Sabtu, 24 Oktober 2026
00:17 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Polisi Hadir di Jalanan: Ratusan Makan Siang Gratis Eratkan Hubungan Warga Bandar Lampung Bandar Lampung Ancaman Serius TNBBS: 23 Kasus Pidana Kehutanan Terungkap dalam Satu Dekade Bandar Lampung Penipuan Rekrutmen Honorer Rp20 Juta di Bandar Lampung Berakhir Damai Bandar Lampung Transformasi 40 Tahun FISIP Unila: Dari Prestasi Global hingga Riset Solutif Lampung Bandar Lampung Sinergi Lintas Sektor: TNBBS Perkuat Penegakan Hukum Lingkungan dengan Enam Strategi Bandar Lampung Dorong Gaya Hidup Sehat, Pemkot Bandar Lampung Dukung Jalan Sehat Akbar di Panjang Bandar Lampung Peringatan Petugas Diabaikan, Pemotor Tewas Tertabrak Kereta Babaranjang di Bandar Lampung Lampung Selatan Kolom Abu Anak Krakatau Capai 500 Meter, Warga Lampung Selatan Diimbau Waspada Pesawaran Unila Dampingi Orkes Gambus Al-Anwar: Tradisi Bertemu Teknologi Modern Bandar Lampung Kualitas Udara Bandar Lampung: Kelompok Sensitif Diminta Tetap Waspada Bandar Lampung Polisi Hadir di Jalanan: Ratusan Makan Siang Gratis Eratkan Hubungan Warga Bandar Lampung Bandar Lampung Ancaman Serius TNBBS: 23 Kasus Pidana Kehutanan Terungkap dalam Satu Dekade Bandar Lampung Penipuan Rekrutmen Honorer Rp20 Juta di Bandar Lampung Berakhir Damai Bandar Lampung Transformasi 40 Tahun FISIP Unila: Dari Prestasi Global hingga Riset Solutif Lampung Bandar Lampung Sinergi Lintas Sektor: TNBBS Perkuat Penegakan Hukum Lingkungan dengan Enam Strategi Bandar Lampung Dorong Gaya Hidup Sehat, Pemkot Bandar Lampung Dukung Jalan Sehat Akbar di Panjang Bandar Lampung Peringatan Petugas Diabaikan, Pemotor Tewas Tertabrak Kereta Babaranjang di Bandar Lampung Lampung Selatan Kolom Abu Anak Krakatau Capai 500 Meter, Warga Lampung Selatan Diimbau Waspada Pesawaran Unila Dampingi Orkes Gambus Al-Anwar: Tradisi Bertemu Teknologi Modern Bandar Lampung Kualitas Udara Bandar Lampung: Kelompok Sensitif Diminta Tetap Waspada

Tari Wutukala

salah satu tarian di Indonesia

Bagikan:

Tari Wutukala adalah salah satu tarian tradisional masyarakat Suku Moy di Papua Barat. Tarian ini menggambarkan aktivitas masyarakat saat berburu ikan. Biasanya tarian ini dilakukan secara berkelompok atau berpasangan antara penari pria dan penari wanita. Tari Wutukala merupakan salah satu tarian tradisional yang cukup terkenal di Papua Barat, khususnya daerah pesisir Sorong di mana masyarakat Suku Moy tinggal. Tarian ini biasanya ditampilkan di berbagai acara seremonial adat di sana.[1]

Sejarah

Tari Wutukala ini merupakan tarian yang menggambarkan aktivitas masyarakat Suku Moy saat berburu ikan. Suku Moy sendiri merupakan salah satu suku yang tinggal di wilayah pesisir Sorong, Papua Barat. Sejak dulu sebagian besar masyarakat di sana memang berprofesi sebagai nelayan atau pemburu ikan. Menurut sejarahnya, pada zaman dahulu masyarakat Suku Moy hanya menggunakan tombak sebagai alat untuk mencari ikan.[1]

Namun seiring dengan semakin susahnya mencari ikan dengan alat tersebut, mereka kemudian menggunakan bubuk akar tuba untuk memudahkan mereka dalam mencari ikan. Bubuk akar tuba ini digunakan karena mengandung sejenis racun ringan sehingga membuat ikan pusing dan mudah untuk ditangkap. Selanjutnya, para wanita mulai menangkap ikan-ikan yang pusing dan bermunculan di permukaan air. Panen ikan pun terjadi dan hasilnya mereka bagikan ke seluruh masyarakat suku Moy. Cara mencari ikan ini kemudian menjadi tradisi di masyarakat Suku Moy dan untuk memperingati inovasi tersebut, mereka tuangkan dalam suatu tarian yang disebut Tari Wutukala ini.[1]

Makna Tari Wutukala

Tari Wutukala difungsikan untuk mengucap rasa syukur kepada perkembangan serta inovasi yang mereka lakukan dalam mata pencaharian mereka sebagai nelayan dari waktu ke waktu. Selain itu, tarian ini juga dimaknai sebagai ungkapan rasa syukur masyarakat atas limpahan berkat yang mereka dapatkan dari tersebut. Hal ini menunjukan sebuah sikap terbuka yang dimiliki suku Moy terhadap perubahan kehidupan yang terjadi. Biasanya, tarian ini dilakukan oleh seorang tetua adat dan diikuti oleh beberapa pemuda yang menggambarkan semangat suku Moy dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan.[1]

Pertunjukan Tari Wutukala

Tari Wutukala biasanya dibawakan oleh para penari pria dan penari wanita. Untuk jumlah penari Tari Wutukala ini biasanya terdiri dari 5-6 pasang penari pria dan wanita. Dalam pertunjukannya penari menggunakan pakaian adat serta perlengkapan menari seperti tombak untuk penari pria dan noken (tas wadah ikan) yang digunakan oleh para penari wanita. Dengan diiringi iringan lagu dan musik pengiring penari menari dengan gerakannya yang khas dan penuh keceriaan.[1]

Gerakan dalam Tari Wutukala ini menggambarkan aktivitas masyarakat saat berburu ikan. Gerakan tersebut seperti gerakan menangkap ikan dengan tombak oleh penari pria dan gerakan mengambil hasil tangkapan oleh para penari wanita. Gerakan dalam Tari Wutukala ini cukup variatif dan setiap gerakan tentu memiliki makna tersendiri di dalamnya.[1]

Pengiring Tari Wutukala

Dalam pertunjukan Tari Wutukala biasanya diiringi oleh musik tradisional tifa atau taburah (alat tiup Papua yang berasal dari cangkang kerang raksasa).[2] Selain itu ada juga beberapa yang menambahkan beberapa alat musik seperti gitar, bass, ukulele dan lain-lain agar lebih menarik. Selain musik pengiring, Tari Wutukala juga diiringi oleh lagu daerah yang menggambarkan keceriaan dan rasa syukur masyarakat. Irama musik pengiring yang dimainkan tentu disesuaikan dengan lagu-lagu tersebut.[1]

Lagu Atawenani

Salah satu lagu tersebut adalah Lagu Atawenani. Atawenani menceritakan tentang kisah para nelayan suku Moy yang mencari ikan dengan tombak, tetapi mengalami kesulitan. Atawenani adalah sebuah lagu pengiring tari Wutukala dengan makna yang berisi ucapan syukur dan kebahagiaan Suku Moy.[2]

Kostum Tari Wutukala

Kostum yang digunakan para penari dalam pertunjukan Tari Wutukala ini biasanya merupakan busana tradisional. Pada penari pria biasanya hanya menggunakan busana seperti rok terbuat dari akar dan daun-daun yang dipasang di pinggang mereka. Sedangkan pada bagian kepala, penari pria menggunakan penutup kepala yang terbuat dari bulu-bulu Cendrawasih. Selain itu pada bagian tubuh mereka juga diwarnai dengan lukisan etnik berwarna hitam dan putih. Untuk penari wanita biasanya menggunakan busana yang hampir sama seperti para penari pria tetapi lebih disesuaikan.[1]

Perkembangan Tari Wutukala

Dalam perkembangannya, Tari Wutukala masih terus dilestarikan dan dikembangkan oleh masyarakat di sana. Berbagai kreasi dan variasi juga sering ditambahkan di setiap pertunjukannya, baik dalam segi gerak, kostum, maupun pengiringnya agar terlihat menarik. Selain itu tarian ini juga tidak hanya ditampilkan dalam seremonial adat saja, tetapi juga sering ditampilkan di berbagai acara budaya seperti pertunjukan seni, festival budaya, serta promosi pariwisata. Hal ini tentu dilakukan sebagai bagian dari usaha pelestarian dan memperkenalkan kepada generasi muda serta masyarakat luas akan budaya yang mereka miliki.[1]

Referensi

  1. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 "Tari Wutukala Tarian Tradisional dari Papua Barat". Diarsipkan dari asli tanggal 2020-02-27. Diakses tanggal 2020-03-15.
  2. 1 2 "Adaptasi Dalam Makna Lagu Atawenani". Indonesia Kaya. Diakses tanggal 2021-09-08.


Aceh
Alas-Kluet
Batak
Gayo
Kerinci
Lampung
Melayu
Mentawai
Minangkabau
Nias
Palembang
Rejang, Kaur,
Mukomuko,
dan Serawai
Singkil
Tamiang
Bantenan
Betawi
Cirebon-Indramayu
Jawa
Madura
Sunda
Banjar
Bulungan
Dayak
Melayu Kalimantan
Kutai Kartanegara
Paser
Tidung
Alor
Bali
Bima dan Sumbawa
Flores
Sasak
Sumba
Timor
Bugis, Makassar,
Bone, dan Luwu
Buton, Muna, dan Wakatobi
Gorontalo
Mandar
Minahasa
Bolaang dan Mongondow
Padoe
Bare'e, Pamona, dan Kaili
Sangihe, Talaud,
dan Siau Tagulandong
Biaro
Toraja
Arfak
Asmat
Biak
Dani
Fakfak
Isirawa
Mimika (Kamoro)
Kep. Maluku Tengah dan Selatan
Kep. Maluku Utara
Moi
Sentani
Serui dan Waropen
Lain-lain
India-Indonesia
Arab-Indonesia
Tionghoa-Indonesia
Eropa-Indonesia
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan