Kamis, 05 November 2026
10:36 WIB
TERKINI
Tuba Barat Mewujudkan Haji: Pemkab Tubaba dan BSI Ajak Masyarakat Menabung Sejak Dini Lampung Timur Bupati Ela Dekatkan Diri dengan Siswa, Pastikan Kualitas Pendidikan dan Gizi di Lampung Timur Tuba Barat Kemitraan Strategis Pemkab Tubaba dan Kejari: Wujudkan Tata Kelola Pemerintahan Akuntabel Bandar Lampung Mantan Ketua DPRD Lampung Bersaksi dalam Sidang Arinal Djunaidi Bandar Lampung Senator Bustami Zainudin dan Staf DPD Lampung Ikuti Program Cek Kesehatan Gratis Bandar Lampung Padatnya Agenda Pemprov Lampung 2 November 2026: Dari Apel Hingga Forum Ekonomi Bandar Lampung Imigrasi Lampung Ungkap Modus Kawin Pesanan, Empat WNA China Diamankan di Pesawaran Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Tuba Barat Mewujudkan Haji: Pemkab Tubaba dan BSI Ajak Masyarakat Menabung Sejak Dini Lampung Timur Bupati Ela Dekatkan Diri dengan Siswa, Pastikan Kualitas Pendidikan dan Gizi di Lampung Timur Tuba Barat Kemitraan Strategis Pemkab Tubaba dan Kejari: Wujudkan Tata Kelola Pemerintahan Akuntabel Bandar Lampung Mantan Ketua DPRD Lampung Bersaksi dalam Sidang Arinal Djunaidi Bandar Lampung Senator Bustami Zainudin dan Staf DPD Lampung Ikuti Program Cek Kesehatan Gratis Bandar Lampung Padatnya Agenda Pemprov Lampung 2 November 2026: Dari Apel Hingga Forum Ekonomi Bandar Lampung Imigrasi Lampung Ungkap Modus Kawin Pesanan, Empat WNA China Diamankan di Pesawaran Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan
Ritual

Ritual

rangkaian tindakan dengan makna simbolis di dalamnya yang dilakukan utamanya untuk makna tersebut

Bagikan:
250px-Gandrung_banyuwangi.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Sebuah tarian ritual Jawa yang dipersembahkan kepada dewi padi dan kesuburan, Dewi Sri

Ritual adalah istilah umum yang merujuk kepada rangkaian kegiatan berupa gerakan, nyanyian, doa, dan bacaan, menggunakan perlengkapan, baik dilakukan secara sendirian maupun bersama-sama, dipimpin oleh seseorang.[1] Ritual dilaksanakan dalam rangka menjalin hubungan secara transendental dengan sesuatu yang dianggap sebagai Yang Maha Kuasa. Biasanya, ritual terangkai dalam berbagai bentuk simbolis di dalam pelaksanaannya dan juga memiliki stratifikasi sifat kesakralan/keseriusan dalam pengertian di dalam kelompok tertentu. Dalam hal ini karena ritual sendiri sering kali dilakukan secara repetitive maupun sesekali saja pada perayaan di kelompok tertentu. Maka ritual dapat dikatakan sebagai sebuah kegiatan yang hanya dapat dimaknai secara serius ataupun biasa saja. Secara pelaksanaannya semua dilakukan berdasarkan rules tertentu, pada pengertian tradisional dapat dikatakan mempunyai nilai dan sifat yang merujuk pada bentuk yang sakral dan kaku, biasanya di dalam masyarakat atau kelompok tradisional memiliki ciri relasi vertikal dan ilahiah. Namun dalam pengertian modern ritual dapat berupa sebuah kegiatan yang dilakukan untuk mendapatkan orientasi horizontal tertentu, tanpa harus terhubung dengan relasi vertikal ke-ilahiah-an itu.

Etimologi

Kata bahasa Inggris ritual berasal dari bahasa Latin ritualis, "yang berkaitan dengan ritual (ritus)". Dalam hukum Romawi dan penggunaan agama, ritus adalah cara yang terbukti (mos) untuk melakukan sesuatu,[2] atau "kinerja yang benar, kebiasaan".[3] Konsep asli ritus mungkin terkait dengan Sanskrit ṛtá ("tatanan yang terlihat)" dalam agama Veda, "tatanan yang sah dan teratur dari struktur normal, dan karena itu tepat, alami, dan benar dari peristiwa kosmik, duniawi, manusia, dan ritual".[4] Kata "ritual" pertama kali tercatat dalam bahasa Inggris pada tahun 1570, dan mulai digunakan pada tahun 1600-an untuk berarti "tatanan yang ditentukan untuk melakukan ibadah keagamaan" atau lebih khusus lagi sebuah buku berisi tata cara tersebut.[5]

Ritual Penderitaan

Antropolog Victor Turner mendefinisikan ritual penderitaan sebagai tindakan yang bertujuan untuk mengurangi pengaruh roh atau kekuatan supernatural yang menimpa manusia dengan nasib buruk, penyakit, masalah ginekologis, cedera fisik, dan kemalangan lainnya.[6] Ritual ini dapat mencakup bentuk-bentuk ramalan roh (berkonsultasi dengan peramal) untuk menetapkan penyebab—dan ritual yang menyembuhkan, memurnikan, mengusir, dan melindungi. Kemalangan yang dialami dapat mencakup kesehatan individu, tetapi juga masalah yang lebih luas terkait iklim seperti kekeringan atau wabah serangga. Ritual penyembuhan yang dilakukan oleh dukun sering mengidentifikasi gangguan sosial sebagai penyebabnya, dan menjadikan pemulihan hubungan sosial sebagai obatnya.[7]

Turner menggunakan contoh ritual Isoma di antara suku Ndembu di barat laut Zambia untuk mengilustrasikan hal ini. Ritual Isoma yang bertujuan untuk menyembuhkan kemandulan pada wanita yang tidak memiliki anak. Kemandulan adalah akibat dari "ketegangan struktural antara garis keturunan matrilineal dan perkawinan virilokal" (yaitu, ketegangan yang dirasakan seorang wanita antara keluarga ibunya, kepada siapa ia harus setia, dan keluarga suaminya di antara siapa ia harus tinggal). "Karena wanita tersebut terlalu dekat dengan 'pihak laki-laki' dalam pernikahannya, maka arwah leluhurnya yang telah meninggal telah mengganggu kesuburannya." Untuk memperbaiki keseimbangan garis keturunan matrilineal dan perkawinan, ritual Isoma secara dramatis menenangkan arwah yang telah meninggal dengan mengharuskan wanita tersebut untuk tinggal bersama kerabat ibunya.[8] Ritual perdukunan dan ritual lainnya dapat menghasilkan penyembuhan psikoterapi, yang mendorong para antropolog seperti Jane Atkinson untuk membuat teori tentang bagaimana hal itu terjadi. Atkinson berpendapat bahwa efektivitas ritual perdukunan bagi seorang individu mungkin bergantung pada pengakuan khalayak yang lebih luas terhadap kekuatan dukun, yang dapat menyebabkan dukun lebih menekankan pada keterlibatan audiens daripada penyembuhan pasien.[9]

Referensi

  1. ↑ Busro, Busro. "Ritual siklus kehidupan di Cirebon".
  2. ↑ Festus, entri tentang ritus, hlm. 364 (edisi Lindsay).
  3. ↑ Barbara Boudewijnse, "Akar Inggris dari Konsep Ritual," dalam Agama dalam Pembuatan: Munculnya Ilmu Agama (Brill, 1998), hlm. 278.
  4. ↑ Boudewijnse, "Akar Konsep Ritual Inggris," hlm. 278.
  5. ↑ Boudewijnse, "Akar Konsep Ritual Inggris," hlm. 278, mengutip Kamus Bahasa Inggris Oxford.
  6. ↑ Turner (1973). sfnp error: tanpa target: CITEREFTurner1973 (bantuan)
  7. ↑ Turner (1967), hlm. 9ff. sfnp error: tanpa target: CITEREFTurner1967 (bantuan)
  8. ↑ Turner (1969), hlm. 20–21. sfnp error: tanpa target: CITEREFTurner1969 (bantuan)
  9. ↑ Atkinson, Jane (1987). "The Effectiveness of Shamans in an Indonesian Ritual". American Anthropologist. 89 (2): 342. doi:10.1525/aa.1987.89.2.02a00040.

https://www.viva.co.id/vstory/sejarah-vstory/1176230-asal-usul-tradisi-tahlilan-di-tanah-jawa

Lihat pula


Ikon rintisan

Artikel bertopik budaya ini adalah sebuah rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia dengan mengembangkannya.

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan