Hermeneutika buddhis merujuk pada kerangka interpretatif yang digunakan oleh umat Buddha dalam sejarah untuk menafsirkan dan memahami teks-teks buddhis dan pada instruksi interpretatif yang diberikan oleh teks-teks buddhis itu sendiri kepada pembacanya. Oleh karena banyaknya ragam kitab suci, tradisi, dan aliran buddhis, terdapat pula beragam pendekatan hermeneutis yang berbeda di dalam Buddhisme.
Eksegesis kitab suci buddhis selalu didorong oleh kebutuhan soteriologis tradisi tersebut untuk menemukan makna yang benar (Pali: attha; Sanskerta: artha) dari kitab suci buddhis. Isu penting lainnya dalam hermeneutika buddhis adalah persoalan mengenai sutta/sūtra mana yang harus dianggap sebagai Buddhavacana, "sabda Buddha", dan juga sutta/sūtra mana yang memuat ajaran yang benar.
Teks-teks buddhis awal, seperti Suttapiṭaka dan Āgama, membedakan antara sutta-sutta buddhis yang mengandung makna yang jelas (Pāli: nītattha; Sanskerta: nītārtha) dan sutta-sutta yang memerlukan penafsiran lebih lanjut (Pāli: neyyattha; Sanskerta: neyārtha). Hal ini kemudian berkembang menjadi ajaran dua kebenaran, yang menyatakan bahwa terdapat kebenaran konvensional dan kebenaran hakiki. Konsep buddhis tentang upāya (sarana terampil) merupakan tema umum lainnya dalam hermeneutika buddhis, yang meyakini bahwa Buddha terkadang mengajarkan hal-hal yang secara harfiah tidak benar sebagai strategi pengajaran yang terampil, dan juga mengajarkan banyak hal yang berbeda kepada orang yang berbeda, bergantung pada kemampuan mereka untuk memahami.[1]
Teks buddhis awal

Empat rujukan agung
Persoalan mengenai bagaimana menentukan apakah suatu ajaran merupakan ajaran Buddha yang asli telah ada dalam kitab suci buddhis paling awal. Salah satu teks tersebut adalah Mahāparinibbāna Sutta, yang memiliki bagian bernama 'Empat Rujukan Agung' (mahāpadesa) yang menguraikan serangkaian kriteria untuk menentukan apakah suatu ajaran berasal dari Buddha.[2] Sutta ini menyatakan bahwa empat rujukan berikut dapat diterima:
- Kata-kata dari Buddha sendiri, yang diajarkan secara langsung.
- Komunitas sesepuh buddhis dan pemimpin mereka.
- Beberapa biku sesepuh, yang "terpelajar, yang telah menyelesaikan pelatihan mereka, yang merupakan pelestari Dhamma, Disiplin (Vinaya), dan Ringkasan (Mātikā)."
- Seorang biku, yang "terpelajar, yang telah menyelesaikan pelatihannya, yang merupakan pelestari Dhamma, Disiplin, dan Ringkasan."
Akan tetapi, dalam kasus ketika seseorang tidak diajar secara langsung oleh Buddha, teks tersebut melanjutkan dengan mengatakan bahwa pendengar harus memeriksa ajaran-ajaran ini dengan "mempelajari kalimat-kalimat tersebut kata demi kata dengan saksama, seseorang harus menelusurinya dalam Khotbah-Khotbah (Sutta) dan memverifikasinya dengan Disiplin (Vinaya)." Jika ajaran tersebut tidak dapat ditelusuri ke dalam sutta-sutta, seseorang harus menolaknya.
Neyyattha dan nītattha
Pembedaan penting yang diuraikan oleh teks-teks buddhis awal adalah pembedaan antara pernyataan-pernyataan yang bersifat Neyyattha ('perlu ditarik/dijelaskan') dan Nītattha ('telah diuraikan sepenuhnya'). Neyyattha Sutta menyatakan:
"Para biku, dua orang ini memfitnah Tathāgata. Siapa yang dua ini? Ia yang menjelaskan khotbah yang maknanya perlu disimpulkan sebagai khotbah yang maknanya telah diuraikan sepenuhnya. Dan ia yang menjelaskan khotbah yang maknanya telah diuraikan sepenuhnya sebagai khotbah yang maknanya perlu disimpulkan. Inilah dua orang yang memfitnah Tathāgata."[3]
Gagasan ini kemudian dielaborasi dalam literatur Abhidhamma Theravāda dan Mahāyāna sebagai kebenaran konvensional atau relatif (sammuti-sacca atau vohāra-sacca) dan kebenaran hakiki (paramattha-sacca), dan kelak dikenal sebagai "ajaran dua kebenaran".[4]
Kualitas unggulan
Kriteria lain yang diajarkan Buddha untuk membedakan Dhamma dari apa yang bukan ajaran-Nya adalah dengan menganalisis bagaimana suatu ajaran tertentu memengaruhi cara berpikir seseorang. Gotamī Sutta (AN 8.51 SC; AN 8.53 PTS) menyatakan bahwa apa pun yang mengarah pada kebebasan dari hawa nafsu, pembebasan, pelepasan, memiliki sedikit keinginan, kepuasan, pengasingan diri, kebangkitan energi, dan kemudahan untuk disokong, dikatakan sebagai instruksi guru, sementara apa pun yang mengarah pada kebalikan dari kualitas-kualitas ini tidak mungkin merupakan ajaran Buddha yang benar.[5] Oleh karena itu, dalam teks-teks buddhis awal, karya hermeneutika sangat terkait erat dengan praktik spiritual dan kesadaran penuh (sati) mengenai efek praktik yang seseorang lakukan terhadap keadaan batinnya.
Theravāda
| Bagian dari seri tentang |
| Buddhisme Theravāda |
|---|
| Buddhisme |
|
|
|
|
|
Ordo (Nikāya atau Gaṇa) |
|
|
|
| Berdasarkan Chaṭṭha Saṅgāyana |
| Eksegesis Pāḷi |
|---|
|
|
Stempel Buddhavacana
Dalam tradisi Theravāda, seluruh Tipiṭaka diyakini sebagai "sabda Buddha" (Buddhavacana).[6] Namun, agar sesuatu menjadi Buddhavacana menurut Theravāda tidak selalu berarti bahwa hal itu diucapkan oleh Buddha Gotama historis. Teks-teks dan ajaran-ajaran yang tidak diucapkan oleh Buddha secara langsung melainkan diajarkan oleh para murid-Nya, seperti Theragāthā, dikatakan 'diucapkan dengan baik' (subhāsitaṃ) dan merupakan ungkapan dari Dhamma sehingga oleh karenanya menjadi Buddhavacana.[6]
Kitab kuasikanonis
Dua kitab hermeneutis Theravāda utama awal mencakup Peṭakopadesa dan Nettipakaraṇa (sekitar abad ke-1 M), keduanya secara tradisional dikaitkan dengan seorang ekseget bernama Mahākaccāna. Oleh karena signifikansinya, keduanya dianggap sebagai bagian kanonik dari Kanon Pali (Tripitaka Pali) dalam tradisi Burma, sebagai bagian dari Khuddakanikāya dalam Suttapiṭaka (lihat Kuasikanonika).
Kedua kitab tersebut menggunakan pendekatan "jalan bertahap menuju Nibbāna" sebagai alat hermeneutis untuk menjelaskan ajaran Buddha dengan cara yang relevan baik bagi para kaum monastik maupun umat awam.[7] Kitab-kitab ini mengasumsikan bahwa struktur Dhamma diturunkan dari jalan bertahap. Mereka mengklasifikasikan berbagai jenis orang (orang awam/biasa, pemula, dan ahli) beserta tipe-tipe kepribadian (puggalapaññatti) dan berbagai jenis sutta yang disampaikan Buddha kepada setiap jenis orang tersebut (sutta tentang moralitas, tentang kebijaksanaan yang menembus, dan tentang bhāvanā).[7] Setiap jenis sutta dimaksudkan untuk membimbing setiap jenis orang lebih jauh di jalur bertahap menuju Nibbāna.
Lebih lanjut, Netti memberikan lima panduan (naya) dan enam belas mode (hāra) untuk mengklarifikasi hubungan antara konvensi linguistik suatu teks (byañjana) dan makna sebenarnya (attha).
Kitab komentar dan subkomentar
Interpretasi sabda Buddha menjadi semakin sentral dalam tradisi Theravāda. Oleh karena itu, banyak ajaran Theravāda dikembangkan dalam kitab-kitab komentar (Aṭṭhakathā) dan subkomentar (Ṭīkā) terhadap Tipiṭaka, yang merupakan teks-teks interpretatif utama. Sejauh ini, pengomentar/pengulas Theravāda yang paling penting adalah Buddhaghosa, seorang biku cendekiawan abad kelima yang menggubah komentar atas sebagian besar Kanon Pali. Subpengomentar yang tersohor adalah Dhammapāla.
Interpretasi tata bahasa
Dalam perkembangan selanjutnya, interpretasi tata bahasa yang dikenal sebagai byākaraṇa juga memiliki peranan penting. Berbagai tradisi tata bahasa berkembang untuk menganalisis dan melestarikan struktur bahasa kepustakaan Pali, di antaranya:
- Mazhab Kaccāyana – Tradisi tata bahasa Pali tertua yang menjadi dasar penyusunan karya-karya tata bahasa selanjutnya.
- Mazhab Moggallāna – Sistem tata bahasa yang dikembangkan oleh Moggallāna pada abad ke-12, yang dikenal dengan pendekatan analisis yang lebih sistematis dan terpengaruh oleh tata bahasa Sanskerta.
- Mazhab Saddanīti – Tradisi tata bahasa yang disusun oleh Aggavaṃsa dari Burma, yang dianggap sebagai salah satu risalah tata bahasa Pali paling komprehensif.
Metode Abhidhamma
Ujian monastik
Mahāyāna
Buddhisme Mahāyāna memiliki jumlah teks yang sangat banyak, yang banyak di antaranya ditulis dan dikodifikasikan ratusan tahun setelah wafatnya Buddha. Terlepas dari fakta sejarah ini,[butuh rujukan] teks-teks tersebut masih dianggap sebagai Buddhavacana. Kanon Mahāyāna yang sangat luas diorganisasikan ke dalam kelompok-kelompok ajaran atau "perputaran roda Dharma." Saṃdhinirmocana Sūtra, sebagai contoh, memandang dirinya sebagai pengukuh perputaran ketiga (Yogācāra), yang merupakan ajaran tertinggi dan paling definitif. Demikian pula, Sūtra Teratai menyajikan dirinya sebagai ajaran pamungkas dan terakhir dari Buddha. Oleh karena teks-teks yang saling bertentangan ini, para cendekiawan buddhis harus menemukan cara untuk menyelaraskan banyak sūtra dan ajaran yang berbeda ke dalam satu kanon dan kerangka interpretatif yang koheren, terkadang dengan menguraikan sistem klasifikasi untuk teks-teks tersebut (bahasa Tionghoa: p'an-chiao). Sebagai contoh, di Tiongkok, Aliran Huayan menempatkan Sūtra Avataṃsaka sebagai sūtra tertinggi, sementara aliran Tiantai meninggikan Sūtra Teratai di puncak hierarki sūtra mereka.
Aliran-aliran Mahāyāna memandang ajaran yang lebih 'rendah' (Śrāvakayāna) sebagai sarana terampil (upāya) untuk membimbing mereka yang kurang cakap menuju ajaran sūtra-sūtra Mahāyāna yang lebih tinggi—bahkan meskipun mereka saling berselisih mengenai sūtra mana yang mewakili makna definitif dari pesan pencerahan Buddha. Buddha dikatakan telah mengadaptasi pesannya berdasarkan audiens-Nya, memaparkan ajaran yang berbeda kepada orang yang berbeda, semuanya bergantung pada seberapa cerdas dan majunya mereka secara spiritual. Sistem klasifikasi aliran-aliran Mahāyāna dimaksudkan untuk mengorganisasikan sūtra-sūtra berdasarkan tipologi hierarkis orang-orang ini (Śrāvaka, umat Mahāyāna, dsb). Sistem klasifikasi hierarkis aliran-aliran buddhis ini sering digunakan sebagai alat dalam perdebatan doktrinal mereka. Sebagaimana yang ditulis oleh Étienne Lamotte: “Setiap aliran cenderung menerima secara harfiah teks-teks doktrinal yang sesuai dengan tesisnya dan menganggap teks-teks yang menyebabkan dilema sebagai teks yang bermakna sementara (tidak definitif).”[1]
Teks-teks doktrinal ini adalah teks yang diidentifikasi oleh masing-masing aliran sebagai jawaban atas pertanyaan inti dari hermeneutika Mahāyāna: "Apa isi dari pencerahan Buddha?"[1] Oleh karena fokus ini, memahami maksud pengarang suatu teks menjadi sangat krusial bagi perkembangan spiritual praktisi buddhis. Oleh karena itu, hermeneutika buddhis merupakan sebuah upaya untuk mengekstraksi instruksi dan kebijaksanaan Buddha bagi praksis spiritual dari suatu teks tertentu. Karena tujuan Buddhisme adalah untuk mencapai pencerahan, menurut Lamotte, validasi utama dari metode hermeneutis seseorang adalah pengalaman orang tersebut dalam meditasi, dan pada akhirnya pengalaman Nirvāṇa.
Menurut Alexander Berzin, Dharmakīrti, seorang filsuf buddhis India, dalam Komentar terhadap [Kompilasi Dignāga tentang] Pikiran-Pikiran yang Mengetahui secara Valid mengajukan dua kriteria penentu bagi keaslian sebuah teks buddhis:
Buddha mengajarkan subjek dalam jumlah yang sangat banyak, tetapi hanya tema-tema yang berulang kali muncul di sepanjang ajaran-Nya yang menunjukkan apa yang sebenarnya dimaksudkan oleh Buddha. Tema-tema ini meliputi pengambilan arah yang aman (berlindung), pemahaman hukum sebab akibat perilaku, pengembangan disiplin etis yang lebih tinggi, konsentrasi, dan kesadaran diskriminatif tentang bagaimana segala sesuatu benar-benar ada, serta pembangkitan cinta kasih dan kasih sayang untuk semua makhluk. Sebuah teks adalah ajaran buddhis otentik jika selaras dengan tema-tema utama ini. Kriteria kedua untuk keaslian adalah bahwa penerapan yang benar atas instruksinya oleh praktisi yang memenuhi kualifikasi harus membuahkan hasil yang sama seperti yang berulang kali ditunjukkan Buddha di tempat lain. Praktik yang tepat harus mengarah pada pencapaian tujuan akhir berupa pembebasan atau pencerahan dan tujuan sementara berupa pencapaian spiritual di sepanjang jalan tersebut.[8]
Prinsip-prinsip eksegesis
Empat sandaran
Berbagai sūtra Mahāyāna, seperti Catuḥpratisaraṇa Sūtra dan Akṣayamatinirdeśa Sūtra menetapkan serangkaian aturan untuk eksegesis buddhis. Keempat sandaran (Sanskerta: catuḥpratisaraṇa) ini adalah:[1][9]
- Bersandar pada makna (Sanskerta: artha) alih-alih pada kata-kata (Sanskerta: arthapratiśaraṇena bhavitavyaṃ na vyañjanapratiśaraṇena, Tibet: don la rton par bya yi tshig ’bru la rton par mi bya, Tionghoa: yīyì bù yīyǔ, 依義不依語)
- Bersandar pada ajaran (Dharma) alih-alih pada orang [yang menyampaikan ajaran] (Sanskerta: dharmapratiśaraṇena bhavitavyaṃ na pudgalapratiśaraṇena, Tibet: chos la rton par bya yi gang zag la rton par mi bya, Tionghoa: yīfǎ bù yīrén, 依法不依人)
- Bersandar pada kebijaksanaan (jñāna) alih-alih pada kesadaran [biasa] atau vijñāna (Sanskerta: jñānapratiśaraṇena bhavitavyaṃ na vijñānapratiśaraṇena, Tibet: ye shes la rton par bya yi rnam shes la rton par mi bya, Tionghoa: yīzhì bù yīshí, 依智不依識)
- Bersandar pada makna definitif (nītārtha) alih-alih pada neyārtha - makna sementara (Sanskerta: nītārthasūtrapratiśaraṇena bhavitavyaṃ na neyārthasūtrapratiśaraṇena, Tibet: nges don la rton par bya yi drang don la rton par mi bya, Tionghoa: yīliǎoyì bù yī bùliǎoyì, 依了義不依不了義)
Empat niat tersembunyi
Empat abhiprāya ("niat tersembunyi" atau "tujuan") mengacu pada makna tersembunyi di balik pernyataan-pernyataan Buddha yang tidak dimaksudkan untuk dipahami secara harfiah. Konsep ini menjelaskan bagaimana Buddha menyesuaikan ajarannya berdasarkan konteks dan kapasitas audiensnya.[10] Menurut Mahāyānasūtrālaṃkāra, terdapat empat jenis:[10]
- Niat kesamaan (samatābhiprāya): Buddha menyamakan dua hal yang memiliki kemiripan penting, seperti mengatakan bahwa ia dan Buddha masa lalu Vipaśyin adalah sama, merujuk pada sifat identik dari dharmakāya (tubuh kebenaran) mereka.
- Niat hal lain (arthāntarābhiprāya): Buddha membuat pernyataan dengan makna yang lebih dalam. Sebagai contoh, aliran Yogācāra menafsirkan pernyataannya mengenai ketiadaan fenomena dalam Prajñāpāramitā Sūtra sebagai penunjuk pada tiga sifat (trilakṣaṇa) fenomena.
- Niat waktu lain (kālāntarābhiprāya): Buddha berbicara tentang suatu hasil seolah-olah hal itu terjadi seketika, padahal itu berkaitan dengan masa depan yang jauh. Sebagai contoh, ia meyakinkan individu tentang kelahiran kembali di surga Amitābha (Sukhāvatī) untuk mendorong tindakan bajik, meskipun kelahiran kembali semacam itu mungkin kelak terjadi.
- Niat berdasarkan watak siswa (pudgalāntarābhiprāya): Buddha menyesuaikan ajarannya agar sesuai dengan audiensnya. Sebagai contoh, ia menekankan kedermawanan (dāna) bagi mereka yang cenderung pada pengumpulan jasa kebajikan, tetapi meremehkannya bagi mereka yang terlalu melekat pada praktik tersebut.
Empat niat tersirat
Empat abhisaṃdhi (Sanskerta: "niat tersirat") mengklasifikasikan pernyataan-pernyataan Buddha berdasarkan niat tersirat yang mendasarinya. Mahāyānasūtrālaṃkāra mengidentifikasi empat jenis abhisaṃdhi:[11]
- Niat tersirat pintu masuk (avatāraṇābhisaṃdhi): Untuk membimbing murid-murid Hīnayāna menuju ajaran Mahāyāna, Buddha menghindari penjelasan sepenuhnya mengenai ketiadaan diri (anātman) maupun fenomena (dharmanairātmya). Alih-alih, ia terlebih dahulu mengajarkan ketiadaan diri pribadi sembari membiarkan keyakinan pada keberadaan fenomena eksternal (yakni kekosongan belum diajarkan seutuhnya).
- Niat tersirat tiga sifat (lakṣaṇābhisaṃdhi): Pernyataan-pernyataan Buddha tentang fenomena mencerminkan tiga sifatnya. Sebagai contoh, ketika ia mengatakan semua fenomena tidak memiliki keberadaan inheren, ia merujuk pada sifat parikalpita (bayangan/imajiner); ketika ia mengatakan fenomena tidak diciptakan maupun dihancurkan, ia merujuk pada sifat paratantra (bergantung); dan ketika ia mengatakan fenomena secara inheren bebas dari penderitaan, ia merujuk pada sifat pariniṣpanna (sempurna/mutlak).
- Niat tersirat penawar (pratipakṣābhisaṃdhi): Buddha memberikan penawar khusus untuk kotoran batin dalam ajaran Hīnayāna. Sebagai contoh, cinta kasih menangkal kebencian, meditasi pada ketidakkekalan mengatasi kesombongan, dan perhatian penuh pada napas menenangkan pikiran yang mengembara. Meskipun ini disajikan sebagai sesuatu yang sepenuhnya efektif, semuanya hanya dapat mencapai pemberantasan kotoran batin seutuhnya bila disertai wawasan tentang ketiadaan diri.
- Niat tersirat transformasi (pariṇāmanābhisaṃdhi): Beberapa pernyataan Buddha tampak paradoks atau bertentangan dengan ajaran-Nya. Sebagai contoh, Dhammapada menyiratkan bahwa "membunuh orang tua" mengarah pada kemurnian, tetapi pernyataan tersebut sebenarnya secara metaforis merujuk pada pemberantasan keadaan batin yang negatif seperti nafsu indriawi.
Empat kriteria Zhiyi
Menurut John R. McRae, ekseget dan filsuf Tiongkok dari aliran Tiantai, Zhiyi (538–597 M) mengembangkan empat kriteria hermeneutis untuk mengomentari Sūtra Teratai:[12]
Tiga kriteria pertama berkaitan dengan hubungan antara Buddha dan audiensnya, implikasi doktrinal dari suatu baris atau istilah tertentu, dan interpretasi alternatif berdasarkan doktrin Mahāyāna hakiki maupun Hīnayāna yang lebih terbatas. Analisis kontemplatif, kategori keempat dari Zhiyi, adalah mendekati setiap baris kitab suci sebagai fungsi atau komponen dari “kontemplasi prinsip Karakteristik Sejati dari Pikiran Esa.” Sebagai contoh, Zhiyi menafsirkan istilah “Vaiśālī” bukan sebagai nama tempat, melainkan sebagai metafora bagi pikiran seseorang itu sendiri.
Cara menafsirkan teks-teks buddhis yang serupa dengan kriteria keempat ini digunakan secara luas oleh aliran Zen awal, khususnya tradisi Ajaran Gunung Timur dari Shenxiu (606?–706), dan diistilahkan sebagai “analisis kontemplatif” (kuan-hsin shih, atau kanjin-shaku dalam bahasa Jepang) oleh para cendekiawan modern.[12]
Lihat pula
Referensi
- 1 2 3 4 Lopez, Donald S. Buddhist Hermeneutics, 1993, Introduction.
- ↑ Digha Nikaya 16 PTS: D ii 72 chapters 1-6, Maha-parinibbana Sutta: Last Days of the Buddha translated from the Pali by Sister Vajira & Francis Story
- ↑ "Neyyatha Sutta: A Meaning to be Inferred" (AN 2.25), translated from the Pali by Thanissaro Bhikkhu. Access to Insight (Legacy Edition), 4 August 2010, http://www.accesstoinsight.org/tipitaka/an/an02/an02.025.than.html
- ↑ KARUNADASA, Y. THERAVADA VERSION OF THE TWO TRUTHS, "Archived copy" (PDF). Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 2012-12-24. Diakses tanggal 2015-12-18.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Salinan terarsip sebagai judul (link) - ↑ AN 8.53 PTS: A iv 280, Gotami Sutta: To Gotami, http://www.accesstoinsight.org/tipitaka/an/an08/an08.053.than.html
- 1 2 Nathan Katz, Review of The Word of the Buddha: the Tipitaka and its Interpretation in Theravada Buddhism, by George D. Bond. THE JOURNAL OF THE INTERNATIONAL ASSOCIATION OF BUDDHIST STUDIES; https://journals.ub.uni-heidelberg.de/index.php/jiabs/article/viewFile/8628/2535
- 1 2 George, Bond. The Gradual Path as a Hermeneutical Approach to the Dhamma (in Lopez, Buddhist Hermeneutics)
- ↑ Berzin, Alexander, The Authenticity of the Tantras, https://studybuddhism.com/en/advanced-studies/vajrayana/tantra-theory/making-sense-of-tantra/the-autheticity-of-the-tantras
- ↑ Buswell, Robert E; Lopez, Donald S. The Princeton Dictionary of Buddhism, pp. 1072. Princeton University Press, Nov 24, 2013.
- 1 2 Buswell, Robert E; Lopez, Donald S. The Princeton Dictionary of Buddhism, pp. 9-10. Princeton University Press, Nov 24, 2013.
- ↑ Buswell, Robert E; Lopez, Donald S. The Princeton Dictionary of Buddhism, p. 12. Princeton University Press, Nov 24, 2013.
- 1 2 McRae, John R. (1986). The Northern School and the Formation of Early Chʻan Buddhism, University of Hawaii Press, p. 202.
| Topik | |
|---|---|
| Āstika | |
| Nāstika | |
| Teks |
|
| Filosofer |
|
| Konsep |
|