Selasa, 20 Oktober 2026
03:26 WIB
TERKINI
Lampung Tengah Kebakaran Landa TPA Bandarjaya Lampung Tengah, Gas Metan Diduga Pemicu Utama Pesawaran Pesawaran Jadi Pelopor Lampung, Lantik Pengurus Abpednas di 11 Kecamatan Lampung Tengah Asap Tebal TPA Bandar Jaya Picu Tabrakan Beruntun di Tol Trans-Sumatera, Dua Korban Luka Lampung Prakiraan Cuaca Lampung 19 Oktober 2026: Waspada Hujan Malam Hari Lampung Aktivitas Gunung Anak Krakatau Tetap Siaga, Kegempaan Terus Terjadi Universitas Teknokrat Indonesia Mahasiswa Universitas Teknokrat Raih Empat Gelar Bergengsi di Kompetisi Bahasa Inggris Nasional Pesisir Barat Pesisir Barat Jalin Kemitraan Strategis, Dorong Akses Pendidikan Tinggi Terjangkau Universitas Teknokrat Indonesia Teknokrat dan PMD Pesawaran Bersinergi Wujudkan Desa Digital Berkelanjutan Humaniora Memperkuat Hak Konstitusional Perempuan Adat untuk Kedaulatan Bangsa Pesawaran Lampung Dorong Rantai Pasok Hijau Kakao, Kopi, Lada ke Pasar Global Lampung Tengah Kebakaran Landa TPA Bandarjaya Lampung Tengah, Gas Metan Diduga Pemicu Utama Pesawaran Pesawaran Jadi Pelopor Lampung, Lantik Pengurus Abpednas di 11 Kecamatan Lampung Tengah Asap Tebal TPA Bandar Jaya Picu Tabrakan Beruntun di Tol Trans-Sumatera, Dua Korban Luka Lampung Prakiraan Cuaca Lampung 19 Oktober 2026: Waspada Hujan Malam Hari Lampung Aktivitas Gunung Anak Krakatau Tetap Siaga, Kegempaan Terus Terjadi Universitas Teknokrat Indonesia Mahasiswa Universitas Teknokrat Raih Empat Gelar Bergengsi di Kompetisi Bahasa Inggris Nasional Pesisir Barat Pesisir Barat Jalin Kemitraan Strategis, Dorong Akses Pendidikan Tinggi Terjangkau Universitas Teknokrat Indonesia Teknokrat dan PMD Pesawaran Bersinergi Wujudkan Desa Digital Berkelanjutan Humaniora Memperkuat Hak Konstitusional Perempuan Adat untuk Kedaulatan Bangsa Pesawaran Lampung Dorong Rantai Pasok Hijau Kakao, Kopi, Lada ke Pasar Global

Saṅgharāja

Bagikan:
Bagian dari seri tentang
Buddhisme
120px-Dharma_Wheel_%282%29.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Keyakinan
Tiga corak
Gugusan
Faktor mental
Meditasi
Bakti
Praktik lainnya
Bagian dari seri tentang
Buddhisme Theravāda
120px-Buddhism_dham_jak.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Buddhisme
icon PortalBuddhisme

Saṅgharāja (Pali: saṅgha "sangha, komunitas monastik" + rāja "raja, pemimpin"; Indonesia: Raja Sangha) adalah gelar yang diberikan di banyak negara Buddhis Theravāda kepada seorang biku senior yang menjadi kepala tituler dari ordo-ordo monastik (nikāya), atau Saṅgha di seluruh negeri. Istilah ini sering diterjemahkan dalam bahasa Inggris sebagai 'Patriarch' atau 'Supreme Patriarch'.

Gambaran umum

Jabatan saṅgharāja telah ditetapkan dengan berbagai metode di berbagai negara dan periode waktu. Dalam beberapa kasus, saṅgharāja ditentukan oleh senioritas monastik absolut; saṅgharāja adalah biku yang telah menghabiskan masa vassa terbanyak sebagai biku. Dalam kasus lain, pengangkatan kerajaan di suatu daerah juga dapat memainkan peranan—saṅgharāja dapat diangkat oleh raja yang menjabat, khususnya di negara-negara Asia Tenggara dengan sistem monarki yang terkait erat dengan agama Buddha Theravāda (Thailand, misalnya). Alternatifnya, saṅgharāja dapat dipilih secara semi-demokratis oleh para biku atau umat awam (mirip dengan pemilihan kepala wihara di beberapa komunitas Theravāda).

Wewenang dan tanggung jawab yang diberikan kepada saṅgharāja juga dapat bervariasi secara signifikan. Secara tradisional, monastisisme Buddhis tidak memaksakan kewajiban kepatuhan tertentu kepada para biku. Biku mana pun dapat memberikan kritik terhadap biku lain berkenaan dengan pelanggaran aturan disiplin, dan seorang biku tidak terikat untuk mengikuti perintah atau anjuran biku lain—bahkan biku senior. Meski dalam praktiknya, rasa hormat yang diberikan kepada biku senior dan standar masyarakat setempat sering kali memberikan dorongan signifikan bagi permintaan biku senior untuk dipatuhi, meskipun tidak ada tuntutan tradisional atau tertulis untuk sikap seperti itu. Sebagian besar wihara–bahkan di daerah-daerah dengan saṅgharāja yang telah ditunjuk–tetap memiliki struktur pemerintahan sendiri atau, paling banyak, bergantung pada satu wihara yang lebih besar di wilayah yang sama.

Oleh karena itu, dalam beberapa kasus, saṅgharāja terutama merupakan tokoh figuran, titik fokus, dan juru bicara Buddhis, tetapi tidak disertai dengan wewenang tertentu. Bahkan tanpa wewenang atau tanggung jawab yang ditetapkan dengan jelas, seorang saṅgharāja sering kali dapat memengaruhi perubahan signifikan di negara Theravāda dengan menggunakan rasa hormat yang diberikan kepadanya dan jabatannya untuk memobilisasi para biku dan umat awam demi perubahan sosial atau keagamaan. Preah Maha Ghosananda dari Kamboja merupakan contoh dari tipe saṅgharāja ini. Ia berperan sebagai seseorang yang pengaruhnya terhadap komunitas agama lokal jauh melampaui otoritas monastik apa pun yang mungkin dimilikinya.

Dalam kasus lain, saṅgharāja mungkin menjadi bagian dari hierarki nasional atau regional yang bertanggung jawab untuk menyelesaikan isu-isu dengan kepentingan yang luasnya mencakupi saṅgha nasional. Patriark Tertinggi (Raja Sangha) Thailand beroperasi dalam cetakan ini, bekerja sama dengan pemerintahan sipil. Hierarki keagamaan pusat bertanggung jawab atas berbagai isu penting nasional dan regional, seperti kurikulum sekolah monastik, pembentukan bentuk-bentuk otoritatif untuk kitab suci dan ritual, serta isu-isu reformasi penting nasional, dengan menyerahkan sebagian besar keputusan lokal kepada kebijaksanaan wihara-wihara dan kepala wihara masing-masing (seperti penahbisan dan pendisiplinan biku-biku tertentu). Jabatan saṅgharaja saat ini tidak ada lagi di Sri Lanka karena tidak ada biku yang ditunjuk untuk posisi ini dalam dua abad terakhir. Para sesepuh dengan gelar mahānāyaka yang bertindak sebagai kepala ordo dari tiga ordo utama, yakni Siam Nikāya, Amarapura Nikāya, dan Rāmañña Nikāya (dua ordo terakhir kini digabung sebagai Amarapura–Rāmañña Nikāya) dianggap sebagai biku berpangkat tertinggi di Sri Lanka.

Saṅgharāja regional

Burma

250px-Thudhamma_Zayat.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
250px-Pahtan_Zayat.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Pemilihan Thathanapaing pada tahun 1902 diadakan di pusat ordo Thudhamma Nikāya dan Pahtan Zayats dekat Bukit Mandalay.

Pada Burma era pra-kolonial, saṅgharāja dikenal sebagai thathanabaing (သာသနာပိုင်, secara harfiah berarti 'Penjaga Sāsana") atau secara formal mahāsaṅgharājā (မဟာသံဃာရာဇာ), biasanya diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris sebagai "Primate". "Archbishop", atau "Supreme Patriarch".[1] Thathanabaing Burma menjabat sebagai kepala ordo biku di Burma pra-kolonial, hingga dihapuskan pada tahun 1938 oleh otoritas Inggris di Burma kolonial. Penetapan Patriarki Tertinggi (Raja Sangha) dimulai lagi sejak tahun 1980. Saat ini, Patriark Tertinggi ke-5 Myanmar adalah Thanlyin Mingyaung Sayadaw.

Sri Lanka

Di Sri Lanka, dari Kerajaan Polonnaruwa (abad ke-13) gelar saṅgharāja diinisiasi oleh raja Parakramabahu yang Agung. Pada awalnya, gelar saṅgharāja ini juga dikenal sebagai mahasami, kepala komunitas sangha di seluruh negeri. Biku Sri Lanka pertama yang menyandang gelar ini adalah Dimbulagala Maha Kassapa Maha Thero. Namun, beberapa sumber menyatakan bahwa Thotagamuwe Sri Rahula Thera dianugerahkan posisi saṅgharāja oleh Raja Parakramabahu VI sebagai saṅgharāja pertama Sri Lanka. Welivita Sri Saranankara Thero, yang ditunjuk pada posisi ini oleh Raja Kirthi Sri Rajasinghe pada tahun 1753, merupakan saṅgharāja terakhir Sri Lanka.

Kamboja

Artikel utama: Saṅgharāja Kamboja

Di Kamboja dan bekas kerajaan Khmer, saṅgharāja (Khmer: សង្ឃរាជ, sangkhareach) adalah seorang biku senior yang ditunjuk oleh raja yang memimpin salah satu persaudaraan wihara di negara tersebut. Dari periode antara tahun 1855 hingga awal era Khmer Merah, terdapat satu saṅgharāja untuk ordo Dhammayuttika Nikāya Kamboja, dan satu lagi untuk ordo Mahā Nikāya. Oleh karena ordo Dhammayuttika memiliki hubungan yang lebih dekat dengan takhta kerajaan, ordo ini secara resmi memiliki keunggulan di Kamboja meskipun hanya merupakan mayoritas kecil dari para biku Khmer.

Selama periode Khmer Merah, peran saṅgharāja pada dasarnya lenyap karena agama Buddha secara resmi ditindas terlebih dahulu oleh pemerintahan Khmer Merah. Republik Rakyat Kampuchea yang didukung Vietnam mulai mengubah pendiriannya untuk mendapatkan dukungan rakyat yang lebih luas atas kekuasaannya, dan Tep Vong yang terhormat diangkat menjadi saṅgharāja baru oleh pemerintah pada tahun 1981, dengan kedua nikaya digabungkan menjadi satu ordo yang bersatu.[2]

Sekembalinya dari pengasingan pada tahun 1991, Raja Sihanouk mengangkat Bour Kry sebagai saṅgharāja dari ordo Dhammayuttika sehingga mengembalikan Kamboja ke sistem dua patriark.[3] Oleh karena monarki tidak lagi memiliki status pemerintahan di Kamboja, kedua persaudaraan atau ordo tersebut sekarang secara resmi setara.[3] Gelar resmi lengkap dari Patriark Tertinggi (Raja Sangha) ordo Mahā Nikāya adalah Samdech Preah Sumedhādhipati, sedangkan gelar resmi lengkap dari Patriark Tertinggi (Raja Sangha) ordo Dhammayuttika Nikāya adalah Samdech Preah Sugandhādhipati.[4]

Thailand

Artikel utama: Saṅgharāja Thailand

Saṅgharāja (Thai: พระสังฆราช; RTGS: Phra Sangkharat) Thailand secara tradisional ditunjuk oleh raja, Rama I, yang menunjuknya sebagai orang pertama di zaman modern pada tahun 1782. Semenjak disahkannya Undang-Undang Sangha tahun 1902 pada masa pemerintahan Rama V, jabatan tersebut cenderung bergantian di antara para biku yang ditahbiskan dari ordo mayoritas Mahā Nikāya, dan dari ordo minoritas Dhammayuttika Nikāya. Ordo Dhammayuttika Nikāya dimulai sebagai gerakan reformasi dalam ordo Mahā Nikāya, yang didirikan oleh Pangeran Mongkut, saat ia menjadi kepala wihara dengan nama penahbisan Vajirañāṇo, sebelum meninggalkan kehidupan monastik untuk naik takhta sebagai Rama IV.

Laos

Saṅgharāja Laos secara tradisional ditunjuk oleh Raja Laos (dari Kerajaan Luang Phrabang).

Saṅgharāja modern

  • Sayadaw Phyagyi Ashin Cantimabhivamsa, saṅgharāja Myanmar saat ini
  • Somdet Phra Ariyavongsagatanana, saṅgharāja Thailand saat ini
  • Preah Maha Ghosananda, (ordo Mahā Nikāya) mendiang saṅgharāja Kamboja*
  • Samdech Preah Sugandhādhipati Bour Kry, saṅgharāja saat ini dari ordo Dhammayuttika Nikāya Kamboja
  • Samdech Preah Sumedhādhipati Non Nget, saṅgharāja ordo Mahā Nikāya Kamboja saat ini
  • Samdech Preah Agga Mahā Sangharājādhipati Tep Vong, agga saṅgharāja saat ini di Kamboja[5]

Pada tahun 1988, Maha Ghosananda dipilih sebagai Patriark Tertinggi (Raja Sangha) oleh sekelompok biku yang diasingkan di Paris, tetapi status ini tidak diakui secara resmi di Kamboja.[6] Selama periode yang sama, Tep Vong memegang jabatan yang sama dalam sangha Kamboja yang bersatu, dan setelah tahun 1991 sebagai Patriark Tertinggi ordo Mahā Nikāya.

Lihat pula

Catatan

  1. ↑ Twomey 1904.
  2. ↑ Harris 2001a, hlm. 75.
  3. 1 2 Harris 2001a, hlm. 77.
  4. ↑ Harris 2001a, hlm. 74.
  5. ↑ Chandara 2006.
  6. ↑ Harris 2001a, hlm. 70.

Bibliografi

Indonesia
120px-Buddhism_dham_jak.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Banglades
Kamboja
Myanmar
Sri Lanka
Tailan
Laos
40px-Buddhism_Symbol.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail   Topik Buddhisme   40px-Flag_of_Buddhism.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Buddhisme awal
Benua
Populasi signifikan
Aliran arus utama
Sinkretis
Theravāda
Mahāyāna-Vajrayāna
Kitab daring
Buddha saat ini dan keluarga
4 tempat suci utama
Buddha penting sebelumnya
Buddha selanjutnya
Bawahan
Mahāyāna-Vajrayāna
Jenis penganut
4 tingkat kemuliaan
Tempat ibadah
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan