Minggu, 20 September 2026
20:32 WIB
TERKINI
Cek Fakta Kiat Cerdas Deteksi Hoaks: Hindari Jebakan Berita Palsu di Media Sosial Cek Fakta Waspada! Penipuan Undian Berhadiah Catut Nama BNI Kembali Marak Climate BMKG Ungkap Potensi Hujan Lebat Landa Sejumlah Wilayah Indonesia Pekan Ini Moto Gp Veda Ega Peringkat 16 FP2 Moto3 Austria, Hakim Danish Tembus Empat Besar Moto Gp Drama Kualifikasi Moto3 Austria: Veda Ega ke-19, Uriarte Pecahkan Rekor Hukum Selebgram JP Terjerat Vape Narkoba: Stres Picu Konsumsi Etomidate Golongan II Arsip Mengenang Multatuli: Kisah 84 Hari yang Mengukir Sejarah Lebak Arsip Max Havelaar di Sekolah Belanda: Antara Pedoman dan Kebebasan Memilih Megapolitan Aroma Tak Sedap Ganggu Pejalan Kaki Dekat Halte IRTI Monas Tren Trump Larang CNN, MS NOW, Politico dari Gedung Putih: Konflik Media Memuncak Cek Fakta Kiat Cerdas Deteksi Hoaks: Hindari Jebakan Berita Palsu di Media Sosial Cek Fakta Waspada! Penipuan Undian Berhadiah Catut Nama BNI Kembali Marak Climate BMKG Ungkap Potensi Hujan Lebat Landa Sejumlah Wilayah Indonesia Pekan Ini Moto Gp Veda Ega Peringkat 16 FP2 Moto3 Austria, Hakim Danish Tembus Empat Besar Moto Gp Drama Kualifikasi Moto3 Austria: Veda Ega ke-19, Uriarte Pecahkan Rekor Hukum Selebgram JP Terjerat Vape Narkoba: Stres Picu Konsumsi Etomidate Golongan II Arsip Mengenang Multatuli: Kisah 84 Hari yang Mengukir Sejarah Lebak Arsip Max Havelaar di Sekolah Belanda: Antara Pedoman dan Kebebasan Memilih Megapolitan Aroma Tak Sedap Ganggu Pejalan Kaki Dekat Halte IRTI Monas Tren Trump Larang CNN, MS NOW, Politico dari Gedung Putih: Konflik Media Memuncak
Byasa

Byasa

Resi di India kuno

Byasa
व्यास
Arca Resi Byasa di Naimisharanya, India.
Arca Resi Byasa di Naimisharanya, India.
Tokoh legenda dan filsafat Hindu
NamaByasa
Ejaan Dewanagariव्यास
Ejaan IASTVyāsa
Nama lain
  • Kresna Dwaipayana
  • Wedawyasa
  • Abyasa
GelarResi; Wedawyasa (pembagi Weda)
Kitab referensiMahabharata; Purana; Bhagawadgita
KediamanHidup mengembara. Terutama di Himalaya, Kurukshetra, dan tempat suci lainnya di India.
GolonganCiranjiwin (manusia abadi)
ProfesiResi, filsuf, sastrawan, pujangga, pembagi kitab Weda
AnakSukadewa

Byasa atau Wiyasa (Dewanagari: व्यास; ,IAST: Vyāsa,; dalam pewayangan disebut Resi Abiyasa) adalah figur penting dalam agama Hindu. Dia juga bergelar Weda Wyasa (orang yang mengumpulkan berbagai karya para resi dari masa sebelumnya, membukukannya, dan dikenal sebagai Weda). Dia juga dikenal dengan nama Kresna Dwaipayana (Dewanagari: कृष्णद्वैपायन; ,IAST: Kṛṣṇadvaipāyana, कृष्णद्वैपायन). Dia adalah filsuf, sastrawan India yang menulis epos terbesar di dunia, yaitu Mahabharata. Sebagian riwayat hidupnya diceritakan dalam Mahabharata.

Nama

Kata "Byasa" (IAST: Vyāsa) berarti "penghimpun" atau "penyusun";[1][2] dapat pula berarti "pemisahan" atau "pemilahan".[1] Arti lainnya meliputi: "memecah", "membedakan", atau "menguraikan". Ia juga merupakan suatu gelar yang diberikan kepada orang suci atau cendekiawan bijaksana, dan disematkan kepada seseorang yang masyhur akan karya sastranya.[3]

Byasa juga dikenal sebagai "Wedawyasa" (Dewanagari: वेदव्यास; ,IAST: Vedavyāsa, वेदव्यास) karena dia telah membagi Weda yang tunggal dan abadi menjadi empat kitab yang berbeda Regweda, Samaweda, Yajurweda, dan Atharwaweda.[4][5] Dalam Mahabharata, Byasa juga disebut "Kresna"―mengacu kepada warna kulitnya yang gelap (Sanskerta: kṛṣṇa)―dan "Dwaipayana", karena lahir di suatu pulau (Sanskerta: dvaipāyana).[6]

Kelahiran

Bagian dari seri
Filsafat Hindu
250px-Shankara-Disciples-River.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Ortodoks
Hinduisme OM Filsafat India

Dalam kitab Mahabharata diketahui bahwa orang tua Byasa adalah Resi Parasara dan Satyawati (alias Durgandini atau Gandawati). Diceritakan bahwa pada suatu hari, Resi Parasara berdiri di tepi Sungai Yamuna, minta diseberangkan dengan perahu. Satyawati menghampirinya lalu mengantarkannya ke seberang dengan perahu. Di tengah sungai, Resi Parasara terpikat oleh kecantikan Satyawati. Satyawati kemudian bercakap-cakap dengan Resi Parasara, sambil menceritakan bahwa dia terkena penyakit yang menyebabkan badannya berbau busuk. Ayah Satyawati berpesan, bahwa siapa saja lelaki yang dapat menyembuhkan penyakitnya boleh dijadikan suami. Mendengar hal itu, Resi Parasara berkata bahwa dia bersedia menyembuhkan penyakit Satyawati. Karena kesaktiannya sebagai seorang resi, Parasara menyembuhkan Satyawati dalam sekejap.

Setelah lamaran disetujui oleh orang tua Satyawati, Parasara dan Satyawati melangsungkan pernikahan. Kedua mempelai menikmati malam pertamanya di sebuah pulau di tengah sungai Yamuna, konon terletak di dekat kota Kalpi di distrik Jalaun di Uttar Pradesh, India. Di sana Resi Parasara menciptakan kabut gelap nan tebal agar pulau tersebut tidak dapat dilihat orang. Dari hasil hubungannya, lahirlah seorang anak yang sangat luar biasa. Dia diberi nama Kresna Dwaipayana, karena kulitnya hitam (kṛṣṇna) dan lahir di tengah pulau (dvaipāyana). Anak tersebut tumbuh menjadi dewasa dengan cepat dan mengikuti jejak ayahnya sebagai seorang resi.

Pemilah Weda

Umat Hindu memandang Byasa atau Kresna Dwaipayana sebagai tokoh yang memilah atau membagi Weda menjadi empat bagian (Caturweda), dan oleh karena itu dia juga memiliki nama Wedawyasa yang artinya "Pembagi Weda". Kata wyasa berarti "membelah", "memecah", "membedakan". Dalam proses pengkodifikasian Weda, Byasa dibantu oleh empat muridnya, yaitu Pulaha, Jaimini, Samantu, dan Wesampayana.

Telah diperdebatkan apakah Byasa atau Wyasa adalah nama seseorang ataukah kelas para sarjana yang membagi Weda. Kitab Wisnupurana memiliki teori menarik mengenai Wyasa. Menurut pandangan Hindu, alam semesta adalah suatu siklus, ada dan tiada berulang kali. Setiap siklus dipimpin oleh beberapa Manu, satu untuk setiap Manwantara, yang memiliki empat zaman, disebut Caturyuga (empat Yuga). Dwaparayuga adalah Yuga yang ketiga. Kitab Purana (Buku 3, Chanto 3) berkata:

Dalam setiap zaman ketiga (Dwapara), Wisnu, dalam diri Wyasa, untuk menjaga kualitas umat manusia, membagi Weda, yang seharusnya satu, menjadi beberapa bagian. Mengamati terbatasnya ketekunan, energi, dan dengan wujud yang tak kekal, dia membuat Weda empat bagian, sesuai kapasitasnya; dan raga yang dipakainya, dalam menjalankan tugas untuk mengklasifikasi, dikenal dengan nama Wedawyasa.

Tokoh Mahabharata

Selain dikenal sebagai tokoh yang membagi Weda menjadi empat bagian, Byasa juga dikenal sebagai penulis (pencatat) riwayat dalam Mahabharata. Dia tidak hanya menulis, tetapi juga merupakan tokoh penting dalam riwayat yang disusunnya itu.[7][8]

Ibunya (Satyawati) menikah dengan Santanu, Raja Hastinapura. Dari perkawinannya lahirlah Citrānggada dan Wicitrawirya. Citrānggada gugur dalam suatu pertempuran, sedangkan Wicitrawirya wafat karena sakit. Karena kedua pangeran itu wafat tanpa memiliki keturunan, Satyawati memanggil Byasa agar melangsungkan suatu yadnya (upacara suci) yang disebut niyoga untuk memperoleh keturunan.[9] Kedua janda Wicitrawirya yaitu Ambika dan Ambalika diminta menghadap Byasa sendirian untuk diupacarai.[10]

Sesuai dengan aturan upacara, pertama Ambika menghadap Byasa. Karena dia takut melihat wajah Byasa yang sangat hebat, maka dia menutup mata. Karena Ambika menutup mata selama upacara berlangsung, Byasa berkata bahwa anak Ambika akan terlahir buta. Kemudian Ambalika menghadap Byasa. Sebelumnya Satyawati mengingatkan agar Ambalika tidak menutup mata supaya anaknya tidak terlahir buta seperti yang terjadi pada Ambika. Ketika Ambalika memandang wajah Byasa, dia menjadi takut tetapi tidak mau menutup mata sehingga wajahnya menjadi pucat. Byasa berkata bahwa anak Ambalika akan terlahir pucat. Anak Ambika yang buta bernama Dretarastra, sedangkan anak Ambalika yang pucat bernama Pandu. Karena kedua anak tersebut tidak sehat jasmani, maka Satyawati memohon agar Byasa melakukan upacara sekali lagi. Kali ini, Ambika dan Ambalika tidak mau menghadap Byasa, tetapi mereka menyuruh seorang dayang-dayang untuk mewakilinya. Dayang-dayang itu bersikap tenang selama upacara, maka anaknya terlahir sehat, dan diberi nama Widura.[4]

Ketika Gandari kesal karena belum melahirkan, sementara Kunti sudah memberikan keturunan kepada Pandu, maka kandungannya dipukul. Kemudian, seonggok daging dilahirkan oleh Gandari. Atas pertolongan Byasa, daging tersebut dipotong menjadi seratus bagian. Lalu setiap bagian dimasukkan ke dalam sebuah kendi dan ditanam di dalam tanah. Setahun kemudian, kendi tersebut diambil kembali. Dari dalamnya munculah bayi yang kemudian diasuh sebagai para putera Dretarastra.

Byasa tinggal di sebuah hutan di wilayah Kurukshetra, dan sangat dekat dengan lokasi Bharatayuddha, sehingga dia tahu dengan detail bagaimana keadaan di medan perang Bharatayuddha, karena terjadi di depan matanya sendiri. Setelah pertempuran berakhir, Aswatama lari dan berlindung di asrama Byasa. Tak lama kemudian Arjuna beserta para Pandawa menyusulnya. Di tempat tersebut mereka berkelahi. Baik Arjuna maupun Aswatama mengeluarkan senjata sakti Brahmastra. Karena dicegah oleh Byasa, maka pertarungan mereka terhenti.

Penutur Mahabharata

250px-Ganesha_write_Mahabharata.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Lukisan yang menggambarkan Resi Byasa menceritakan kisah Mahabharata kepada Dewa Ganesa (Batara Gana).

Menurut pustaka Hindu, pencatatan riwayat Mahabharata berawal dari keinginan Byasa untuk mengenang kisah keluarganya tersebut.[4] Atas persetujuan Dewa Brahma, maka Ganapati (Ganesa) datang membantu Byasa sebagai pencatat sloka-sloka riwayat Mahabharata yang akan dituturkan Byasa. Ganapati juga meminta agar Byasa menceritakan Mahabharata tanpa berhenti. Setelah dua setengah tahun, Mahabharata berhasil disusun. Murid-murid Resi Byasa yang terkemuka seperti Pulaha, Jaimini, Sumantu, dan Wesampayana menuturkannya berulang-ulang dan menyebarkannya ke seluruh dunia.[11]

Pewayangan Jawa

250px-Byasa-kl.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Byasa dalam pewayangan Jawa.

Dalam pewayangan Jawa, tokoh Byasa disebut dengan nama "Abyasa", "Kresna Dipayana", "Sutiknaprawa", atau "Rancakaprawa". Kisah kehidupannya dikembangkan sedemikian rupa oleh para dalang sehingga cenderung berbeda dengan versi aslinya.

Dalam kisah pewayangan dikisahkan bahwa Abyasa merupakan putra pasangan Parasara dan Durgandini. Dikisahkan Durgandini menderita bau amis pada badannya semenjak lahir. Dia diobati Parasara seorang pendeta muda, di atas perahu sampai sembuh. Keduanya saling jatuh hati dan melakukan sanggama, sehingga lahir Abyasa.

Perkawinan

Durgandini tidak menikah dengan Parasara, dan melanjutkan kehidupan sebagai nelayan. Kemudian dia menjadi permaisuri Sentanu, raja Hastina. Dia melahirkan Citranggada dan Citrawirya. Masing-masing secara berturut-turut naik takhta menggantikan Sentanu. Namun, keduanya mangkat dalam usia muda. Citranggada mangkat dengan status belum menikah, sedangkan Citrawirya mangkat saat belum memiliki keturunan.

Durgandini kemudian memanggil Abyasa untuk menikahi kedua janda Citrawirya, yaitu Ambalika dan Ambaliki. Saat itu dia baru saja bertapa sehingga keadaan tubuhnya sangat buruk dan mengerikan. Ambalika ketakutan saat pertama kali bertemu sampai memejamkan mata. Abyasa meramalkan kalau Ambalika kelak melahirkan putra buta. Sementara itu, Ambaliki memalingkan muka karena takut. Abyasa meramalkan kelak Ambaliki akan melahirkan bayi berleher cacat. Abyasa juga menikahi dayang Ambaliki bernama Datri. Perempuan itu ketakutan dan mencoba lari. Dia pun diramal kelak akan melahirkan putra berkaki pincang.

Akhirnya Ambalika, Ambaliki, dan Datri masing-masing melahirkan putra yang diberi nama Dretarastra, Pandu, dan Widura.

Sebagai raja dan pendeta

Pewaris sah takhta Hastina sesungguhnya adalah Bisma putra Sentanu dari istri pertama. Namun dia telah bersumpah tidak akan menjadi raja, sehingga sebagai pengganti Citrawirya, Abyasa pun naik takhta sampai kelak ketiga putranya dewasa. Setelah tiba saatnya, Abyasa pun turun takhta digantikan Pandu sebagai raja Hastina selanjutnya. Dia kembali menjadi pendeta di pertapaan Ratawu yang terletak di pegunungan Saptaarga. Abyasa merupakan pendeta agung yang sangat dihormati. Tidak hanya keluarga Hastina saja yeng menjadikannya tempat meminta nasihat, tetapi juga dari negeri-negeri lainnya.

Akhir hayat

Versi pewayangan mengisahkan kematian Abyasa sesaat sesudah perang Baratayuda usai, yaitu ketika keturunannya yang bernama Parikesit (cucu Arjuna) dilahirkan. Konon, atas jasa-jasanya selama hidup di dunia, datang kereta emas dari kahyangan menjemput Abyasa. Dia pun naik ke surga bersama seluruh raganya. Nama Dipayana kemudian diwarisi oleh Parikesit.

Silsilah

Para Raja KuruWangsa PaurawaPara Raja Chedi
PratipaSunandaBasuAdrika
DewapiBahlikaGanggaSantanuSatyawatiParasara
SomadataBismaCitranggadaWicitrawirya2 istriByasapelayan
2 putraBurisrawaGandariDretarastrapelayanKuntiPanduMadri
100 KorawaDursilawatiYuyutsu5 PandawaWidura

Referensi

  1. 1 2 Sanskrit Dictionary for Spoken Sanskrit, Vyasa
  2. Gopal, Madan (1990). K.S. Gautam (ed.). India through the ages. Publication Division, Ministry of Information and Broadcasting, Government of India. hlm. 158.
  3. Gopal, Madan (1990). K.S. Gautam (ed.). India through the ages. Publication Division, Ministry of Information and Broadcasting, Government of India. hlm. 129.
  4. 1 2 3 Mani, Vettam (1975). Puranic Encyclopaedia: A Comprehensive Dictionary With Special Reference to the Epic and Puranic Literature. Delhi: Motilal Banarsidass. hlm. 885 (Vyāsa). ISBN 0-8426-0822-2.
  5. Sullivan 1999, hlm. 2.
  6. Essays on the Mahābhārata, Arvind Sharma, Motilal Banarsidass Publisher, p. 205
  7. Lochtefeld, James G. (2002). The Illustrated Encyclopedia of Hinduism: N-Z (dalam bahasa Inggris). Rosen. hlm. 770. ISBN 978-0-8239-3180-4.
  8. Bhattacharya, Pradip (Mei–Juni 2004). "Of Kunti and Satyawati: Sexually Assertive Women of the Mahabharata" (PDF). Manushi (142): 21–25.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  9. Bhawalkar, Vanamala (2002). Eminent women in the Mahābhārata (dalam bahasa Inggris). Sharada. ISBN 9788185616803.
  10. Barti, Kalra; et al. (2016). "The Mahabharata and reproductive endocrinology". Indian Journal of Endocrinology and Metabolism. 20 (3): 404–407. doi:10.4103/2230-8210.180004. PMC 4855973. PMID 27186562.
  11. Mahābhārata, Vol. 1, Part 2. Critical edition, p. 884.

Lihat pula

Pranala luar

Wikimedia Commons memiliki media mengenai Vyāsa.
250px-Draupadi_and_Pandavas.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail

250px-A_Vishva-rupa_print.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail

250px-The_start_of_the_great_battle.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Wangsa
Candra
Leluhur
Keluarga Kuru
(Korawa)
Keluarga Yadu
(Yadawa)
Tokoh lain
Brahmana
Kesatria
Lainnya
Non-manusia
Dewa
Cerita
berbingkai
Lokasi
Kerajaan
Kota dan
desa
Bentang
alam
Keluarga
Konsep dan
peristiwa
Manu
Kesatria
Keturunan
Swayambu Manu
Keturunan Priyabrata
Keturunan Utanapada
Dinasti Surya
Dinasti Candra
Brahmana
dan Resi
Dasawatara
Wisnu
Awatara lainnya
*Urutan awatara Wisnu kedelapan dan kesembilan tergantung tradisi. Beberapa aliran Hindu memasukkan Buddha, sedangkan yang lain memasukkan Baladewa dan menghilangkan Kresna.
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan