Jumat, 09 Oktober 2026
02:37 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Apresiasi Peran Vital Kader, Pemkot Bandar Lampung Beri Insentif Rp500 Ribu Lampung Barat Emosi Memuncak, Penagih Utang Tewas di Tangan Debitur di Lampung Barat Bandar Lampung Buruh Lampung Berunjuk Rasa, Pertanyakan Pengesahan Dini UU Perlindungan Ketenagakerjaan Cuaca Ratusan Titik Panas Terpantau di Lampung, Tulang Bawang dan Mesuji Teratas Nasional MK Soroti Syarat Pendidikan Gibran, KPU Didesak Diperiksa DPR dan DKPP Bandar Lampung Polisi Bandar Lampung Amankan Lima Remaja Bersenjata Tajam, Kedepankan Edukasi Bandar Lampung Misteri Antrean Panjang Solar di Lampung Meski Pasokan Berlimpah Bandar Lampung Arinal Djunaidi Jalani Sidang Pembuktian, Hakim Tetapkan Vonis 20 Januari 2027 Cuaca Lampung Timur Dominasi Sebaran 140 Titik Panas di Provinsi Lampung Ekonomi Dan Bisnis Harga Emas Antam 6 Oktober 2026 Terkoreksi, Cek Daftar Lengkapnya Bandar Lampung Apresiasi Peran Vital Kader, Pemkot Bandar Lampung Beri Insentif Rp500 Ribu Lampung Barat Emosi Memuncak, Penagih Utang Tewas di Tangan Debitur di Lampung Barat Bandar Lampung Buruh Lampung Berunjuk Rasa, Pertanyakan Pengesahan Dini UU Perlindungan Ketenagakerjaan Cuaca Ratusan Titik Panas Terpantau di Lampung, Tulang Bawang dan Mesuji Teratas Nasional MK Soroti Syarat Pendidikan Gibran, KPU Didesak Diperiksa DPR dan DKPP Bandar Lampung Polisi Bandar Lampung Amankan Lima Remaja Bersenjata Tajam, Kedepankan Edukasi Bandar Lampung Misteri Antrean Panjang Solar di Lampung Meski Pasokan Berlimpah Bandar Lampung Arinal Djunaidi Jalani Sidang Pembuktian, Hakim Tetapkan Vonis 20 Januari 2027 Cuaca Lampung Timur Dominasi Sebaran 140 Titik Panas di Provinsi Lampung Ekonomi Dan Bisnis Harga Emas Antam 6 Oktober 2026 Terkoreksi, Cek Daftar Lengkapnya
Wamana

Wamana

Bagikan:
Wamana
Awatara Wisnu berwujud brahmana kerdil
Anggota Dasawatara dan 12 Aditya
250px-Vamana_1825.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Nama lain
  • Upendra
  • Triwikrama
  • Balibandana
  • Urukrama
  • Dadiwamana
Afiliasiawatara Wisnu
KediamanWaikuntha, Satala
MantraOm Trivikramaya vidmahe
Vishvarupaya cha dhimahi
Tanno Vamana prachodayat
Simbolkamandalu dan payung
Pemujaan
PerayaanOnam, Balipratipada, Vamana Dvadashi
Suksesi Dasawatara
SebelumnyaNarasinga
BerikutnyaParasurama
Keluarga
Orang tua
SaudaraIndra dan para Aditya
PasanganKamala
AnakWrehatsloka

Wamana (Dewanagari: वामन ; ,IAST: Vāmana, वामन ) adalah salah satu awatara (penjelmaan) Dewa Wisnu dalam agama Hindu, yang berwujud pendeta kerdil, lahir pada masa Tretayuga sebagai putra Dewi Aditi dan Resi Kasyapa.[1] Wamana dilukiskan sebagai brahmana dengan raga anak kecil yang membawa kamandalu dan payung. Wamana kadang-kadang dikenal juga dengan sebutan Upendra (Dewanagari: उपेन्द्र; ,IAST: Upendra, उपेन्द्र) yang berarti "adik Indra".[2][3] Dia memiliki julukan Triwikrama (Dewanagari: त्रिविक्रम; ,IAST: Trivikrama,; arti: "tiga langkah") karena langkah kakinya dapat memijak bumi, patala (dunia bawah), dan swarga (kahyangan) sekaligus.[4]

Menurut keyakinan Hindu, Wisnu turun ke dunia pada zaman Tretayuga untuk menegakkan kebenaran dan memberi pelajaran kepada Raja Bali (Mahabali), seorang asura, cucu dari Prahlada. Dalam sastra Hindu dikisahkan bahwa Raja Bali (Mahabali) telah merebut swarga dari kekuasaan Dewa Indra sehingga itu Wisnu selaku dewa pemelihara semesta turun tangan dan menjelma ke dunia, memberi hukuman pada Raja Bali.[5]

Kisah

Kisah Wamana dimuat dalam kitab Bhagawatapurana, Brahmapurana, Padmapurana, Wamanapurana, dan berbagai kitab Mahapurana lainnya. Menurut cerita dalam kitab, Wamana sebagai brahmana cilik datang ke istana Raja Bali karena pada saat itu Raja Bali mengundang seluruh brahmana untuk diberikan hadiah. Ia sudah dinasihati oleh Sukracarya (Guru Sukra) agar tidak memberikan hadiah apapun kepada brahmana yang aneh dan lain daripada biasanya.

Pada waktu pemberian hadiah secara bergilir, seorang brahmana kecil turut mengantre bersama para brahmana yang sudah tua. Saat tiba kesempatannya untuk meminta hadiah kepada Bali, brahmana kecil itu meminta tanah seluas tiga jengkal yang diukur dengan langkah kakinya. Raja Bali pun takabur dan melupakan nasihat Sukracarya, dan menyuruh brahmana kecil itu melangkah.

Pada waktu itu juga, brahmana tersebut membesar dan terus membesar. Dengan ukurannya yang sangat besar, ia mampu melangkah di surga dan bumi sekaligus.[6] Pada langkah yang pertama, ia menginjak swarga. Pada langkah yang kedua, ia menginjak bumi. Pada langkah yang ketiga, karena tidak ada lahan untuknya berpijak, maka Bali menyerahkan kepalanya.[7][8] Sejak itu, tamatlah kekuasaan Bali.

Karena terkesan dengan kedermawanan Bali, Wamana memberinya gelar "Mahabali". Ia juga berjanji bahwa kelak Bali akan menjabat sebagai Indra (pemimpin para dewa) pada Manwantara berikutnya.[9][10][11]

Tradisi dan pemujaan

Kisah Wamana Awatara dan Raja Bali diperingati setiap tahun pada perayaan Onam di Kerala (India).[12] Di sana juga terdapat kuil yang khusus memuja dia (Wamana). Selain di sana, beberapa kuil Wamana tersebar di India, salah satunya di Kanchipuram, dekat kuil Kamakshi.

Galeri

  • Lukisan India menggambarkan Wamana (digambarkan berkulit biru) meminta sedekah kepada Raja Bali.
    Lukisan India menggambarkan Wamana (digambarkan berkulit biru) meminta sedekah kepada Raja Bali.
  • Ilustrasi Mahabali dan Wamana dalam buku The Ten Principal Avataras of the Hindus oleh Sourindo Mohun Tagore (1880).
    Ilustrasi Mahabali dan Wamana dalam buku The Ten Principal Avataras of the Hindus oleh Sourindo Mohun Tagore (1880).
  • Ilustrasi Raja Bali memberi sedekah kepada Wamana. Gambar produksi Calcutta Art Studio, Kolkata (1880-an).
    Ilustrasi Raja Bali memberi sedekah kepada Wamana. Gambar produksi Calcutta Art Studio, Kolkata (1880-an).
  • Lukisan Wamana menginjak kepala Mahabali, karya Raja Ravi Varma.
    Lukisan Wamana menginjak kepala Mahabali, karya Raja Ravi Varma.
  • Ilustrasi Wamana sebagai "Triwikrama" digambarkan memiliki tiga kaki, satu berada di bumi, kaki yang terangkat berada di surga, dan yang ketiga di kepala Mahabali.
    Ilustrasi Wamana sebagai "Triwikrama" digambarkan memiliki tiga kaki, satu berada di bumi, kaki yang terangkat berada di surga, dan yang ketiga di kepala Mahabali.

Lihat pula

Wikimedia Commons logo
Wikimedia Commons memiliki media mengenai Wamana.

Referensi

  1. ↑ Ph.D, James G. Lochtefeld (2001-12-15). The Illustrated Encyclopedia of Hinduism, Volume 1 (dalam bahasa Inggris). The Rosen Publishing Group, Inc. hlm. 175. ISBN 978-0-8239-3179-8.
  2. ↑ "Monier-Williams Sanskrit-English Dictionary: 'Upendra'". faculty.washington.edu. Diarsipkan dari asli tanggal 3 Juni 2020. Diakses tanggal 2020-02-18.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  3. ↑ "Sanskrit Dictionary for Spoken Sanskrit: 'Upendra'". spokensanskrit.org. Diakses tanggal 2020-02-18.
  4. ↑ "Sanskrit Dictionary for Spoken Sanskrit: 'vikrama'". spokensanskrit.org. Diakses tanggal 2020-02-19.
  5. ↑ "Monier-Williams Sanskrit-English Dictionary: 'Triloka'". faculty.washington.edu. Diarsipkan dari asli tanggal 6 Agustus 2020. Diakses tanggal 2020-02-19.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  6. ↑ T. A. Gopinatha Rao (1993). Elements of Hindu iconography. Motilal Banarsidass. hlm. 163–167. ISBN 978-81-208-0878-2.
  7. ↑ www.wisdomlib.org (2019-01-28). "Story of Vāmana". www.wisdomlib.org (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2022-11-27.
  8. ↑ Cole, Owen; Kanit, V. P. Hermant (2010-06-25). Hinduism - An Introduction (dalam bahasa Inggris). John Murray Press. hlm. 30. ISBN 978-1-4441-3100-0.
  9. ↑ PV Kane (1958). History of Dharmasastra, Volume 5 Part 1. Bhandarkar Oriental Research Institute. hlm. 201–206.
  10. ↑ Constance A Jones (2011). J. Gordon Melton (ed.). Religious Celebrations: An Encyclopedia of Holidays, Festivals, Solemn Observances, and Spiritual Commemorations. ABC-CLIO. hlm. 634, 900. ISBN 978-1-59884-205-0.
  11. ↑ Gopal, Madan (1990). K.S. Gautam (ed.). India through the ages. Publication Division, Ministry of Information and Broadcasting, Government of India. hlm. 74.
  12. ↑ J. Gordon Melton (2011). Religious Celebrations: An Encyclopedia of Holidays, Festivals, Solemn Observances, and Spiritual Commemorations. ABC-CLIO. hlm. 659. ISBN 978-1-59884-206-7.

Pranala luar

Wamana
Sebelumnya:
Narasinga
Awatara Wisnu
ke-5
Berikutnya:
Parasurama
Dasawatara
Wisnu
Awatara lainnya
*Urutan awatara Wisnu kedelapan dan kesembilan tergantung tradisi. Beberapa aliran Hindu memasukkan Buddha, sedangkan yang lain memasukkan Baladewa dan menghilangkan Kresna.
Konsep
Hindu omkaar
Dewa
individual
Dewi
individual
Aditya
Dasawatara
Dikpala
Mahawidya
Matrika
Nawadewata
Nawadurga
Nawagraha
Trimurti
Brahma
Wisnu
Siwa
Dewa
Dewi
Dewa
Dewi
Artikel terkait: Brahman ·Tuhan dalam agama Hindu
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan