Rabu, 23 September 2026
16:47 WIB
TERKINI
Nasional Pemulihan Pascabencana NTT: PSI Desak Perhatian Berkelanjutan Setelah Kunjungan Presiden Megapolitan Diantar Ayah, Zaki Berburu Peluang Kerja di Job Fair Setelah 4 Kali Gagal Regional Misteri Terkuak: Jasad ABK Kapal Jurnalis di Enggano Teridentifikasi Lewat DNA Cek Fakta Waspada! Penipuan Cek Bansos 2026 Marak, Data Pribadi Jadi Incaran Cek Fakta Waspada Penipuan BLT Kesra 2026 via Telegram: Kenali Prosedur Resmi Cek Fakta Mengungkap Tiga Hoaks Besar Korupsi yang Menjerat Nama Mantan Presiden Jokowi Hukum & Kriminal Aktivis Desak Kemenimipas Transparan Ungkap Dokumen Remisi Pemerkosa Belasan Santriwati Eropa & Amerika Presiden Trump Serukan Negara Anggota Mundur dari ICC, Ancam Sanksi Lembaga Eropa & Amerika AS, Denmark, dan Greenland Sepakati Perluasan Militer Strategis Tanpa Batas Waktu Hukum KPK Ungkap Puluhan Celah Korupsi Pengurusan Dokumen Tanah di ATR/BPN Nasional Pemulihan Pascabencana NTT: PSI Desak Perhatian Berkelanjutan Setelah Kunjungan Presiden Megapolitan Diantar Ayah, Zaki Berburu Peluang Kerja di Job Fair Setelah 4 Kali Gagal Regional Misteri Terkuak: Jasad ABK Kapal Jurnalis di Enggano Teridentifikasi Lewat DNA Cek Fakta Waspada! Penipuan Cek Bansos 2026 Marak, Data Pribadi Jadi Incaran Cek Fakta Waspada Penipuan BLT Kesra 2026 via Telegram: Kenali Prosedur Resmi Cek Fakta Mengungkap Tiga Hoaks Besar Korupsi yang Menjerat Nama Mantan Presiden Jokowi Hukum & Kriminal Aktivis Desak Kemenimipas Transparan Ungkap Dokumen Remisi Pemerkosa Belasan Santriwati Eropa & Amerika Presiden Trump Serukan Negara Anggota Mundur dari ICC, Ancam Sanksi Lembaga Eropa & Amerika AS, Denmark, dan Greenland Sepakati Perluasan Militer Strategis Tanpa Batas Waktu Hukum KPK Ungkap Puluhan Celah Korupsi Pengurusan Dokumen Tanah di ATR/BPN
Teodisi

Teodisi

Bagian dari seri tentang
Filsafat agama
Konsepsi
Eksistensi
Argumen-argumen tentang
Argumen penentang
Menurut agama
Ateis / agnostik
Buddha
Kristen
Islam
Yahudi
Hindu
Lainnya
Indeks artikel filsafat agama
250px-Gottfried_Wilhelm_von_Leibniz.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Gottfried Leibniz mencetuskan istilah 'teodisi' untuk menyelaraskan keberadaan Tuhan dengan ketidaksempurnaan dunia.

Teodisi (disebut juga teodise) adalah pandangan filosofis dan konsep untuk menjelaskan Tuhan yang Mahabaik mengizinkan adanya kejahatan di dunia, sehingga mampu menyelesaikan isu dari masalah kejahatan. Istilah ini dicetuskan pada tahun 1710 oleh filsuf Jerman Gottfried Leibniz dalam karyanya yang berjudul Théodicée. Beberapa ilmu teodisi juga membahas masalah pembuktian kejahatan dengan mencoba untuk "menyelaraskan keberadaan Tuhan yang Mahapengampun, Mahakuasa, dan Mahatahu dengan keberadaan kejahatan atau penderitaan di dunia"

Etimologi

Istilah "teodisi" berasal dari bahasa Yunani yaitu theos dan dike yang masing-masing berarti Tuhan dan keadilan. Istilah ini dikaiatkan dengan sifat Tuhan yang penuh kebajikan, kemahatahuan dan kemahakuasaan terhadap segala makhluk ciptaan-Nya. Kata "teodisi" juga digunakan oleh para teolog untuk memberikan pembenaran terhadap segala perilaku Tuhan atas makhluk ciptaan-Nya.[1]

Istilah "teodisi" pertama kali diperkenalkan oleh filsuf asal Jerman yang bernama Gottfried Leibniz. Ia memperkenalkannya di dalam bukunya yang berjudul Essais sur la Théodicée Bonte de Dieu, la Liberté de l’homme et l’origine du mal atau diterjemahkan menjadi Teodisi: Esai tentang Kebaikan Tuhan, Kebebasan Manusia dan Keaslian Sifat Setan. Dalam karya ini, diberikan penjelasan bahwa kebaikan Tuhan tidak bertentangan dengan kenyataan adanya beragam jenis kejahatan di dunia. Kejahatan tetap ada, tetapi dunia masih menjadi tempat yang layak untuk ditinggali karena adanya keindahan dan kesenangan.[2]

Tokoh pemikir

Gottfried Leibniz

Leibniz memperkenalkan istilah "teodisi" pada tahun 1710 Masehi melalui bukunya dengan judul yang sama. Tujuan ia menulis buku dan memberikan konsep mengenai teodisi ialah untuk pembelaan atas kemahakuasaan dan kemahabaikan Allah melebihi penderitaan. Ia memberikan konsep yang jelas dengan membaginya menjadi dua bagian, yaitu mengenai Allah dan manusia. Leibniz membagi kodrat Allah menjadi tiga bagian, yaitu rasional, kehendak dan mahakuasa. Kodrat rasional berkaitan dengan sifat kebijaksanaan dari Allah. Kodrat kehendak dikaitkan dengan tujuan Allah terhadap setiap tindakan-Nya hanya untuk kebaikan. Sedangkan kodrat mahakuasa dikaitkan dengan kemampuan Allah untuk membuat sesuatu menjadi ada. Kodrat Allah ini kemudian oleh Leibniz dibuatkan suatu rekonsiliasi dengan kehendak bebas dari manusia yang sering mengarah kepada keburukan.[3] Dari hal ini, kodrat kehendak Allah muncul dengan dua kategori, yaitu kehendak anteseden dan kehendak konsekuen. Kehendak anteseden berkaitan dengan kehendak Allah untuk memberikan kebaikan kepada manusia. Sedangkan kehendak konsekuen berkaitan dengan konsekuensi yang dialami oleh manusia dalam bentuk penderitaan sebagai akibat dari kesalahan yang diperbuat oleh manusia.[4]

Referensi

Catatan kaki

  1. Zubaidi 2011, hlm. 249-250.
  2. Zubaidi 2011, hlm. 250.
  3. Fangidae 2020, hlm. 154.
  4. Fangidae 2020, hlm. 154-155.

Daftar pustaka

Pranala luar

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan