Senin, 02 November 2026
00:18 WIB
TERKINI
Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK
Nalakubara

Nalakubara

putra Kuwera dalam agama Hindu

Bagikan:
Nalakubara
Dewa gairah dan hasrat
250px-Krishna_Splits_the_Double_Arjuna_Tree.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Kresna membebaskan Nalakubara dan Manibadra dari kutukan.
Nama lainNalakuwera, Kuweraputra, Mayuraja, Kamayaksa
AfiliasiDewa, yaksa
KediamanAlakapuri
MantraOm Kuberaputra Kamyukshaha Nalakubera Namah
Senjatabusur dan anak panah
Wahanaburung beo
HariSenin
Keluarga
Orang tua
SaudaraManibadra (Manigriwa)
PasanganRamba, Perti, Somapraba, Ratnamala
AnakSumita (dari Ramba) dan Citranggadata (dari Perti)

Nalakubara (Dewanagari: नलकूबर; ,IAST: Nalakūbara, नलकूबर) adalah dewa dalam mitologi Hindu dan Buddha sebagai saudara Manibadra (juga dikenal sebagai Manigriwa), putra raja yaksa Kuwera (juga dikenal sebagai Waisrawana), dan suami Ramba dan Ratnamala. Nalakubara sering muncul sebagai sosok petualang cinta dalam sastra Hindu dan Buddha.

Nama

Berbagai pustaka berbahasa Sanskerta dan Prakerta menggunakan nama "Nalakubara", "Nalakūvala", "Mayuraja", "Narakuvera", dan "Naṭakuvera" untuk menggambarkan putra Kuwera. Dewa ini juga muncul dalam sastra Tiongkok sebagai "Nazha", dan akhirnya disebut "Nezha", transliterasi singkat dari kata "Nalakuvara".[1]

Legenda

Dalam wiracarita Hindu Ramayana dikisahkan bahwa Ramba (istri pertama Nalakubara) diperkosa oleh Rahwana, pamannya. Nalakubara pun mengutuk agar Rahwana tidak akan pernah bisa mendekati wanita muda lain kecuali wanita itu berbagi cintanya. Namun jika Rahwana melakukan kekerasan terhadap wanita mana pun yang tidak mencintainya, maka kepalanya akan terbelah menjadi tujuh bagian.[2] Kutukan ini melindungi kesucian Sinta, istri Rama yang diculik oleh Rahwana.[3]

Dalam kitab Bhagawatapurana dikisahkan bahwa Nalakubara dan Manigriwa (saudara kandungnya) dikutuk oleh Resi Narada menjadi pohon.[4] Peristiwa itu bermula ketika Nalakubara dan Manigriwa sedang bersenang-senang di sungai Gangga dengan istri masing-masing (dalam versi lain disebut para bidadari), sambil minum arak dan tanpa busana. Tak dinyana, Resi Narada melewati mereka dalam perjalanannya mengunjungi kediaman Wisnu. Ketika melihat Narada, para wanita segera menutupi diri, sementara Nalakubara dan Manigriwa dalam keadaan mabuk dan tetap telanjang.

Menurut beberapa versi cerita, Narada merasa kasihan kepada kedua bersaudara itu karena menyia-nyiakan hidup dengan cara berfoya-foya bersama wanita dan arak. Untuk membantu mereka menyadari kesalahan, Narada mengutuk mereka menjadi dua pohon. Narada berharap kelak mereka akan dijumpai oleh awatara (penjelmaan) Dewa Wisnu, yang akan membebaskan mereka dari kutukan tersebut. Dalam kisah lain, diceritakan bahwa Narada sangat tersinggung oleh kurangnya sopan santun dan rasa hormat kedua bersaudara itu, sehingga dia mengutuk mereka menjadi pohon. Setelah mereka memohon-mohon, Narada setuju agar mereka dibebaskan jika Kresna (penjelmaan Wisnu) menyentuh mereka.[5][6]

Bertahun-tahun kemudian pada zaman Dwaparayuga, Dewa Wisnu menjelma sebagai manusia bernama Kresna. Saat Kresna masih balita, Yasoda (ibu asuhnya) mengikatnya ke sebuah lesung agar dia tidak berkeliaran dan memakan tanah. Kresna menyeret lesung tersebut hingga terjepit di antara dua pohon jelmaan Nalakubara dan Manigriwa. Setelah pohon itu disentuh Kresna, mereka kembali ke wujud semula. Kedua bersaudara itu kemudian memberi hormat kepada Kresna, meminta maaf atas kesalahan mereka sebelumnya, lalu pergi.[7]

Referensi

  1. ↑ Shahar, Meir (2014). "Indian Mythology and the Chinese Imagination: Nezha, Nalakubara, and Krshna". Dalam John Kieschnick and Meir Shahar (ed.). India in the Chinese Imagination. University of Pennsylvania Press. hlm. 27. ISBN 978-0-8122-4560-8.
  2. ↑ "Ramayana of Valmiki, Book 7: Uttara kanda: Chapter 26". Wisdom Library. 28 September 2020.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  3. ↑ Puranic Encyclopedia: a comprehensive dictionary with special reference to the epic and Puranic literature, Vettam Mani, Motilal Banarsidass, Delhi, 1975, p. 519.
  4. ↑ Parmeshwaranand (2001). Encyclopaedic Dictionary of Puranas, Volume 1. Sarup & Sons. ISBN 9788176252263. Diakses tanggal 9 Mei 2014.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  5. ↑ Prabhupada, His Divine Grace A. C. Bhaktivedanta Swami; Prabhupada, Disciples of His Divine Grace A. C. Bhaktivedanta Swami (1977-12-31). Srimad-Bhagavatam, Tenth Canto: The Summum Bonum (dalam bahasa Inggris). The Bhaktivedanta Book Trust. ISBN 978-91-7149-643-0.
  6. ↑ www.wisdomlib.org (2019-01-28). "Story of Nalakūbara". www.wisdomlib.org (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2022-10-23.
  7. ↑ Shahar, Meir (2014). "Indian Mythology and the Chinese Imagination: Nezha, Nalakubara, and Krshna". Dalam John Kieschnick and Meir Shahar (ed.). India in the Chinese Imagination. University of Pennsylvania Press. hlm. 35. ISBN 978-0-8122-4560-8.
Konsep
Hindu omkaar
Dewa
individual
Dewi
individual
Aditya
Dasawatara
Dikpala
Mahawidya
Matrika
Nawadewata
Nawadurga
Nawagraha
Trimurti
Brahma
Wisnu
Siwa
Dewa
Dewi
Dewa
Dewi
Artikel terkait: Brahman ·Tuhan dalam agama Hindu
Ikon rintisan

Artikel bertopik agama Hindu ini adalah sebuah rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia dengan mengembangkannya.

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan