Tari Alabadiri adalah tarian istana tradisional dari Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara. Tarian ini diciptakan Raja Markus Dalero dari Tabukan pada abad ke-18 untuk memperingati kemenangannya. Konon, seorang pejabat Belanda yang kagum menyebutnya Albardir, artinya pengawal, lalu lidah warga Sangihe mengubahnya menjadi Alabadiri. Tarian ini menggambarkan pengawal raja dan dibawakan 13 penari, sesuai jumlah pengawal di atas perahu. Penari laki-laki membawa properti seperti kulubalang dan kaliau, diiringi tambor serta dipimpin seorang pangataseng. Gerakannya terdiri dari beberapa tahap dan sarat makna, misalnya kulubalang yang melambangkan kerukunan rakyat dan pemerintah. Kini Alabadiri dipentaskan untuk menyambut tamu terhormat dan terus dikembangkan menjadi tari kreasi baru.[1]
Rujukan
Lihat pula
=Pranala luar
|
|---|
|
|
|
|
|
|
|---|
| Arfak | |
|---|
| Asmat | |
|---|
| Biak | |
|---|
| Dani | |
|---|
| Fakfak | |
|---|
| Isirawa | |
|---|
| Mimika (Kamoro) | |
|---|
| Kep. Maluku Tengah dan Selatan | |
|---|
| Kep. Maluku Utara | |
|---|
| Moi | |
|---|
| Sentani | |
|---|
| Serui dan Waropen | |
|---|
|
|
|
|