Kamis, 08 Oktober 2026
04:36 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Apresiasi Peran Vital Kader, Pemkot Bandar Lampung Beri Insentif Rp500 Ribu Lampung Barat Emosi Memuncak, Penagih Utang Tewas di Tangan Debitur di Lampung Barat Bandar Lampung Buruh Lampung Berunjuk Rasa, Pertanyakan Pengesahan Dini UU Perlindungan Ketenagakerjaan Cuaca Ratusan Titik Panas Terpantau di Lampung, Tulang Bawang dan Mesuji Teratas Nasional MK Soroti Syarat Pendidikan Gibran, KPU Didesak Diperiksa DPR dan DKPP Bandar Lampung Polisi Bandar Lampung Amankan Lima Remaja Bersenjata Tajam, Kedepankan Edukasi Bandar Lampung Misteri Antrean Panjang Solar di Lampung Meski Pasokan Berlimpah Bandar Lampung Arinal Djunaidi Jalani Sidang Pembuktian, Hakim Tetapkan Vonis 20 Januari 2027 Cuaca Lampung Timur Dominasi Sebaran 140 Titik Panas di Provinsi Lampung Ekonomi Dan Bisnis Harga Emas Antam 6 Oktober 2026 Terkoreksi, Cek Daftar Lengkapnya Bandar Lampung Apresiasi Peran Vital Kader, Pemkot Bandar Lampung Beri Insentif Rp500 Ribu Lampung Barat Emosi Memuncak, Penagih Utang Tewas di Tangan Debitur di Lampung Barat Bandar Lampung Buruh Lampung Berunjuk Rasa, Pertanyakan Pengesahan Dini UU Perlindungan Ketenagakerjaan Cuaca Ratusan Titik Panas Terpantau di Lampung, Tulang Bawang dan Mesuji Teratas Nasional MK Soroti Syarat Pendidikan Gibran, KPU Didesak Diperiksa DPR dan DKPP Bandar Lampung Polisi Bandar Lampung Amankan Lima Remaja Bersenjata Tajam, Kedepankan Edukasi Bandar Lampung Misteri Antrean Panjang Solar di Lampung Meski Pasokan Berlimpah Bandar Lampung Arinal Djunaidi Jalani Sidang Pembuktian, Hakim Tetapkan Vonis 20 Januari 2027 Cuaca Lampung Timur Dominasi Sebaran 140 Titik Panas di Provinsi Lampung Ekonomi Dan Bisnis Harga Emas Antam 6 Oktober 2026 Terkoreksi, Cek Daftar Lengkapnya

Taṇhā

Konsep Buddhis tentang nafsu keinginan dan kemelekatan yang menjadi akar dari kejahatan

Bagikan:
Artikel ini bukan mengenai Chanda (Buddhisme) atau Upādāna.
Untuk konsep keserakahan secara spesifik, lihat Lobha. Untuk konsep kebencian secara spesifik, lihat Dosa (Buddhisme).
Terjemahan dari
taṇhā
Indonesianafsu, nafsu kehausan, nafsu keinginan, keserakahan, ketamakan
Inggristhirst, craving, desire, dll.
Palitaṇhā
Sanskertatṛṣṇā, trishna (Dev: तृष्णा)
Tionghoa贪爱 / 貪愛
(Pinyin: zh-cn: tānài)
Jepang渇愛
(katsu ai)
Korea갈애 (gal-ae)
Tibetསྲེད་པ་
(Wylie: sred pa;
THL: sepa
)
Myanmarတဏှာ
(MLCTS: tən̥à)
Thaiตัณหา
(IPA: tan-hăː)
Vietnamái
Sinhalaතණ්හාව,තෘෂ්ණාව
Daftar Istilah Buddhis
Bagian dari seri tentang
Buddhisme
120px-Dharma_Wheel_%282%29.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Keyakinan
Tiga corak
Gugusan
Faktor mental
Meditasi
Bakti
Praktik lainnya

Taṇhā (Pali; Sanskerta: तृष्णा, tṛṣṇā; atau तर्ष, tarṣa), diterjemahkan sebagai nafsu, nafsu keinginan,[a] nafsu kehausan, pengidaman, atau kegandrungan, adalah suatu konsep penting dalam Buddhisme yang merujuk pada nafsu-nafsu mental (batiniah) dan fisik (jasmaniah),[1][2][3] yang terdiri dari tiga jenis: kāma-taṇhā (nafsu atas kesenangan indrawi), bhava-taṇhā (nafsu atas kemenjadian, penjelmaan, atau keberadaan), dan vibhava-taṇhā (nafsu atas ketidakberadaan).[4][5]

Taṇhā juga disebut dalam Empat Kebenaran Mulia sebagai suatu entitas yang muncul bersama, atau eksis bersama dengan, dukkha (ketidaknyamanan, "berdiri tidak stabil") dan siklus kelahiran kembali, kemenjadian, dan kematian (saṃsāra).[1][2][4]

Secara tradisional, taṇhā bersifat negatif dan dibedakan dari keinginan atau hasrat (chanda) yang bersifat netral secara etis, tergantung faktor-faktor mental yang menyertainya. Dalam psikologi Buddhis, taṇhā beroperasi sebagai penggerak utama yang saling bertautan dengan tiga akar buruk (akusala-mūla). Berlandaskan pada avijjā (ketidaktahuan) atau moha (kebodohan batin) yang mengaburkan pandangan terhadap realitas (lihat Kemunculan Bersebab), taṇhā bermanifestasi sebagai lobha (keserakahan) dalam bentuk nafsu indrawi (kāma-taṇhā) dan nafsu akan kemenjadian (bhava-taṇhā). Namun, ketika keinginan tersebut terhalangi atau saat batin menghasratkan pemusnahan terhadap hal yang tidak menyenangkan (vibhava-taṇhā), kondisi ini memicu bangkitnya akar dosa (kebencian) dalam bentuk kemarahan, kekejaman, hingga kekerasan.[6][7][8] Dalam analisis teknis Abhidhamma Theravāda, taṇhā secara ontologis identik dengan faktor-mental lobha (keserakahan, ketamakan, atau loba).[9]

Penafsiran Theravāda

Bagian dari seri tentang
Buddhisme Theravāda
120px-Buddhism_dham_jak.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Buddhisme
20px-Flag_of_Buddhism.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail PortalBuddhisme

Hubungannya dengan dukkha

Istilah taṇhā muncul dalam Empat Kebenaran Mulia.[1][2][4] Berdasarkan pada Kebenaran Mulia Kedua, asal dari penderitaan (samudaya) diidentifikasi sebagai taṇhā (nafsu kehausan) yang menciptakan kemenjadian dan punarbawa (ponobhavikā); yang menyatu dengan keserakahan (nandīrāgasahagatā); dan yang mencari kesenangan saat ini dan yang akan datang (tatratatrābhinandinī).

Taṇhā dianggap sebagai penyebab utama penderitaan (dukkha) dan siklus kelahiran kembali (saṃsāra).[2][4][1] Dr. Walpola Rahula Mahāthera menjelaskan bahwa taṇhā memang sebab dukkha (penderitaan), tetapi bukanlah sebab satu-satunya. Taṇhā adalah sebab terdekat, paling jelas, dan langsung. Kemunculan taṇhā bergantung pada sesuatu yang lain, yaitu perasaan (vedanā). Perasaan (vedanā) muncul bergantung pada kontak (phassa) antara indra dan objeknya, dan seterusnya, sebagaimana dijelaskan dalam Kemunculan Bersebab. Beberapa teks kitab suci menjelaskan bahwa asal penderitaan juga termasuk pengotor batin dan noda-noda batin lainnya (kilesā, sāsavā dhammā), selain taṇhā yang berada di urutan pertama.[10] Buddha mengajarkan pengikut-Nya untuk melenyapkan taṇhā dengan mengikuti Jalan Mulia Berunsur Delapan.

Tiga jenis taṇhā

Terdapat tiga jenis taṇhā yang dijelaskan dalam berbagai diskursus Sutta Piṭaka, yaitu:

  • Kāma-taṇhā (nafsu atas kesenangan indrawi): bernafsu terhadap rasa senang atau kenikmatan indrawi.[11] Walpola Rahula menyatakan bahwa taṇhā jenis ini tidak hanya terbatas pada nafsu yang didasarkan pada pancaindra, kekayaan atau kekuasaan, tetapi juga nafsu terhadap gagasan atau idealisme, cara pandang, pendapat, teori, dan kepercayaan (dhamma-taṇhā).[12]
  • Bhava-taṇhā (nafsu atas kemenjadian atau keberadaan): bernafsu untuk menjadi sesuatu dan bersatu dengan suatu pengalaman. Nafsu ini terkait dengan ego, yaitu pencarian identitas tertentu dan nafsu untuk terlahir kembali untuk selamanya.[5] Menurut penjelasan yang lain, nafsu ini dipicu oleh pandangan yang salah tentang kehidupan kekal.[4][13]
  • Vibhava-taṇhā (nafsu atas ketidakmenjadian atau ketidakberadaan):[4] nafsu untuk tidak mengalami hal yang tidak menyenangkan dalam kehidupan saat ini atau masa depan, seperti orang-orang atau situasi yang tidak menyenangkan. Akibatnya, muncul keinginan untuk bunuh diri atau memusnahkan diri sendiri. Dalam kepercayaan Buddhis, tindakan tersebut hanya akan membuat mereka terlahir kembali ke alam kehidupan yang lebih buruk.[5] Menurut Phra Thepyanmongkol, nafsu ini dipicu oleh pandangan yang salah mengenai bunuh diri karena pelakunya mengira bahwa mereka tidak akan terlahir kembali.[13]

Taṇhā versus chanda

Secara tradisional, nafsu kehausan atau nafsu keinginan (taṇhā) bersifat negatif dan dibedakan dari keinginan atau hasrat (chanda) yang bersifat netral. Dalam tradisi Abhidhamma Theravāda, nafsu keinginan merupakan sebuah faktor mental tidak baik, sedangkan keinginan merupakan sebuah faktor mental sesekali.

Ajahn Sucitto menyatakan:[14]

"... Bahkan, Anda dapat meringkas keseluruhan latihan Dhamma sebagai transformasi taṇhā menjadi chanda [yang positif]."

Ajahn Jayasāro menyatakan:[15]

Penyajian ajaran Buddha di negara-negara Barat sering kali mengarah pada pemahaman bahwa penderitaan muncul karena keinginan, dan oleh karena itu Anda tidak boleh menginginkan apa pun. Padahal, sebenarnya Sang Buddha telah berbicara tentang dua macam keinginan: keinginan yang muncul dari ketidaktahuan dan delusi–yang disebut taṇhā–dan keinginan yang muncul dari kebijaksanaan dan pengetahuan, yang disebut kusala-chanda atau dhamma-chanda (keinginan yang baik, keinginan yang terukur), atau secara sederhana disebut chanda. Chanda tidak hanya bermakna hal ini saja, tetapi dalam kasus khusus ini saya menggunakan chanda dengan makna keinginan dan motivasi yang bijaksana dan disertai-pengetahuan, dan Sang Buddha menekankan bahwa hal ini mutlak diperlukan untuk kemajuan dalam Jalan Mulia Berunsur Delapan....

Bhikkhu Bodhi, dalam terjemahannya untuk Abhidhammattha-saṅgaha, menyatakan:

Sementara istilah-istilah yang terakhir (merujuk pada lobha dan rāga) selalu tidak baik, chanda adalah faktor yang bervariasi secara etis yang, ketika digabungkan dengan hal-hal yang baik, chanda dapat berfungsi sebagai keinginan yang baik untuk mencapai tujuan yang baik.[16]

Hubungannya dengan tiga akar buruk

Lihat pula: Tiga akar buruk
  12 Mata Rantai (nidāna) 
Kemunculan Bersebab:
Ketidaktahuan (avijjā)
↓
Formasi (saṅkhārā)
↓
Kesadaran (viññāṇa)
↓
Batin-&-Jasmani (nāmarūpa)
↓
6 Landasan Indra (saḷāyatana)
↓
Kontak (phassa)
↓
Perasaan (vedanā)
↓
Nafsu (taṇhā)
↓
Kemelekatan (upādāna)
↓
Kemenjadian (bhava)
↓
Kelahiran (jati)
↓
Tua & Mati (jarā-maraṇa)

Taṇhā (nafsu, kegandrungan) bisa berhubungan dengan tiga akar buruk:[6]

  • Avijjā (ketidaktahuan) atau moha (kebodohan batin), akar dari ketiga akar buruk tersebut, juga merupakan dasar dari taṇhā (lihat Kemunculan Bersebab).
  • Rāga atau lobha (keserakahan) setara dengan bhava-taṇhā (nafsu atas kemenjadian/keberadaan) dan kāma-taṇhā (nafsu atas kesenangan indrawi).
  • Dosa (kebencian) setara dengan vibhava-taṇhā (nafsu atas ketidakmenjadian/ketidakberadaan).

Menurut Rupert Gethin, taṇhā berhubungan dengan dosa (kebencian) dan moha (kebodohan/kekeliruan batin). Taṇhā mengarah pada kebencian, kemarahan, kekejaman, dan kekerasan, demikian menurut Gethin, yang merupakan keadaan tidak menyenangkan dan menyebabkan penderitaan bagi orang yang menghauskannya. Taṇhā didasarkan pada anggapan keliru, menurut Gethin, bahwa dunia itu kekal, tidak berubah, stabil, dan dapat diandalkan.[7]

Misalnya, dalam khotbah pertama-Nya, Sang Buddha mengidentifikasi taṇhā sebagai penyebab utama penderitaan. Namun, dalam khotbah ketiga-Nya, Ādittapariyāya Sutta ("Terbakar"), dan berbagai khotbah lainnya, Sang Buddha mengidentifikasi penyebab penderitaan sebagai "api" dari rāga, dosa, dan moha; dalam Ādittapariyāya Sutta, Buddha Gotama menyatakan bahwa Nibbāna diperoleh dengan memadamkan api-api tersebut.[8]

Lebih lanjut, kitab Vibhaṅga dalam Abhidhamma Piṭaka menjelaskan bahwa abhijjhā (ketamakan) merupakan sinonim dari rāga (nafsu ragawi) dan sārāga (kondisi yang dipenuhi nafsu ragawi).[17] Selain itu, dalam kitab Niddesa, sebuah kitab dalam Khuddaka Nikāya, taṇhā sering dijelaskan melalui rangkaian istilah diṭṭhi (pandangan salah) dan kilesa (pengotor batin). Dalam fungsi yang serupa, kilesa juga dikelompokkan bersama rāga (nafsu ragawi), dosa (kebencian), dan moha (kebodohan/kekeliruan batin) sebagai bagian dari faktor yang memengaruhi batin.[18]

Catatan

  1. ↑ Bedakan dari chanda, yang juga sering diterjemahkan sebagai "keinginan", tetapi bersifat netral secara etis.

Referensi

Sitasi

  1. 1 2 3 4 Rhys Davids & Stede 1921, hlm. 294.
  2. 1 2 3 4 Harvey 1990, hlm. 53.
  3. ↑ Gombrich & Obeyesekere 1988, hlm. 246.
  4. 1 2 3 4 5 6 Williams, Tribe & Wynne 2002, hlm. 43–44.
  5. 1 2 3 Harvey 2013, hlm. 63.
  6. 1 2 Loy 2003, hlm. 28.
  7. 1 2 Gethin 1998, hlm. 73–74.
  8. 1 2 Harvey 2013, hlm. 73.
  9. ↑ Kheminda 2019.
  10. ↑ Rahula 2019.
  11. ↑ Sucitto 2010, lokasi Kindle 943–946.
  12. ↑ Rahula 2007, lokasi Kindle 791–809.
  13. 1 2 Thepyanmongkol 2012, hlm. 314.
  14. ↑ Sucitto 2010, hlm. 50.
  15. ↑ Jayasaro 2014.
  16. ↑ Bodhi 1999, hlm. 82.
  17. ↑ Thamrin 2018, hlm. 14.
  18. ↑ Rhys Davids & Stede 1921, hlm. 216–217.

Daftar pustaka

Sumber buku

Sumber web

Bacaan lanjutan

  • Dalai Lama (1998). The Four Noble Truths. Thorsons.

Pranala luar

Didahului oleh:
Vedanā
12 mata rantai
Taṇhā
Diteruskan oleh:
Upādāna
40px-Buddhism_Symbol.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail   Topik Buddhisme   40px-Flag_of_Buddhism.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Buddhisme awal
Benua
Populasi signifikan
Aliran arus utama
Sinkretis
Theravāda
Mahāyāna-Vajrayāna
Kitab daring
Buddha saat ini dan keluarga
4 tempat suci utama
Buddha penting sebelumnya
Buddha selanjutnya
Bawahan
Mahāyāna-Vajrayāna
Jenis penganut
4 tingkat kemuliaan
Tempat ibadah
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan