Senin, 12 Oktober 2026
01:22 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Rotasi Kepemimpinan: Brigjen Yustan Alpiani Resmi Jadi Kapolda Lampung Lampung Selatan Anak Krakatau Siaga: Status Gunung Meningkat Setelah Belasan Kali Erupsi Intens Pringsewu Truk Fuso Diduga Rem Blong Picu Kecelakaan Maut di Pringsewu, Dua Tewas Lampung Rotasi Besar Polri: 199 Perwira Tinggi dan Menengah Pindah Tugas, Tiga Kapolda Berganti Advertorial Sistem Kelistrikan Lampung Dipuji DPR, EBT Sumbang Hampir Separuh Pasokan Lampung Anak Krakatau Naik Status Siaga Level III: Potensi Bahaya, Jauhi Radius 5 KM Lampung Gunung Anak Krakatau Kembali Erupsi, Status Siaga Ditetapkan, Radius Bahaya 5 Km Teknologi Sega Siapkan DLC Penutup dan Final Kejuaraan Dunia Sonic Racing: CrossWorlds Otomotif Bengkel Mini di Rumah: 6 Alat Penting untuk Perbaikan Ringan Kendaraan Teknologi School Party Craft: Rasakan Sensasi Unik Simulasi Kehidupan di Dunia Terbuka Bandar Lampung Rotasi Kepemimpinan: Brigjen Yustan Alpiani Resmi Jadi Kapolda Lampung Lampung Selatan Anak Krakatau Siaga: Status Gunung Meningkat Setelah Belasan Kali Erupsi Intens Pringsewu Truk Fuso Diduga Rem Blong Picu Kecelakaan Maut di Pringsewu, Dua Tewas Lampung Rotasi Besar Polri: 199 Perwira Tinggi dan Menengah Pindah Tugas, Tiga Kapolda Berganti Advertorial Sistem Kelistrikan Lampung Dipuji DPR, EBT Sumbang Hampir Separuh Pasokan Lampung Anak Krakatau Naik Status Siaga Level III: Potensi Bahaya, Jauhi Radius 5 KM Lampung Gunung Anak Krakatau Kembali Erupsi, Status Siaga Ditetapkan, Radius Bahaya 5 Km Teknologi Sega Siapkan DLC Penutup dan Final Kejuaraan Dunia Sonic Racing: CrossWorlds Otomotif Bengkel Mini di Rumah: 6 Alat Penting untuk Perbaikan Ringan Kendaraan Teknologi School Party Craft: Rasakan Sensasi Unik Simulasi Kehidupan di Dunia Terbuka
Sang Hyang Widhi

Sang Hyang Widhi

sebutan untuk Tuhan dalam agama Hindu Bali

Bagikan:
Untuk konsep teologi Hindu Nusantara, lihat Acintya.
250px-Acintya_Bali.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Simbol Acintya (Sang Hyang Widhi) sebagai Tuhan, yang terukir pada puncak Padmasana dalam praktik Agama Hindu Bali.

Sang Hyang Widhi,[a] disebut pula Sang Hyang Widhi Wasa atau Sang Hyang Tunggal adalah sebutan bagi Tuhan dalam kepercayaan darma―khususnya Hinduisme Nusantara―masyarakat Bali dan Jawa. Dalam konsep Hinduisme Nusantara, Sang Hyang Widhi dikaitkan dengan konsep Brahman dan Acintya yang disebutkan dalam sastra Hindu Weda dan Upanishad. Dalam bahasa Sanskerta, Brahman adalah realitas sejati yang menyebabkan terjadinya segala macam fenomena,[1][2] sedangkan acintya memiliki arti 'Yang tak terpikirkan', 'Yang tak dapat dipahami', atau 'Yang tak dapat dibayangkan'.[3]

Etimologi

Nama Sang Hyang Widhi Wasa mengandung unsur-unsur kata dari bahasa Sanskerta dan Jawa Kuno. Kata Hyang berasal dari bahasa Jawa Kuno yang sering dipakai untuk menyebut makhluk gaib atau entitas supranatural.[4] Apabila didahului dengan gelar Sang, maka istilah Sang Hyang dipakai sebagai gelar kehormatan yang mengacu kepada dewa-dewi atau makhluk gaib yang disucikan.[5] Sebagai contoh, Sang Hyang Siwa digunakan untuk menyebut Dewa Siwa. Sedangkan kata Widhi (juga dieja Widi) berasal dari bahasa Bali yang dahulu bermakna nasib, keberuntungan, atau pengetahuan,[6] tetapi juga dapat dimaknai sebagai peraturan, hukum, atau keseimbangan alam semesta.[7] Wasa adalah kata dalam bahasa Bali yang diserap dari bahasa Jawa Kuno waśa, yang berakar dari bahasa Sanskerta vaśa (वश), artinya kekuatan atau kekuasaan.[8] Dalam bahasa Indonesia, Jawa dan Bali, istilah "Sang Hyang Tunggal" juga sepadan dengan "Tuhan Yang Maha Esa", karena tunggal bermakna "satu-satunya".[9]

Teologi

Artikel ini merupakan bagian dari seri
Teisme
20px-P_religion_world.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail PortalAgama

Dalam kepercayaan tradisional Indonesia di pulau Jawa dan Bali, "Hyang" merupakan sebutan untuk entitas gaib yang memiliki kekuatan supranatural.[4] Orang-orang Indonesia umumnya mengenal kata ini sebagai penyebutan untuk 'penyebab keindahan', 'penyebab semua ini ada (pencipta)', 'penyebab dari semua yang dapat disaksikan', atau secara sederhana disebut "Tuhan".[5]

Dalam agama Hindu Bali, Sang Hyang Widhi dimaknai sebagai entitas yang tidak berwujud, kekal, dan di luar jangkauan pemahaman manusia. Ia sudah ada sebelum penciptaan alam semesta dan diyakini sebagai asal mula, pemelihara, dan pelebur alam semesta. Seluruh dewa, makhluk gaib, dan gaya semesta ditafsirkan sebagai perwujudan atau pancaran kekuatan dari entitas tersebut.[6]

Dalam teologi Hinduisme, konsep Sang Hyang Widhi dipadankan dengan Brahman dalam pustaka Weda, meskipun diterapkan dalam kerangka ritual dan kosmologi Hindu Bali yang berbeda dengan Hinduisme di India.[10] Berbagai perguruan filsafat Hindu menafsirkan Brahman secara berbeda, entah sebagai Tuhan personal, impersonal, atau transpersonal; melampaui segala dualitas keberadaan.[11] Ahli India Max Müller menyebut teologi Weda sebagai henoteisme,[12][13] yaitu meyakini adanya banyak dewa-dewi, tetapi mereka semua merupakan aneka wujud dari "Tuhan Yang Maha Esa",[14] sehingga para dewa-dewi berasal dari satu sumber (ekam) yang sama.[13][15]

Jean Couteau, seorang antropolog Prancis yang meneliti Bali berpendapat bahwa meskipun ada banyak dewa-dewi lokal yang disembah oleh umat Hindu Bali, para dewa-dewi tersebut lambat laun diyakini sebagai manifestasi (perwujudan) dari Sang Hyang Widi. Dia menilai bahwa "ada perjalanan panjang menuju konsep monoteisme, yang makin diwarnai oleh reformisme [konsep] Hindu India."[7] Eiseman, dalam buku Bali, Sekala dan Nisakala (1989) mendeskripsikan Sang Hyang Widi sebagai "penyatuan seluruh wujud dewa-dewi menjadi satu Tuhan Yang Maha Esa dan Mahakuasa, yang kira-kira setara dengan konsep Tuhan dalam agama Kristen dan Allah dalam Islam".[6]

Penggunaan istilah

Pada zaman dahulu, istilah Sang Hyang Widhi Wasa hanya diketahui oleh segelintir kaum cendekia saja. Kemudian istilah tersebut dipakai oleh para misionaris Kristen di Bali yang berupaya menerjemahkan konsep Tuhan yang Maha Esa menggunakan nama yang tidak berkesan India (Sanskerta). Akhirnya istilah itu diperkenalkan sebagai nama Tuhan pada tahun 1920-an oleh para reformator pertama tradisi keagamaan Bali.[7]

Pada tahun 1950-an, konsep Sang Hyang Widhi Wasa digaungkan oleh para pemuka agama tradisional Bali untuk menegaskan paham monoteistik Hinduisme ala Bali guna memenuhi persyaratan untuk diakui sebagai agama resmi oleh Kementerian Agama di Indonesia. Masyarakat adat Bali memulai serangkaian inisiatif pertukaran pelajar dan budaya antara Bali dan India untuk membantu merumuskan prinsip-prinsip pokok yang mendasari ajaran Hindu Bali. Secara khusus, gerakan penentuan nasib sendiri di Bali pada pertengahan tahun 1950-an akhirnya mengeluarkan keputusan bersama tahun 1958 yang menuntut pemerintah Indonesia untuk mengakui Hindu Dharma. Keputusan bersama ini mengutip sloka Sanskerta dari kitab suci Hindu:

Om tat sat ekam eva advitiyam
Terjemahan:
Om, Tuhan adalah kebenaran abadi, hanya satu, tidak ada duanya.

— Keputusan Bersama Umat Hindu Bali (14 Juni 1958).[16]

Keputusan yang berfokus pada konsep "Yang Maha Esa" bertujuan untuk memenuhi persyaratan konstitusional bahwa warga negara Indonesia harus memiliki keyakinan monoteistik kepada satu Tuhan, dan "Ida Sanghyang Widhi Wasa" disembah sebagai Tuhan Yang Maha Esa oleh umat Hindu Bali. Dalam bahasa Bali, Sang Hyang Widhi memiliki dua arti: "Tuhan Penguasa Alam Semesta" dan "Hukum Alam Semesta". Arti pertama digunakan untuk memenuhi persyaratan dari Kementerian Agama Republik Indonesia, sementara arti kedua demi melestarikan konsep darma menurut pustaka Hindu.[16]

Lihat juga

Catatan

  1. ↑ aksara Bali: ᬲᬂᬳ᭄ᬬᬂᬯᬶᬥᬶ; aksara Jawa: ꦱꦁꦲꦾꦁ ꦮꦶꦣꦶ

Referensi

  1. ↑ PT Raju (2006), Idealistic Thought of India, Routledge, hlm. 426, dan bab XII, ISBN 978-1406732627
  2. ↑ Jeffrey Brodd (2003). World Religions: A Voyage of Discovery. Saint Mary's Press. hlm. 43–45. ISBN 978-0-88489-725-5.
  3. ↑ Gupta, Ravi M. (2007). The Caitanya Vaisnava Vedanta of Jiva Gosvami: When knowledge meets devotion (PDF). Routledge. ISBN 978-0-415-40548-5.
  4. 1 2 Zoetmulder, P.J. (1982), Old Javanese-English Dictionary, Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde
  5. 1 2 "Penjelasan Lengkap Acintya (Sang Hyang Widhi atau Sang Hyang Tunggal) - Mantra Hindu Bali". Mantra Hindu Bali. 2015-12-17. Diarsipkan dari versi asli pada Desember 25, 2015. Diakses tanggal 2018-07-13.{{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  6. 1 2 3 Eiseman, Fred B.; Eiseman, Margaret H. (1989). Bali, sekala and niskala. Berkeley, Calif: Periplus Editions. ISBN 978-0-945971-03-0.
  7. 1 2 3 Buvelot, Eric; Couteau, Jean; Darling, Diana (2022). Bali, 50 years of changes: a conversation with Jean Couteau. Carindale, Queensland: Glass House Books. ISBN 978-1-922332-90-5.
  8. ↑ Zoetmulder, P. J. (1974-01-01), "Old Javanese Language and Literature", Kalangwan, BRILL, hlm. 3–67, doi:10.1163/9789004656963_005, ISBN 978-90-04-65696-3, diakses tanggal 2026-02-07{{citation}}: Pemeliharaan CS1: Parameter work dengan ISBN (link)
  9. ↑ "Tunggal". BASAbaliWiki (dalam bahasa Inggris). 2024-12-06. Diakses tanggal 2026-02-07.
  10. ↑ Wiener, Margaret J. (1995). Visible and Invisible Realms: Power, magic, and colonial conquest in Bali. University of Chicago Press. hlm. 51. ISBN 9780226885827.
  11. ↑ Ishwar Chandra Sharma (1970), Ethical Philosophies of India, Harper & Row, hlm. 75
  12. ↑ Sugirtharajah, Sharada, Imagining Hinduism: A Postcolonial Perspective, Routledge, 2004, p.44;
  13. 1 2 Charles Taliaferro; Victoria S. Harrison; Stewart Goetz (2012). The Routledge Companion to Theism. Routledge. hlm. 78–79. ISBN 978-1-136-33823-6. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2023-01-15. Diakses tanggal 2016-10-15.
  14. ↑ William A. Graham (1993). Beyond the Written Word: Oral Aspects of Scripture in the History of Religion. Cambridge University Press. hlm. 70–71. ISBN 978-0-521-44820-8.
  15. ↑ Ilai Alon; Ithamar Gruenwald; Itamar Singer (1994). Concepts of the Other in Near Eastern Religions. BRILL Academic. hlm. 370–371. ISBN 978-9004102200.
  16. 1 2 Ramstedt, Martin; International Institute for Asian Studies, ed. (2004). Hinduism in modern Indonesia: a minority religion between local, national, and global interests. RoutledgeCurzon--IIAS Asian studies series. London; New York: RoutledgeCurzon. ISBN 978-0-7007-1533-6.
Konsep
Hindu omkaar
Dewa
individual
Dewi
individual
Aditya
Dasawatara
Dikpala
Mahawidya
Matrika
Nawadewata
Nawadurga
Nawagraha
Trimurti
Brahma
Wisnu
Siwa
Dewa
Dewi
Dewa
Dewi
Artikel terkait: Brahman ·Tuhan dalam agama Hindu
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan