Rabu, 04 November 2026
17:53 WIB
TERKINI
Tuba Barat Mewujudkan Haji: Pemkab Tubaba dan BSI Ajak Masyarakat Menabung Sejak Dini Lampung Timur Bupati Ela Dekatkan Diri dengan Siswa, Pastikan Kualitas Pendidikan dan Gizi di Lampung Timur Tuba Barat Kemitraan Strategis Pemkab Tubaba dan Kejari: Wujudkan Tata Kelola Pemerintahan Akuntabel Bandar Lampung Mantan Ketua DPRD Lampung Bersaksi dalam Sidang Arinal Djunaidi Bandar Lampung Senator Bustami Zainudin dan Staf DPD Lampung Ikuti Program Cek Kesehatan Gratis Bandar Lampung Padatnya Agenda Pemprov Lampung 2 November 2026: Dari Apel Hingga Forum Ekonomi Bandar Lampung Imigrasi Lampung Ungkap Modus Kawin Pesanan, Empat WNA China Diamankan di Pesawaran Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Tuba Barat Mewujudkan Haji: Pemkab Tubaba dan BSI Ajak Masyarakat Menabung Sejak Dini Lampung Timur Bupati Ela Dekatkan Diri dengan Siswa, Pastikan Kualitas Pendidikan dan Gizi di Lampung Timur Tuba Barat Kemitraan Strategis Pemkab Tubaba dan Kejari: Wujudkan Tata Kelola Pemerintahan Akuntabel Bandar Lampung Mantan Ketua DPRD Lampung Bersaksi dalam Sidang Arinal Djunaidi Bandar Lampung Senator Bustami Zainudin dan Staf DPD Lampung Ikuti Program Cek Kesehatan Gratis Bandar Lampung Padatnya Agenda Pemprov Lampung 2 November 2026: Dari Apel Hingga Forum Ekonomi Bandar Lampung Imigrasi Lampung Ungkap Modus Kawin Pesanan, Empat WNA China Diamankan di Pesawaran Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan
Landok Sampot

Landok Sampot

salah satu tarian di Indonesia

Bagikan:
330px-Landok_Sampot.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Tari Landok Sampot

Landok Sampot adalah salah satu tari persembahan yang berasak dari Provinsi Aceh. Tari ini merupakan seni pertunjukan yang berkembang di Kecamatan Kluet Tengah dan Kecamatan Kluet Timur, Kabupaten Aceh Selatan. Landok Sampot bermakna sebagai tarian persembahan untuk para tamu ataupun orang-orang penting, yang dikemas dalam upacara adat.[1]

Latar Belakang

Tari Landok Sampot merupakan salah satu bentuk tari adat yang secara tradisional diselenggarakan dalam rangkaian upacara adat tertentu. Pada masa lalu, tarian ini berkembang di lingkungan kerajaan di wilayah Kluet, Aceh Selatan, dan pelaksanaannya bersifat eksklusif. Hanya kalangan raja dan keluarga kerajaan yang berhak menyelenggarakannya, terutama dalam upacara penting seperti perkawinan, sunat Rasul (khitan),[2] serta berbagai ritual adat lain. Masyarakat umum pada masa itu tidak diperkenankan menampilkan tarian ini tanpa persetujuan dari raja. Dalam hal waktu pelaksanaan, Tari Landok Sampot tidak terikat pada satu waktu tertentu, melainkan disesuaikan dengan jenis upacara yang berlangsung. Pada upacara perkawinan, tarian ini umumnya dipentaskan pada malam hari sebagai bagian dari rangkaian perayaan, sedangkan dalam upacara sunat Rasul lebih sering dilaksanakan pada siang hari.[3]

Seiring dengan perkembangan zaman, fungsi dan kedudukan Tari Landok Sampot mengalami perubahan. Jika sebelumnya terbatas pada lingkungan kerajaan, kini tarian ini dapat dipentaskan secara lebih luas di tengah masyarakat. Selain tetap digunakan dalam konteks adat, Tari Landok Sampot juga kerap ditampilkan dalam berbagai acara resmi, termasuk penyambutan tamu kenegaraan, tanpa lagi dibatasi oleh keharusan berasal dari masyarakat asli Kluet.[4]

Etimologi

Secara etimologis, istilah Landok Sampot berasal dari bahasa Aceh Kluet, yang terdiri atas kata landok yang berarti “tari” dan sampot yang bermakna “lecut” atau “libas”. Istilah ini sekaligus mencerminkan tema yang diangkat dalam pertunjukannya, yaitu kisah perkelahian dua orang pemuda yang saling memperebutkan seorang putri raja. Dalam cerita tersebut, sang raja menetapkan bahwa putrinya hanya akan dinikahkan dengan pemuda yang paling gagah, berani, serta mampu mengalahkan lawannya. Pertarungan ini divisualisasikan melalui rangkaian gerak yang dinamis, tegas, dan menyerupai aksi saling melibas. Dari keseluruhan struktur geraknya, Tari Landok Sampot merepresentasikan latar belakang kepahlawanan yang menonjolkan nilai keberanian, kekuatan, dan jiwa kesatria, di mana pemenang pertarungan berhak mempersunting sang putri.[5]

Struktur dan ragam gerak

Dalam penyajiannya, Tari Landok Sampot memiliki susunan ragam gerak yang tersusun dalam beberapa tahapan, yang sekaligus menjadi dasar pembentukan struktur tari. Urutan tersebut meliputi Landok Kedidi, Landok Kedayung, Landok Sembar Kelukai, Landok Sampot, dan Landok permainan pedang. Setiap bagian memiliki karakteristik gerak yang berbeda dan merepresentasikan simbol tertentu. Landok Kedidi menggambarkan gerak burung kedidi yang lincah dengan hentakan cepat, sedangkan Landok Kedayung menampilkan gerakan menyerupai aktivitas mendayung sampan. Landok Sembar Kelukai memperlihatkan gerak menyambar yang tegas, terinspirasi dari burung pemangsa. Pada bagian Landok Sampot, gerakan difokuskan pada aksi melecut atau melibas menggunakan alat berbahan bambu menyerupai gagang pancing. Adapun Landok permainan pedang menonjolkan unsur ketangkasan dan kekuatan melalui penggunaan properti pedang. Meskipun demikian, urutan penyajian ragam gerak tersebut tidak bersifat baku, melainkan dapat disesuaikan dengan kebutuhan dan konteks upacara, sehingga tidak semua bagian harus selalu ditampilkan dalam setiap pertunjukan.[3]

Musik pengiring

Tari Landok Sampot dimainkan oleh delapan penari pria dewasa, dengan seorang penyanyi yang menyanyikan syair-syair pengiring gerak tari. Iringan musik tradisional terdiri dari gong, suling, dua buah canang, dan dua buah gendang. Perubahan gerak dari satu bagian ke bagian lainnya dilakukan melalui jeda singkat atau mengikuti berakhirnya syair yang dinyanyikan vokalis. Penari bergerak dalam formasi yang telah ditetapkan, baik ke kanan-kiri, depan-belakang, maupun membentuk barisan, sehingga seluruh gerak tari tersusun harmonis dan mencerminkan urutan gerak dasar yang telah ditentukan. Maestro Tari Landok Sampot yang terkenal adalah Nailul Autar, dan tradisi pertunjukan ini hingga kini masih dipertahankan.[3]

Busana tari

Pakaian yang dikenakan penari Tari Landok Sampot terdiri dari baju berwarna merah dengan potongan menyerupai kemeja dan leher berbentuk segitiga, serta celana hitam polos. Penari juga menggunakan kain pinggang yang menutupi pinggul dan tengkuluk sebagai penutup kepala. Busana ini tidak hanya menunjang estetika pertunjukan, tetapi juga mendukung ekspresi gerak serta identitas budaya yang terkandung dalam tarian.[5]

Sumber

  1. ↑ wardibudaya (2017-10-09). "Landok Sampot, Penetapan Warisan Budaya Tak Benda 2017 dari Aceh". Direktorat Warisan dan Diplomasi Budaya. Diakses tanggal 2020-01-14.
  2. ↑ Efendi, Feni; S.I.Pust, Ipil Susanti (2025-05-20). Pajacombo: Dinamika Sosial dan Budaya di Payakumbuh. Penerbit Fahmi Karya. hlm. 25. ISBN 978-623-8646-86-9.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  3. 1 2 3 Ensiklopedi musik dan tari daerah Propinsi Daerah Istimewa Aceh. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Pusat Penelitian Sejarah dan Budaya, Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Kebudayaan Daerah. 1986. hlm. 119–121.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  4. ↑ Warisan Budaya Tak Benda Indonesia Tahun 2017. Jakarta: Direktorat Warisan dan Diplomasi Budaya. 2017.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  5. 1 2 "TARI LANDOK SAMPOT – ISBI ACEH" (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2020-01-14.
Aceh
Alas-Kluet
Batak
Gayo
Kerinci
Lampung
Melayu
Mentawai
Minangkabau
Nias
Palembang
Rejang, Kaur,
Mukomuko,
dan Serawai
Singkil
Tamiang
Bantenan
Betawi
Cirebon-Indramayu
Jawa
Madura
Sunda
Banjar
Bulungan
Dayak
Melayu Kalimantan
Kutai Kartanegara
Paser
Tidung
Alor
Bali
Bima dan Sumbawa
Flores
Sasak
Sumba
Timor
Bugis, Makassar,
Bone, dan Luwu
Buton, Muna, dan Wakatobi
Gorontalo
Mandar
Minahasa
Bolaang dan Mongondow
Padoe
Bare'e, Pamona, dan Kaili
Sangihe, Talaud,
dan Siau Tagulandong
Biaro
Toraja
Arfak
Asmat
Biak
Dani
Fakfak
Isirawa
Mimika (Kamoro)
Kep. Maluku Tengah dan Selatan
Kep. Maluku Utara
Moi
Sentani
Serui dan Waropen
Lain-lain
India-Indonesia
Arab-Indonesia
Tionghoa-Indonesia
Eropa-Indonesia
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan