Selasa, 06 Oktober 2026
21:45 WIB
TERKINI
Cuaca Lampung Timur Dominasi Sebaran 140 Titik Panas di Provinsi Lampung Ekonomi Dan Bisnis Harga Emas Antam 6 Oktober 2026 Terkoreksi, Cek Daftar Lengkapnya Bandar Lampung Direktur RSUDAM Imam Ghozali Tanggapi Isu Mutasi: Siap Mengabdi Sesuai Kompetensi Lampung Timur Ceceran Minyak Misterius Kembali Cemari Pantai Cemara Lampung Timur Bandar Lampung Mendiktisaintek Brian Yuliarto Optimis Itera Jadi Institut Teknologi Terbaik Asia Tenggara Hukum Pengiriman 1,68 Juta Batang Rokok Ilegal Terbongkar di Tol Tulang Bawang Hiburan No Na Kibarkan Merah Putih: Video Musik 'Work' Tembus UK Music Video Awards 2026 Regional Duel Sengit Barito Putera dan Tira Persikabo Ramaikan Panggung Liga 1 Regional Barito Putera Taklukkan Persebaya Surabaya dengan Skor Tipis 1-0 Regional Evakuasi Korban Tabrakan Speedboat Paspampres di Palangkaraya Dilakukan Cuaca Lampung Timur Dominasi Sebaran 140 Titik Panas di Provinsi Lampung Ekonomi Dan Bisnis Harga Emas Antam 6 Oktober 2026 Terkoreksi, Cek Daftar Lengkapnya Bandar Lampung Direktur RSUDAM Imam Ghozali Tanggapi Isu Mutasi: Siap Mengabdi Sesuai Kompetensi Lampung Timur Ceceran Minyak Misterius Kembali Cemari Pantai Cemara Lampung Timur Bandar Lampung Mendiktisaintek Brian Yuliarto Optimis Itera Jadi Institut Teknologi Terbaik Asia Tenggara Hukum Pengiriman 1,68 Juta Batang Rokok Ilegal Terbongkar di Tol Tulang Bawang Hiburan No Na Kibarkan Merah Putih: Video Musik 'Work' Tembus UK Music Video Awards 2026 Regional Duel Sengit Barito Putera dan Tira Persikabo Ramaikan Panggung Liga 1 Regional Barito Putera Taklukkan Persebaya Surabaya dengan Skor Tipis 1-0 Regional Evakuasi Korban Tabrakan Speedboat Paspampres di Palangkaraya Dilakukan

Turuk Laggai Mentawai

Bagikan:

Tarian Turuk Langgai merupakan tarian tradisional masyarakat Mentawai yang diperkirakan sudah ada sejak abad ke 17. Tarian ini mengadopsi gerakan hewan yang ada disekitar mereka. Masyarakat Mentawai percaya tarian ini merupakan cara berkomunikasi dengan roh leluhur.[1] Biasanya tingkah laku binatang tersebut diperhatikan pada saat mereka pergi berburu dan mengerjakan tinungglu atau ladang. Setelah pengamatan yang saksama dan berlangsung lama, maka hasil pengamatan itu dituangkan ke dalam bentuk tarian (turuk) dalam berbagai bentuk gerak atau uliat yang ditampilkan sebagai hiburan di berbagai pesta adat di Mentawai. Kedekatan dengan alam inilah yang memengaruhi semua tingkah laku orang Mentawai, termasuk ke dalam seni tari. Sehingga di berbagai tempat di Mentawai gerakan turuk hampir sama, karena meski berbeda tempat hewan yang diamati hampir sama perilakunya. Gerakan turuk juga menyimpan nilai luhur yang penting dalam kehidupan di Mentawai. Seperti turuk uliat kemut mengambarkan cinta kasih, turuk laggai uliat burung elang dan monyet (bilou) menggambarkan perdamaian antar suku.[2]

Pelaksanaan

Tarian ini biasanya ditarikan pada malam hari sebagai media pengobatan. Turuk laggai adalah bagian akhir dari ritual pengobatan yang dilakukan ,Sikerei akan menari yang tujuannya agar roh yang sakit terhibur dan tidak meninggalkan raganya kalau sampai roh meninggalkan tubuh si sakit maka ia akan meninggal. Dikejauhan tabuhan Tuddukat ( alat musik dari kayu yang dilobangi tengahnya) dan Urai sayup terdengar. Urai merupakan seni olah vokal Mentawai yang dilakukan Sikerei ketika sedang menari dan diakhir setelah tarian selesai. Ketika Tuddukat dipukul maka Sikerei akan menjinjitkan kakinya, kepala mengadah ke atas, badan dibungkukkan dan tangan yang memegang dedaunan mulai bergoyang.[1]

Dalam tarian Turuk Langgai ini ada istilah apakah sebuah kegiatan disetujui oleh leleluhur atau tidak. Bila disetujui maka boleh dilanjutkan. Bila tidak maka akan mendatangan bencana seperti  penyakit hingga kematian. Biasanya untuk mengatahui jawaban roh leluhur ini ada cara khusus yang dilakukan Sikerei, seperti melalui pemotongan hewan dan kalau untuk pengobatan tidak boleh dipertontonkan berbeda jika sebagai hiburan seperti ini“ terangnya. Ada dua macam Turuk Langgai yaitu turuk puliaijat ( ritual pengobatan) dan turuk punen ( tarian pesta). “Turuk puliaijat  melibatkan roh leluhur jadi tidak akan ditampilkan saat pesta karena itu dilarang,”lanjutnya. Turuk Langgai merupakan implementasi kedekatan alam dengan masyarakat mentawai  selaras dengan ajaran Arat Sabulungan ( kepercayaan asli masyarakat Mentawai) yang berfungsi sebagai penyampai nilai-nilai luhur seperti persatuan, perdamaian, kemakmuran , dan cinta kasih antar suku.[1]

Referensi

  1. 1 2 3 Salfitri, Aldilla (23 April 2024). "Turuk Langgai, Implementasi Alam Dalam Sebuah Tarian". RRI. Diakses tanggal 20 Juni 2025.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  2. ↑ "Produk Wisata Turuk Laggai - Tarian Tradisional". jadesta.kemenparekraf.go.id. Diakses tanggal 2025-06-20.
Aceh
Alas-Kluet
Batak
Gayo
Kerinci
Lampung
Melayu
Mentawai
Minangkabau
Nias
Palembang
Rejang, Kaur,
Mukomuko,
dan Serawai
Singkil
Tamiang
Bantenan
Betawi
Cirebon-Indramayu
Jawa
Madura
Sunda
Banjar
Bulungan
Dayak
Melayu Kalimantan
Kutai Kartanegara
Paser
Tidung
Alor
Bali
Bima dan Sumbawa
Flores
Sasak
Sumba
Timor
Bugis, Makassar,
Bone, dan Luwu
Buton, Muna, dan Wakatobi
Gorontalo
Mandar
Minahasa
Bolaang dan Mongondow
Padoe
Bare'e, Pamona, dan Kaili
Sangihe, Talaud,
dan Siau Tagulandong
Biaro
Toraja
Arfak
Asmat
Biak
Dani
Fakfak
Isirawa
Mimika (Kamoro)
Kep. Maluku Tengah dan Selatan
Kep. Maluku Utara
Moi
Sentani
Serui dan Waropen
Lain-lain
India-Indonesia
Arab-Indonesia
Tionghoa-Indonesia
Eropa-Indonesia
Ikon rintisan

Artikel bertopik budaya ini adalah sebuah rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia dengan mengembangkannya.

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan