampah Diduga Picu Kebakaran Lahan di Panjang Bandar Lampung Bandar Lampung Waspada Hujan Ringan: Prakiraan Cuaca Lampung Sepanjang 24 Oktober 2026 Bandar Lampung Penundaan Pembahasan APBD Lampung 2027: Berkas dan Data Terkini Jadi Kunci Bandar Lampung Fokus Pendidikan dan Ekonomi Desa, Lampung Matangkan APBD 2027 Bandar Lampung Polisi Hadir di Jalanan: Ratusan Makan Siang Gratis Eratkan Hubungan Warga Bandar Lampung Bandar Lampung Ancaman Serius TNBBS: 23 Kasus Pidana Kehutanan Terungkap dalam Satu Dekade Bandar Lampung Penipuan Rekrutmen Honorer Rp20 Juta di Bandar Lampung Berakhir Damai Bandar Lampung Transformasi 40 Tahun FISIP Unila: Dari Prestasi Global hingga Riset Solutif Lampung Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK Bandar Lampung Polda Lampung Luncurkan Operasi Patuh Krakatau 2026: 702 Personel Siap Tingkatkan Disiplin Lalu Lintas Bandar Lampung Pembakaran Sampah Diduga Picu Kebakaran Lahan di Panjang Bandar Lampung Bandar Lampung Waspada Hujan Ringan: Prakiraan Cuaca Lampung Sepanjang 24 Oktober 2026 Bandar Lampung Penundaan Pembahasan APBD Lampung 2027: Berkas dan Data Terkini Jadi Kunci Bandar Lampung Fokus Pendidikan dan Ekonomi Desa, Lampung Matangkan APBD 2027 Bandar Lampung Polisi Hadir di Jalanan: Ratusan Makan Siang Gratis Eratkan Hubungan Warga Bandar Lampung Bandar Lampung Ancaman Serius TNBBS: 23 Kasus Pidana Kehutanan Terungkap dalam Satu Dekade Bandar Lampung Penipuan Rekrutmen Honorer Rp20 Juta di Bandar Lampung Berakhir Damai Bandar Lampung Transformasi 40 Tahun FISIP Unila: Dari Prestasi Global hingga Riset Solutif Lampung
Sutra Mahāyāna

Sutra Mahāyāna

Bagikan:
250px-Nepal_Thangka_with_Prajnaparamita.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Thangka Nepal dengan Prajñāpāramitā, personifikasi kebijaksanaan transenden (prajñā), memegang Sutra Prajñāpāramitā Mahāyāna
250px-Nagarjuna%2C_Tibet%2C_1644-1911_AD_-_Sichuan_Provincial_Museum_-_Chengdu%2C_China_-_DSC04486.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Penggambaran Tibet tentang Nagarjuna yang menerima sutra Mahāyāna dari para Nāga (di sebelah kanan)
Berdasarkan Tripitaka Taishō
Tripitaka Tionghoa
250px-Section_of_Tripitaka_%28Issai-kyo%29%2C_13th_century%2C_Dayton_Art_Institute.JPG?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Terjemahan teks India
Karya Tionghoa dan Jepang
  • 1693–1803 Sūtravibhāṣā
  • 1804–1815 Vinayavibhāṣā
  • 1816–1850 Śāstravibhāṣā
  • 1851–2025 Sarvasamaya
  • 2026–2120 Sejarah
  • 2121–2136 Ensiklopedia
  • 2137–2144 Teks Nonbuddhis
  • 2145–2184 Katalog
Suplemen
  • 2185–2700 Klarifikasi Sūtra Tambahan
  • 2701–2731 Siddhaṃ
  • 2732–2864 Kuno
  • 2865–2920 Diragukan
  • Vol. 86–97 Ilustrasi
  • Vol. 98–100 Harta Karun Keyakinan Shōwa
Bagian dari seri tentang
Buddhisme
120px-Dharma_Wheel_%282%29.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Keyakinan
Tiga corak
Gugusan
Faktor mental
Meditasi
Bakti
Praktik lainnya
Bagian dari seri tentang
Buddhisme Mahāyāna
Seroja, salah satu dari delapan simbol keberuntungan dalam Mahāyāna
Buddhisme
icon PortalBuddhisme

Sutra Mahāyāna merupakan kumpulan genre sastra kitab suci Buddhis (sūtra) yang diterima sebagai kanonis dan buddhavacana ("sabda Buddha") dalam komunitas penganut Buddhisme Mahāyāna tertentu. Sutra-sutra ini sebagian besar terpelihara dalam teks-teks berbahasa Sanskerta dan terjemahan-terjemahan dalam Kanon Buddhis Tibet ("Tripitaka" Tibet) dan Kanon Buddhis Tionghoa ("Tripitaka" Tionghoa). Beberapa ratus sutra Mahāyāna masih ada dalam bahasa Sanskerta, atau dalam terjemahan bahasa Tionghoa dan Tibet.[1] Sutra-sutra ini juga kadang-kadang disebut sebagai sutra Vaipulya ("luas") oleh sumber-sumber sebelumnya.[2] Cendekiawan Buddhis bernama Asaṅga mengklasifikasikan sutra Mahāyāna sebagai bagian dari Bodhisattva Piṭaka, kumpulan teks yang ditujukan untuk para Bodhisatwa.[3]

Para cendekiawan modern dalam studi agama Buddha pada umumnya berpendapat bahwa sutra-sutra ini pertama kali muncul antara abad ke-1 SM dan abad ke-1 Masehi.[4][5] Mereka terus dikarang, disusun, dan disunting hingga kemunduran agama Buddha di India kuno. Beberapa di antaranya mungkin juga disusun di luar India, seperti di Asia Tengah dan Asia Timur.[6] Beberapa sutra Mahāyāna yang paling berpengaruh meliputi Sutra Teratai, Sutra Kesempurnaan Kebijaksanaan, Sutra Avatamsaka, Sutra Lankavatara, Sutra Tanah Murni, dan Sutra Nirvana.

Umat Buddhisme Mahāyāna biasanya menganggap beberapa sutra Mahāyāna utama diajarkan oleh Buddha Sakyamuni, dihafalkan dan dibacakan oleh murid-murid-Nya, khususnya Ananda.[7] Akan tetapi, sutra-sutra Mahāyāna lainnya disajikan seolah diajarkan oleh tokoh-tokoh lain, seperti para Bodhisatwa seperti Mañjuśrī dan Avalokiteśvara. Ada beragam alasan yang dikemukakan oleh umat Buddhisme Mahāyāna India untuk menjelaskan fakta bahwa sutra-sutra ini hanya muncul di masa belakangan. Salah satu alasannya, menurut penganut Mahāyāna, adalah karena sutra-sutra ini telah disembunyikan di tanah para Naga (dewa ular, naga) hingga waktu yang tepat untuk penyebarannya tiba.

Sutra-sutra Mahāyāna tidak diterima oleh semua umat Buddha di India kuno, dan berbagai aliran Buddhis di India tidak sepakat mengenai statusnya sebagai "sabda Sang Buddha".[8] Umumnya, sutra-sutra ini tidak diterima sebagai sabda Sang Buddha oleh Buddhisme Theravāda, yang memegang teguh kitab suci Tripitaka Pali sebagai batasan kanonisnya.[9]

Referensi

  1. ↑ Skilton 1997, hlm. 101.
  2. ↑ Drewes, David, Early Indian Mahayana Buddhism II: New Perspectives, Religion Compass 4/2 (2010): 66–74, DOI:10.1111/j.1749-8171.2009.00193.x
  3. ↑ Boin-Webb, Sara (tr). Rahula, Walpola (tr). Asanga. Abhidharma Samuccaya: The Compendium of Higher Teaching. 2001. hlm. 199–200
  4. ↑ Macmillan Encyclopedia of Buddhism (2004): hlm. 293
  5. ↑ Akira, Hirakawa (translated and edited by Paul Groner) (1993). A History of Indian Buddhism. Delhi: Motilal Banarsidass: hlm. 252
  6. ↑ Williams (2008), hlm. 85.
  7. ↑ McMahan 1998, hlm. 249.
  8. ↑ Sree Padma. Barber, Anthony W. Buddhism in the Krishna River Valley of Andhra. 2008. hlm. 68.
  9. ↑ Hay, Jeff (2009). "World Religions" hlm. 189. Greenhaven Publishing LLC.

Bibliografi

Pranala luar

40px-Buddhism_Symbol.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail   Topik Buddhisme   40px-Flag_of_Buddhism.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Buddhisme awal
Benua
Populasi signifikan
Aliran arus utama
Sinkretis
Theravāda
Mahāyāna-Vajrayāna
Kitab daring
Buddha saat ini dan keluarga
4 tempat suci utama
Buddha penting sebelumnya
Buddha selanjutnya
Bawahan
Mahāyāna-Vajrayāna
Jenis penganut
4 tingkat kemuliaan
Tempat ibadah
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan