Jumat, 06 November 2026
17:01 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Agenda Strategis Pemprov Lampung 6 November 2026: Revitalisasi Stadion Jadi Prioritas Bandar Lampung Harga Beras di Pasar Pasir Gintung Bandar Lampung Merangkak Naik, Stok Aman Bandar Lampung Disdag Bandar Lampung Jamin Pasokan Beras Aman hingga Akhir 2026 Insight Komitmen Pembangunan Negeri, PTBA Sabet Penghargaan Kepatuhan PNBP ESDM 2026 Pemprov Lampung Gubernur Mirza Canangkan Mulang Maya Jadi Magnet Wisata Budaya Unggulan Lampung Tuba Barat Mewujudkan Haji: Pemkab Tubaba dan BSI Ajak Masyarakat Menabung Sejak Dini Lampung Timur Bupati Ela Dekatkan Diri dengan Siswa, Pastikan Kualitas Pendidikan dan Gizi di Lampung Timur Tuba Barat Kemitraan Strategis Pemkab Tubaba dan Kejari: Wujudkan Tata Kelola Pemerintahan Akuntabel Bandar Lampung Mantan Ketua DPRD Lampung Bersaksi dalam Sidang Arinal Djunaidi Bandar Lampung Senator Bustami Zainudin dan Staf DPD Lampung Ikuti Program Cek Kesehatan Gratis Bandar Lampung Agenda Strategis Pemprov Lampung 6 November 2026: Revitalisasi Stadion Jadi Prioritas Bandar Lampung Harga Beras di Pasar Pasir Gintung Bandar Lampung Merangkak Naik, Stok Aman Bandar Lampung Disdag Bandar Lampung Jamin Pasokan Beras Aman hingga Akhir 2026 Insight Komitmen Pembangunan Negeri, PTBA Sabet Penghargaan Kepatuhan PNBP ESDM 2026 Pemprov Lampung Gubernur Mirza Canangkan Mulang Maya Jadi Magnet Wisata Budaya Unggulan Lampung Tuba Barat Mewujudkan Haji: Pemkab Tubaba dan BSI Ajak Masyarakat Menabung Sejak Dini Lampung Timur Bupati Ela Dekatkan Diri dengan Siswa, Pastikan Kualitas Pendidikan dan Gizi di Lampung Timur Tuba Barat Kemitraan Strategis Pemkab Tubaba dan Kejari: Wujudkan Tata Kelola Pemerintahan Akuntabel Bandar Lampung Mantan Ketua DPRD Lampung Bersaksi dalam Sidang Arinal Djunaidi Bandar Lampung Senator Bustami Zainudin dan Staf DPD Lampung Ikuti Program Cek Kesehatan Gratis
Tumburu

Tumburu

Bagikan:
Tumburu
तुम्बुरु
Tumburu
Tokoh dalam mitologi Hindu
NamaTumburu
Ejaan Dewanagariतुम्बुरु
Nama lainTumbara, Tamburu, Tumbaru, Tumruka
Kitab referensiPurana, Ramayana, Mahabharata
KediamanGandarwaloka
GolonganGandarwa
Profesimusikus kahyangan
AyahKasyapa
IbuPrada
AnakManowati dan Sukesa

Tumburu (Dewanagari: तुम्बुरु; ,IAST: Tumburu, तुम्बुरु), alias Tumbara atau Tamburu,[a] adalah salah satu gandarwa (makhluk gaib yang berprofesi sebagai musikus kahyangan) dalam kepercayaan Hindu. Dalam mitologi Hindu, dia merupakan putra Resi Kasyapa dengan Dewi Prada, dan menjadi salah satu gandarwa tersohor.[2] Menurut sastra Hindu, dia bertugas sebagai pemusik di kediaman Dewa Kuwera dan Indra, dengan menyanyikan lagu pujaan yang memuliakan Dewa Wisnu. Dia juga bertugas memimpin orkestra para gandarwa.[3]

Legenda

Hubungan dengan Narada

Kitab Bhagawatapurana menyatakan bahwa Narada merupakan guru bagi Tumburu.[4] Kitab tersebut menyebutkan bahwa Tumburu mendampingi Narada berkunjung ke istana Yudistira. Narada dan Tumburu melantunkan lagu pujian kepada Wisnu bersama-sama.[4][5]

Kitab Adbhuta Ramayana menyebutkan bahwa Tumburu diberi penghargaan oleh Wisnu sebagai penyanyi terbaik. Sebagai pemuja Wisnu yang setia, Narada pun iri terhadap Tumburu. Wisnu menjelaskan kepada Narada bahwa dia lebih senang mendengarkan nyanyian pujaan yang dilantunkan Tumburu daripada tapa brata yang dilakukan oleh Narada. Wisnu pun menyuruh Narada untuk belajar musik kepada burung hantu bernama Ganabandu.

Setelah menuntaskan pelajarannya, Narada berniat mengalahkan Tumburu. Saat dia tiba di kediaman Tumburu, dia mendapati bahwa Tumburu sedang dikunjungi oleh para pria dan wanita penuh luka. Kemudian Narada menyadari bahwa orang-orang tersebut merupakan personifikasi dari Raga dan Ragini (melodi musik India) yang terluka akibat teknik musik Narada yang buruk. Dengan perasaan malu, Narada pergi meinggalkan Tumburu. Akhirnya Narada meningkatkan ilmu musiknya dengan belajar dari para istri Kresna―Jembawati, Satyabama, dan Rukmini.[6][7]

Peran

Tumburu disebut sebagai abdi di istana Indra (penguasa Swarga) dan Kuwera, dewa kekayaan harta benda. Dia disebut sebagai pengikut Kuwera; nyanyiannya kerap terdengar setiap kali ada yang melewati kediaman Kuwera di gunung Gandhamandana.[8] Tumburu merupakan teman istimewa Kuwera, dan memimpin para gandarwa dalam bermusik dan bernyanyi, yang juga dilakukan bersama para kinnara. Tumburu dikisahkan sebagai "pemimpin para gandarwa", setara dengan para gandarwa terkemuka lainnya seperti Haha, Huhu, Parwata, Citrarata. Kadangkala, Tumburu disebut sebagai seorang resi atau 'muni', daripada seorang gandarwa.[9] Dalam suatu versi, Tumburu memimpin para gandarwa untuk menyaksikan pertempuran para manusia, dan pergi menuju Gunung Meru untuk menyembah Resi Narada.[9]

Pewayangan Jawa

Pada masa penyebaran agama Hindu di Nusantara―terutama di pulau Jawa―berbagai kisah dan legenda Hindu juga diadaptasi dan disesuaikan dengan sudut pandang lokal dalam bentuk karya sastra dan seni pertunjukan, terutama wayang. Setelah peradaban Hindu tergantikan oleh Islam, karya sastra dan pewayangan yang bercorak Hindu tidak diberantas, melainkan disesuaikan dengan ajaran agama yang baru sehingga sejumlah tokoh mengalami perbedaan signifikan dalam penamaan hingga narasi. Tokoh Tumburu (alias Tumbara atau Tamburu) dalam mitologi Hindu India juga mengalami adaptasi yang cukup besar.

Dalam tradisi pewayangan Jawa, Tumburu dikenal sebagai Batara Tembara (Temboro) atau Batara Tamburu, golongan dewa.[10] Berbeda dengan kisah Hindu India, Tembara dalam kisah pewayangan merupakan putra Batara Ismaya (Semar) dengan Dewi Senggani. Dia bersaudara dengan sejumlah dewa, di antaranya: Patuk, Kuwera, Candra, Yamadipati, Surya, dan Kamajaya.[10] Di antara mereka, Tembara dan Patuk memiliki rupa yang mirip bahkan sulit dibedakan, seolah-olah kembar. Maka dari itu, Batara Guru (tetua para dewa) memilih keduanya sebagai gandek sakembaran: Dua pembantu kembar yang bertugas menyampaikan titah raja baik secara lisan maupun tertulis. Selain itu dia juga mendapat tugas-tugas lain, yang intinya membantu kesibukan urusan para raja. Duet Tembara dan Patuk menjalankan tugas-tugas mereka dengan baik. Di sela-sela bertugas, mereka berdua tampil sebagai tokoh penghibur dengan gelagat lucu.[11]

Keterangan

  1. ↑ Tumburu dikenal dengan sejumlah perbedaan ejaan nama, di antaranya:
    • Tumbara (Dewanagari: तुम्बर; ,IAST: Tumbara, तुम्बर)
    • Tamburu (Dewanagari: तम्बुरु; ,IAST: Tamburu, तम्बुरु)[1]

Catatan kaki

  1. ↑ Tamburu, Tambūru: 2 definitions, Wisdom Library, 27 Juli 2022, diakses tanggal 26 Oktober 2025
  2. ↑ www.wisdomlib.org (24 Juni 2012). "Tumburu, Tuṃburu: 24 definitions". www.wisdomlib.org (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 27 Oktober 2022.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  3. ↑ www.wisdomlib.org (28 Januari 2019). "Story of Tumburu". www.wisdomlib.org (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 27 Oktober 2022.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  4. 1 2 Nijenhuis, Emmie te (1970). Dattilam: a compendium of ancient Indian music. Brill Archive. hlm. 67–8.
  5. ↑ Dikshitar, V. R. Ramachandra (1995). The Puraṇa index. Vol. 3. Motilal Banarsidass Publishers. hlm. 29. ISBN 9788120812758.
  6. ↑ S. S. Shashi, ed. (1998). "The Adbhuta Ramayana: sargas VI - VII". Encyclopaedia Indica: India, Pakistan, Bangladesh. Vol. 21–35. Anmol Publications PVT. LTD. hlm. 11–13. ISBN 81-7041-859-3.
  7. ↑ Books, Kausiki (24 Oktober 2021). Linga Purana Part 2: English Translation only without Slokas (dalam bahasa Inggris). Kausiki Books.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  8. ↑ Mani, Vettam (1975). Puranic Encyclopaedia: A Comprehensive Dictionary With Special Reference to the Epic and Puranic Literature. Delhi: Motilal Banarsidass. hlm. 798–9, 859. ISBN 0-8426-0822-2.
  9. 1 2 Hopkins pp. 153–56
  10. 1 2 D. M. Sunardi (1982), Arjuna Sasrabahu, Jakarta: Balai Pustaka
  11. ↑ Mahendra Sucipta (2010), Ensiklopedia Tokoh-tokoh Wayang dan Silsilahnya, Yogyakarta: Narasi

Daftar pustaka

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan