Senin, 21 September 2026
23:30 WIB
TERKINI
Cek Fakta Menteri Keuangan Suahasil Nazara Diserang Hoaks: Dana Hibah Fiktif dan Korupsi Fantastis Cek Fakta Waspada! Penipuan Undian Berhadiah Mengatasnamakan BRI Marak di Medsos Cek Fakta Klarifikasi Hoaks: Nusron Wahid Tak Pernah Sebut Jokowi Terima Suap Rp 700 Miliar Hukum & Kriminal Pengusaha RI Tersandung Dolar Singapura Palsu di Kasino Mewah Sentosa Peristiwa Misteri 22 Penumpang KM Virgo Tak Terdaftar: Menyoroti Akurasi Manifes Kapal Olahraga Pedro Acosta Pecah Telur di MotoGP Austria 2026, Penantian Panjang Berakhir Kolom Warisan Otoriter: Jejak Kekuasaan Kolonial dalam Rezim Orde Baru Kolom Obligasi Daerah Rp 5,6 Triliun DKI: Cerminan Kebutuhan Pembiayaan Ibu Kota Politik Partai Pendukung Prabowo Usulkan Kenaikan Ambang Batas Parlemen dan Presiden Megapolitan Pria Penendang Wanita di Senayan City Resmi Tersangka, Polisi Ungkap Motifnya Cek Fakta Menteri Keuangan Suahasil Nazara Diserang Hoaks: Dana Hibah Fiktif dan Korupsi Fantastis Cek Fakta Waspada! Penipuan Undian Berhadiah Mengatasnamakan BRI Marak di Medsos Cek Fakta Klarifikasi Hoaks: Nusron Wahid Tak Pernah Sebut Jokowi Terima Suap Rp 700 Miliar Hukum & Kriminal Pengusaha RI Tersandung Dolar Singapura Palsu di Kasino Mewah Sentosa Peristiwa Misteri 22 Penumpang KM Virgo Tak Terdaftar: Menyoroti Akurasi Manifes Kapal Olahraga Pedro Acosta Pecah Telur di MotoGP Austria 2026, Penantian Panjang Berakhir Kolom Warisan Otoriter: Jejak Kekuasaan Kolonial dalam Rezim Orde Baru Kolom Obligasi Daerah Rp 5,6 Triliun DKI: Cerminan Kebutuhan Pembiayaan Ibu Kota Politik Partai Pendukung Prabowo Usulkan Kenaikan Ambang Batas Parlemen dan Presiden Megapolitan Pria Penendang Wanita di Senayan City Resmi Tersangka, Polisi Ungkap Motifnya

Mettā

konsep dan praktik cinta kasih dalam Buddhisme

Untuk teks spesifik dengan nama ini, lihat Mettā Sutta.
Artikel ini bukan mengenai Karuṇā.
Bagian dari seri tentang
Buddhisme
120px-Dharma_Wheel_%282%29.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Keyakinan
Tiga corak
Gugusan
Faktor mental
Meditasi
Bakti
Praktik lainnya
Konsep
Cinta Kasih
Enam agama utama
Agama lainnya

Mettā (Pali; Sanskerta: maitrī), diterjemahkan sebagai cinta kasih, kasih sayang,[a] keramahan, persahabatan, niat baik, atau harapan baik, merupakan suatu sifat luhur yang perlu dikembangkan. Secara ideal, mettā dirumuskan sebagai harapan untuk kebahagiaan semua makhluk tanpa terkecuali. Mettā juga sering dikatakan sebagai niat baik yang mengharapkan kesejahteraan dan kebahagiaan makhluk-makhluk lainnya, seperti seorang sahabat mengharapkan kebahagiaan temannya.[1][b][2][3][4] Mettā merupakan bagian pertama dalam empat sifat luhur (Brahmavihāra), bersama dengan karuṇā (belas kasih), muditā (simpati), dan upekkhā (keseimbangan batin); dan satu dari sepuluh paramita dalam kategorisasi tradisi Theravāda.[3]

Menurut tradisi Abhidhamma aliran Theravāda, mettā dibedakan dari karuṇā (belas kasih) dan muditā (simpati) karena ciri dan objek yang diambil. Saat faktor mental tanpa-kebencian berkembang maksimal, maka tanpa-kebencian akan berubah menjadi mettā. Di sisi lain, faktor mental karuṇā (belas kasih) perlu mengambil makhluk-makhluk menderita sebagai objeknya, sedangkan faktor mental simpati (muditā) perlu mengambil makhluk-makhluk bahagia sebagai objeknya.[5] Kitab komentar atas Suttanipāta dan kitab Visuddhimagga menjelaskan bahwa mettā adalah harapan untuk mendatangkan kesejahteraan dan kebahagiaan (hita-sukha-upanaya-kāmatā) bagi orang lain, sedangkan karuṇā adalah harapan untuk menghilangkan ketidaksejahteraan dan penderitaan (ahita-dukkha-apanaya-kāmatā) dari orang lain.[c]

Meditasi cinta kasih (mettā bhāvanā) merupakan suatu jenis meditasi yang populer dalam Buddhisme.[9] Meditasi tersebut adalah bagian dari meditasi pengembangan empat sifat-sifat Brahmavihāra.[10] Mettā sebagai "meditasi cinta kasih" sering dipraktikkan di Asia dengan pelantunan syair-syair yang dipimpin oleh para biksu kepada para upasaka-upasika.[9]

Konsep cinta kasih universal mettā dibahas dalam berbagai diskursus berjudul Mettā Sutta, dan juga ditemukan dalam teks-teks kuno dan abad pertengahan agama Hindu dan Jainisme sebagai mettā atau maitrī.[11]

Studi sampel kecil mengenai potensi meditasi cinta kasih menunjukkan adanya manfaat potensial.[12][13] Namun, telaah sejawat mempertanyakan kualitas dan ukuran sampel dari penelitian ini.[14][15]

Theravāda

Lihat pula: Theravāda
Bagian dari seri tentang
Buddhisme Theravāda
120px-Buddhism_dham_jak.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Buddhisme
20px-Flag_of_Buddhism.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail PortalBuddhisme

Dalam Tripitaka Pali, istilah mettā muncul di banyak diskursus Sutta Piṭaka, seperti Kakacūpama Sutta (MN 21) dan Karaniya Mettā Sutta (Snp 1.8 dan Kp 9). Kitab-kitab lainnya, seperti dalam Paṭisambhidāmagga (Ps dalam KN), menguraikannya sebagai sebuah latihan. Namun, sumber-sumber lainnya, seperti Abhidhamma Piṭaka, menggarisbawahi peran utama cinta kasih dalam pengembangan karma yang baik untuk kelahiran kembali yang lebih baik.[d]

Meditasi mettā secara teratur direkomendasikan kepada para penganut Buddhisme dalam kitab suci Pali. Kitab suci tersebut secara umum menyarankan untuk memancarkan mettā ke enam arah, kepada makhluk apa pun yang ada.[16][17] Seperangkat instruksi praktis yang berbeda, yang masih banyak digunakan saat ini, ditemukan dalam kitab Visuddhimagga—kitab ini juga merupakan sumber utama untuk "musuh dekat dan jauh" yang akan dijelaskan di bawah (lihat bagian Visuddhimagga). Selain itu, variasi pada praktik tradisional ini telah dipopulerkan oleh guru-guru modern dan diterapkan dalam lingkungan penelitian modern.

Sutta Piṭaka

Lihat pula: Sutta Piṭaka

Dalam lebih dari selusin diskursus, deskripsi tentang cinta kasih diuraikan dalam Sutta Piṭaka di Tripitaka Pali.

Dīgha Nikāya

Lihat pula: Dīgha Nikāya

Berbagai teks Dīgha Nikāya menjelaskan sifat luhur cinta kasih. Di antaranya adalah Mahāsudassana Sutta (DN 17), Mahāgovinda Sutta (DN 19), Udumbarika-Sīhanāda Sutta (DN 25), dan Cakkavatti Sutta (DN 26).[e]

Majjhima Nikāya

Lihat pula: Majjhima Nikāya

Penjelasan cinta kasih ke enam arah juga terdapat dalam diskursus-diskursus dalam Majjhima Nikāya (MN), Sutta Piṭaka.

Vatthūpama Sutta (MN 7)

Arah-arah pemancaran cinta kasih disebutkan dalam Vatthūpama Sutta (MN 7):

Ia berdiam dengan melingkupi satu arah dengan pikiran cinta kasih,
demikian pula arah ke dua,
demikian pula arah ke tiga,
demikian pula arah ke empat;
seperti ke atas, demikian pula ke bawah,
ke sekeliling, dan ke segala arah,
dan kepada semua makhluk
seperti kepada dirinya sendiri,
ia berdiam dengan meliputi seluruh penjuru dunia dengan pikiran penuh cinta kasih,
berlimpah, luhur, tanpa batas,
tanpa pertentangan, dan tanpa permusuhan.[18]
So mettāsahagatena cetasā
ekaṃ disaṃ pharitvā viharati.
Tathā dutiyaṃ.
Tathā tatiyaṃ.
Tathā catutthiṃ.
Iti uddhamadho tiriyaṃ
sabbadhi sabbattatāya sabbāvantaṃ
lokaṃ mettāsahagatena cetasā
vipulena mahaggatena appamāṇena
averena abyāpajjena pharitvā viharati.
[19]
Vatthūpama Sutta, MN 7
terj. Indra Anggara
(diulang di Jīvaka Sutta, MN 55)
Subha Sutta (MN 99)

Dalam Subha Sutta (MN 99), rumusan dasar ini diperluas dalam berbagai cara. Misalnya, beberapa diskursus[f] memberikan penjelasan berikut tentang bagaimana memperoleh kelahiran kembali di alam brahma (brahmānaṃ sahavyatāya maggo):[20][g]

Apakah... jalan menuju alam-Brahmā? Di sini, seorang bhikkhu berdiam dengan meliputi satu arah dengan pikiran penuh cinta kasih, demikian pula arah ke dua, demikian pula arah ke tiga, demikian pula arah ke empat; seperti ke atas, demikian pula ke bawah, ke sekeliling, dan ke segala arah, dan kepada semua makhluk seperti kepada dirinya sendiri, ia berdiam dengan meliputi seluruh penjuru dunia dengan pikiran penuh cinta kasih, berlimpah, luhur, tanpa batas, tanpa pertentangan dan tanpa permusuhan. Ketika kebebasan pikiran melalui cinta kasih dikembangkan dengan cara ini, tidak ada perbuatan yang membatasi yang menetap di sana, tidak ada yang bertahan di sana.

Bagaikan seorang peniup trompet yang kuat dapat membuat tiupannya terdengar di empat penjuru tanpa kesulitan, demikian pula, ketika kebebasan pikiran melalui cinta kasih dikembangkan dengan cara ini, tidak ada perbuatan yang membatasi yang menetap di sana, tidak ada yang bertahan di sana. Ini adalah jalan menuju alam-Brahmā.

Subha Sutta, MN 99
terj. Indra Anggara

Aṅguttara Nikāya

Mettā Sutta (AN 11.15)

Dalam Mettā Sutta (AN 11.15), Tripitaka Pali menyebutkan bahwa ada sejumlah manfaat dari praktik meditasi mettā, termasuk:[22][23][24][h]

(1) “Seseorang tidur dengan nyenyak; (2) ia terjaga dengan bahagia; (3) ia tidak bermimpi buruk; (4) ia disukai manusia; (5) ia disukai makhluk halus; (6) para dewata melindunginya; (7) api, racun, dan senjata tidak dapat melukainya; (8) pikirannya dengan cepat dapat terkonsentrasi; (9) raut wajahnya tenang; (10) ia meninggal dunia dengan tidak bingung; dan (11) jika ia tidak menembus lebih jauh, maka ia mengembara menuju alam brahmā.
Mettā Sutta, AN 11.15
terj. Indra Anggara
Nīvaraṇappahāna Vagga (AN 1.11-20)

Tripitaka Pali, di AN 1.17 dalam kelompok Nīvaraṇappahāna Vagga (AN 1.11-20), juga menjunjung tinggi pengembangan mettā yang matang sepenuhnya sebagai penawar utama terhadap niat buruk (rasa dengki):[25][26]

“Para bhikkhu, Aku tidak melihat bahkan satu hal pun yang karenanya niat buruk yang belum muncul menjadi tidak muncul dan niat buruk yang telah muncul menjadi ditinggalkan selain daripada kebebasan pikiran melalui cinta-kasih. Bagi seorang yang mengamati secara saksama pada kebebasan pikiran melalui cinta-kasih, maka niat buruk yang belum muncul menjadi tidak muncul dan niat buruk yang telah muncul menjadi ditinggalkan.”
Nīvaraṇappahāna Vagga, AN 1.17
terj. Indra Anggara

Khuddaka Nikāya

Mettā Sutta (Snp 1.8 dan Kp 9)

Dalam kitab-kitab Khuddaka Nikāya, seperti Sutta Nipāta (Snp) dan Khuddakapāṭha (Kp), terdapat sebuah diskursus bernama sama, yaitu Mettā Sutta, yang isinya kurang lebih sangat mirip:

“Semoga makhluk-makhluk hidup berbahagia dan aman,
Dan semoga mereka berbahagia.

Makhluk apa pun juga yang bernapas,
Apakah lemah atau pun kuat,
Tanpa kecuali, apakah panjang atau pendek,
Atau sedang, atau besar atau kecil,

Atau padat, atau terlihat atau tidak terlihat,
Atau apakah mereka berdiam jauh atau dekat,
Mereka yang telah ada di sini, mereka yang segera menjelma—
Semoga mereka semua berbahagia.”

Jangan mencelakai makhluk lain
Dan jangan merendahkan dalam cara apa pun dan di mana pun;
Jangan saling mengharapkan kemalangan satu sama lain
Karena provokasi atau pun karena permusuhan

Seperti seorang ibu yang mempertaruhkan hidupnya
Menyayangi dan melindungi anaknya, anak tunggalnya,
Demikian pula ia harus mengembangkan cinta kasih tanpa batas ini
Terhadap semua yang hidup di seluruh alam semesta—

Merentang dari kesadaran luhur
Ke atas dan ke bawah dan ke sekeliling dunia,
Tanpa terganggu, bebas dari kebencian dan permusuhan.

Dan sewaktu ia berdiri dan sewaktu ia duduk
Atau ketika ia berbaring selagi masih terbebas dari kantuk,
Ia harus berfokus pada perhatian ini—
Ini adalah keberdiaman brahma di sini, mereka katakan.

Tetapi ketika ia hidup dengan cukup terbebas dari pandangan apa pun,
Bermoral, dengan memenangkan pandangan terang sempurna,
Dan meninggalkan keserakahan serta keinginan egois,
Maka ia pasti tidak akan terlahir kembali."

Sukhino va khemino hontu,
Sabbasattā bhavantu sukhitattā.

Ye keci pāṇabhūtatthi,
Tasā vā thāvarā vanavasesā;
Dīghā vā ye va mahantā,
Majjhimā rassakā aṇukathūlā.

Diṭṭhā vā ye va adiṭṭhā,
Ye va dūre vasanti avidūre;
Bhūtā va sambhavesī va,
Sabbasattā bhavantu sukhitattā.

Na paro paraṁ nikubbetha,
Nātimaññetha katthaci na kañci;
Byārosanā paṭighasañña,
Nāññamaññassa dukkhamiccheyya.

Mātā yathā niyaṁ puttam
Āyusā ekaputtamanurakkhe;
Evampi sabbabhūtesu,
Mānasaṁ bhāvaye aparimāṇaṁ.

Mettañca sabbalokasmi,
Mānasaṁ bhāvaye aparimāṇaṁ;
Uddhaṁ adho ca tiriyañca,
Asambādhaṁ averamasapattaṁ.

Tiṭṭhaṁ caraṁ nisinno va,
Sayāno yāvatāssa vitamiddho;
Etaṁ satiṁ adhiṭṭheyya,
Brahmametaṁ vihāramidhamāhu.

Diṭṭhiñca anupaggamma,
Sīlavā dassanena sampanno;
Kāmesu vinaya gedhaṁ,
Na hi jātuggabbhaseyya punaretī”ti.

Mettā Sutta, Snp 1.8
terj. Indra Anggara
(diulang di Mettā Sutta, Kp 9)

"Sabbe sattā bhavantu sukhitattā" atau
"Sabbasattā bhavantu sukhitattā."
"Semoga semua makhluk hidup berbahagia."

—Mettā Sutta, Snp 1.8 dan Kp 9

Mettā atau cinta kasih di sini, kata Harvey, adalah aspirasi sepenuh hati untuk kebahagiaan semua makhluk. Ini berbeda dari "tidak adanya niat buruk/jahat", dan lebih merupakan penawar rasa takut dan kebencian. Cinta kasih adalah ajaran untuk menaklukkan kemarahan dengan kebaikan, menaklukkan pembohong dengan kebenaran, menaklukkan orang kikir dengan memberi, dan menaklukkan kejahatan dengan kebaikan, kata Harvey.[27]

Mettākathā (Ps 2.4)

"Semoga semua makhluk terbebas dari
kebencian, kesukaran, dan penderitaan,
dan semoga mereka hidup berbahagia."

—Mettākathā (Ps 2.4)[28][i]

Dalam kitab Paṭisambhidāmagga (Ps) yang merupakan bagian dari Khuddaka Nikāya, secara tradisional dikaitkan dengan Sāriputta, terdapat bagian yang berjudul Mettākathā (Ps 2.4, "Risalah tentang Cinta Kasih").[j] Dalam petunjuk ini, diberikan sebuah rumusan umum (di bawah ini, dalam bahasa Indonesia dan Pali), yang pada hakikatnya identik dengan syair Cunda Sutta (AN 10.176)—terutama terlihat jelas dalam bahasa Pali—untuk memancarkan cinta kasih.

Lebih lanjut, instruksi ini menjelaskan dua puluh dua aspek “kebebasan kehendak oleh cinta kasih dengan pemancaran” (mettācetovimutti) dapat dipancarkan dengan:[28]

lima aspek dari "pemancaran yang tidak ditentukan" (anodhiso pharaṇā)
semua makhluk (sabbe sattā), semua makhluk bernapas (sabbe pāṇā bhāvapariyāpannā), semua yang (sabbe bhūtā bhāvapariyāpannā), semua pribadi (sabbe puggalā bhāvapariyāpannā), semua yang memiliki kepribadian (sabbe attabhāvapariyāpannā)
tujuh aspek dari "pemancaran yang ditentukan" (anodhiso pharaṇā)
semua perempuan (sabbā itthiyo), semua laki-laki (sabbe purisā), Para Mulia (sabbe ariyā), semua yang belum mencapai Kemuliaan (sabbe anariyā), para dewa (sabbe devā), semua manusia (sabbe manussā), semua yang menderita kesusahan [di alam bawah] (sabbe vinipātikā),
sepuluh aspek dari "pemancaran terarah" (disā-pharaṇā)
semua makhluk di arah timur (puratthimāya disāya), di arah barat (pacchimāya disāya), di arah utara (uttarā disāya), di arah selatan (dakkhīṇāya disāya), di arah timur laut (puratthimāya anudisāya), di arah barat laut (pacchimāya anudisāya), di arah barat daya (uttarā anudisāya), di arah tenggara (dakkhīṇāya anudisāya), di arah bawah (heṭṭhimāya disāya), di arah atas (uparimāya disāya).
Mettākathā, Ps 2.4
terj. Indra Anggara

Kemudian, pemancaran terarah dapat diterapkan pada masing-masing pemancaran yang tidak ditentukan dan pemancaran yang ditentukan. Misalnya, setelah memancarkan cinta kasih kepada semua makhluk di arah timur (Sabbe puratthimāya disāya sattā...), seseorang memancarkan cinta kasih ke semua makhluk di arah barat, lalu ke arah utara, lalu ke arah selatan, dan seterusnya; kemudian, seseorang memancarkannya ke semua makhluk bernapas dengan cara ini (Sabbe puratthimāya disāya pāṇā...), kemudian semua makhluk, semua pribadi, dan seterusnya hingga diperluas untuk semua yang lahir di alam rendah.

Mettābhāvanā Sutta (Iti 27)

Dalam kitab Itivuttaka, Mettābhāvanā Sutta (Iti 27), diuraikan manfaat pengembangan cinta kasih:[31][32]

Para bhikkhu, ke mana pun kita dilahirkan kembali, tidak dapat dibandingkan seperenambelas bagian daripada mettā yang merupakan pembebasan dari ikatan, mettā itu sendiri, yang merupakan pembebasan, akan bersinar dan menerangi seluruhnya.

Seperti, para bhikkhu, cahaya bintang yang bersinar tidak seterang seperenambelas daripada cahaya rembulan, tetapi cahaya bulan bersinar dan menerangi alam ini, demikian juga, para bhikkhu, mettā, yang merupakan pembebasan, akan bersinar dan menerangi seluruhnya, menerangi seluruh perbuatan baik yang menyebabkan kelahiran kembali.

Mettābhāvanā Sutta, Iti 27

Abhidhamma Piṭaka

Bagian dari Abhidhamma Theravāda
52 Cetasika
250px-Tilted_heraldic_lotus.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Buddhisme Theravāda
6 sesekali (pakiṇṇaka)
14 tidak baik (akusala)
4 tidak baik universal (akusalasādhāraṇa)
3 keserakahan (lobha)
4 kebencian (dosa)
3 yang terakhir
20px-Flag_of_Buddhism.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail PortalBuddhisme

Menurut tradisi Abhidhamma aliran Theravāda, mettā merupakan hasil pengembangan maksimal dari faktor mental tanpa-kebencian (adosa). Faktor mental adosa dibedakan dari faktor mental karuṇā (belas kasih) dan faktor mental muditā (simpati) karena ciri dan objek yang diambil. Di sisi lain, faktor mental belas kasih (karuṇā) perlu mengambil makhluk-makhluk menderita sebagai objeknya, sedangkan faktor mental simpati (muditā) perlu mengambil makhluk-makhluk bahagia sebagai objeknya.[5]

Faktor mental tanpa-kebencian (adosa) didefinisikan dalam empat batasan:[5]

  • Karakteristik (lakkhaṇa): ketiadaan sifat galak atau bengis (acaṇḍikkalakkhaṇa) atau ketiadaan lawan (avirodhalakkhaṇa).
  • Fungsi (rasa): melenyapkan kemarahan (āghātavinayarasa) atau menyingkirkan tekanan dan demam nafsu amarah (pariḷāhavinayarasa).
  • Manifestasi (paccupaṭṭhāna): keadaan hati yang menyenangkan (sommabhāvapaccupaṭṭhāna).
  • Sebab-terdekat (padaṭṭhāna): tidak disebutkan.

Ketika faktor mental tanpa-kebencian (adosa) muncul sebagai sifat luhur cinta-kasih (mettā), maka:[33]

  • Karakteristik: meningkatkan kesejahteraan makhluk hidup.
  • Fungsi: untuk lebih mengutamakan kesejahteraan mereka.
  • Manifestasi: hilangnya niat jahat (byāpāda).
  • Sebab-terdekat: melihat makhluk-makhluk sebagai sesuatu yang menyenangkan.

Visuddhimagga

Lihat pula: Visuddhimagga

Kitab Visuddhimagga menjelaskan bahwa mettā adalah harapan untuk mendatangkan kesejahteraan dan kebahagiaan (hita-sukha-upanaya-kāmatā) bagi orang lain, sedangkan karuṇā adalah harapan untuk menghilangkan ketidaksejahteraan dan penderitaan (ahita-dukkha-apanaya-kāmatā) dari orang lain.[c] Selain itu, Visuddhimagga juga menjelaskan "musuh jauh" (dūrapaccatthika) dan "musuh dekat" (āsannapaccatthika) dari setiap sifat dalam Brahmavihāra:[34][35]

Empat sifat luhur dalam Buddhisme Theravāda
Sutta Abhidhamma Visuddhimagga
Sifat luhur
(brahmavihāra)
Faktor mental
(cetasika)
Musuh dekat
(āsannapaccatthika)
Musuh jauh
(dūrapaccatthika)
cinta kasih (mettā) tanpa-kebencian (adosa) nafsu (rāga) niat jahat (vyāpāda/byāpāda)
belas kasih (karuṇā) belas kasih (karuṇā) dukacita batiniah duniawi
(gehasita-domanassa)
kekejaman (vihesā/vihiṃsā)
simpati positif (muditā) simpati positif (muditā) sukacita batiniah duniawi
(gehasita-somanassa)
rasa tidak-senang (arati)
ketenangan (upekkhā) keseimbangan batin (tatramajjhattatā) tanpa-pengetahuan (aññāṇa) nafsu dan antipati (rāgapaṭighā)

"Musuh jauh" (dūrapaccatthika) merujuk pada keadaan batin yang jelas-jelas bertentangan, sedangkan "musuh dekat" (āsannapaccatthika) merujuk pada keadaan batin yang seolah-olah serupa, tetapi sebenarnya berlawanan dari sifat luhurnya.[34][35] Kitab Visuddhimagga menjelaskan bahwa "musuh jauh" dari mettā adalah niat buruk, niat jahat, rasa dengki, atau permusuhan (byāpāda); suatu kondisi batin yang kualitasnya jelas-jelas bertentangan. "Musuh dekat" dari mettā adalah nafsu (rāga).[36][35]

Mahāyāna

Lihat pula: Mahāyāna
Bagian dari seri tentang
Buddhisme Mahāyāna
Seroja, salah satu dari delapan simbol keberuntungan dalam Mahāyāna
Buddhisme
20px-Flag_of_Buddhism.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail PortalBuddhisme

Memvisualisasikan makhluk hidup dan mengharapkan agar mereka bahagia adalah praktik dasar dari cinta kasih. Sebagai teknik untuk motivasi altruistik, Longchenpa merekomendasikan praktik empat sifat luhur (Sanskerta: catvāri brahmavihārā; Tibet: ཚངས་པའི་གནས་པ་བཞི, tsangpé népa zhi), di dalamnya termasuk cinta kasih (Sanskerta: maitrī; Tibet: བྱམས་པ་, jampa), untuk memperkuat aspirasi pencerahan, atau bodhicitta, yang merupakan inti dari Buddhisme Mahāyāna.[37]

Teknik

Beberapa tradisi memerintahkan para praktisi untuk mulai mempraktikkan cinta kasih kepada orang tua, kemudian meluaskannya kepada anggota keluarga lain, teman, masyarakat, dan akhirnya mengarahkan pikiran tersebut kepada seluruh umat manusia dan semua makhluk hidup. Seseorang dapat terlebih dahulu memikirkan ibu dan berbagai cara yang telah dilakukannya untuk menunjukkan kebaikan, kemudian berharap untuk membalas kebaikannya dengan memberinya kebahagiaan dan sumber kebahagiaan. Secara bertahap, seseorang memperluasnya kepada makhluk hidup lainnya.[37]

Dalam tradisi lain, seseorang dianjurkan untuk membangkitkan jampa terlebih dahulu kepada musuh atau orang yang tidak disukainya. Namun, dalam tradisi lain, seseorang dapat mengembangkan cinta kasih kepada makhluk hidup tanpa pandang bulu dengan berpindah dari satu daerah ke daerah lain atau dari satu arah ke arah lain. Seseorang juga dapat mempraktikkannya dengan napas, dengan membayangkan napas saat mengembuskan napas sebagai substansi kebahagiaan yang lembut dan menenangkan yang menyelimuti dunia dan memenuhi semua makhluk hidup dengan kebahagiaan.[37]

Buddhis Bhutan biasanya menumbuhkan rasa cinta kasih dengan melantunkan syair ini:[37]

མ་ནམ་མཁའ་དང་མཉམ་པའི་སེམས་ཅན་ཐམས་ཅད་བདེ་བ་དང་བདེ་བའི་རྒྱུ་དང་ལྡན་པར་གྱུར་ཅིག
Semoga semua ibu makhluk hidup seluas angkasa meraih kebahagiaan dan menemukan sumber kebahagiaan.

Manfaat

Kitab Mahayana menguraikan delapan manfaat khusus dari pengembangan cinta kasih, yang memenuhi orang yang mengembangkannya dengan rasa bahagia, damai, dan gembira. Manfaat-manfaat tersebut adalah:[37]

  1. Orang tersebut disukai orang lain baik dalam ucapan maupun perilaku fisik;
  2. Orang tersebut memperoleh kasih sayang dan perlindungan dari orang lain;
  3. Dengan demikian, pengembangan cinta kasih membantu orang tersebut terhindar dari bahaya fisik yang ditimbulkan oleh orang lain;
  4. Dengan ketenangan dan kedamaian, seseorang terbebas dari tekanan mental sehingga memastikan kesejahteraan mental yang baik;
  5. Meningkatkan sistem kekebalan tubuh seseorang dan melindunginya dari penyakit;
  6. Menangkal bahaya dari racun;
  7. Dengan kesehatan mental dan fisik yang baik serta kasih sayang dari orang lain, seseorang dapat dengan mudah memenuhi keinginan dan rencananya; dan,
  8. Seseorang terlahir kembali dalam keberadaan yang lebih tinggi dan luhur.

Agama darmik lainnya

Lihat pula: Agama darmik

Mettā adalah kata Pali yang diturunkan dari kata maitrī yang berasal dari mitra yang, menurut Monier-Williams, berarti "teman".[38] Istilah ini ditemukan dalam pengertian tersebut dalam kepustakaan Weda,[3] seperti Shatapatha Brahmana, berbagai teks dari Upaniṣad awal, dan literatur Wedangga (seperti Aṣṭādhyāyī 5.4.3 karya Pāṇini).[38] Mettā ditemukan dalam kitab-kitab Sanskerta pada masa pra-Buddhisme (Brahmanisme dan Jainisme) sebagai maitrī, maitra, dan mitra yang berasal dari akar kata kuno mid (cinta/kasih).[3]

Hinduisme

Istilah Weda ini muncul di kitab Samhita, Aranyaka, Brahmana, dan lapisan syair Upaniṣad dalam Regweda, Samaweda, Yajurweda, dan Atharwaweda.[39]

Dengan mengatakan kebenaran, aku menginginkan ini:
Semoga aku menikmati cinta kasihnya seperti kamu,
Janganlah seorang pun di antara kamu menggantikan yang lain,
Dia telah menikmati cinta kasihku, yang maha tahu.

Speaking the truth I desire this:
May I enjoy her lovingkindness as do ye,
May not one of you supplant another,
She hath enjoyed my lovingkindness, the all-knower.

Taittirīya Saṃhitā 4.3.12, Yajurweda, Versi Inggris oleh Arthur Keith[40]

Istilah serupa juga muncul dalam himne ke-55 dari kitab 19 Atharwaweda,[41] dan berbagai bagian Upaniṣad.[42] Upaniṣad awal utama dalam agama Hindu, yang disebut Maitrī Upaniṣad, membahas kebaikan dan persahabatan universal. Upaniṣad Maitrī, kata Martin Wiltshire, memberikan landasan filosofis, dengan menegaskan, "apa yang dipikirkan seseorang, itulah yang akan terjadi, inilah misteri abadi". Ide ini, tambah Wiltshire, mencerminkan asumsi dalam pemikiran kuno bahwa seseorang memengaruhi lingkungan dan situasinya sendiri, kausalitas bersifat adil, dan "tindakan kehendak yang baik menghasilkan situasi yang menyenangkan, sementara tindakan kehendak yang buruk menghasilkan situasi yang tidak menyenangkan".[43] Kitab Maitrī Upaniṣad mengajarkan, kata Juan Mascaró, bahwa kedamaian dimulai dari pikiran sendiri, kerinduan akan kebenaran, melihat ke dalam diri sendiri, dan bahwa "ketenangan pikiran mengatasi perbuatan baik dan jahat, dan dalam ketenangan jiwa menjadi satu: maka seseorang merasakan kegembiraan keabadian."[44]

Kitab Īśā Upaniṣad juga membahas tentang persahabatan universal dan cinta kasih, tetapi tanpa istilah mettā.[45] Ajaran tentang maitrī universal ini memengaruhi pemikiran Mahatma Gandhi.[46]

Jainisme

Dalam Jainisme, Yogabindu–kitab yoga abad ke-6 karya Haribhadra–menggunakan kata Sanskerta maitrī dalam bait 402–404, dalam arti cinta kasih terhadap semua makhluk hidup.[47]

Ilmu psikologi

Meditasi

Dalam suatu bidang ilmu psikologi yang didasarkan pada konsep mettā, meditasi mettā, atau dikenal dengan "meditasi cinta kasih", adalah praktik yang berkaitan dengan pengembangan mettā. Praktik ini umumnya terdiri dari pengulangan frasa-frasa di dalam hati seperti “semoga Anda terbebas dari penderitaan” (compassion) atau “semoga Anda bahagia” (loving-kindness), misalnya ditujukan kepada seseorang yang, tergantung pada tradisi, mungkin atau mungkin tidak divisualisasikan secara internal.[12]

Dua pendekatan metodologis yang berbeda telah ditemukan dalam makalah tinjauan terkini: praktik yang berfokus pada compassion, dan praktik yang berfokus pada loving-kindness. Berfokus pada compassion berarti meditasi terdiri dari harapan untuk membebaskan makhluk dari penderitaan, sedangkan berfokus pada loving-kindness berarti mengharapkan kebahagiaan bagi para makhluk.[12][13]

Latihan ini secara bertahap akan semakin sulit jika dikaitkan dengan target yang menerima compassion atau loving-kindness dari praktisi. Pada awalnya, praktisi menargetkan "diri sendiri, kemudian orang-orang yang dicintai, orang-orang yang netral, orang-orang yang tak disukai, dan akhirnya semua makhluk, dengan variasi di berbagai tradisi".[12]

Penelitian

Beberapa studi penelitian percontohan tentang efek meditasi mettā menunjukkan adanya peningkatan emosi positif bagi para praktisi.[12][13] Secara khusus, dampak langsung pada emosi positif setelah latihan serta efek jangka panjang dapat ditunjukkan, meskipun efek ini mungkin tidak berlaku untuk semua orang.[12] Dalam sebuah studi pembuktian konsep, yang tidak terkontrol dalam pemilihan sampel dan pembandingan, para peneliti melaporkan potensi terapeutik untuk masalah psikologis, seperti depresi atau kecemasan sosial, bila dikombinasikan dengan pengobatan lain yang dapat diandalkan.[13]

Potensi terapeutik

Penerapan meditasi mettā untuk pengobatan masalah psikologis dan masalah terkait perawatan kesehatan lainnya merupakan topik penelitian. Hofmann dkk. membahas potensi penggunaan untuk terapi dan melaporkan data yang tidak memadai, dengan beberapa penelitian yang menjanjikan sejauh ini. Penelitian tersebut dapat menunjukkan dampak positif pada masalah seperti skizofrenia, depresi, dan kecemasan. Menurut Hofmann dkk., perlu ada penelitian yang lebih ketat, terutama dengan penerapan pendekatan Buddhis terhadap meditasi compassion dan loving-kindness.[13]

Dalam studi percontohan delapan minggu pada tahun 2005, meditasi loving-kindness menyebabkan berkurangnya rasa sakit dan kemarahan pada orang dengan nyeri punggung bawah kronis.[48] Meditasi compassion, menurut artikel Science Daily, dapat mengurangi respons peradangan dan perilaku terhadap stres yang telah dikaitkan dengan depresi dan sejumlah penyakit medis.[49]

Meditasi mettā adalah praktik inti dalam mindfulness-based pain management (MBPM),[50] yang efektivitasnya telah didukung oleh berbagai penelitian.[51]

Meta-analisis

Sebuah meta-analisis tahun 2015, yang mensintesis berbagai eksperimen berkualitas tinggi tentang meditasi cinta kasih, menemukan peningkatan sedang [kuantifikasi] pada emosi positif harian, dengan meditasi pada aspek loving-kindness dari mettā memiliki efek yang lebih besar daripada praktik dengan fokus pada compassion. Lamanya waktu bermeditasi tidak memengaruhi besarnya dampak positif dari praktik tersebut.[12]

Perhatian dan ulasan

S. R. Bishop, dalam ulasannya tahun 2002, menyarankan kehati-hatian dalam klaim manfaat, dan menyatakan, "apa yang telah dipublikasikan penuh dengan masalah metodologi. Saat ini, kita hanya tahu sedikit tentang efektivitas pendekatan [mindfulness-lovingkindness-compassion] ini; tetapi ada beberapa bukti yang menunjukkan bahwa pendekatan ini mungkin menjanjikan."[15]

Dalam tinjauan beberapa studi tahun 2014, Galante dkk. mencapai kesimpulan serupa, dengan menyatakan "hasilnya tidak meyakinkan untuk beberapa outcomes, khususnya terhadap kontrol aktif; kualitas metodologi laporan rendah hingga sedang; hasil tidak akurat karena CI (selang kepercayaan) yang lebar yang berasal dari studi kecil" dan bahwa "metode meditasi loving-kindness menunjukkan bukti manfaat individu dan komunitas melalui efeknya pada kesejahteraan dan interaksi sosial mereka".[14]

Lihat pula

Catatan

  1. Bedakan dari karuṇā, yang juga sering diterjemahkan sebagai "kasih sayang".
  2. Dalam bahasa Inggris, istilah ini umumnya diterjemahkan sebagai loving-kindness, misalnya dalam Ñāṇamoli & Bodhi 2001, hlm. 120, 374, 474, passim dan Walshe 1995, hlm. 194. Istilah ini juga ditulis sebagai dua kata (loving kindness), misalnya dalam Gethin 1998, hlm. 26, 30, passim, atau tanpa tanda hubung (lovingkindness), misalnya dalam Harvey 2007, hlm. 247–248 dan Salzberg 1995, passim.
  3. 1 2 Sn-A 128, sebagaimana disitasi dalam kamus Pali-Inggris PTS.[6][7] Kitab Visuddhimagga IX.105–109 yang pascakanonis juga memberikan penjelasan lebih lanjut, seperti dengan metafora yang menggambarkan mettā sebagai harapan seorang ibu agar anaknya (sehat) tumbuh besar dan karuṇā sebagai harapan seorang ibu agar anaknya yang sakit bisa sembuh.[8]
  4. Sebagai tambahan untuk AN 10.176 (Thanissaro 1997a), diskursus lain yang mengandung hal ini[butuh klarifikasi] termasuk:
    • Discourse for the Brahmans of Sala (Sāleyyaka Sutta, MN 41), Ñāṇamoli & Khantipalo 1993
    • Discourse for the Brahmins of Verañja (Verañjaka Sutta, MN 42, yang pada dasarnya merupakan pengulangan MN 41 di lokasi yang berbeda)
    • Sutta on the To Be Cultivated and Not to Be Cultivated (Sevitabbāsevitabba Sutta, MN 114), Ñāṇamoli & Bodhi 2001, hlm. 917
    • First Discourse on Hell and Heaven (Paṭhama-niraya-sagga Sutta, AN 10.211)
    • Second Discourse on Hell and Heaven (Dutiya-niraya-sagga Sutta, AN 10.212)
    • First Discourse on Intentional Actions (Paṭhama-sañcetanika Sutta, AN 10.217)
    • Second Discourse on Intentional Actions (Dutiya-sañcetanika Sutta, AN 10.218)
    • Paṭisambhidāmagga (lihat di bawah)
    • Kitab Milinda Pañha parakanonis
  5. Lihat, misalnya, dalam Digha Nikāya saja:
    • The Great Splendor Discourse (Mahāsudassana Sutta, DN 17), v. 2.4, Walshe 1995, hlm. 287
    • The Great Steward Discourse (Mahāgovinda Sutta, DN 19), v. 59, Walshe 1995, hlm. 312
    • The Great Lion's Roar to the Udumbarikans Discourse (Udumbarika-Sīhanāda Sutta, DN 25), v. 17, Walshe 1995, hlm. 390–391
    • The Lion's Roar on the Turning of the Wheel Discourse (Cakkavatti-Sīhanāda Sutta, DN 26), v. 28, Walshe 1995, hlm. 405
  6. Lihat, misalnya:
    • Discourse to Subha (Subha Sutta, MN 99), Ñāṇamoli & Bodhi 2001, hlm. 816–817
    • The Threefold Knowledge Discourse (Tevijja Sutta, DN 13), vv. 76–77, Walshe 1995, hlm. 194. Lihat juga Discourse to Dhānañjāni (Dhānañjāni Sutta, MN 97), Ñāṇamoli & Bodhi 2001, hlm. 796, dengan pernyataan serupa tentang penyatuan dengan Brahma yang dibuat oleh Yang Mulia Sāriputta tanpa metafora pemain terompet.
  7. Dalam terjemahan bahasa Inggris Ñāṇamoli & Bodhi 2001, hlm. 816–817, teks ini disajikan sebagai satu paragraf. Di sini, teks dibagi menjadi dua, dengan demikian mengikuti penyajian teks Pali, untuk meningkatkan keterbacaan. Mengingat panjang teks ini, terjemahan yang relatif tidak rumit, dan status yang kurang dikenal (misalnya, dibandingkan dengan Karaniya Metta Sutta), teks Pali yang terkait tidak ditampilkan dalam artikel utama ini, tetapi di sini:
    Katamo ca..., brahmānaṃ sahavyatāya maggo: idha..., bhikkhu mettāsahagatena cetasā ekaṃ disaṃ pharitvā viharati. Tathā dutiyaṃ, tathā tatiyaṃ, tathā catutthiṃ. Iti uddhamadho tiriyaṃ sabbadhi sabbattatāya sabbāvantaṃ lokaṃ mettā sahagatena cetasā vipulena mahaggatena appamāṇena averena abyāpajjhena pharitvā viharati. Evaṃ bhāvitāya kho..., mettāya cetovimuttiyā yaṃ pamāṇakataṃ kammaṃ, na taṃ tatrāvasissati. Na taṃ tatrāvatiṭṭhati.
    Seyyathāpi..., balavā saṅkhadhamo appakasireneva catuddisā viññāpeyya. Evameva kho..., evaṃ bhavitāya mettāya ceto vimuttiyā, yaṃ pamāṇakataṃ kammaṃ na taṃ tatrāvasissati. Na taṃ tatrāvatiṭṭhati. Ayampi kho..., brahmāṇaṃ sahavyatāya maggo.
    [21] Kata yang dihilangkan berulang kali ("...") adalah māṇava ("siswa" atau "pemuda") sehingga hanya teks yang umum pada semua diskursus yang teridentifikasi yang terwakili di sini. (Misalnya, dalam MN 97, alih-alih māṇava, teksnya menggunakan nama Brahmana yang dituju.)
  8. Dalam penomoran Access to Insight, sutta ini bernomor AN 11.16. Lihat juga AN 8.1 (berjudul sama, Mettānisaṃsa Sutta [SLTP] dan Mettā Suttaṃ [CSCD]) yang tidak menyertakan tiga dari empat manfaat terakhir yang disebutkan dalam AN 11.16 (yaitu "Pikiran seseorang menjadi lebih cepat terkonsentrasi. Kulitnya menjadi cerah. Seseorang meninggal tanpa kebingungan...").
  9. Dikutip dalam Vsm IX.50.[29] Lihat pula Ñāṇamoli 1994, bagian 11, "Methodical Practice: from the Patisambhidamagga", yang menerjemahkan kalimat ini sebagai: "May all beings be freed from enmity, distress and anxiety, and may they guide themselves to bliss."
  10. Dalam bagian artikel ini, sumber utama berbahasa Inggris adalah Buddhaghosa 1999, hlm. 301–304 (Vsm IX.49–58) dan Ñāṇamoli 1994 (bab "Methodical Practice: from the Paṭisambhidāmagga"). Teks Pali-nya utamanya didasarkan pada Paṭisambhidāmagga 2, BJT hlm. 64–80.[30]

Referensi

Sitasi

  1. Bodhi 2005, hlm. 90, 131, 134.
  2. Warder 2004, hlm. 63, 94.
  3. 1 2 3 4 Rhys Davids & Stede 1921–25, hlm. 540.
  4. Gombrich 2002.
  5. 1 2 3 Kheminda 2019.
  6. Rhys Davids & Stede 1921–25, hlm. 197.
  7. Buddha Dharma Education Association & BuddhaNet.
  8. Buddhaghosa 1999, hlm. 313–314.
  9. 1 2 Harvey 2012, hlm. 318–319.
  10. Harvey 2012, hlm. 278–279.
  11. Dunne 2013, hlm. 94–95.
  12. 1 2 3 4 5 6 7 Zeng dkk. 2015.
  13. 1 2 3 4 5 Hofmann dkk. 2015.
  14. 1 2 Galante dkk. 2014.
  15. 1 2 Bishop 2002.
  16. Nyanaponika 1998, MN 7.12.
  17. Thanissaro Snp 1.8.
  18. Anggara MN 7.
  19. Bodhgaya News MN 1, BJT hlm. 88.
  20. Anggara MN 99.
  21. Bodhgaya News MN 2, BJT hlm. 730.
  22. Anggara AN 11.15.
  23. Piyadassi 2010.
  24. Thanissaro 1997b.
  25. Anggara AN 1.11–20.
  26. Nyanaponika & Bodhi 1999, AN 1.ii.7.
  27. Harvey 2012, hlm. 279.
  28. 1 2 Anggara 2009, hlm. 548–551.
  29. Buddhaghosa 1999, hlm. 302.
  30. Bodhgaya News Ps 2.
  31. Devi 1994, hlm. 16.
  32. Thanissaro 2001, Iti 27.
  33. Anuruddha.
  34. 1 2 Buddhaghosa 2010, IX.98–101.
  35. 1 2 3 Insight Meditation Center.
  36. Buddhaghosa 2010, IX.98.
  37. 1 2 3 4 5 Mandala Collections.
  38. 1 2 Monier-Williams 1956, hlm. 816, 834.
  39. Bloomfield 1906, hlm. 713–717.
  40. Keith 1914, hlm. 335, iv,3,12,i:k.
  41. Griffith 1896, hlm. 312–313.
  42. Radhakrishnan 1992, hlm. 387.
  43. Wiltshire 1990, hlm. 94–95.
  44. Mascaró 1965, hlm. 103–104.
  45. Gupta 2016, hlm. 10.
  46. Snow 2012, hlm. 2155.
  47. Chapple 2015, hlm. 175.
  48. Carson 2005.
  49. ScienceDaily 2008.
  50. Burch 2016, hlm. 153–176.
  51. Mehan & Morris 2018.

Daftar pustaka

Sumber buku

Sumber jurnal

Sumber web

Bacaan lanjutan

40px-Buddhism_Symbol.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail   Topik Buddhisme   40px-Flag_of_Buddhism.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Buddhisme awal
Benua
Populasi signifikan
Aliran arus utama
Sinkretis
Theravāda
Mahāyāna-Vajrayāna
Kitab daring
Buddha saat ini dan keluarga
4 tempat suci utama
Buddha penting sebelumnya
Buddha selanjutnya
Bawahan
Mahāyāna-Vajrayāna
Jenis penganut
4 tingkat kemuliaan
Tempat ibadah
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan