Kamis, 08 Oktober 2026
14:39 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Apresiasi Peran Vital Kader, Pemkot Bandar Lampung Beri Insentif Rp500 Ribu Lampung Barat Emosi Memuncak, Penagih Utang Tewas di Tangan Debitur di Lampung Barat Bandar Lampung Buruh Lampung Berunjuk Rasa, Pertanyakan Pengesahan Dini UU Perlindungan Ketenagakerjaan Cuaca Ratusan Titik Panas Terpantau di Lampung, Tulang Bawang dan Mesuji Teratas Nasional MK Soroti Syarat Pendidikan Gibran, KPU Didesak Diperiksa DPR dan DKPP Bandar Lampung Polisi Bandar Lampung Amankan Lima Remaja Bersenjata Tajam, Kedepankan Edukasi Bandar Lampung Misteri Antrean Panjang Solar di Lampung Meski Pasokan Berlimpah Bandar Lampung Arinal Djunaidi Jalani Sidang Pembuktian, Hakim Tetapkan Vonis 20 Januari 2027 Cuaca Lampung Timur Dominasi Sebaran 140 Titik Panas di Provinsi Lampung Ekonomi Dan Bisnis Harga Emas Antam 6 Oktober 2026 Terkoreksi, Cek Daftar Lengkapnya Bandar Lampung Apresiasi Peran Vital Kader, Pemkot Bandar Lampung Beri Insentif Rp500 Ribu Lampung Barat Emosi Memuncak, Penagih Utang Tewas di Tangan Debitur di Lampung Barat Bandar Lampung Buruh Lampung Berunjuk Rasa, Pertanyakan Pengesahan Dini UU Perlindungan Ketenagakerjaan Cuaca Ratusan Titik Panas Terpantau di Lampung, Tulang Bawang dan Mesuji Teratas Nasional MK Soroti Syarat Pendidikan Gibran, KPU Didesak Diperiksa DPR dan DKPP Bandar Lampung Polisi Bandar Lampung Amankan Lima Remaja Bersenjata Tajam, Kedepankan Edukasi Bandar Lampung Misteri Antrean Panjang Solar di Lampung Meski Pasokan Berlimpah Bandar Lampung Arinal Djunaidi Jalani Sidang Pembuktian, Hakim Tetapkan Vonis 20 Januari 2027 Cuaca Lampung Timur Dominasi Sebaran 140 Titik Panas di Provinsi Lampung Ekonomi Dan Bisnis Harga Emas Antam 6 Oktober 2026 Terkoreksi, Cek Daftar Lengkapnya
Kethek ogleng

Kethek ogleng

Bagikan:
250px-Kethek_Ogleng_Kesenian_berasal_dari_Sampung_Ponorogo_a.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Pertunjukan Kethek Ogleng Ponorogo

Kethek Ogleng merupakan bentuk kesenian tradisional dari daerah Sampung, Ponorogo yang kemudian menyebar ke wilayah Pacitan dan Wonogiri. Pertunjukan ini menampilkan penari yang meniru gerakan monyet hutan lokal, dipadu dengan iringan gamelan atau gending gancaran pancer yang memiliki pola bunyi khas, berupa repetisi “ogleng, ogleng, ogleng.” Nama seni pertunjukan ini sendiri berasal dari suara tersebut, sehingga dikenal dengan sebutan Kethek Ogleng.[1]

Tari Kethek Ogleng menampilkan gerak yang menirukan perilaku seekor kera putih Bathuk Nonong yang lincah, lucu, penuh semangat, dan bersifat atraktif. Penari bebas melakukan improvisasi dalam pertunjukan, misalnya dengan berinteraksi langsung dengan penonton melalui ajakan menari atau melakukan candaan selama pementasan berlangsung. Dalam pertunjukannya, tokoh kera tersebut biasanya dipertemukan dengan Endang Lara Tompe yang merupakan penjelmaan Dewi Sekartaji. Interaksi keduanya ditampilkan melalui dialog dalam bentuk tembang yang umumnya berisi sindiran. Pertunjukan ini diiringi oleh musik gamelan Jawa, alat perkusi tradisional, serta olah vokal yang tetap mempertahankan nuansa kerakyatan dalam keseluruhan penyajiannya.[2]

Sejarah kethek ogleng

Berdasarkan Sejarah, Kethek Ogleng diciptakan oleh masyarakat Sampung yang kala itu digunakan sebagai tempat persembunyian Raja Mataram untuk mengungsi karena terjadi peperangan. sang Raja merasa sedih atas berbagai hal yang terjadi melanda di keraton, Masyarakat Sampung menyuguhkan tarian menirukan hewan Monyet yang banyak ditemui hutan Sampung, dengan mengenakan kostum mirip Anoman karena gerakan yang lucu maka raja pun terhirbur. Maksud lain dari kethek ogleng yang disuguhkan masyarakat Sampung aadalah sebagai doa bahwa Raja Mataram dapat merebut kembali, sepertinya halnya Rama yang dibantu Hanuman.[3]

330px-Kethek_Ogleng_Kesenian_berasal_dari_Sampung_Ponorogo_b.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Kethek Ogleng menyajikan kelucuan

Kemudian Di Pacitan, tepatnya di Desa Tokawi, Kecamatan Nawangan, kethek ogleng dipercaya dikembangkan oleh Sutiman pada 1963 yang tergabung Reog Ponorogo di Pacitan saat turut belajar reog ke Sampung, Saat itu, usianya baru 18 tahun dan melihat ketek ogleng memiliki gerakan yang mirip dengan bujang ganong, tetapi lucu dan seperti halnya monyet. Penampilan kethek ogleng yang pertama adalah di hajatan pernikahan pada akhir 1963, atas permintaan Kepala Desa Tokawi saat itu, Haryo Prawiro. Lalu atas atas persetujuan dari Bupati RS Tedjo Sumarto pada 1964, Dinas Pendidikan meminta Sutiman agar tari pertunjukan kethek oglengnya dibuat berlatarkan cerita rakyat Panji Asmorobangun supaya memiliki sebuah cerita sepertihalnya Reog.[4]

Setelah itu pada tahun 1967 Kethek Ogleng menyebar ke Wonogiri oleh Darjino yang kemudian gerakannya disempurnakan oleh Suwiryo. Setelah Suwiryo meninggal, tarian ini terus dilestarikan dan dipertahankan oleh Sukijo hingga akhirnya menjadi ikon Kabupaten Wonogiri.[5]

Biasanya pertunjukan Kethek Ogleng menunjukan akrobatik seni kucingan, di mana menunjukan akrobatik menari pada sebuah tali di antara dua buah bambu.

Pertunjukan

Meski saat ini terdapat 3 tempat yang mempertunjukan Kethek Ogleng, tetapi memiliki alur pementsan yang berbeda. Kethek Ogleng Di Ponorogo hanya mempertunjukan sebatas kesenian Kethek Ogleng saja, Sedangkan di Pacitan dan Wonogiri dibalut dalam sebuah cerita rakyat Panji supaya lebih menarik.

Legenda

Tarian Kethek Ogleng merupakan kesenian tradisional Jawa yang bersumber dari cerita Panji, dengan latar kisah di Kerajaan Jenggala dan Kerajaan Kediri. Dalam narasi ini, tokoh utama yang muncul adalah Dewi Sekartaji dari Jenggala dan Raden Panji Inu Kertopati dari Kediri. Keduanya digambarkan sebagai sepasang insan yang saling mencintai dan memiliki cita-cita untuk membangun kehidupan rumah tangga yang harmonis. Namun, hubungan mereka tidak berjalan mulus karena adanya gangguan politik dan konflik yang melibatkan tokoh lain, yaitu Raja Klana Sewandana dari Bantarangin yang datang melamar Dewi Sekartaji. Situasi tersebut menimbulkan kegelisahan di lingkungan istana Jenggala dan menjadi awal dari rangkaian peristiwa yang membawa Dewi Sekartaji meninggalkan kerajaannya secara diam-diam. Dalam pelariannya, ia menyamar bersama beberapa dayang dan bergerak ke arah barat untuk menghindari pengejaran serta tekanan dari pihak kerajaan. Dalam penyamaran tersebut, Dewi Sekartaji kemudian dikenal dengan nama Endang Rara Tompe, yang menandai perubahan identitasnya selama masa pengembaraan.[2]

Sementara itu, Raden Panji Inu Kertopati yang mendengar kabar hilangnya Dewi Sekartaji memutuskan untuk mencarinya. Dalam perjalanannya, ia mendapatkan wejangan dari seorang pendeta agar melakukan penyamaran sebagai rakyat biasa dan bergerak ke arah yang sama, yaitu barat. Perjalanan ini mempertemukan berbagai tokoh dan peristiwa yang bersifat simbolik, termasuk kemunculan tokoh Kethek Ogleng yang digambarkan sebagai jelmaan atau makhluk menyerupai kera yang memiliki kaitan dengan tokoh Gunung Sari. Dalam perkembangan cerita, Kethek Ogleng berusaha mendekati Endang Rara Tompe, namun upayanya selalu ditolak sehingga menimbulkan rangkaian pengejaran. Pada saat yang sama, Panji yang juga berada dalam penyamaran akhirnya bertemu kembali dengan Dewi Sekartaji. Dengan bantuan kesaktiannya, Panji membantu mengatasi gangguan Kethek Ogleng, yang kemudian mengalami perubahan wujud menjadi Gunung Sari, sementara Endang Rara Tompe kembali ke wujud aslinya sebagai Dewi Sekartaji. Pada akhir cerita, identitas Panji juga terungkap, dan ia kemudian dikenal sebagai Panji Asmarabangun. Pertemuan kembali antara Panji dan Dewi Sekartaji diakhiri dengan suasana haru dan kebahagiaan, sebelum keduanya kembali ke Kerajaan Jenggala untuk melangsungkan pernikahan.[2]

Referensi

  1. ↑ Paluseri, dkk, Dais Dharmawan (2018). Penetapan Budaya Warisan Takbenda Indonesia 2018 (PDF). Direktorat Warisan dan Diplomasi Budaya, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
  2. 1 2 3 Jazuli, Muhammad (2018). Buku Tari dan Musik Jawa Tengah (PDF). CV Farishma Indonesia. hlm. 189–190.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  3. ↑ "Sides Pleret". pleret.id. Diakses tanggal 2025-10-01.
  4. ↑ "Inspirasi dari Seni Tari Kethek Ogleng dari Tokawi". Pacitanku.com. 2017-10-20. Diakses tanggal 2019-02-17.
  5. ↑ Arifin, Suharsih/Fadila Alfiani (2023-07-21WIB11:35:03+00:00). "Sejarah Kethek Ogleng, Tarian Rakyat dengan Gerakan Unik Ciptaan Wong Wonogiri". Solopos.com. Diakses tanggal 2023-11-10.{{cite web}}: Periksa nilai tanggal dalam: |date=
Ikon rintisan

Artikel bertopik tarian di Indonesia ini adalah sebuah rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia dengan mengembangkannya.

Aceh
Alas-Kluet
Batak
Gayo
Kerinci
Lampung
Melayu
Mentawai
Minangkabau
Nias
Palembang
Rejang, Kaur,
Mukomuko,
dan Serawai
Singkil
Tamiang
Bantenan
Betawi
Cirebon-Indramayu
Jawa
Madura
Sunda
Banjar
Bulungan
Dayak
Melayu Kalimantan
Kutai Kartanegara
Paser
Tidung
Alor
Bali
Bima dan Sumbawa
Flores
Sasak
Sumba
Timor
Bugis, Makassar,
Bone, dan Luwu
Buton, Muna, dan Wakatobi
Gorontalo
Mandar
Minahasa
Bolaang dan Mongondow
Padoe
Bare'e, Pamona, dan Kaili
Sangihe, Talaud,
dan Siau Tagulandong
Biaro
Toraja
Arfak
Asmat
Biak
Dani
Fakfak
Isirawa
Mimika (Kamoro)
Kep. Maluku Tengah dan Selatan
Kep. Maluku Utara
Moi
Sentani
Serui dan Waropen
Lain-lain
India-Indonesia
Arab-Indonesia
Tionghoa-Indonesia
Eropa-Indonesia
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan