Minggu, 18 Oktober 2026
22:28 WIB
TERKINI
Universitas Teknokrat Indonesia Mahasiswa Universitas Teknokrat Raih Empat Gelar Bergengsi di Kompetisi Bahasa Inggris Nasional Pesisir Barat Pesisir Barat Jalin Kemitraan Strategis, Dorong Akses Pendidikan Tinggi Terjangkau Universitas Teknokrat Indonesia Teknokrat dan PMD Pesawaran Bersinergi Wujudkan Desa Digital Berkelanjutan Humaniora Memperkuat Hak Konstitusional Perempuan Adat untuk Kedaulatan Bangsa Pesawaran Lampung Dorong Rantai Pasok Hijau Kakao, Kopi, Lada ke Pasar Global Pesawaran Pengalihan Status Guru PPPK ke Penuh Waktu: DPRD Pesawaran Soroti Isu Penempatan Lampung Timur Gotong Royong Fantastis: Warga Bandar Agung Himpun Rp15 Miliar untuk Jalan Desa Bandar Lampung JNE Lampung Sukses Ubah Komplain Milea Cutting Jadi Kemitraan Strategis Bandar Lampung Jadwal Padat Pemprov Lampung 16 Oktober 2026: Pisah Sambut Kapolda dan Rapat Strategis Bandar Lampung Lampung Waspada: BMKG Deteksi 212 Titik Panas di Sepuluh Kabupaten Universitas Teknokrat Indonesia Mahasiswa Universitas Teknokrat Raih Empat Gelar Bergengsi di Kompetisi Bahasa Inggris Nasional Pesisir Barat Pesisir Barat Jalin Kemitraan Strategis, Dorong Akses Pendidikan Tinggi Terjangkau Universitas Teknokrat Indonesia Teknokrat dan PMD Pesawaran Bersinergi Wujudkan Desa Digital Berkelanjutan Humaniora Memperkuat Hak Konstitusional Perempuan Adat untuk Kedaulatan Bangsa Pesawaran Lampung Dorong Rantai Pasok Hijau Kakao, Kopi, Lada ke Pasar Global Pesawaran Pengalihan Status Guru PPPK ke Penuh Waktu: DPRD Pesawaran Soroti Isu Penempatan Lampung Timur Gotong Royong Fantastis: Warga Bandar Agung Himpun Rp15 Miliar untuk Jalan Desa Bandar Lampung JNE Lampung Sukses Ubah Komplain Milea Cutting Jadi Kemitraan Strategis Bandar Lampung Jadwal Padat Pemprov Lampung 16 Oktober 2026: Pisah Sambut Kapolda dan Rapat Strategis Bandar Lampung Lampung Waspada: BMKG Deteksi 212 Titik Panas di Sepuluh Kabupaten

Kuru (raja)

Raja dalam mitologi India

Bagikan:
Kuru
कुरु
Tokoh dalam mitologi Hindu
NamaKuru
Ejaan Dewanagariकुरु
Ejaan IASTKuru
Kitab referensiMahabharata, Bhagawatapurana, Wamanapurana
Kastakesatria
Profesiraja
DinastiCandra
AyahSambarana
IbuTapati
IstriSodamini (versi Wamanapurana); Yamadi atau Subangga[1][2] (versi Mahabharata)
AnakWidurata

Kuru (Dewanagari: कुरु; ,IAST: Kuru, कुरु) adalah nama raja dalam legenda India dan mitologi Hindu. Ia putra Sambarana dan Tapati, dari keluarga Dinasti Candra. Dalam wiracarita Mahabharata, ia merupakan leluhur Pandawa dan Korawa, yaitu keluarga keturunan Pandu dan Dretarastra, tokoh utama dalam wiracarita tersebut.

Kuru menurunkan para raja yang dikenal sebagai Wangsa Kaurawa atau Dinasti Kuru. Menurut legenda, Kuru merupakan raja yang mengorbankan dirinya demi meresmikan sebuah wilayah suci di India Utara yang dikenal sebagai Kurukshetra, yang secara harfiah berarti "Wilayah Kuru," sebagai dedikasi atas keluhuran budi raja tersebut.

Legenda

330px-Map_of_Vedic_India.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Peta kerajaan-kerajaan besar di India yang tercantum dalam susastra Hindu.

Dalam kitab Purana diceritakan bahwa sebelum Kuru lahir, kerajaan yang dipimpin ayahnya mendapat serbuan dari Kerajaan Panchala. Dalam keadaan tersebut, para kesatria Dinasti Bharata terpukul mundur oleh tentara musuh. Sambarana bersama istri, menteri, dan kerabatnya, melarikan diri, dan menempati sebuah hutan di tepi sungai Sindhu, yang termasuk wilayah dari kaki pegunungan di sebelah barat. Di sana, Sambarana dan rakyatnya hidup selama seribu tahun di dalam benteng mereka. Sambarana menikahi Tapati (yang menjadi dewi sungai Tapati, putri Surya dan Saranya) dengan pertolongan Maharesi Wasista, pendeta para raja Dinasti Surya. Dari pernikahan tersebut, lahirlah Kuru.

Semenjak kecil, Kuru dididik oleh seorang Maharesi Wasista. Pada usia sepuluh tahun, ia sudah menguasai sastra, kitab suci, dan tugas-tugas sebagai seorang raja. Menurut kitab Wamanapurana, pada usia enam belas tahun, Kuru menikah dengan Sodamini, putri Raja Sudama. Setelah Sambarana mangkat, Kuru diangkat menjadi raja dan membebaskan kerajaannya dari jajahan musuhnya. Namanya membuat dataran Kurujanggala (sebelah timur Haryana) menjadi masyur di seluruh dunia. Konon Kuru memerintah kerajaannya dengan baik, adil dan bijaksana. Untuk membuat keturunannya mengenangnya selamanya, Kuru memutuskan untuk melakukan perjalanan keliling dunia, demi mencari hal yang dapat membuat namanya termahsyur.

Pendiri Kurukshetra

330px-Brahma_Sarovar.JPG?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Brahma Sarovar, kolam suci di Kurukshetra.

Menurut mitologi Hindu, Dewa Brahma memiliki lima sthāna (tempat duduk) di lima penjuru bumi. Sthāna Dia yang berada di utara adalah Samantapancaka, di mana terdapat kolam yang suci di tempat tersebut, dan disanalah Kuru mulai melakukan hal yang akan membuatnya termahsyur. Menurut kitab Wamanapurana, Kuru memutuskan untuk membajak wilayah tersebut dengan menggunakan bajak yang terbuat dari emas, yang ditarik oleh seekor sapi dan seekor kerbau. Tindakan Kuru disaksikan oleh Dewa Indra, dan membuat sang dewa penasaran sehingga turun ke bumi untuk menanyakan tujuan Kuru melakukan hal tersebut. Kuru menjawab bahwa ia melakukannya agar mendapatkan pahala atas meditasi, tindak kebenaran, tindakan welas asih, pengampunan, kesucian, amal, dan semacamnya. Saat Indra menanyakan di mana benihnya, Kuru tidak menjawab sambil terus membajak.

Setelah Dewa Indra pergi meninggalkan Kuru, Dewa Wisnu turun ke bumi untuk menanyakan hal yang sama kepada Kuru. Pada saat itu Kuru menjawab bahwa benih yang ditanyakan ada di dalam tubuhnya sendiri. Saat Wisnu meminta Kuru untuk mengeluarkan benihnya, Kuru merentangkan tangan kanannya. Kemudian Wisnu mengeluarkan senjata cakra untuk menyayat tangan Kuru menjadi ribuan potongan, yang kemudian menaburi tanah yang dibajak Kuru. Setelah itu, Kuru merentangkan tangan kirinya dan Wisnu melakukan hal yang sama. Lalu, Kuru menyerahkan kakinya, dan Wisnu pun memotongnya. Akhirnya saat Kuru menyerahkan kepalanya, Wisnu terkesan kepadanya.

Kemudian, Wisnu memberi dua anugerah pada Kuru. Pertama, wilayah yang telah dibajaknya menjadi wilayah yang suci, di mana upacara suci yang diselenggarakan disana akan berpahala berlipat ganda dan ramai dikunjungi sebagai tempat berziarah untuk mendapatkan pengampunan, dan akan dikenal sebagai Kurukshetra, yang secara harfiah berarti "Wilayah Kuru", untuk mengenang jasa Kuru. Kedua, Wisnu memberkati bahwa siapapun yang meninggal di wilayah tersebut maka arwahnya akan segera mencapai surga. Semenjak itulah, tempat yang terletak di wilayah India Utara tersebut, menjadi salah satu tempat suci di India. Menurut legenda, ribuan tahun setelah Kurukshetra disucikan, perang saudara antara sesama keturunan Kuru terjadi di tempat itu. Tempat tersebut dipilih dengan harapan agar para kesatria yang gugur segera mencapai surga, karena tanah di wilayah tersebut diberkati.

Dinasti Kuru

Para Raja
Hastinapura
250px-A_king_with_nobles.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Tokoh wiracarita Mahabharata

Dinasti Kuru atau Wangsa Korawa (Sanskerta: Kaurava) merupakan keturunan Raja Kuru.[3] Dalam kitab Mahabharata, dinasti ini merujuk kepada keluarga Pandu dan Dretarastra, beserta keturunan mereka.[3] Namun, nama Korawa terlalu identik dengan keturunan Dretarastra, meskipun Pandu dan Dretarastra berasal dari Dinasti yang sama. Antara para Korawa (Dinasti Kuru) dan para Yadawa (Dinasti Yadu) terjalin hubungan kekeluargaan karena kedua wangsa tersebut memiliki leluhur yang sama, yakni Yayati. Hal tersebut juga terlihat dari hubungan keluarga Kresna dan Kunti yang lahir dalam silsilah Dinasti Yadu, tetapi memiliki saudara/suami dari Dinasti Kuru.

Silsilah

Keturunan
Yayati
Wangsa
Paurawa
SakuntalaDuswanta
WatsaBharata
Dinasti
Bharata
Keluarga
Bharata
KuruYamadi
Para Raja
Hastinapura
Dinasti
Kuru
SunandaPratipa
GanggaSantanuSatyawatiParasara
BismaCitrānggadaWicitrawirya2 istriByasa
GandariDretarastraKuntiPanduMadri
100 KorawaDursalaYuyutsu5 Pandawa

Lihat pula

Kuru lainnya:

Artikel terkait:

Referensi

  1. ↑ Mbhr. 1.89.44 and 1.90.40 (Pune Critical Edition 1971)
  2. ↑ J.A.B. van Buitenen, Mahabharata Book 1, Chicago 1973, pp. 212–214
  3. 1 2 Monier Williams (1899), S. 294.1
* Silsilah Dinasti Yadu dan Kuru, dari kitab Bhagawadgita menurut aslinya, oleh A.C.B. Swami Prabhupada.
Didahului oleh:
Sambarana
Raja Dinasti Candra
Pendiri Dinasti Kuru
Diteruskan oleh:
Widurata
Manu
Kesatria
Keturunan
Swayambu Manu
Keturunan Priyabrata
Keturunan Utanapada
Dinasti Surya
Dinasti Candra
Brahmana
dan Resi
250px-Draupadi_and_Pandavas.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail

250px-A_Vishva-rupa_print.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail

250px-The_start_of_the_great_battle.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Wangsa
Candra
Leluhur
Keluarga Kuru
(Korawa)
Keluarga Yadu
(Yadawa)
Tokoh lain
Brahmana
Kesatria
Lainnya
Non-manusia
Dewa
Cerita
berbingkai
Lokasi
Kerajaan
Kota dan
desa
Bentang
alam
Keluarga
Konsep dan
peristiwa
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan