Tari Tuitan adalah tarian adat masyarakat Bolaang Mongondow, Sulawesi Utara. Konon tarian ini sudah ada sejak masa Raja Don Fernando Tadohe sekitar tahun 1600 atau (1608 – 1644), dan awalnya dipakai untuk mengawal raja menuju medan perang serta menjemputnya sepulang berperang. Dahulu tarian ini dikenal dengan nama Kabasarang in Datoe. Para penari, umumnya sembilan orang, membawa tombak dan kaleau, yaitu perisai, dengan gerakan menyerupai pertempuran. Sebelum menari, tetua adat atau guhanga melantunkan Dodandonan, permohonan kepada leluhur agar penari tidak kerasukan. Kini Tuitan ditampilkan untuk menyambut tamu kehormatan dan mengawal pengantin pria dalam pernikahan adat Mongondow. Tarian ini tetap lestari sebagai warisan budaya leluhur masyarakat Bolaang Mongondow.[1]
Rujukan
- ↑ "Dijemput Dengan Tarian Tari Tuitan, Kapolda Sulut Kunker di Polres Kotamobagu". polri.go.id. Diakses tanggal 2 Oktober 2026.
Lihat pula
=Pranala luar
| |||||||||||||||||||||||||||||||||
| |||||||||||||||||||||||||||||||||
| |||||||||||||||||||||||||||||||||
| |||||||||||||||||||||||||||||||||
| |||||||||||||||||||||||||||||||||
| |||||||||||||||||||||||||||||||||
| |||||||||||||||||||||||||||||||||