Jumat, 02 Oktober 2026
00:43 WIB
TERKINI
Berita Komjen Suyudi Paparkan Visi 'Polisi Bersama Masyarakat' untuk Transformasi Polri Berita Jalan Mulus Komjen Suyudi: Komisi III DPR Setujui Pimpin Polri Berita DPR RI Resmi Lantik Komjen Suyudi Ario Seto sebagai Kapolri Baru Lampung Prakiraan Cuaca Lampung 1 Oktober 2026: Waspada Hujan Lebat dan Angin Kencang Ekonomi Dan Bisnis Harga Emas Antam 1 Oktober 2026 Turun, Cek Rincian Lengkapnya Sekarang Cuaca Waspada! 325 Titik Panas Terdeteksi di Lampung, Ancaman Karhutla Meningkat Regional Menko PMK Muhadjir Effendy Kunjungi Anjir Batola, Perkuat Sinergi Pembangunan Wilayah Editorial Macan Kemayoran Raih Poin Penuh di Kandang Laskar Antasari Bandar Lampung Buaya Coki Menjalani Adaptasi di Sumsel Usai Perjalanan Panjang dari Lampung Berita Puan Maharani Atur Pertemuan Susulan Megawati dan Prabowo: Nasi Goreng Menanti Berita Komjen Suyudi Paparkan Visi 'Polisi Bersama Masyarakat' untuk Transformasi Polri Berita Jalan Mulus Komjen Suyudi: Komisi III DPR Setujui Pimpin Polri Berita DPR RI Resmi Lantik Komjen Suyudi Ario Seto sebagai Kapolri Baru Lampung Prakiraan Cuaca Lampung 1 Oktober 2026: Waspada Hujan Lebat dan Angin Kencang Ekonomi Dan Bisnis Harga Emas Antam 1 Oktober 2026 Turun, Cek Rincian Lengkapnya Sekarang Cuaca Waspada! 325 Titik Panas Terdeteksi di Lampung, Ancaman Karhutla Meningkat Regional Menko PMK Muhadjir Effendy Kunjungi Anjir Batola, Perkuat Sinergi Pembangunan Wilayah Editorial Macan Kemayoran Raih Poin Penuh di Kandang Laskar Antasari Bandar Lampung Buaya Coki Menjalani Adaptasi di Sumsel Usai Perjalanan Panjang dari Lampung Berita Puan Maharani Atur Pertemuan Susulan Megawati dan Prabowo: Nasi Goreng Menanti
Bedaya

Bedaya

salah satu tarian di Indonesia

Bagikan:
Bedaya
250px-Young_dancers_at_the_kraton_%28royal_palace%29_of_Yogyakarta%2C_Java%2C_Indonesia.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Latihan tari bedaya di Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat
InstrumenGamelan
AsalJawa

Bedaya (bahasa Jawa:ꦧꦼꦣꦪ, translit. Bedhaya) merupakan tarian klasik Jawa yang berkembang di lingkungan keraton sebagai bagian dari tradisi budaya kerajaan takhta Mataram. Tarian ini dibawakan dengan gerakan yang halus, tenang, dan cenderung bersifat kontemplatif, biasanya diiringi alunan gamelan yang sederhana dalam sebagian besar pertunjukannya. Penarinya umumnya perempuan, meskipun ada pula versi bedhaya kakung yang diperankan oleh laki-laki. Koreografi bedaya sering kali terinspirasi dari gagasan atau pengalaman raja yang kemudian diwujudkan dalam bentuk tari simbolis. Tarian ini lazim dipentaskan dalam upacara resmi keraton, seperti peringatan kenaikan takhta raja (tingalan jumenengan dalem).[1] Jumlah penari berbeda-beda tergantung asalnya, yaitu sembilan orang untuk tradisi dari Kasunanan Surakarta dan Kesultanan Yogyakarta, sedangkan dari Mangkunegaran dan Pakualaman biasanya terdiri dari tujuh penari.[2][3][4]

Definisi

Tari Bedhaya berasal dari kata ambudhaya, yang menurut Wedha Pradangga berarti “jajar-jajar sami beksa sarta tinabuhan ing gangsa Lokananta (gending kemanak) binarung ing kidung sekar kawi utawa sekar ageng.” Dalam pengertian praktis, Bedhaya adalah tarian yang dilakukan dalam posisi berbaris, diiringi gamelan Lokananta serta nyanyian Sekar Kawi atau Sekar Ageng.[5] Tari ini bukan ditujukan untuk tontonan umum, melainkan merupakan bagian dari upacara atau atribut kerajaan Jawa, khususnya di Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta.[6]

Di keraton, Bedhaya ditarikan oleh sembilan penari lajang dengan gerakan, tata rias, dan kostum yang seragam. Tarian ini menyampaikan suatu cerita, umumnya bertema perang atau percintaan, dengan cara yang abstrak. Untuk memahami alur cerita, seseorang perlu mengenal cakepan sindhenan, pola lantai (gawang), serta simbol-simbol dalam koreografi dan kostum. Ekspresi wajah penari Bedhaya bersifat tetap dan statis nyaris seperti topeng, berbeda dengan dramatari yang menampilkan ekspresi wajah untuk mendukung karakter tokoh.[7]

Simbol

Bedhaya memiliki nilai ritual dan dikaitkan dengan tradisi keraton. Di Surakarta, salah satu bentuk yang dikenal adalah Bedhaya Ketawang, sedangkan di Yogyakarta dikenal sebagai Bedhaya Semang. Pementasan tari ini melibatkan penari yang masih lajang, berada dalam kondisi tertentu, serta menjalani rangkaian persiapan sebelum tampil. Praktik ini berkaitan dengan aspek spiritual dalam pelaksanaannya, yang dalam beberapa kajian dihubungkan dengan tradisi semedi, sebagaimana tercatat dalam kebiasaan Sultan Agung Hanyakrakusuma yang melakukan semedi dalam konteks pencarian petunjuk.[6]

Jumlah sembilan penari dalam Bedhaya memiliki makna simbolik yang beragam. C.A. Van Peursen mengaitkannya dengan sembilan syakti Dewa Siwa, sesuai pemikiran Hindu yang menjadi dasar kepercayaan para ningrat Jawa.[8] Prabawa menafsirkan angka sembilan sebagai simbol mikrokosmos manusia, ditandai oleh organ tubuh yaitu jantung, kepala, dua lengan, dua tungkai, leher, dada, dan kelamin, sehingga setiap penari memiliki peran simbolis sendiri.[9] Dalam Bedhaya Yogyakarta, penari diberi nama endhel, bathak, jangga, apit ngajeng, apit wingking, dhadha, endhel wedalan ngajeng, endhel wedalan wingking, dan buntil, sementara di Surakarta nama-nama sedikit berbeda, yaitu bathak, endhel, endhel ajeg, endhel weton, apit ngarep, apit mburi, gulu, dada, dan buncit.[6]

Interpretasi lain menyebut sembilan sebagai jumlah lubang tubuh manusia yang harus “ditutup” melalui tari agar terhindar dari godaan nafsu jahat dan memperoleh petunjuk dari Tuhan Yang Maha Esa.[10] Setyoasih melihat angka sembilan sebagai pancaran rasa, yang meliputi cinta, tawa, kesedihan, kemarahan, semangat, ketakutan, kemuakan, keheranan, dan ketenteraman hati.[11] Sejarah Bedhaya Ketawang dimulai pada masa Sultan Agung, yang menciptakan Gendhing Ketawang setelah mendapatkan inspirasi dari semedinya. Sultan kemudian memilih delapan putri dari pejabat istana untuk menari, dan menambahkan satu penari lagi sebagai bathak, sehingga jumlah penari menjadi sembilan. Simbol sembilan ini juga dikaitkan dengan jumlah wali pada masa kekuasaan Mataram Islam. Hingga kini, Bedhaya tetap menjadi milik keraton dan ditarikan oleh abdi keraton, mempertahankan makna ritual dan simbolik yang telah berlangsung sejak abad ke-17.[6]

Beberapa bedaya

Bedaya tergolong sebagai tarian klasik keraton yang biasanya diajarkan dalam pendidikan tari dan dibawakan oleh penari yang sudah berpengalaman. Dalam beberapa jenis bedaya, terdapat ketentuan khusus bagi penarinya, seperti harus masih perawan, tidak sedang mengalami menstruasi, serta menjalani ritual tertentu seperti puasa sebagai bagian dari persiapan sebelum pementasan.[12]

Bedaya Ketawang
Artikel utama: Tari Bedaya Ketawang

Tarian ini adalah pusaka Karaton Kasunanan Surakarta Hadiningrat dan ditarikan oleh sembilan penari putri setiap perayaan jumenengan dalem (wisuda/pelantikan) Sri Susuhunan di Surakarta. Konon tarian ini diciptakan oleh Ingkang Sinuhun Sultan Agung Prabhu Hanyakrakusuma. Durasi awal tarian ini adalah dua setengah jam kemudian dipadatkan menjadi sekitar satu setengah jam. Tari Bedhaya Ketawang mengisahkan perjumpaan antaraPanembahan Senopati dengan Kanjeng Ratu Kidul yang kemudian menghasilkan sebuah ikatan janji di antara keduanya untuk saling melindungi dan menjaga keberlangsungan masing-masing kerajaan.[13][14]

Bedaya Anglirmendhung

Tarian ini adalah pusaka Kadipaten Praja Mangkunegaran. Pencipta resminya adalah Mangkunegara I (Raden Mas Said) untuk mengenang pertempuran yang dipimpinnya melawan pasukan gabungan Surakarta dan VOC di Ponorogo tahun 1752.[15][16]

Bedaya Semang

Artikel utama: Bedaya Semang

Tari bedaya ini adalah tarian pusaka di Karaton Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat. Tari ini dibawakan oleh sembilan orang penari perempuan. Tari ini mengisahkan pertemuan Panembahan Senopati dengan Kanjeng Ratu Kidul. Diperkirakan penciptaan tari ini terjadi masa pemerintahan Sri Sultan Hamengkubuwana I. Tari bedaya Semang digelar untuk kepentingan ritual istana, seperti peristiwa jumenengan.[17][18]

Bedaya Arjuna Wiwaha

Tari Bedhaya Arjuna Wiwaha (atau Bedhaya Herjuna Wijaya/Wiwaha) adalah pusaka Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Pencipta resminya adalah Sri Sultan Hamengkubuwono X yang bernama kecil GRM Herjuno (Arjuna).[19]

Referensi

  1. ↑ "Tari Bedhaya". budaya.jogjaprov.go.id. Diakses tanggal 2025-06-17.
  2. ↑ Nursanty, Eko (2020-12-01). KAWASAN WARISAN KOTA SURAKARTA Studi tentang Otentisitas Kota. Cv Cendekia Press. hlm. 123. ISBN 978-623-6659-79-3.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  3. ↑ ACHMAD, SRI WINTALA (2018-11-30). Etika Jawa : Pedoman Luhur dan Prinsip Hidup Orang Jawa. Araska Publisher. hlm. 178. ISBN 978-602-300-470-6.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  4. ↑ Dewa Ruci: jurnal pengkajian & penciptaan seni. Program Pendidikan Pascasarjana, Sekolah Tinggi Seni Indonesia Surakarta. 2011. hlm. 99.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  5. ↑ Prajapangrawit, 1990: 5, dalam Prabawa, W. S. (1990). Bedhaya Anglirmendhung Monumen Perjuangan Mangkunegara 11757-1988. hlm 114. Program Pascasarjana, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.
  6. 1 2 3 4 Wahyudiyanto. (2016). Tari gaya Surakarta: Perspektif repertoar tari Klana, tari Gunungsari, dan tari Golek Manis (Edisi pertama). Revka Petra Media.
  7. ↑ Supanggah, R. (2007). Bothekan Karawitan II: Garap. hlm. 124–125. ISI Press
  8. ↑ C.A Van peursen. Strategi Kebudayaan. hlm.18. Yogyakarta: Yayasan Kanisius, 1976.
  9. ↑ Prabawa, W. S. (1990). Bedhaya Anglirmendhung Monumen Perjuangan Mangkunegara 11757-1988. hlm 119. Program Pascasarjana, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta
  10. ↑ GPH. Brontodiningrat 1982, Prodjopangrawit, 1990:57 dalam Rusini, 1999. Tari Bedhaya Suryosumirat, kreasi Pura Mangkunegaran di akhir abad XX. hlm. 122. Laporan Penelitian STSI Surakarta
  11. ↑ Setyoasih, Sri, 2000. Bedhaya Sukoharjo Kasunanan Surakarta, Tinjauan Struktur Koreografi. hlm 32. Laporan Penelitian STSI Surakarta.
  12. ↑ Liputan6.com (2023-06-07). "Tari Bedhaya Ketawang, Tarian Kebesaran Surakarta yang Sakral". liputan6.com. Diakses tanggal 2026-03-20.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Nama numerik: daftar penulis (link)
  13. ↑ developer, mediaindonesia com. "Menyambung Rasa dalam Bedaya". mediaindonesia.com. Diakses tanggal 2026-03-20.
  14. ↑ Kompasiana.com (2025-01-02). "Bedhaya Ketawang tarian khas Keraton Surakarta sebagai Bedhaya paling Sakral dan Istimewa". KOMPASIANA. Diakses tanggal 2026-03-20.
  15. ↑ "Tari Bedhaya Anglir Mendung, Tarian Sejarah Perjuangan Mangkunegara I". Tempo. 2 Maret 2023 | 05.41 WIB. Diakses tanggal 2026-03-20.{{cite web}}: Periksa nilai tanggal dalam: |date=
  16. ↑ Media, Kompas Cyber (2022-03-02). "Mengenal Tari Bedhaya Anglir Mendung, Tarian Sakral dari Puro Mangkunegaran dalam Prosesi Jumeneng KGPAA Mangkunegara". KOMPAS.com. Diakses tanggal 2026-03-20.
  17. ↑ Redaksi, Tim (2022-04-16). "Mitos Nyai Lara Kidul: Sumber Ide Tari Bedhaya Semang dan Ruwatan". Nusantara Institute. Diakses tanggal 2026-01-26.{{cite web}}: |last= memiliki nama generik
  18. ↑ Hostetler, Jan (1982). "Bedhaya Semang: The Sacred Dance of Yogyakarta". Archipel. 24 (1): 127–142. doi:10.3406/arch.1982.1774.
  19. ↑ Admadipurwa, Purwadmadi (2018). Yogya: ragam ekspresi budaya : kumpulan esai. Dinas Kebudayaan, Daerah Istimewa Yogyakarta. ISBN 978-602-53183-6-8.

Pranala luar

Media terkait Tari Bedhaya di Wikimedia Commons

Aceh
Alas-Kluet
Batak
Gayo
Kerinci
Lampung
Melayu
Mentawai
Minangkabau
Nias
Palembang
Rejang, Kaur,
Mukomuko,
dan Serawai
Singkil
Tamiang
Bantenan
Betawi
Cirebon-Indramayu
Jawa
Madura
Sunda
Banjar
Bulungan
Dayak
Melayu Kalimantan
Kutai Kartanegara
Paser
Tidung
Alor
Bali
Bima dan Sumbawa
Flores
Sasak
Sumba
Timor
Bugis, Makassar,
Bone, dan Luwu
Buton, Muna, dan Wakatobi
Gorontalo
Mandar
Minahasa
Bolaang dan Mongondow
Padoe
Bare'e, Pamona, dan Kaili
Sangihe, Talaud,
dan Siau Tagulandong
Biaro
Toraja
Arfak
Asmat
Biak
Dani
Fakfak
Isirawa
Mimika (Kamoro)
Kep. Maluku Tengah dan Selatan
Kep. Maluku Utara
Moi
Sentani
Serui dan Waropen
Lain-lain
India-Indonesia
Arab-Indonesia
Tionghoa-Indonesia
Eropa-Indonesia
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan