Selasa, 22 September 2026
05:40 WIB
TERKINI
Cek Fakta Menteri Keuangan Suahasil Nazara Diserang Hoaks: Dana Hibah Fiktif dan Korupsi Fantastis Cek Fakta Waspada! Penipuan Undian Berhadiah Mengatasnamakan BRI Marak di Medsos Cek Fakta Klarifikasi Hoaks: Nusron Wahid Tak Pernah Sebut Jokowi Terima Suap Rp 700 Miliar Hukum & Kriminal Pengusaha RI Tersandung Dolar Singapura Palsu di Kasino Mewah Sentosa Peristiwa Misteri 22 Penumpang KM Virgo Tak Terdaftar: Menyoroti Akurasi Manifes Kapal Olahraga Pedro Acosta Pecah Telur di MotoGP Austria 2026, Penantian Panjang Berakhir Kolom Warisan Otoriter: Jejak Kekuasaan Kolonial dalam Rezim Orde Baru Kolom Obligasi Daerah Rp 5,6 Triliun DKI: Cerminan Kebutuhan Pembiayaan Ibu Kota Politik Partai Pendukung Prabowo Usulkan Kenaikan Ambang Batas Parlemen dan Presiden Megapolitan Pria Penendang Wanita di Senayan City Resmi Tersangka, Polisi Ungkap Motifnya Cek Fakta Menteri Keuangan Suahasil Nazara Diserang Hoaks: Dana Hibah Fiktif dan Korupsi Fantastis Cek Fakta Waspada! Penipuan Undian Berhadiah Mengatasnamakan BRI Marak di Medsos Cek Fakta Klarifikasi Hoaks: Nusron Wahid Tak Pernah Sebut Jokowi Terima Suap Rp 700 Miliar Hukum & Kriminal Pengusaha RI Tersandung Dolar Singapura Palsu di Kasino Mewah Sentosa Peristiwa Misteri 22 Penumpang KM Virgo Tak Terdaftar: Menyoroti Akurasi Manifes Kapal Olahraga Pedro Acosta Pecah Telur di MotoGP Austria 2026, Penantian Panjang Berakhir Kolom Warisan Otoriter: Jejak Kekuasaan Kolonial dalam Rezim Orde Baru Kolom Obligasi Daerah Rp 5,6 Triliun DKI: Cerminan Kebutuhan Pembiayaan Ibu Kota Politik Partai Pendukung Prabowo Usulkan Kenaikan Ambang Batas Parlemen dan Presiden Megapolitan Pria Penendang Wanita di Senayan City Resmi Tersangka, Polisi Ungkap Motifnya
Mohini

Mohini

Untuk kegunaan lain, lihat Mohini (disambiguasi).
Mohini
Dewi kecantikan, pekasih, erotisisme, dan ilusi
250px-Mohini_on_a_swing.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Lukisan Mohini di Ayunan karya Raja Ravi Varma.
Dewanagariमोहिनी
IASTMohinī
Genderwanita
Afiliasiawatara Wisnu
SenjataMohini-astra (pekasih), cakra sudarsana
Keluarga
SuamiSiwa (ver. India Selatan)[1]
AnakSasta, Ayyapa[2]

Mohini (Dewanagari: मोहिनी; ,IAST: Mohinī, मोहिनी) adalah salah satu inkarnasi atau awatara Wisnu yang disebutkan dalam kitab Purana agama Hindu. Dalam mitologi Hindu, Mohini berwujud gadis cantik yang muncul saat kisah pengadukan samudra susu. Dalam bahasa Sanskerta, kata Mohini secara harfiah bisa berarti "bunga melati".

250px-ChalukyaMohini.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Patung Mohini dari zaman Dinasti Chalukya (sekitar abad ke-11), Karnataka, India.

Legenda

Pengadukan samudra susu

Menurut mitologi Hindu, terdapat dua ras yang sering bermusuhan, yaitu para dewa (meliputi para Aditya atau keturunan Aditi, khususnya kelompok dewa matahari) dan para asura (meliputi para Detya atau keturunan Diti, yaitu ras makhluk sejenis setan atau raksasa). Setiap ada raksasa yang gugur dalam peperangan melawan para dewa, Sukracarya selalu datang untuk menghidupkannya kembali. Para dewa juga ingin memperoleh keabadian. Atas nasihat Wisnu, para dewa berusaha mencari minuman suci yang disebut amerta. Wisnu juga menyarankan agar para dewa mengajak para raksasa untuk mencari amerta bersama-sama.[3][4]

Para dewa dan raksasa mencari amerta di tengah samudra susu. Mereka mengaduk lautan tersebut dengan menggunakan sebuah gunung yang bernama gunung Mandara. Naga Basuki digunakan sebagai tali melilit gunung, sedangkan kura-kura raksasa bernama Kurma menahan gunung Mandara agar tidak tenggelam. Para dewa memegang ekor sang naga, sedangkan para raksasa memegang kepalanya. Secara serentak, mereka memutar gunung Mandara dengan menarik tubuh naga Basuki. Setelah mengaduk setelah sekian lama, munculah berbagai harta karun dari dalam lautan. Semua itu diambil oleh para dewa. Ketika tirta amerta sudah muncul, para raksasa meminta agar benda tersebut menjadi milik mereka oleh karena para dewa sudah mendapat harta karun terlalu banyak. Untuk menunjukkan rasa adil, para dewa memberikan tirta amerta kepada para raksasa.

Wisnu sebagai Mohini

Ketika amerta menjadi milik para raksasa, para dewa meminta Wisnu untuk merebutnya kembali. Demi menolong para dewa, Wisnu menjelma menjadi gadis cantik yang bernama Mohini. Mohini berbaur dengan para raksasa untuk memikat mereka. Mohini meminta agar para raksasa mandi terlebih dahulu sebelum menikmati amerta. Karena terpikat dengan kecantikannya, para raksasa menuruti perintah Mohini. Sementara mereka semua mandi, Mohini segera mengambil amerta dan membawanya dengan cepat ke hadapan para dewa. Setelah para dewa mendapatkan amerta, mereka segera meminumnya secara bergantian. Para raksasa yang sadar akan kecurangan para dewa segera mengambil senjata dan menyatakan perang melawan para dewa. Untuk mengakhiri peperangan dengan cepat, Wisnu mengambil Cakra Sudarsana dan melepaskannnya ke pasukan para raksasa. Senjata itu menyambar-nyambar para raksasa sehingga mereka lari berhamburan. Peperangan dimenangkan oleh pihak dewa.[5][6][7]

Saat para dewa membagi amerta, seorang raksasa bernama Swarbanu atau Rahu datang menyamar sebagai dewa dengan tujuan dapat menikmati amerta. Sang Surya dan Candra menyadari hal tersebut sehingga mereka segera melaporkannya ke hadapan Wisnu yang berwujud Mohini. Wisnu segera melepaskan Cakra Sudarsana. Senjata itu memotong leher Rahu hingga putus. Karena Rahu sudah meminum amerta maka kepalanya tidak mati, hanya badannya saja yang diam tak bergerak. Kepalanya tetap disebut "Rahu" sedangkan badannya disebut "Ketu". Kini kedua nama tersebut menjadi bagian dari Nawagraha (sembilan planet) dalam astrologi Hindu.[8][9][10]

Kisah Basmasura

250px-Mohini_bhasmasura.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Bhasmasura (kiri) akan meletakkan telapak tangannya di atas kepala mengikuti tarian Mohini (tengah), sementara Siwa (kanan) mengintip dari belakang pohon.

Dalam kitab Wisnupurana, terdapat kisah yang menceritakan bagaimana Mohini membunuh Basmasura. Bhasmasura adalah seorang Asura yang melakukan tapa berat dalam waktu yang lama, di mana tapa tersebut ditujukan pada Dewa Siwa. Batara Siwa yang puas dan takjub terhadap tapa yang dilakukan oleh Basmasura lalu datang untuk menanyakan anugerah apa yang diinginkannya. Basmasura menginginkan keabadian, tetapi Siwa memberitahukan bahwa ia tidak memiliki kekuatan untuk memberikan keabadian pada makhluk hidup. Basmasura pun lalu menginginkan kekuatan sentuhan maut di mana jika ia meletakkan tangan di atas kepala seseorang maka yang orang tersebut akan seketika berubah menjadi abu. Tanpa menyadari akibat yang bisa ditimbulkan darinya, Siwa pun menganugerahi Basmasura dengan kekuatan tersebut. Segera setelah itu, Basmasura ingin mencoba kekuatan tersebut terhadap Siwa sendiri. Siwa pun lari terbirit-birit, tetapi kemanapun Siwa lari ia tetap dikejar terus-menerus oleh Basmasura.[11]

Siwa pun lalu meminta bantuan pada Wisnu. Menyadari bahaya yang dapat menimpa alam semesta karena kekuatan baru Basmasura, Batara Wisnu pun berubah wujud menjadi Mohini, lalu mendatangi Basmasura yang seketika langsung terpana melihatnya. Basmasura mengajak Mohini untuk menikah, tetapi Mohini memberitahukannya kalau ia adalah orang yang gemar menari, dan hanya akan menikahinya jika Basmasura dapat menirukan persis setiap gerakan yang Mohini peragakan. Basmasura menyetujui persyaratannya dan mereka pun lalu mulai menari. Setelah berhari-hari lamanya mereka berdua menari, Basmasura makin persis menirukan gerakan demi gerakan dari Mohini, yang menyebabkan dirinya lengah. Di pertengahan tarian, Mohini menempatkan postur telapak tangannya di atas kepalanya sendiri. Basmasura yang menirukan gerakan itu begitu saja lalu dengan seketika berubah menjadi abu.[12]

Lihat pula

Referensi

  1. Caroline Osella, Filippo Osella (2006). Men and masculinities in south India. Anthem Press. hlm. 145–6. ISBN 9781843313991.
  2. Pattanaik (2001), p. 76
  3. Goudriaan, p. 44, Adi Parva (chapter 17, stanzas 38–40)
  4. Mahabharata, Adi Parva, Astika Parva, Section 18.
  5. Jarow, Rick (Maret 2003). Tales for the dying: the death narrative of the Bhāgavata-Purāṇa. SUNY Press. hlm. 78–80. ISBN 978-0-7914-5609-5.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  6. Pattanaik (2001), p. 65
  7. Anand Aadhar translation of Bhagavata Purana, Canto 8, chapter 9
  8. Mahabharata, Adi Parva, Section 19.
  9. Pandikattu, Kuruvila; Vonach, Andreas (2003). Religion, Society, and Economics: Eastern and Western Perspectives in Dialogue (dalam bahasa Inggris). P. Lang. ISBN 978-3-631-39955-2.
  10. Pattanaik, Devdutt (2014-07-11). Myth = Mithya: Decoding Hindu Mythology (dalam bahasa Inggris). Penguin UK. ISBN 978-81-8475-021-8.
  11. Pattanaik, Devdutt (1 Januari 2006). Shiva to Shankara: decoding the phallic symbol. Indus Source. hlm. 125, 129. ISBN 978-81-88569-04-5.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  12. Pattanaik (2001), pp. 66–67
Konsep
Hindu omkaar
Dewa
individual
Dewi
individual
Aditya
Dasawatara
Dikpala
Mahawidya
Matrika
Nawadewata
Nawadurga
Nawagraha
Trimurti
Brahma
Wisnu
Siwa
Dewa
Dewi
Dewa
Dewi
Artikel terkait: Brahman ·Tuhan dalam agama Hindu
Dasawatara
Wisnu
Awatara lainnya
*Urutan awatara Wisnu kedelapan dan kesembilan tergantung tradisi. Beberapa aliran Hindu memasukkan Buddha, sedangkan yang lain memasukkan Baladewa dan menghilangkan Kresna.
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan