Senin, 12 Oktober 2026
22:03 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Pemprov Lampung Gencarkan Rapat Penting, Mulai Inflasi Hingga Eliminasi TBC Pringsewu Ribuan Warga Pringsewu Padati Jalan Sehat Kapal Api Tribun Lampung Bandar Lampung Pengungkapan 3 Ton BBM Ilegal di Tanjung Bintang, Polisi Lidik Jaringan Penyaluran Lampung Tugas Berat Kapolda Lampung Brigjen Yustan Alpiani: Atasi Narkoba, Konflik Lahan, dan Distribusi BBM Bandar Lampung Rotasi Kepemimpinan: Brigjen Yustan Alpiani Resmi Jadi Kapolda Lampung Lampung Selatan Anak Krakatau Siaga: Status Gunung Meningkat Setelah Belasan Kali Erupsi Intens Pringsewu Truk Fuso Diduga Rem Blong Picu Kecelakaan Maut di Pringsewu, Dua Tewas Lampung Rotasi Besar Polri: 199 Perwira Tinggi dan Menengah Pindah Tugas, Tiga Kapolda Berganti Advertorial Sistem Kelistrikan Lampung Dipuji DPR, EBT Sumbang Hampir Separuh Pasokan Lampung Anak Krakatau Naik Status Siaga Level III: Potensi Bahaya, Jauhi Radius 5 KM Bandar Lampung Pemprov Lampung Gencarkan Rapat Penting, Mulai Inflasi Hingga Eliminasi TBC Pringsewu Ribuan Warga Pringsewu Padati Jalan Sehat Kapal Api Tribun Lampung Bandar Lampung Pengungkapan 3 Ton BBM Ilegal di Tanjung Bintang, Polisi Lidik Jaringan Penyaluran Lampung Tugas Berat Kapolda Lampung Brigjen Yustan Alpiani: Atasi Narkoba, Konflik Lahan, dan Distribusi BBM Bandar Lampung Rotasi Kepemimpinan: Brigjen Yustan Alpiani Resmi Jadi Kapolda Lampung Lampung Selatan Anak Krakatau Siaga: Status Gunung Meningkat Setelah Belasan Kali Erupsi Intens Pringsewu Truk Fuso Diduga Rem Blong Picu Kecelakaan Maut di Pringsewu, Dua Tewas Lampung Rotasi Besar Polri: 199 Perwira Tinggi dan Menengah Pindah Tugas, Tiga Kapolda Berganti Advertorial Sistem Kelistrikan Lampung Dipuji DPR, EBT Sumbang Hampir Separuh Pasokan Lampung Anak Krakatau Naik Status Siaga Level III: Potensi Bahaya, Jauhi Radius 5 KM

Jaranan Dor

Bagikan:

Jaranan Dor Adalah kesenian Kuda Lumping yang berkembang di Jawa Timur, disebut Dor karena menggunakan perangkat alat musik Jidor bukan Gong pada umumnya, Jaranan Dor dapat ditemukan di Jombang dan Malang, Jawa Timur meskipun memiliki perbedaan karakteristik pada keduanya.[butuh rujukan]

Jaranan Dor Jombang

Jaranan Dor Jombang adalah kesenian Kuda Lumping yang berkembang di Jombang, namun lebih dikenal dengan sebutan Jepaplok Dor yang diambil dari nama topeng reog lawas (Singo barong bermahkota merak). Kesenian Jaranan Dor di Jombang telah ada sejak tahun 1835 yang dibawa oleh Wiroguno yang merupakan mantan prajurit Diponegoro dari Ponorogo, Wiroguno yang pernah merasakan pendidikan di Pondok Gebang Tinatar seusai perang mengembara ke Jombang untuk mengamalkan apa yang didapatkan di Pesantren, serta memberikan pesan kepada orang-orang untuk tidak menurut ke Belanda. Setiba di Jombang, Wiroguno kesulitan mengajak warga sekitar untuk belajar agama Islam yang kala itu sebagian masih percaya dengan hal gaib.[1]

Maka dari itu Wiroguno menampilkan kesenian Reog yang seperti di Ponorogo pada kala itu, sehingga membuat warga tertarik belajar agama islam dan tidak patuh terhadap Belanda yang sangat banyak di Jombang. karena warga lebih suka dengan topeng singo barong, maka lebih dikenal dengan nama Jepaplok hingga saat ini.[2]

Dalam pertunjukan Jaranan Dor Jombang ini masih terdapat persiapan dengan menyiapkan berbagai sesajen dan kesurupan, sedangkan kostum yang digunakan terlihat simpel dan klasik.

Peralatan kesenian jaranan dor jombang meliputi :

  1. Topeng Jepaplok (Singo Barong bermahkota merak)
  2. Topeng Ganongan, Pentul, Potro, gendruwon
  3. Topeng macanan
  4. kuda lumping
  5. Bomoh warok berpakaian serba hitam
  6. alat musik kendang, jidor, terbang, dan slompret reog.

Dari segi bentuk topeng reog jepaplok yang ada di jombang memiliki persamaan dengan topeng reog barongan di kudus dan demak, yang memiliki mahkota merak. hal itu dikarekanan kesenian Jaranan Dor/Jepaplok Dor jombang, Barongan Kudus, Barongan Demak masih memiliki akar sejarah dari Ponorogo.

Namun berjalannya waktu, beberapa kelompok kesenian Jaranan Dor di Jombang sudah tidak lagi menampilkan Jaranan Dor dor secara utuh. Seperti hanya menampilkan Barongan saja, tanpa ada penari Jaranan. Ada pula yang menampilkan Barongan tanpa merak.

Jaranan Dor Jombangan ini kemudian diperkirakan menyebar ke berbagai daerah seperti Sandur Manduro Kabuh, Gedeg Mojokerto, Gresik dan Lamongan

Jaranan Dor Malang

Jaranan Dor Malang semula memiliki nama Reog Dor adalah kesenian Kuda Lumping yang berkembang di Malang dan Batu dengan ciri khas penari kuda lumping mengenakan pakaian sederhana yakni kaos lorek dan celana longgar dengan menari berputar-putar, kesenian ini memiliki nama lain Jaranan Kidalan, karena jaranan ini dikaitkan dengan candi kidal di malang sebagai identitas kuda lumping di malang.

keberadaan Jaranan Dor di Malang karena sering dilakukannya pertunjukan Jaranan Thek dari Ponorogo pada masa kolonial Belanda untuk mengisi kegiatan berbagai pasar malam. Setelah Indonesia merdeka disusul banyaknya perantau dari Ponorogo, Tulungagung dan Blitar yang mempertunjukan kesenian kuda lumping dari masing-masing daerah, Dalam Catatan Belanda Jaranan Thek dari Ponorogo sering mengisi acara pasar malam di Malang sejak era kolonial, sehingga dibuatlah kesenian baru pada masa itu yang sederhana yakni Jaranan Dor Malangan .[3]

pertunjukan jaranan dor di malang diiringi kendang, jidor, angklung reog gumbeng berjumlah banyak, sedangkan kostum yang dipakai hanya berpakaian kaos lorek bergaris Ponorogoan dan celana komprang Ponoragan saja tanpa mengunnakan kostum penari kuda lumping yang terlihat mewah seperti umumnya. sering kali pemain kuda lumping dan barongan mengalami kesurupan yang disebut kalap, hingga melakukan berbagai atraksi yang akan di sembuhkan oleh pawang berpakaian Warok.[4]

Dalam pertunjukan Jaranan Dor di Malang tidak menyajikan cerita atau sendratari, yang ditampilkan sebatas tari dan kesurupan saja.

Peralatan kesenian jaranan dor malang meliputi :

  1. Topeng Jepaplok (Singo Barong) tanpa kain
  2. kuda lumping
  3. celeng (babi)
  4. Pawang bomoh (bopo) berpakaian warok serba hitam membawa pecut
  5. alat musik kendang, jidor, terbang, kentongan dan angklung reog gumbeng

Karakteristik

Perbedaan mendasar dari kedua Jaranan Dor tersebut, terdapat dalam karekternya. Jaranan Dor Malang umumnya dikenal dengan karakter yang keras (berani dan jujur), yang menjadi ciri khas dari Jaranan Dor Malang dari Jaranan Dor Jombang. Selain itu, dari gerakan dari tariannya juga membedakan. Setiap Gerakan memiliki makna filosofis yang berbeda juga, sehingga Jaranan Dor Malang dan Jombang, memiliki keunikan masing-masing.[3]

Referensi

  1. ↑ "Jaranan dor jombang". Man 3 tulungagung.
  2. ↑ Mahmud, Ahmad (2000). Buku pintar pendidikan kebudayaan jombang. Jombang: Unkown.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  3. 1 2 "Jaranan dor malang". Ngalam. Diarsipkan dari asli tanggal 2021-09-22. Diakses tanggal 2021-03-24.
  4. ↑ Kuda lumping di jawa timur. Jakarta: Dasa pustaka. 1991.{{cite book}}: |first= tidak memiliki |last=Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
Aceh
Alas-Kluet
Batak
Gayo
Kerinci
Lampung
Melayu
Mentawai
Minangkabau
Nias
Palembang
Rejang, Kaur,
Mukomuko,
dan Serawai
Singkil
Tamiang
Bantenan
Betawi
Cirebon-Indramayu
Jawa
Madura
Sunda
Banjar
Bulungan
Dayak
Melayu Kalimantan
Kutai Kartanegara
Paser
Tidung
Alor
Bali
Bima dan Sumbawa
Flores
Sasak
Sumba
Timor
Bugis, Makassar,
Bone, dan Luwu
Buton, Muna, dan Wakatobi
Gorontalo
Mandar
Minahasa
Bolaang dan Mongondow
Padoe
Bare'e, Pamona, dan Kaili
Sangihe, Talaud,
dan Siau Tagulandong
Biaro
Toraja
Arfak
Asmat
Biak
Dani
Fakfak
Isirawa
Mimika (Kamoro)
Kep. Maluku Tengah dan Selatan
Kep. Maluku Utara
Moi
Sentani
Serui dan Waropen
Lain-lain
India-Indonesia
Arab-Indonesia
Tionghoa-Indonesia
Eropa-Indonesia
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan