Minggu, 18 Oktober 2026
05:39 WIB
TERKINI
Universitas Teknokrat Indonesia Mahasiswa Universitas Teknokrat Raih Empat Gelar Bergengsi di Kompetisi Bahasa Inggris Nasional Pesisir Barat Pesisir Barat Jalin Kemitraan Strategis, Dorong Akses Pendidikan Tinggi Terjangkau Universitas Teknokrat Indonesia Teknokrat dan PMD Pesawaran Bersinergi Wujudkan Desa Digital Berkelanjutan Humaniora Memperkuat Hak Konstitusional Perempuan Adat untuk Kedaulatan Bangsa Pesawaran Lampung Dorong Rantai Pasok Hijau Kakao, Kopi, Lada ke Pasar Global Pesawaran Pengalihan Status Guru PPPK ke Penuh Waktu: DPRD Pesawaran Soroti Isu Penempatan Lampung Timur Gotong Royong Fantastis: Warga Bandar Agung Himpun Rp15 Miliar untuk Jalan Desa Bandar Lampung JNE Lampung Sukses Ubah Komplain Milea Cutting Jadi Kemitraan Strategis Bandar Lampung Jadwal Padat Pemprov Lampung 16 Oktober 2026: Pisah Sambut Kapolda dan Rapat Strategis Bandar Lampung Lampung Waspada: BMKG Deteksi 212 Titik Panas di Sepuluh Kabupaten Universitas Teknokrat Indonesia Mahasiswa Universitas Teknokrat Raih Empat Gelar Bergengsi di Kompetisi Bahasa Inggris Nasional Pesisir Barat Pesisir Barat Jalin Kemitraan Strategis, Dorong Akses Pendidikan Tinggi Terjangkau Universitas Teknokrat Indonesia Teknokrat dan PMD Pesawaran Bersinergi Wujudkan Desa Digital Berkelanjutan Humaniora Memperkuat Hak Konstitusional Perempuan Adat untuk Kedaulatan Bangsa Pesawaran Lampung Dorong Rantai Pasok Hijau Kakao, Kopi, Lada ke Pasar Global Pesawaran Pengalihan Status Guru PPPK ke Penuh Waktu: DPRD Pesawaran Soroti Isu Penempatan Lampung Timur Gotong Royong Fantastis: Warga Bandar Agung Himpun Rp15 Miliar untuk Jalan Desa Bandar Lampung JNE Lampung Sukses Ubah Komplain Milea Cutting Jadi Kemitraan Strategis Bandar Lampung Jadwal Padat Pemprov Lampung 16 Oktober 2026: Pisah Sambut Kapolda dan Rapat Strategis Bandar Lampung Lampung Waspada: BMKG Deteksi 212 Titik Panas di Sepuluh Kabupaten
Gandarwa

Gandarwa

Bagikan:
Artikel ini bukan mengenai Genderuwo.
250px-015_Celestial_Musician_%289210294815%29.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Ukiran gandarwa sedang memainkan alat musik saung di Wat Bupparam, Chiang Mai, Thailand.

Gandarwa (Dewanagari: गन्धर्व; ,IAST: gandharva, गन्धर्व) adalah golongan makhluk gaib (supernatural) berwujud seperti manusia berjenis kelamin pria yang tinggal di kahyangan atau surga dalam kepercayaan agama Hindu dan Buddha. Dalam kepercayaan tersebut, ada juga makhluk gaib yang disebut dengan nama Bidadara, fungsinya sebagai pembawa pesan dari dewa, sedangkan Gandarwa lebih merujuk kepada tugasnya sebagai pemusik surgawi. Tugas dan fungsi mereka adalah menjadi penyampai pesan para dewa kepada manusia, sebagai pemusik surgawi dan penjaga swargaloka, sebagaimana para malaikat dalam agama Islam, Kristen, dan Yahudi.

Kepercayaan Hindu

Dalam IAST, istilah gandarwa ditulis Gandharva (dari bahasa Sanskerta); suami dari para apsara atau apsari. Mereka luar biasa piawai dalam bermain musik. Mereka menjaga Soma dan membuat lagu-lagu indah untuk para dewa. Gandharva berperan sebagai pengantar pesan dari dewa-dewi kepada manusia. Beberapa gandarwa individual memainkan peranan signifikan dalam mitologi Hindu, di antaranya: Wiswabasu (ayah Pramadwara), Citranggada (yang bertarung dengan Raja Citranggada, putra Santanu dan Satyawati dalam Mahabharata), Citrasena (yang diserang oleh Korawa dan Pandawa dalam Ghosha-yatra), Drumila (ayah biologis Kangsa), dan Candawega (raja gandarwa yang menyerang kota Purañjana).[1]

Kepercayaan Buddhis

250px-013_Dhatarattha_%289182265278%29.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Patung Dhritarashtra, salah satu Catur Maharaja Kayika yang berperan sebagai "Raja Para Gandarwa" dalam kepercayaan Buddhis.

Dikenal dalam agama Buddha juga sebagai Gandhaba (dari bahasa Pali yang dipakai dalam pustaka Buddhis), mereka adalah dewa dengan pangkat paling rendah. Makhluk-makhluk dapat dilahirkan kembali menjadi gandharva jika mereka melakukan amalan-amalan baik yang paling dasar. Akan memalukan sekali bagi seorang rahib jika ia dilahirkan kembali menjadi makhluk yang lebih rendah dari gandarwa.[2]

Pemunculan

Sering muncul di cerita-cerita Hindu dan Buddha. Seperti Kalantaka dan Kalañjaya yang merupakan jelmaan bidadara yang dikutuk karena tidak menghormati Dewa sehingga harus terlahir sebagai raksasa berwajah buruk. Mereka juga kerapkali menjadi hiasan di candi-candi Hindu dan Buddha.

Penggunaan Lain

Orang India memberikan julukan gandharva kepada orang-orang yang memiliki kemampuan yang luar biasa dalam musik klasik India.

Lihat pula

Wikimedia Commons logo
Wikimedia Commons memiliki media mengenai Gandarwa.

Referensi

  1. ↑ Bhagavata Purana translation of Motilal Bansaridadss Book 2 Skandha IV Chapter 27
  2. ↑ Thanissaro Bhikkhu (30 November 2013). "The Greater Craving-Destruction Discourse (MN 38)". Access to Insight (BCBS Edition). Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2023-03-14. Diakses tanggal 14 Oktober 2017.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan