Rabu, 28 Oktober 2026
19:17 WIB
TERKINI
Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK
Tujuh faktor pencerahan

Tujuh faktor pencerahan

Bagikan:
Kualitas spiritual untuk pencerahan BuddhisTemplat:SHORTDESC:Kualitas spiritual untuk pencerahan Buddhis
330px-Phra_Ajan_Jerapunyo-Abbot_of_Watkungtaphao..jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Biksu sedang bermeditasi di samping Bendungan Sirikit di Thailand.
Bagian dari seri tentang
Buddhisme
120px-Dharma_Wheel_%282%29.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Keyakinan
Tiga corak
Gugusan
Faktor mental
Meditasi
Bakti
Praktik lainnya
Bagian dari seri tentang
37 Syarat Pencerahan
(bodhipakkhiyā-dhammā)
Pipal.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail_unscaled
Buddhisme
4 usaha benar (sammappadhāna)
  • Cegah keburukan yang belum ada
  • Tinggalkan keburukan yang sudah ada
  • Munculkan kebajikan yang belum ada
  • Kembangkan kebajikan yang sudah ada
Samādhi yang dihasilkan dari:

Dalam Buddhisme, tujuh faktor pencerahan (Pali: satta bojjhaṅgā atau satta sambojjhaṅgā; Skt.: sapta bodhyanga), juga dikenal sebagai tujuh faktor kecerahan dan tujuh faktor penerangan sempurna, adalah:

  • Perhatian-penuh, penyadaran, atau pengingatan (Pali: sati; Sanskerta: smṛti). Untuk mempertahankan penyadaran akan realitas, khususnya ajaran (Dhamma).
  • Penyelidikan atau pembedaan fenomena-fenomena (dhamma vicaya; Skt.: dharmapravicaya).
  • Kegigihan atau energi (viriya; Skt.: vīrya) juga dikenal sebagai usaha, upaya.
  • Kegembiraan atau kegiuran (pīti; Skt.: prīti).
  • Ketenteraman (passaddhi; Skt.: prashrabdhi) baik tubuh maupun pikiran.
  • Konsentrasi (samādhi) keadaan pikiran yang tenang dan terpusat,[1] atau "sepenunhya mengungkap potensi terpendam atau saṅkhāra ke permukaan"[2]
  • Keseimbangan atau ketidakberpihakan batin (upekkhā; Skt.: upekshā). Untuk menerima realitas apa adanya (yathā-bhūta) tanpa keserakahan ataupun kebencian.

Evaluasi dari tujuh faktor pencerahan ini merupakan salah satu dari "tujuh kelompok" "kondisi yang berkaitan dengan pencerahan" (bodhipakkhiyādhammā).

Kata Pali bojjhaṅga adalah gabungan dari bodhi ("kecerahan," "pencerahan") dan aṅga ("faktor").[3]

Etimologi

Satta sambojjhaṅgā:

  • satta – tujuh;
  • sam- - awalan yang berarti lengkap, penuh, tertinggi;
  • bojjh(i) < bodhi – sebuah kata benda abstrak yang dibentuk dari akar kata kerja *budh- (bangun, menjadi sadar, memperhatikan, mengetahui, atau memahami) yang berhubungan dengan kata kerja bujjhati (Pāli) dan bodhati atau budhyate (Sanskerta);
  • aṅga – bagian dari keseluruhan; faktor, penyebab.[4]

Sastra Pali

Dalam kitab Saṁyuttanikāya dari Suttapiṭaka, bojjhaṅga merujuk pada faktor-faktor duniawi yang bermanfaat yang mengarah pada pencerahan. Dalam kitab-kitab komentar Abhidhamma dan kepustakaan Pali, bojjhaṅga cenderung merujuk pada faktor-faktor adiduniawi yang terjadi bersamaan dengan pencerahan.[5]

Suttapiṭaka

Menurut sebuah khotbah dalam Saṁyuttanikāya yang berjudul "Bhikkhu Sutta" (SN 46.5):

[Bhikkhu:] "Yang Mulia, dikatakan, 'faktor-faktor pencerahan, faktor-faktor pencerahan.' Dalam pengertian apa mereka disebut faktor pencerahan?"
[Buddha:] "Faktor-faktor tersebut mengarah pada pencerahan, bhikkhu, oleh karena itu mereka disebut faktor-faktor pencerahan...."[6]

Selama meditasi, seseorang dapat merenungkan kualitas-kualitas tujuh faktor pencerahan serta kualitas-kualitas kebalikannya, yaitu lima rintangan batin (kesenangan indriawi, niat jahat, kemalasan-kelambanan, kegelisahan-kekhawatiran, keragu-raguan).[7] Selain itu, salah satu sutta Saṁyuttanikāya mengidentifikasi pengembangan setiap faktor pencerahan dengan disertai oleh masing-masing dari empat brahmawihara (cinta kasih, welas asih, simpati, keseimbangan batin).[8]

Dalam "Khotbah Api" Saṁyuttanikāya (SN 46.53), Sang Buddha mengidentifikasi bahwa sati (perhatian-penuh) itu "selalu berguna/bermanfaat" (sabbatthika); sedangkan, ketika pikiran seseorang sedang dikuasai middha (kelambanan), ia harus mengembangkan faktor pencerahan berupa dhamma-vicaya (penyelidikan), viriya (energi/usaha), dan piti (kegembiraan/kegiuran); dan, ketika pikiran seseorang sedang dikuasai uddhacca (kegelisahan), ia harus mengembangkan faktor pencerahan berupa passaddhi (ketenteraman), samādhi (konsentrasi), dan upekkhā (keseimbangan batin).[9]

Kembali menurut Saṁyuttanikāya, suatu ketika saat Sang Buddha sakit parah, Beliau meminta Yang Mulia Mahacunda untuk melafalkan Tujuh Faktor Pencerahan kepada-Nya. Dengan cara demikian, Sang Buddha sembuh dari penyakit yang diderita-Nya.[10]

Kitab ikhtisar

Dalam Visuddhimagga, pada bagian yang membahas keterampilan yang dibutuhkan untuk pencapaian dan pemeliharaan jhāna (penyerapan batin), Buddhaghosa mengidentifikasi bojjhaṅga dengan cara berikut:

  • "Perhatian-penuh (sati) yang kuat ... dibutuhkan dalam semua keadaan...."
  • "Ketika pikirannya mengendur dengan kelambanan (middha) karena terlalu banyak energi (viriya) yang terkuras, dll., maka ... ia harus mengembangkan [ketiga faktor pencerahan tersebut] yang diawali dengan penyelidikan fenomena..." (yaitu, dhamma vicaya, viriya, piti).
  • "Ketika pikirannya gelisah (uddhacca) karena terlalu berenergi (viriya), dll., maka ... ia harus mengembangkan [ketiga faktor pencerahan tersebut] yang diawali dengan ketenteraman..." (yaitu, passaddhi, samādhi, upekkhā).[11]

Meditasi

Menyeimbangkan Faktor Pencerahan dan Rintangan Batin

Menyeimbangkan faktor pencerahan dan rintangan batin
Faktor pencerahan Rintangan batin
untuk digunakan saat mengalami
kemalasan & kelambanan
(thīna-middha)
untuk pulihkan perhatian-penuh (sati)
  • Perhatian-penuh (sati)
faktor penyeimbang
untuk digunakan saat mengalami
kegelisahan & kekhawatiran
(uddhacca-kukkucca)
untuk pulihkan perhatian-penuh (sati)

Tujuh faktor pencerahan berkaitan erat dengan praktik jhāna, menyerupai berbagai faktor yang merupakan bagian dari empat jhāna.[12]

Dalam meditasi, kemungkinan besar setiap orang mengalami dua dari lima rintangan (Pāli: pañca nīvaraṇāni). Keduanya adalah kemalasan dan kelambanan (Pāli: thīna-middha), yang merupakan tindakan setengah hati dengan sedikit atau tanpa keterpusatan batin, serta kegelisahan dan kekhawatiran (uddhacca-kukkucca), yang merupakan ketidakmampuan untuk menenangkan batin.[butuh rujukan]

Seperti yang ditunjukkan di atas, dalam "Khotbah Api" (SN 46.53), direkomendasikan bahwa penyelidikan (dhamma-vicaya), energi (viriya), dan kegembiraan (pīti) harus dikembangkan saat mengalami kemalasan dan kelambanan (thīna-middha). Ketenteraman (passaddhi), konsentrasi (samādhi), dan keseimbangan batin (upekkhā) harus dikembangkan saat mengalami kegelisahan atau kekhawatiran (uddhacca-kukkucca). Perhatian-penuh (sati) harus senantiasa hadir agar tetap waspada terhadap perubahan fisik maupun perubahan mental baik ke arah yang baik (kusala) maupun tidak baik (akusala).[9]

Lihat pula

Referensi

Catatan

  1. ↑ Lihat, mis., Rhys Davids & Stede (1921–1925), entri untuk "Samādhi," diakses 3 Feb. 2011 dari "U.Chicago" di "The Pali Text Society's Pali-English dictionary". Diakses tanggal 2012-08-17.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: layanan pengarsipan yang sudah usang (link) .
  2. ↑ Lusthaus (2014), hlm. 113.
  3. ↑ Sebagai contoh, lihat Rhys Davids & Stede (1921–1925), hlm. 490, entri untuk "Bojjhanga" (diakses 10 Jul 2007).[pranala nonaktif]
  4. ↑ Critical Pali Dictionary, aṅga
  5. ↑ Bodhi (2000), hlm. 1499.
  6. ↑ Bhikkhu Sutta (SN 46.5), terj. Bodhi (2000), hlm. 1574. Lihat juga Walshe (2007), n. 265.
  7. ↑ Untuk contoh khotbah yang menyertakan penjajaran dua rangkaian fenomena ini, lihat Satipatthana Sutta. Untuk kelompok khotbah di mana dua rangkaian fenomena ini disejajarkan, lihat SN 46.31 hingga 46.40 (Bodhi (2000), hlm. 1501, 1589–94).
  8. ↑ SN 46.54, yang dikenal juga sebagai Mettaasahagata Sutta (CSCD) atau Metta Sutta (SLTP) atau Metta.m Sutta (PTS Feer). Lihat Bodhi (2000), hlm. 1607–11; Walshe (2007), hlm. 71–73, sutta 59.
  9. 1 2 "Khotbah Api" (Aggi Sutta, SN 46.53) (Bodhi (2000), hlm. 1605–7; Walshe (2007), hlm. 69–70, sutta 58).
  10. ↑ Gilana Sutta (SN 46.16) Piyadassi Thera (1999); Piyadassi Thera (t.t.) Pranala usang diarsipkan 2012-07-24 di archive.today
  11. ↑ Buddhaghosa (1999), hlm. 129, 131. Perhatikan bahwa Buddhaghosa dengan jelas merujuk pada enam bojjhanga terakhir dalam dua pernyataan yang dikutip terakhir. Pernyataan pertama tentang sati (perhatian-penuh), meskipun disebutkan tepat sebelum bojjhanga, secara teknis merujuk pada lima indra spiritual (indriya). Lihat juga SN 46.53 (Bodhi (2000), hlm. 1605–7; Walshe (2007), hlm. 69–70, sutta 58).
  12. ↑ Gethin (2001), ch. 5; dan Arbel (2018).

Karya yang dikutip

Pranala luar

40px-Buddhism_Symbol.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail   Topik Buddhisme   40px-Flag_of_Buddhism.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Buddhisme awal
Benua
Populasi signifikan
Aliran arus utama
Sinkretis
Theravāda
Mahāyāna-Vajrayāna
Kitab daring
Buddha saat ini dan keluarga
4 tempat suci utama
Buddha penting sebelumnya
Buddha selanjutnya
Bawahan
Mahāyāna-Vajrayāna
Jenis penganut
4 tingkat kemuliaan
Tempat ibadah
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan