Minggu, 27 September 2026
09:33 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Semangat Anak Sawah: Harumkan Nama Lampung di Kancah Nasional Tanpa Dukungan Pemda Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau Kembali Erupsi, Status Siaga Tetap Dipertahankan Bandar Lampung BPS Lampung Tuntaskan Sensus Ekonomi 2026, Hasilnya Siap Rilis Awal 2027 Bandar Lampung Inovasi Double Teaching: Guru Ahli Berbagi Ilmu Lintas Sekolah di Lampung Bandar Lampung Coki, Buaya Peliharaan Warga Panjang yang Bikin Haru Jelang Evakuasi KKP Lampung Tekuni Hobi Sejak Kuliah, Dani Tetap Bertahan Jual Ikan Hias di Tengah Tantangan Cuaca Prakiraan Cuaca Lampung 26 September 2026: Cerah Berawan dan Potensi Hujan Humaniora Perlindungan Anak Digital: MPR Desak Komitmen Global Terwujud Nyata di Tanah Air Regional Bupati Gowa Sitti Husniah Talenrang Tersangka Pemerasan Perizinan Bangunan dan TPPU Bandar Lampung Puluhan Siswa di Lampung Tengah Diduga Keracunan Makanan Program MBG Bandar Lampung Semangat Anak Sawah: Harumkan Nama Lampung di Kancah Nasional Tanpa Dukungan Pemda Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau Kembali Erupsi, Status Siaga Tetap Dipertahankan Bandar Lampung BPS Lampung Tuntaskan Sensus Ekonomi 2026, Hasilnya Siap Rilis Awal 2027 Bandar Lampung Inovasi Double Teaching: Guru Ahli Berbagi Ilmu Lintas Sekolah di Lampung Bandar Lampung Coki, Buaya Peliharaan Warga Panjang yang Bikin Haru Jelang Evakuasi KKP Lampung Tekuni Hobi Sejak Kuliah, Dani Tetap Bertahan Jual Ikan Hias di Tengah Tantangan Cuaca Prakiraan Cuaca Lampung 26 September 2026: Cerah Berawan dan Potensi Hujan Humaniora Perlindungan Anak Digital: MPR Desak Komitmen Global Terwujud Nyata di Tanah Air Regional Bupati Gowa Sitti Husniah Talenrang Tersangka Pemerasan Perizinan Bangunan dan TPPU Bandar Lampung Puluhan Siswa di Lampung Tengah Diduga Keracunan Makanan Program MBG
Akṣobhya

Akṣobhya

salah satu dari lima kebijaksanaan Buddhisme Vajrayana

Akshobya
330px-%27The_Dhyani_Buddha_Akshobhya%27%2C_Tibetan_thangka%2C_late_13th_century%2C_Honolulu_Academy_of_Arts.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
'The Dhyani Buddha Akshobhya', Tibetan thangka, late 13th century, Honolulu Academy of Arts. The background consists of multiple images of the Five Dhyani Buddhas.
SanskertaAkṣobhya
TionghoaA Jiu Rulai
JepangAshuku Nyorai
Mongoliaᠬᠥᠳᠡᠯᠦᠰᠢ ᠦᠭᠡᠢ
Хөдөлшгүй
Ködelüsi ügei
Informasi
Dimuliakan olehVajrayana
AtributYang Tidak Tergerakkan
ShaktiLocana
20px-Flag_of_Buddhism.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail PortalBuddhisme
Bagian dari seri tentang
Buddhisme
120px-Dharma_Wheel_%282%29.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Keyakinan
Tiga corak
Gugusan
Faktor mental
Meditasi
Bakti
Praktik lainnya
Bagian dari seri tentang
Buddhisme Mahāyāna
Seroja, salah satu dari delapan simbol keberuntungan dalam Mahāyāna
Buddhisme
20px-Flag_of_Buddhism.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail PortalBuddhisme

Dalam Buddhisme Vajrayana, Akṣobhya (Sanskerta untuk "Yang Tidak Tergerakkan") (Jepang: 阿閦如来 Ashuku nyorai; Tionghoa: 阿閦如来 āchùrúlái; Mongolia: Ködelüsi ügei), Akshobhya, atau Aksobya adalah satu dari Lima Buddha Kebijaksanaan, bagian dari Adibuddha, yang mewakili kesadaran sebagai sebuah aspek akan kenyataan. Ia berada di bagian timur dari Dunia Intan dan merupakan tuan dari Surga bagian Timur Abhirati ('Kesuka-citaan'), walaupun surga bagian barat Amitabha yang berseberangan dengan Akshobhya jauh lebih dikenal. Pendampingnya adalah Mamaki dan ia biasanya didampingi oleh dua ekor gajah. Warnanya adalah biru dan perlengkapannya termasuk lonceng, tiga juga dan sebuah tongkat, beserta dengan sebuah permata, teratai, roda doa dan sebilah pedang.

Asal-usul

Akshobhya tampil dalam "Naskah tanah-Buddha Akshobhya" (Scripture of the Buddha-land of Akshobhya; 阿閦佛國経 āchùfó guó jīng), yang berasal dari tahun 147 Masehi dan merupakan naskah tertua mengenai Tanah Suci. Berdasarkan naskah tersebut, seorang bhikkhu berharap untuk melakukan Dharma di dunia kegembiraan bagian timur dan bersumpah untuk tidak memikirkan kemarahan atau kebencian kepada mahluk lainnya hingga mencapai pencerahan. Pada akhirnya ia terbukti "tidak tergerakkan" dan ketika ia berhasil, ia menjadi Buddha Akshobhya.

Akshobhya sering kali disatukan dengan Acala (Jepang:不動明王 Fudō myō-ō), nama yang memiliki arti yang sama dalam bahasa Sanskerta yakni 'yang tidak tergerakkan'. Akan tetapi, Acala bukanlah seorang buddha, tetapi merupakan salah-satu dari Lima Raja Kebijaksanaan dari Alam Rahim di mazhab Vajrayana.

Sebelum kedatangan Bhaisajyaguru (Yakushi), Akshobhya lebih dikenal sebagai subjek pemujaan kecil akan buddha penyembuh, walaupun sekarang keduanya ditemukan dalam mazhab buddhisme Shingon di Jepang.

Akhir-akhir ini, baru ditemukan naskah Gandhari dari Pakistan di daerah Bajaur, potongan naskah dari Sutra Mahayana awal yang menceritakan Aksobhya. Penanggalan awal dengan paleografi menyatakan berkisar dari akhir abad pertama hingga awal abad kedua masehi. Penanggalan dengan menggunakan radiokarbon yang lebih lanjut sedang berlangsung. Analisis dan laporan lengkap akan naskah ini diperkirakan akan dipublikasikan akhir tahun 2008.

Ikonografi

Akshobhya merupakan perwujudan 'pengetahuan cermin' (bahasa Sanskerta: Ādarśa-jñāna; merujuk kepada Panchajnana). Pengetahuan akan apa yang nyata, dan apa yang merupakan khayalan, atau pantulan dari sesuatu yang mirip dengan kenyataan sesungguhnya. Cermin tersebut adalah pemikiran itu sendiri - cerah seperti langit, kosong tetapi bercahaya. Memegang seluruh gambaran akan ruang dan waktu, tetapi tidak tersentuh olehnya. Ia menggambarkan pemikiran yang abadi, dan mazhab Vajrayana senantiasa berhubungan dengan alasan dan pengetahuan. Kecerdasannya menerangkan kebodohan yang gelap, ketajamannya memotong kekeliruan.

Mazhab Vajra, di mana Akshobhya berada, dihubungkan dengan elemen air. Oleh karenanya kedua warna dari Vajra tersebut adalah biru atau putih. Putih cemerlang seperti pantulan matahari dari air, dan biru, seperti dalamnya samudra. Bahkan jika permukaan samudra itu digerakkan oleh gemuruh ombak, kedalamannya tetap tidak tergerakkan. Dan walau air terkesan ringan dan tidak memiliki berat, pada kenyataannya air sangatlah berat. Air mengalir ke tempat yang lebih rendah dan berdiam disana. Ia mengikis bebatuan, tetapi secara lemah-lembut, tanpa kekerasan. Ketika beku, menjadi keras, tajam, dan jernih seperti kecerdasan, tetapi untuk mencapai potensi utuhnya, ia juga harus mencair dan dapat beradaptasi seperti aliran sungai. Hal-hal ini seluruhnya adalah kualitas esensi dari Akshobhya.

Banyak perwujudan kemurkaan mahluk tantrik diwakili dengan warna biru karena mereka menggambarkan energi kemarahan dan penyerangan, menjadi kebijaksanaan dan pencerahan.

Arca Borobudur

Aksobya adalah salah satu arca Dhyani Buddha yang dijumpai pada struktur pagar langkan Candi Borobudur. Arca Dhyani Buddha Aksobya berada pada pagar langkan sisi Timur lantai III – VI dan divisualisasikan dalam bentuk laki-laki yang sedang duduk bersila di atas asana berupa padma (padmasana). Pada bagian kepala memiliki rambut keriting mengikal ke kanan (pradaksinawartakesa) dengan tonjolan gelung rambut (usnisa) pada bagian ubun-ubun. Bentuk wajahnya persegi dengan eskpresi wajahnya yang tenang (saumya) dengan dahi yang memiliki pahatan berupa tonjolan kecil (urna) pada bagian tengah-tengahnya. Alis matanya terlihat tipis dengan pandangan yang teduh ke arah bawah. Di bagian leher arca bergaris 3 dengan telinga panjang pada bagian bawahnya. Pipi arca diapahatkan gemuk dengan hidung yang mancung dan bibir yang tipis.

Pada dasarnya, arca Dhyani Buddha Aksobhya mengenakan jubah tipis seperti halnya sutera tipis yang menutup seluruh bagian tubuhnya kecuali bagian kepala, leher, dan dada kanan. Sikap tangan (mudra) Dhyani Buddha Aksobhya adalah bhumisparsamudra yaitu telapak tangan kanannya menelungkup ke bawah dan menapak pada lutut kanan. Sedangkan telapak tangan kirinya menengadah ke atas dengan punggung tangan ditempelkan pada bagian pergelangan kaki (gulpha) dan tumit (parsni) dalam posisi kaki bersila. Sikap tangan bhumisparsamudra tersebut mempunyai makna menjadikan Bumi sebagai saksi di saat Sidharta diganggu oleh anak-anak setan Mara pada saat bermeditasi di bawah pohon Bodhi di Kota Bodhgaya.[1]

Aksobya digunakan sebagai nama lapangan di kawasan Candi Borobudur. Tempat ini, sejak 2012, setiap tahun digunakan sebagai panggung pertunjukan seni Borobudur Writers and Cultural Festival.

Referensi

  1. ↑ "Aksobya". Borobudurpedia. Diarsipkan dari asli tanggal 2019-03-06. Diakses tanggal 4 Maret 2019.
  • Jordan, Michael, Encyclopedia of Gods, New York, Facts On File, Inc. 1993, pp. 9–10
  • Vessantara, Meeting the Buddhas, Windhorse Publications 2003, chapter 9

Pranala luar

40px-Buddhism_Symbol.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail   Topik Buddhisme   40px-Flag_of_Buddhism.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Buddhisme awal
Benua
Populasi signifikan
Aliran arus utama
Sinkretis
Theravāda
Mahāyāna-Vajrayāna
Kitab daring
Buddha saat ini dan keluarga
4 tempat suci utama
Buddha penting sebelumnya
Buddha selanjutnya
Bawahan
Mahāyāna-Vajrayāna
Jenis penganut
4 tingkat kemuliaan
Tempat ibadah
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan