Tari Ransansahabe juga disebut Ransang atau Dangsang Sahabe, adalah tarian istana tradisional Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara. Tarian ini lahir dari lingkungan istana Kerajaan Tabukan di wilayah Tabukan sekitar tahun 1700, setelah sebuah sayembara untuk mengisi kekosongan jabatan raja. Sayembara tersebut diikuti dua tokoh bersaudara, Dalero dan Pandialang, dan Dalero keluar sebagai pemenang. Pandialang, yang hanya menjadi Jogugu di Sahabe, menciptakannya sebagai tarian tandingan atas tari Alabadiri ciptaan Dalero. Kedua tarian ini memiliki banyak kesamaan dan menggambarkan semangat dalam bentuk teater. Tarian ini memakai perisai, yang melambangkan pelindung dan menjadi dasar lambang Kabupaten Kepulauan Sangihe. Tari ini merupakan tarian perang, yang melambangkan kesiapan atau kesiagaan seorang prajurit mempertahankan wilayahnya dan pengamanan pemerintahan. Alat yang digunakan adalah kelung dan bara. Biasanya tari ini ditampilkan saat kunjungan tamu terhormat atau upacara Tulude.[1]
Rujukan
Lihat pula
=Pranala luar
|
|---|
|
|
|
|
|
|
|---|
| Arfak | |
|---|
| Asmat | |
|---|
| Biak | |
|---|
| Dani | |
|---|
| Fakfak | |
|---|
| Isirawa | |
|---|
| Mimika (Kamoro) | |
|---|
| Kep. Maluku Tengah dan Selatan | |
|---|
| Kep. Maluku Utara | |
|---|
| Moi | |
|---|
| Sentani | |
|---|
| Serui dan Waropen | |
|---|
|
|
|
|