Tari Katrili adalah tarian perpaduan budaya Eropa dan Suku Minahasa, Sulawesi Utara. Berdasarkan etimologinya, kata Katrili diadaptasi dari kata Bahasa Eropa yakni Quadrille[1] yang merujuk pada gerakan goyang pinggul yang dilakukan secara kuarted (empat pasang). Tari Katrili biasanya ditampilkan untuk hiburan tamu, baik dalam penyambutan tokoh penting maupun dalam perayaan lainnya seperti pernikahan.[2]
Sejarah
Tari Katrili diperkirakan sudah terbentuk ketika Sulawesi Utara diduduki oleh bangsa Spanyol dan Portugis. Pembentukan Tari Katrili berkaitan dengan tari Lalaya'an ne Kawasaran.[1]
Komponen tari
Penari
Tarian ini ditampilkan oleh pria dan wanita secara berpasangan. Jumlah penarinya berupa empat sampai delapan orang. Selain dari penari, ada satu orang yang berperan sebagai katapel atau kapel (pemimpin tarian).[1] Penari perempuan mengenakan busana gaun panjang bergaya Eropa yang dilengkapi hiasan rambut berupa mahkota, dan sepatu berhak tinggi. Sementara itu, penari pria mengenakan busana berupa jas dan topi.[2]
Alat musik
Pementasan Tari Katrili disertai dengan lagu adat dan mars yang diiringi dengan alat musik tradisional kolintang.[1][2]
Referensi
- 1 2 3 4 Sri Sunarmi; Riris Setyo Sundari; Widyata Nikbert Sarayar (2025-12-19). "The Choreographic Form of the Katrili Dance and Its Existence in Minahasa". Dinamisia : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat. 9 (6): 2004–2014. doi:10.31849/dinamisia.v9i6.30148. ISSN 2614-8927.
- 1 2 3 Nurjanah, Siti. "Tari Katrili, Akulturasi Budaya Eropa dan Minahasa, Begini Busana hingga Cara Pementasannya". Tribunmanado.co.id. Diakses tanggal 2026-05-22.