Sabtu, 17 Oktober 2026
17:17 WIB
TERKINI
Universitas Teknokrat Indonesia Mahasiswa Universitas Teknokrat Raih Empat Gelar Bergengsi di Kompetisi Bahasa Inggris Nasional Pesisir Barat Pesisir Barat Jalin Kemitraan Strategis, Dorong Akses Pendidikan Tinggi Terjangkau Universitas Teknokrat Indonesia Teknokrat dan PMD Pesawaran Bersinergi Wujudkan Desa Digital Berkelanjutan Humaniora Memperkuat Hak Konstitusional Perempuan Adat untuk Kedaulatan Bangsa Pesawaran Lampung Dorong Rantai Pasok Hijau Kakao, Kopi, Lada ke Pasar Global Pesawaran Pengalihan Status Guru PPPK ke Penuh Waktu: DPRD Pesawaran Soroti Isu Penempatan Lampung Timur Gotong Royong Fantastis: Warga Bandar Agung Himpun Rp15 Miliar untuk Jalan Desa Bandar Lampung JNE Lampung Sukses Ubah Komplain Milea Cutting Jadi Kemitraan Strategis Bandar Lampung Jadwal Padat Pemprov Lampung 16 Oktober 2026: Pisah Sambut Kapolda dan Rapat Strategis Bandar Lampung Lampung Waspada: BMKG Deteksi 212 Titik Panas di Sepuluh Kabupaten Universitas Teknokrat Indonesia Mahasiswa Universitas Teknokrat Raih Empat Gelar Bergengsi di Kompetisi Bahasa Inggris Nasional Pesisir Barat Pesisir Barat Jalin Kemitraan Strategis, Dorong Akses Pendidikan Tinggi Terjangkau Universitas Teknokrat Indonesia Teknokrat dan PMD Pesawaran Bersinergi Wujudkan Desa Digital Berkelanjutan Humaniora Memperkuat Hak Konstitusional Perempuan Adat untuk Kedaulatan Bangsa Pesawaran Lampung Dorong Rantai Pasok Hijau Kakao, Kopi, Lada ke Pasar Global Pesawaran Pengalihan Status Guru PPPK ke Penuh Waktu: DPRD Pesawaran Soroti Isu Penempatan Lampung Timur Gotong Royong Fantastis: Warga Bandar Agung Himpun Rp15 Miliar untuk Jalan Desa Bandar Lampung JNE Lampung Sukses Ubah Komplain Milea Cutting Jadi Kemitraan Strategis Bandar Lampung Jadwal Padat Pemprov Lampung 16 Oktober 2026: Pisah Sambut Kapolda dan Rapat Strategis Bandar Lampung Lampung Waspada: BMKG Deteksi 212 Titik Panas di Sepuluh Kabupaten
Memento mori

Memento mori

Bagikan:
250px-Braque_Family_Triptych_closed_WGA.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Panel luar dari karya Rogier van der Weyden, Braque Triptych (ca 1452) yang menunjukkan tengkorak yang dipajang di panel dalamnya. Tulang-tulangnya bertumpu pada batu bata, sebuah simbol dari kerja keras dan pencapaiannya sebelumnya.[1]

Memento mori (berasal dari bahasa Latin yang bermakna 'ingatlah bahwa Anda [akan] mati'[2]) adalah sebuah kiasan artistik atau simbolis sebagai pengingat bahwa kematian adalah sesuatu yang tidak terhindarkan.[2] Konsep ini berakar pada filsuf kuno klasik dan Kristen. Konsep ini juga muncul dalam seni dan arsitektur penguburan dari periode abad pertengahan dan seterusnya.

Ragam hias yang paling umum adalah tengkorak yang sering disertai dengan satu tulang atau lebih. Sering kali ini saja sudah cukup untuk menunjukkan kiasan tentang kematian. Akan tetapi, ragam hias lain seperti peti mati, jam pasir dan bunga layu juga menandakan ketidakkekalan kehidupan manusia. Sering kali, bentuk-bentuk ragam hias ini berfungsi dalam sebuah karya yang subjek utamanya adalah sesuatu yang lain, seperti sebuah lukisan, tetapi vanitas adalah genre artistik di mana tema kematian adalah subjek utama. Danse Macabre dan Kematian yang dipersonifikasikan juga dianggap lebih langsung membangkitkan kiasan tentang kematian.

250px-Edinburgh._St._Cuthbert%27s_Churchyard._Grave_of_James_Bailie._Detail.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Momento mori. Sebuah prasasti batu nisan (1746). Edinburgh. Halaman Gereja St. Cuthbert.

Sejarah

Zaman klasik

Filsuf Democritus mempraktikkan kehidupan yang menyendiri dan mengunjungi makam.[3] Dalam karya Plato tentang Phaedo (memuat cerita tentang kematian Socrates), diperkenalkan gagasan bahwa praktik filsafat yang tepat adalah "segala sesuatu tentang kematian".[4]

Salah satu tema utama dalam pemikiran Stoikisme kuno klasik adalah tentang kematian. Dalam surat-surat Seneca, ditemukan banyak perintah untuk merenungkan tentang kematian.[5] Filsuf Stoik Epictetus memberi tahu murid-muridnya bahwa ketika mencium anak, saudara laki-laki, atau teman mereka, mereka harus mengingat bahwa semua orang-orang dekat mereka ini tidak kekal. Selain itu, ia juga mengingatkan agar membatasi kesenangan mereka, seperti halnya "mereka yang berdiri di belakang manusia dalam kemenangan mereka dan mengingatkan mereka bahwa mereka adalah tidak abadi".[6] Pemikir Stoik lainnya Marcus Aurelius mengajak pembaca untuk "merefleksikan betapa tidak kekal tetapi berartinya semua hal fana ini" dalam karyanya, Meditasi.[7][8]

Dalam beberapa kisah tentang kemenangan Romawi Kuno, seorang rekan atau budak publik berdiri di belakang atau di dekat jenderal yang menang selama pawai kemenangannya dan mengingatkannya tentang kematian.[9] Versi peringatan ini diterjemahkan menjadi "Ingat, Caesar, engkau fana", misalnya dalam Fahrenheit 451.

Konsep serupa di berbagai budaya

Dalam Buddhisme

Artikel utama: Maraṇasati

Praktik Buddhis maraṇasati mengajarkan untuk bermeditasi tentang kematian. Kata tersebut merupakan gabungan kata dalam bahasa Pāli dari maraṇa 'kematian' (kata yang sama dalam rumpun bahasa Indo-Eropa dari kata Latin mori) dan sati 'perhatian-penuh' sehingga sangat mirip dengan istilah memento mori. Kata ini pertama kali digunakan dalam kitab-kitab Buddhis awal, kitab-kitab dalam Suttapiṭaka dari Tripitaka Pali, dengan isi yang paralel dengan isi dalam kitab Āgama dari aliran-aliran "Buddhisme Utara".

Referensi

  1. ↑ Campbell, Lorne. Van der Weyden. London: Chaucer Press, 2004. 89. ISBN1904449247
  2. 1 2 Literally 'remember (that you have) to die', Oxford English Dictionary, Third Edition, June 2001.
  3. ↑ Diogenes Laertius Lives of the Eminent Philosophers, Book IX, Chapter 7, Section 38
  4. ↑ Phaedo, 64a4.
  5. ↑ See his Moral Letters to Lucilius.
  6. ↑ Discourses of Epictetus, 3.24.
  7. ↑ Henry Albert Fischel, Rabbinic Literature and Greco-Roman Philosophy: A Study of Epicurea and Rhetorica in Early Midrashic Writings, E. J. Brill, 1973, p. 95.
  8. ↑ Marcus Aurelius, Meditations IV. 48.2.
  9. ↑ Beard, Mary: The Roman Triumph, The Belknap Press of Harvard University Press, Cambridge, Mass., and London, England, 2007. (hardcover), pp. 85–92.

Pranala luar

Wikimedia Commons logo
Wikimedia Commons memiliki media mengenai Memento mori.


Ikon rintisan

Artikel bertopik filsafat ini adalah sebuah rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia dengan mengembangkannya.

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan