Selasa, 29 September 2026
10:29 WIB
TERKINI
Berita Fenomena Unik 'Hujan Salju' di Lapangan Sempur Bogor, Warga Sambut Riang Internasional Profesor Biao Xiang: Idola Gen Z China yang Berani Bahas Kecemasan Hidup Berita Pelaku Injak Al-Qur'an di Lebak Divonis Penjara, Wajib Minta Maaf Publik Berita Dilema Ganjil Genap Jakarta: Evaluasi Setelah 1 Dekade, Relaksasi Jadi Perdebatan Berita Evakuasi Buaya Peliharaan di Bandar Lampung Penuh Haru, Pemilik Sempat Pingsan Berita Polemik Buku 'Memburu Muhammad': Penulis dan Tokoh Islam Jelaskan Niat Baik Regional Flyover Ciroyom Bandung Rampung, Solusi Baru Atasi Kemacetan Kota Regional Informasi Persiapan Vihara Jelang Imlek Belum Tersedia Regional Wujudkan Rumah Impian: Pendaftaran KPR Kini dalam Genggaman dengan BTN Mobile Prelude Mengungkap Akal-akalan Aturan Pemilu Melalui Lensa Pareto Berita Fenomena Unik 'Hujan Salju' di Lapangan Sempur Bogor, Warga Sambut Riang Internasional Profesor Biao Xiang: Idola Gen Z China yang Berani Bahas Kecemasan Hidup Berita Pelaku Injak Al-Qur'an di Lebak Divonis Penjara, Wajib Minta Maaf Publik Berita Dilema Ganjil Genap Jakarta: Evaluasi Setelah 1 Dekade, Relaksasi Jadi Perdebatan Berita Evakuasi Buaya Peliharaan di Bandar Lampung Penuh Haru, Pemilik Sempat Pingsan Berita Polemik Buku 'Memburu Muhammad': Penulis dan Tokoh Islam Jelaskan Niat Baik Regional Flyover Ciroyom Bandung Rampung, Solusi Baru Atasi Kemacetan Kota Regional Informasi Persiapan Vihara Jelang Imlek Belum Tersedia Regional Wujudkan Rumah Impian: Pendaftaran KPR Kini dalam Genggaman dengan BTN Mobile Prelude Mengungkap Akal-akalan Aturan Pemilu Melalui Lensa Pareto

Setra

Bagikan:

Setra (Aksara Bali: ᬲᬾᬢ᭄ᬭ, disebut juga Tunon atau sema) adalah istilah yang digunakan umat Hindu Bali untuk menyebut kuburan. Setra adalah tempat pemakaman sementara bagi masyarakat Hindu untuk menunggu waktu yang tepat dalam melaksanakan upacara pembakaran mayat yang disebut dengan upacara Ngaben. Setra juga merupakan tempat dilaksanakannya seluruh rangkaian kegiatan upacara pembakaran mayat yang lainnya.

Etimologi

Kata "setra" berasal dari bahasa Sanskerta "kesetra," yang berarti padang yang luas, seperti dalam istilah "Kuru Kesetra" dalam kisah perang Bharatayudha. Meskipun setra digunakan untuk mengubur mayat, tetapi tidak bisa disamakan dengan pengertian kuburan dalam bahasa Indonesia.

Ida Bagus Made Bhaskara dari Griya Sunia Tampaksiring, Kabupaten Gianyar, menjelaskan bahwa setra juga disebut "semasana." Kata ini juga berasal dari bahasa Sanskerta, di mana "sema" berkaitan dengan sawa (mayat) dan "sana" berhubungan dengan "sayana," yang berarti berbaring.

Dengan demikian, semasana berarti tempat pembaringan mayat. Selain dimaknai dengan dua istilah di atas, sema juga dapat berarti pancaka, yang berasal dari kata "panca" yang berarti lima.[1]

Sejarah

Dalam teks Purwa Gama Sesana dan lontar Boda Kecapi, dikisahkan bahwa ketika Ida Bhatara Durga berstana di setra dan setelah mendapat anugerah dari Bhatara Brahma, ia memiliki kemampuan untuk memanggil empat saudara beliau yang ada di Surga. Mereka turun ke kuburan untuk memberikan cobaan dan penyakit kepada orang yang tidak taat beragama. Keempat saudara tersebut bersama Ida Bhatara Durga berubah menjadi Panca Durga, sehingga setra juga disebut pancaka.

Dalam Lontar Indik Ngewangun Setra dijelaskan bahwa salah satu tahapan penting dalam membuat setra adalah pada caru pangeruwak yang dilakukan sebelum proses Pembangunan. Dalam beberapa teks disebutkan banyak Rsi yang beryoga di setra, misalnya mpu Barang dalam teks Tantu Barang beryoga di setra. Danghyang Astapaka leluhurnya Bodawangsa juga melaksanakan yoga di setra.

Fungsi

  1. Setra berfungsi sebagai pralinam, yaitu tempat untuk mempercepat pengembalian unsur-unsur panca maha buta ke asalnya, terutama manusia ke sumber asalnya.
  2. Setra berfungsi sebagai prayoga, yaitu tempat untuk melakukan yoga samadi. Setra dianggap ideal untuk melaksanakan ajaran-ajaran kewisesaan. Dalam beberapa teks, disebutkan bahwa setra adalah tempat yang baik untuk melakukan dan mempraktikkan ajaran-ajaran kiri tantrik..
  3. Setra juga digunakan sebagai tempat untuk memohon kesembuhan. Dalam teks Usada Pemupug, disebutkan bahwa jika seseorang sakit dan tidak kunjung sembuh meskipun sudah diobati dengan cara medis maupun non-medis (lara tan keneng tinamban), maka pengelukatan dilakukan di tengah setra, di kaki Bhatara Siwa atau kaki kala dan nini Durga.
  4. Setra selalu berkaitan dengan mandala dan desa pakraman. Jika desa pakraman dianalogikan dengan tubuh manusia, maka pura desa dan pura puseh identik dengan kepala (ulu), pura Dalem dengan badan, dan setra dengan perut. Oleh karena itu, setra seharusnya berada di wilayah desa pakraman. Di setra terdapat pelinggih yang disebut uluning setra, seperti Prajapati, Dalem pengulun setra, atau sedahan atma. [2]

Lihat juga

Konsep
Hindu omkaar
Dewa
individual
Dewi
individual
Aditya
Dasawatara
Dikpala
Mahawidya
Matrika
Nawadewata
Nawadurga
Nawagraha
Trimurti
Brahma
Wisnu
Siwa
Dewa
Dewi
Dewa
Dewi
Artikel terkait: Brahman ·Tuhan dalam agama Hindu

Catatan kaki

  1. ↑ Mardika, I. Putu. "Makna Kesakralan dari Setra Dibangun dengan Caru Pengruwak, Bisa menjadi tempat Memohon Kesembuhan - Bali Express - Halaman 2". Makna Kesakralan dari Setra Dibangun dengan Caru Pengruwak, Bisa menjadi tempat Memohon Kesembuhan - Bali Express - Halaman 2. Diakses tanggal 2024-12-05.
  2. ↑ Suyatra, I. Putu. "Setra Itu Suci, Bukan Tempat Kotor - Bali Express". Setra Itu Suci, Bukan Tempat Kotor - Bali Express. Diakses tanggal 2024-12-05.
Ikon rintisan

Artikel bertopik agama Hindu ini adalah sebuah rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia dengan mengembangkannya.

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan