Kamis, 24 September 2026
19:28 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Inovasi Pendidikan Lampung: Guru Ahli Mengajar Lintas Sekolah Tingkatkan Mutu Nasional Bandar Lampung Tragedi Kelengkeng di Lampung Tengah: Siswa 9 Tahun Meninggal, Program MBG Dievaluasi Account KG Media ID: Satu Akun untuk Seluruh Ekosistem Digital Kompas Gramedia Otomotif EXOBOT: Bukti Ambisi Arab Saudi di Pasar Mobil Listrik Dunia Olahraga Modernisasi Pendataan Atlet: KONI Lampung Buka Pendaftaran Daring Porprov X 2026 Olahraga Porprov X Lampung 2026: Pendaftaran Peserta Resmi Dibuka Secara Daring Eropa & Amerika Delegasi AS Walk Out Saat Presiden Iran Kecam Serangan di Sidang PBB Eropa & Amerika Presiden Iran Kecam AS di PBB: Kami Korban Terorisme, Bukan Pelaku Internasional Ekspresi Tak Terduga Donald Trump Kala Pesawat Pengebom B-1 Meraung di Udara Hukum Mobil Halangi Ambulans Pasien Kritis di Surakarta: Sorotan Pentingnya Prioritas Jalan dan Sanksi Hukum Bandar Lampung Inovasi Pendidikan Lampung: Guru Ahli Mengajar Lintas Sekolah Tingkatkan Mutu Nasional Bandar Lampung Tragedi Kelengkeng di Lampung Tengah: Siswa 9 Tahun Meninggal, Program MBG Dievaluasi Account KG Media ID: Satu Akun untuk Seluruh Ekosistem Digital Kompas Gramedia Otomotif EXOBOT: Bukti Ambisi Arab Saudi di Pasar Mobil Listrik Dunia Olahraga Modernisasi Pendataan Atlet: KONI Lampung Buka Pendaftaran Daring Porprov X 2026 Olahraga Porprov X Lampung 2026: Pendaftaran Peserta Resmi Dibuka Secara Daring Eropa & Amerika Delegasi AS Walk Out Saat Presiden Iran Kecam Serangan di Sidang PBB Eropa & Amerika Presiden Iran Kecam AS di PBB: Kami Korban Terorisme, Bukan Pelaku Internasional Ekspresi Tak Terduga Donald Trump Kala Pesawat Pengebom B-1 Meraung di Udara Hukum Mobil Halangi Ambulans Pasien Kritis di Surakarta: Sorotan Pentingnya Prioritas Jalan dan Sanksi Hukum
Maraṇasati

Maraṇasati

Untuk kematian sebagai suatu mata rantai, lihat Jarāmaraṇa. Untuk sati secara umum, lihat Sati (Buddhisme).
250px-Prince_Siddhattha_is_shown_travelling_t_Wellcome_L0026534.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Pangeran Siddhattha melihat tiga tanda, yakni seorang tua, seorang sakit, dan mayat, yang menyebabkan-Nya meninggalkan kehidupan duniawi. Dari ilustrasi Konbaung Burma.
Bagian dari seri tentang
Buddhisme
120px-Dharma_Wheel_%282%29.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Keyakinan
Tiga corak
Gugusan
Faktor mental
Meditasi
Bakti
Praktik lainnya

Maraṇasati atau maraṇassati (perhatian penuh terhadap kematian, kewaspadaan terhadap kematian), juga dikenal sebagai maraṇānussati (perenungan terhadap kematian), adalah praktik meditasi Buddhis untuk mengingat (kerap kali mengarahkan batin pada ingatan) bahwa kematian dapat menyerang kapan saja (AN 6.20). Oleh karena itu, seseorang dianjurkan untuk berlatih dengan tekun (appamāda) dan penuh urgensi di setiap momen, bahkan dalam waktu sependek satu tarikan napas. Tidak berlatih dengan tekun setiap saat disebut sebagai kelalaian oleh Sang Buddha (AN 6.19). Dalam khotbah-khotbah awal Sang Buddha, istilah 'Maraṇasati' hanya didefinisikan secara eksplisit dua kali, dalam dua sutta, yakni AN 6.19 dan AN 6.20.

Aliran-aliran Buddhis belakangan memperluas makna 'maraṇasati' untuk mencakup berbagai teknik visualisasi dan kontemplasi untuk bermeditasi tentang hakikat kematian. Pengembangan maraṇasati dikatakan kondusif untuk usaha yang benar, dan juga membantu dalam mengembangkan rasa desakan atau urgensi spiritual (saṁvega) dan pelepasan keduniawian (nekkhamma).[1]

Buddhisme Theravāda

Lihat pula: Theravāda
Bagian dari seri tentang
Buddhisme Theravāda
120px-Buddhism_dham_jak.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Buddhisme
20px-Flag_of_Buddhism.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail PortalBuddhisme

Perhatian penuh terhadap kematian merupakan praktik umum di berbagai wihara di Asia Tenggara.[1] Wihara seperti Wat Pah Nanachat sering memajang kerangka manusia di ruang meditasinya.[2]

Dalam Tripitaka Pali

Lihat pula: Tripitaka Pali

Dalam Paṭhamamaraṇassati Sutta (AN 6.19), Sang Buddha menganjurkan untuk berlatih dengan tekun (appamāda) dan penuh urgensi di setiap momen, bahkan dalam waktu sependek satu tarikan napas. Jika tidak merenungi kematian setiap saat, maka seseorang disebut telah "berdiam dengan lengah".

Ketika hal ini dikatakan, Sang Bhagavā berkata kepada para bhikkhu itu:

“Para bhikkhu, bhikkhu yang mengembangkan perenungan pada kematian sebagai berikut: ‘Semoga aku dapat hidup selama
(1) sehari semalam ...
(2) sehari ...
(3) waktu yang diperlukan untuk satu kali makan ...
(4) waktu yang diperlukan untuk mengunyah dan menelan empat atau lima suapan makanan ...
sehingga aku dapat menekuni ajaran Sang Bhagavā. Dan aku berhasil sejauh itu!’: mereka ini disebut para bhikkhu yang berdiam dengan lengah. Mereka mengembangkan perenungan pada kematian dengan lambat demi hancurnya noda-noda (āsava).

“Tetapi bhikkhu yang mengembangkan perenungan pada kematian sebagai berikut: ‘Semoga aku dapat hidup selama
(5) waktu yang diperlukan untuk mengunyah dan menelan satu suapan makanan ...
(6) waktu yang diperlukan untuk mengembuskan napas setelah menarik napas ...
sehingga aku dapat menekuni ajaran Sang Bhagavā. Dan aku berhasil sejauh itu!’’: mereka ini disebut para bhikkhu yang berdiam dengan waspada. Mereka mengembangkan perenungan pada kematian dengan giat demi hancurnya noda-noda.

“Oleh karena itu, para bhikkhu, kalian harus melatih diri kalian sebagai berikut: ‘Kami akan berdiam dengan waspada. Kami akan mengembangkan perenungan pada kematian dengan giat demi hancurnya noda-noda.’ Demikianlah kalian harus berlatih.”

Paṭhamamaraṇassati Sutta, AN 6.19
terj. Indra Anggara

Menurut Dutiyamaraṇassati Sutta (AN 6.20), seorang biku hendaknya merenungkan banyak kemungkinan yang dapat membawanya kepada kematian, dan kemudian mengarahkan pikirannya kepada kualitas batin buruk yang belum ditinggalkannya.[3]

Seperti halnya seseorang yang pakaian [turban] atau kepalanya terbakar akan mengerahkan keinginan (chanda) luar biasa, usaha (vāyāma) luar biasa, kemauan (ussāha) luar biasa, semangat (ussoḷhi) luar biasa, ketanpa-lelahan (appaṭivāni) luar biasa, perhatian (sati) luar biasa, dan pemahaman jernih (sampajañña) luar biasa untuk memadamkan [api pada] pakaian atau kepalanya, demikian pula bhikkhu itu harus mengerahkan keinginan luar biasa, usaha luar biasa, kemauan luar biasa, semangat luar biasa, ketanpa-lelahan luar biasa, perhatian luar biasa, dan pemahaman jernih luar biasa untuk meninggalkan kualitas-kualitas buruk yang tidak bermanfaat itu.
Dutiyamaraṇassati Sutta, AN 6.20
terj. Indra Anggara

Perenungan terhadap kematian (maraṇa) lainnya (seperti dalam Abhiṇhapaccavekkhitabbaṭhāna Sutta, AN 5.57) dilakukan dengan merenungi kenyataan bahwa: "Kematianku pasti terjadi. Aku bisa mati kapan saja. Ketika mati, aku harus meninggalkan segalanya."[4]

“Katamāni pañca?
[1] ‘Jarādhammomhi, jaraṁ anatīto’ti ...
[2] ‘Byādhidhammomhi, byādhiṁ anatīto’ti ...
[3] ‘Maraṇadhammomhi, maraṇaṁ anatīto’ti ...
[4] ‘Sabbehi me piyehi manāpehi nānābhāvo vinābhāvo’ti ...
[5] ‘Kammassakomhi, kammadāyādo kammayoni kammabandhu kammapaṭisaraṇo.
Yaṁ kammaṁ karissāmi—kalyāṇaṁ vā pāpakaṁ vā—tassa dāyādo bhavissāmī’ti ..."
"Ada lima hal yang hendaknya sering direnungi:
1. Aku wajar lapuk, tak mengatasi pelapukan.
2. Aku wajar sakit, tak mengatasi penyakit.
3. Aku wajar mati, tak mengatasi kematian.
4. Semua yang aku sayangi dan senangi akan terpisah dan berpisah
5. Pemilik perbuatan, waris perbuatan, berasal dari perbuatan, terhubung dengan perbuatan, terlindung oleh perbuatan. Perbuatan yang kulakukan, kebajikan atau kejahatan, aku akan menjadi waris itu."
Abhiṇhapaccavekkhitabbaṭhāna Sutta, AN 5.57
terj. Handaka Vijjānanda
Asubha Contemplation Illustration
Ilustrasi perhatian terhadap kematian menggunakan mayat di tanah pemakaman, bagian dari perhatian terhadap tubuh, satipaṭṭhāna pertama. Dari manuskrip awal abad ke-20 yang ditemukan di Distrik Chaiya, Provinsi Surat Thani, Thailand.[5]

Dalam Visuddhimagga

Menurut kitab Visuddhimagga karya Buddhaghosa, ada delapan cara untuk praktik perenungan atas kematian (maraṇānussati):

  1. merenungkan kematian sebagai pembunuh, karena ia merenggut nyawa;
  2. merenungkannya sebagai kehancuran kesuksesan;
  3. memandangnya dengan membandingkannya dengan orang-orang terkenal, merenungkan bahwa bahkan orang-orang hebat ini akhirnya meninggal, bahkan orang-orang yang tercerahkan pun juga;
  4. merenungkan tubuh sebagai tempat tinggal banyak—banyak cacing serta sasaran banyak binatang lainnya;
  5. merenungkan kesulitan untuk tetap hidup;
  6. merenungkannya sebagai sesuatu yang tanpa sebab, karena makhluk hidup mati secara tak terduga;
  7. merenungkan singkatnya masa hidup;
  8. merenungkan kenyataan bahwa, sebenarnya (dalam arti yang paling mendasar secara kebenaran hakiki), masa hidup suatu makhluk adalah satu momen kesadaran (citta), bahwa seseorang mati setiap saat, bisa dikatakan demikian.[6]

Buddhisme Tibet

Lihat pula: Buddhisme Tibet
250px-The_Open_court_%281887%29_%2814766091152%29.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Ilustrasi tarian Cham Tibet yang menampilkan makhluk berkerangka, yang berfungsi sebagai pengingat kehadiran kematian.

Perhatian-penuh akan kematian merupakan ajaran utama Buddhisme Tibet: praktik ini merupakan salah satu dari "Empat Pemikiran" yang mengarahkan batin menuju praktik spiritual. Satu set perenungan Buddhisme Tibet tentang kematian berasal dari cendekiawan Buddhis abad ke-11 bernama Atisha.[7] Atisha dikatakan pernah berkata kepada murid-muridnya bahwa jika seseorang tidak menyadari kematian, meditasinya hanya akan memiliki sedikit kekuatan.[8]

Perenungan Atisha tentang kematian:

  1. Kematian tidak dapat dihindari.
  2. Usia hidup kita terus menurun.
  3. Kematian akan datang, terlepas dari apakah kita siap atau tidak.
  4. Harapan hidup manusia tidak pasti.
  5. Ada banyak penyebab kematian.
  6. Tubuh manusia rapuh dan rentan.
  7. Pada saat kematian, sumber daya materi kita tidak berguna bagi kita.
  8. Orang yang kita cintai tidak dapat menjauhkan kita dari kematian.
  9. Tubuh kita sendiri tidak dapat menolong kita pada saat kematian kita.

Praktik Buddhisme Tibet lainnya berhubungan langsung dengan momen kematian, mempersiapkan pemeditasi untuk memasuki dan mengarungi Bardo, tahap peralihan antara hidup dan mati. Teknik meditasi ini merupakan tema dari karya populer berjudul The Tibetan Book of the Dead.

Lihat juga

Referensi

  1. 1 2 Rosenberg, Larry (15 September 2020). "The Supreme Meditation". Lion's Roar. Diakses tanggal 11 Juni 2021.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  2. Ajahn Jagaro, Death and Dying, http://www.katinkahesselink.net/tibet/death_jagaro.html
  3. AN 6.20 Maranassati Sutta: Mindfulness of Death (2) diterjemahkan dari bahasa Pali oleh Thanissaro Bhikkhu http://www.accesstoinsight.org/tipitaka/an/an06/an06.020.than.html
  4. Vijjānanda, Handaka (2023). Dīpaloka, Andreas (ed.). Mā Bhāyi: Jangan Takut (Edisi 2). Ehipassiko Foundation. hlm. 39. ISBN 978-623-7449-10-2.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  5. from Teaching Dhamma by pictures: Explanation of a Siamese Traditional Buddhist Manuscript
  6. Potter, Karl H (1970). "The Encyclopedia of Indian Philosophies Vol. IX Buddhist Philosophy From 350 to 650 AD," hlm. 124.
  7. Joan Halifax Roshi, The Nine Contemplations of Atisha. http://www.upaya.org/roshi/dox/Contemplations.pdf
  8. Powers, John. Introduction to Tibetan Buddhism, Ch. 10
40px-Buddhism_Symbol.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail   Topik Buddhisme   40px-Flag_of_Buddhism.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Buddhisme awal
Benua
Populasi signifikan
Aliran arus utama
Sinkretis
Theravāda
Mahāyāna-Vajrayāna
Kitab daring
Buddha saat ini dan keluarga
4 tempat suci utama
Buddha penting sebelumnya
Buddha selanjutnya
Bawahan
Mahāyāna-Vajrayāna
Jenis penganut
4 tingkat kemuliaan
Tempat ibadah
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan